Bab 6

Selembar surat itu mengakhiri pernikahanku selama lima tahun. Tidak ada keterikatan, tidak ada penyesalan.

Mulai sekarang, entah aku hidup atau mati, miskin atau kaya, semuanya tidak ada hubungan apa pun lagi dengan Presdir Grup Karya, Nindy.

Namun, begitu kakiku baru saja melangkah keluar pintu, aku mencium aroma yang tidak beres.

"Sepertinya ada sesuatu yang terbakar?" Sebagai seorang pemadam kebakaran, aku langsung waspada.

Mengikuti arah bau itu, benar saja, dari celah pintu sebuah kamar, tampak asap tipis keluar. "Sial! Ini kebakaran!"

Wajahku berubah drastis. Aku mengangkat alat pemadam di samping dan langsung menendang pintu dengan keras.

Dum! Dum, dum! Satu tendangan, dua tendangan .... Setelah lima tendangan berturut-turut, barulah pintunya terbuka paksa.

Seketika, aroma gosong yang menusuk hidung menerjang wajahku. Api berkobar di dalam ruangan. Meskipun belum besar, jika dibiarkan, pasti akan semakin tak terkendali!

Tanpa ragu sedikit pun, aku mencabut pin pengaman alat pemadam dan menerjang masuk untuk memadamkan api.

Yang terbakar adalah ranjang besar di kamar itu. Begitu masuk, aku baru melihat di atas ranjang ternyata masih duduk seorang wanita cantik mabuk dengan tubuh putih mulus dan penuh lekuk, hanya mengenakan jubah mandi.

Saat ini, dia memegang gelas anggur. Sambil minum, dia menuang anggur ke bagian ranjang yang terbakar. Alkohol bertemu api, membuat api semakin membesar!

"Cepat bangun! Kamu sudah bosan hidup ya?" Aku benar-benar tidak percaya dengan apa yang kulihat. Aku segera menarik wanita itu dari ranjang dan menempatkannya di belakangku.

"Ah! Sakit!"

"Keluar! Siapa kamu? Ini kamarku! Siapa yang menyuruhmu masuk?"

Mungkin karena aku tegang, tarikanku agak kuat, membuat wanita itu memukul-mukul punggungku karena kesakitan.

Sekarang bukan waktunya untuk memedulikan itu. Aku langsung mengangkat alat pemadam kebakaran dan menyemprot ke sumber api. Gerakanku cepat dan tegas. Dalam tiga detik, api padam.

Setelah memastikan semuanya aman, aku baru menghela napas. Syukurlah aku datang tepat waktu. Kalau apinya membesar, aku sendirian pasti tak sanggup menanganinya.

Saat itu barulah aku sempat menoleh pada wanita di belakangku. Begitu melihat, dia ternyata diam-diam menyalakan korek dan membakar lukisan di dinding. Api muncul lagi.

"Kamu gila ya?" Aku terkejut bukan main, segera menahan wanita itu dengan satu tangan, lalu dengan tangan lainnya kembali menyemprot api ke lukisan itu.

Namun, wanita itu kembali lepas dari genggamanku, lalu berlari ke ranjang, hendak membakar bantal.

Dua kali masih bisa dimaklumi, tetapi tiga kali? Kesabaranku habis.

Aku langsung menerjang dan menekannya ke ranjang, merebut korek api dari tangannya dan membuangnya.

"Aku peringatkan, jangan bertindak sembarangan. Ini sudah masuk pidana pembakaran!"

"Jangan mengancamku! Aku nggak takut apa-apa!"

Bentakanku bukannya membuatnya sadar, malah menyulut emosinya. Dia pun meronta semakin keras.

"Lepaskan aku! Sakit! Aku peringatkan kamu! Aku ini putri Keluarga Bastian, Nisha! Kalau kamu berani macam-macam, kamu tamat!"

Entah mendapat tenaga dari mana, Nisha benar-benar berhasil melepaskan diri lagi, lalu masih berniat mengambil koreknya.

"Masih mau?"

Mana mungkin aku diam melihatnya membakar ruangan ini? Dalam keadaan terpaksa, aku kembali menariknya dan membantingnya ke ranjang.

Kali ini aku menahan seluruh tubuhnya, membuatnya tidak bisa bergerak sama sekali.

"Kamu mabuk, aku nggak mau mempermasalahkan itu. Tapi aku beri tahu kamu, meskipun kamu putri keluarga besar, kamu nggak boleh membakar hotel. Itu tindakan kriminal!"

"Hah!" Meskipun aku menindihnya, Nisha tetap tidak mau mengalah, masih meronta dan sampai memelototiku penuh kebencian.

"Dasar mesum! Siapa suruh kamu menceramahiku? Cepat lepasin aku! Kalau nggak, aku laporin kamu masuk kamar orang seenaknya dan menodaiku!"

Mendengar dia memutarbalikkan keadaan, aku pun tertawa kesal. "Kamu yang ingin membakar kamar. Aku cuma menahanmu."

"Hah! Kamu cuma mau menodaiku! Kalau nggak, kenapa kamu menindihku seperti ini?"

"Takut kamu terus main api."

"Mau main api sampai mati pun nggak ada hubungannya denganmu! Lepaskan aku!"

Saat dia mengucapkan kalimat terakhirnya itu, barulah aku sadar mata Nisha sudah berkaca-kaca, penuh rasa teraniaya. Ditambah lagi, jubah mandinya sudah merosot karena meronta, memperlihatkan kulit putihnya yang terlalu banyak.

Aku baru tersadar, jarak kami terlalu dekat. Posisi seperti ini terlalu rawan disalahpahami. Ini bahkan lebih dekat daripada saat aku bersama Nindy, padahal aku dan Nisha baru bertemu.

"Maaf, aku nggak berniat melecehkanmu. Aku hanya masuk untuk memadamkan api." Melihat ekspresinya yang hampir menangis, aku cepat-cepat bangkit dan menjaga jarak.

Pada detik berikutnya, dia buru-buru menyelimuti dirinya dengan selimut, hanya menyisakan kepala yang mengawasiku dengan curiga.

"Siapa yang percaya? Kamu pikir kamu itu petugas pemadam kebakaran? Bisa seenaknya masuk kamar orang buat memadamkan api?"

"Aku memang petugas pemadam kebakaran. Ini identitasku." Nisha masih meragukanku. Aku menghela napas dan mengeluarkan kartu identitas tugas.

Dia mengambilnya, melihat-lihat, lalu menatapku lagi. Kecurigaannya sedikit berkurang, tetapi sikapnya tetap buruk.

"Kenapa memangnya kalau kamu adalah petugas pemadam kebakaran? Nggak ada satu pun pria yang baik di dunia ini!"

"Kamu sedang patah hati? Tapi nggak sampai harus membakar diri di usia muda begini, 'kan?" Melihat wajah Nisha yang marah, aku memberanikan diri menebak alasan dia mabuk dan mencoba membakar diri.

"Bukan urusanmu! Nyawaku ini milikku sendiri. Mau bagaimana pun terserah aku!" Nisha mendengus dan memalingkan wajahnya.

Mendengar itu, aku mengernyit dengan marah. Sebagai petugas pemadam kebakaran, aku sudah melihat terlalu banyak orang berjuang mati-matian untuk bertahan hidup di tengah kobaran api, tetapi akhirnya tetap tidak selamat.

Jadi, aku paling tidak tahan melihat orang yang menganggap remeh hidupnya sendiri.

"Kamu benar, nyawamu milikmu. Kamu mau hidup atau mati mati, itu sama sekali bukan urusanku. Tapi aku peringatkan, kalau kamu mau mati, kamu nggak boleh membakar diri di tempat umum. Itu namanya nggak bertanggung jawab dan memalukan!"

"Kamu memakiku?" Nisha tertegun, menunjuk dirinya sendiri dengan tidak percaya.

"Kenapa? Nyawamu saja nggak kamu hargai, apa salahnya kalau dimaki sedikit? Dengan wajah secantik itu, kamu akan jadi arang gosong dan nggak berbentuk lagi. Kamu tahu nggak, mati terbakar itu sakitnya seperti apa?"

"Seolah-olah ada sepuluh ribu pisau menusukmu tanpa henti. Orang yang mati terbakar itu mati karena rasa sakitnya dulu, baru tubuhnya hangus. Sangat kejam!"

Aku sengaja menggambarkan betapa mengerikannya mati terbakar. Walaupun dia tidak menghargai hidupnya, aku tidak bisa membiarkannya benar-benar mati dengan cara itu.

"Kamu ... kamu jangan menakut-nakutiku! Aku nggak takut!" Walaupun menyangkal, wajah Nisha langsung pucat dan tubuhnya bergetar.

"Ngapain aku menakut-nakutimu? Nggak percaya? Silakan coba. Tapi jangan di tempat umum. Cari tanah lapang yang terbuat dari beton, terus bakar dirimu. Aku nggak bakal peduli."

Bab 7

Melihat tatapan takut Nisha, aku tahu hari ini dia pasti tidak berani bunuh diri lagi dan hatiku langsung lega.

Namun siapa sangka, mulut perempuan ini tetap saja tidak mau mengalah. Dengan keras kepala, dia berkata, "Kalau begitu, aku tetap mau mati. Kamu pergi saja, aku akan lompat dari sini."

Mendengar itu, aku mengangkat alis dan tanpa ragu berkata, "Lompat dari gedung? Boleh saja. Lompat gedung bukan urusanku. Tapi lantainya nggak cukup tinggi. Kalau kamu jatuh tapi nggak mati, malah jadi cacat seumur hidup, gimana?"

"Aku sarankan kamu turun dulu beli plastik, lalu langsung ke atap. Pasang plastik di kepalamu, kencangkan, baru lompat. Dijamin benar-benar mati!"

"Kamu ...!" Nisha hampir pingsan karena marah padaku. Dia melotot, tubuhnya gemetar, tetapi tetap tidak bisa menahan diri untuk bertanya, "Kenapa harus pakai plastik di kepala?"

"Supaya kamu nggak menyusahkan petugas kebersihan. Jangan sampai kamu jatuh hancur berantakan dan orang lain masih harus membersihkan otakmu yang tercecer."

"Ray, kamu bukan manusia!" Membayangkan adegan itu, Nisha langsung menutup mata karena takut dan memakiku habis-habisan.

Melihat reaksinya, aku semakin yakin bahwa sebenarnya dia tidak berani mati. Akhirnya, aku benar-benar tenang.

"Sudahlah, kembalikan kartuku. Aku harus pergi. Kamu bereskan apa pun yang perlu kamu bereskan sebelum lompat gedung." Aku mengulurkan tangan ke arah Nisha.

Namun, dia menggeleng dengan keras dan memekik dengan kesal, "Nggak mau! Kenapa aku harus mati sesuai cara yang kamu suruh? Kamu tadi sudah melihat tubuhku, jadi jangan harap bisa kabur begitu saja!"

"Aku nggak punya waktu untuk dibuang-buang denganmu. Cepat mati saja. Aku masih harus pergi menyelamatkan orang."

Saat aku berbicara, mumpung dia lengah, aku langsung merebut kembali kartu identitasku, lalu berbalik tanpa ragu dan melangkah cepat ke luar.

Meskipun aku mau menyelamatkannya, jujur saja, aku benar-benar tidak punya kesan baik pada nona manja yang seenaknya seperti ini.

"Berhenti! Ray, aku nggak akan membiarkanmu pergi begitu saja!" Teriakan Nisha terdengar dari dalam kamar, tetapi aku tidak menggubrisnya. Aku membawa koperku dan pergi begitu saja.

Aku tidak tahu bahwa setelah aku pergi, Nisha membuka telapak tangannya dan di dalamnya tergeletak foto kecil sebesar dua inci dari kartuku.

Dia menatap fotoku. Di wajah cantiknya muncul senyuman tipis. Kemudian, dia bergumam, "Dilihat lebih teliti ... ternyata lumayan tampan juga ...."

"Regu Pemadam Kebakaran Distrik Dua, Ray, aku ingat kamu. Kamu nggak akan lolos!"

Sementara itu, aku sama sekali belum menyadari bahwa seseorang sudah mengincarku. Keluar dari hotel, aku langsung kembali ke markas. Ketika kapten melihatku datang lebih awal sambil membawa koper, dia langsung tampak terkejut.

"Ray, kenapa sampai bawa koper segala?"

Wajar kalau kapten heran. Saat petugas pemadam kebakaran masuk ke area kebakaran, itu namanya mempertaruhkan nyawa. Tidak ada yang membawa koper karena memang tidak perlu.

"Aku membereskan semua barangku di rumah. Aku takut istriku melihat barang-barang yang kutinggalkan dan sedih."

Aku hanya bisa memberi alasan itu, tidak ingin menjelaskan pernikahanku dengan Nindy yang sudah hancur.

"Kamu ini .... Ray, belum tentu kamu nggak selamat. Nggak perlu sampai seperti ini." Kapten menghela napas, lalu berkata, "Barusan ada pemberitahuan. Peralatan pemadam sudah diangkut lewat udara ke kaki gunung. Kita bisa langsung berangkat."

"Baik, aku sudah siap." Setelah berpisah dengan Nindy, aku memang sudah siap mati. Ekspresiku tidak berubah sedikit pun.

"Tapi Ray, situasinya berubah. Ada bantuan peralatan dan kebetulan turun hujan. Api sudah berhasil dikendalikan. Kali ini kita ke sana lebih untuk penanganan akhir. Sebenarnya kamu nggak perlu ikut."

Nada kapten terdengar tidak tega. Kalau bukan karena keadaan terpaksa, dia sebenarnya tidak mau aku ikut menangani kebakaran gunung, apalagi aku dan istriku belum punya anak.

"Kapten, aku tetap ikut. Tambah satu orang berarti tambah satu tenaga lagi." Mendengar kabar itu, aku sebenarnya lega. Setidaknya api sudah tertangani, berarti tidak akan ada korban lagi.

Namun, begitu mengingat kondisi menyedihkan antara aku dan Nindy, secercah cahaya di dalam hatiku padam lagi.

Sudahlah, pergi saja. Akhirnya, karena aku bersikeras, kapten mengizinkanku berangkat bersama tim.

Ketika kami tiba, api gunung sudah sepenuhnya terkendali. Yang tersisa hanya perhitungan kerusakan dan merawat para korban yang terluka.

Melihat pemandangan yang porak-poranda itu, aku langsung mengosongkan pikiran dan fokus pada pekerjaan.

Beberapa hari berturut-turut, aku makan, minum, tidur, buang air, semuanya di pinggir gunung.

Kondisinya sangat parah. Meskipun aku tidak turun langsung ke garis depan, aku melihat dengan mata kepala sendiri para petugas yang dibawa kembali dari sana.

Entah berapa banyak rekan-rekan yang gugur di kebakaran ini. Beberapa hari ini, jenazah para petugas terus dibawa turun dan semuanya sudah tidak berbentuk.

Sebagian besar dari mereka adalah petugas pemadam kebakaran dari desa-desa sekitar. Keluarga mereka sudah datang ke kaki gunung untuk mengenali jenazah. Ada istri yang datang sambil membawa anak, menangis sampai suara habis.

Ada juga orang tua yang sudah sangat tua, berjalan gemetaran ke depan, tetapi tidak sanggup menerima kenyataan dan langsung pingsan karena terlalu sedih.

Melihat semua itu, hatiku benar-benar tersayat. Beberapa hari ini, aku tidak menerima satu pun telepon dari Nindy. Bahkan pesan pun tidak.

Kalau bisa, aku benar-benar berharap yang berbaring sebagai korban itu adalah aku, supaya mereka bisa kembali pada keluarganya.

Toh bagiku, istriku sendiri tidak pernah menganggapku sebagai keluarga. Bagi Nindy, keberadaanku sama sekali tidak penting.

Sementara itu, Nindy baru saja mengakhiri sebuah rapat. Saat melangkah keluar dari ruang rapat, dadanya tiba-tiba terasa sesak tanpa alasan. Nindy memegang dadanya dengan bingung.

Asisten di sampingnya segera bertanya, "Bu Nindy nggak enak badan? Perlu aku batalkan jadwal rapat sore?"

"Nggak perlu. Aku baik-baik saja." Nindy menggeleng, lalu seakan-akan teringat sesuatu, dia membuka ponselnya. Tidak ada pesan dariku.

Dia mengerutkan alis, tidak tahu apa perasaannya saat itu. Kemudian, dia bertanya, "Beberapa hari ini Ray nggak bertingkah? Pihak hotel nggak menghubungiku?"

"Nggak ada, Bu." Asisten itu bingung. Nindy hampir tidak pernah menanyakan soalku sebelumnya.

"Baiklah. Kamu nggak perlu ikut. Aku mau pergi sebentar." Tanpa menunggu jawaban, Nindy langsung meninggalkan kantor.

Setengah jam kemudian, dia muncul di lobi hotel, menyerahkan kartu hitam. "Tolong cek catatan keluar masuk Ray beberapa hari ini."

"Bu Nindy, Pak Ray nggak menginap di sini. Setelah hari pertama datang, nggak lama kemudian beliau membawa kopernya dan pergi. Beliau nggak pernah kembali lagi."

"Apa?" Nindy mengerutkan alis. Wajahnya tidak senang. Dia langsung menekan nomor ponselku.

Biasanya, dia jarang sekali menghubungiku lebih dulu. Namun, baru kali ini dia mau mencoba dan yang dia dapat adalah suara sistem yang mengatakan "nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif".

Alis Nindy semakin berkerut. 'Ray, apa lagi yang sedang kamu mainkan?'

Bab 8

"Kamu bilang dia pernah datang sekali?"

"Benar, Bu."

"Berikan aku kartu cadangan. Aku mau naik dan lihat."

Tanpa banyak bicara, Nindy mengambil kartu kamar cadangan, lalu langsung menuju kamar.

Bip. Pintu kamar terbuka. Dia ingin melihat, kali ini Ray membuat ulah apa lagi?

Setelah masuk, Nindy meneliti seluruh kamar, tetapi menemukan bahwa peralatan mandi dan perlengkapan tidur sama sekali tak tersentuh.

Tidak ada sedikit pun jejak bahwa ada orang yang menginap di sini. Ini membuktikan bahwa Ray hanya sebentar di sini.

Kalau begitu, dia datang untuk apa? Hanya untuk mengambil barang?

Nindy tentu memperhatikan bahwa di kamar tidak ada barang-barang milik Ray. Namun, di atas meja, dia menemukan laptop kerjanya.

"Ternyata di sini."

"Ada sepucuk surat juga?"

Nindy melangkah mendekat, mengambil surat yang tergeletak di atas laptopnya. Di sampul surat hanya tertulis dua kata besar, yaitu surat perpisahan.

Pada detik itu juga, Nindy langsung menebak Ray sedang memikirkan apa.

"Ray, beberapa hari nggak menghubungiku, ponselmu mati, meninggalkan surat perpisahan lalu menghilang. Ini trik barumu? Membosankan."

Nindy mengerutkan alis dan tertawa dingin. Surat yang ditinggalkan Ray itu bahkan tidak dia baca dan langsung dibuang ke tempat sampah. Mau dihubungi atau tidak, terserah.

Dia tidak percaya Ray punya keberanian untuk benar-benar tidak kembali ke rumah. Kebetulan mumpung Ray tidak ada, biar Andrew menyesuaikan diri dengan kehidupan di rumah.

Soal Ray, apakah dia ada di hotel atau sengaja bersembunyi, dua-duanya sama saja bagi Nindy. Dia tidak peduli. Dia membuka laptop kerjanya dan mengerjakan beberapa dokumen baru.

Waktu berlalu beberapa jam. Hari mulai gelap. Pekerjaan Nindy akhirnya selesai. Dia meregangkan tubuh, lalu refleks mengambil ponsel. Di layar hanya ada pesan-pesan ambigu dari Chicco.

Sementara Ray ... tetap tidak ada kabar.

"Kamu serius main begini?" Nindy membuka kunci ponsel, tidak langsung membalas Chicco, malah menggulir layar hingga menemukan ruang obrolan dengan Ray.

Pesan terakhir Ray dikirim beberapa hari lalu.

[ Sayang, ada hotel yang tiba-tiba kebakaran. Aku berangkat dulu ke lokasi. ]

[ Malam ini kamu ingin makan apa? Tinggalkan pesan. Sepulang kerja, aku beli bahan dan masak buat kamu. ]

[ Jangan khawatir. ]

Hari hotel kebakaran itu, kebetulan Ray menemukan hubungannya dengan Chicco dan Andrew. Sejak saat itu, Ray tidak pernah lagi mengirim pesan perhatian.

Tentu saja, tiga pesan itu pun tidak dibalas oleh Nindy. Entah kenapa, saat Nindy melihat satu per satu pesan penuh perhatian Ray yang sudah biasa dia dapatkan dan sekarang tiba-tiba hilang, hatinya benar-benar terasa tidak nyaman.

"Terserah kamu saja deh." Menatap layar cukup lama, suasana hati Nindy mendadak kacau. Dia akhirnya menutup ponsel.

Kebetulan, matanya langsung tertuju pada surat perpisahan yang tadi dia buang. Beberapa jam lalu dia meremehkan trik Ray, tetapi sekarang hatinya mulai gelisah.

"Aku penasaran, kamu ini memang mau memaksaku atau cuma cari masalah?" Nindy mendengus dingin, mengambil surat itu dari tempat sampah dan membukanya.

Pada detik berikutnya, yang terlihat hanyalah beberapa kalimat sederhana. Namun, kalimat-kalimat itu membuat tubuh Nindy membeku di tempat dan tertegun.

[ Nindy, mau kamu setuju atau nggak, mau kamu sedang dalam masa pantangan atau nggak, kita resmi berakhir. ]

[ Aku merelakanmu dan cinta pertamamu, Chicco. ]

Sekejap, wajah Nindy berubah drastis. "Dia .... Bagaimana dia bisa tahu?"

Tak butuh waktu lama, Nindy langsung teringat laptop kerjanya. Di dalamnya ada akun WhatsApp-nya. Karena laptop itu biasanya hanya dipakainya sendiri, dia mengaktifkan login otomatis.

Artinya, obrolannya dengan Chicco ... semuanya ada di sana.

[ Andrew itu pasti anak kandung kalian berdua, 'kan? Aku nggak ngerti, kamu sudah menutupinya begitu keras, begitu lelah bersamaku, kenapa kamu masih menikah denganku? ]

[ Lima tahun membuatku sadar betapa konyolnya aku selama lima tahun ini. Terus terang, aku menangis sampai air mataku habis, tapi bukan untukmu, melainkan karena aku merasa diriku nggak pantas diperlakukan seperti ini! ]

[ Sebagai suamimu, aku membencimu sampai ke tulang. Tapi sebagai seorang petugas pemadam kebakaran, aku nggak menyesal telah menyelamatkan kalian bertiga di hotel itu. Sekarang, aku akan berangkat tugas lagi. ]

[ Anggap saja aku mati dalam tugas ini. Kita nggak akan pernah bertemu lagi. Surat ini adalah surat perpisahan. ]

Selesai membaca, tatapan Nindy kosong. Surat itu terlepas dari genggamannya. Hatinya mendadak hampa.

Tidak diragukan lagi, Ray sudah melihat seluruh percakapan antara Nindy dan Chicco di laptop. Kebetulan di hari itu, dia mengikuti Chicco menghadiri rapat orang tua murid Andrew.

Ray tahu semuanya. Sikapnya menjadi setegas isi surat itu. Setiap kata bagai palu yang menghantam hati Nindy.

Untuk sesaat, Nindy tidak bisa bernapas. Setelah waktu yang lama, dia baru tersadar. Dia buru-buru menyalakan ponsel dan menelepon Ray.

"Bukan seperti yang kamu pikirkan. Memang aku pernah punya hubungan dengan Chicco, tapi itu bukan berarti aku selingkuh setelah menikah ...."

"Atas dasar apa? Atas dasar apa pernikahan lima tahun kita kamu akhiri sepihak? Kamu pernah menghargaiku nggak?"

Nindy bergumam, refleks membela diri. Saat ini, dia bahkan merasa seperti seseorang yang ketahuan berselingkuh.

Padahal dia memang tidak melakukan pengkhianatan setelah menikah. Ray malah mendadak pergi tanpa berpamitan. Apa-apaan ini?

Biasanya Ray selalu memberi laporan, selalu berdiskusi dengannya. Kali ini justru sebaliknya. Bahkan setelah tahu alasannya, Nindy tetap sulit menerimanya.

Terlebih lagi, Ray sedang memadamkan kebakaran.

Entah kenapa, telepon yang tak pernah tersambung itu membuat hatinya semakin gelisah. "Bahkan kalau dia pergi buat memadamkan api, masa ponselnya masih mati setelah beberapa hari? Jangan-jangan benar-benar terjadi sesuatu?"

Nindy duduk di tepi ranjang, menelepon Ray berkali-kali. Hasilnya sama, ponselnya tidak aktif.

Muncul kekhawatiran di mata Nindy. Dia memutuskan menelepon asistennya. Walaupun itu sudah tengah malam, telepon langsung diangkat.

"Halo, Bu Nindy, ada perlu apa?"

"Segera selidiki untukku, dalam beberapa hari ini ada kebakaran terjadi di kota atau nggak. Kalau ada, lanjutkan dan cari tahu seberapa parah. Lalu unit pemadam yang turun itu dari departemen mana. Apakah dari tim kedua, tempat Ray bertugas?"

Nindy memberi instruksi. Jantungnya berdegup kencang. Sebelum menutup telepon, dia menambahkan, "Cepat, begitu ada hasil langsung laporkan padaku."

"Baik, Bu!" Telepon ditutup. Asisten itu memasang wajah bingung, tak tahu mengapa Nindy mendadak menyuruhnya menyelidiki hal itu.

Walaupun sang asisten tahu suami Nindy adalah petugas pemadam kebakaran, Nindy tidak pernah peduli urusan tentang kebakaran atau pemadaman.

"Bu Nindy hari ini ... sepertinya berbeda terhadap Pak Ray?" Sambil bergumam, sang asisten mulai mencari informasi.

Diabaikan! Mati Satu, Tumbuh Seribu!

Bab 6
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya