Bab 1

Istriku adalah orang yang mendalami ajaran agama. Hal yang paling tabu baginya adalah menuruti nafsu.

Urusan suami istri hanya boleh dilakukan setiap tanggal 16 setiap bulan, bahkan semua hal harus dia kendalikan dengan ketat.

Begitu aku melampaui batas, dia akan tanpa ragu menghentikan semuanya dan pergi.

Sudah lima tahun kami menikah. Meskipun aku punya banyak ketidakpuasan, karena mencintainya, aku terus mengalah. Aku sempat mengira bahwa meskipun dia adalah seorang "dewi" yang tidak berperasaan, setidaknya dia mencintaiku.

Sampai suatu hari, saat aku mengikuti tim ke sebuah hotel yang terbakar untuk melakukan misi penyelamatan, barulah aku sadar betapa salahnya aku selama ini.

Saat menemukannya, istriku sedang bersandar di pelukan pria lain. Di antara mereka, bahkan ada seorang anak kecil.

Istriku mendalami ajaran agama. Hal paling pantang baginya adalah menuruti nafsu.

Urusan suami istri hanya boleh dilakukan setiap tanggal 16 setiap bulan. Waktu berhubungan, baik itu posisi, ritme, bahkan ekspresiku, semuanya harus dia kendalikan dengan ketat. Begitu aku sedikit terlena, dia akan tanpa ragu menghentikan dan pergi dengan dingin.

Lima tahun menikah, meskipun aku tidak puas, aku tetap menuruti semuanya karena mencintainya. Aku selalu mengira bahwa meskipun dia adalah seorang dewi tanpa emosi, setidaknya dia juga mencintaiku.

Sampai pada hari aku ikut tim untuk melakukan penyelamatan di sebuah hotel yang terbakar, barulah aku sadar betapa salahnya aku.

Saat menemukannya, istriku sedang bersandar di pelukan pria lain dengan pakaian yang berantakan. Di antara mereka, ada seorang anak kecil.

Belum pernah aku melihat ekspresi Nindy begitu lembut. Walaupun dia juga ketakutan sampai merinding, dia tetap bersandar erat di pelukan pria itu, menenangkan anak itu dengan suara pelan.

Saat itu, aku terpaku di tempat, tidak tahu harus berbuat apa. Jelas suhu di sekitar sangat panas, tetapi seluruh tubuhku justru gemetar kedinginan. Hatiku seperti ditikam dengan kejam oleh seseorang.

"Ray, jangan bengong! Serahkan keluarga ini kepadaku, kamu cepat ke kamar berikutnya!" Teriakan kapten menyadarkanku. Kemudian, aku melihat kapten langsung berlari masuk.

Nindy Karya menatapku, Ray Ghafari, suami sahnya, dengan ekspresi tak percaya. Meskipun terhalang masker pelindung, aku tahu dia mengenaliku.

Tatapan kami bertemu, hatiku seperti disobek. Kalau mereka bertiga adalah keluarga, lalu aku ini apa?

Kondisi sedang darurat, jadi aku tidak sempat memikirkannya lebih jauh. Aku buru-buru pergi menyelamatkan orang lain yang terjebak di kamar berikutnya. Api baru padam setelah tiga jam penuh. Untungnya, tak ada korban jiwa.

Namun, saat aku keluar dari lokasi dengan hati campur aduk, Nindy, pria itu, dan anak itu semua sudah menghilang. Dia bahkan malas memberikan penjelasan padaku.

Aku tertawa pahit. Seketika, aku merasa bahwa pernikahan lima tahun ini hanyalah lelucon besar.

Saat pulang, Nindy yang biasanya selalu lembur sampai larut malam ternyata ada di rumah, seolah-olah sedang menungguku. Aku mengira dia akan menjelaskannya. Jika dia bisa menjelaskan kenapa dia ada di hotel itu, kenapa dia bersama pria lain, mungkin aku akan memaafkannya.

Rasa sakit yang menusuk hati, mungkin benar-benar tak berarti jika dibanding lima tahun perasaan kami.

Namun, dia malah membuka laptop dan memulai rapat video. Setelah lebih dari satu jam berlalu, dia bahkan tak melirikku sekali pun, seakan-akan di antara kami tidak pernah terjadi apa-apa.

Baru setelah rapat selesai, dia menatapku dengan dingin dan melemparkan sebuah dokumen.

"Surat adopsi?" Dua huruf besar itu menusuk sarafku.

"Ya, itu anak yang kamu lihat di hotel tadi. Mulai sekarang, kita mengadopsinya."

"Kenapa? Apa hubunganmu dengan anak itu dan apa hubunganmu dengan pria itu?"

"Namanya Chicco Kadir, ayahnya Andrew. Kami rekan kerja. Selebihnya bukan urusanmu, jangan tanya."

Ini dianggap penjelasan? Aku sangat kecewa, hanya bisa tersenyum miris. Ini lebih seperti pemberitahuan sepihak. Nada bicaranya bahkan sama sekali tidak memberiku hak untuk menolak.

"Kalau hubungan kerja, kenapa kalian ada di hotel? Kenapa waktu aku melihatmu, pakaianmu berantakan? Nindy, jawab aku! Anak itu punya hubungan darah denganmu atau nggak?"

Aku melontarkan pertanyaan itu dengan nada yang hampir histeris, tetapi Nindy hanya menatapku dalam diam, keningnya sedikit berkerut. "Kamu berpikir terlalu jauh. Orang yang mempelajari agama pantang melanggar. Aku nggak akan mengkhianati pernikahan kita."

Tidak akan mengkhianati? Tawaku terdengar makin memilukan. "Saking pantangnya kamu untuk melakukan kontak fisik sampai aku cuma boleh menyentuhmu sebulan sekali. Tapi kenapa kamu bisa begitu mudah bersandar di pelukan pria itu?"

Selama 1.800 hari lebih aku tidak pernah meragukannya, bahkan sepenuhnya mendukung keyakinannya. Sekarang, aku mulai merasa bahwa agama hanya alasan baginya.

Kerutan di kening Nindy semakin dalam. Suaranya mendingin. "Orang bersih tak butuh pembelaan. Terserah kamu mau berpikir apa."

"Kalau kamu merasa aku selingkuh dengan pria lain, mulai tanggal 16 setiap bulan, kamu nggak perlu datang lagi ke kamarku. Toh anak juga sudah ada."

"Kalau bukan untuk meneruskan keturunan, aku nggak akan mau melakukan hal yang membosankan itu denganmu."

Ucapannya seperti pisau yang mengiris jantungku. Aku sampai nyaris tidak bisa bernapas saking sakitnya. Ternyata kebersamaan kami sebulan sekali itu begitu menyiksa baginya?

Dewi tanpa emosi, bersih dari keinginan duniawi, tidak pernah mau melanggar aturan demi diriku yang hanya manusia biasa ini …. Pengecualian itu tidak pernah ada untukku.

"Sudah, istirahatlah."

Saat Nindy menutup laptop dan hendak pergi, aku menahan rasa sakit di dada dan memanggilnya. "Aku bisa terima soal adopsi Andrew. Tapi jangan sampai aku melihatmu berhubungan dengan orang yang tak berkepentingan. Setidaknya hormatilah suamimu ini sedikit!"

Langkah Nindy terhenti. "Anak itu belum bisa jauh dari ayah kandungnya. Kamu sendiri yang berpikiran kotor, malah menyalahkanku nggak menghargaimu."

Dia pergi begitu saja.

Malam itu, rasa sakit di dadaku terasa begitu menyiksa sampai aku tidak bisa tidur. Aku berguling-guling di tempat tidur, bahkan merasa berhalusinasi, seperti mendengar suara tawa Nindy dan Chicco dari kamarnya.

Pagi berikutnya, Andrew sudah diantarkan ke rumah. Barang-barang kecilnya memenuhi ruang tamu. Nindy dengan riang membantu membereskannya.

Aku melihat semua itu dengan perasaan campur aduk. Ternyata seorang "dewi" juga bisa tersenyum. Tidak seperti ekpresi datar yang dia tunjukkan saat kami menikah dan pindah ke rumah baru. Katanya orang yang belajar agama tidak boleh terlalu berlebihan dalam emosi, jadi dia selalu memasang wajah kaku. Sekarang aku baru mengerti, hanya aku yang tidak pantas.

Selesai beres-beres, Nindy menggandeng Andrew ke kamar untuk mandi. Entah kenapa, dari kamarnya terdengar suara tangisan anak itu dan suara gemericik shower berhenti.

Aku mulai khawatir. Nindy tidak pernah menjadi ibu, bahkan belum pernah mengurus anak. Andrew masih kecil. Kalau terjadi apa-apa saat mandi, itu akan merepotkan.

Lima tahun menikah, aku sudah terbiasa mengkhawatirkannya. Meskipun kami baru saja bertengkar hebat, aku tidak punya alasan untuk memarahi anak kecil. Sekarang Andrew sudah tinggal di sini, jadi aku tidak mungkin membiarkannya begitu saja.

Aku mendorong pintu dan masuk. Yang pertama kulihat adalah jaket pria tergantung di dekat pintu. Aku terpaku.

Pintu kamar mandi setengah terbuka, jadi aku bisa melihat apa yang terjadi di dalam. Andrew menggosok gigi sampai berdarah, lalu menangis ketakutan.

Nindy baru selesai mandi, hanya memakai handuk. Dia menenangkan anak itu dengan suara lembut. Di belakangnya, Chicco sedang membantu mengeringkan rambut Nindy. Sambil tersenyum, dia mengatakan Andrew penakut.

Betapa harmonis keluarga yang beranggotakan tiga orang itu. Padahal ini rumahku dan Nindy adalah istriku. Namun, saat ini aku justru terlihat seperti orang luar.

Wajahku seketika pucat, hatiku seperti disobek-sobek. Pemandangan itu bagaikan petir yang menghantam diriku. Kakiku lemas. Aku mundur beberapa langkah sampai menabrak dinding.

Suara itu membuat Chicco menoleh. Dia pun terlihat panik. "Pak Ray, jangan salah paham. Semalam aku mengantar Andrew. Dia masih kecil, nggak membiarkanku pergi, jadi aku menginap semalam. Aku hanya menemani anak, nggak ada hal lain ...."

Ucapannya membuat dadaku sakit tak tertahankan, lalu menyadarkanku pada sesuatu. Ternyata dia sudah datang sejak semalam. Suara yang kudengar saat setengah tertidur itu bukan halusinasi.

Chicco menghabiskan malam di kamar Nindy. Itu adalah sesuatu yang bahkan aku, suaminya, tidak pernah dapatkan.

Bab 2

Setelah menikah, Nindy selalu beralasan bahwa mendalami agama membutuhkan ketenangan. Oleh karena itu, dia tidak pernah mengizinkanku tidur di kamarnya. Bahkan pada tanggal 16 setiap bulan, setelah urusan suami istri selesai, aku hanya boleh membantunya merapikan seprai. Setelah itu, aku pergi sendirian.

Sekarang, aku tiba-tiba tersadar bahwa semua aturan ketat yang Nindy buat hanyalah alasannya untuk menjaga jarak dariku. Saat ini, rasa sakit yang begitu dahsyat membuatku sampai tidak bisa bersuara. Tangan dan kakiku mulai mati rasa, seluruh tubuhku seperti kehilangan daya untuk bergerak, dan jantungku …. Aku merasa seperti ada ribuan jarum yang menusuk jantungku di saat yang sama.

Namun, Nindy tetap tidak berniat menjelaskan apa pun. Dia justru memasang ekspresi dingin. "Siapa yang menyuruhmu masuk tanpa mengetuk? Kamu masih tahu aturan nggak? Keluar!"

Aku menunjuk diriku sendiri, lalu menatap Chicco dan tiba-tiba merasa semuanya sangat menyedihkan. Istriku bisa membiarkan pria asing tidur di kamarnya, bahkan hanya memakai handuk dan membiarkan pria itu mengeringkan rambutnya ....

Sedekat itukah hubungan mereka? Padahal aku adalah suami sahnya, tetapi dia malah berekpektasi agar aku harus mengetuk pintu kamarnya dulu sebelum masuk?

Nindy, kamu bukan hanya tidak menganggapku sebagai suamimu. Kamu bahkan tidak menganggap pernikahan ini ada. Aku benar-benar kecewa padamu.

"Nindy, kita cerai saja."

Lima tahun menikah, apa pun permintaan dingin dan tak masuk akalnya, aku selalu mengiakan. Bertahun-tahun ini, aku terbiasa memperlakukannya dengan lembut. Ini pertama kalinya aku bersikap dingin kepadanya.

"Cerai? Hanya karena ini?" Nindy tertegun, wajahnya penuh keterkejutan. Dia refleks menggeleng dan menolak, "Nggak, aku nggak mau cerai."

Ketegasannya membuatku terkejut. Kupikir hubungannya dengan Chicco sudah jelas dan dia hanya menungguku untuk mundur. Namun, dia menolaknya begitu cepat. Apa dia masih ingin mempertahankan rumah tangga kami?

Lima tahun aku sungguh-sungguh mencintainya sehingga aku secara naluriah mencari alasan untuk membelanya. Namun, kalimat Nindy berikutnya langsung melemparkanku ke dasar neraka!

"Aku lagi dalam masa disiplin. Bercerai sekarang adalah pelanggaran. Kamu mau cerai? Tunggu sampai masa disiplinku selesai."

Wajah Nindy sedingin es, nadanya tak memberi ruang untuk menyanggah. Ternyata selama ini aku hanya menghibur diri. Aku tertawa pahit, bahkan merasa mual oleh rasa perih di hati.

Aku baru sadar, ternyata selama ini dia bukan hanya tidak mengganggapku sebagai suaminya, bahkan baginya aku bukan manusia yang layak untuk dipertimbangkan. Lima tahun pernikahan, aku bahkan tak punya hak untuk mengajukan perceraian. Aku selalu berada di bawah aturan-aturannya.

"Nindy, maaf. Kamu jangan sampai cerai dengan Pak Ray gara-gara aku dan anakku. Aku nggak ingin merusak pernikahan kalian. Kalau memang begini jadinya, sebaiknya aku pergi. Andrew, pakai bajumu. Ini bukan rumah kita."

Chicco menghela napas dengan sedih, menggendong Andrew, dan bersiap pergi. Aku menutup mata, tak ingin melihat sandiwara penuh belas kasihan itu.

Apa yang Chicco katakan memang benar. Ini memang bukan rumah mereka, tetapi rumah yang sudah lima tahun kutata dan kuatur dengan hati-hati. Berani-beraninya mereka mengambil tempatku?

Namun tak kusangka, Nindy justru menghentikan mereka. "Barang-barang Andrew sudah dibereskan. Mana mungkin aku biarkan kalian pindah? Tinggallah. Ini urusan antara aku dan dia, nggak ada hubungannya dengan kalian."

Nindy menatapku, tatapannya setajam pisau. "Yang harus pergi itu bukan dia, tapi kamu. Andrew masih kecil. Kamu laki-laki dewasa nggak bisa sedikit berlapang dada? Apa kamu harus memaksa mereka ke jalan buntu?"

Setiap kata menusukku seperti bilah yang melukai sampai ke usus. Ternyata aku yang memaksa mereka ke jalan buntu? Apa aku harus sebaik itu, sampai ikut bertepuk tangan melihat mereka bermesraan?

Aku ingin bertanya, tetapi saat aku melihat wajah dingin Nindy, semua terasa tak ada artinya lagi. Pergilah. Sampai tahap ini, daripada terus menjadi lelucon, lebih baik semuanya diakhiri.

Aku pergi tanpa suara. Aku kembali ke kamarku, membereskan pakaian dan barang-barang, bersiap pindah dari rumah ini. Ironisnya, lima tahun menikah aku tak pernah membeli apa pun untuk diriku sendiri. Semua pikiranku hanya tertuju pada Nindy dan rumah ini.

Pada akhirnya, barang-barang yang benar-benar milikku hanya cukup memenuhi satu koper kecil, yang bisa dibereskan kurang dari satu jam.

Tak ada lagi jejakku di kamar ini. Lima tahun pernikahan kami pun resmi berakhir.

Sebelum pergi, kutinggalkan sepucuk surat perpisahan. Tak ada banyak kata, hanya memberi tahu bahwa hari Senin depan kami akan bertemu di pengadilan negeri.

Namun, saat membuka pintu, aku melihat Nindy berdiri di luar. Melihatku menenteng koper, keningnya langsung berkerut.

"Kamu mau ke mana?"

"Memberi kalian ruang. Hubungan kita sudah selesai."

Aku mencoba melewatinya, tetapi dia menghalangi dan mendorongku kembali.

"Ray, Andrew masih di rumah. Kamu mau membuat semuanya jadi memalukan di depan seorang anak kecil? Aku menyuruhmu pergi ke kamarmu, bukan pergi dari rumah ini."

Kamarku sudah rapi. Nindy langsung melihat surat itu. Setelah membaca isinya, dia tanpa ragu merobek surat itu dan menatapku dengan marah.

"Ray, aku bilang sekali lagi, aku nggak setuju cerai. Kalau kamu masih berani punya pikiran begitu, kamu tahu akibatnya!"

"Akibat apa?" Dengan hati yang hancur, aku balik menantang. "Melanggar aturanmu? Tapi saat kamu berbaring di pelukan Chicco, hanya memakai handuk dan membiarkan dia mengeringkan rambutmu, saat kamu berlaku seperti ibu Andrew, apa kamu ingat aturanmu? Kamu ingat agamamu?"

Belum selesai aku berbicara, wajah Nindy menggelap dan dia menamparku dengan keras. "Diam! Berani sekali kamu menghina agamaku!"

Aku terpaku. Tak pernah kusangka Nindy akan menamparku. Lima tahun menikah, meskipun sikapnya dingin, kami setidaknya saling menghormati. Tak pernah separah ini. Kini, tamparan itu menghancurkan sisa perasaanku padanya.

"Nindy, anggap saja aku nggak sanggup mengikuti aturanmu lagi. Lebih baik kita pisah baik-baik. Kita pernah hidup bersama, jadi nggak perlu membuat hubungan sekacau ini."

Ketegasanku seperti menyadarkannya sejenak. Wajah dinginnya sedikit melunak. "Aku memang salah karena menamparmu. Aku bisa minta maaf. Tapi kamu tahu itu hal yang paling aku jaga dan justru kamu menyerangku dari sana."

Mendengar dia memutarbalikkan kesalahan, aku hanya mencibir. "Terserah kamu mau pikir apa."

Kata-kata itu kukembalikan padanya bulat-bulat.

Nindy terdiam sejenak, lalu tampak marah lagi. "Ray, kenapa kita nggak bisa saling percaya sedikit? Orang yang mendalami agama nggak berbohong. Kalau aku bilang aku nggak akan mengkhianati pernikahan ini, berarti memang nggak akan. Kenapa kamu harus melawan?"

Aku berkata tanpa ekspresi, "Aku hanya ingin menghentikan kerugianku."

Nindy tampak frustrasi, lalu merebut koperku. "Kamu mau ke mana terserah. Tapi aku nggak setuju cerai."

Setelah mengatakan itu, dia pergi.

Barulah aku sadar tubuhku pun gemetar disertai rasa sakit yang menghantam. Jantungku seperti diremas oleh tangan tak kasatmata, membuatku sulit bernapas.

Apa Nindy berpikir hanya karena dia mengambil koperku, aku tidak bisa pergi? Dia salah. Itu hanya pakaian dan barang-barang harian. Aku bisa membelinya lagi. Yang aku tidak tahan adalah tinggal di sini.

Jadi, aku tetap pergi. Begitu keluar, aku menerima telepon dari tim.

Bab 3

"Halo, Kapten."

"Ray, ada kabar buruk. Semalam terjadi kebakaran hutan di pegunungan wilayah barat. Tiga regu sudah memadamkan mati-matian, tapi api masih sulit dikendalikan. Giliran kita sebentar lagi."

"Nggak masalah, aku selalu siap!"

Seketika, sarafku menegang, tak sempat lagi merasakan sakit di hati. Aku bersiap naik taksi menuju markas untuk siaga.

Kebakaran hutan yang lepas kendali adalah sesuatu yang sangat mengerikan. Begitu merambat, entah berapa banyak keluarga tak bersalah yang akan terkena dampaknya. Dibandingkan bencana ini, urusanku dengan Nindy sama sekali bukan apa-apa.

"Kamu nggak perlu buru-buru ke sini. Situasi kali ini kamu pasti paham. Aku kasih kamu satu hari untuk benar-benar pamit pada keluargamu. Terutama istrimu. Kalau nggak salah, kamu sudah menikah, 'kan?"

Langkahku terhenti, perasaanku campur aduk. Semua orang di regu sebenarnya tahu aku sudah menikah, tetapi Nindy tidak pernah datang ke markas, bahkan entah berapa kali dia menolak undangan acara keluarga regu dengan alasan sibuk bekerja.

Jadi, kapten dan rekan-rekanku hampir melupakan keberadaannya.

"Baik, Kapten." Setelah menutup telepon, aku menghela napas panjang.

Lima tahun menikah, aku sangat paham temperamen Nindy. Seorang wanita yang sepenuh hati mendalami ajaran agama, tidak pernah peduli pada urusan-urusanku.

Setiap kali aku mendapat tugas, meskipun dia tahu, paling-paling hanya menanyakan dua kalimat sekadar formalitas.

Selama ini, aku sudah terbiasa dengan sikapnya yang dingin. Perlahan, aku pun berhenti mengganggunya. Namun kali ini, keadaannya berbeda ....

Meskipun harus menghadapi wajah dingin Nindy, aku tetap berbalik menuju rumah. Lima menit perjalanan berlalu dengan cepat. Saat melihatnya lagi, wajahnya tidak sedingin yang kubayangkan.

Nindy sedang bersiap keluar dengan mobil, tampak anggun dan sangat memikat. Aku belum pernah melihatnya berdandan secantik itu.

"Ada hal penting yang mau kubicarakan." Aku berjalan ke sisi mobilnya, tetapi dia bahkan tidak menoleh.

Suaranya datar saat menyahut, "Kita bicara setelah aku pulang nanti. Aku ada urusan mendadak."

"Kamu mau ke mana?" Aku sedikit mengernyit, tidak menyingkir. Kebakaran hutan sedang genting. Aku tidak tahu apakah aku masih punya waktu untuk menunggunya pulang.

Adapun urusan mendadak Nindy selama ini, selain pekerjaan di kantor, hanya pergi berdoa ke kuil. Namun yang tak kusangka, di kursi penumpang depan duduk Chicco.

Nindy tidak menjawab, tetapi Chicco justru menjelaskan, "Maaf, Pak Ray. Siang ini perusahaanku ada acara. Nindy ingin menemaniku."

Setelah itu, dia menoleh ke Nindy. "Nindy, kalau begitu biar aku pergi sendiri saja."

"Nggak perlu, dia nggak ada urusan penting. Urusanmu lebih penting." Nindy menolak tanpa keraguan, langsung menyalakan mobil dan melaju pergi.

Aku terpaku cukup lama, lalu baru sadar kembali. Tenggorokanku seolah-olah tersumbat batu besar. Sakitnya menusuk.

Lima tahun bersama, entah berapa banyak undangan acara kerjaku yang dia tolak, tetapi untuk menghadiri acara Chicco, dia bisa berdandan cantik dan berangkat pagi-pagi.

Acara makan siang, tetapi dia sudah berangkat dari pagi ....

Nindy, kamu bilang orang yang mendalami ajaran agama tidak berbohong dan tidak berkhianat. Namun, Chicco jauh lebih seperti suamimu, seperti orang yang benar-benar kamu pedulikan. Apa kamu menghadiri acaranya juga demi anak itu?

Aku hanya merasa konyol dan menyedihkan. Tubuhku seolah-olah diliputi hawa dingin yang menusuk.

Setelah dia pergi, aku pun tidak punya alasan untuk tetap tinggal. Rumah yang dulu penuh kehangatan dan harapan, kini terasa begitu menolak kehadiranku.

Setiap langkah meninggalkan rumah seperti menginjak gelembung kenangan indah yang pecah satu per satu. Langkah demi langkah penuh keindahan, langkah demi langkah hancur.

Sampai malam hari, aku menerima pesan dari Nindy.

[ Malam ini aku ada waktu. Kita keluar makan. Kamu bilang mau bicara, 'kan? ]

Ajakan sederhana itu terasa seperti belas kasihan yang dilemparkan padaku. Setelah ragu lama, aku tetap memutuskan untuk bertemu dan berbicara soal perceraian.

Jika aku benar-benar tidak kembali nanti, setidaknya aku bisa pergi tanpa beban, tanpa terus terjerat dengannya.

Aku memesan restoran tempat kami kencan pertama, memintanya datang sendiri, jangan membawa siapa pun. Jika takdir dimulai di sana, tentu harus diakhiri di sana juga.

Tempat duduk yang familier, bahkan lonceng angin di sudut jendela masih sama. Namun, kami sudah bukan orang yang sama.

Dia tidak membalas pesanku. Aku menunggu sampai lewat pukul 9 malam. Restoran hampir tutup, tetapi Nindy tetap tidak datang. Benar-benar dewi yang kejam. Sudahlah, aku sudah terbiasa diabaikan.

Namun, saat aku hendak pergi, Nindy datang membawa Chicco dan Andrew.

"Kenapa mereka ikut?" Aku mengernyit. Ini pertemuan perpisahan, juga urusan hidup dan mati, jadi aku tidak ingin ada orang luar.

Namun, Nindy tidak peduli. "Aku baru siap lembur. Chicco dan Andrew juga belum makan. Kenapa memangnya kalau mereka ikut?"

Sambil berbicara, Chicco dan Andrew sudah duduk di hadapanku. Di sebelahku ada kursi kosong, tetapi Nindy hanya melirik sebentar, lalu duduk di samping mereka.

"Chicco bilang, sebagai permintaan maaf, makan malam ini dia yang traktir. Ray, belajarlah seperti dia. Jangan pelit." Kata-kata yang dia lontarkan secara blak-blakan itu membuat dadaku kembali tersobek, sakit bukan main.

Makan malam terakhir ini, aku tidak ingin berdebat. Aku ingin berpamitan dengan baik. Namun, dengan Chicco dan Andrew di sana, semua kata-kata yang sudah kupersiapkan tersangkut di tenggorokan.

Nindy, kalau kamu tahu aku ingin mengucapkan selamat tinggal terakhir malam ini, apakah kamu akan menyesal membawa orang lain?

Namun, itu tidak penting lagi. Toh sudah tidak ada kesempatan. Hati sang dewi terlalu dingin. Aku tak sanggup lagi menyentuhnya.

"Pak Ray, makan saja. Aku yang bayar. Nindy sangat baik. Aku juga berterima kasih karena kamu mau menerima Andrew. Benar-benar terima kasih!"

Chicco mengangkat gelas ke arahku. Aku tidak bergerak, membuatnya kaku dan canggung.

"Jangan pedulikan dia, kita minum saja. Hatinya terlalu sempit, nggak sedermawan kamu. Nggak usah sia-siakan niat baikmu."

Nindy mengangkat gelas dan mendentingkannya dengan gelas Chicco. Saat menghibur Chicco, dia tidak lupa merendahkanku. Nada suaranya lembut, bahkan mengajak Andrew.

"Cheers!" Mereka bertiga bersulang, tersenyum cerah, mengobrol tentang dekorasi rumah, tentang hal -hal kesukaan Andrew.

Pada saat itu, aku yang duduk di hadapan mereka justru menjadi orang asing yang menumpang meja.

"Nindy, kamu yang mengajakku atau dia yang mengajakku?" Aku tiba-tiba menyadari sesuatu.

"Tentu saja Chicco yang berniat minta maaf duluan. Aku mana punya waktu?" Nindy mengernyit. Satu kalimat itu menghancurkan sisa harapanku tentangnya.

Ironis sekali. Pertemuan terakhirku dengannya ... ternyata adalah kesempatan yang diperjuangkan oleh Chicco. Sakitnya membuatku justru mendapat keberanian untuk melepaskannya.

"Siang tadi regu memberitahuku, aku harus pergi bantu memadamkan kebakaran hutan. Situasinya berbahaya. Mungkin aku nggak akan pulang. Aku pikir, setidaknya kita urus perceraian dulu. Aku merestui kalian."

Setelah mengatakannya, aku merasa lega. Namun tak kusangka, ketiga orang di depanku ... tidak ada yang mendengar.

Tawa mereka tidak berhenti, bahkan tak menoleh ke arahku. Saat itu, aku merasa diriku benar-benar seperti lelucon. Baru saja terasa lega, hatiku kembali ditusuk tajam.

"Nindy, kamu dengar apa yang kubilang?"

"Mm, iya. Hati-hati ya." Nindy hanya sibuk mengambilkan makanan untuk Andrew, menjawabku secara asal.

Aku tertawa pahit. Bagaimana aku bisa bertahan lima tahun dalam pernikahan seperti ini? Jika dia tidak mau mendengar, biarlah.

Aku berdiri hendak pergi. Namun tiba-tiba, lampu gantung di atas kepala bergoyang dan jatuh menghantam tepat di kepalaku!

Suara ledakan keras terdengar. Lampu kaca pecah berantakan, darah mengalir di kepala dan wajahku. Aku terhuyung dan jatuh.

Semua orang di restoran menoleh, termasuk Nindy.

"Ray!" Ekspresinya berubah drastis. Dia berlari ke arahku tanpa pikir panjang.

Diabaikan! Mati Satu, Tumbuh Seribu!

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya