Bab 6

"Dasar nggak berguna!" Bianca sontak murka. Dia mendorong Tobi, lalu membentak, "Aku suruh jangan cabut, tapi kamu memaksa. Sekarang, kamu hanya bisa memberiku hasil seperti ini?"

"Ini bukan salahku. Aku sudah berusaha semaksimal mungkin!" Tobi menggeleng dan mulai melemparkan tanggung jawab. "Oh, ini pasti kesalahan dokter itu. Dia yang sembarangan menancap jarum untuk mencelakai Tuan Jericho!"

Bianca langsung menampar Tobi. Kemudian, dia memaki, "Dasar rendahan! Kamu sudah salah, tapi masih menyalahkan orang lain? Biar kuperingatkan, kalau terjadi sesuatu pada kakekku, aku akan mengulitimu hidup-hidup!"

Begitu ucapan ini dilontarkan, wajah Tobi langsung tampak pucat pasi.

Dengan kemampuan Keluarga Caonata, mudah saja bagi Bianca untuk melenyapkan mereka dari dunia ini.

"Apa yang terjadi?" tanya Luther yang memasuki bangsal.

Begitu melihat wajah Jericho yang menghitam serta mulut dan hidungnya berdarah, Luther langsung mengernyit.

"Bukannya sudah kubilang jangan cabut jarumnya? Kenapa kalian nggak mendengarkannya?" tanya Luther dengan kesal.

"Tuan Luther, tadi ...." Sebelum Bianca sempat menjelaskan, Tobi sudah meraih kerah baju Luther dan menghardik, "Rupanya kamu yang menancap jarum-jarum itu? Gara-gara kamu, kondisi Tuan Jericho menjadi makin kritis. Bagaimana kamu akan bertanggung jawab sekarang?"

Tobi tentu tidak akan melepaskan kambing hitamnya ini.

"Sepertinya, kamu yang mencabut jarum-jarumku?" tanya Luther sembari mengangkat alisnya.

"Kenapa memangnya?" sahut Tobi.

"Nggak apa-apa. Aku hanya penasaran, bagaimana orang bodoh yang suka melempar tanggung jawab dan tidak tahu malu sepertimu ini bisa menjadi dokter?" timpal Luther.

"Kamu!" Tobi benar-benar murka.

"Diam!" Bianca langsung mendorong Tobi. Kemudian, dia bergegas membawa Luther ke sisi ranjang pasien dan berkata, "Tuan Luther, tolong selamatkan kakekku dulu, kondisinya kritis."

"Nona Bianca, bocah ini hanya penipu. Mana mungkin dia punya kemampuan? Jangan sampai kamu tertipu!" seru Tobi dengan geram.

"Kalau dia nggak bisa, kamu saja yang turun tangan," ucap Bianca sembari melirik dengan sinis.

"Aku ...." Tobi seketika kehabisan kata-kata.

Kalau punya cara untuk menyelamatkan Jericho, dia pasti sudah bertindak sejak tadi. Mana mungkin menunggu sampai sekarang?

Ketika Luther hendak mengambil tindakan, Tobi tiba-tiba mengancam, "Bocah, aku akan memperingatkanmu dulu. Status Tuan Jericho sangat mulia. Kalau sampai terjadi sesuatu padanya, kamu pasti akan mati!"

"Kalau begitu, aku nggak akan mengobatinya lagi. Kamu saja yang atasi kekacauan ini," ujar Luther yang langsung berbalik pergi. Dia malas berbasa-basi dengan orang ini.

"Berengsek! Siapa suruh kamu bicara?" Bianca benar-benar gusar dibuatnya. Dia langsung menampar Tobi dengan kuat.

Tobi sampai terhuyung-huyung dan hampir terjatuh di lantai.

Ketika menatap wajah Tobi yang bengkak, Luther hanya memasang ekspresi datar. Nyatanya, dia merasa sangat senang!

"Tuan Luther, tolong selamatkan kakekku. Keluarga Caonata akan sangat berterima kasih padamu," mohon Bianca sambil mengubah ekspresinya lagi.

"Ini agak repot. Sekarang, sumber racunnya terstimulasi sehingga menjadi makin ganas. Pengobatan nggak bisa hanya melewati akupunktur lagi karena hasilnya akan kurang signifikan. Aku masih butuh beberapa barang untuk menuntun racunnya keluar," jelas Luther.

"Tuan Luther, katakan saja. Aku akan mencarikannya untukmu," sahut Bianca.

"Aku butuh 3 ekor ulat, 3 ekor laba-laba, dan 3 ekor kecoak. Kemudian, tumis sampai keluar aromanya dan segel di dalam toples," pesan Luther.

"Eh, untuk apa barang-barang ini? Menjijikkan sekali!" kata Belinda yang merasa geli mendengarnya.

"Jangan bicara omong kosong, cepat lakukan!" perintah Bianca sembari memelototi adiknya.

Lantaran tidak berdaya, Belinda hanya bisa membawa para pengawal dan mulai mencari di sekitar.

Tidak sampai setengah jam, sebuah toples yang berisikan serangga tumis dibawa ke dalam bangsal.

"Nona Bianca, setelah aku menancapkan jarum nanti, buka toplesnya dan letakkan di antara mulut dan hidung kakekmu," pesan Luther.

"Oke." Bianca mengangguk.

"Aku akan mulai." Luther mengeluarkan jarum perak, lalu menarik napas dalam-dalam.

Kemudian, dia mengerahkan energi internal dalam pusat energinya saat menancapkan jarum di perut bagian bawah Jericho.

Seiring dengan jentikan jari Luther, jarum mulai berputar dengan liar. Aliran udara berwarna perak yang tak kasatmata memasuki tubuh Jericho dengan cepat.

Luther tidak merasa ragu sedikit pun. Dia lanjut menancapkan jarum.

Tidak berselang lama, dia mendaratkan 3 jarum secara berturut-turut lagi. Sangat gesit dan akurat!

Teknik jarumnya ini dimulai dari perut bagian bawah, lalu perlahan-lahan naik ke tubuh bagian atas.

Setiap kali Luther menancapkan jarumnya, tubuh Jericho akan berkedut, seolah-olah ada sesuatu di dalamnya.

"Sok misterius. Ini bukan menusuk titik akupunktur dengan jarum perak. Trik murahan ini nggak ada apa-apanya!" ejek Tobi seraya mencebik.

"Benar, apa hebatnya pengobatan tradisional? Pengobatan barat jelas-jelas lebih hebat. Aku ingin lihat bagaimana dia mempermalukan diri sendiri nanti."

Beberapa dokter terkenal di dalam bangsal mulai bergosip. Mereka yang mempelajari pengobatan barat sangat meremehkan pengobatan tradisional.

"Fiuh ...." Ketika Luther menancapkan jarum terakhirnya, dia sudah bercucuran keringat.

Teknik jarum yang digunakannya barusan bukanlah teknik jarum biasa. Itu adalah Teknik Jarum Gaib yang sudah lama hilang.

Teknik Jarum Gaib mampu menghidupkan kembali orang yang telah mati. Hanya saja, teknik ini membutuhkan energi internal sebagai fondasinya.

Selain itu, energi internal yang perlu dihabiskan sangat banyak. Luther tidak akan menggunakannya jika bukan dalam situasi mendesak.

"Nona Bianca, buka toplesnya," perintah Luther.

Bianca tidak bertele-tele. Dia bergegas membuka toples berisi serangga tersebut.

Dalam sekejap, sebuah bau yang aneh memenuhi seluruh bangsal.

Sebagian besar aroma ini tentu dihirup oleh Jericho.

"Benar-benar sok misterius!" Tobi mendengkus dingin, lalu berkata, "Kamu kira orang yang sudah mati bisa hidup kembali dengan cara ini?"

"Kalau kamu nggak sanggup, belum tentu orang lain juga begitu," sahut Luther dengan tidak acuh.

"Huh! Kalau kamu memang hebat, aku akan memakan serangga itu hari ini!" teriak Tobi.

Begitu dia selesai berbicara, Jericho yang sedari tadi tidak sadarkan diri tiba-tiba membuka mulutnya.

Kemudian, seekor serangga hitam yang memiliki puluhan kaki merangkak keluar karena tertarik oleh aroma tersebut.

Setelah mondar-mandir beberapa detik, serangga itu masuk ke toples dan mulai menggerogoti serangga di dalamnya.

"Lipan? Itu lipan?"

"Astaga, kenapa ada lipan di tubuh Tuan Jericho?"

"Huek! Menjijikkan sekali!"

Begitu melihat dengan saksama, ekspresi sekelompok orang itu sontak berubah drastis. Terutama Belinda yang langsung muntah di tempat.

Pemandangan ini sungguh mengerikan. Siapa sangka, seekor lipan akan keluar dari mulut manusia?

"Uhuk uhuk uhuk ...." Terdengar suara batuk seseorang.

Jericho yang tidak sadarkan diri sejak tadi akhirnya membuka matanya!

Bab 7

"Su ... sudah siuman?" Semua orang terkesiap melihat Jericho yang tiba-tiba sadarkan diri.

Apalagi saat melihat monitor ICU yang menunjukkan bahwa tanda-tanda vitalnya telah normal kembali, mereka semua hanya bisa terdiam.

Tanpa diduga, penyakit aneh yang membuat seluruh tim medis profesional tak berdaya justru berhasil disembuhkan oleh seorang pemuda.

Kejadian ini benar-benar di luar nalar!

"Syukurlah! Kakek akhirnya siuman!" seru Belinda sambil menangis bahagia saat melihat raut wajah Jericho kembali normal.

Bianca yang merasa sangat gelisah juga akhirnya merasa tenang sekarang. Dia membungkuk memberi hormat seraya berkata, "Terima kasih banyak, Tuan Luther. Mulai sekarang, kamu akan menjadi tamu terhormat Keluarga Caonata."

"Sama-sama, Nona Bianca. Ini bukan masalah besar," sahut Luther sembari tersenyum tipis.

Perkataan yang rendah hati ini justru terdengar menusuk telinga untuk Tobi.

Mereka susah payah mengobati Jericho, tetapi Luther malah mengatakan bukan masalah besar? Bocah ini jelas-jelas sedang menghina mereka!

"Hei, ada apa dengan lipan itu? Kenapa bisa ada lipan di tubuh kakekku?" tanya Belinda tiba-tiba.

"Ini bukan lipan biasa, tapi serangga beracun!" Selesai mengatakan ini, Luther menatap Jericho sambil bertanya, "Apa Tuan pergi ke luar kota belakangan ini dan salah mengonsumsi makanan?"

"Ya. Beberapa hari lalu, aku pergi ke ibu kota provinsi untuk menghadiri pesta. Aku juga minum bir," jawab Jericho seraya mengangguk.

"Kalau aku nggak salah, kamu seharusnya diracuni orang," kata Luther. Perkataannya ini mengejutkan semua orang.

"Diracuni?" tanya Jericho dengan heran.

Orang lainnya pun saling bertatapan. Mereka tampak tercengang.

Bagaimanapun, masalah ini terdengar sangat misterius.

"Jangan bicara omong kosong. Diracuni apanya? Benar-benar nggak masuk akal. Kalau menurutku, Tuan Jericho pasti nggak sengaja makan telur lipan," sela Tobi.

"Profesor Tobi, apakah telur lipan biasa bisa bertahan hidup di tubuh manusia? Nggak masalah kalau kamu nggak mengerti, tapi jangan menunjukkan kebodohanmu di sini," timpal Luther dengan tidak acuh.

"Kamu ...." Tobi ingin menyangkal, tetapi Bianca sudah memelototinya. Dia pun ketakutan hingga tidak berani berbicara.

"Terima kasih, Tuan Luther. Aku akan menyelidiki masalah ini nanti," ujar Bianca dengan serius.

Bianca pernah mendengar cara meracuni orang dengan serangga, tetapi tidak pernah melihatnya dengan mata kepala sendiri. Dia bahkan tidak menyangka kakeknya akan mengalami hal seperti ini.

Tidak peduli siapa yang melakukannya, dia pasti akan membuat orang itu mendapatkan ganjarannya!

"Serangga beracun sudah keluar dari tubuh kakekmu, tapi sisa racunnya belum ternetralisasi. Beli obat sesuai resepku ini. Setelah mengonsumsi 3 sampai 5 hari, kakekmu akan sembuh," kata Luther sambil menyerahkan resep obat.

"Terima kasih, Tuan Luther." Bianca segera mengambilnya.

"Oke. Kalau nggak ada urusan lain lagi, aku pamit dulu," ujar Luther.

"Aku akan mengantarmu keluar." Bianca mengulurkan tangan untuk mempersilakan.

"Kak, gimana dengan toples serangga ini?" tanya Belinda tiba-tiba.

"Profesor Tobi bilang ingin memakannya barusan. Turuti saja keinginannya." Bianca pun menatap para pengawal dan memerintahkan dengan dingin, "Kalian awasi dia makan. Jangan biarkan dia pergi sebelum makan habis!"

"Hah?" Raut wajah Tobi seketika memucat setelah mendengarnya.

....

Saat ini, di dalam bangsal lain rumah sakit.

"Ibu, berani sekali bajingan itu memukulku! Kamu harus memberinya pelajaran!" teriak Keenan yang berbaring di ranjang pasien sambil menangis tanpa henti. Perban tebal melilit kepalanya sehingga hanya memperlihatkan mata, mulut, dan hidungnya.

"Putraku, kamu tenang saja. Ibu pasti akan membalaskan dendammu!" Helen merasa sangat sedih melihat kondisi putranya.

"Bibi Helen, besar sekali nyali si Luther. Dia berani bermain tangan dengan kalian?" Pria tampan berjas yang berdiri di samping tiba-tiba bersuara.

Orang ini tidak lain adalah Tuan Muda Kedua Keluarga Yohan yang bernama Wandy. Dia juga pria yang sangat tergila-gila pada Ariana.

"Wandy, kamu nggak melihat gimana bocah itu menggila hari ini. Dia menahan putraku, lalu terus menghajarnya. Aku sampai nggak bisa menghentikannya," jelas Helen dengan geram.

"Oh? Rupanya dia begitu menakutkan?" Wandy melanjutkan dengan kesal, "Bibi Helen, aku mengenal beberapa teman. Gimana kalau aku membantumu melampiaskan kekesalanmu ini?"

"Oke, ide yang sangat bagus!" Helen tampak berseri-seri.

"Kak Wandy, kamu harus menyuruh mereka menghajarnya sampai sekarat. Kalau bisa, buat dia cacat!" teriak Keenan.

"Bukan masalah. Aku jamin dia hanya bisa berbaring di ranjang selama sisa hidupnya!" kata Wandy sambil tersenyum kejam.

Wandy sudah lama membenci Luther. Atas dasar apa bajingan miskin seperti dia menikahi seorang presdir cantik?

Kali ini, dia akan memanfaatkan kesempatan ini dengan baik untuk menginjak-injak harga diri Luther!

"Keenan, gimana cederamu?" Saat ini, Ariana yang mengenakan terusan hitam tiba-tiba memasuki bangsal.

Baik postur tubuhnya yang seksi ataupun parasnya yang cantik langsung membuat mata Wandy penuh dengan antusiasme.

"Kak, akhirnya kamu datang. Lihat, aku sampai begini karena dipukul bajingan itu!" Keenan bergegas duduk di ranjang, lalu menunjuk wajahnya yang dililit dengan perban.

"Aku sudah tahu masalahnya. Luther juga sudah telepon minta maaf. Lupakan saja masalah ini," hibur Ariana.

"Lupakan?" Keenan seketika meninggikan suaranya. "Kak, kamu nggak bercanda? Aku sampai babak belur begini, tapi dia hanya minta maaf? Apa kamu nggak menganggapku sebagai adikmu?"

"Memangnya apa maumu?" tanya Ariana.

"Aku mau dia berlutut dan bersujud minta maaf!" jawab Keenan.

"Dia kakak iparmu, tidak usah memperbesar masalah ini," ujar Ariana.

"Kakak ipar apanya! Aku tahu kalian sudah bercerai!" sahut Keenan.

"Kita tetap harus memikirkan hubungan sebelumnya. Lagi pula, kamu juga salah," kata Ariana.

"Kak, kenapa kamu malah membantu orang luar? Apa salahku? Aku hanya menghancurkan liontin gioknya, memangnya apa hebatnya liontin itu?" teriak Keenan dengan kesal.

"Apa katamu? Liontin giok?" tanya Ariana sambil mengernyit.

"Liontin giok yang selalu kamu pakai. Dia bilang itu warisan keluarganya. Kalau menurutku, itu hanya sampah nggak berguna!" hina Keenan seraya mencebik.

"Kamu menghancurkan liontin giok itu?" tanya Ariana.

"Ya, siapa suruh bajingan itu nggak tahu diri! Aku menyukai liontin giok itu, tapi dia malah menolak memberikannya. Jadi, aku hancurkan saja langsung!" jelas Keenan tanpa merasa bersalah.

"Kamu memang pantas dipukul!" Ariana sangat marah setelah mendengar jawaban ini.

Dia akhirnya mengerti alasan Luther memukul adiknya ini. Ternyata, Keenan gagal merebut liontin giok tersebut sehingga sengaja menghancurkannya.

Orang lain tidak tahu seberapa pentingnya liontin giok tersebut, tetapi Ariana tahu betul apa makna benda itu bagi Luther.

Liontin itu bukan hanya warisan keluarga, tetapi juga satu-satunya benda peninggalan ibu Luther. Itu adalah kenang-kenangan sekaligus bentuk kasih sayang dari ibunya.

Ketika bercerai, Luther tidak menginginkan apa pun dari Ariana, kecuali liontin giok tersebut. Hal ini cukup untuk membuktikan betapa berharganya liontin itu di hati Luther.

"Kak, itu hanya liontin jelek, kenapa kamu memarahiku?" tanya Keenan dengan jengkel.

"Benar. Masa liontin jelek itu lebih berharga dari nyawa adikmu?" Helen juga merasa tidak puas.

"Aku akan memperhitungkan masalah ini dengan kalian nanti!" timpal Ariana. Dia terlalu malas untuk menjelaskan sehingga langsung pergi dengan marah.

Adiknya ini bersikap tidak masuk akal, sedangkan ibunya memutarbalikkan fakta dan memfitnah Luther.

Ariana telah bersikap gegabah sebelumnya. Ucapannya barusan telah menyakiti hati Luther.

Setelah dipikir-pikir sekarang, dia pun merasa sangat menyesal.

Jika Luther tidak marah besar, mana mungkin dia menggunakan kekerasan?

Ariana benar-benar sudah salah menyalahkannya ....

Bab 8

Saat ini, di dalam mobil Bentley berwarna perak yang sedang melaju.

"Tuan Luther, terima kasih banyak. Ini adalah kartu naga Keluarga Caonata, tolong diterima," ujar Bianca sambil mengeluarkan sebuah kartu hitam dengan sisi yang terbuat dari emas.

Setelah menyodorkannya, dia menjelaskan, "Dengan kartu ini, kamu akan menjadi tamu terhormat Keluarga Caonata. Kamu bisa menikmati pelayanan terbaik dari semua bisnis milik Keluarga Caonata."

"Nona Bianca, bukan ini yang kubutuhkan," sahut Luther sambil menggeleng.

"Tuan Luther, tenang saja. Ini hanya bentuk terima kasih dariku. Rumput Hati Naga yang dikatakan Pak Eril akan dikirim ke rumahmu besok," balas Bianca sembari tersenyum.

"Nona Bianca benar-benar lugas. Baiklah, terima kasih kalau begitu." Luther tersenyum dan menerima kartu naga tersebut.

Barang yang diberikan oleh Bianca sudah pasti bukan barang biasa.

Ketika keduanya masih mengobrol, sopir sontak menginjak rem dan menghentikan mobil di pinggir jalan.

"Bu Bianca, maaf sekali. Mereka memaksaku untuk melakukan ini!" Selesai melontarkan kalimat ini, sopir itu langsung turun dari mobil dan kabur.

Pada saat yang sama, terlihat 2 mobil van berwarna hitam tiba-tiba melaju kemari dengan kecepatan tinggi.

Kedua mobil ini berhenti di depan dan belakang Bentley untuk menghalangi jalan.

Begitu pintu mobil dibuka, belasan preman yang memakai penutup wajah dan memegang tongkat bergegas turun dengan galak.

Yang memimpin adalah seorang pria botak bertubuh gendut.

"Nona Bianca, bosku ingin bertemu denganmu. Tolong ikut dengan kami," kata pria botak itu setelah melompat ke atas mobil. Dia bahkan memegang pisau di tangannya.

Bianca sama sekali tidak panik. Sebaliknya, dia justru tampak teguh dan tak kenal takut.

"Kalau pengawalmu ada di sini, kami tentu nggak berani. Sayangnya, mereka semua sedang menjaga Tuan Jericho di rumah sakit. Hanya ada seorang pecundang yang mengikutimu. Mana mungkin kami melewatkan kesempatan emas ini?" lanjut pria botak itu sembari menyeringai.

"Sepertinya, kalian cukup cerdas karena bisa menyuap sopirku. Tapi, aku sangat penasaran, siapa bos kalian?" tanya Bianca dengan tidak acuh.

"Kamu akan tahu setelah sampai nanti. Cepat turun!" desak pria botak itu.

"Huh! Kamu nggak berhak menyuruhku turun dari mobil!" Bianca menentang dengan berani.

"Kalau kamu begitu nggak tahu diri, jangan salahkan kami bertindak lancang!" ancam pria botak itu. Kemudian, dia melambaikan tangan untuk meminta palu besar dari anak buahnya.

Tepat ketika pria botak ini hendak menghancurkan jendela mobil, Luther tiba-tiba turun dari mobil.

"Nona Bianca, piaraanmu ini benar-benar pengecut. Aku belum mulai, tapi dia sudah ketakutan sampai pipis di celana. Masa kamu menyukai pria seperti ini?" ejek pria botak itu sambil tersenyum.

Bianca mengernyit tanpa mengatakan apa pun. Dia hanya mengulurkan tangan ke dalam tasnya.

"Kuberi kalian 5 detik, cepat pergi dari sini!" perintah Luther dengan dingin.

"Bocah, kamu tahu apa yang kamu katakan? Sok pahlawan! Kamu sudah bosan hidup, ya?" maki pria botak itu.

Begitu ucapan tersebut dilontarkan, terdengar suara pukulan yang nyaring. Luther telah melayangkan pukulan ke wajah pria botak itu.

Tenaga yang dikerahkannya sangat besar, sampai membuat wajah pria botak itu miring. Tubuhnya bahkan terhuyung-huyung dan tidak bisa berdiri dengan stabil.

"Berengsek, berani sekali dia menyerang! Ayo, bunuh dia!" Preman lainnya langsung menerjang saat melihat kejadian ini.

Luther sama sekali tidak takut. Dia maju selangkah untuk berhadapan dengan para preman itu.

Sosoknya sangat gesit, bagaikan hantu yang terus bergerak di antara kerumunan. Setiap kali mendekati seseorang, Luther pasti akan melayangkan pukulannya.

Plak plak plak ....

Seiring dengan suara yang nyaring ini, para preman bertubuh kekar itu dijatuhkan satu per satu oleh Luther hanya dalam waktu singkat.

Satu preman hanya mendapatkan satu pukulan. Proses ini pun berlangsung dengan sangat cepat.

Saat ini, si pria botak yang baru tersadar dari keterkejutannya benar-benar ketakutan. Dia sungguh tidak menduga bahwa pemuda yang dianggapnya pecundang ini ternyata begitu kuat.

Saudara-saudaranya yang begitu ganas itu bahkan tidak punya kesempatan untuk menyentuh Luther.

"Menarik juga," ujar Bianca seraya menyunggingkan senyuman. Matanya tampak berbinar-binar.

Seketika, dia meletakkan kembali pistol kecil yang disembunyikan di dalam tasnya.

Bianca awalnya mengira Luther akan disiksa oleh para preman ini. Siapa sangka, ternyata Luther begitu hebat.

Pemuda ini berhasil menjatuhkan sekelompok preman kekar dengan enteng. Kemampuan bertarung Luther ini sudah pasti di atas para pengawalnya.

Bukan hanya menguasai keterampilan medis, tetapi Luther juga tampan dan pintar bertarung. Benar-benar pria berkelas!

Ketika melihat Luther mendekatinya selangkah demi selangkah, pria botak itu pun panik. Dia berteriak, "Ja ... jangan mendekat! Jangan macam-macam denganku! Kalau kamu berani menyentuhku .... Argh!"

Sebelum selesai berbicara, Luther sudah meninju perutnya. Dia kesakitan hingga berlutut di tanah dan memuntahkan makanannya.

"Nona Bianca, silakan." Luther langsung berdiri di samping setelah memberi pelajaran kepada si pria botak.

"Terima kasih." Bianca mengangguk sambil menghampiri. Dia menatap pria botak itu dengan tatapan merendahkan, lalu bertanya, "Siapa bos kalian?"

"A ... aku ...." Pria botak itu terbata-bata.

"Nggak mau kasih tahu?" Bianca terkekeh-kekeh, lalu memungut sebilah pisau dan menodongkannya ke leher si pria botak. Kemudian, dia melanjutkan dengan sinis, "Kalau begitu, aku akan mencincangmu dengan pisau ini."

Selesai mengatakannya, Bianca pun mengangkat pisaunya dan hendak menebas kepala si pria botak.

"Ja ... jangan! Aku ... akan memberitahumu. Tuan Adi ... Tuan Adi Devano dari Grup Prosper!" jawab si pria botak yang akhirnya mengaku kalah.

Nyawanya sudah terancam, mana sempat dia memedulikan kesetiaannya lagi sekarang.

"Rupanya dia ...." Bianca terkekeh-kekeh dengan sinis, lalu memerintah, "Pulang dan beri tahu bosmu bahwa aku akan mengingat masalah hari ini. Kalau sudah senggang, aku akan mencarinya sendiri. Sekarang, bawa orang-orangmu dan pergi dari sini!"

"Ba ... baik!" Pria botak itu ketakutan hingga pipis di celana. Kemudian, dia buru-buru membawa para bawahannya pergi.

"Nona Bianca, kakekmu diracuni, lalu kamu bertemu dengan masalah seperti ini. Keduanya pasti saling berkaitan. Sepertinya, Tuan Adi ini bukan orang biasa," ujar Luther untuk memperingatkan.

"Adi hanya anjing gila, aku nggak takut. Tapi, masih ada seseorang di belakangnya. Supaya nggak membuat lawan berwaspada, aku akan membiarkannya dulu beberapa hari. Ketika saatnya tiba, aku akan menghancurkan mereka semua!" sahut Bianca sambil memicingkan matanya.

Bianca memilih untuk diam sementara waktu ini. Namun, begitu beraksi, dia akan langsung memberi pukulan yang fatal untuk lawannya!

"Baguslah kalau begitu." Luther menganggukkan kepalanya. Dia tidak tertarik untuk ikut campur dalam perselisihan seperti ini.

"Tuan Luther, kamu benar-benar tamu terhormat Keluarga Caonata. Kamu menolongku dan kakekku, entah bagaimana aku harus berterima kasih," kata Bianca dengan mata berbinar-binar.

"Hanya bantuan kecil, nggak masalah," timpal Luther.

"Ini adalah utang budi yang sangat besar, aku harus membalas kebaikanmu." Setelah terdiam sejenak, Bianca tiba-tiba tersenyum centil dan berkata, "Demi menunjukkan ketulusanku, gimana kalau ... aku menikah denganmu?"

Dikejar Lagi oleh Istri CEOku

Bab 6
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya