Bab 1

Di dalam ruang kantor presdir Grup Pesona.

"Luther, ini adalah perjanjian cerai yang disiapkan Bu Ariana. Silakan ditandatangani," ujar Julie selaku sekretaris Ariana. Kemudian, Julie yang mengenakan seragam kantor sedang meletakkan secarik kertas A4 di atas meja.

Di seberangnya, duduk seorang pria tampan yang mengenakan pakaian sederhana.

"Cerai? Apa maksudnya?" tanya Luther Bennett dengan bingung.

"Luther, kamu masih tidak mengerti? Pernikahanmu dengan Bu Ariana sudah di ujung tanduk. Kalian tidak lagi sejalur. Keberadaanmu hanya suatu penghalang bagi Bu Ariana," jawab Julie tanpa rasa kasihan.

"Penghalang?" Luther mengernyit sembari bertanya, "Jadi, aku hanya penghalang di matanya?"

Ketika keduanya menikah, Keluarga Warsono sedang berada di posisi yang tidak menguntungkan, bahkan memiliki banyak utang.

Luther yang telah membantu Keluarga Warsono melewati kesulitan tersebut. Siapa sangka, setelah kaya raya, Ariana malah ingin mencampakkannya.

"Kamu boleh berpikir begitu," ujar Julie sambil menengadah dan menunjuk majalah di atas meja. Terlihat pula sosok wanita yang sangat cantik di sampul majalah yang indah itu.

"Luther, lihat judul majalah itu. Hanya dalam 3 tahun, kekayaan Bu Ariana sudah menembus triliunan. Dia bukan hanya mencetak rekor, tapi juga menjadi presdir wanita cantik yang paling berkuasa di Jiloam."

"Dengan kecantikan dan kemampuannya, dia ditakdirkan untuk berada di puncak dan dihormati orang-orang. Sementara itu, kamu hanya orang biasa yang tidak berguna. Kamu tidak cocok dengannya. Aku berharap kamu bisa sadar diri," jelas Julie.

Ketika melihat Luther hanya diam, Julie mengernyit dan melanjutkan, "Aku tahu kamu tidak bisa menerima semua ini, tapi faktanya seperti itu. Kamu memang pernah membantu Bu Ariana. Tapi, selama 3 tahun ini, dia sudah melunasi semua utangnya kepadamu. Sekarang, justru kamu yang berutang padanya."

"Memangnya kalian pikir pernikahan hanya sebuah transaksi?" Luther menarik napas dalam-dalam, lalu berusaha menahan amarahnya dan berkata, "Kalau mau bercerai, suruh Ariana berbicara langsung kepadaku."

"Bu Ariana sangat sibuk. Masalah sepele seperti ini tidak perlu merepotkannya," timpal Julie.

"Masalah sepele?" Luther termangu sejenak sebelum tersenyum mengejek diri sendiri. Kemudian, dia melanjutkan, "Masa? Apa perceraian adalah masalah sepele baginya? Dia bahkan tidak punya waktu untuk mengobrol sebentar denganku? Sekarang statusnya benar-benar terhormat, ya!"

"Luther, masalah sudah seperti ini. Kamu tidak perlu bertele-tele lagi." Julie mendorong surat perjanjian itu sambil menambahkan, "Asalkan kamu menandatanganinya, kamu bukan hanya akan mendapatkan mobil dan rumah, tapi juga uang kompensasi sebesar 16 miliar. Jumlah uang ini tidak akan bisa kamu dapatkan seumur hidup!"

"Jumlahnya cukup banyak, sayangnya ... aku tidak butuh. Boleh saja kalau ingin bercerai, tapi suruh dia hadapi aku. Kalau tidak, aku tidak akan menandatanganinya," kata Luther dengan dingin.

"Luther, jangan keterlaluan!" Julie menggebrak meja, lalu menegur, "Jangan salahkan aku tidak memperingatkanmu. Dengan kekuasaan dan status Bu Ariana, mudah saja baginya untuk bercerai darimu. Tapi, dia masih menghargaimu sehingga menjaga harga dirimu. Sebaiknya, kamu jangan menantangnya."

"Harga diri?" Luther merasa sangat konyol.

Ariana bahkan tidak datang saat ingin bercerai dengannya. Lantas, bagaimana dia menjaga harga diri Luther? Selain itu, kalau wanita ini memang menghargainya, mana mungkin dia akan mengancamnya?

"Menurutku, masalah ini tidak perlu dibahas lagi," ujar Luther yang malas berbicara panjang lebar lagi. Dia pun bangkit dan bersiap-siap untuk pergi.

"Luther, kamu ini!" Tepat ketika Julie hendak mengamuk, seorang wanita cantik bertubuh seksi yang mengenakan terusan hitam mendorong pintu dan masuk.

Wanita berkulit putih ini terlihat sangat sempurna. Apalagi postur tubuhnya yang tiada tandingannya. Ditambah dengan auranya yang dingin, wanita ini bak bidadari yang turun dari kayangan. Benar-benar menawan!

"Akhirnya kamu datang juga," kata Luther dengan perasaan campur aduk saat melihat wanita cantik di depannya.

Selama pernikahan 3 tahun ini, mereka berdua selalu menghormati satu sama lain. Namun, mereka malah sampai di tahap ini sekarang.

Luther bahkan tidak tahu kesalahan apa yang telah dibuatnya.

"Maaf, aku ada urusan, jadi terlambat," ujar Ariana dengan tidak acuh sambil duduk.

"Bu Ariana benar-benar sibuk, sampai-sampai harus mengutus orang untuk membahas perceraian," sindir Luther.

Begitu mendengarnya, Ariana tak kuasa mengernyit. Namun, dia sama sekali tidak menjelaskan dan langsung menyahut, "Langsung saja bahas perceraian ini. Aku tidak mau bertele-tele. Anggap saja aku yang salah kali ini dan kita berpisah baik-baik. Setelah bercerai, rumah dan mobil akan menjadi milikmu. Aku juga akan memberimu kompensasi 16 miliar. Bagaimana?"

Selesai berbicara, Ariana meletakkan sebuah kartu di atas meja.

"Kamu kira hubungan bisa diukur dengan uang?" tanya Luther dengan sinis.

"Terlalu sedikit? Oke. Katakan saja keinginanmu, aku akan berusaha memenuhinya," sahut Ariana dengan ekspresi datar.

"Sepertinya, kamu nggak ngerti maksudku. Biar kutanya, apakah uang dan kekuasaan begitu penting?" tanya Luther dengan bingung.

Ariana berjalan ke depan jendela, lalu memandang seluruh kota dan menjawab dengan tegas, "Bagiku sangat penting."

"Uang yang kamu dapatkan sekarang sudah cukup untuk dihabiskan selama sisa hidupmu. Apa kamu masih perlu bekerja keras begini?" tanya Luther lagi.

"Luther, inilah perbedaan kita. Kamu tidak akan mengerti apa yang kuinginkan," jawab Ariana sembari menggeleng dengan kecewa.

Perbedaan mereka berdua bukan hanya terletak di status, tetapi juga pemikiran dan keinginan. Yang paling parah adalah Ariana tidak bisa melihat harapan pada Luther.

"Benar, mana mungkin aku tahu apa yang kamu pikirkan?" Luther terkekeh-kekeh untuk mengejek diri sendiri, lalu meneruskan, "Aku hanya bisa memasak untukmu saat kamu lapar, memberimu pakaian saat kamu kedinginan, dan membawamu ke rumah sakit saat kamu sakit."

"Tidak ada gunanya lagi membahas itu," timpal Ariana dengan tatapan yang tampak rumit. Namun, tatapannya segera menjadi tegas kembali.

"Benar juga." Luther mengangguk dan berkata, "Aku dengar kamu sangat dekat dengan Tuan Muda Keluarga Yohan belakangan ini. Apa semua ini karena dia?"

Ariana ingin membantah. Namun, setelah dipikir-pikir, dia memilih untuk mengangguk dan menyahut, "Kamu boleh berpikiran seperti itu."

"Oke. Kalau begitu, aku doakan kalian bahagia," ujar Luther seraya tersenyum tipis. Kemudian, dia pun menandatangani perjanjian perceraian tersebut. Dia tidak merasa ragu, yang ada hanya kekecewaan.

Ironisnya, hari ini adalah ulang tahun pernikahan mereka. Pernikahan dan perceraian terjadi pada tanggal dan bulan yang sama, benar-benar konyol!

"Aku nggak perlu uang dan lainnya, tapi kamu harus mengembalikan liontin giok itu. Benda itu adalah peninggalan ibuku, bukti bahwa kamu adalah menantu Keluarga Bennett," kata Luther sambil menunjuk kerah baju Ariana.

"Oke." Ariana mengangguk, lalu menyerahkan liontin giok tersebut.

"Mulai hari ini, kita berdua nggak saling berutang budi!" ujar Luther. Setelah mengenakan liontin giok tersebut, dia pun bangkit dan pergi.

Saat ini, sorot mata Luther tidak lagi terlihat lembut, melainkan sangat dingin.

"Julie, apa yang kulakukan ini benar?" tanya Ariana dengan tatapan agak rumit.

Meskipun Ariana yang mengusulkan untuk bercerai, dia malah tidak merasa senang.

"Tentu saja benar." Julie mengangguk dengan kuat, lalu menjelaskan, "Bu Ariana punya hak untuk mengejar kebahagiaan. Luther yang sekarang tidak pantas untukmu lagi. Dia hanya akan mengganggumu. Bagaimanapun, Bu Ariana ditakdirkan untuk menjadi wanita paling berkuasa di Jiloam!"

Ariana tidak mengatakan apa pun. Dia hanya merasa sedih saat melihat sosok belakang Luther yang terlihat kesepian, seolah-olah barang berharga miliknya telah menghilang ....

Bab 2

Di dalam lift, Luther menatap liontin giok di dadanya. Tatapannya tampak sangat sedih sekarang.

Meskipun sudah menduga bahwa hal seperti ini akan terjadi, dia tetap tidak bisa berlapang dada saat perceraian ini benar-benar terjadi.

Awalnya, Luther mengira bahwa kebahagiaan itu sangat sederhana. Hanya perlu makan kenyang, melewati kehidupan yang santai, dan merasa gembira.

Dia pun baru mengerti bahwa kehidupan biasa ternyata juga merupakan suatu dosa.

Luther sudah hidup dengan nyaman selama 3 tahun ini. Sekarang, sudah saatnya dia bangkit.

Kring kring kring ....

Tepat ketika Luther sedang bengong, ponselnya tiba-tiba berdering.

Terdengar suara yang familier saat dia menjawab panggilan tersebut. "Tuan Luther, aku Eril Wirawan dari Kamar Dagang Jiloam. Dengar-dengar, hari ini adalah ulang tahun pernikahanmu dengan Nona Ariana. Aku sudah menyediakan hadiah spesial untuk kalian. Kapan Tuan Luther punya waktu?"

"Terima kasih atas niat baikmu. Tapi, Pak Eril tidak perlu repot-repot lagi lain kali," sahut Luther dengan tidak acuh.

"Hm?" Eril tertegun sesaat mendengarnya. Dia samar-samar bisa merasa ada yang tidak beres.

"Pak Eril, apa masih ada urusan lain?" tanya Luther.

"Ehem .... Ya, aku ingin meminta bantuan Tuan Luther." Setelah berdeham dengan canggung, Eril pun menjelaskan, "Begini, temanku terjangkit penyakit aneh belakangan ini. Dia sudah mencari banyak dokter, tapi tidak sembuh. Aku berharap Tuan Luther bisa membantunya."

"Pak Eril, kamu seharusnya tahu aturanku," timpal Luther.

"Tentu saja. Kalau tidak sanggup menunjukkan ketulusanku, aku juga tidak berani mengganggu Tuan Luther. Kebetulan sekali, temanku itu memiliki Rumput Hati Naga yang kamu inginkan. Asalkan Tuan Luther membantu, dia akan membayarnya dengan herbal langka itu," jelas Luther.

"Serius?" tanya Luther yang terkejut.

"Ya!" sahut Eril.

"Oke. Kalau begitu, aku akan pergi ke sana." Luther langsung menyetujuinya.

Luther sama sekali tidak tertarik dengan uang ataupun perhiasan. Namun, ada beberapa herbal langka yang sangat dia inginkan. Bagaimanapun, dia memerlukannya untuk menyelamatkan orang.

"Terima kasih, Tuan Luther. Aku akan menyuruh orang untuk menjemputmu!" seru Eril yang tersenyum lega.

Sebagai salah satu dari Tiga Bos Besar di Jiloam dan ketua kamar dagang yang memimpin puluhan ribu orang, Eril justru bersikap sangat hati-hati di hadapan Luther.

"Keberuntunganku cukup bagus. Aku menemukan herbal langka lagi. Masih ada 5 yang belum ditemukan, tapi seharusnya masih sempat," gumam Luther.

Kini, suasana hatinya yang barusan begitu buruk menjadi jauh lebih baik.

Ting tong! Pintu lift akhirnya terbuka.

Begitu Luther melangkah keluar dari pintu masuk perusahaan, dia melihat dua sosok yang familier menghampirinya.

Mereka adalah Helen Giandra dan Keenan Warsono, ibu dan adiknya Ariana.

"Ibu, Keenan, kenapa kalian kemari?" sapa Luther terlebih dahulu.

"Kamu sudah bercerai dengan Ariana?" tanya Helen langsung.

"Ya." Luther memaksakan senyuman sambil berkata, "Ini bukan kesalahan Ariana, tapi kesalahanku. Ibu jangan menyalahkannya."

Luther hanya ingin keduanya berpisah secara baik-baik. Namun, Helen malah mendengkus dingin dan menimpali, "Tentu saja kesalahanmu. Aku tahu betul karakter putriku. Kalau kamu nggak berbuat salah, mana mungkin dia bercerai darimu?"

"Hah?" Luther tidak bisa bereaksi untuk sesaat. Apakah ini yang dinamakan orang jahat mengadu duluan?

"Ibu, kamu seharusnya tahu apa saja yang kulakukan selama 3 tahun ini. Aku yakin nggak melakukan kesalahan apa pun," ujar Luther.

"Huh! Hanya kamu sendiri yang tahu itu. Pokoknya, putriku sudah pasti nggak salah. Lihatlah dirimu sendiri, apa kamu pantas untuk putriku?" maki Helen sembari mencebik.

"Ibu, ucapanmu ini agak keterlaluan," kata Luther sambil mengernyit.

Kalau bukan karena bantuannya, mana mungkin Keluarga Warsono bisa memiliki pencapaian hari ini?

"Keterlaluan? Kenapa? Memangnya yang kubilang barusan bukan fakta?" sahut Helen sembari melipat lengannya di depan dada.

"Sudahlah, Ibu. Jangan berbasa-basi dengannya lagi!" Keenan tiba-tiba maju, lalu membentak, "Hei, aku malas mengurus perceraianmu dengan kakakku. Tapi, kamu harus menyerahkan uang itu!"

"Uang apa?" tanya Luther dengan bingung.

"Jangan pura-pura bodoh. Aku tahu kakakku memberimu 16 miliar sebagai kompensasi!" seru Keenan dengan dingin.

"Benar. Itu adalah uang putriku. Atas dasar apa kamu mengambilnya? Cepat serahkan!" perintah Helen sambil mengulurkan tangannya.

"Aku tidak mengambil sepeser pun darinya," bantah Luther.

"Omong kosong! Siapa yang bisa menolak uang 16 miliar? Kamu kira kami ini bodoh?" Keenan sama sekali tidak percaya.

"Kalau kamu tahu diri, cepat serahkan uang itu. Kalau nggak, jangan salahkan aku bertindak lancang!" ancam Helen.

"Kalau kalian nggak percaya, telepon saja Ariana." Luther malas menjelaskan kepada mereka.

"Kenapa? Kamu mau menakuti kami? Tidak peduli siapa yang memohon belas kasihan untukmu hari ini, kamu tetap nggak boleh mengambil sepeser pun dari putriku!" teriak Helen dengan galak.

"Ibu, kita geledah saja dia!" Keenan sudah tidak sabar sehingga langsung memeriksa kantong celana Luther.

Helen pun tidak mau kalah. Dia mulai memeriksa saku baju Luther.

"Ibu, apa kalian harus begini?" tanya Luther seraya mengerutkan dahinya.

Dia benar-benar tidak menduga bahwa Keluarga Warsono akan begitu menyudutkannya, padahal dia baru menandatangani perjanjian perceraian. Mereka benar-benar tidak menjaga harga dirinya.

"Cih, siapa ibumu? Jangan sembarangan memanggil. Memangnya siapa kamu? Kamu nggak pantas menjadi anggota keluarga kami!" bentak Helen dengan ekspresi jijik sambil terus menggeledah.

Setelah memeriksa beberapa saat, keduanya sama sekali tidak menemukan apa pun.

"Aneh, apa bocah ini benar-benar nggak mengambil uangnya?" tanya Keenan yang merasa enggan.

Kemudian, dia tidak sengaja melihat liontin giok di dada Luther. Dia pun langsung menariknya.

"Bukannya ini liontin giok antik yang dipakai kakakku? Kenapa kamu yang pakai? Kamu mencurinya, ya?" tanya Keenan dengan curiga.

"Ini adalah warisan turun-temurun Keluarga Bennett. Kembalikan kepadaku!" teriak Luther dengan murung. Dia memang tidak menginginkan sepeser uang pun, tetapi barang peninggalan ibunya harus diambil kembali.

"Warisan keluarga? Itu artinya, barang ini sangat mahal dong?" kata Keenan dengan mata berbinar-binar.

"Luther, kamu makan gratis selama 3 tahun ini. Anggap saja liontin giok ini adalah bunga yang harus kamu bayar. Ayo, kita pergi!" ujar Helen setelah memberi isyarat mata kepada Keenan. Kemudian, dia hendak membawa putranya pergi dari sana.

"Berhenti!" Luther sontak meraih tangan Keenan, lalu memerintahkan dengan murung, "Kembalikan liontin giokku!"

"Aduh, sakit! Cepat lepaskan tanganmu!" Keenan merasa pergelangan tangannya akan patah.

"Kembalikan kepadaku sekarang juga!" perintah Luther dengan tegas.

"Berengsek. Aku lebih baik membuangnya daripada memberikannya kepadamu!" sahut Keenan yang juga marah saat melihat tangannya tidak bisa terlepas dari cengkeraman Luther. Kemudian, dia langsung membanting liontin giok tersebut ke tanah.

Prang! Terdengar bunyi yang sangat nyaring. Liontin giok itu hancur berkeping-keping.

Melihat ini, wajah Luther langsung pucat bak disambar petir. Liontin itu adalah satu-satunya benda peninggalan ibunya, juga kenang-kenangan yang dia miliki.

"Kamu berani menyerangku? Siapa takut denganmu?" Keenan mengempaskan tangannya dan masih memaki.

Saat ini, Luther mengepalkan tangannya dengan erat hingga terdengar bunyi tulang yang nyaring. Matanya yang dingin bahkan sudah memerah sekarang.

"Berengsek!" Luther akhirnya tidak tahan lagi. Dia langsung menghajar wajah Keenan.

Pukulan ini pun membuat Keenan berputar dua kali sebelum akhirnya terjatuh ke tanah. Dia merasa sangat pusing sampai tidak bisa berdiri.

"Kurang ajar! Kalau ibumu nggak mengajarimu sopan santun, aku yang akan mengajarimu sekarang!" hardik Luther sembari menjambak rambut Keenan untuk mengangkatnya dari tanah.

Saat berikutnya, terdengar suara tamparan yang sangat nyaring dan tanpa henti. Luther menampar Keenan dengan kejam.

Plak plak plak plak .... Diiringi dengan suara nyaring ini, wajah Keenan pun terlihat babak belur dan mulutnya berdarah. Dia tampak sangat menyedihkan.

"Berani sekali kamu menampar putraku!" seru Helen seraya maju untuk membantu putranya.

"Minggir!" Luther menoleh dan memelototi Helen. Tatapannya yang mengerikan itu seketika membuat Helen ketakutan hingga tidak berani bergerak.

Bab 3

Hanya satu kata dari Luther sudah membuat Helen terperangah di tempatnya. Dia sungguh tidak menyangka bahwa Luther yang biasanya terlihat lembut akan begitu menyeramkan saat murka. Sorot matanya itu seolah-olah menyiratkan akan melahap Helen hidup-hidup.

"Tolong, ada pembunuh! Ada yang mau membunuh putraku!" teriak Helen dengan lantang setelah tersadar kembali.

Dalam sekejap, sekelompok satpam dari Grup Pesona berbondong-bondong menghampiri tempat kejadian.

"Nyonya Helen, apa yang terjadi?" tanya salah satu satpam yang jelas mengenal Helen. Dia langsung menyatakan sikapnya begitu datang.

"Doni, cepat tangkap dia. Berani sekali dia memukul putraku! Aku mau dia menerima ganjarannya!" teriak Helen yang pura-pura memberanikan diri.

"Berengsek! Berani sekali kamu membuat keributan di pintu masuk Grup Pesona! Kamu sudah bosan hidup, ya!" seru satpam yang memimpin. Begitu dia melambaikan tangannya, sekelompok bawahan bergegas menghentikan Luther.

Bagaimanapun, ini adalah kesempatan untuk memenangkan hati ibunya presdir.

Asalkan kinerja mereka baik, mereka mungkin akan mendapatkan promosi dan naik gaji. Dengan demikian, mereka bisa menikahi wanita kaya yang cantik dan mencapai kesuksesan.

"Kenapa diam saja? Cepat hajar dia!" perintah kepala satpam itu.

Tepat ketika dia hendak turun tangan, tiba-tiba terdengar teriakan yang lantang. "Jangan coba-coba!"

Terlihat seorang wanita cantik bertubuh montok yang mengenakan gaun berwarna perak menghampiri. Dia membawa beberapa pengawal dan berjalan masuk dengan sombong.

Wanita ini memiliki bibir yang ranum dan wajah yang sangat enak dipandang. Setiap gerakannya tampak sangat menggoda dan memikat.

"Cantik sekali!" Para satpam itu mengamatinya. Jantung mereka seketika berdebar-debar. Wanita di hadapan mereka ini benar-benar memesona.

"Tuan Luther, kamu baik-baik saja?" Wanita itu sama sekali tidak memedulikan tatapan penuh hasrat di sekitarnya. Sebaliknya, dia langsung menghampiri Luther.

"Ya. Siapa kamu?" tanya Luther sambil memicingkan matanya. Kemarahan di dalam hatinya perlahan-lahan mereda.

"Halo, aku Bianca Caonata. Aku datang sesuai instruksi Pak Eril," jawab wanita itu seraya tersenyum.

Begitu ucapan ini dilontarkan, para satpam itu langsung heboh.

"Bianca Caonata? Apa dia Nona Keluarga Caonata yang terhormat itu?"

"Astaga, kenapa nona besar seperti dia datang kemari?"

Semuanya saling bertatapan dan merasa sangat terkejut.

Mereka tahu bahwa reputasi wanita bernama Bianca ini sangat besar. Selain memiliki latar belakang yang hebat, kaya raya, dan cantik, wanita ini juga sangat terampil.

Ketika berusia 22 tahun, Bianca sudah mengambil alih seluruh Grup Caonata. Hanya dalam 5 tahun, dia sudah membangun kerajaan bisnis yang besar dan menjadi Ratu Bisnis yang terkenal di Jiloam!

"Rupanya kamu," ujar Luther yang mengerti sambil mengangguk.

Dia tentu pernah mendengar nama Bianca. Hanya saja, dia tidak menduga bahwa wanita ini memiliki hubungan dengan Eril.

"Tuan Luther, istirahatlah di mobil. Aku akan mengurus para sampah ini untukmu," kata Bianca seraya membunyikan jemarinya.

Kemudian, 4 pengawal berjas mengeluarkan tongkat mereka dengan serempak dan mulai mendekati.

Meskipun hanya 4 orang, karisma mereka membuat para satpam itu ketakutan hingga mundur satu per satu. Mereka sama sekali tidak berani mendekat.

Patut diketahui bahwa pengawal Keluarga Caonata adalah petarung elite yang dipilih dengan cermat.

"Tuan Luther, silakan," ujar Bianca sambil tersenyum dan mempersilakan saat melihat tidak ada yang berani bergerak.

Luther tidak mengatakan apa pun. Setelah memungut pecahan liontin gioknya, dia baru mengikuti Bianca naik mobil dan pergi.

Tidak ada seorang pun yang berani menghentikan mereka.

"Hei, apa-apaan kalian? Kenapa kalian membiarkan mereka pergi begitu saja?" maki Helen setelah bereaksi kembali.

"Nyonya Helen, mereka berasal dari Keluarga Caonata. Kami tidak berani menyinggung mereka," kata kepala satpam itu dengan getir.

Status yang dimiliki Bianca sangatlah tinggi. Meskipun dibayar, mereka tetap tidak berani mengusik Bianca sembarangan.

"Dasar nggak berguna! Kalian nggak berani menyinggung Keluarga Caonata, jadi berani menyinggung putriku?" bentak Helen dengan kesal.

Para satpam itu pun saling bertatapan dan tidak berani berbicara lagi.

"Ada apa?" tanya Ariana dan sekretarisnya sambil berjalan keluar. Mereka turun karena mendengar keributan di bawah.

"Putriku, akhirnya kamu datang juga. Lihatlah, adikmu dipukul sampai terluka begini!" Helen mulai menangis dan mengadu saat melihat Ariana. Penampilannya yang begitu sedih terlihat seperti dia yang dihajar barusan.

"Siapa yang melakukannya?" tanya Ariana dengan dingin saat melihat Keenan yang babak belur.

"Siapa lagi kalau bukan Luther yang nggak tahu terima kasih itu! Kami kebetulan bertemu di pintu masuk. Melihat liontin gioknya jatuh, adikmu ingin memungutnya dan mengembalikan kepadanya. Tapi, dia malah memfitnah adikmu mencuri barangnya. Setelah berdebat, dia pun menghajar adikmu!" ujar Helen yang membumbui ceritanya.

Kemudian, dia menghela napas dan berkata, "Kasihan sekali Keenan. Dia hanya ingin membantu, tapi malah dihajar sampai wajahnya hancur. Luther itu memang kurang ajar!"

Selesai berkata, Helen kembali menangis tersedu-sedu.

"Luther? Dia sangat baik, kenapa tiba-tiba main tangan? Apa kalian mengganggunya?" tanya Ariana sambil mengernyit.

"Apa maksudmu? Kamu nggak percaya ibumu, tapi percaya pada pria yang nggak tahu terima kasih itu?" sahut Helen dengan geram.

"Aku hanya ingin memperjelas masalah ini," balas Ariana.

Ariana sangat memahami karakter Luther setelah menikah 3 tahun dengannya. Pria ini sangat murah hati dan tidak akan marah tanpa alasan. Jadi, Luther seharusnya tidak akan menggunakan kekerasan hanya karena masalah sepele.

"Adikmu sudah dihajar begini, apa masih kurang jelas? Kalau kamu nggak percaya, tanya saja para satpam ini. Mereka melihat semuanya dengan jelas," kata Helen yang menoleh untuk memberi isyarat mata.

"Bu Ariana, yang dikatakan Nyonya Helen benar. Bocah itu yang mengamuk dan main tangan. Kalau kami terlambat selangkah, mungkin ibu Anda akan terluka," jelas si kepala satpam yang memahami maksud Helen.

"Kamu sudah dengar, 'kan? Mana mungkin aku memfitnah pria yang nggak tahu terima kasih itu!" Kemudian, Helen melanjutkan, "Sudah berapa kali kubilang, Luther itu bukan pria baik. Dia bermuka dua! Kalian baru bercerai, tapi dia sudah menunjukkan sifat aslinya. Dia bukan hanya memukul adikmu, tapi mencari wanita lain di luar! Pria seperti ini benar-benar berengsek!"

Ariana mengerutkan dahinya saat mendengar perkataan ini. Jelas, dia mulai merasa kurang yakin.

'Apa mungkin ini kesalahan Luther? Luther mungkin kesal karena baru bercerai, jadi memukul Keenan untuk balas dendam? Kalau benar seperti itu, aku sudah salah menilainya selama ini!' batin Ariana.

Dikejar Lagi oleh Istri CEOku

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya