Bab 4

Anara mengamati situasi, lalu menyela di saat yang tepat, "Aldri, jangan nggak senang karena semua orang menjelek-jelekkan Kak Kyna. Mereka juga benar-benar peduli sama kamu. Coba pikir, kalian sudah saling kenal selama bertahun-tahun. Kalaupun mereka ngomong sesuatu yang nggak sepantasnya, biarkan saja dan jangan dimasukkan ke hati!"

"Aku nggak marah." Aldrian menyimpan ponselnya dan melanjutkan, "Sudahlah, dia juga nggak bisa ke mana-mana. Ayo lanjut."

Bagaimanapun juga, selain berada di rumah selama lima tahun terakhir, Kyna tidak pernah pergi ke mana pun, juga tidak memiliki tempat yang bisa dikunjunginya.

William melirik Anara dan bergumam, "Memang Nara yang paling murah hati. Andaikan saja kalian berdua nggak putus waktu itu ...."

"Apa yang kamu bicarakan?" Anara memelototi William dan lanjut berkata, "Kamu nggak bisa jaga mulutmu! Asyik bicara omong kosong saja! Aldri sudah menikah. Nggak sepantasnya kamu ngomong begitu ...."

Kemudian, dia menatap Aldrian dengan mata penuh kesedihan dan menambahkan, "Aku kembali tanpa minta apa-apa. Asal kalian masih mau terima aku dan tetap temani aku, aku sudah puas ...."

"Omong kosong apa yang kamu bicarakan? Kamu akan selalu jadi kesayangan kami. Siapa pun yang berani menindasmu, kami nggak akan ampuni dia! Benar nggak, Aldri?" ujar William sambil menepuk dadanya dengan penuh keyakinan.

Aldrian tak banyak bicara, hanya menggoyangkan gelas anggurnya secara perlahan. Pemandangan ini terasa familier.

Bertahun-tahun yang lalu, Aldrian juga seperti ini. Dia suka melihat sekelompok temannya ini bergaul dengan Anara. Hanya ketika keadaannya menjadi tak terkendali dan mereka datang meminta pendapatnya, dia baru menegakkan "keadilan".

Berhubung ditanyai pendapat lagi saat ini, Aldrian pun tersenyum tipis dan menjawab, "Tentu saja."

...

Kyna tidak pulang ke rumah. Dia menetap di hotel yang telah dipesannya. Semua keluhan dan rasa sakit yang ditahannya langsung meledak begitu pintu kamar hotel tertutup. Bayangan William yang meniru langkah pincangnya terus berkelebat di depan matanya. Tawa orang-orang itu juga menggema di telinganya seperti kutukan.

Sebenarnya, Kyna sudah tahu sejak awal apa yang dibicarakan sahabat-sahabat Aldrian tentang dirinya di belakangnya. Akan tetapi, dia tidak pernah membahasnya dengan Aldrian.

Mereka adalah sahabat Aldrian selama bertahun-tahun, dia mengerti. Dia juga mengetahui kesulitan Aldrian bekerja di luar. Jadi, dia tidak ingin menimbulkan masalah bagi Aldrian, apalagi membuat Aldrian berselisih dengan sahabat-sahabatnya karena dirinya.

Dinilai dari keadaan sekarang, Kyna sepertinya sudah berpikir terlalu banyak. Bagaimana mungkin Aldrian bisa berselisih dengan sahabat-sahabatnya karena dirinya? Mereka telah berteman selama bertahun-tahun!

Siapa itu Kyna? Dia hanyalah orang yang terpaksa dinikahi Aldrian karena merasa bersalah dan demi membalas budi. Dia juga merupakan beban bagi Aldrian. Tanpa dirinya, hidup Aldrian akan lebih bahagia.

"Dia sudah pincang! Siapa yang masih menginginkannya kalau kamu nggak menikahinya?"

"Apa lagi yang bisa buat si pincang itu nggak puas setelah nikah sama orang seperti Aldri?"

"Kalau aku itu Aldri, lebih baik aku jadi pincang karena ditabrak mobil, daripada nikah sama orang pincang dan ditertawakan orang lain."

"Presdir perusahaan lain punya istri yang dihormati orang-orang, tapi Aldri bahkan nggak bisa bawa keluar istrinya."

...

Berbagai gosip yang didengar Kyna selama lima tahun terakhir membanjiri pikirannya seperti pusaran air yang bergejolak dan hendak menenggelamkannya. Dia tidak bisa bernapas, sedangkan hatinya terasa sangat sakit.

Dengan tangan gemetar, Kyna membuka album foto di ponselnya, yang tak berani dibukanya selama lima tahun terakhir. Album itu berisi rekaman latihan dan penampilannya selama kuliah. Berhubung tidak bisa lagi tampil di panggung, dia menyegel semua foto dan video menarinya dengan kata sandi, lalu tidak pernah membukanya lagi.

Pada saat ini, ujung jarinya yang gemetar tanpa sengaja menekan sebuah video.

Kyna berputar, bersalto, dan melakukan split di udara dengan mengikuti alunan musik. Pada saat itu, dia juga terlihat berseri-seri, lincah, dan bermandikan tepuk tangan meriah ....

Jadi, apakah menyelamatkan orang adalah sebuah kesalahan? Namun, bahkan saat menyelamatkan Aldrian, Kyna juga tidak pernah berpikir untuk menikahinya.

Aldrian yang mengatakan ingin menikahi Kyna, juga merencanakan lamaran yang megah. Pria itu berlutut di hadapannya dengan cincin berlian besar dan memberinya harapan ....

Dengan tangan gemetar, Kyna menonaktifkan ponselnya dengan susah payah. Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, dia menangis tak terkendali di atas tempat tidur.

Kyna menangis sangat lama. Begitu lama hingga dia merasa lelah, hingga tak ada lagi air mata yang mengalir, hingga yang tersisa hanyalah rasa sakit di dadanya yang memberikan sensasi terbakar.

Namun, justru rasa sakit inilah yang memungkinkannya untuk menemukan sedikit kejernihan setelah terombang-ambing dalam pusaran yang menyesakkan ini. Makin sakit hatinya, makin jernih pula pikirannya.

Kyna pergi ke kamar mandi dan membasuh wajahnya berkali-kali untuk menenangkan diri. Melihat bayangannya yang tak bernyawa di cermin, dia diam-diam berkata pada dirinya sendiri, "Kyna, nangis sekali saja sudah cukup. Nggak boleh nangis lagi. Sekarang, kamu cuma perlu makan dengan baik, istirahat cukup, lalu ujian yang baik besok."

Satu-satunya hal yang disyukuri Kyna adalah, selama lima tahun pernikahan yang panjang ini, dia mengisi waktu dengan belajar setiap hari. Bukan karena dia punya ambisi besar, melainkan karena dia punya begitu banyak waktu luang dan terlalu bosan.

Kegiatan Kyna hanya menunggu Aldrian pulang. Namun, Aldrian selalu pulang sangat larut. Awalnya, dia mengira Aldrian sibuk bekerja. Setelahnya, dia menyadari bahwa Aldrian hanya tidak ingin pulang terlalu cepat untuk menghadapinya.

Ini adalah sesuatu yang didengar Kyna sendiri. Saat itu, dia merasa kasihan pada Aldrian karena harus bekerja begitu keras. Dia pun memberanikan diri untuk memberi Aldrian perhatian dengan membuatkan makanan istimewa dan membawanya ke kantor. Namun, dia malah tak sengaja mendengar percakapan yang seharusnya tidak didengarnya.

Itu adalah percakapan Aldrian dengan teman masa kecilnya di dalam kantor. Temannya bertanya kenapa dia belum pulang juga. Di waktu selarut itu, sudah hampir tidak ada orang yang tinggal di perusahaan, tetapi sang presdir malah bekerja lembur.

Aldrian menjawab, "Aku nggak tahu harus gimana hadapi antusiasme Kyna setelah pulang."

Pada saat itu, Kyna yang naif tidak memahami maksud di balik kata-kata Aldrian. Akan tetapi, teman Aldrian itu langsung paham.

Dia pun berseru kaget, "Yang benar saja? Aldri, jangan bilang kalau kalian nggak pernah berhubungan intim?"

Aldrian tidak menjawab. Itu adalah fakta. Aldrian tidak pernah menyentuh Kyna. Dia pernah memberi kode, bahkan mengambil inisiatif tanpa malu. Namun, Aldrian selalu menolak dengan berbagai alasan. Contohnya, "kamu lagi nggak enak badan", atau "aku kecapekan akhir-akhir ini".

Kyna tidak bodoh. Secara perlahan, dia menyadari bahwa Aldrian hanya tidak ingin menyentuhnya karena tidak mencintainya. Namun, mendengar Aldrian mengatakannya secara pribadi membuat hatinya terasa seperti disayat pisau. Rasa sakit itu sangat luar biasa hingga dia nyaris tidak dapat bernapas.

Kemudian, teman itu bertanya lagi dengan setengah bercanda, "Aldri, apa tubuhmu sama sekali nggak bereaksi waktu melihatnya? Gimanapun, dia juga tergolong wanita yang sangat cantik."

Jawaban Aldrian seolah-olah adalah jarum yang tertancap sangat dalam di hati Kyna, dan menusuknya selama bertahun-tahun. Setiap kali memikirkannya, hatinya akan terasa sangat sakit.

Pada saat itu, Aldrian menjawab, "Aku sudah pernah coba untuk punya hubungan pernikahan yang normal dengannya. Tapi begitu melihat kakinya, aku ... aku langsung kehilangan minat."

Ternyata begitu ....

Di mata Aldrian, kaki Kyna yang terluka dan mengecil karena menyelamatkannya terlihat menjijikkan dan membuatnya kehilangan minat ....

Pada akhirnya, Kyna juga tidak mengetuk pintu kantor lagi. Dia membuang makanan yang disiapkannya ke tong sampah perusahaan. Sejak saat itu, dia tidak pernah menginjakkan kaki ke perusahaan Aldrian lagi.

Bab 5

Sejak kejadian itu, Kyna pun mulai belajar. Saat itu, dia tidak berpikir terlalu banyak. Dia hanya ingin diam-diam menambahkan secercah harapan ke dalam hidupnya yang suram. Memiliki sesuatu untuk dilakukan akan mencegahnya larut dalam kesedihan setiap mengingat kalimat itu.

Siapa yang bisa menebak bahwa harapan-harapan ini akan menjadi penyelamatnya?

Besok, Kyna harus ujian dengan baik. Dia ingin meninggalkan tempat ini dan pergi sejauh mungkin.

Memikirkan hal ini, hatinya masih terasa sangat sakit .... Dia bahkan tidak tahu apakah rasa sakit ini karena Aldrian atau karena dirinya salah memercayai orang selama lima tahun.

Namun, itu tidak penting lagi. Yang paling penting adalah, dia tidak akan membiarkan dirinya terpuruk dalam rasa sakit ini lebih lama lagi. Sekalipun rasa sakit itu membutuhkan waktu lama untuk disembuhkan, dia harus secara aktif menyembuhkan dirinya sendiri.

Kyna memesan makan malam yang ringan dan baju ganti sekali pakai. Kemudian, dia menelepon resepsionis dan memberi tahu mereka bahwa dia ingin dibangunkan besok pagi. Setelahnya, dia memaksakan diri untuk tidur.

Mungkin karena sudah bergadang semalaman, Kyna tidur lumayan nyenyak malam ini. Keesokan harinya, dia bangun tepat waktu dan menyalakan ponselnya.

Ada begitu banyak pesan masuk sehingga ponselnya bergetar tanpa henti. Semua pesan itu dari satu orang, yaitu Aldrian.

Kyna tidak membacanya karena takut akan memengaruhi ujiannya. Setelah sarapan di hotel dan menyiapkan segalanya, dia pun berangkat menuju tempat ujian.

Hotel itu dekat dengan pusat tes, mungkin hanya sekitar lima menit dengan berjalan kaki.

Saat melangkah keluar hotel, ponsel di tangan Kyna bergetar. Yang menelepon adalah Aldrian. Dia pun panik dan hampir menjatuhkan ponselnya. Kemudian, dia cepat-cepat menggeser layar untuk menolak panggilan dan menonaktifkannya lagi.

Ketika keluar dari ruang ujian, jantung Kyna masih berdebar kencang. Namun, itu karena gembira. Ujiannya berjalan lancar.

Saat tes percakapan, guru itu tersenyum pada Kyna sepanjang waktu. Dia juga memahami sebagian besar isi tes pendengaran, bahkan dapat menyelesaikan tes membaca dan menulis dengan lancar. Dia tidak berani memperkirakan skornya, tetapi dia setidaknya telah menyelesaikan semuanya. Dia tidak sebodoh itu!

Kyna berjalan sendirian di trotoar dengan kepala tertunduk. Dia tidak berhenti memikirkan setiap detail ujiannya hari ini hingga sepasang sepatu kulit muncul di hadapannya. Dia tidak menyangka akan ada orang yang sengaja menghalangi jalannya. Jadi, dia tak sempat berhenti dan menabrak orang itu.

Jika orang itu tidak menangkapnya, Kyna pasti sudah jatuh. Hanya saja, itu adalah orang yang tak ingin dia temui, Aldrian.

"Kyna!"

Kyna tahu Aldrian sangat marah, tetapi berusaha keras menahan amarahnya.

"Kyna, kenapa kamu nggak pulang?" tanya Aldrian sambil memegang bahu Kyna. Suaranya melembut dan terdengar seperti biasanya.

Kyna berpikir dalam hati, 'Memangnya kamu nggak tahu kenapa aku nggak pulang?'

Namun, Kyna tidak ingin berdebat dengan Aldrian. Tasnya jatuh ke lantai akibat tabrakan tadi, sedangkan tutupnya terbuka sehingga ujung pulpen ujiannya menyembul keluar. Dia tidak ingin Aldrian tahu dirinya mengikuti tes kemampuan bahasa asing.

Kyna menepis tangan Aldrian dengan kuat, lalu berjongkok, dan cepat-cepat memasukkan pulpen itu ke dalam tasnya sebelum menutupnya dengan rapat.

"Apa itu?" tanya Aldrian sambil menunduk untuk melihat tasnya.

"Bukan apa-apa, cuma sebuah pulpen," jawab Kyna dengan berpura-pura tenang. Jari-jarinya mencengkeram tas begitu erat hingga memutih.

"Berikan padaku," kata Aldrian.

Tidak, dia tidak boleh membiarkan Aldrian melihat pena itu. Kyna pun memeluk tasnya dengan lebih erat lagi dan bertanya, "Buat apa kamu mau pulpen itu?"

"Berikan ponselmu padaku," ucap Aldrian.

Kyna ragu sejenak, lalu mengeluarkan ponselnya dari tas dan menyerahkannya kepada Aldrian. Ponselnya sedang berada dalam keadaan non aktif.

Setelah meliriknya, Aldrian mengembalikan ponsel itu dan berujar, "Aku sudah telepon kamu berkali-kali, juga kirim begitu banyak pesan kepadamu. Kenapa kamu nggak balas? Kamu masih marah?"

Kyna menggenggam ponselnya dan diam-diam merasa lega. Dia khawatir Aldrian akan memeriksa ponselnya Bagaimana jika Aldrian menemukan e-mail tentang ujiannya ....

Jika hanya itu yang ingin diketahui Aldrian ....

Kyna berpikir sejenak, lalu memutuskan untuk tidak marah lagi. Dia hanya ingin melarikan diri sejauhnya. Pikiran ini makin kuat saat bertemu lagi dengan Aldrian.

Melihat Kyna diam saja, Aldrian berasumsi bahwa Kyna masih marah dan menghela napas. "Kyna, bukannya kamu biasanya sangat pengertian? Kenapa kali ini kamu bahkan sampai nggak pulang ke rumah karena masalah sepele?"

Kyna bersumpah dia benar-benar tidak ingin marah lagi karena hal-hal seperti itu. Akan tetapi, bahkan orang yang paling sabar sekalipun juga seharusnya akan marah setelah mendengar ucapan Aldrian.

"Jadi, apa yang terjadi kemarin tetap salahku? Aku yang nggak pengertian? Aku seharusnya masuk, lalu puji William dengan bilang dia sangat hebat karena bisa meniruku dengan begitu mirip?" sahut Kyna. Dia sudah kehilangan kesabaran.

Aldrian terlihat agak canggung. "Bukan itu maksudku. Maksudku, kamu nggak bisa kontrol ucapan orang lain. Jadi, kamu nggak perlu masukin ke hati ...."

"Aku memang nggak bisa kontrol, tapi kamu bisa!" Kyna menatap Aldrian dan melanjutkan, "Tapi, apa yang kamu lakukan waktu itu? Kamu dan Nara-mu malah berpelukan dan ketawa bareng."

"Kyna!" Ekspresi Aldrian langsung dipenuhi amarah yang tidak pernah muncul sebelumnya.

Kyna akhirnya mengerti. Nama "Nara" adalah titik lemah Aldrian, juga bagaikan ladang ranjau yang tak boleh disentuh. Apa lagi yang perlu mereka bicarakan?

Kyna memeluk tasnya, lalu berjalan melewati Aldrian. Namun, Aldrian malah mengulurkan tangan dan memeluk erat pinggangnya.

"Maaf, Kyna, itu salahku. Aku nggak seharusnya meninggikan suaraku tadi." Aldrian berujar dengan pelan, "Aku cuma nggak mau kamu salah paham soal Nara. Kami cuma teman biasa, sama seperti orang lainnya. Aku anggap dia sebagai sahabatku. Lagian, dia belum menikah. Apa yang kamu katakan tentangnya akan berpengaruh ke reputasinya."

Kyna tidak mengerti. Bukankah mereka memang berbuat begitu? Anara sendiri yang bersandar pada Aldrian dengan begitu berani, tetapi malah takut digosipkan setelah berbuat begitu?

Namun, Kyna hanya menjawab dengan acuh tak acuh, "Oh."

"Kyna ...." Aldrian dapat merasakan kedinginan Kyna dan berujar, "Kenapa kamu masih marah? Kamu sudah nginap di hotel sendirian dan nggak pulang ke rumah, tapi aku nggak bilang apa-apa. Sekarang, kamu masih mau merajuk?"

'Iya, iya, semuanya salahku,' cibir Kyna dalam hati.

"Kyna, jangan marah lagi. Ayo kita makan siang dulu. Habis itu, aku akan temani kamu belanja. Oke?"

Kyna berpikir sejenak dan setuju. Memang ada yang perlu dibicarakannya dengan Aldrian.

Aldrian membawa Kyna ke restoran terdekat. Saat memasuki restoran dan bertemu pandang dengan pelayan, karena kebiasaan, Kyna secara refleks ingin menunduk dan menaikkan kerah bajunya, lalu bersembunyi di belakang Aldrian sambil bergerak perlahan agar langkahnya yang pincang tidak terlalu terlihat.

Namun, Kyna segera berpikir terbuka. Dia tidak peduli meskipun orang lain merasa dirinya tidak pantas mendampingi Aldrian. Lagi pula, dia memang tidak berniat untuk mendampingi Aldrian lagi.

Setelah duduk, Aldrian memesan makanan.

Ketika semua pesanan sudah keluar, Aldrian menyerahkan peralatan makan kepada Kyna sambil berkata dengan lembut, "Kyna, makanlah. Ini semua makanan favoritmu."

Kyna melirik hidangan-hidangan yang semuanya pedas. Dia pun diam-diam tersenyum getir. Aldrian tidak tahu bahwa dirinya tidak bisa makan pedas. Makan malam mereka di rumah selalu pedas karena Aldrian menyukainya.

"Aldrian, aku nggak lapar. Ada yang mau kubicarakan denganmu," ucap Kyna tanpa makan.

"Apa?" Aldrian tersenyum tipis dan berujar, "Aku akan temani kamu pergi ke mana pun yang kamu mau. Hari ini, aku senggang seharian. Aku akan temani kamu jalan-jalan sore ini, lalu kita bisa pulang ke rumah Ayah dan Ibu untuk makan malam."

Kyna menatap senyum Aldrian yang hampir tak terlihat itu, lalu memikirkan apa yang ingin dikatakannya. Kepahitan yang mendalam pun membuncah di dalam hatinya.

Bab 6

"Aldrian ...," panggil Kyna dengan suara tercekat.

"Hmm? Kyna?" Aldrian menggenggam tangan Kyna dan bertanya, "Ada apa? Pengen nangis? Kalau begitu, nangis saja. Jangan ditahan."

Suaranya begitu lembut, persis seperti ketika Kyna baru keluar dari ruang operasi pada tahun itu. Setelah mendorongnya kembali ke kamar rawat inap bersama perawat, Aldrian tetap berjaga di samping tempat tidurnya dan berbicara dengan suara selembut ini, "Kyna, sakit? Kalau sakit, nangis saja. Jangan ditahan ...."

Saat itu, Kyna hanya merasa bahwa perhatian dan kelembutan Aldrian adalah obat mujarab untuk menghilangkan rasa sakit. Sayangnya, butuh bertahun-tahun baginya untuk sepenuhnya paham bahwa kelembutan dan perhatian seorang pria tidak akan pernah bisa berubah menjadi cinta ....

"Aldrian, kita cerai saja," tutur Kyna dengan pelan sambil menarik tangannya. Rasa sakit yang menyengat membuatnya berlinang air mata hingga pandangannya perlahan-lahan kabur.

Aldrian mengerutkan kening. Sangat jelas bahwa dia tidak menyangka Kyna akan melontarkan hal seperti itu. Setelah terdiam sejenak, dia meminta mangkuk bersih dari pelayan, mengambil sepotong ikan, dan dengan hati-hati memilih tulangnya.

Pada saat yang sama, Aldrian juga berkata, "Kyna, aku tahu kamu masih marah. Tapi, mengungkit tentang perceraian itu nggak rasional. Apa yang akan kamu lakukan setelah bercerai denganku? Gimana kamu bisa hidup sendiri?"

Napas Kyna mulai memburu. Selama lima tahun, di mata semua orang, dia adalah orang yang bergantung pada Aldrian. Tanpa Aldrian, dia adalah orang menyedihkan yang tak diinginkan siapa pun, juga tak mampu bertahan hidup. Aldrian juga berpikir begitu.

"Aku bisa!" Untuk pertama kalinya, Kyna menunjukkan sisi keras kepalanya dan ingin membela diri.

Namun, Aldrian hanya tersenyum dan masih menganggap Kyna hanya merajuk. Dia meletakkan ikan tanpa tulang itu di depan Kyna dan menyahut, "Makanlah. Kamu boleh marah sebentar, tapi kamu nggak boleh marah lagi seusai makan."

"Aku nggak marah. Aku benar-benar mau cerai!" balas Kyna. Apa yang harus dilakukannya untuk membuat Aldrian mengerti bahwa dia ingin bercerai bukan karena merajuk, tetapi serius?

"Kyna." Aldrian meletakkan peralatan makannya, lalu berujar, "Sudah cukup. Hari ini, aku batalkan dua rapat dan satu negosiasi bisnis demi temani kamu. Aku belum tentu punya waktu sebanyak ini lagi besok atau lusa."

"Kutegaskan sekali lagi, Nara itu teman baik kami semua, juga salah satu anggota dari kelompok pertemanan kami. Aku memperlakukannya sama seperti aku perlakukan William dan yang lain. Dia juga suka banget sama kamu dan selalu ingin jadi temanmu. Dengan sikapmu ini ... gimana aku bisa kenalin dia ke kamu?"

"Kalau begitu, nggak usah kenalin dia ke aku," sahut Kyna. Dia tidak merasa Anara benar-benar ingin berteman dengannya.

"Kyna!" tegur Aldrian dengan agak marah.

Kyna tahu bahwa setiap ada hal yang berkaitan dengan Anara, tabiat Aldrian tidak akan sebaik itu.

"Cepat makan. Habis makan, kita pergi belanja. Beli saja apa yang kamu suka. Nanti, kita makan malam di rumah Ayah dan Ibu. Sudah berapa lama kamu nggak jenguk orang tuamu?" ujar Aldrian sambil lanjut menaruh makanan ke mangkuk Kyna.

Kyna tidak ingin menyakiti dirinya sendiri. Jadi, dia pun mulai makan. Apa pun yang terjadi, dia harus memastikan dirinya sehat dulu. Tak ada gunanya dia melampiaskan amarahnya pada dirinya sendiri.

"Begitu dong." Suara Aldrian melembut lagi. "Jangan pernah ungkit soal cerai lagi."

Kyna tertegun sejenak, lalu lanjut makan dengan kepala tertunduk. Seusai makan, dia tidak ingin berbelanja, tetapi Aldrian bersikeras dan langsung menyetir ke mal.

Selama lima tahun pernikahan mereka, Aldrian hanya pernah menemaninya berbelanja beberapa kali. Lebih tepatnya, mereka jarang sekali muncul bersama di depan umum.

Lampu mal sangat terang, bahkan di siang hari. Kyna merasa sedikit tidak nyaman. Dia berjalan dengan hati-hati di belakang Aldrian sambil mencengkeram tasnya erat-erat.

Lantai pertama dipenuhi konter yang memajang tas, jam tangan, dan perhiasan desainer.

"Mau beli apa?" tanya Aldrian sambil menoleh ke arah Kyna.

Kyna tidak ingin membeli apa pun. Dia hanya ingin pulang. Namun, sebelum dia sempat mengucapkan sepatah kata pun, seseorang di kejauhan memanggil, "Pak Aldrian."

"Itu mitra kerja yang baru aku kenal belakangan ini. Aku pergi sapa dia dulu." Aldrian berpesan, "Kamu jalan-jalan saja dulu. Aku akan mencarimu nanti."

Kyna tidak mengenal satu pun klien Aldrian. Melihat Aldrian berjabat tangan dengan seorang pria tak jauh darinya, dia berdiri terpaku di tempat. Tak ada satu pun barang mewah yang ingin dibelinya.

"Nona, sudah giliranmu," ucap seorang pramuniaga.

Kemudian, Kyna baru menyadari bahwa dia secara tidak sengaja berdiri di antrean toko mewah.

"Oh, nggak usah, terima kasih," balas Kyna dengan cepat. Kemudian, dia segera pergi.

Kyna berjalan tanpa tujuan di mal. Tiba-tiba, dia melihat sosok yang familier di konter jam tangan desainer. Orang itu tidak lain adalah Anara.

Ketika melihat merek jam tangan itu, perasaan gelisah perlahan-lahan menyelimuti Kyna. Dia tanpa sadar berjalan menuju konter tersebut.

William sedang menemani Anara melihat-lihat jam tangan. Saat Kyna berjalan mendekat, percakapan mereka terdengar lebih jelas.

"Beli saja kalau kamu suka," kata William.

Anara menjawab, "Nggak deh. Harganya terlalu mahal. Aldri memang sudah kasih kartu tambahannya kepadaku, juga bilang aku boleh menggeseknya sesuka hati. Tapi, aku tetap malu pakai kartu itu untuk beli barang semahal ini!"

Langkah Kyna seketika terhenti. Kakinya terasa terlalu berat untuk lanjut melangkah. Hatinya juga terasa seberat kakinya.

Kartu tambahan .... Kartu tambahan Aldrian ....

"Dia kasih ke kamu, ya supaya kamu bisa pakai. Memangnya Aldri itu orang bermuka dua? Kita sudah berteman selama bertahun-tahun, apa kamu masih nggak paham sama karakternya? Dia tulus memberikannya kepadamu," lanjut William.

"Iya sih ...." Anara mulai menggerakkan pergelangan tangannya dan menunjukkannya kepada William.

Kyna juga melihatnya.

"Cantik nggak? William? Aku suka banget sama jam tangan ini bahkan sejak zaman kuliah. Waktu itu, Aldri juga pernah janji akan membelikannya untukku setelah lulus. Setelahnya ...."

Setelahnya? Kyna pun tersenyum getir dan mengejek. Setelahnya, setiap tahun di hari ulang tahun dan hari peringatan pernikahan, Aldrian menghadiahkan jam tangan itu kepadanya.

Awalnya, Kyna mengira bahwa meskipun Aldrian tidak menaruh perasaan apa pun terhadapnya, setidaknya Aldrian mengingat hari ulang tahun dan hari peringatan pernikahan mereka. Tidak peduli seasal apa pun hadiah yang dipilih Aldrian, setidaknya itu adalah barang mahal.

Namun, Aldrian ternyata bukan tidak berperasaan ataupun asal memilih hadiah. Sebaliknya, dia justru sangat peduli. Hanya saja, yang terukir di hatinya bukanlah Kyna ....

"Kalau begitu, Aldri termasuk sudah tepati janjinya sekarang. Kamu boleh beli apa pun yang kamu mau. Asal kamu suka, dia mampu membelinya," kata William untuk menyemangati Anara.

"Kalau begitu, aku gesek, ya?" Sangat jelas bahwa Anara sangat ingin melakukannya.

Di sisi lain, Aldrian telah selesai berbasa-basi dengan rekan bisnisnya. Orang itu ternyata datang untuk menjemput istrinya yang telah selesai berbelanja. Mengetahui Aldrian juga sedang menemani istrinya, rekan bisnis itu menawarkan diri untuk menyapa.

Melihat Aldrian yang berjalan mendekat, Kyna segera bersembunyi di balik pilar.

Sementara itu, Anara telah melihat Aldrian dan melambaikan tangannya sambil berseru, "Aldri, aku ada di sini. Kemarilah!"

Kyna mengintip dari balik pilar dan melihat Aldrian berjalan ke arah Anara bersama rekan bisnisnya.

Anara menggenggam tangan Aldrian, lalu mengguncangnya sambil bertanya, "Aldri, aku mau beli jam tangan ini. Boleh?"

"Tentu saja." Aldrian menatap Anara dengan begitu lembut. Cahaya dalam matanya membuat seluruh wajahnya terlihat hidup. Penampilannya sangat berbeda dengan keacuhan yang ditunjukkannya ketika bersama Kyna di rumah.

"Makasih, Aldri! Aku akan pergi gesek kartunya sekarang juga!" tutur Anara sambil melambaikan kartu tambahan yang diberikan Aldrian.

Menyaksikan hal ini, rekan bisnis itu tersenyum dan berkomentar, "Pak Aldrian, kamu dan istrimu benar-benar mesra. Ini sungguh mengharukan."

Istri? Aldrian dan Anara sama-sama terkejut, tetapi tak satu pun dari mereka yang menyangkalnya ....

Dilema Pernikahan bersama Presdir Dingin

Bab 4
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya