Bab 1
Pada ulang tahun pernikahan kelima Kyna dan Aldrian, cinta pertama Aldrian pulang ke dalam negeri. Malam itu, Kyna mendapati Aldrian melepaskan hasratnya di kamar mandi sambil menggumamkan nama cinta pertamanya itu. Ternyata, inilah alasan Aldrian tidak menyentuhnya selama lima tahun pernikahan mereka.
Aldrian berkata, "Kyna, Nara yang pulang sendirian kasihan banget. Aku cuma bantu dia sebagai seorang teman."
Kyna menjawab, "Aku mengerti."
Aldrian berkata, "Kyna, aku pernah janji ke Nara untuk rayakan ulang tahunnya di pulau. Aku cuma penuhi janjiku."
Kyna menjawab, "Oke."
Aldrian berkata, "Kyna, aku butuh seseorang yang cakap untuk hadiri pesta malam ini. Nara lebih cocok daripada kamu."
Kyna menjawab, "Emm, pergilah."
Ketika Nara berhenti marah, menangis, dan membuat keributan, Aldrian malah merasa bingung dan bertanya, "Kyna, kenapa kamu nggak marah?"
Kyna tentu saja tidak marah lagi. Sebab, dia juga akan segera pergi. Dia sudah bosan dengan pernikahan mereka yang monoton. Jadi, dia diam-diam belajar bahasa asing, mengikuti tes kemampuan bahasa asing, dan diam-diam mengajukan aplikasi studi ke luar negeri.
Pada hari visanya disetujui, Kyna melemparkan surat kesepakatan cerai ke hadapan Aldrian.
Aldrian berujar, "Jangan bercanda lagi. Mana mungkin kamu bisa bertahan hidup tanpa aku?"
Namun, Kyna tidak peduli pada tanggapan Aldrian dan membeli tiket pesawat ke Yuropiah. Sejak saat itu, kabarnya tak pernah terdengar lagi.
Aldrian baru mendengar berita tentang Kyna lagi ketika video Kyna yang mengenakan gaun merah dan menarikan tarian tanah air di negeri asing viral di seluruh internet ....
Dia menggertakkan giginya dan bergumam, "Kyna, nggak peduli di mana pun kamu bersembunyi, aku akan bawa kamu kembali!"
Suara air mengalir terdengar dari dalam kamar mandi. Aldrian Wibowo sedang mandi.
Jam menunjukkan pukul tiga dini hari. Aldrian baru saja pulang.
Kyna Jurnadi berdiri di depan pintu kamar mandi karena ingin membicarakan sesuatu dengan Aldrian. Dia sedikit gugup dan bertanya-tanya apakah pria itu akan menyetujui apa yang hendak dia katakan.
Saat sedang memikirkan bagaimana cara membuka mulut, Kyna tiba-tiba mendengar suara aneh dari dalam kamar mandi. Setelah mendengarkan dengan saksama, dia akhirnya mengerti. Pria itu sedang melepaskan hasratnya ....
Setiap tarikan napas dan erangan Aldrian terasa bagaikan serangkaian pukulan palu yang tak henti-hentinya menghantam jantung Kyna. Rasa sakit melanda hatinya dan membuatnya kesulitan bernapas.
Hari ini adalah ulang tahun pernikahan mereka yang kelima, tetapi mereka tak pernah berhubungan intim. Ternyata, pria ini lebih memilih untuk melepaskan hasratnya sendiri daripada menyentuhnya?
Seiring dengan napasnya yang makin cepat, Aldrian tiba-tiba mengeluarkan gumaman pelan yang nyaris tak tertahan, "Nara ...."
Sepatah kata itu memberikan pukulan terakhir yang fatal bagi Kyna. Dia merasa seperti mendengar suara ledakan, lalu sesuatu di dalam dirinya hancur berkeping-keping.
Kyna menutup mulutnya dengan kuat untuk meredam isak tangisnya, lalu berbalik dan berlari pergi. Namun, dia malah langsung tersandung pada langkah pertamanya dan menghantam wastafel sebelum jatuh ke lantai.
"Kyna?" Suara Aldrian masih belum kembali seperti semula. Dia jelas berusaha mengendalikan diri, tetapi napasnya masih sangat berat.
"A ... aku mau pakai toilet. Aku nggak tahu kamu lagi mandi ...," jawab Kyna. Dia melontarkan kebohongan yang buruk sambil meraih wastafel dengan panik agar bisa berdiri.
Namun, makin terburu-buru, makin menyedihkan pula tampang Kyna. Bagaimanapun juga, lantai dan wastafel dibasahi air. Ketika dia akhirnya berhasil berdiri, Aldrian juga telah keluar. Jubah mandi putihnya dikenakan secara asal karena tergesa-gesa, tetapi ikat pinggangnya terpasang rapi.
"Kamu jatuh? Ayo kubantu berdiri," ucap Aldrian sambil bergerak untuk memapah Kyna.
Rasa sakit membuat Kyna berlinang air mata, tetapi dia tetap menepis tangan Aldrian. Meskipun terlihat menyedihkan, dia menjawab dengan tegas, "Nggak usah, aku bisa sendiri."
Setelah hampir terpeleset lagi, Kyna melarikan diri ke kamar dengan tertatih-tatih.
Kata "melarikan diri" memang sangat tepat untuk mendeskripsikannya. Selama lima tahun menikah dengan Aldrian, Kyna terus-menerus melarikan diri. Dia melarikan diri dari dunia luar, dari tatapan aneh semua orang, serta dari rasa kasihan dan simpati Aldrian.
Istri Aldrian adalah seorang pincang. Bagaimana mungkin seorang pincang layak mendampingi Aldrian yang gagah dan sukses? Namun, dulu Kyna juga memiliki sepasang kaki yang indah ....
Aldrian mengikutinya keluar, lalu bertanya dengan suara yang lembut dan penuh kekhawatiran, "Apa kamu terluka? Coba kulihat."
"Nggak, aku baik-baik saja." Kyna menyelimuti dirinya dengan erat untuk menyembunyikan keadaannya yang menyedihkan.
"Kamu benar-benar baik-baik saja?" Aldrian benar-benar khawatir.
"Emm." Kyna mengangguk kuat dengan membelakanginya.
"Jadi, kamu sudah mau tidur? Bukannya kamu mau pakai toilet?"
"Nggak lagi. Ayo tidur," bisik Kyna.
"Emm. Ngomong-ngomong, hari ini hari peringatan pernikahan kita. Aku belikan kamu hadiah. Bukalah hadiahnya besok dan lihat kamu suka atau nggak."
"Oke."
Hadiah itu ada di meja samping tempat tidur dan Kyna sudah melihatnya. Akan tetapi, dia tahu isinya tanpa perlu membukanya. Setiap tahun, kotak hadiah itu berukuran sama dan isinya juga adalah jam tangan yang sama persis dengan tahun-tahun sebelumnya.
Di dalam laci, jika dihitung bersama dengan hadiah ulang tahunnya, sudah ada sembilan jam tangan yang identik. Ini yang kesepuluh.
Percakapan mereka berakhir di sana. Aldrian memadamkan lampu, lalu berbaring di atas tempat tidur. Aroma sabun mandinya seketika memenuhi udara.
Namun, Kyna hampir tidak merasakan tempat tidur di sampingnya tenggelam. Sebab, tempat tidur itu selebar dua meter. Dia berbaring di satu sisi, sedangkan Aldrian berbaring di paling pinggir sisi lainnya. Di antara mereka, terdapat ruang yang cukup untuk ditiduri tiga orang lagi.
Tak satu pun dari mereka yang mengungkit nama Nara, apalagi tentang apa yang dilakukan Aldrian di kamar mandi tadi. Semuanya seolah-olah tidak pernah terjadi.
Kyna berbaring kaku dan hanya merasa matanya sangat perih.
Nara yang nama lengkapnya Anara Chandra adalah teman kuliah, sekaligus cinta pertama dan wanita idaman Aldrian. Setelah lulus kuliah, Anara pergi ke luar negeri dan mereka pun putus. Aldrian sangat terpukul dan menenggelamkan diri dalam alkohol setiap harinya.
Di sisi lain, Kyna dan Aldrian adalah teman SMA. Dia mengakui bahwa dirinya memang diam-diam menyukai Aldrian saat SMA.
Saat itu, Aldrian adalah siswa populer dan peraih juara umum yang terkenal dingin. Sementara itu, Kyna adalah murid seni. Meskipun dia juga cantik, ada banyak gadis cantik di sekolah. Pada masa SMA, di mana nilai adalah segalanya, murid seni tidak begitu menarik perhatian dan bahkan ada yang berprasangka buruk terhadap mereka.
Oleh karena itu, Kyna hanya diam-diam menyukai Aldrian. Dia tidak pernah membayangkan dirinya memiliki kesempatan untuk berinteraksi dengan Aldrian. Sampai dia lulus dari jurusan seni tari, lalu pulang ke rumah pada liburan musim panas dan baru bertemu dengan Aldrian yang patah hati.
Malam itu, Aldrian mabuk dan berjalan terhuyung-huyung di jalanan. Dia tidak melihat lampu lalu lintas saat menyeberang jalan, sedangkan sebuah mobil yang melaju kencang ke arahnya tidak sempat mengurangi kecepatan.
Kyna yang khawatir pada Aldrian mengikutinya sepanjang jalan. Ketika menyaksikan hal ini, dia mendorong Aldrian, tetapi dirinya malah tertabrak mobil.
Kyna adalah seorang mahasiswi tari, juga sudah berhasil mendapatkan rekomendasi untuk melanjutkan program pascasarjana tanpa harus mengikuti ujian masuk. Namun, kecelakaan ini telah membuatnya pincang. Dia tidak bisa menari lagi.
Setelah itu, Aldrian berhenti minum-minum dan memutuskan untuk menikahi Kyna. Dia akan selalu merasa bersalah dan berterima kasih, bertutur kata lembut, bersikap acuh tak acuh, juga menghujani Kyna dengan hadiah dan uang. Namun, dia tidak akan pernah mencintai Kyna.
Kyna mengira waktu akan menghangatkan semua luka dan memudarkan segala rasa. Tak disangka, meskipun lima tahun telah berlalu, Aldrian masih mengingat nama "Nara" dengan begitu jelas. Aldrian bahkan memanggil nama itu saat sedang melepaskan hasratnya.
Pada akhirnya, Kyna yang terlalu naif dan bodoh ....
Kyna tidak tidur semalaman. Dia membaca e-mail di ponselnya paling tidak 100 kali.
Itu adalah tawaran melanjutkan studi pascasarjana dari universitas luar negeri, juga sesuatu yang awalnya ingin dibicarakan Kyna dengan Aldrian malam itu. Dia ingin meminta izin berkuliah di luar negeri untuk mendapatkan gelar master. Sekarang, dia sepertinya tidak perlu membicarakan hal ini dengan Aldrian.
Setelah lima tahun pernikahan dan begitu banyak malam penuh kegelisahan, dari detik ini, Kyna akhirnya bisa mulai menghitung mundur menuju perpisahan.
Ketika Aldrian bangun, Kyna masih berpura-pura tidur. Dia mendengar Aldrian berbicara dengan pembantu bernama Sani di luar.
"Aku akan hadiri acara bisnis malam ini. Beri tahu Nyonya untuk nggak perlu tunggu aku dan tidur saja lebih awal."
Setelah memberi instruksi itu, Aldrian kembali ke kamar untuk memeriksa Kyna lagi. Kyna berada di balik selimut dan bantalnya telah dibasahi air mata.
Biasanya, Kyna selalu sudah menyiapkan pakaian kerja Aldrian dan meletakkannya di samping. Aldrian hanya tinggal mengenakannya. Namun, Kyna tidak melakukannya hari ini. Aldrian pun pergi ke ruang ganti untuk berganti pakaian, lalu pergi ke perusahaan.
Setelahnya, Kyna baru membuka matanya yang bengkak. Alarm ponselnya berbunyi. Ini adalah waktu yang telah dia tetapkan untuk bangun dan belajar bahasa asing.
Sejak menikah, karena cedera kakinya, Kyna menghabiskan 90% waktunya di rumah. Dia tidak lagi keluar rumah dan hanya bisa membagi harinya menjadi beberapa segmen, lalu mencari kegiatan untuk melewati hari.
Kyna mengambil ponselnya, lalu mematikan alarm dan membuka berbagai aplikasi tanpa tujuan. Pikirannya kacau balau dan dia tidak mampu menyerap informasi apa pun, sampai dia tiba-tiba menemukan sebuah video di sebuah aplikasi.
Orang di video itu sangat familier ....
Nama akunnya Narachan.
Rekomendasi ini benar-benar ....
Video itu diposting semalam.
Kyna mengklik video itu dan segera mendengar alunan musik yang meriah, diikuti seruan seseorang.
"Satu, dua, tiga! Selamat atas kepulangan Nara! Cheers!"
Itu suara Aldrian.
Bab 2
Aldrian melanggar janjinya dan minum alkohol lagi. Dinilai dari suaranya, dia jelas sudah sedikit mabuk. Namun, Aldrian ternyata juga bisa berseru seperti itu?
Dalam kesan Kyna terhadap Aldrian, saat SMA, Aldrian adalah sang juara umum yang dingin. Dia bukan hanya serius saat mengerjakan soal, tetapi juga mengabaikan gadis-gadis yang suka menawarinya air di lapangan olahraga.
Setelah menjadi suaminya, Aldrian bersikap sangat sopan. Emosinya begitu stabil hingga bisa dibilang tak beremosi. Dia tidak pernah tersenyum ataupun marah, hanya selalu bersikap acuh tak acuh. Hingga ketika tidak sengaja menyentuh jari-jarinya sesekali, Kyna merasa tubuhnya juga terasa dingin.
Kamera menyorot wajah semua orang dalam video. Kyna melihat sosok Aldrian yang agak mabuk, tetapi matanya berbinar. Dia mengangkat gelasnya dan tersenyum lebar ke arah kamera. "Selamat datang kembali ke rumah, Nara."
Ternyata Aldrian juga bisa tersenyum, bersikap antusias, dan memberi nama panggilan kepada seorang gadis. Hanya saja, dia tidak akan pernah tersenyum ataupun bersikap antusias pada Kyna, apalagi memberinya nama panggilannya.
"Nyonya sudah bangun?" Terdengar suara Sani dari luar pintu.
Setiap hari, jadwal Kyna sangat teratur. Berhubung Kyna belum keluar dari kamar, Sani khawatir Kyna mungkin membutuhkan bantuannya. Bagaimanapun juga, kakinya Kyna memang bermasalah.
Kyna meletakkan ponselnya dan menyahut dengan suara yang terdengar serak dan tercekat, "Sudah. Aku akan keluar sekarang juga."
Sani membuatkan pangsit kuah, tetapi Kyna hanya makan sesuap.
"Nyonya mau makan apa untuk siang dan malam hari?" tanya Sani sambil memberinya segelas susu.
"Terserah. A ..." Kyna awalnya ingin menjawab "apa saja yang Tuan suka" seperti biasa, tetapi tiba-tiba diam.
Namun, Sani mengerti. Bagaimanapun juga, Kyna selalu memberi jawaban yang sama setiap hari. Dia segera berujar, "Tuan bilang, dia nggak akan pulang untuk makan malam hari ini. Dia mau hadiri acara bisnis."
Kyna mengangguk.
Aldrian tentu saja tidak akan pulang untuk makan malam. Melalui postingan di media sosial, Kyna tahu bahwa Anara telah membuat daftar siapa yang akan mentraktir semua orang selama seminggu ke depan dan apa yang ingin dia makan.
[ Hubungan yang terjalin di masa kuliah memang paling tulus. Aku ini si manis yang dimanjakan begitu banyak kakak! ]
Kyna biasanya belajar bahasa asing selama dua jam di siang hari, lalu mempelajari teori seni untuk beberapa jam. Jika tidak menyibukkan diri, bagaimana dia bisa menghabiskan waktu yang panjang ini? Tidak mungkin dia menghabiskan seluruh hidupnya untuk menunggu kepulangan seseorang, 'kan?
Kyna pernah menunggu sebelumnya .... Perasaan menunggu itu terlalu menyakitkan.
Namun, jadwal Kyna hari ini berbeda dengan sebelumnya. Tawaran ini mungkin merupakan bagian dari penerimaan siswa baru gelombang terakhir. Dia perlu mengonfirmasinya sesegera mungkin. Jadi, hal pertama yang dia lakukan hari ini adalah membayar biaya konfirmasi ke pihak kampus.
Ketika masuk notifikasi tentang pemotongan uang dari rekening banknya, Kyna menghela napas lega. Hari perpisahannya dengan Aldrian terasa selangkah lebih dekat lagi.
Malam harinya, Kyna berganti pakaian dan bersiap untuk keluar rumah.
Sani pun bertanya dengan terkejut, "Nyonya mau ke mana?"
Kyna hampir tidak pernah keluar rumah tanpa ditemani Aldrian.
"Oh, teman kuliahku lagi manggung di sini dan ajak aku ketemuan," jawab Kyna.
Sebenarnya, dia berencana untuk menginap di hotel dekat lokasi ujian. Besok pagi, dia akan menjalani tes kemampuan bahasa asing. Dia takut terjebak macet dan terlambat menghadiri ujian.
Terakhir kali Kyna mengikuti ujian itu adalah beberapa bulan yang lalu, tetapi dia tidak mencapai skor yang diinginkan. Hanya saja, batas waktu pengajuan aplikasi studi ke luar negeri sudah tiba. Jadi, dia terlebih dahulu mengajukan permintaan itu.
Berhubung tidak menyangka dirinya akan diterima, Kyna baru menjadwalkan ujian ulang pada besok pagi. Untungnya, pihak kampus memperbolehkan penyerahan hasil tes kemampuan bahasa asing belakangan.
"Tapi ...." Sani melirik kakinya dan bertanya, "Gimana kalau aku temani Nyonya?"
"Nggak usah. Ini acara kumpul-kumpul teman dekat. Orang lainnya nggak akan nyaman kalau ada tambahan orang," sahut Kyna dengan tenang.
"Kalau begitu, aku akan beri tahu Tuan." Sani benar-benar mengkhawatirkan Kyna dan tidak sanggup bertanggung jawab jika terjadi sesuatu.
"Nggak perlu. Biarkan saja dia hadiri acara sosialnya dengan tenang. Jangan ganggu dia. Aku akan telepon dia setelah acaranya selesai, lalu suruh dia jemput aku."
Seusai berbicara, Kyna meraih tasnya dan berjalan keluar.
Mengingat cedera kaki Kyna, Aldrian membeli sebuah apartemen satu lantai yang besar sebagai rumah mereka. Setelah keluar rumah, Kyna pun naik lift ke bawah.
Begitu melangkah ke bawah sinar matahari, Kyna secara naluriah menunduk dan membungkuk. Dia juga memakai topi dan menaikkan kerahnya.
Sejak menjadi pincang, Kyna yang selalu tampil percaya diri dan bersemangat di atas panggung telah lenyap. Kyna yang pincang pun kehilangan keberanian untuk muncul di depan umum.
Sani selalu menyuruh Kyna untuk mengajak Aldrian apabila ingin keluar. Aldrian juga selalu mengatakan bahwa Kyna sebaiknya tinggal di rumah jika bukan keluar dengan ditemaninya. Namun, mereka berdua tidak tahu bahwa Kyna paling takut keluar bersama Aldrian. Itu lebih menakutkan daripada keluar sendirian.
Sebab, semua orang yang melihat mereka seperti sedang berpikir kenapa pria seunggul itu bisa memiliki istri yang pincang.
Kyna memanggil taksi dan melaju menuju hotel. Di dalam taksi, dia diam-diam memandangi pemandangan jalan di luar jendela. Tiba-tiba, dia melihat mobil Aldrian terparkir di suatu tempat.
"Tunggu, tolong berhenti sebentar," ucapnya dengan terburu-buru kepada sopir.
Mobil Aldrian terparkir di depan sebuah restoran. Kemarin, salah satu teman masa kecil Aldrian yang mentraktir. Hari ini baru giliran Aldrian. Itulah yang ditulis Anara di platform media sosial.
Kyna keluar dari taksi tanpa sadar. Setibanya di restoran, dia langsung berkata, "Sudah ada reservasi tempat atas nama Aldrian."
Dia juga menyebut empat digit terakhir nomor telepon Aldrian.
Kemudian, pelayan itu mengantar Kyna ke depan pintu sebuah ruang privat. "Di sini tempatnya."
"Terima kasih," ucap Kyna kepada pelayan itu.
Sebenarnya, Kyna tidak tahu untuk apa dirinya datang ke tempat ini. Ketika masih berada di rumah, dia tidak berhenti terdorong untuk melakukan tindakan impulsif. Namun, setelah benar-benar berdiri di tempat ini, dia bahkan tidak punya keberanian untuk membuka pintu.
Dari dalam, terdengar suara percakapan orang-orang.
"Aku nggak bisa pulang kemalaman, juga nggak boleh minum-minum lagi. Waktu pulang dalam keadaan mabuk semalam, istriku sangat marah," ujar salah satu teman masa kecil Aldrian.
"Apa kamu masih bisa disebut kakakku? Dulu kamu pernah janji, nggak peduli apa pun yang terjadi, aku akan selalu jadi prioritasmu. Sekarang, kamu begitu takut sama istrimu? Memang tetap Kak Aldri yang adalah teman sejati."
Yang berbicara adalah Anara. Suaranya terdengar lembut dan manja. Ternyata kepribadian Anara seperti ini. Jadi, Aldrian menyukai gadis dengan kepribadian seperti ini?
Sayangnya, kepribadian Kyna benar-benar tidak seperti itu. Dia bahkan tidak mampu bersandiwara menjadi orang seperti itu.
Di dalam ruang privat, teman masa kecil Aldrian melanjutkan, "Memangnya aku bisa dibandingkan sama Aldri? Kyna mana berani tegur dia?"
"Oh iya." Anara berbicara lagi, "Aldri, dengar-dengar, istrimu pincang? Kenapa?"
Tidak ada yang menjawab pertanyaan Anara.
Hati Kyna pun menegang.
Kemudian, teman-teman Aldrian mulai berbicara.
"Aldri, kami benar-benar kasihan sama kamu. Kamu punya uang, tampan, dan sukses. Kamu bisa menikahi siapa saja, tapi kenapa kamu nikah sama orang pincang?"
"Aldri, jujur saja, kamu itu cowok paling unggul di antara kami. Sekarang, kamu sudah nikah sama Kyna. Tapi entah itu rapat, acara sosial, konferensi pers, atau acara apa pun yang harus bawa istri, dia juga nggak bisa dibawa keluar. Memangnya kamu nggak merasa rugi?"
Ternyata begitu ....
Aldrian selalu mengatakan bahwa Kyna tidak perlu terlibat dalam urusannya. Kyna hanya perlu tinggal di rumah dan menunggu Aldrian menghasilkan uang untuknya.
Keluarga Kyna memuji habis-habisan Aldrian yang seperti ini. Semua orang mengatakan bahwa dia sangat bahagia. Akan tetapi, alasannya ternyata karena Aldrian merasa malu untuk menunjukkannya di depan umum ....
Suara getir Aldrian menggema dari dalam ruang privat. "Dia sudah selamatkan nyawaku. Aku berutang budi padanya."
"Kamu sudah beri dia begitu banyak uang, itu sudah cukup untuk balas budi!"
"Benar! Dulu, kamu seharusnya kasih uang ke dia dan langsung putus hubungan sama dia. Buat apa kamu korbankan kebahagiaanmu seumur hidup?"
"Menurutku, sebaiknya kamu pertimbangkan baik-baik. Dengan berdoa tulus setiap hari, kamu mungkin masih bisa diberkati dengan keberuntungan. Tapi, apa gunanya kamu nikahi orang seperti itu?"
"Makanya, apa yang bisa dia lakukan untukmu? Dia nggak bisa dibawa keluar untuk hadiri acara sosial, bahkan juga nggak bisa bawa secangkir air dengan baik di rumah. Aldri, ayo minum air .... Begini, begini, atau begini?"
Dalam seketika, tawa pun meledak di ruang privat itu. Sambil tertawa terbahak-bahak, Anara bertanya, "Aldri, apa benar istrimu jalannya begitu?"
Kyna yang menguping di dekat pintu pun merasa darahnya mendidih. Rasa marah dan malu membuatnya kehilangan kendali. Kemudian, dia membuka pintu ruang privat itu.
Ruangan itu dipenuhi tawa riuh. Salah satu teman masa kecil Aldrian yang bernama William sedang memegang segelas air dan berjalan tertatih-tatih secara dramatis. Dia juga meninggikan suaranya dan berujar, "Aldri, ayo minum air. Aldri, ah ... aku jatuh. Aldri, peluk ...."
Kyna menatap Aldrian dan berharap suaminya, yang juga merupakan orang yang paling dicintainya itu bisa membelanya di saat seperti ini.
Bab 3
Namun, pertunjukan yang berlebihan itu justru membuat semua orang di dalam ruang privat tertawa makin keras. Anara yang duduk di sebelah Aldrian tertawa terbahak-bahak hingga bersandar di bahu Aldrian.
Sementara itu, Aldrian tetap diam membisu ....
William berbalik sambil tersenyum. "Aldri, benar begi ...."
Sebelum sempat menyelesaikan pertanyaannya, William melihat Kyna berdiri di ambang pintu dan senyumnya membeku. "Kak ... Kak Kyna ...."
Semua orang menoleh ke arah pintu dan tercengang.
Anara mengangkat kepalanya dari bahu Aldrian, lalu tersenyum dan berkata, "Oh, ini istri Aldri yang legendaris itu? Halo! Masuklah, aku teman baik Aldri."
Kyna menatap semua orang di ruang privat itu dengan hati yang terasa dingin.
Aldrian akhirnya berdiri dan berjalan ke arahnya. "Kyna, kok kamu ada di sini? Mereka cuma bercanda, jangan dimasukkan ke hati."
Kyna menatap Aldrian dan merasa pria itu benar-benar asing, bahkan lebih asing dari sebelumnya. Jadi, ketika orang lain mengejek istrinya, dia ternyata berpihak pada mereka?
"Benar, Kak Kyna .... Maaf, aku cuma bercanda. Jangan marah, ya." William meminta maaf sambil meletakkan gelasnya.
"Kyna." Aldrian berjalan ke hadapan Kyna, lalu berniat merangkulnya.
Namun, Kyna tiba-tiba teringat Anara yang tertawa dan bersandar di bahu Aldrian, juga teringat bagaimana dia memuaskan diri dengan tangannya di kamar mandi dan menyerukan nama "Nara" ketika mencapai klimaks.
Dalam seketika, Kyna langsung merasa tangan Aldrian benar-benar kotor dan segera menghindar.
"Kyna." Aldrian menatap tangannya yang kosong dengan terkejut, lalu menghela napas. "Aku gantikan mereka minta maaf. Jangan marah, ya? Aku akan belikan kamu hadiah setelah pulang nanti. Beli saja apa pun yang kamu mau."
Anara memelototi William dengan ekspresi jenaka dan berseru, "Kenapa kamu masih nggak minta maaf setelah buat istrinya Aldrian marah? Kamu kira semua orang seperti aku yang begitu cuek, ceroboh, nggak peka, dan bisa diajak bercanda seenaknya?"
Kyna mencibir dalam hati. Ucapan Anara benar-benar munafik. Namun, sangat jelas bahwa sekelompok pria ini tidak mengerti. Mereka justru sangat senang mendengarnya.
William pun protes setelah dipelototi, "Aku sudah minta maaf! Aku juga nggak tahu Kak Kyna akan tiba-tiba datang. Aku benar-benar cuma bercanda."
"Sebuah candaan baru bisa dianggap sebagai candaan kalau orang yang diolok-olok menganggapnya lucu," ujar Kyna dengan tangan gemetar. Dia nyaris telah mengerahkan seluruh keberaniannya.
Kyna memang pincang dan tidak cukup baik untuk Aldrian. Kesadaran ini telah menghantuinya seperti kutukan selama lima tahun terakhir. Bahkan tatapan penuh tanda tanya atau mengejek orang lain juga bisa menyakitinya. Setelahnya, dia akan bersembunyi dan diam-diam menyembuhkan lukanya untuk waktu yang sangat lama.
Setelah mendengarnya, William bergumam. "Tapi aku sudah minta maaf!"
"Aku ... aku nggak terima ...." Kyna gemetar makin hebat. Ini pertama kalinya dia menghadapi ejekan orang secara langsung.
"Lalu, apa maumu?" tanya William dengan tampang cemberut.
Kyna juga tidak tahu apa yang diinginkannya. Dia hanya menggelengkan untuk menunjukkan penolakannya. Dia tidak dapat menerima ejekan teman-teman suaminya, juga tidak terima suaminya yang berpihak pada teman-temannya.
"Sudahlah, jangan ngomong lagi." Aldrian berdiri di antara Kyna dan William.
Aldrian adalah pemimpin kelompok ini. Setelah lulus kuliah, dengan mengandalkan kemampuan bisnis dan keterampilan eksekusinya yang luar biasa, dia memimpin kelompok ini untuk membangun perusahaan yang berkembang sesukses sekarang. Oleh karena itu, selama dia buka suara, tak seorang pun berani membantah.
"Kyna." Tatapan Aldrian terlihat setenang biasa dan sangat kontras dengan matanya yang berbinar di video Anara.
"Mereka semua temanku sejak kecil. Mereka nggak bermaksud jahat, cuma bercanda. Demi aku, maafkanlah mereka. Mau aku suruh sopir antar kamu pulang dulu?"
"Kak Kyna ...." Anara memasang tampang cemberut dan berdiri di samping Aldrian. "Kalau kamu benar-benar marah, marahlah padaku. Jangan abaikan Aldri. Mereka adakan pertemuan hari ini untuk menyambut kepulanganku .... Aldri, gimana kalau kamu ajak istrimu makan bareng kita? Aku akan bersulang dengannya sebagai bentuk permintaan maaf."
Heh, wanita ini benar-benar munafik.
"Maaf." Kyna menatap Aldrian. Anara berani berbicara begitu karena memiliki dukungan Aldrian! Dia menahan kepahitan di hatinya dan melanjutkan, "Aku nggak minum alkohol, apalagi alkohol yang baunya asam."
Anara langsung memasang tampang hampir menangis. Dia menatap Aldrian dan berujar, "Aldri, dia lagi memakiku? Aku ...."
Kemudian, dia bersikap seolah-olah sedang berusaha menahan air mata dan menambahkan, "Nggak apa-apa. Kak Kyna cuma salah paham sama aku. Nggak masalah juga meski dia memakiku. Jangan salahkan dia ...."
Ekspresi Aldrian berubah serius. "Kyna, Nara juga bermaksud baik. Kenapa kamu begitu kasar?"
Bermaksud baik? Hanya orang bodoh yang akan merasa Anara berniat baik. Apakah Aldrian bodoh? Tidak, dia tidak bodoh. Dia hanya memilih untuk menutup sebelah mata ketika disuruh memilih antara yang benar dan salah. Terhadap siapa hati itu berdetak, pihak itu pula yang benar.
Kyna menatap dua orang di depannya dan beberapa orang di belakang mereka. Dia merasa seolah-olah ada jurang yang tak terlewati di antara mereka.
Mereka semua berada di pihak yang sama dan merupakan kelompok yang berhubungan erat, sedangkan Kyna hanyalah orang luar yang telah menyusup ke dunia mereka. Tidak, dia sebenarnya tidak pernah benar-benar memasuki dunia mereka. Dia hanya selalu berada di pinggiran dan merupakan orang yang tidak disambut.
Kyna berusaha menahan air matanya, lalu berdecak pelan dan berbalik untuk pergi. Di belakangnya, terdengar suara Anara berkata, "Aldri, Kak Kyna ...."
"Nggak apa-apa. Dia sangat pengertian. Aku akan menghiburnya setelah pulang nanti. Ayo, kita lanjutkan acaranya. Nggak usah pedulikan dia."
Aldrian diam-diam melirik sosok Kyna yang menjauh, lalu mengirim pesan kepada sopir dan memintanya untuk mengantar Kyna pulang.
Kyna ingin berjalan dengan lebih tenang dan mantap, tetapi tidak bisa. Makin marah dia, makin goyah pula langkahnya. Saat ini, bukankah tampangnya yang menyedihkan dan panik ini sama persis seperti yang ditirukan William? Mereka pasti akan lanjut menertawakannya setelah dia pergi, 'kan?
Kyna menyeka air matanya dengan kasar, lalu berjalan makin cepat dan tertatih-tatih ....
Saat sopir Aldrian mengejarnya, sosok Kyna sudah lenyap. Dia pun kembali dan memberi tahu Aldrian.
Aldrian sedikit mengernyit, lalu menelepon Kyna. Akan tetapi, Kyna bukan saja tidak menjawab, bahkan menolak panggilannya. Dia mencoba menelepon lagi, tetapi ponsel Kyna telah dinonaktifkan.
William yang pada dasarnya sudah agak kesal pun berkomentar, "Aldri, kamu terlalu manjakan Kak Kyna, makanya tabiatnya jadi begitu buruk. Dengan status dan penampilanmu sekarang, siapa pun yang menikah sama kamu pasti akan perlakukan kamu dengan baik. Tapi, dia malah berani marah sama kamu. Kamu benar-benar sabar."
Aldrian tetap diam.
Yang lain menimpali, "Yang dikatakan William benar. Kamu sudah berkorban begitu banyak untuknya dan keluarga kalian. Kamu bekerja keras di luar, tapi dia nggak paham atau perhatian ke kamu. Cuma karena masalah sepele seperti ini, dia langsung ngambek sama kamu. Apa itu sepadan?"
"Makanya! Dia seharusnya merasa bersyukur karena kamu menikahinya. Kalau nggak, siapa yang mungkin terima orang pincang sepertinya? Kalau bukan kamu, dia cuma bisa nikah sama orang cacat."