Bab 2
Rekan Ethan baru tiba di lokasi dua jam setelah aku menghilang. Setelah mengantarkan Elowyn ke rumah sakit, Ethan terus berjaga di samping tempat tidurnya. Dia begitu gelisah hingga bahkan lupa memberi tahu rekannya untuk datang menyelamatkanku.
Ketika dia akhirnya ingat, aku sudah dipukuli hingga hanya tersisa napas terakhir. Tubuhku dibuang di sebuah gua tersembunyi di pegunungan, menunggu kematian dalam keheningan.
Rekannya, Casper, membawa senter dan mencari dengan susah payah di dalam hutan. Namun sayangnya, aku telah meninggal dengan penuh penyesalan sendirian di gua itu.
Jiwaku mengikuti di belakangnya, menyaksikan dia menelepon Ethan dengan panik. "Ethan, aku sudah mencari di seluruh gunung, tapi nggak menemukan Kak Theresia. Apa mungkin dia sudah ...."
Dari ujung telepon, suara Ethan yang dingin terdengar, "Apa yang mungkin terjadi padanya? Mungkin dia sudah dibebaskan dan sekarang bersembunyi entah di mana, sengaja buat aku kesal!"
Casper ragu-ragu sebelum berbicara lagi, "Ethan, Kak Theresia bukan tipe orang seperti itu. Kalau dia baik-baik saja, dia pasti nggak akan menyia-nyiakan waktu polisi seperti ini. Gimana kalau kamu datang dan bantu untuk mencarinya?"
Bagaimanapun, aku benar-benar tidak ada kabar. Jika sesuatu terjadi, siapa pun akan sulit bertanggung jawab.
Ethan menahan amarahnya dan berkata dengan dingin, "Apa gunanya aku ke sana? Aku sudah bilang dia pasti baik-baik saja. Penjahat itu cuma menakut-nakutinya. Bahkan pada Elowyn saja mereka nggak melakukan apa-apa, 'kan?"
"Sudahlah, kamu pulang saja dan istirahat. Dua hari lagi, kalau dia merasa nggak ada yang peduli, dia pasti akan muncul sendiri."
Casper ingin mengatakan sesuatu lagi, tetapi Ethan sudah tidak sabar dan langsung memutus panggilan telepon.
Aku merasakan hawa dingin menjalar di sekujur tubuhku. Sepuluh tahun. Bahkan memelihara seekor anjing selama sepuluh tahun pun pasti akan menimbulkan rasa sayang.
Namun, tidak bagi Ethan. Dia bahkan merasa terganggu untuk mencariku lebih lama. Aku merasa sangat bersyukur bahwa aku sudah mati, sehingga tidak perlu lagi terjebak dalam hubungan dengan makhluk berdarah dingin sepertinya.
Aku ingin pergi, tetapi tanpa sadar aku tetap mengikuti rekannya. Jiwaku melayang hingga tiba di sisi Ethan. Saat itu, dia sedang berjaga di samping tempat tidur Elowyn. Dia sangat fokus hingga tidak menyadari Casper masuk ke ruangan.
Elowyn tampak meringkuk di pelukannya, menangis kecil dengan suara yang terisak.
"Ethan, aku hampir mati ketakutan. Waktu ujung pisau itu menempel di leherku, yang terpikir hanyalah penyesalan karena pernah begitu keras kepala hingga kehilanganmu dulu."
Ethan mengusap kepalanya dengan senyum penuh kelembutan yang belum pernah kulihat sebelumnya. Dia menenangkan Elowyn dengan suara lembut, "Jangan takut lagi, Elowyn. Aku sudah bilang, apa pun yang terjadi, aku akan melakukan segalanya untuk melindungimu."
Melihat ekspresi penuh cinta itu, hatiku mencengkeram kuat, rasa sakitnya begitu nyata. Dia tampaknya telah melupakan bahwa aku, istrinya, saat ini berada dalam kondisi yang entah hidup atau mati.
Dia selalu dingin terhadapku. Aku selalu mengira itu adalah sifatnya, tapi aku salah. Dia hanya tidak ingin bersikap lembut padaku.
Aku dan Ethan telah saling mengenal sejak kecil dan orang tua kami sudah berteman dekat selama bertahun-tahun.
Awalnya, rasa sukaku padanya hanya kusimpan dalam hati dan kami sebenarnya tidak seharusnya memiliki hubungan lebih.
Tak lama setelah lulus, dia bersikeras ingin menikahi Elowyn, tetapi keinginannya ditentang keras oleh orang tuanya. Dalam kemarahan, Elowyn memilih pergi ke luar negeri.
Malam itu, aku ditugaskan oleh ayahku untuk mengantarkan dokumen ke rumah ayah Ethan. Tanpa kuduga, aku bertemu Ethan yang mabuk berat. Dalam keadaan mabuk, dia mendorongku ke dinding dan mencium bibirku.
Aku tahu seharusnya aku tidak membiarkan hal itu terjadi, tetapi cintaku padanya terlalu dalam. Bahkan meski tahu dia salah mengira aku sebagai orang lain, aku tetap terhanyut tanpa peduli. Semalaman, nama yang dia panggil hanyalah "Elowyn".
Keesokan harinya setelah sadar, dia begitu marah hingga mencekik leherku dan menuduhku telah menggodanya. Padahal, jelas-jelas dia yang memulainya.
Pada akhirnya, dia tetap memutuskan untuk menikahiku. Namun, saat pesta pertunangan kami, aku dijebak. Aku dibuat mabuk dan dilempar ke tempat tidur hotel bersama Nathan, yang juga tak sadarkan diri.
Bab 3
Aku tidak akan pernah melupakan tatapan kecewa Ethan. Tidak peduli seberapa keras aku mencoba menjelaskan bahwa aku telah dijebak, dia tetap tidak mau percaya. Untuk menghindari skandal, Nathan juga dikirim ke luar negeri oleh ibunya setelah kejadian itu.
Sejak hari itu, setiap kali Ethan melihatku, tatapan jijik selalu terlihat jelas di wajahnya. Aku tahu dia menganggapku kotor, tetapi aku tidak bisa membuktikan apa pun untuk membersihkan nama baikku.
Aku terus bertahan dalam diam. Selama aku bisa tetap berada di sisinya, bahkan jika dia tidak mencintaiku dan hanya menganggapku sebagai pengganti, aku tetap rela.
Tiga bulan lalu, aku tidak sengaja mengetahui bahwa aku hamil. Aku ingin memberitahunya, tetapi belakangan ini setiap kali dia melihatku, sikapnya begitu dingin dan bahkan enggan berbicara lebih dari beberapa kata.
Aku mencoba menenangkan diri, berpikir mungkin dia sedang sibuk atau suasana hatinya sedang buruk dan aku akan menemukan waktu yang tepat untuk mengungkapkan berita ini kepadanya.
Jika bukan karena kebetulan melihatnya di ruang gawat darurat sedang menemani Elowyn setelah pemeriksaan hari itu, aku mungkin masih tidak tahu bahwa alasan dia mengabaikanku adalah karena cinta sejatinya telah kembali.
Aku berdiri di depan pintu ruang pemeriksaan, di tengah keramaian. Aku hanya bisa terpaku menatapnya memegangi tangan Elowyn dengan penuh kasih sayang. Saat itu, aku akhirnya sadar bahwa dia bisa bersikap peduli dan bisa menunjukkan perhatian. Hanya saja, perhatian itu tidak pernah diberikan kepadaku.
Dia tidak pernah mencintaiku.
Aku pulang ke rumah dengan hati yang hancur, bahkan tidak memiliki nafsu untuk makan malam.
Sampai larut malam, dia akhirnya pulang dalam keadaan mabuk.
Saat melihatku, dia bahkan tidak bertanya mengapa aku pergi ke rumah sakit atau apa yang terjadi padaku hari itu. Dia hanya melemparkan jaketnya ke arahku dengan wajah dingin, lalu berbalik masuk ke kamar mandi.
Aku memegang jaketnya yang penuh dengan noda lipstik. Untuk pertama kalinya, aku kehilangan kendali di hadapannya.
Aku menghancurkan semua barang di kamar dan bertanya dengan penuh emosi kenapa dia masih menjalin hubungan ambigu dengan Elowyn di saat aku sedang mengandung anaknya.
Dia berdiri di tengah kekacauan itu, menatapku dengan dingin, seolah melihat orang asing yang tak berarti.
"Theresia, lihat dirimu sekarang. Seperti perempuan kasar yang nggak tahu malu. Apa yang bisa kamu bandingkan sama Elowyn?"
"Kamu tahu nggak? Hal yang paling aku sesali adalah keputusan untuk menikahimu dulu. Jujur saja, sekarang melihatmu saja sudah membuatku muak."
Dia mengambil jaketnya lalu keluar rumah tanpa ragu-ragu, meninggalkanku sendirian dengan mata sembap setelah menangis.
Suamiku yang tidak peduli padaku, kini memberikan segala perhatian dan kasih sayangnya pada cinta sejatinya. Hanya dengan Elowyn mengerutkan alis sedikit saja, dia sudah panik dan memegang erat tangannya.
"Elowyn, apa lukanya masih sakit? Perlu aku panggilkan dokter lagi?"
Melihatnya, aku ingin tertawa. Dulu, saat kami baru menikah, ibunya tiba-tiba pingsan di rumah. Aku takut menunda waktu, jadi aku memanggulnya turun dari tangga sendiri setelah memanggil ambulans. Dalam proses itu, aku terkilir dan tidak bisa berjalan selama beberapa hari.
Aku pernah memohon padanya untuk membantuku ke kamar mandi. Namun, dia hanya menatapku dengan dingin dan menolakku.
Akhirnya, aku harus berjalan perlahan sambil bersandar di dinding. Aku tidak kuat berdiri dan terjatuh ke lantai hingga tidak bisa bangun lagi.
Sambil menangis, aku memohon padanya dan mengatakan bahwa kakiku sangat sakit dan memintanya untuk membantuku. Namun, dia malah mencemoohku dan bahkan tidak sudi mengulurkan tangan.
"Sudah tahu umur segini, masih juga drama kayak anak kecil, mau mati-matian segala. Kalau mau mati, matilah jauh-jauh. Jangan ganggu aku di sini."
Sekarang, seperti yang dia katakan, aku benar-benar mati jauh darinya. Aku tidak lagi menghalangi pandangannya. Akhirnya, dia terbebas dariku dan bisa mengejar cinta sejatinya tanpa beban.
Aku telah menghilang selama tiga hari. Casper sudah beberapa kali datang mencarinya.
"Ethan, Kak Theresia belum ditemukan sampai sekarang. Aku sudah bertanya ke semua kantor polisi, tapi nggak ada informasi sama sekali."
Ethan mengabaikan ucapannya. Dia hanya fokus mengupas jeruk di tangannya.
"Aku sudah bilang, penjahat itu nggak akan berani melukainya. Paling-paling mereka hanya mengambil barang berharganya dan meninggalkannya di tempat sepi. Kenapa kamu repot-repot mengkhawatirkannya?"
Dia tidak percaya bahwa aku dalam bahaya dan sama sekali tidak peduli tentang keberadaanku.
Bab 4
Namun, Casper yang telah bekerja sebagai polisi kriminal selama bertahun-tahun memiliki insting yang jauh lebih tajam daripada orang biasa.
"Ethan, aku sudah selidiki. Kak Theresia pakai gaun hari itu, kemungkinan besar nggak bawa uang tunai. Selain itu, nggak ada aktivitas di rekeningnya selama beberapa hari ini, dan dia juga nggak punya banyak teman. Kamu sama sekali nggak khawatir?"
Ethan menyuapkan jeruk yang sudah dikupas ke mulut Elowyn sebelum akhirnya menoleh ke arahnya. Casper yang biasanya tenang, kini tampak hampir menangis karena cemas. Dia memegang tangan Ethan dan membujuknya dengan suara rendah.
"Ethan, dengarkan aku sekali ini saja. Kalau sampai benar-benar terjadi sesuatu sama Kak Theresia, kamu akan menyesal seumur hidup."
Melihat raut wajah Casper yang begitu panik, Ethan akhirnya ragu dan berdiri. Namun, sebelum dia melangkah, Elowyn tiba-tiba menarik ujung bajunya.
Dia mengerutkan alis dengan mata yang berlinang air mata. Penampilannya tampak begitu rapuh dan menyedihkan. "Ethan, kamu tahu kejadian ini memberi trauma besar bagiku. Tolong biarkan mereka yang cari, ya? Aku takut sekali sendirian."
Belum sempat Ethan membuka mulut, Casper langsung menarik tangannya menuju pintu dan terus menggerutu.
"Elowyn, aku rasa lukamu sudah hampir sembuh. Jangan terus-terusan menahan Ethan di sini. Dia mau cari istrinya. Kalaupun kamu mau naik status, nggak akan rugi nunggu satu atau dua hari lagi, 'kan? Kamu ini benar-benar manja."
"Diam!" Ethan membentaknya dengan marah, melepaskan tangannya dari genggaman Casper dan mendorongnya ke samping. Mungkin karena wanita yang dicintainya dihina, dia begitu marah hingga tubuhnya bergetar.
"Sepertinya kamu lebih panik daripada aku. Apa kamu juga ada hubungan sama Theresia? Dan satu lagi, aku peringatkan kamu. Lain kali, bersikap sopan sama Elowyn. Kalau kamu menghinanya lagi, jangan salahkan aku kalau kita putus hubungan!"
Hati ini terasa sakit hingga ke titik terdalam. Ternyata, di matanya, aku tidak lebih dari sesuatu yang memalukan.
Dia mungkin sudah melupakan bahwa alasan Casper begitu peduli padaku adalah karena dua tahun lalu, ibunya menderita penyakit parah dan membutuhkan uang untuk biaya pengobatan. Aku yang memberikan bantuan keuangan, sehingga nyawa ibunya bisa diselamatkan.
Ethan tahu itu, tetapi tetap saja kata-katanya begitu kejam dan melukai hati.
Dengan mata yang memerah karena emosi, Casper ingin menjelaskan, tetapi Ethan langsung mendorongnya keluar pintu.
"Pergi! Kecuali kamu bisa menemukan jasad Theresia, jangan berani-berani bicara omong kosong di depanku lagi!"
Aku menatap wajah Ethan yang marah hingga terlihat terdistorsi, hati ini terasa perih dan pahit. Suami yang telah kucintai selama sepuluh tahun, ternyata bisa sedingin ini padaku.
Setelah Casper pergi, Elowyn memeluk leher Ethan dengan penuh rasa bersalah dan berkata dengan suara lembut, "Ethan, aku benar-benar takut. Aku bukan sengaja menghalangimu untuk mencari Theresia."
Ethan mengusap kepalanya dengan lembut dan penuh kasih sayang. "Aku tahu kamu bukan orang seperti itu. Nggak masalah, Theresia punya banyak teman. Pasti ada yang mencarinya. Saat ini aku hanya ingin fokus menemanimu. Setelah kamu sembuh, aku akan mencarinya!"
Melihat mereka saling berpelukan dengan penuh kasih, aku tak kuasa tersenyum pahit. Ternyata, dia tahu bagaimana mencintai seseorang. Dia hanya ... tidak mencintaiku.
Dua hari kemudian, tubuhku ditemukan oleh seorang pendaki. Keadaanku sangat mengenaskan, tubuhku penuh luka akibat penyiksaan. Bahkan polisi kriminal berpengalaman yang sering melihat hal mengerikan seperti ini saja tidak bisa menahan air mata saat melihat jasadku.
Tubuhku ditutupi kain putih dan dibawa ke rumah sakit. Saat itu, Ethan sedang menemani Elowyn ke ruang pemeriksaan untuk mengganti perban. Tempat tidur dorong yang membawa jasadku melewati mereka, tetapi Ethan bahkan tidak menoleh. Dia hanya tersenyum, matanya tidak pernah lepas dari Elowyn.
Begitu penuh kasih sayang, membuat kematianku terasa semakin tidak masuk akal.
Petugas yang mendorong tempat tidur tidak sengaja menabrak Elowyn, membuatnya mengerang kesakitan dan bersandar sepenuhnya pada Ethan.
Wajah Ethan langsung dipenuhi kemarahan. Dia bersiap untuk memarahi petugas tersebut, tetapi pandangannya tiba-tiba tertuju pada lenganku yang tergantung di sisi tempat tidur.
Dia terpaku di tempat. Di pergelangan tanganku terdapat bekas luka yang menonjol, sebuah luka yang sangat dikenalnya.
Itu adalah bekas luka yang kudapatkan saat melindunginya dari serangan balas dendam keluarga seorang narapidana. Pisau yang seharusnya mengenai kepalanya berhasil kuhalangi dengan tanganku.
"Tunggu!"
Dengan refleks, dia berseru untuk menghentikan petugas. Suaranya bergetar, dengan sorot mata yang tiba-tiba dipenuhi kegelisahan.