Bab 1

Aku dan kekasih masa lalu suamiku diculik orang secara bersamaan. Sebagai ahli negosiasi, suamiku langsung datang ke lokasi secepat mungkin untuk menolong kami.

Namun, di saat penculik itu setuju untuk melepaskan satu sandera, suamiku setuju untuk membiarkanku dibawa pergi penculik itu demi menyelamatkan kekasih masa lalunya. Aku berlutut memohon padanya untuk menolongku terlebih dahulu. Namun, dia malah menunjukkan ekspresi datar di wajahnya.

"Elowyn masih suci. Kalau sampai dinodai orang, dia nggak akan sanggup menerimanya. Kamu berbeda. Kamu sudah nikah sama aku. Kalaupun dinodai orang, aku nggak akan membencimu."

Aku didorong ke kaki penculik itu dengan kejam. Mungkin dia tidak tahu, aku sudah hamil tiga bulan dan dia akan menjadi seorang ayah.

"Theresia, kamu ikut dia pergi." Ethan menunjuk ke arahku, memberikan isyarat dengan matanya agar aku berjalan mendekati penjahat itu.

"Apa maksudmu?" Aku mengira dia salah menunjuk orang, sehingga menatapnya penuh kebingungan.

Namun, tatapannya begitu tegas, bahkan tidak melirikku sedikit pun. "Aku bilang, aku memilih untuk menyelamatkan Elowyn dulu. Kalau bukan karena kamu yang mengajaknya ke sini, mana mungkin hal seperti ini bisa terjadi?"

"Nggak mungkin aku membiarkan Elowyn menanggung penderitaan untukmu, bukan?"

Dua jam yang lalu, Ethan mengirim pesan mengajakku ke luar kota. Saat tiba di sana, yang menungguku ternyata adalah cinta sejatinya.

Aku mendengus dingin dan hendak berbalik pergi. Namun, seseorang menutup mulutku dan menyeretku ke samping. Sampai Ketika kedua tanganku diikat ke belakang, barulah aku sadar bahwa aku telah diculik.

Aku diikat bersama Elowyn. Aku mengira Ethan pasti akan segera datang menyelamatkanku. Bagaimanapun, aku sedang mengandung anaknya. Meskipun kami sudah perang dingin selama lebih dari sebulan, dia pasti akan segera datang.

Namun, aku terlalu naif. Ketika Ethan datang tergesa-gesa sendirian, penjahat itu sedang menempelkan pisau ke leher Elowyn.

Matanya langsung memerah dan memohon agar penjahat itu melepaskannya dengan suara rendah. Namun, penjahat itu tetap tidak bergeming. Dia malah mendorongku ke arah Ethan.

Aku memegangi perutku yang terasa nyeri dan memohon padanya untuk mengantarku ke rumah sakit lebih dulu. Namun, dia berkata ingin menukarku dengan Elowyn dengan ekspresi dingin.

Air mata memenuhi mataku, aku menatapnya dengan bingung. "Apa maksudmu? Padahal hari ini adalah ...." Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, sebuah teriakan yang mengejutkan memotong perkataanku.

Aku menoleh dan melihat ujung pisau telah menggores kulit Elowyn. Lukanya sangat dangkal, hanya setetes darah yang keluar. Namun, itu sudah cukup membuat Ethan panik. Dia memohon dengan cemas agar penjahat itu melepaskannya.

Aku mengepalkan tangan dengan erat dan berusaha sekuat tenaga menahan diri agar tidak menangis. Aku mengidap penyakit jantung. Jika dia tidak menyelamatkanku, aku dan bayi dalam kandunganku ini akan dalam bahaya.

Dorongan kuat untuk bertahan hidup membuatku mengabaikan harga diriku. Aku berlutut, memohon padanya. "Ethan, kamu nggak boleh ninggalin aku. Aku lagi mengandung anakmu. Gimana kalau ...."

"Theresia, jangan egois begini! Jangan ngarang cerita seperti itu untuk menipuku! Elowyn nggak seperti kamu. Dia masih harus menikah nanti. Dia nggak boleh meninggalkan noda dalam hidupnya."

Ethan menatapku dengan ekspresi dingin. Sorot matanya begitu ketus seolah yang dilihatnya bukanlah istri yang telah menemaninya selama sepuluh tahun, melainkan orang asing yang sama sekali tidak ada hubungannya.

"Tenang saja, aku sudah sering berurusan sama penjahat seperti ini. Biasanya mereka hanya mengincar uang atau tubuh. Selama kamu menurut, nggak akan ada bahaya."

"Rekanku akan segera datang untuk menyelamatkanmu. Apa pun yang terjadi padamu, aku nggak akan membencimu."

Dia berjalan mendekat, menekan pundakku dengan tangannya, lalu membungkuk. Dengan wajah tanpa ekspresi, dia berbisik pelan di telingaku, "Lagian, kamu memang sudah nggak perawan lagi. Bukankah dulu kamu dan Nathan melakukan hal beginian? Aku tetap menikahimu, 'kan?"

Kata-katanya membuatku terpaku di tempat, tubuhku gemetar tanpa bisa dikendalikan.

"Bukan begitu! Aku dan Nathan ...."

Ethan tidak memberiku kesempatan untuk menjelaskan. Dengan tidak sabar, dia mendorongku ke kaki penjahat. Aku ingin melawan, tetapi pisau dingin telah menempel di leherku. Aku hanya bisa melihat Ethan pergi sambil membawa Elowyn.

Ethan memeluk Elowyn dengan lembut, menenangkan dirinya dengan suara pelan. Sementara itu, aku diseret penjahat dengan kasar ke arah mobil. Rambutku dijambak hingga terasa seperti akan tercabut. Rasa sakit yang luar biasa membuatku tak kuasa untuk tidak mengerang.

Penjahat itu mengangkat tangannya dan menampar wajahku dengan keras. "Kalau kamu ribut lagi, aku bunuh kamu! Nggak usah berlagak jadi korban, suamimu bahkan nggak sudi melirikmu sekali pun!"

Aku menatap Ethan yang melindungi Elowyn, membantunya naik ke mobil sebelum melaju pergi tanpa ragu sedikit pun. Hatiku yang sebelumnya masih menaruh harapan, kini benar-benar hancur berkeping-keping.

Aku menggigit bibirku erat-erat, menahan air mata sambil menutup mata dalam keputusasaan. Aku membiarkan penjahat itu memasukkanku ke dalam mobil tanpa perlawanan.

Dia bahkan tidak menoleh untuk melihat apakah aku terluka atau tidak. Saat itu, aku akhirnya menyadari bahwa nyawaku dan nyawa anakku tidak berarti apa-apa dibandingkan dengan "kesucian" Elowyn yang konyol.

Aku telah mencintainya selama sepuluh tahun. Bahkan gunung es pun seharusnya sudah mencair karena cintaku. Namun, dia dengan semudah itu menempatkanku dalam bahaya tanpa melirikku sedikit pun.

Sebelum benar-benar kehilangan kesadaran, aku sempat menatap untuk terakhir kalinya ke arah dia pergi. Senyum pahit tersungging di bibirku.

Dia pasti tidak tahu, apa yang disebut penculikan ini hanyalah sebuah sandiwara yang dirancang khusus untuk mengambil nyawaku.

Bab 2

Rekan Ethan baru tiba di lokasi dua jam setelah aku menghilang. Setelah mengantarkan Elowyn ke rumah sakit, Ethan terus berjaga di samping tempat tidurnya. Dia begitu gelisah hingga bahkan lupa memberi tahu rekannya untuk datang menyelamatkanku.

Ketika dia akhirnya ingat, aku sudah dipukuli hingga hanya tersisa napas terakhir. Tubuhku dibuang di sebuah gua tersembunyi di pegunungan, menunggu kematian dalam keheningan.

Rekannya, Casper, membawa senter dan mencari dengan susah payah di dalam hutan. Namun sayangnya, aku telah meninggal dengan penuh penyesalan sendirian di gua itu.

Jiwaku mengikuti di belakangnya, menyaksikan dia menelepon Ethan dengan panik. "Ethan, aku sudah mencari di seluruh gunung, tapi nggak menemukan Kak Theresia. Apa mungkin dia sudah ...."

Dari ujung telepon, suara Ethan yang dingin terdengar, "Apa yang mungkin terjadi padanya? Mungkin dia sudah dibebaskan dan sekarang bersembunyi entah di mana, sengaja buat aku kesal!"

Casper ragu-ragu sebelum berbicara lagi, "Ethan, Kak Theresia bukan tipe orang seperti itu. Kalau dia baik-baik saja, dia pasti nggak akan menyia-nyiakan waktu polisi seperti ini. Gimana kalau kamu datang dan bantu untuk mencarinya?"

Bagaimanapun, aku benar-benar tidak ada kabar. Jika sesuatu terjadi, siapa pun akan sulit bertanggung jawab.

Ethan menahan amarahnya dan berkata dengan dingin, "Apa gunanya aku ke sana? Aku sudah bilang dia pasti baik-baik saja. Penjahat itu cuma menakut-nakutinya. Bahkan pada Elowyn saja mereka nggak melakukan apa-apa, 'kan?"

"Sudahlah, kamu pulang saja dan istirahat. Dua hari lagi, kalau dia merasa nggak ada yang peduli, dia pasti akan muncul sendiri."

Casper ingin mengatakan sesuatu lagi, tetapi Ethan sudah tidak sabar dan langsung memutus panggilan telepon.

Aku merasakan hawa dingin menjalar di sekujur tubuhku. Sepuluh tahun. Bahkan memelihara seekor anjing selama sepuluh tahun pun pasti akan menimbulkan rasa sayang.

Namun, tidak bagi Ethan. Dia bahkan merasa terganggu untuk mencariku lebih lama. Aku merasa sangat bersyukur bahwa aku sudah mati, sehingga tidak perlu lagi terjebak dalam hubungan dengan makhluk berdarah dingin sepertinya.

Aku ingin pergi, tetapi tanpa sadar aku tetap mengikuti rekannya. Jiwaku melayang hingga tiba di sisi Ethan. Saat itu, dia sedang berjaga di samping tempat tidur Elowyn. Dia sangat fokus hingga tidak menyadari Casper masuk ke ruangan.

Elowyn tampak meringkuk di pelukannya, menangis kecil dengan suara yang terisak.

"Ethan, aku hampir mati ketakutan. Waktu ujung pisau itu menempel di leherku, yang terpikir hanyalah penyesalan karena pernah begitu keras kepala hingga kehilanganmu dulu."

Ethan mengusap kepalanya dengan senyum penuh kelembutan yang belum pernah kulihat sebelumnya. Dia menenangkan Elowyn dengan suara lembut, "Jangan takut lagi, Elowyn. Aku sudah bilang, apa pun yang terjadi, aku akan melakukan segalanya untuk melindungimu."

Melihat ekspresi penuh cinta itu, hatiku mencengkeram kuat, rasa sakitnya begitu nyata. Dia tampaknya telah melupakan bahwa aku, istrinya, saat ini berada dalam kondisi yang entah hidup atau mati.

Dia selalu dingin terhadapku. Aku selalu mengira itu adalah sifatnya, tapi aku salah. Dia hanya tidak ingin bersikap lembut padaku.

Aku dan Ethan telah saling mengenal sejak kecil dan orang tua kami sudah berteman dekat selama bertahun-tahun.

Awalnya, rasa sukaku padanya hanya kusimpan dalam hati dan kami sebenarnya tidak seharusnya memiliki hubungan lebih.

Tak lama setelah lulus, dia bersikeras ingin menikahi Elowyn, tetapi keinginannya ditentang keras oleh orang tuanya. Dalam kemarahan, Elowyn memilih pergi ke luar negeri.

Malam itu, aku ditugaskan oleh ayahku untuk mengantarkan dokumen ke rumah ayah Ethan. Tanpa kuduga, aku bertemu Ethan yang mabuk berat. Dalam keadaan mabuk, dia mendorongku ke dinding dan mencium bibirku.

Aku tahu seharusnya aku tidak membiarkan hal itu terjadi, tetapi cintaku padanya terlalu dalam. Bahkan meski tahu dia salah mengira aku sebagai orang lain, aku tetap terhanyut tanpa peduli. Semalaman, nama yang dia panggil hanyalah "Elowyn".

Keesokan harinya setelah sadar, dia begitu marah hingga mencekik leherku dan menuduhku telah menggodanya. Padahal, jelas-jelas dia yang memulainya.

Pada akhirnya, dia tetap memutuskan untuk menikahiku. Namun, saat pesta pertunangan kami, aku dijebak. Aku dibuat mabuk dan dilempar ke tempat tidur hotel bersama Nathan, yang juga tak sadarkan diri.

Bab 3

Aku tidak akan pernah melupakan tatapan kecewa Ethan. Tidak peduli seberapa keras aku mencoba menjelaskan bahwa aku telah dijebak, dia tetap tidak mau percaya. Untuk menghindari skandal, Nathan juga dikirim ke luar negeri oleh ibunya setelah kejadian itu.

Sejak hari itu, setiap kali Ethan melihatku, tatapan jijik selalu terlihat jelas di wajahnya. Aku tahu dia menganggapku kotor, tetapi aku tidak bisa membuktikan apa pun untuk membersihkan nama baikku.

Aku terus bertahan dalam diam. Selama aku bisa tetap berada di sisinya, bahkan jika dia tidak mencintaiku dan hanya menganggapku sebagai pengganti, aku tetap rela.

Tiga bulan lalu, aku tidak sengaja mengetahui bahwa aku hamil. Aku ingin memberitahunya, tetapi belakangan ini setiap kali dia melihatku, sikapnya begitu dingin dan bahkan enggan berbicara lebih dari beberapa kata.

Aku mencoba menenangkan diri, berpikir mungkin dia sedang sibuk atau suasana hatinya sedang buruk dan aku akan menemukan waktu yang tepat untuk mengungkapkan berita ini kepadanya.

Jika bukan karena kebetulan melihatnya di ruang gawat darurat sedang menemani Elowyn setelah pemeriksaan hari itu, aku mungkin masih tidak tahu bahwa alasan dia mengabaikanku adalah karena cinta sejatinya telah kembali.

Aku berdiri di depan pintu ruang pemeriksaan, di tengah keramaian. Aku hanya bisa terpaku menatapnya memegangi tangan Elowyn dengan penuh kasih sayang. Saat itu, aku akhirnya sadar bahwa dia bisa bersikap peduli dan bisa menunjukkan perhatian. Hanya saja, perhatian itu tidak pernah diberikan kepadaku.

Dia tidak pernah mencintaiku.

Aku pulang ke rumah dengan hati yang hancur, bahkan tidak memiliki nafsu untuk makan malam.

Sampai larut malam, dia akhirnya pulang dalam keadaan mabuk.

Saat melihatku, dia bahkan tidak bertanya mengapa aku pergi ke rumah sakit atau apa yang terjadi padaku hari itu. Dia hanya melemparkan jaketnya ke arahku dengan wajah dingin, lalu berbalik masuk ke kamar mandi.

Aku memegang jaketnya yang penuh dengan noda lipstik. Untuk pertama kalinya, aku kehilangan kendali di hadapannya.

Aku menghancurkan semua barang di kamar dan bertanya dengan penuh emosi kenapa dia masih menjalin hubungan ambigu dengan Elowyn di saat aku sedang mengandung anaknya.

Dia berdiri di tengah kekacauan itu, menatapku dengan dingin, seolah melihat orang asing yang tak berarti.

"Theresia, lihat dirimu sekarang. Seperti perempuan kasar yang nggak tahu malu. Apa yang bisa kamu bandingkan sama Elowyn?"

"Kamu tahu nggak? Hal yang paling aku sesali adalah keputusan untuk menikahimu dulu. Jujur saja, sekarang melihatmu saja sudah membuatku muak."

Dia mengambil jaketnya lalu keluar rumah tanpa ragu-ragu, meninggalkanku sendirian dengan mata sembap setelah menangis.

Suamiku yang tidak peduli padaku, kini memberikan segala perhatian dan kasih sayangnya pada cinta sejatinya. Hanya dengan Elowyn mengerutkan alis sedikit saja, dia sudah panik dan memegang erat tangannya.

"Elowyn, apa lukanya masih sakit? Perlu aku panggilkan dokter lagi?"

Melihatnya, aku ingin tertawa. Dulu, saat kami baru menikah, ibunya tiba-tiba pingsan di rumah. Aku takut menunda waktu, jadi aku memanggulnya turun dari tangga sendiri setelah memanggil ambulans. Dalam proses itu, aku terkilir dan tidak bisa berjalan selama beberapa hari.

Aku pernah memohon padanya untuk membantuku ke kamar mandi. Namun, dia hanya menatapku dengan dingin dan menolakku.

Akhirnya, aku harus berjalan perlahan sambil bersandar di dinding. Aku tidak kuat berdiri dan terjatuh ke lantai hingga tidak bisa bangun lagi.

Sambil menangis, aku memohon padanya dan mengatakan bahwa kakiku sangat sakit dan memintanya untuk membantuku. Namun, dia malah mencemoohku dan bahkan tidak sudi mengulurkan tangan.

"Sudah tahu umur segini, masih juga drama kayak anak kecil, mau mati-matian segala. Kalau mau mati, matilah jauh-jauh. Jangan ganggu aku di sini."

Sekarang, seperti yang dia katakan, aku benar-benar mati jauh darinya. Aku tidak lagi menghalangi pandangannya. Akhirnya, dia terbebas dariku dan bisa mengejar cinta sejatinya tanpa beban.

Aku telah menghilang selama tiga hari. Casper sudah beberapa kali datang mencarinya.

"Ethan, Kak Theresia belum ditemukan sampai sekarang. Aku sudah bertanya ke semua kantor polisi, tapi nggak ada informasi sama sekali."

Ethan mengabaikan ucapannya. Dia hanya fokus mengupas jeruk di tangannya.

"Aku sudah bilang, penjahat itu nggak akan berani melukainya. Paling-paling mereka hanya mengambil barang berharganya dan meninggalkannya di tempat sepi. Kenapa kamu repot-repot mengkhawatirkannya?"

Dia tidak percaya bahwa aku dalam bahaya dan sama sekali tidak peduli tentang keberadaanku.

Dikorbankan Demi Keselamatan Cintanya

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya