Bab 3

"Halo, Kapten."

"Ray, ada kabar buruk. Semalam terjadi kebakaran hutan di pegunungan wilayah barat. Tiga regu sudah memadamkan mati-matian, tapi api masih sulit dikendalikan. Giliran kita sebentar lagi."

"Nggak masalah, aku selalu siap!"

Seketika, sarafku menegang, tak sempat lagi merasakan sakit di hati. Aku bersiap naik taksi menuju markas untuk siaga.

Kebakaran hutan yang lepas kendali adalah sesuatu yang sangat mengerikan. Begitu merambat, entah berapa banyak keluarga tak bersalah yang akan terkena dampaknya. Dibandingkan bencana ini, urusanku dengan Nindy sama sekali bukan apa-apa.

"Kamu nggak perlu buru-buru ke sini. Situasi kali ini kamu pasti paham. Aku kasih kamu satu hari untuk benar-benar pamit pada keluargamu. Terutama istrimu. Kalau nggak salah, kamu sudah menikah, 'kan?"

Langkahku terhenti, perasaanku campur aduk. Semua orang di regu sebenarnya tahu aku sudah menikah, tetapi Nindy tidak pernah datang ke markas, bahkan entah berapa kali dia menolak undangan acara keluarga regu dengan alasan sibuk bekerja.

Jadi, kapten dan rekan-rekanku hampir melupakan keberadaannya.

"Baik, Kapten." Setelah menutup telepon, aku menghela napas panjang.

Lima tahun menikah, aku sangat paham temperamen Nindy. Seorang wanita yang sepenuh hati mendalami ajaran agama, tidak pernah peduli pada urusan-urusanku.

Setiap kali aku mendapat tugas, meskipun dia tahu, paling-paling hanya menanyakan dua kalimat sekadar formalitas.

Selama ini, aku sudah terbiasa dengan sikapnya yang dingin. Perlahan, aku pun berhenti mengganggunya. Namun kali ini, keadaannya berbeda ....

Meskipun harus menghadapi wajah dingin Nindy, aku tetap berbalik menuju rumah. Lima menit perjalanan berlalu dengan cepat. Saat melihatnya lagi, wajahnya tidak sedingin yang kubayangkan.

Nindy sedang bersiap keluar dengan mobil, tampak anggun dan sangat memikat. Aku belum pernah melihatnya berdandan secantik itu.

"Ada hal penting yang mau kubicarakan." Aku berjalan ke sisi mobilnya, tetapi dia bahkan tidak menoleh.

Suaranya datar saat menyahut, "Kita bicara setelah aku pulang nanti. Aku ada urusan mendadak."

"Kamu mau ke mana?" Aku sedikit mengernyit, tidak menyingkir. Kebakaran hutan sedang genting. Aku tidak tahu apakah aku masih punya waktu untuk menunggunya pulang.

Adapun urusan mendadak Nindy selama ini, selain pekerjaan di kantor, hanya pergi berdoa ke kuil. Namun yang tak kusangka, di kursi penumpang depan duduk Chicco.

Nindy tidak menjawab, tetapi Chicco justru menjelaskan, "Maaf, Pak Ray. Siang ini perusahaanku ada acara. Nindy ingin menemaniku."

Setelah itu, dia menoleh ke Nindy. "Nindy, kalau begitu biar aku pergi sendiri saja."

"Nggak perlu, dia nggak ada urusan penting. Urusanmu lebih penting." Nindy menolak tanpa keraguan, langsung menyalakan mobil dan melaju pergi.

Aku terpaku cukup lama, lalu baru sadar kembali. Tenggorokanku seolah-olah tersumbat batu besar. Sakitnya menusuk.

Lima tahun bersama, entah berapa banyak undangan acara kerjaku yang dia tolak, tetapi untuk menghadiri acara Chicco, dia bisa berdandan cantik dan berangkat pagi-pagi.

Acara makan siang, tetapi dia sudah berangkat dari pagi ....

Nindy, kamu bilang orang yang mendalami ajaran agama tidak berbohong dan tidak berkhianat. Namun, Chicco jauh lebih seperti suamimu, seperti orang yang benar-benar kamu pedulikan. Apa kamu menghadiri acaranya juga demi anak itu?

Aku hanya merasa konyol dan menyedihkan. Tubuhku seolah-olah diliputi hawa dingin yang menusuk.

Setelah dia pergi, aku pun tidak punya alasan untuk tetap tinggal. Rumah yang dulu penuh kehangatan dan harapan, kini terasa begitu menolak kehadiranku.

Setiap langkah meninggalkan rumah seperti menginjak gelembung kenangan indah yang pecah satu per satu. Langkah demi langkah penuh keindahan, langkah demi langkah hancur.

Sampai malam hari, aku menerima pesan dari Nindy.

[ Malam ini aku ada waktu. Kita keluar makan. Kamu bilang mau bicara, 'kan? ]

Ajakan sederhana itu terasa seperti belas kasihan yang dilemparkan padaku. Setelah ragu lama, aku tetap memutuskan untuk bertemu dan berbicara soal perceraian.

Jika aku benar-benar tidak kembali nanti, setidaknya aku bisa pergi tanpa beban, tanpa terus terjerat dengannya.

Aku memesan restoran tempat kami kencan pertama, memintanya datang sendiri, jangan membawa siapa pun. Jika takdir dimulai di sana, tentu harus diakhiri di sana juga.

Tempat duduk yang familier, bahkan lonceng angin di sudut jendela masih sama. Namun, kami sudah bukan orang yang sama.

Dia tidak membalas pesanku. Aku menunggu sampai lewat pukul 9 malam. Restoran hampir tutup, tetapi Nindy tetap tidak datang. Benar-benar dewi yang kejam. Sudahlah, aku sudah terbiasa diabaikan.

Namun, saat aku hendak pergi, Nindy datang membawa Chicco dan Andrew.

"Kenapa mereka ikut?" Aku mengernyit. Ini pertemuan perpisahan, juga urusan hidup dan mati, jadi aku tidak ingin ada orang luar.

Namun, Nindy tidak peduli. "Aku baru siap lembur. Chicco dan Andrew juga belum makan. Kenapa memangnya kalau mereka ikut?"

Sambil berbicara, Chicco dan Andrew sudah duduk di hadapanku. Di sebelahku ada kursi kosong, tetapi Nindy hanya melirik sebentar, lalu duduk di samping mereka.

"Chicco bilang, sebagai permintaan maaf, makan malam ini dia yang traktir. Ray, belajarlah seperti dia. Jangan pelit." Kata-kata yang dia lontarkan secara blak-blakan itu membuat dadaku kembali tersobek, sakit bukan main.

Makan malam terakhir ini, aku tidak ingin berdebat. Aku ingin berpamitan dengan baik. Namun, dengan Chicco dan Andrew di sana, semua kata-kata yang sudah kupersiapkan tersangkut di tenggorokan.

Nindy, kalau kamu tahu aku ingin mengucapkan selamat tinggal terakhir malam ini, apakah kamu akan menyesal membawa orang lain?

Namun, itu tidak penting lagi. Toh sudah tidak ada kesempatan. Hati sang dewi terlalu dingin. Aku tak sanggup lagi menyentuhnya.

"Pak Ray, makan saja. Aku yang bayar. Nindy sangat baik. Aku juga berterima kasih karena kamu mau menerima Andrew. Benar-benar terima kasih!"

Chicco mengangkat gelas ke arahku. Aku tidak bergerak, membuatnya kaku dan canggung.

"Jangan pedulikan dia, kita minum saja. Hatinya terlalu sempit, nggak sedermawan kamu. Nggak usah sia-siakan niat baikmu."

Nindy mengangkat gelas dan mendentingkannya dengan gelas Chicco. Saat menghibur Chicco, dia tidak lupa merendahkanku. Nada suaranya lembut, bahkan mengajak Andrew.

"Cheers!" Mereka bertiga bersulang, tersenyum cerah, mengobrol tentang dekorasi rumah, tentang hal -hal kesukaan Andrew.

Pada saat itu, aku yang duduk di hadapan mereka justru menjadi orang asing yang menumpang meja.

"Nindy, kamu yang mengajakku atau dia yang mengajakku?" Aku tiba-tiba menyadari sesuatu.

"Tentu saja Chicco yang berniat minta maaf duluan. Aku mana punya waktu?" Nindy mengernyit. Satu kalimat itu menghancurkan sisa harapanku tentangnya.

Ironis sekali. Pertemuan terakhirku dengannya ... ternyata adalah kesempatan yang diperjuangkan oleh Chicco. Sakitnya membuatku justru mendapat keberanian untuk melepaskannya.

"Siang tadi regu memberitahuku, aku harus pergi bantu memadamkan kebakaran hutan. Situasinya berbahaya. Mungkin aku nggak akan pulang. Aku pikir, setidaknya kita urus perceraian dulu. Aku merestui kalian."

Setelah mengatakannya, aku merasa lega. Namun tak kusangka, ketiga orang di depanku ... tidak ada yang mendengar.

Tawa mereka tidak berhenti, bahkan tak menoleh ke arahku. Saat itu, aku merasa diriku benar-benar seperti lelucon. Baru saja terasa lega, hatiku kembali ditusuk tajam.

"Nindy, kamu dengar apa yang kubilang?"

"Mm, iya. Hati-hati ya." Nindy hanya sibuk mengambilkan makanan untuk Andrew, menjawabku secara asal.

Aku tertawa pahit. Bagaimana aku bisa bertahan lima tahun dalam pernikahan seperti ini? Jika dia tidak mau mendengar, biarlah.

Aku berdiri hendak pergi. Namun tiba-tiba, lampu gantung di atas kepala bergoyang dan jatuh menghantam tepat di kepalaku!

Suara ledakan keras terdengar. Lampu kaca pecah berantakan, darah mengalir di kepala dan wajahku. Aku terhuyung dan jatuh.

Semua orang di restoran menoleh, termasuk Nindy.

"Ray!" Ekspresinya berubah drastis. Dia berlari ke arahku tanpa pikir panjang.

Bab 4

Untuk pertama kalinya aku melihat Nindy begitu panik. Dia terlihat hampir menangis. Dan itu ... karena aku. Aku sedikit linglung, merasa dia masih mencintaiku.

Namun detik berikutnya, suara tangis Andrew terdengar. "Mama, Papa juga berdarah. Aku takut ...."

Nindy menoleh dan melihat Chicco juga memegangi lengannya yang berdarah. Tadi pecahan kaca terbang dan menggores lengannya, meninggalkan dua luka kecil.

"Chicco, aku antar kamu ke rumah sakit." Tanpa ragu sedikit pun, Nindy meninggalkanku dan menarik Chicco untuk pergi.

"Nindy, ajak Pak Ray juga. Lukanya lebih parah." Suara Chicco menyertai tangisan Andrew.

"Nggak, Papa. Aku takut darah, aku nggak mau dia!" Andrew menatapku dengan penuh penolakan.

Chicco tidak melanjutkan, hanya menatap Nindy. Beberapa detik saja, Nindy sudah membuat keputusan.

"Nggak bisa. Andrew bisa pingsan kalau lihat darah. Dia nggak boleh ikut. Biarkan saja, Ray itu petugas pemadam kebakaran. Dia mengerti pertolongan pertama, jadi dia bisa mengurus dirinya sendiri."

"Kita pergi!" Nindy menggendong Andrew sambil menarik tangan Chicco, pergi tanpa menoleh sedikit pun.

Darah membuat penglihatanku kabur. Kini, darah dan air mata bercampur membasahi wajahku.

Akhirnya, pemilik restoran menyuruh seseorang membawaku ke rumah sakit untuk pertolongan darurat.

Untung tidak ada masalah besar, hanya luka ringan. Setelah dibalut, sudah tidak apa-apa. Hanya saja, dibanding rasa sakit di tubuh, hatiku sudah lama mati rasa.

Adegan ketika Nindy meninggalkanku tanpa ragu tadi, seperti seribu jarum menusuk jantungku, membuatnya penuh lubang hingga darahnya habis.

Aku terbaring di ruang rawat dengan perasaan hampa. Aku sudah tidak berharap apa pun dari Nindy, hanya berharap lukaku tidak menghalangiku berangkat besok.

Malam itu, aku terus terbangun karena rasa sakit. Ponselku hening sepanjang malam. Nindy tidak mengirim satu pesan pun, seolah-olah Chicco dan Andrew adalah seluruh hidupnya, dan aku hanya orang asing yang tak ada hubungannya.

Pagi berikutnya, aku terbangun oleh telepon kapten.

"Halo, Kapten."

"Ray, sudah siap?"

"Ya, aku bisa kembali ke regu sekarang."

Kepalaku tidak sesakit semalam. Aku mencoba turun dari tempat tidur dan tubuhku sudah bisa digerakkan.

Tentang Nindy, terserah dia. Aku hanya manusia biasa, sedangkan dia adalah dewi yang tak terjangkau.

"Kamu nggak perlu buru-buru. Kebakaran hutan kali ini sangat serius. Regu menunggu peralatan pemadam dari pusat. Begitu peralatan datang, kita langsung berangkat. Pemberitahuannya siang. Nanti aku kabari waktu tepatnya."

Telepon ditutup dan aku terpaku. Tambahan setengah hari waktu, tetapi aku tidak punya tempat untuk kembali.

Pulang? Tidak. Di sisa waktuku yang mungkin terakhir, aku tidak mau mempermalukan diriku sendiri lagi.

Saat itu, Nindy meneleponku. "Ray, jangan pulang dulu. Andrew nggak suka kamu. Dia bilang setiap kali kamu muncul, papanya selalu nggak senang atau terjadi kecelakaan. Anak itu masih kecil, biarkan dia menyesuaikan diri."

"Aku sudah memesankan hotel untukmu. Barang-barangmu akan dikirimkan oleh kepala pelayan. Untuk sementara ini, Chicco akan tinggal di rumah."

"Dia tidur di kamarmu. Kami nggak melakukan apa-apa, jadi kamu bisa tenang soal itu." Nada Nindy tetap seperti biasa, hanya sekadar pemberitahuan.

"Sudah ya, aku mau rapat. Aku tutup dulu."

Telepon berakhir dengan nada sibuk. Hatiku kembali tercabik-cabik. Nindy, kamu semakin keterlaluan.

Sejak pertama kali aku menyadari kejanggalan, lalu kamu mengadopsi anak, kemudian Chicco masuk rumah dengan alasan yang masuk akal, hingga kini kamu mengusirku keluar.

Kamu hanya belum terang-terangan mengakui hubunganmu dengan Chicco. Namun, sebagai dewi yang luhur, kamu memang meremehkan aku yang hanya manusia biasa ini. Sudahlah, anggap saja lima tahun masa mudaku sia-sia.

Menjelang keberangkatan ke garis terdepan kebakaran, aku justru menjadi lebih lega. Aku tak mau lagi terikat oleh urusan rumah tangga.

Setelah keluar dari rumah sakit, aku menuju hotel dan mengambil koperku. Yang tak kuduga, kepala pelayan juga mengirimkan laptop Nindy. Mungkin dia mengira itu milikku.

Karena laptop itu adalah hadiah yang kuberikan pada Nindy saat hari jadi kami. Waktu itu aku salah beli warna hitam, tetapi dia tidak keberatan dan memakainya sampai sekarang.

Itu laptop kerjanya. Aku awalnya tidak mau menyentuhnya. Namun, aku teringat di dalamnya ada banyak foto dan video masa pacaran kami. Saat itu dia belum terobsesi pada ajaran agama dan kami masih bahagia.

Karena aku akan pergi, sebaiknya aku hapus semua agar tidak menyakitkan mataku. Aku membuka laptopnya, berniat menghapus semuanya.

Tak kusangka, saat membuka laptop itu, akun WhatsApp-nya secara otomatis terbuka. Kotak obrolan paling atas begitu menusuk mata.

Chicco. Bukan hanya dipin di paling atas, pria itu bahkan mendapat catatan nama khusus satu huruf, "C".

Satu huruf sederhana, tetapi penuh ambigu. Sedangkan aku? Setiap hari aku mengiriminya puluhan pesan, tetapi tak ada satu pun jejakku terlihat di daftar obrolan.

Dadaku terasa nyeri. Aku menggulir ke bawah. Ruang obrolan dengan Chicco adalah satu-satunya yang dipin. Di bawahnya adalah grup perusahaan, beberapa wakil direktur, dan klien. Lebih ke bawah lagi ada grup belajar agama, teman-teman seiman, kepala kuil.

Paling bawah barulah aku, di urutan entah ke berapa puluh. Yang terpampang hanyalah nama akun WhatsApp-ku. Lima tahun menikah, aku bahkan tidak pantas mendapat nama khusus?

Yang lebih menyakitkan, aku satu-satunya kontak yang dia setel "jangan ganggu". Pantas saja setiap hari aku mengirim puluhan pesan, dia hanya membalas beberapa kata tiga hari sekali. Ternyata sejak awal, di mata sang dewi, aku tidak pernah ada.

Inilah pernikahan yang selama ini kupikir bahagia.

Tiba-tiba, rasanya sangat ironis. Satu huruf itu seolah-olah berubah menjadi monster yang mencabik-cabik hatiku, mengoyakku hingga hancur, lalu menenggelamkanku ke dasar laut.

Sakitnya sampai menusuk tulang, dinginnya sampai mematikan. Aku hampir sulit bernapas.

Aku hendak menutup WhatsApp, tetapi sebuah notifikasi muncul. Pesan dari Chicco. Itu adalah belasan foto saat Nindy dan Chicco menemani Andrew ikut lomba permainan di sekolah.

Foto pertama, Nindy, Chicco, dan Andrew memakai baju keluarga, berpegangan tangan, tersenyum bahagia.

Foto kedua, Nindy dan Chicco berdiri sangat dekat, bersama-sama mengangkat Andrew untuk memecahkan balon.

Foto ketiga, Andrew memegang sepotong biskuit, lalu mereka berdua menggigit dari dua sisi. Jarak bibir tinggal dua atau tiga sentimeter.

Foto-foto berikutnya semakin intim dari sebelumnya.

Dadaku sesak, tak bisa bernapas. Aku belum pernah melihat dewi yang dingin itu begitu bebas dan bahagia.

Di sudut kanan bawah ada watermark. Foto-foto itu diambil sepuluh menit lalu. Aku tertawa sinis. Pantas dia tidak membiarkanku pulang. Takut aku melihat ini.

Nindy, kamu bilang kamu sedang rapat. Bukankah katanya orang yang mendalami ajaran agama tidak boleh berbohong? Namun, kenapa dalam pernikahan kita ... hanya ada kebohongan?

Bab 5

Aku secara naluriah ingin segera menelepon Nindy untuk bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Namun kemudian, aku merasa itu tidak ada artinya. Faktanya sudah sangat jelas.

Meskipun dia tidak setuju bercerai, aku akan pergi dan belum tentu bisa selamat kembali. Sudahlah.

Aku meletakkan ponsel. Sebelum pergi, aku tidak ingin menambah beban sendiri. Awalnya aku hanya ingin mematikan laptop, lalu mengambil koper dan pergi, tetapi tak kusangka Chicco kembali mengirim pesan.

Kali ini sebuah video. Sampul videonya adalah dia dan Nindy berdiri bersama di atas panggung. Kebahagiaan manis hampir meluap dari layar. Baru saja direkam?

Hatiku bergetar, tetapi tetap memutar videonya.

Di atas panggung tadinya berdiri seorang guru, mengundang orang tua Andrew naik untuk menceritakan kisah cinta mereka. Nindy menggenggam tangan Chicco dan naik. Dewi yang katanya tidak menginginkan apa pun itu, kini malah terlihat malu-malu.

Nindy berkata terlebih dahulu, "Chicco adalah cinta pertama masa kecilku. Sejak SD, kami selalu sekelas, sampai akhirnya dia baru menyatakan cinta padaku waktu kuliah ...."

"Setelah lulus, kami melangkah ke dalam istana pernikahan dengan bahagia. Keberuntungan terbesar dalam hidupku adalah bertemu seorang pria yang begitu mencintaiku dan begitu sempurna."

Mataku langsung membelalak. Chicco adalah cinta pertama Nindy? Padahal waktu kami pacaran, dia jelas berkata akulah cinta pertamanya. Dia bilang dirinya seperti selembar kertas putih, memintaku menjaganya baik-baik.

Aku pun berjanji sepenuh hati, memanjakannya saat pacaran. Setelah menikah, bahkan rasanya aku ingin memberikan bintang-bintang di langit untuknya. Aku selalu menghormati setiap keinginannya.

Pada akhirnya, ini hasilnya? Hatiku seperti ditarik secara paksa, lalu dibanting ke lantai dan diinjak-injak sampai hancur. Saking sakitnya, aku hampir tidak bisa bernapas. Aku jatuh terduduk dan tubuhku gemetar tanpa henti. Air mata mengaburkan penglihatanku.

Nindy ... ternyata selama ini kamu membohongiku. Kebohongan sang dewi sudah dimulai sejak masa pacaran. Bukan pernikahan kami penuh kebohongan. Dia tidak pernah mengatakan satu kalimat jujur pun kepadaku ....

Video terus berlanjut. Terdengar suara kekaguman dari para orang tua di luar layar. Ada yang menyuruh Nindy menceritakan lebih banyak hal-hal romantis apa yang pernah terjadi.

Aku tersenyum pahit. Saat baru bersama Nindy, aku juga pernah menyiapkan kejutan-kejutan romantis untuknya. Namun, reaksinya semakin lama semakin dingin. Dia pernah berkata terus terang bahwa dia paling membenci hal-hal romantis. Bagi orang yang belajar agama, romantis itu tidak berguna, tidak sebanding dengan ketulusan.

Aku percaya padanya. Aku menekan perasaanku, menemaninya dalam kehidupan yang hambar, hanya untuk membuktikan ketulusanku. Namun, hati ini sudah lama dia hancurkan berkali-kali.

Di video kembali terdengar suara lembut dan malu-malu Nindy. "Kami tentu kami punya banyak hal romantis. Dia itu pria yang sangat romantis, sudah tak terhitung berapa banyak kejutan yang dia buat untukku."

"Saat baru bersama, dia begadang tiga malam untuk diam-diam merajutkan tas untukku, bahkan nggak berani memberikannya langsung, dan bohong bilang itu hadiah undian. Saat itu, melihat dia menguap terus dengan mata panda, aku bersumpah dalam hati bahwa hidupku hanya untuk dia."

Nindy dan Chicco berpegangan tangan dengan erat, saling memandang penuh kasih. "Tas itu masih kusimpan sampai sekarang."

"Lalu suatu hari setelah kami menikah, aku asal bilang masakan kantor nggak cocok dengan seleraku. Malamnya saat aku pulang, dia sudah menyiapkan satu meja penuh hidangan yang dia masak sendiri."

"Setiap hidangan adalah favoritku. Belakangan baru kuketahui, demi mencari bahan terbaik, dia keliling kota setengah hari, memasak sampai kedua tangannya penuh luka bakar."

Nindy mengangkat kedua tangan Chicco dengan penuh emosi dan menciumnya di depan umum. "Aku nggak akan pernah lupa hal itu. Saat itu, aku menyayanginya, bilang dia bodoh, tapi dia bilang dia nggak menyesal dan hanya ingin melihatku tersenyum."

"Dan waktu aku demam tinggi, dia menemani tiga hari tiga malam tanpa tidur sampai akhirnya masuk rumah sakit. Dia bilang, nyawaku lebih penting dari nyawanya ...."

Setiap kali Nindy mengisahkan sesuatu, terdengar suara iri para orang tua. Suara-suara itu seperti pisau yang menusuk hatiku. Sakitnya sampai ke dalam tulang.

Videonya masih panjang, tetapi aku langsung mematikan laptop. Karena aku sudah tidak sanggup mendengarnya.

Sakit, luluh lantak .... Setiap kisah romantis itu seperti ribuan sayatan di tubuhku.

Semua itu ... jelas-jelas adalah hal-hal yang kulakukan untukmu! Aku memekik dalam hati. Hatiku membeku.

Ternyata sang dewi bukan tidak punya perasaan. Dia bukan sosok yang dingin atau tak peduli. Sikap dingin itu ... hanya ditujukan padaku seorang.

Semua kebaikan yang kuberikan padanya, dia ingat. Namun, semuanya dia akui sebagai perbuatan pria lain. Padahal sama sekali bukan begitu.

Tas yang kuanyam tiga malam, dia hanya bilang terima kasih, lalu tidak pernah memakainya lagi. Setiap kali kutanyakan, dia hanya bilang tidak suka modelnya. Aku menyesal berhari-hari, menyalahkan diri karena tidak memahami seleranya.

Hidangan yang kusajikan untuknya, dia tidak makan sampai habis. Dia bahkan memarahiku habis-habisan, bilang sebagai seorang yang belajar agama, dia pantang kemewahan dan pemborosan. Menurutnya, aku melakukan itu karena tidak menghormatinya.

Aku menjelaskan dengan panik, bilang aku hanya ingin membuatnya tersenyum. Namun, Nindy tidak memedulikanku, lalu tinggal di kuil selama seminggu.

Tentang luka bakar di tanganku, kupikir dia tidak mengetahuinya. Sekarang aku sadar, dia tahu. Hanya saja, dia malas peduli.

Saat dia demam tinggi, akulah yang mengambil cuti dari tim dan menjaganya siang malam. Dia menyuruhku pergi. Kukira karena dia merasa tidak tega padaku, tetapi yang kudapat justru hanya rasa muaknya.

Katanya demam itu ujian dari Tuhan, bahkan sebuah berkah. Dia melarangku masuk kamarnya selangkah pun, bilang aku kotor dan bodoh.

Aku sampai tidak bisa tidur karena menyalahkan diri, lalu mempelajari ajaran agama siang malam. Namun, tidak pernah kutemukan ajaran bahwa "sakit itu berkah" seperti yang dia bilang. Kupikir aku yang bodoh, tetapi ternyata itu hanya alasannya untuk menjauhiku.

Jadi, dia bukan tidak mengerti kebaikanku. Dia hanya memberikan hatinya pada orang lain dan tak sudi menerima hatiku.

Nindy, ini salahku. Salahku karena pernah bertemu denganmu. Tidak ada yang lebih menyedihkan dari hati yang mati.

Air mata sudah habis. Aku justru merasa lega, bersyukur karena ada setengah hari ini untuk mengetahui semua kebenaran. Pernikahan konyol ini memang harus diakhiri.

Dewi tidak punya cinta, maka manusia biasa ini harus berhenti berharap. Aku meminta kertas dan pena dari resepsionis hotel, menulis sepucuk surat perpisahan.

[ Nindy, mau kamu setuju atau nggak, mau kamu sedang dalam masa pantangan atau nggak, kita resmi berakhir. ]

[ Aku merelakanmu dan cinta pertamamu, Chicco. ]

[ Andrew itu pasti anak kandung kalian berdua, 'kan? Aku nggak ngerti, kamu sudah menutupinya begitu keras, begitu lelah bersamaku, kenapa kamu masih menikah denganku? ]

[ Lima tahun membuatku sadar betapa konyolnya aku selama lima tahun ini. Terus terang, aku menangis sampai air mataku habis, tapi bukan untukmu, melainkan karena aku merasa diriku nggak pantas diperlakukan seperti ini! ]

[ Sebagai suamimu, aku membencimu sampai ke tulang. Tapi sebagai seorang petugas pemadam kebakaran, aku nggak menyesal telah menyelamatkan kalian bertiga di hotel itu. Sekarang, aku akan berangkat tugas lagi. ]

[ Anggap saja aku mati dalam tugas ini. Kita nggak akan pernah bertemu lagi. Surat ini adalah surat perpisahan. ]

Diabaikan! Mati Satu, Tumbuh Seribu!

Bab 3
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya