Bab 6

"Aldrian ...," panggil Kyna dengan suara tercekat.

"Hmm? Kyna?" Aldrian menggenggam tangan Kyna dan bertanya, "Ada apa? Pengen nangis? Kalau begitu, nangis saja. Jangan ditahan."

Suaranya begitu lembut, persis seperti ketika Kyna baru keluar dari ruang operasi pada tahun itu. Setelah mendorongnya kembali ke kamar rawat inap bersama perawat, Aldrian tetap berjaga di samping tempat tidurnya dan berbicara dengan suara selembut ini, "Kyna, sakit? Kalau sakit, nangis saja. Jangan ditahan ...."

Saat itu, Kyna hanya merasa bahwa perhatian dan kelembutan Aldrian adalah obat mujarab untuk menghilangkan rasa sakit. Sayangnya, butuh bertahun-tahun baginya untuk sepenuhnya paham bahwa kelembutan dan perhatian seorang pria tidak akan pernah bisa berubah menjadi cinta ....

"Aldrian, kita cerai saja," tutur Kyna dengan pelan sambil menarik tangannya. Rasa sakit yang menyengat membuatnya berlinang air mata hingga pandangannya perlahan-lahan kabur.

Aldrian mengerutkan kening. Sangat jelas bahwa dia tidak menyangka Kyna akan melontarkan hal seperti itu. Setelah terdiam sejenak, dia meminta mangkuk bersih dari pelayan, mengambil sepotong ikan, dan dengan hati-hati memilih tulangnya.

Pada saat yang sama, Aldrian juga berkata, "Kyna, aku tahu kamu masih marah. Tapi, mengungkit tentang perceraian itu nggak rasional. Apa yang akan kamu lakukan setelah bercerai denganku? Gimana kamu bisa hidup sendiri?"

Napas Kyna mulai memburu. Selama lima tahun, di mata semua orang, dia adalah orang yang bergantung pada Aldrian. Tanpa Aldrian, dia adalah orang menyedihkan yang tak diinginkan siapa pun, juga tak mampu bertahan hidup. Aldrian juga berpikir begitu.

"Aku bisa!" Untuk pertama kalinya, Kyna menunjukkan sisi keras kepalanya dan ingin membela diri.

Namun, Aldrian hanya tersenyum dan masih menganggap Kyna hanya merajuk. Dia meletakkan ikan tanpa tulang itu di depan Kyna dan menyahut, "Makanlah. Kamu boleh marah sebentar, tapi kamu nggak boleh marah lagi seusai makan."

"Aku nggak marah. Aku benar-benar mau cerai!" balas Kyna. Apa yang harus dilakukannya untuk membuat Aldrian mengerti bahwa dia ingin bercerai bukan karena merajuk, tetapi serius?

"Kyna." Aldrian meletakkan peralatan makannya, lalu berujar, "Sudah cukup. Hari ini, aku batalkan dua rapat dan satu negosiasi bisnis demi temani kamu. Aku belum tentu punya waktu sebanyak ini lagi besok atau lusa."

"Kutegaskan sekali lagi, Nara itu teman baik kami semua, juga salah satu anggota dari kelompok pertemanan kami. Aku memperlakukannya sama seperti aku perlakukan William dan yang lain. Dia juga suka banget sama kamu dan selalu ingin jadi temanmu. Dengan sikapmu ini ... gimana aku bisa kenalin dia ke kamu?"

"Kalau begitu, nggak usah kenalin dia ke aku," sahut Kyna. Dia tidak merasa Anara benar-benar ingin berteman dengannya.

"Kyna!" tegur Aldrian dengan agak marah.

Kyna tahu bahwa setiap ada hal yang berkaitan dengan Anara, tabiat Aldrian tidak akan sebaik itu.

"Cepat makan. Habis makan, kita pergi belanja. Beli saja apa yang kamu suka. Nanti, kita makan malam di rumah Ayah dan Ibu. Sudah berapa lama kamu nggak jenguk orang tuamu?" ujar Aldrian sambil lanjut menaruh makanan ke mangkuk Kyna.

Kyna tidak ingin menyakiti dirinya sendiri. Jadi, dia pun mulai makan. Apa pun yang terjadi, dia harus memastikan dirinya sehat dulu. Tak ada gunanya dia melampiaskan amarahnya pada dirinya sendiri.

"Begitu dong." Suara Aldrian melembut lagi. "Jangan pernah ungkit soal cerai lagi."

Kyna tertegun sejenak, lalu lanjut makan dengan kepala tertunduk. Seusai makan, dia tidak ingin berbelanja, tetapi Aldrian bersikeras dan langsung menyetir ke mal.

Selama lima tahun pernikahan mereka, Aldrian hanya pernah menemaninya berbelanja beberapa kali. Lebih tepatnya, mereka jarang sekali muncul bersama di depan umum.

Lampu mal sangat terang, bahkan di siang hari. Kyna merasa sedikit tidak nyaman. Dia berjalan dengan hati-hati di belakang Aldrian sambil mencengkeram tasnya erat-erat.

Lantai pertama dipenuhi konter yang memajang tas, jam tangan, dan perhiasan desainer.

"Mau beli apa?" tanya Aldrian sambil menoleh ke arah Kyna.

Kyna tidak ingin membeli apa pun. Dia hanya ingin pulang. Namun, sebelum dia sempat mengucapkan sepatah kata pun, seseorang di kejauhan memanggil, "Pak Aldrian."

"Itu mitra kerja yang baru aku kenal belakangan ini. Aku pergi sapa dia dulu." Aldrian berpesan, "Kamu jalan-jalan saja dulu. Aku akan mencarimu nanti."

Kyna tidak mengenal satu pun klien Aldrian. Melihat Aldrian berjabat tangan dengan seorang pria tak jauh darinya, dia berdiri terpaku di tempat. Tak ada satu pun barang mewah yang ingin dibelinya.

"Nona, sudah giliranmu," ucap seorang pramuniaga.

Kemudian, Kyna baru menyadari bahwa dia secara tidak sengaja berdiri di antrean toko mewah.

"Oh, nggak usah, terima kasih," balas Kyna dengan cepat. Kemudian, dia segera pergi.

Kyna berjalan tanpa tujuan di mal. Tiba-tiba, dia melihat sosok yang familier di konter jam tangan desainer. Orang itu tidak lain adalah Anara.

Ketika melihat merek jam tangan itu, perasaan gelisah perlahan-lahan menyelimuti Kyna. Dia tanpa sadar berjalan menuju konter tersebut.

William sedang menemani Anara melihat-lihat jam tangan. Saat Kyna berjalan mendekat, percakapan mereka terdengar lebih jelas.

"Beli saja kalau kamu suka," kata William.

Anara menjawab, "Nggak deh. Harganya terlalu mahal. Aldri memang sudah kasih kartu tambahannya kepadaku, juga bilang aku boleh menggeseknya sesuka hati. Tapi, aku tetap malu pakai kartu itu untuk beli barang semahal ini!"

Langkah Kyna seketika terhenti. Kakinya terasa terlalu berat untuk lanjut melangkah. Hatinya juga terasa seberat kakinya.

Kartu tambahan .... Kartu tambahan Aldrian ....

"Dia kasih ke kamu, ya supaya kamu bisa pakai. Memangnya Aldri itu orang bermuka dua? Kita sudah berteman selama bertahun-tahun, apa kamu masih nggak paham sama karakternya? Dia tulus memberikannya kepadamu," lanjut William.

"Iya sih ...." Anara mulai menggerakkan pergelangan tangannya dan menunjukkannya kepada William.

Kyna juga melihatnya.

"Cantik nggak? William? Aku suka banget sama jam tangan ini bahkan sejak zaman kuliah. Waktu itu, Aldri juga pernah janji akan membelikannya untukku setelah lulus. Setelahnya ...."

Setelahnya? Kyna pun tersenyum getir dan mengejek. Setelahnya, setiap tahun di hari ulang tahun dan hari peringatan pernikahan, Aldrian menghadiahkan jam tangan itu kepadanya.

Awalnya, Kyna mengira bahwa meskipun Aldrian tidak menaruh perasaan apa pun terhadapnya, setidaknya Aldrian mengingat hari ulang tahun dan hari peringatan pernikahan mereka. Tidak peduli seasal apa pun hadiah yang dipilih Aldrian, setidaknya itu adalah barang mahal.

Namun, Aldrian ternyata bukan tidak berperasaan ataupun asal memilih hadiah. Sebaliknya, dia justru sangat peduli. Hanya saja, yang terukir di hatinya bukanlah Kyna ....

"Kalau begitu, Aldri termasuk sudah tepati janjinya sekarang. Kamu boleh beli apa pun yang kamu mau. Asal kamu suka, dia mampu membelinya," kata William untuk menyemangati Anara.

"Kalau begitu, aku gesek, ya?" Sangat jelas bahwa Anara sangat ingin melakukannya.

Di sisi lain, Aldrian telah selesai berbasa-basi dengan rekan bisnisnya. Orang itu ternyata datang untuk menjemput istrinya yang telah selesai berbelanja. Mengetahui Aldrian juga sedang menemani istrinya, rekan bisnis itu menawarkan diri untuk menyapa.

Melihat Aldrian yang berjalan mendekat, Kyna segera bersembunyi di balik pilar.

Sementara itu, Anara telah melihat Aldrian dan melambaikan tangannya sambil berseru, "Aldri, aku ada di sini. Kemarilah!"

Kyna mengintip dari balik pilar dan melihat Aldrian berjalan ke arah Anara bersama rekan bisnisnya.

Anara menggenggam tangan Aldrian, lalu mengguncangnya sambil bertanya, "Aldri, aku mau beli jam tangan ini. Boleh?"

"Tentu saja." Aldrian menatap Anara dengan begitu lembut. Cahaya dalam matanya membuat seluruh wajahnya terlihat hidup. Penampilannya sangat berbeda dengan keacuhan yang ditunjukkannya ketika bersama Kyna di rumah.

"Makasih, Aldri! Aku akan pergi gesek kartunya sekarang juga!" tutur Anara sambil melambaikan kartu tambahan yang diberikan Aldrian.

Menyaksikan hal ini, rekan bisnis itu tersenyum dan berkomentar, "Pak Aldrian, kamu dan istrimu benar-benar mesra. Ini sungguh mengharukan."

Istri? Aldrian dan Anara sama-sama terkejut, tetapi tak satu pun dari mereka yang menyangkalnya ....

Bab 7

Kyna memperhatikan Aldrian dan Anara. Setelah canggung sesaat, mereka dengan cepat beradaptasi dengan peran baru mereka. Keduanya mengobrol dengan gembira dengan mitra bisnis itu. Mereka terlihat sangat serasi ....

Kyna diam-diam memotret mereka. Saat berbalik untuk pergi, "jarum" yang tertancap di jantungnya masih terasa menusuk. Rasa sakit yang tajam dengan cepat menyebar ke dadanya, bahkan nyaris membuatnya menangis.

"Kyna!"

Tiba-tiba, seseorang memanggil namanya tepat saat Kyna hendak meninggalkan mal. Dia menoleh dan melihat seseorang berdiri di eskalator yang menurun. Orang itu melambaikan tangan ke arahnya dengan penuh semangat.

Itu adalah Sonia, guru akademi tari ketika Kyna berkuliah dulu.

"Bu Sonia!" seru Kyna dengan gembira.

Sonia segera menuruni eskalator, lalu menghampiri Kyna dan menggenggam tangannya. Dia juga terlihat gembira. "Aku awalnya masih ragu aku salah kenali orang atau nggak. Setelah panggil, ternyata memang kamu! Gimana kabarmu? Sudah lima tahun kita nggak ketemu."

Kyna merasa agak sedih. Lima tahun telah berlalu, tetapi dia malah menjadi orang yang tidak berguna. Bagaimana mungkin dia dapat menghadapi gurunya?

"Lagi sibuk nggak? Kalau nggak, ayo kita ngobrol di kafe," ucap Sonia sambil menggenggam tangan Kyna.

Kyna tidak sibuk. Jika itu sebelumnya, dia mungkin akan terus mengasingkan diri dan menolak semua orang dari dunia tari karena merasa rendah diri. Namun, sejak membuka album foto tari di ponselnya, dia merasa seperti sudah ada celah di langit gelapnya. Dia tiba-tiba mendambakan ada secercah cahaya yang dapat bersinar masuk.

Kyna mengangguk, "Oke, Bu Sonia."

Entah kenapa, air mata menggenang di mata Kyna.

Sonia menggenggam tangan Kyna, lalu membawanya ke sebuah kafe yang menjual afternoon tea ala bangsawan zaman dulu.

"Bu Sonia, gimana kabar teman-teman lainnya sekarang?" Kyna sudah terlalu lama terpisah dari dunianya sendiri. Dia juga telah meninggalkan semua obrolan grup teman kampusnya.

Sonia meliriknya dengan tajam dan bertanya, "Kamu benar-benar mau tahu?"

Sonia mengetahui situasi Kyna. Awalnya, Kyna berencana melanjutkan studi pascasarjana, tetapi tiba-tiba menyerah. Sonia tentu saja menanyakan alasannya. Setelahnya, Sonia bahkan sengaja datang ke Kota Hatam untuk mengunjungi Kyna.

Kyna mengangguk penuh semangat. Sonia pun mulai bercerita.

Lima tahun benar-benar cukup untuk mengubah hidup seseorang. Sebagian teman-teman Kyna itu telah bergabung dengan kelompok tari dan menjadi penari utama. Ada juga yang melanjutkan studi di luar negeri dan lulus dengan gelar doktor, sedangkan ada beberapa yang menjadi guru supaya bisa mengembangkan bakat-bakat baru.

Semua orang mengambil lompatan besar dalam perjalanan hidup mereka. Hanya dia yang ....

Akan tetapi, mulai hari ini, Kyna juga akan menjadi seseorang yang berbeda. Dia akan berusaha mengejar ketertinggalan. Meskipun tidak bisa menari lagi, dia akan menemukan tempatnya di bidang lain!

"Bu Sonia, aku ... akhirnya juga bisa berikan jawabanku padamu," kata Kyna dengan berlinang air mata. Saat ini, dia benar-benar merasa bersalah karena sudah mengecewakan harapan gurunya.

"Apa?" Sonia masih tersenyum seperti biasa.

Kyna berbisik di telinga Sonia mengenai rencananya untuk kuliah di luar negeri.

"Baguslah! Sudah kutahu nggak ada muridku yang lemah!" seru Sonia sambil menggenggam tangan Kyna. "Oh iya, kebetulan kami juga akan adakan pertunjukan keliling Yuropiah. Kamu bisa ikut untuk merasakan suasana dan biasakan diri dengan kehidupan di sana!"

"Tapi aku ...." Apakah kakinya akan sanggup? Kyna tidak akan pernah bisa menari lagi. Dia bahkan berjalan lebih lambat daripada orang lain. Program pascasarjana yang diambilnya juga adalah bidang teori.

"Nggak ada yang mustahil! Kalau bukan karena kecelakaan itu, kamu pasti sudah jadi anggota tim tari muda. Kali ini, kamu ikut saja sebagai staf yang tangani urusan belakang panggung atau penata rias!" ujar Sonia dengan tegas. Dia sama sekali tidak menganggap Kyna sebagai orang cacat.

Kyna tak kuasa menahan tawa. Dia menyukai perasaan tidak diperlakukan seperti orang cacat. Dia tidak bisa menari, tetapi masih bisa melakukan hal-hal lain. Dia bukannya langsung menjadi orang yang tidak berguna karena tidak bisa menari lagi ....

Baru saja Sonia selesai berbicara, ponselnya bergetar dan sebuah pesan masuk.

"Ini pesan dari suamiku. Kamu keberatan nggak kalau dia gabung sama kita?" tanya Sonia untuk meminta pendapat Kyna.

"Tentu saja nggak," jawab Kyna sambil tersenyum.

Sebenarnya, Kyna agak takut. Setelah mengisolasi diri selama lima tahun, dia sudah tidak terbiasa bertemu orang asing. Akan tetapi, bukankah dia tetap harus mengambil langkah pertama?

"Kalau begitu, aku akan suruh dia datang," jawab Sonia.

Hanya saja, yang sangat mengejutkan Kyna adalah, suami Sonia ternyata adalah rekan bisnis baru Aldrian yang dilihatnya tadi.

"Dia datang ke Kota Hatam untuk urusan bisnis. Aku juga ikut datang liburan beberapa hari. Tak disangka, aku malah ketemu sama kamu di sini. Kita benar-benar berjodoh ...."

Sambil berbicara, Sonia memperkenalkan suaminya. Namun, Kyna malah memperhatikan Aldrian, Anara, dan suami Sonia yang berjalan menuju meja mereka. Akhirnya, mereka sampai di depan meja.

Kyna duduk diam sambil memperhatikan perubahan ekspresi dramatis Aldrian dan Anara.

"Ayo duduk. Ini istriku, Sonia. Dia itu seorang guru tari." Suaminya Sonia memperkenalkan mereka, "Ini Pak Aldrian, rekan bisnisku. Itu istrinya."

Kata "istri" itu membuat tangan Aldrian gemetar sejenak, sedangkan Anara juga terlihat gelisah. Mereka merasa serbasalah dan menatap Kyna dengan gugup. Namun, Kyna hanya menatap mereka dan tersenyum tipis.

Sonia juga memperkenalkan suaminya kepada Kyna, "Ini suamiku, namanya Evan."

Kemudian, Sonia menunjuk Kyna dan lanjut berkata, "Ini muridku yang dulunya punya peluang terbesar untuk raih Piala Tari Nasional."

Ketika mendengar kata "Piala Tari Nasional", mata Aldrian meredup sepenuhnya. Dia mengalihkan pandangannya ke bawah, seolah-olah ingin melihat kaki Kyna.

Kyna menyadarinya. Pada saat ini, mata Aldrian dipenuhi penderitaan. Benar juga, bagaimana mungkin Aldrian tidak menderita? Jika bukan karena kakinya menjadi pincang, Aldrian tidak akan menikahinya, sedangkan wanita di sampingnya sekarang bisa menjadi istri sahnya.

Kyna tersenyum dan berujar, "Bu Sonia, Pak Evan, sebenarnya akulah ...."

"Ah!" seru Anara di waktu yang tepat untuk menyela kata-kata Kyna.

Kyna pun berhenti berbicara. Anara menumpahkan teh yang begitu panas hingga membasahi tangan dan pakaiannya.

"Ma ... maaf. A ... aku benar-benar nggak sopan." Anara segera mengambil tisu untuk menyeka teh yang tumpah itu.

"Nggak apa-apa." Sonia yang tidak menyadari apa-apa bahkan memberinya tisu.

Secangkir teh yang tumpah sudah menghentikan Kyna untuk mengungkapkan kebenaran. Namun, jika Kyna ingin lanjut berbicara, apakah Anara bisa menghentikannya?

Di seberang, Aldrian menatap Kyna dengan penuh permohonan dan menggeleng pelan. Dia seolah-olah sedang bergumam dalam hati, 'Jangan ngomong, jangan ngomong.'

Cih! Kyna sebenarnya juga tidak ingin mengungkapkannya. Dia hanya ingin membuat mereka panik.

Selama berada di kafe, ada orang yang terlihat tegang, sedangkan ada juga yang tenang.

Saat Kyna mengangkat cangkir tehnya, Sonia tiba-tiba memperhatikan tangannya dan bertanya, "Kyna, itu cincin kawin? Siapa suamimu?"

Pertanyaan itu terasa bagaikan guntur di langit cerah yang mengejutkan Aldrian dan Anara di seberang. Ekspresi mereka seketika berubah drastis.

Kyna menatap tangan Aldrian yang sedang memegang cangkir teh dan tersenyum mengejek. Aldrian tidak pernah memakai cincin kawin. Begitu resepsi pernikahan mereka berakhir, dia langsung melepas cincin kawin itu. Sejak saat itu, cincin kawin itu entah disimpan di mana.

"Iya, aku sudah nikah selama lima tahun. Suamiku bermarga Wibowo," jawab Kyna dengan santai.

"Kebetulan sekali? Dia juga bermarga Wibowo?" tanya Aldrian. Implikasinya sudah jelas. Dia ingin Kyna berhenti bicara.

"Ya, dia bermarga Wibowo, juga seorang pebisnis. Tapi, bisnisnya nggak sebesar bisnis Pak Aldrian," jawab Kyna sambil menyesap tehnya.

Dari balik cangkir teh, Kyna melihat dengan jelas Aldrian menghela napas lega.

"Kebetulan sekali. Lain kali, ajak suamimu keluar juga. Kita bisa minum teh bareng," ucap Evan. Berhubung Kyna adalah murid Sonia, dia bersikap sangat hormat kepada Kyna.

Ekspresi Aldrian berubah lagi.

Kyna benar-benar merasa lucu. Dalam lima tahun pernikahan mereka, perubahan ekspresi Aldrian selama ini bahkan tidak sebanyak satu sore ini.

Berhubung situasinya begitu canggung, Aldrian juga tidak berniat untuk menghabiskan waktu terlalu lama di kafe ini. Setelah mengobrol sebentar, dia mengatakan bahwa dirinya masih ada urusan dan harus pergi. Namun, karena khawatir Kyna akan mengatakan sesuatu yang tidak pantas jika ditinggal sendiri, dia memberi isyarat agar Kyna juga segera pergi.

Bab 8

Pada saat ini, Sonia juga kebetulan menerima panggilan telepon. Dari percakapan itu, sepertinya ada orang yang mencarinya. Kyna yang tidak ingin mengganggu waktu Sonia benar-benar juga harus pergi.

Aldrian menawarkan, "Pak Evan, Bu Sonia, kalian tinggal di mana? Aku akan antar kalian."

Mereka menginap di hotel sebelah dan tidak membutuhkan tumpangan. Akan tetapi, Sonia mengkhawatirkan Kyna dan bertanya di mana Kyna tinggal. Kyna melirik Aldrian dan menyebutkan nama jalan dan kompleks apartemennya.

"Evan, aku naik taksi saja. Kamu antarkan Kyna pulang, ya," kata Sonia.

Aldrian memanfaatkan kesempatan itu untuk berbicara, "Kami tinggal di area yang sama dengan Kyna. Biar kami saja yang mengantarnya."

"Ini ...." Sonia merasa sedikit ragu.

Namun, Kyna langsung setuju, "Oke. Kalau begitu, repotin Pak Aldrian, ya."

Kyna sengaja menekankan kata-kata "Pak Aldrian".

Mendengar ini, Aldrian pun mengerutkan kening. Akan tetapi, Kyna pura-pura tidak memperhatikannya.

Setelah itu, Aldrian, Kyna, dan Anara naik lift ke tempat parkir bawah tanah.

Setibanya di tempat parkir, Anara tidak melangkah lebih jauh. Dia berdiri di pintu masuk, lalu tersenyum manis dan berkata dengan manja, "Sudahlah, Aldri. Kalian pulang saja. Aku bisa naik taksi sendiri. Kyna, kukembalikan posisi istrinya Aldrian ke kamu, ya."

Apa maksudnya mengembalikan posisi itu? Kapan dia setuju untuk meminjamkannya?

Anara menggenggam erat lengan Kyna dan mengguncangnya dengan manja, "Kyna, jangan marah. Kesalahpahaman hari ini nggak disengaja. Aldri sangat pentingkan kerja sama ini. Hubungan Pak Evan dengan istrinya sangat baik. Kalau hubungan suami istri mitranya juga baik, itu bisa jadi nilai plus bagi proyek ini. Jadi, kami pun nggak menjelaskannya. Lagian, kamu ...."

Anara melirik kaki Kyna, lalu lanjut merangkul lengan Kyna dan menambahkan, "Kyna, kamu nggak akan marah sama kami, 'kan?"

"Kami?" Kyna mencibir, "Siapa kami yang kamu maksud?"

Raut wajah Anara langsung berubah.

Kyna tidak suka orang asing menempel padanya, terutama Anara. Seusai berbicara, dia langsung menarik lengannya. Dia bersumpah dia hanya menarik lengannya, juga tidak mengerahkan tenaga atau mendorong Anara. Namun, Anara malah jatuh ke lantai.

"Kyna!" tegur Aldrian dengan suara kuat.

Anara terlihat lebih bersemangat daripada siapa pun. Dia segera berdiri, lalu mengadang di depan Aldrian.

Dia menempelkan seluruh tubuhnya ke arah Aldrian sambil membujuk, "Aldri, jangan marah. Jangan salahkan Kyna juga. Aku sendiri yang ceroboh. Kyna cuma mendorongku dengan pelan. Aku yang nggak berdiri dengan baik. Aldri, kalian jangan bertengkar gara-gara aku, ya. Aku mohon. Kalau nggak, aku akan sedih ...."

Seharusnya hanya Aldrian seorang yang percaya pada akting buruk Anara itu, 'kan? Apalagi, sambil menghalangi Aldrian, Anara juga sengaja menunjukkan pergelangan tangannya yang lecet. Oh, di pergelangan tangan itu, ada juga jam tangan yang baru saja dibelinya. Kyna memiliki sepuluh jam tangan itu.

Aldrian mengerutkan kening ketika melihat pergelangan tangan Anara yang lecet. Matanya dipenuhi rasa sakit hati. "Kyna! Ada apa denganmu? Bukannya biasanya kamu begitu lembut dan pengertian. Kenapa kamu berprasangka begitu buruk terhadap Nara?"

"Aku, berprasangka buruk terhadapnya?" Kyna terkekeh. "Prasangka apa yang mungkin kumiliki terhadapnya? Lagian, dia sudah jadi istrimu. Apa aku punya hak untuk keberatan?"

"Kamu ...." Aldrian tidak dapat berkata-kata. Dia menatap Anara dan bertanya, "Sakit?"

"Nggak ...," jawab Anara dengan nada manja. Dia mengatakan tidak sakit, tetapi malah mendekatkan pergelangan tangannya ke dagu Aldrian.

Dilema Pernikahan bersama Presdir Dingin

Bab 6
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya