Bab 7
Melihat tatapan takut Nisha, aku tahu hari ini dia pasti tidak berani bunuh diri lagi dan hatiku langsung lega.
Namun siapa sangka, mulut perempuan ini tetap saja tidak mau mengalah. Dengan keras kepala, dia berkata, "Kalau begitu, aku tetap mau mati. Kamu pergi saja, aku akan lompat dari sini."
Mendengar itu, aku mengangkat alis dan tanpa ragu berkata, "Lompat dari gedung? Boleh saja. Lompat gedung bukan urusanku. Tapi lantainya nggak cukup tinggi. Kalau kamu jatuh tapi nggak mati, malah jadi cacat seumur hidup, gimana?"
"Aku sarankan kamu turun dulu beli plastik, lalu langsung ke atap. Pasang plastik di kepalamu, kencangkan, baru lompat. Dijamin benar-benar mati!"
"Kamu ...!" Nisha hampir pingsan karena marah padaku. Dia melotot, tubuhnya gemetar, tetapi tetap tidak bisa menahan diri untuk bertanya, "Kenapa harus pakai plastik di kepala?"
"Supaya kamu nggak menyusahkan petugas kebersihan. Jangan sampai kamu jatuh hancur berantakan dan orang lain masih harus membersihkan otakmu yang tercecer."
"Ray, kamu bukan manusia!" Membayangkan adegan itu, Nisha langsung menutup mata karena takut dan memakiku habis-habisan.
Melihat reaksinya, aku semakin yakin bahwa sebenarnya dia tidak berani mati. Akhirnya, aku benar-benar tenang.
"Sudahlah, kembalikan kartuku. Aku harus pergi. Kamu bereskan apa pun yang perlu kamu bereskan sebelum lompat gedung." Aku mengulurkan tangan ke arah Nisha.
Namun, dia menggeleng dengan keras dan memekik dengan kesal, "Nggak mau! Kenapa aku harus mati sesuai cara yang kamu suruh? Kamu tadi sudah melihat tubuhku, jadi jangan harap bisa kabur begitu saja!"
"Aku nggak punya waktu untuk dibuang-buang denganmu. Cepat mati saja. Aku masih harus pergi menyelamatkan orang."
Saat aku berbicara, mumpung dia lengah, aku langsung merebut kembali kartu identitasku, lalu berbalik tanpa ragu dan melangkah cepat ke luar.
Meskipun aku mau menyelamatkannya, jujur saja, aku benar-benar tidak punya kesan baik pada nona manja yang seenaknya seperti ini.
"Berhenti! Ray, aku nggak akan membiarkanmu pergi begitu saja!" Teriakan Nisha terdengar dari dalam kamar, tetapi aku tidak menggubrisnya. Aku membawa koperku dan pergi begitu saja.
Aku tidak tahu bahwa setelah aku pergi, Nisha membuka telapak tangannya dan di dalamnya tergeletak foto kecil sebesar dua inci dari kartuku.
Dia menatap fotoku. Di wajah cantiknya muncul senyuman tipis. Kemudian, dia bergumam, "Dilihat lebih teliti ... ternyata lumayan tampan juga ...."
"Regu Pemadam Kebakaran Distrik Dua, Ray, aku ingat kamu. Kamu nggak akan lolos!"
Sementara itu, aku sama sekali belum menyadari bahwa seseorang sudah mengincarku. Keluar dari hotel, aku langsung kembali ke markas. Ketika kapten melihatku datang lebih awal sambil membawa koper, dia langsung tampak terkejut.
"Ray, kenapa sampai bawa koper segala?"
Wajar kalau kapten heran. Saat petugas pemadam kebakaran masuk ke area kebakaran, itu namanya mempertaruhkan nyawa. Tidak ada yang membawa koper karena memang tidak perlu.
"Aku membereskan semua barangku di rumah. Aku takut istriku melihat barang-barang yang kutinggalkan dan sedih."
Aku hanya bisa memberi alasan itu, tidak ingin menjelaskan pernikahanku dengan Nindy yang sudah hancur.
"Kamu ini .... Ray, belum tentu kamu nggak selamat. Nggak perlu sampai seperti ini." Kapten menghela napas, lalu berkata, "Barusan ada pemberitahuan. Peralatan pemadam sudah diangkut lewat udara ke kaki gunung. Kita bisa langsung berangkat."
"Baik, aku sudah siap." Setelah berpisah dengan Nindy, aku memang sudah siap mati. Ekspresiku tidak berubah sedikit pun.
"Tapi Ray, situasinya berubah. Ada bantuan peralatan dan kebetulan turun hujan. Api sudah berhasil dikendalikan. Kali ini kita ke sana lebih untuk penanganan akhir. Sebenarnya kamu nggak perlu ikut."
Nada kapten terdengar tidak tega. Kalau bukan karena keadaan terpaksa, dia sebenarnya tidak mau aku ikut menangani kebakaran gunung, apalagi aku dan istriku belum punya anak.
"Kapten, aku tetap ikut. Tambah satu orang berarti tambah satu tenaga lagi." Mendengar kabar itu, aku sebenarnya lega. Setidaknya api sudah tertangani, berarti tidak akan ada korban lagi.
Namun, begitu mengingat kondisi menyedihkan antara aku dan Nindy, secercah cahaya di dalam hatiku padam lagi.
Sudahlah, pergi saja. Akhirnya, karena aku bersikeras, kapten mengizinkanku berangkat bersama tim.
Ketika kami tiba, api gunung sudah sepenuhnya terkendali. Yang tersisa hanya perhitungan kerusakan dan merawat para korban yang terluka.
Melihat pemandangan yang porak-poranda itu, aku langsung mengosongkan pikiran dan fokus pada pekerjaan.
Beberapa hari berturut-turut, aku makan, minum, tidur, buang air, semuanya di pinggir gunung.
Kondisinya sangat parah. Meskipun aku tidak turun langsung ke garis depan, aku melihat dengan mata kepala sendiri para petugas yang dibawa kembali dari sana.
Entah berapa banyak rekan-rekan yang gugur di kebakaran ini. Beberapa hari ini, jenazah para petugas terus dibawa turun dan semuanya sudah tidak berbentuk.
Sebagian besar dari mereka adalah petugas pemadam kebakaran dari desa-desa sekitar. Keluarga mereka sudah datang ke kaki gunung untuk mengenali jenazah. Ada istri yang datang sambil membawa anak, menangis sampai suara habis.
Ada juga orang tua yang sudah sangat tua, berjalan gemetaran ke depan, tetapi tidak sanggup menerima kenyataan dan langsung pingsan karena terlalu sedih.
Melihat semua itu, hatiku benar-benar tersayat. Beberapa hari ini, aku tidak menerima satu pun telepon dari Nindy. Bahkan pesan pun tidak.
Kalau bisa, aku benar-benar berharap yang berbaring sebagai korban itu adalah aku, supaya mereka bisa kembali pada keluarganya.
Toh bagiku, istriku sendiri tidak pernah menganggapku sebagai keluarga. Bagi Nindy, keberadaanku sama sekali tidak penting.
Sementara itu, Nindy baru saja mengakhiri sebuah rapat. Saat melangkah keluar dari ruang rapat, dadanya tiba-tiba terasa sesak tanpa alasan. Nindy memegang dadanya dengan bingung.
Asisten di sampingnya segera bertanya, "Bu Nindy nggak enak badan? Perlu aku batalkan jadwal rapat sore?"
"Nggak perlu. Aku baik-baik saja." Nindy menggeleng, lalu seakan-akan teringat sesuatu, dia membuka ponselnya. Tidak ada pesan dariku.
Dia mengerutkan alis, tidak tahu apa perasaannya saat itu. Kemudian, dia bertanya, "Beberapa hari ini Ray nggak bertingkah? Pihak hotel nggak menghubungiku?"
"Nggak ada, Bu." Asisten itu bingung. Nindy hampir tidak pernah menanyakan soalku sebelumnya.
"Baiklah. Kamu nggak perlu ikut. Aku mau pergi sebentar." Tanpa menunggu jawaban, Nindy langsung meninggalkan kantor.
Setengah jam kemudian, dia muncul di lobi hotel, menyerahkan kartu hitam. "Tolong cek catatan keluar masuk Ray beberapa hari ini."
"Bu Nindy, Pak Ray nggak menginap di sini. Setelah hari pertama datang, nggak lama kemudian beliau membawa kopernya dan pergi. Beliau nggak pernah kembali lagi."
"Apa?" Nindy mengerutkan alis. Wajahnya tidak senang. Dia langsung menekan nomor ponselku.
Biasanya, dia jarang sekali menghubungiku lebih dulu. Namun, baru kali ini dia mau mencoba dan yang dia dapat adalah suara sistem yang mengatakan "nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif".
Alis Nindy semakin berkerut. 'Ray, apa lagi yang sedang kamu mainkan?'
Bab 8
"Kamu bilang dia pernah datang sekali?"
"Benar, Bu."
"Berikan aku kartu cadangan. Aku mau naik dan lihat."
Tanpa banyak bicara, Nindy mengambil kartu kamar cadangan, lalu langsung menuju kamar.
Bip. Pintu kamar terbuka. Dia ingin melihat, kali ini Ray membuat ulah apa lagi?
Setelah masuk, Nindy meneliti seluruh kamar, tetapi menemukan bahwa peralatan mandi dan perlengkapan tidur sama sekali tak tersentuh.
Tidak ada sedikit pun jejak bahwa ada orang yang menginap di sini. Ini membuktikan bahwa Ray hanya sebentar di sini.
Kalau begitu, dia datang untuk apa? Hanya untuk mengambil barang?
Nindy tentu memperhatikan bahwa di kamar tidak ada barang-barang milik Ray. Namun, di atas meja, dia menemukan laptop kerjanya.
"Ternyata di sini."
"Ada sepucuk surat juga?"
Nindy melangkah mendekat, mengambil surat yang tergeletak di atas laptopnya. Di sampul surat hanya tertulis dua kata besar, yaitu surat perpisahan.
Pada detik itu juga, Nindy langsung menebak Ray sedang memikirkan apa.
"Ray, beberapa hari nggak menghubungiku, ponselmu mati, meninggalkan surat perpisahan lalu menghilang. Ini trik barumu? Membosankan."
Nindy mengerutkan alis dan tertawa dingin. Surat yang ditinggalkan Ray itu bahkan tidak dia baca dan langsung dibuang ke tempat sampah. Mau dihubungi atau tidak, terserah.
Dia tidak percaya Ray punya keberanian untuk benar-benar tidak kembali ke rumah. Kebetulan mumpung Ray tidak ada, biar Andrew menyesuaikan diri dengan kehidupan di rumah.
Soal Ray, apakah dia ada di hotel atau sengaja bersembunyi, dua-duanya sama saja bagi Nindy. Dia tidak peduli. Dia membuka laptop kerjanya dan mengerjakan beberapa dokumen baru.
Waktu berlalu beberapa jam. Hari mulai gelap. Pekerjaan Nindy akhirnya selesai. Dia meregangkan tubuh, lalu refleks mengambil ponsel. Di layar hanya ada pesan-pesan ambigu dari Chicco.
Sementara Ray ... tetap tidak ada kabar.
"Kamu serius main begini?" Nindy membuka kunci ponsel, tidak langsung membalas Chicco, malah menggulir layar hingga menemukan ruang obrolan dengan Ray.
Pesan terakhir Ray dikirim beberapa hari lalu.
[ Sayang, ada hotel yang tiba-tiba kebakaran. Aku berangkat dulu ke lokasi. ]
[ Malam ini kamu ingin makan apa? Tinggalkan pesan. Sepulang kerja, aku beli bahan dan masak buat kamu. ]
[ Jangan khawatir. ]
Hari hotel kebakaran itu, kebetulan Ray menemukan hubungannya dengan Chicco dan Andrew. Sejak saat itu, Ray tidak pernah lagi mengirim pesan perhatian.
Tentu saja, tiga pesan itu pun tidak dibalas oleh Nindy. Entah kenapa, saat Nindy melihat satu per satu pesan penuh perhatian Ray yang sudah biasa dia dapatkan dan sekarang tiba-tiba hilang, hatinya benar-benar terasa tidak nyaman.
"Terserah kamu saja deh." Menatap layar cukup lama, suasana hati Nindy mendadak kacau. Dia akhirnya menutup ponsel.
Kebetulan, matanya langsung tertuju pada surat perpisahan yang tadi dia buang. Beberapa jam lalu dia meremehkan trik Ray, tetapi sekarang hatinya mulai gelisah.
"Aku penasaran, kamu ini memang mau memaksaku atau cuma cari masalah?" Nindy mendengus dingin, mengambil surat itu dari tempat sampah dan membukanya.
Pada detik berikutnya, yang terlihat hanyalah beberapa kalimat sederhana. Namun, kalimat-kalimat itu membuat tubuh Nindy membeku di tempat dan tertegun.
[ Nindy, mau kamu setuju atau nggak, mau kamu sedang dalam masa pantangan atau nggak, kita resmi berakhir. ]
[ Aku merelakanmu dan cinta pertamamu, Chicco. ]
Sekejap, wajah Nindy berubah drastis. "Dia .... Bagaimana dia bisa tahu?"
Tak butuh waktu lama, Nindy langsung teringat laptop kerjanya. Di dalamnya ada akun WhatsApp-nya. Karena laptop itu biasanya hanya dipakainya sendiri, dia mengaktifkan login otomatis.
Artinya, obrolannya dengan Chicco ... semuanya ada di sana.
[ Andrew itu pasti anak kandung kalian berdua, 'kan? Aku nggak ngerti, kamu sudah menutupinya begitu keras, begitu lelah bersamaku, kenapa kamu masih menikah denganku? ]
[ Lima tahun membuatku sadar betapa konyolnya aku selama lima tahun ini. Terus terang, aku menangis sampai air mataku habis, tapi bukan untukmu, melainkan karena aku merasa diriku nggak pantas diperlakukan seperti ini! ]
[ Sebagai suamimu, aku membencimu sampai ke tulang. Tapi sebagai seorang petugas pemadam kebakaran, aku nggak menyesal telah menyelamatkan kalian bertiga di hotel itu. Sekarang, aku akan berangkat tugas lagi. ]
[ Anggap saja aku mati dalam tugas ini. Kita nggak akan pernah bertemu lagi. Surat ini adalah surat perpisahan. ]
Selesai membaca, tatapan Nindy kosong. Surat itu terlepas dari genggamannya. Hatinya mendadak hampa.
Tidak diragukan lagi, Ray sudah melihat seluruh percakapan antara Nindy dan Chicco di laptop. Kebetulan di hari itu, dia mengikuti Chicco menghadiri rapat orang tua murid Andrew.
Ray tahu semuanya. Sikapnya menjadi setegas isi surat itu. Setiap kata bagai palu yang menghantam hati Nindy.
Untuk sesaat, Nindy tidak bisa bernapas. Setelah waktu yang lama, dia baru tersadar. Dia buru-buru menyalakan ponsel dan menelepon Ray.
"Bukan seperti yang kamu pikirkan. Memang aku pernah punya hubungan dengan Chicco, tapi itu bukan berarti aku selingkuh setelah menikah ...."
"Atas dasar apa? Atas dasar apa pernikahan lima tahun kita kamu akhiri sepihak? Kamu pernah menghargaiku nggak?"
Nindy bergumam, refleks membela diri. Saat ini, dia bahkan merasa seperti seseorang yang ketahuan berselingkuh.
Padahal dia memang tidak melakukan pengkhianatan setelah menikah. Ray malah mendadak pergi tanpa berpamitan. Apa-apaan ini?
Biasanya Ray selalu memberi laporan, selalu berdiskusi dengannya. Kali ini justru sebaliknya. Bahkan setelah tahu alasannya, Nindy tetap sulit menerimanya.
Terlebih lagi, Ray sedang memadamkan kebakaran.
Entah kenapa, telepon yang tak pernah tersambung itu membuat hatinya semakin gelisah. "Bahkan kalau dia pergi buat memadamkan api, masa ponselnya masih mati setelah beberapa hari? Jangan-jangan benar-benar terjadi sesuatu?"
Nindy duduk di tepi ranjang, menelepon Ray berkali-kali. Hasilnya sama, ponselnya tidak aktif.
Muncul kekhawatiran di mata Nindy. Dia memutuskan menelepon asistennya. Walaupun itu sudah tengah malam, telepon langsung diangkat.
"Halo, Bu Nindy, ada perlu apa?"
"Segera selidiki untukku, dalam beberapa hari ini ada kebakaran terjadi di kota atau nggak. Kalau ada, lanjutkan dan cari tahu seberapa parah. Lalu unit pemadam yang turun itu dari departemen mana. Apakah dari tim kedua, tempat Ray bertugas?"
Nindy memberi instruksi. Jantungnya berdegup kencang. Sebelum menutup telepon, dia menambahkan, "Cepat, begitu ada hasil langsung laporkan padaku."
"Baik, Bu!" Telepon ditutup. Asisten itu memasang wajah bingung, tak tahu mengapa Nindy mendadak menyuruhnya menyelidiki hal itu.
Walaupun sang asisten tahu suami Nindy adalah petugas pemadam kebakaran, Nindy tidak pernah peduli urusan tentang kebakaran atau pemadaman.
"Bu Nindy hari ini ... sepertinya berbeda terhadap Pak Ray?" Sambil bergumam, sang asisten mulai mencari informasi.
Bab 9
Setengah jam kemudian, Nindy menerima pesan dari asistennya.
[ Bu Nindy, sudah aku selidiki. Beberapa hari ini nggak ada kebakaran di dalam kota, tapi di wilayah pegunungan barat sempat terjadi kebakaran hutan. ]
[ Kondisinya sangat parah. Kabarnya tim pemadam dari kecamatan sekitar hampir habis-habisan. Tim Dua tempat Pak Ray bertugas juga ikut ke sana beberapa hari lalu. ]
Melihat ini, ekspresi Nindy langsung berubah drastis. Tubuhnya bangkit dari tepi ranjang tanpa kendali, bahkan sampai sedikit gemetar.
[ Terus, sekarang sudah terkendali? Ada korban dari tim Ray nggak? ]
Dengan tangan bergetar, Nindy mengetik kalimat itu dan menekan kirim. Saat ini, dia tidak bisa menjelaskan secara detail apa yang dia rasakan. Namun, rasa sesak di dadanya cukup kuat.
[ Untuk kondisi pasti di tempat kejadian belum jelas. Tapi beberapa hari ini, api sudah berhasil dikendalikan. ]
[ Bu Nindy, Pak Ray itu orang yang beruntung. Beliau pasti baik-baik saja. ]
Melihat balasan itu, Nindy memejamkan mata dengan pasrah. Hanya dia yang tahu, Ray sudah menghilang sejak beberapa hari lalu dan ponselnya sampai sekarang selalu tidak aktif.
Yang lebih membuatnya takut adalah kalimat terakhir dalam surat Ray. Dalam keadaan mental seperti itu ... jangan-jangan dia benar-benar nekat menghadapi kebakaran hutan tanpa peduli nyawanya?
[ Baiklah. ]
[ Cari lokasi tepatnya kebakaran hutan itu. Aku akan ke sana sekarang. ]
Saat membuka mata lagi, Nindy sudah membuat keputusan. Dia memberikan instruksi dengan tegas. Apa pun masalah antara dia dan Ray, itu urusan rumah tangga. Ray tetap suaminya yang sah. Dia harus melihat orangnya, mau itu hidup atau mati!
[ Baik, Bu. ]
[ Tapi, Pak Chicco sudah memesan restoran malam ini. Beliau bilang Ibu mungkin sibuk karena nggak membalas pesannya, jadi beliau meminta aku menyampaikan. Bagaimana? ]
Mendengar ini, Nindy mengernyit. Tak sampai beberapa detik, dia sudah mengambil keputusan.
[ Suruh dia batalkan. Malam ini aku ada urusan. Kita jadwalkan ulang lain hari. ]
[ Baik, Bu. ]
Setelah menutup percakapan, Nindy tidak bisa lagi duduk diam. Rasa gelisah menguasainya. Dia langsung mengambil kunci, keluar kamar, dan mengendarai mobil menuju arah pegunungan barat.
Lima menit kemudian, asisten mengirim lokasi lengkap dan mengingatkan agar berhati-hati. Nindy tidak membalas. Dia hanya menyalakan navigasi dan menambah kecepatan.
"Ray, kamu nggak boleh kenapa-napa! Meskipun akhirnya bercerai, aku nggak bisa biarkan semuanya menjadi nggak jelas seperti ini!"
Mobil melaju dengan sangat kencang. Perjalanan yang seharusnya satu jam, hanya ditempuh dalam 40 menit.
Semakin dekat dengan lokasi kebakaran, perasaan Nindy semakin buruk. Dari kejauhan saja dia sudah mencium bau hangus yang menusuk.
Semakin dekat, semakin jelas terlihat jejak-jejak tanah dan pepohonan yang hangus. Nindy menatap pemandangan itu, hingga seolah-olah bisa membayangkan kemungkinan terburuk tentang Ray.
Dadanya semakin sesak. Dengan satu injakan penuh, dia sampai di lokasi. Bukan pusat kebakaran, tetapi jalan tidak bisa lagi dilalui ke depan.
Nindy buru-buru turun dari mobil. Dia melihat beberapa mobil pemadam. Tidak jauh dari sana, ada tenda-tenda pos pemadam. Di dalamnya tampak bayangan para petugas pemadam kebakaran yang berlalu-lalang.
"Di sana!" Mata Nindy langsung berbinar. Dia cepat-cepat berjalan ke arah tenda.
Namun, baru beberapa langkah, dia mendengar suara tangisan banyak orang dari dalam tenda. Seketika, jantung Nindy seakan-akan berhenti berdetak. Langkahnya semakin cepat tanpa sadar.
"Ray, aku datang! Tolong jangan kenapa-napa!"
Setelah maju beberapa langkah lagi, Nindy melihat pemandangan yang membuatnya hampir tidak bisa berdiri. Di dalam area tenda itu, selain para petugas pemadam kebakaran, ada begitu banyak warga sekitar.
Mereka berkelompok, masing-masing mengelilingi tubuh-tubuh yang ditutupi kain putih, menangis pilu.
Nindy bahkan bisa melihat sebagian lengan yang masih mengenakan seragam pemadam di balik kain. Dia menyaksikan pemandangan yang menyayat hati itu sampai tidak bisa berkata-kata. Tubuhnya bahkan hampir terjatuh.
Nindy tidak bisa membayangkan ... bagaimana kalau salah satu yang terbaring itu adalah Ray? Dalam kelinglungan itu, rasanya ada begitu banyak kata yang tersumbat di dalam hatinya, tetapi tidak bisa diungkapkan.
"Ray ... kamu ada di sini nggak?" Mata Nindy langsung memerah. Dia bahkan tidak peduli dianggap tidak sopan. Dia mendekat dan membuka kain putih satu per satu untuk mengonfirmasi identitas.
"Yang ini bukan."
"Yang ini juga bukan ...."
Baru satu menit, Nindy sudah memastikan beberapa korban. Semua bukan Ray. Namun, dia sama sekali tidak berani menghela napas lega karena jumlah tubuh di sana terlalu banyak.
Yang Nindy tidak tahu adalah di sudut tenda, seorang pria berjaket pemadam baru kembali dan menggendong korban luka.
Begitu melihat sosok Nindy, pria itu tertegun. Nindy? Kenapa dia ada di sini?
Aku mengucek mataku, memastikan bahwa wanita yang berdiri tak jauh itu benar-benar Nindy. Istri sahku, atau lebih tepatnya mantan istriku.
"Dia ... datang mencariku?" Aku berdiri diam, menatap Nindy membuka satu per satu kain dengan wajah panik. Rasanya tidak bisa dipercaya. Belum pernah aku melihat Nindy sekhawatir itu terhadap diriku.
Sesaat, rasanya seperti dulu, di mana Nindy masih belum bersikap dingin, masih peduli padaku, dan masih mencintaiku. Apa mungkin dia masih mencintaiku?
Aku ingin melangkah menghampirinya. Namun, baru mengambil selangkah, kakiku berhenti. Sebab pada saat itu, bayangan Nindy di hari itu muncul jelas, saat dia mengaku sebagai pasangan Chicco di depan umum dan keduanya berciuman mesra.
Rasa sakit itu langsung menghentikan langkahku. Tidak mungkin. Nindy mana mungkin masih mencintaiku?
Paling dia datang karena membaca surat perpisahanku, tidak terima aku memutuskan sepihak, dan datang untuk mencari masalah.
Mengingat surat itu, hatiku langsung kembali tenang. Melihat Nindy yang panik, aku tidak lagi memiliki rasa apa pun. Terserah dia saja.
Keputusan sudah kutetapkan. Tidak akan ada jalan kembali. Mau dia cinta, benci, marah, ataupun dendam, itu semua sudah tidak ada hubungannya denganku.
Suami Nindy yang dulu selalu mengalah dan mencintainya setulus hati, sudah mati di kebakaran hutan ini. Yang hidup sekarang adalah Ray yang baru. Dalam hidup baru Ray, tidak ada Nindy.
Setelah membulatkan tekadku, aku diam-diam menjauh, mengambil posisi di tempat yang tidak terlihat olehnya, dan melanjutkan pekerjaan penanganan korban.
Sementara dia ... aku tidak khawatir timku mengenalinya. Bagaimanapun, Nindy yang selalu menjaga jarak dari dunia pribadiku tidak pernah sekali pun tampil sebagai istriku dalam acara tim. Tidak ada yang tahu bahwa kami menikah.
Setelah itu, aku melihat Nindy dimarahi keluarga korban karena membuka kain jenazah sembarangan. Dia pun pergi dengan linglung seperti tanpa jiwa.
Hingga sosoknya benar-benar hilang, aku tidak menoleh lagi. Yang aku tidak tahu adalah di dalam mobil, Nindy hampir sepenuhnya hancur.