Bab 5
Aku secara naluriah ingin segera menelepon Nindy untuk bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Namun kemudian, aku merasa itu tidak ada artinya. Faktanya sudah sangat jelas.
Meskipun dia tidak setuju bercerai, aku akan pergi dan belum tentu bisa selamat kembali. Sudahlah.
Aku meletakkan ponsel. Sebelum pergi, aku tidak ingin menambah beban sendiri. Awalnya aku hanya ingin mematikan laptop, lalu mengambil koper dan pergi, tetapi tak kusangka Chicco kembali mengirim pesan.
Kali ini sebuah video. Sampul videonya adalah dia dan Nindy berdiri bersama di atas panggung. Kebahagiaan manis hampir meluap dari layar. Baru saja direkam?
Hatiku bergetar, tetapi tetap memutar videonya.
Di atas panggung tadinya berdiri seorang guru, mengundang orang tua Andrew naik untuk menceritakan kisah cinta mereka. Nindy menggenggam tangan Chicco dan naik. Dewi yang katanya tidak menginginkan apa pun itu, kini malah terlihat malu-malu.
Nindy berkata terlebih dahulu, "Chicco adalah cinta pertama masa kecilku. Sejak SD, kami selalu sekelas, sampai akhirnya dia baru menyatakan cinta padaku waktu kuliah ...."
"Setelah lulus, kami melangkah ke dalam istana pernikahan dengan bahagia. Keberuntungan terbesar dalam hidupku adalah bertemu seorang pria yang begitu mencintaiku dan begitu sempurna."
Mataku langsung membelalak. Chicco adalah cinta pertama Nindy? Padahal waktu kami pacaran, dia jelas berkata akulah cinta pertamanya. Dia bilang dirinya seperti selembar kertas putih, memintaku menjaganya baik-baik.
Aku pun berjanji sepenuh hati, memanjakannya saat pacaran. Setelah menikah, bahkan rasanya aku ingin memberikan bintang-bintang di langit untuknya. Aku selalu menghormati setiap keinginannya.
Pada akhirnya, ini hasilnya? Hatiku seperti ditarik secara paksa, lalu dibanting ke lantai dan diinjak-injak sampai hancur. Saking sakitnya, aku hampir tidak bisa bernapas. Aku jatuh terduduk dan tubuhku gemetar tanpa henti. Air mata mengaburkan penglihatanku.
Nindy ... ternyata selama ini kamu membohongiku. Kebohongan sang dewi sudah dimulai sejak masa pacaran. Bukan pernikahan kami penuh kebohongan. Dia tidak pernah mengatakan satu kalimat jujur pun kepadaku ....
Video terus berlanjut. Terdengar suara kekaguman dari para orang tua di luar layar. Ada yang menyuruh Nindy menceritakan lebih banyak hal-hal romantis apa yang pernah terjadi.
Aku tersenyum pahit. Saat baru bersama Nindy, aku juga pernah menyiapkan kejutan-kejutan romantis untuknya. Namun, reaksinya semakin lama semakin dingin. Dia pernah berkata terus terang bahwa dia paling membenci hal-hal romantis. Bagi orang yang belajar agama, romantis itu tidak berguna, tidak sebanding dengan ketulusan.
Aku percaya padanya. Aku menekan perasaanku, menemaninya dalam kehidupan yang hambar, hanya untuk membuktikan ketulusanku. Namun, hati ini sudah lama dia hancurkan berkali-kali.
Di video kembali terdengar suara lembut dan malu-malu Nindy. "Kami tentu kami punya banyak hal romantis. Dia itu pria yang sangat romantis, sudah tak terhitung berapa banyak kejutan yang dia buat untukku."
"Saat baru bersama, dia begadang tiga malam untuk diam-diam merajutkan tas untukku, bahkan nggak berani memberikannya langsung, dan bohong bilang itu hadiah undian. Saat itu, melihat dia menguap terus dengan mata panda, aku bersumpah dalam hati bahwa hidupku hanya untuk dia."
Nindy dan Chicco berpegangan tangan dengan erat, saling memandang penuh kasih. "Tas itu masih kusimpan sampai sekarang."
"Lalu suatu hari setelah kami menikah, aku asal bilang masakan kantor nggak cocok dengan seleraku. Malamnya saat aku pulang, dia sudah menyiapkan satu meja penuh hidangan yang dia masak sendiri."
"Setiap hidangan adalah favoritku. Belakangan baru kuketahui, demi mencari bahan terbaik, dia keliling kota setengah hari, memasak sampai kedua tangannya penuh luka bakar."
Nindy mengangkat kedua tangan Chicco dengan penuh emosi dan menciumnya di depan umum. "Aku nggak akan pernah lupa hal itu. Saat itu, aku menyayanginya, bilang dia bodoh, tapi dia bilang dia nggak menyesal dan hanya ingin melihatku tersenyum."
"Dan waktu aku demam tinggi, dia menemani tiga hari tiga malam tanpa tidur sampai akhirnya masuk rumah sakit. Dia bilang, nyawaku lebih penting dari nyawanya ...."
Setiap kali Nindy mengisahkan sesuatu, terdengar suara iri para orang tua. Suara-suara itu seperti pisau yang menusuk hatiku. Sakitnya sampai ke dalam tulang.
Videonya masih panjang, tetapi aku langsung mematikan laptop. Karena aku sudah tidak sanggup mendengarnya.
Sakit, luluh lantak .... Setiap kisah romantis itu seperti ribuan sayatan di tubuhku.
Semua itu ... jelas-jelas adalah hal-hal yang kulakukan untukmu! Aku memekik dalam hati. Hatiku membeku.
Ternyata sang dewi bukan tidak punya perasaan. Dia bukan sosok yang dingin atau tak peduli. Sikap dingin itu ... hanya ditujukan padaku seorang.
Semua kebaikan yang kuberikan padanya, dia ingat. Namun, semuanya dia akui sebagai perbuatan pria lain. Padahal sama sekali bukan begitu.
Tas yang kuanyam tiga malam, dia hanya bilang terima kasih, lalu tidak pernah memakainya lagi. Setiap kali kutanyakan, dia hanya bilang tidak suka modelnya. Aku menyesal berhari-hari, menyalahkan diri karena tidak memahami seleranya.
Hidangan yang kusajikan untuknya, dia tidak makan sampai habis. Dia bahkan memarahiku habis-habisan, bilang sebagai seorang yang belajar agama, dia pantang kemewahan dan pemborosan. Menurutnya, aku melakukan itu karena tidak menghormatinya.
Aku menjelaskan dengan panik, bilang aku hanya ingin membuatnya tersenyum. Namun, Nindy tidak memedulikanku, lalu tinggal di kuil selama seminggu.
Tentang luka bakar di tanganku, kupikir dia tidak mengetahuinya. Sekarang aku sadar, dia tahu. Hanya saja, dia malas peduli.
Saat dia demam tinggi, akulah yang mengambil cuti dari tim dan menjaganya siang malam. Dia menyuruhku pergi. Kukira karena dia merasa tidak tega padaku, tetapi yang kudapat justru hanya rasa muaknya.
Katanya demam itu ujian dari Tuhan, bahkan sebuah berkah. Dia melarangku masuk kamarnya selangkah pun, bilang aku kotor dan bodoh.
Aku sampai tidak bisa tidur karena menyalahkan diri, lalu mempelajari ajaran agama siang malam. Namun, tidak pernah kutemukan ajaran bahwa "sakit itu berkah" seperti yang dia bilang. Kupikir aku yang bodoh, tetapi ternyata itu hanya alasannya untuk menjauhiku.
Jadi, dia bukan tidak mengerti kebaikanku. Dia hanya memberikan hatinya pada orang lain dan tak sudi menerima hatiku.
Nindy, ini salahku. Salahku karena pernah bertemu denganmu. Tidak ada yang lebih menyedihkan dari hati yang mati.
Air mata sudah habis. Aku justru merasa lega, bersyukur karena ada setengah hari ini untuk mengetahui semua kebenaran. Pernikahan konyol ini memang harus diakhiri.
Dewi tidak punya cinta, maka manusia biasa ini harus berhenti berharap. Aku meminta kertas dan pena dari resepsionis hotel, menulis sepucuk surat perpisahan.
[ Nindy, mau kamu setuju atau nggak, mau kamu sedang dalam masa pantangan atau nggak, kita resmi berakhir. ]
[ Aku merelakanmu dan cinta pertamamu, Chicco. ]
[ Andrew itu pasti anak kandung kalian berdua, 'kan? Aku nggak ngerti, kamu sudah menutupinya begitu keras, begitu lelah bersamaku, kenapa kamu masih menikah denganku? ]
[ Lima tahun membuatku sadar betapa konyolnya aku selama lima tahun ini. Terus terang, aku menangis sampai air mataku habis, tapi bukan untukmu, melainkan karena aku merasa diriku nggak pantas diperlakukan seperti ini! ]
[ Sebagai suamimu, aku membencimu sampai ke tulang. Tapi sebagai seorang petugas pemadam kebakaran, aku nggak menyesal telah menyelamatkan kalian bertiga di hotel itu. Sekarang, aku akan berangkat tugas lagi. ]
[ Anggap saja aku mati dalam tugas ini. Kita nggak akan pernah bertemu lagi. Surat ini adalah surat perpisahan. ]
Bab 6
Selembar surat itu mengakhiri pernikahanku selama lima tahun. Tidak ada keterikatan, tidak ada penyesalan.
Mulai sekarang, entah aku hidup atau mati, miskin atau kaya, semuanya tidak ada hubungan apa pun lagi dengan Presdir Grup Karya, Nindy.
Namun, begitu kakiku baru saja melangkah keluar pintu, aku mencium aroma yang tidak beres.
"Sepertinya ada sesuatu yang terbakar?" Sebagai seorang pemadam kebakaran, aku langsung waspada.
Mengikuti arah bau itu, benar saja, dari celah pintu sebuah kamar, tampak asap tipis keluar. "Sial! Ini kebakaran!"
Wajahku berubah drastis. Aku mengangkat alat pemadam di samping dan langsung menendang pintu dengan keras.
Dum! Dum, dum! Satu tendangan, dua tendangan .... Setelah lima tendangan berturut-turut, barulah pintunya terbuka paksa.
Seketika, aroma gosong yang menusuk hidung menerjang wajahku. Api berkobar di dalam ruangan. Meskipun belum besar, jika dibiarkan, pasti akan semakin tak terkendali!
Tanpa ragu sedikit pun, aku mencabut pin pengaman alat pemadam dan menerjang masuk untuk memadamkan api.
Yang terbakar adalah ranjang besar di kamar itu. Begitu masuk, aku baru melihat di atas ranjang ternyata masih duduk seorang wanita cantik mabuk dengan tubuh putih mulus dan penuh lekuk, hanya mengenakan jubah mandi.
Saat ini, dia memegang gelas anggur. Sambil minum, dia menuang anggur ke bagian ranjang yang terbakar. Alkohol bertemu api, membuat api semakin membesar!
"Cepat bangun! Kamu sudah bosan hidup ya?" Aku benar-benar tidak percaya dengan apa yang kulihat. Aku segera menarik wanita itu dari ranjang dan menempatkannya di belakangku.
"Ah! Sakit!"
"Keluar! Siapa kamu? Ini kamarku! Siapa yang menyuruhmu masuk?"
Mungkin karena aku tegang, tarikanku agak kuat, membuat wanita itu memukul-mukul punggungku karena kesakitan.
Sekarang bukan waktunya untuk memedulikan itu. Aku langsung mengangkat alat pemadam kebakaran dan menyemprot ke sumber api. Gerakanku cepat dan tegas. Dalam tiga detik, api padam.
Setelah memastikan semuanya aman, aku baru menghela napas. Syukurlah aku datang tepat waktu. Kalau apinya membesar, aku sendirian pasti tak sanggup menanganinya.
Saat itu barulah aku sempat menoleh pada wanita di belakangku. Begitu melihat, dia ternyata diam-diam menyalakan korek dan membakar lukisan di dinding. Api muncul lagi.
"Kamu gila ya?" Aku terkejut bukan main, segera menahan wanita itu dengan satu tangan, lalu dengan tangan lainnya kembali menyemprot api ke lukisan itu.
Namun, wanita itu kembali lepas dari genggamanku, lalu berlari ke ranjang, hendak membakar bantal.
Dua kali masih bisa dimaklumi, tetapi tiga kali? Kesabaranku habis.
Aku langsung menerjang dan menekannya ke ranjang, merebut korek api dari tangannya dan membuangnya.
"Aku peringatkan, jangan bertindak sembarangan. Ini sudah masuk pidana pembakaran!"
"Jangan mengancamku! Aku nggak takut apa-apa!"
Bentakanku bukannya membuatnya sadar, malah menyulut emosinya. Dia pun meronta semakin keras.
"Lepaskan aku! Sakit! Aku peringatkan kamu! Aku ini putri Keluarga Bastian, Nisha! Kalau kamu berani macam-macam, kamu tamat!"
Entah mendapat tenaga dari mana, Nisha benar-benar berhasil melepaskan diri lagi, lalu masih berniat mengambil koreknya.
"Masih mau?"
Mana mungkin aku diam melihatnya membakar ruangan ini? Dalam keadaan terpaksa, aku kembali menariknya dan membantingnya ke ranjang.
Kali ini aku menahan seluruh tubuhnya, membuatnya tidak bisa bergerak sama sekali.
"Kamu mabuk, aku nggak mau mempermasalahkan itu. Tapi aku beri tahu kamu, meskipun kamu putri keluarga besar, kamu nggak boleh membakar hotel. Itu tindakan kriminal!"
"Hah!" Meskipun aku menindihnya, Nisha tetap tidak mau mengalah, masih meronta dan sampai memelototiku penuh kebencian.
"Dasar mesum! Siapa suruh kamu menceramahiku? Cepat lepasin aku! Kalau nggak, aku laporin kamu masuk kamar orang seenaknya dan menodaiku!"
Mendengar dia memutarbalikkan keadaan, aku pun tertawa kesal. "Kamu yang ingin membakar kamar. Aku cuma menahanmu."
"Hah! Kamu cuma mau menodaiku! Kalau nggak, kenapa kamu menindihku seperti ini?"
"Takut kamu terus main api."
"Mau main api sampai mati pun nggak ada hubungannya denganmu! Lepaskan aku!"
Saat dia mengucapkan kalimat terakhirnya itu, barulah aku sadar mata Nisha sudah berkaca-kaca, penuh rasa teraniaya. Ditambah lagi, jubah mandinya sudah merosot karena meronta, memperlihatkan kulit putihnya yang terlalu banyak.
Aku baru tersadar, jarak kami terlalu dekat. Posisi seperti ini terlalu rawan disalahpahami. Ini bahkan lebih dekat daripada saat aku bersama Nindy, padahal aku dan Nisha baru bertemu.
"Maaf, aku nggak berniat melecehkanmu. Aku hanya masuk untuk memadamkan api." Melihat ekspresinya yang hampir menangis, aku cepat-cepat bangkit dan menjaga jarak.
Pada detik berikutnya, dia buru-buru menyelimuti dirinya dengan selimut, hanya menyisakan kepala yang mengawasiku dengan curiga.
"Siapa yang percaya? Kamu pikir kamu itu petugas pemadam kebakaran? Bisa seenaknya masuk kamar orang buat memadamkan api?"
"Aku memang petugas pemadam kebakaran. Ini identitasku." Nisha masih meragukanku. Aku menghela napas dan mengeluarkan kartu identitas tugas.
Dia mengambilnya, melihat-lihat, lalu menatapku lagi. Kecurigaannya sedikit berkurang, tetapi sikapnya tetap buruk.
"Kenapa memangnya kalau kamu adalah petugas pemadam kebakaran? Nggak ada satu pun pria yang baik di dunia ini!"
"Kamu sedang patah hati? Tapi nggak sampai harus membakar diri di usia muda begini, 'kan?" Melihat wajah Nisha yang marah, aku memberanikan diri menebak alasan dia mabuk dan mencoba membakar diri.
"Bukan urusanmu! Nyawaku ini milikku sendiri. Mau bagaimana pun terserah aku!" Nisha mendengus dan memalingkan wajahnya.
Mendengar itu, aku mengernyit dengan marah. Sebagai petugas pemadam kebakaran, aku sudah melihat terlalu banyak orang berjuang mati-matian untuk bertahan hidup di tengah kobaran api, tetapi akhirnya tetap tidak selamat.
Jadi, aku paling tidak tahan melihat orang yang menganggap remeh hidupnya sendiri.
"Kamu benar, nyawamu milikmu. Kamu mau hidup atau mati mati, itu sama sekali bukan urusanku. Tapi aku peringatkan, kalau kamu mau mati, kamu nggak boleh membakar diri di tempat umum. Itu namanya nggak bertanggung jawab dan memalukan!"
"Kamu memakiku?" Nisha tertegun, menunjuk dirinya sendiri dengan tidak percaya.
"Kenapa? Nyawamu saja nggak kamu hargai, apa salahnya kalau dimaki sedikit? Dengan wajah secantik itu, kamu akan jadi arang gosong dan nggak berbentuk lagi. Kamu tahu nggak, mati terbakar itu sakitnya seperti apa?"
"Seolah-olah ada sepuluh ribu pisau menusukmu tanpa henti. Orang yang mati terbakar itu mati karena rasa sakitnya dulu, baru tubuhnya hangus. Sangat kejam!"
Aku sengaja menggambarkan betapa mengerikannya mati terbakar. Walaupun dia tidak menghargai hidupnya, aku tidak bisa membiarkannya benar-benar mati dengan cara itu.
"Kamu ... kamu jangan menakut-nakutiku! Aku nggak takut!" Walaupun menyangkal, wajah Nisha langsung pucat dan tubuhnya bergetar.
"Ngapain aku menakut-nakutimu? Nggak percaya? Silakan coba. Tapi jangan di tempat umum. Cari tanah lapang yang terbuat dari beton, terus bakar dirimu. Aku nggak bakal peduli."
Bab 7
Melihat tatapan takut Nisha, aku tahu hari ini dia pasti tidak berani bunuh diri lagi dan hatiku langsung lega.
Namun siapa sangka, mulut perempuan ini tetap saja tidak mau mengalah. Dengan keras kepala, dia berkata, "Kalau begitu, aku tetap mau mati. Kamu pergi saja, aku akan lompat dari sini."
Mendengar itu, aku mengangkat alis dan tanpa ragu berkata, "Lompat dari gedung? Boleh saja. Lompat gedung bukan urusanku. Tapi lantainya nggak cukup tinggi. Kalau kamu jatuh tapi nggak mati, malah jadi cacat seumur hidup, gimana?"
"Aku sarankan kamu turun dulu beli plastik, lalu langsung ke atap. Pasang plastik di kepalamu, kencangkan, baru lompat. Dijamin benar-benar mati!"
"Kamu ...!" Nisha hampir pingsan karena marah padaku. Dia melotot, tubuhnya gemetar, tetapi tetap tidak bisa menahan diri untuk bertanya, "Kenapa harus pakai plastik di kepala?"
"Supaya kamu nggak menyusahkan petugas kebersihan. Jangan sampai kamu jatuh hancur berantakan dan orang lain masih harus membersihkan otakmu yang tercecer."
"Ray, kamu bukan manusia!" Membayangkan adegan itu, Nisha langsung menutup mata karena takut dan memakiku habis-habisan.
Melihat reaksinya, aku semakin yakin bahwa sebenarnya dia tidak berani mati. Akhirnya, aku benar-benar tenang.
"Sudahlah, kembalikan kartuku. Aku harus pergi. Kamu bereskan apa pun yang perlu kamu bereskan sebelum lompat gedung." Aku mengulurkan tangan ke arah Nisha.
Namun, dia menggeleng dengan keras dan memekik dengan kesal, "Nggak mau! Kenapa aku harus mati sesuai cara yang kamu suruh? Kamu tadi sudah melihat tubuhku, jadi jangan harap bisa kabur begitu saja!"
"Aku nggak punya waktu untuk dibuang-buang denganmu. Cepat mati saja. Aku masih harus pergi menyelamatkan orang."
Saat aku berbicara, mumpung dia lengah, aku langsung merebut kembali kartu identitasku, lalu berbalik tanpa ragu dan melangkah cepat ke luar.
Meskipun aku mau menyelamatkannya, jujur saja, aku benar-benar tidak punya kesan baik pada nona manja yang seenaknya seperti ini.
"Berhenti! Ray, aku nggak akan membiarkanmu pergi begitu saja!" Teriakan Nisha terdengar dari dalam kamar, tetapi aku tidak menggubrisnya. Aku membawa koperku dan pergi begitu saja.
Aku tidak tahu bahwa setelah aku pergi, Nisha membuka telapak tangannya dan di dalamnya tergeletak foto kecil sebesar dua inci dari kartuku.
Dia menatap fotoku. Di wajah cantiknya muncul senyuman tipis. Kemudian, dia bergumam, "Dilihat lebih teliti ... ternyata lumayan tampan juga ...."
"Regu Pemadam Kebakaran Distrik Dua, Ray, aku ingat kamu. Kamu nggak akan lolos!"
Sementara itu, aku sama sekali belum menyadari bahwa seseorang sudah mengincarku. Keluar dari hotel, aku langsung kembali ke markas. Ketika kapten melihatku datang lebih awal sambil membawa koper, dia langsung tampak terkejut.
"Ray, kenapa sampai bawa koper segala?"
Wajar kalau kapten heran. Saat petugas pemadam kebakaran masuk ke area kebakaran, itu namanya mempertaruhkan nyawa. Tidak ada yang membawa koper karena memang tidak perlu.
"Aku membereskan semua barangku di rumah. Aku takut istriku melihat barang-barang yang kutinggalkan dan sedih."
Aku hanya bisa memberi alasan itu, tidak ingin menjelaskan pernikahanku dengan Nindy yang sudah hancur.
"Kamu ini .... Ray, belum tentu kamu nggak selamat. Nggak perlu sampai seperti ini." Kapten menghela napas, lalu berkata, "Barusan ada pemberitahuan. Peralatan pemadam sudah diangkut lewat udara ke kaki gunung. Kita bisa langsung berangkat."
"Baik, aku sudah siap." Setelah berpisah dengan Nindy, aku memang sudah siap mati. Ekspresiku tidak berubah sedikit pun.
"Tapi Ray, situasinya berubah. Ada bantuan peralatan dan kebetulan turun hujan. Api sudah berhasil dikendalikan. Kali ini kita ke sana lebih untuk penanganan akhir. Sebenarnya kamu nggak perlu ikut."
Nada kapten terdengar tidak tega. Kalau bukan karena keadaan terpaksa, dia sebenarnya tidak mau aku ikut menangani kebakaran gunung, apalagi aku dan istriku belum punya anak.
"Kapten, aku tetap ikut. Tambah satu orang berarti tambah satu tenaga lagi." Mendengar kabar itu, aku sebenarnya lega. Setidaknya api sudah tertangani, berarti tidak akan ada korban lagi.
Namun, begitu mengingat kondisi menyedihkan antara aku dan Nindy, secercah cahaya di dalam hatiku padam lagi.
Sudahlah, pergi saja. Akhirnya, karena aku bersikeras, kapten mengizinkanku berangkat bersama tim.
Ketika kami tiba, api gunung sudah sepenuhnya terkendali. Yang tersisa hanya perhitungan kerusakan dan merawat para korban yang terluka.
Melihat pemandangan yang porak-poranda itu, aku langsung mengosongkan pikiran dan fokus pada pekerjaan.
Beberapa hari berturut-turut, aku makan, minum, tidur, buang air, semuanya di pinggir gunung.
Kondisinya sangat parah. Meskipun aku tidak turun langsung ke garis depan, aku melihat dengan mata kepala sendiri para petugas yang dibawa kembali dari sana.
Entah berapa banyak rekan-rekan yang gugur di kebakaran ini. Beberapa hari ini, jenazah para petugas terus dibawa turun dan semuanya sudah tidak berbentuk.
Sebagian besar dari mereka adalah petugas pemadam kebakaran dari desa-desa sekitar. Keluarga mereka sudah datang ke kaki gunung untuk mengenali jenazah. Ada istri yang datang sambil membawa anak, menangis sampai suara habis.
Ada juga orang tua yang sudah sangat tua, berjalan gemetaran ke depan, tetapi tidak sanggup menerima kenyataan dan langsung pingsan karena terlalu sedih.
Melihat semua itu, hatiku benar-benar tersayat. Beberapa hari ini, aku tidak menerima satu pun telepon dari Nindy. Bahkan pesan pun tidak.
Kalau bisa, aku benar-benar berharap yang berbaring sebagai korban itu adalah aku, supaya mereka bisa kembali pada keluarganya.
Toh bagiku, istriku sendiri tidak pernah menganggapku sebagai keluarga. Bagi Nindy, keberadaanku sama sekali tidak penting.
Sementara itu, Nindy baru saja mengakhiri sebuah rapat. Saat melangkah keluar dari ruang rapat, dadanya tiba-tiba terasa sesak tanpa alasan. Nindy memegang dadanya dengan bingung.
Asisten di sampingnya segera bertanya, "Bu Nindy nggak enak badan? Perlu aku batalkan jadwal rapat sore?"
"Nggak perlu. Aku baik-baik saja." Nindy menggeleng, lalu seakan-akan teringat sesuatu, dia membuka ponselnya. Tidak ada pesan dariku.
Dia mengerutkan alis, tidak tahu apa perasaannya saat itu. Kemudian, dia bertanya, "Beberapa hari ini Ray nggak bertingkah? Pihak hotel nggak menghubungiku?"
"Nggak ada, Bu." Asisten itu bingung. Nindy hampir tidak pernah menanyakan soalku sebelumnya.
"Baiklah. Kamu nggak perlu ikut. Aku mau pergi sebentar." Tanpa menunggu jawaban, Nindy langsung meninggalkan kantor.
Setengah jam kemudian, dia muncul di lobi hotel, menyerahkan kartu hitam. "Tolong cek catatan keluar masuk Ray beberapa hari ini."
"Bu Nindy, Pak Ray nggak menginap di sini. Setelah hari pertama datang, nggak lama kemudian beliau membawa kopernya dan pergi. Beliau nggak pernah kembali lagi."
"Apa?" Nindy mengerutkan alis. Wajahnya tidak senang. Dia langsung menekan nomor ponselku.
Biasanya, dia jarang sekali menghubungiku lebih dulu. Namun, baru kali ini dia mau mencoba dan yang dia dapat adalah suara sistem yang mengatakan "nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif".
Alis Nindy semakin berkerut. 'Ray, apa lagi yang sedang kamu mainkan?'