Bab 2
Setelah menikah, Nindy selalu beralasan bahwa mendalami agama membutuhkan ketenangan. Oleh karena itu, dia tidak pernah mengizinkanku tidur di kamarnya. Bahkan pada tanggal 16 setiap bulan, setelah urusan suami istri selesai, aku hanya boleh membantunya merapikan seprai. Setelah itu, aku pergi sendirian.
Sekarang, aku tiba-tiba tersadar bahwa semua aturan ketat yang Nindy buat hanyalah alasannya untuk menjaga jarak dariku. Saat ini, rasa sakit yang begitu dahsyat membuatku sampai tidak bisa bersuara. Tangan dan kakiku mulai mati rasa, seluruh tubuhku seperti kehilangan daya untuk bergerak, dan jantungku …. Aku merasa seperti ada ribuan jarum yang menusuk jantungku di saat yang sama.
Namun, Nindy tetap tidak berniat menjelaskan apa pun. Dia justru memasang ekspresi dingin. "Siapa yang menyuruhmu masuk tanpa mengetuk? Kamu masih tahu aturan nggak? Keluar!"
Aku menunjuk diriku sendiri, lalu menatap Chicco dan tiba-tiba merasa semuanya sangat menyedihkan. Istriku bisa membiarkan pria asing tidur di kamarnya, bahkan hanya memakai handuk dan membiarkan pria itu mengeringkan rambutnya ....
Sedekat itukah hubungan mereka? Padahal aku adalah suami sahnya, tetapi dia malah berekpektasi agar aku harus mengetuk pintu kamarnya dulu sebelum masuk?
Nindy, kamu bukan hanya tidak menganggapku sebagai suamimu. Kamu bahkan tidak menganggap pernikahan ini ada. Aku benar-benar kecewa padamu.
"Nindy, kita cerai saja."
Lima tahun menikah, apa pun permintaan dingin dan tak masuk akalnya, aku selalu mengiakan. Bertahun-tahun ini, aku terbiasa memperlakukannya dengan lembut. Ini pertama kalinya aku bersikap dingin kepadanya.
"Cerai? Hanya karena ini?" Nindy tertegun, wajahnya penuh keterkejutan. Dia refleks menggeleng dan menolak, "Nggak, aku nggak mau cerai."
Ketegasannya membuatku terkejut. Kupikir hubungannya dengan Chicco sudah jelas dan dia hanya menungguku untuk mundur. Namun, dia menolaknya begitu cepat. Apa dia masih ingin mempertahankan rumah tangga kami?
Lima tahun aku sungguh-sungguh mencintainya sehingga aku secara naluriah mencari alasan untuk membelanya. Namun, kalimat Nindy berikutnya langsung melemparkanku ke dasar neraka!
"Aku lagi dalam masa disiplin. Bercerai sekarang adalah pelanggaran. Kamu mau cerai? Tunggu sampai masa disiplinku selesai."
Wajah Nindy sedingin es, nadanya tak memberi ruang untuk menyanggah. Ternyata selama ini aku hanya menghibur diri. Aku tertawa pahit, bahkan merasa mual oleh rasa perih di hati.
Aku baru sadar, ternyata selama ini dia bukan hanya tidak mengganggapku sebagai suaminya, bahkan baginya aku bukan manusia yang layak untuk dipertimbangkan. Lima tahun pernikahan, aku bahkan tak punya hak untuk mengajukan perceraian. Aku selalu berada di bawah aturan-aturannya.
"Nindy, maaf. Kamu jangan sampai cerai dengan Pak Ray gara-gara aku dan anakku. Aku nggak ingin merusak pernikahan kalian. Kalau memang begini jadinya, sebaiknya aku pergi. Andrew, pakai bajumu. Ini bukan rumah kita."
Chicco menghela napas dengan sedih, menggendong Andrew, dan bersiap pergi. Aku menutup mata, tak ingin melihat sandiwara penuh belas kasihan itu.
Apa yang Chicco katakan memang benar. Ini memang bukan rumah mereka, tetapi rumah yang sudah lima tahun kutata dan kuatur dengan hati-hati. Berani-beraninya mereka mengambil tempatku?
Namun tak kusangka, Nindy justru menghentikan mereka. "Barang-barang Andrew sudah dibereskan. Mana mungkin aku biarkan kalian pindah? Tinggallah. Ini urusan antara aku dan dia, nggak ada hubungannya dengan kalian."
Nindy menatapku, tatapannya setajam pisau. "Yang harus pergi itu bukan dia, tapi kamu. Andrew masih kecil. Kamu laki-laki dewasa nggak bisa sedikit berlapang dada? Apa kamu harus memaksa mereka ke jalan buntu?"
Setiap kata menusukku seperti bilah yang melukai sampai ke usus. Ternyata aku yang memaksa mereka ke jalan buntu? Apa aku harus sebaik itu, sampai ikut bertepuk tangan melihat mereka bermesraan?
Aku ingin bertanya, tetapi saat aku melihat wajah dingin Nindy, semua terasa tak ada artinya lagi. Pergilah. Sampai tahap ini, daripada terus menjadi lelucon, lebih baik semuanya diakhiri.
Aku pergi tanpa suara. Aku kembali ke kamarku, membereskan pakaian dan barang-barang, bersiap pindah dari rumah ini. Ironisnya, lima tahun menikah aku tak pernah membeli apa pun untuk diriku sendiri. Semua pikiranku hanya tertuju pada Nindy dan rumah ini.
Pada akhirnya, barang-barang yang benar-benar milikku hanya cukup memenuhi satu koper kecil, yang bisa dibereskan kurang dari satu jam.
Tak ada lagi jejakku di kamar ini. Lima tahun pernikahan kami pun resmi berakhir.
Sebelum pergi, kutinggalkan sepucuk surat perpisahan. Tak ada banyak kata, hanya memberi tahu bahwa hari Senin depan kami akan bertemu di pengadilan negeri.
Namun, saat membuka pintu, aku melihat Nindy berdiri di luar. Melihatku menenteng koper, keningnya langsung berkerut.
"Kamu mau ke mana?"
"Memberi kalian ruang. Hubungan kita sudah selesai."
Aku mencoba melewatinya, tetapi dia menghalangi dan mendorongku kembali.
"Ray, Andrew masih di rumah. Kamu mau membuat semuanya jadi memalukan di depan seorang anak kecil? Aku menyuruhmu pergi ke kamarmu, bukan pergi dari rumah ini."
Kamarku sudah rapi. Nindy langsung melihat surat itu. Setelah membaca isinya, dia tanpa ragu merobek surat itu dan menatapku dengan marah.
"Ray, aku bilang sekali lagi, aku nggak setuju cerai. Kalau kamu masih berani punya pikiran begitu, kamu tahu akibatnya!"
"Akibat apa?" Dengan hati yang hancur, aku balik menantang. "Melanggar aturanmu? Tapi saat kamu berbaring di pelukan Chicco, hanya memakai handuk dan membiarkan dia mengeringkan rambutmu, saat kamu berlaku seperti ibu Andrew, apa kamu ingat aturanmu? Kamu ingat agamamu?"
Belum selesai aku berbicara, wajah Nindy menggelap dan dia menamparku dengan keras. "Diam! Berani sekali kamu menghina agamaku!"
Aku terpaku. Tak pernah kusangka Nindy akan menamparku. Lima tahun menikah, meskipun sikapnya dingin, kami setidaknya saling menghormati. Tak pernah separah ini. Kini, tamparan itu menghancurkan sisa perasaanku padanya.
"Nindy, anggap saja aku nggak sanggup mengikuti aturanmu lagi. Lebih baik kita pisah baik-baik. Kita pernah hidup bersama, jadi nggak perlu membuat hubungan sekacau ini."
Ketegasanku seperti menyadarkannya sejenak. Wajah dinginnya sedikit melunak. "Aku memang salah karena menamparmu. Aku bisa minta maaf. Tapi kamu tahu itu hal yang paling aku jaga dan justru kamu menyerangku dari sana."
Mendengar dia memutarbalikkan kesalahan, aku hanya mencibir. "Terserah kamu mau pikir apa."
Kata-kata itu kukembalikan padanya bulat-bulat.
Nindy terdiam sejenak, lalu tampak marah lagi. "Ray, kenapa kita nggak bisa saling percaya sedikit? Orang yang mendalami agama nggak berbohong. Kalau aku bilang aku nggak akan mengkhianati pernikahan ini, berarti memang nggak akan. Kenapa kamu harus melawan?"
Aku berkata tanpa ekspresi, "Aku hanya ingin menghentikan kerugianku."
Nindy tampak frustrasi, lalu merebut koperku. "Kamu mau ke mana terserah. Tapi aku nggak setuju cerai."
Setelah mengatakan itu, dia pergi.
Barulah aku sadar tubuhku pun gemetar disertai rasa sakit yang menghantam. Jantungku seperti diremas oleh tangan tak kasatmata, membuatku sulit bernapas.
Apa Nindy berpikir hanya karena dia mengambil koperku, aku tidak bisa pergi? Dia salah. Itu hanya pakaian dan barang-barang harian. Aku bisa membelinya lagi. Yang aku tidak tahan adalah tinggal di sini.
Jadi, aku tetap pergi. Begitu keluar, aku menerima telepon dari tim.
Bab 3
"Halo, Kapten."
"Ray, ada kabar buruk. Semalam terjadi kebakaran hutan di pegunungan wilayah barat. Tiga regu sudah memadamkan mati-matian, tapi api masih sulit dikendalikan. Giliran kita sebentar lagi."
"Nggak masalah, aku selalu siap!"
Seketika, sarafku menegang, tak sempat lagi merasakan sakit di hati. Aku bersiap naik taksi menuju markas untuk siaga.
Kebakaran hutan yang lepas kendali adalah sesuatu yang sangat mengerikan. Begitu merambat, entah berapa banyak keluarga tak bersalah yang akan terkena dampaknya. Dibandingkan bencana ini, urusanku dengan Nindy sama sekali bukan apa-apa.
"Kamu nggak perlu buru-buru ke sini. Situasi kali ini kamu pasti paham. Aku kasih kamu satu hari untuk benar-benar pamit pada keluargamu. Terutama istrimu. Kalau nggak salah, kamu sudah menikah, 'kan?"
Langkahku terhenti, perasaanku campur aduk. Semua orang di regu sebenarnya tahu aku sudah menikah, tetapi Nindy tidak pernah datang ke markas, bahkan entah berapa kali dia menolak undangan acara keluarga regu dengan alasan sibuk bekerja.
Jadi, kapten dan rekan-rekanku hampir melupakan keberadaannya.
"Baik, Kapten." Setelah menutup telepon, aku menghela napas panjang.
Lima tahun menikah, aku sangat paham temperamen Nindy. Seorang wanita yang sepenuh hati mendalami ajaran agama, tidak pernah peduli pada urusan-urusanku.
Setiap kali aku mendapat tugas, meskipun dia tahu, paling-paling hanya menanyakan dua kalimat sekadar formalitas.
Selama ini, aku sudah terbiasa dengan sikapnya yang dingin. Perlahan, aku pun berhenti mengganggunya. Namun kali ini, keadaannya berbeda ....
Meskipun harus menghadapi wajah dingin Nindy, aku tetap berbalik menuju rumah. Lima menit perjalanan berlalu dengan cepat. Saat melihatnya lagi, wajahnya tidak sedingin yang kubayangkan.
Nindy sedang bersiap keluar dengan mobil, tampak anggun dan sangat memikat. Aku belum pernah melihatnya berdandan secantik itu.
"Ada hal penting yang mau kubicarakan." Aku berjalan ke sisi mobilnya, tetapi dia bahkan tidak menoleh.
Suaranya datar saat menyahut, "Kita bicara setelah aku pulang nanti. Aku ada urusan mendadak."
"Kamu mau ke mana?" Aku sedikit mengernyit, tidak menyingkir. Kebakaran hutan sedang genting. Aku tidak tahu apakah aku masih punya waktu untuk menunggunya pulang.
Adapun urusan mendadak Nindy selama ini, selain pekerjaan di kantor, hanya pergi berdoa ke kuil. Namun yang tak kusangka, di kursi penumpang depan duduk Chicco.
Nindy tidak menjawab, tetapi Chicco justru menjelaskan, "Maaf, Pak Ray. Siang ini perusahaanku ada acara. Nindy ingin menemaniku."
Setelah itu, dia menoleh ke Nindy. "Nindy, kalau begitu biar aku pergi sendiri saja."
"Nggak perlu, dia nggak ada urusan penting. Urusanmu lebih penting." Nindy menolak tanpa keraguan, langsung menyalakan mobil dan melaju pergi.
Aku terpaku cukup lama, lalu baru sadar kembali. Tenggorokanku seolah-olah tersumbat batu besar. Sakitnya menusuk.
Lima tahun bersama, entah berapa banyak undangan acara kerjaku yang dia tolak, tetapi untuk menghadiri acara Chicco, dia bisa berdandan cantik dan berangkat pagi-pagi.
Acara makan siang, tetapi dia sudah berangkat dari pagi ....
Nindy, kamu bilang orang yang mendalami ajaran agama tidak berbohong dan tidak berkhianat. Namun, Chicco jauh lebih seperti suamimu, seperti orang yang benar-benar kamu pedulikan. Apa kamu menghadiri acaranya juga demi anak itu?
Aku hanya merasa konyol dan menyedihkan. Tubuhku seolah-olah diliputi hawa dingin yang menusuk.
Setelah dia pergi, aku pun tidak punya alasan untuk tetap tinggal. Rumah yang dulu penuh kehangatan dan harapan, kini terasa begitu menolak kehadiranku.
Setiap langkah meninggalkan rumah seperti menginjak gelembung kenangan indah yang pecah satu per satu. Langkah demi langkah penuh keindahan, langkah demi langkah hancur.
Sampai malam hari, aku menerima pesan dari Nindy.
[ Malam ini aku ada waktu. Kita keluar makan. Kamu bilang mau bicara, 'kan? ]
Ajakan sederhana itu terasa seperti belas kasihan yang dilemparkan padaku. Setelah ragu lama, aku tetap memutuskan untuk bertemu dan berbicara soal perceraian.
Jika aku benar-benar tidak kembali nanti, setidaknya aku bisa pergi tanpa beban, tanpa terus terjerat dengannya.
Aku memesan restoran tempat kami kencan pertama, memintanya datang sendiri, jangan membawa siapa pun. Jika takdir dimulai di sana, tentu harus diakhiri di sana juga.
Tempat duduk yang familier, bahkan lonceng angin di sudut jendela masih sama. Namun, kami sudah bukan orang yang sama.
Dia tidak membalas pesanku. Aku menunggu sampai lewat pukul 9 malam. Restoran hampir tutup, tetapi Nindy tetap tidak datang. Benar-benar dewi yang kejam. Sudahlah, aku sudah terbiasa diabaikan.
Namun, saat aku hendak pergi, Nindy datang membawa Chicco dan Andrew.
"Kenapa mereka ikut?" Aku mengernyit. Ini pertemuan perpisahan, juga urusan hidup dan mati, jadi aku tidak ingin ada orang luar.
Namun, Nindy tidak peduli. "Aku baru siap lembur. Chicco dan Andrew juga belum makan. Kenapa memangnya kalau mereka ikut?"
Sambil berbicara, Chicco dan Andrew sudah duduk di hadapanku. Di sebelahku ada kursi kosong, tetapi Nindy hanya melirik sebentar, lalu duduk di samping mereka.
"Chicco bilang, sebagai permintaan maaf, makan malam ini dia yang traktir. Ray, belajarlah seperti dia. Jangan pelit." Kata-kata yang dia lontarkan secara blak-blakan itu membuat dadaku kembali tersobek, sakit bukan main.
Makan malam terakhir ini, aku tidak ingin berdebat. Aku ingin berpamitan dengan baik. Namun, dengan Chicco dan Andrew di sana, semua kata-kata yang sudah kupersiapkan tersangkut di tenggorokan.
Nindy, kalau kamu tahu aku ingin mengucapkan selamat tinggal terakhir malam ini, apakah kamu akan menyesal membawa orang lain?
Namun, itu tidak penting lagi. Toh sudah tidak ada kesempatan. Hati sang dewi terlalu dingin. Aku tak sanggup lagi menyentuhnya.
"Pak Ray, makan saja. Aku yang bayar. Nindy sangat baik. Aku juga berterima kasih karena kamu mau menerima Andrew. Benar-benar terima kasih!"
Chicco mengangkat gelas ke arahku. Aku tidak bergerak, membuatnya kaku dan canggung.
"Jangan pedulikan dia, kita minum saja. Hatinya terlalu sempit, nggak sedermawan kamu. Nggak usah sia-siakan niat baikmu."
Nindy mengangkat gelas dan mendentingkannya dengan gelas Chicco. Saat menghibur Chicco, dia tidak lupa merendahkanku. Nada suaranya lembut, bahkan mengajak Andrew.
"Cheers!" Mereka bertiga bersulang, tersenyum cerah, mengobrol tentang dekorasi rumah, tentang hal -hal kesukaan Andrew.
Pada saat itu, aku yang duduk di hadapan mereka justru menjadi orang asing yang menumpang meja.
"Nindy, kamu yang mengajakku atau dia yang mengajakku?" Aku tiba-tiba menyadari sesuatu.
"Tentu saja Chicco yang berniat minta maaf duluan. Aku mana punya waktu?" Nindy mengernyit. Satu kalimat itu menghancurkan sisa harapanku tentangnya.
Ironis sekali. Pertemuan terakhirku dengannya ... ternyata adalah kesempatan yang diperjuangkan oleh Chicco. Sakitnya membuatku justru mendapat keberanian untuk melepaskannya.
"Siang tadi regu memberitahuku, aku harus pergi bantu memadamkan kebakaran hutan. Situasinya berbahaya. Mungkin aku nggak akan pulang. Aku pikir, setidaknya kita urus perceraian dulu. Aku merestui kalian."
Setelah mengatakannya, aku merasa lega. Namun tak kusangka, ketiga orang di depanku ... tidak ada yang mendengar.
Tawa mereka tidak berhenti, bahkan tak menoleh ke arahku. Saat itu, aku merasa diriku benar-benar seperti lelucon. Baru saja terasa lega, hatiku kembali ditusuk tajam.
"Nindy, kamu dengar apa yang kubilang?"
"Mm, iya. Hati-hati ya." Nindy hanya sibuk mengambilkan makanan untuk Andrew, menjawabku secara asal.
Aku tertawa pahit. Bagaimana aku bisa bertahan lima tahun dalam pernikahan seperti ini? Jika dia tidak mau mendengar, biarlah.
Aku berdiri hendak pergi. Namun tiba-tiba, lampu gantung di atas kepala bergoyang dan jatuh menghantam tepat di kepalaku!
Suara ledakan keras terdengar. Lampu kaca pecah berantakan, darah mengalir di kepala dan wajahku. Aku terhuyung dan jatuh.
Semua orang di restoran menoleh, termasuk Nindy.
"Ray!" Ekspresinya berubah drastis. Dia berlari ke arahku tanpa pikir panjang.
Bab 4
Untuk pertama kalinya aku melihat Nindy begitu panik. Dia terlihat hampir menangis. Dan itu ... karena aku. Aku sedikit linglung, merasa dia masih mencintaiku.
Namun detik berikutnya, suara tangis Andrew terdengar. "Mama, Papa juga berdarah. Aku takut ...."
Nindy menoleh dan melihat Chicco juga memegangi lengannya yang berdarah. Tadi pecahan kaca terbang dan menggores lengannya, meninggalkan dua luka kecil.
"Chicco, aku antar kamu ke rumah sakit." Tanpa ragu sedikit pun, Nindy meninggalkanku dan menarik Chicco untuk pergi.
"Nindy, ajak Pak Ray juga. Lukanya lebih parah." Suara Chicco menyertai tangisan Andrew.
"Nggak, Papa. Aku takut darah, aku nggak mau dia!" Andrew menatapku dengan penuh penolakan.
Chicco tidak melanjutkan, hanya menatap Nindy. Beberapa detik saja, Nindy sudah membuat keputusan.
"Nggak bisa. Andrew bisa pingsan kalau lihat darah. Dia nggak boleh ikut. Biarkan saja, Ray itu petugas pemadam kebakaran. Dia mengerti pertolongan pertama, jadi dia bisa mengurus dirinya sendiri."
"Kita pergi!" Nindy menggendong Andrew sambil menarik tangan Chicco, pergi tanpa menoleh sedikit pun.
Darah membuat penglihatanku kabur. Kini, darah dan air mata bercampur membasahi wajahku.
Akhirnya, pemilik restoran menyuruh seseorang membawaku ke rumah sakit untuk pertolongan darurat.
Untung tidak ada masalah besar, hanya luka ringan. Setelah dibalut, sudah tidak apa-apa. Hanya saja, dibanding rasa sakit di tubuh, hatiku sudah lama mati rasa.
Adegan ketika Nindy meninggalkanku tanpa ragu tadi, seperti seribu jarum menusuk jantungku, membuatnya penuh lubang hingga darahnya habis.
Aku terbaring di ruang rawat dengan perasaan hampa. Aku sudah tidak berharap apa pun dari Nindy, hanya berharap lukaku tidak menghalangiku berangkat besok.
Malam itu, aku terus terbangun karena rasa sakit. Ponselku hening sepanjang malam. Nindy tidak mengirim satu pesan pun, seolah-olah Chicco dan Andrew adalah seluruh hidupnya, dan aku hanya orang asing yang tak ada hubungannya.
Pagi berikutnya, aku terbangun oleh telepon kapten.
"Halo, Kapten."
"Ray, sudah siap?"
"Ya, aku bisa kembali ke regu sekarang."
Kepalaku tidak sesakit semalam. Aku mencoba turun dari tempat tidur dan tubuhku sudah bisa digerakkan.
Tentang Nindy, terserah dia. Aku hanya manusia biasa, sedangkan dia adalah dewi yang tak terjangkau.
"Kamu nggak perlu buru-buru. Kebakaran hutan kali ini sangat serius. Regu menunggu peralatan pemadam dari pusat. Begitu peralatan datang, kita langsung berangkat. Pemberitahuannya siang. Nanti aku kabari waktu tepatnya."
Telepon ditutup dan aku terpaku. Tambahan setengah hari waktu, tetapi aku tidak punya tempat untuk kembali.
Pulang? Tidak. Di sisa waktuku yang mungkin terakhir, aku tidak mau mempermalukan diriku sendiri lagi.
Saat itu, Nindy meneleponku. "Ray, jangan pulang dulu. Andrew nggak suka kamu. Dia bilang setiap kali kamu muncul, papanya selalu nggak senang atau terjadi kecelakaan. Anak itu masih kecil, biarkan dia menyesuaikan diri."
"Aku sudah memesankan hotel untukmu. Barang-barangmu akan dikirimkan oleh kepala pelayan. Untuk sementara ini, Chicco akan tinggal di rumah."
"Dia tidur di kamarmu. Kami nggak melakukan apa-apa, jadi kamu bisa tenang soal itu." Nada Nindy tetap seperti biasa, hanya sekadar pemberitahuan.
"Sudah ya, aku mau rapat. Aku tutup dulu."
Telepon berakhir dengan nada sibuk. Hatiku kembali tercabik-cabik. Nindy, kamu semakin keterlaluan.
Sejak pertama kali aku menyadari kejanggalan, lalu kamu mengadopsi anak, kemudian Chicco masuk rumah dengan alasan yang masuk akal, hingga kini kamu mengusirku keluar.
Kamu hanya belum terang-terangan mengakui hubunganmu dengan Chicco. Namun, sebagai dewi yang luhur, kamu memang meremehkan aku yang hanya manusia biasa ini. Sudahlah, anggap saja lima tahun masa mudaku sia-sia.
Menjelang keberangkatan ke garis terdepan kebakaran, aku justru menjadi lebih lega. Aku tak mau lagi terikat oleh urusan rumah tangga.
Setelah keluar dari rumah sakit, aku menuju hotel dan mengambil koperku. Yang tak kuduga, kepala pelayan juga mengirimkan laptop Nindy. Mungkin dia mengira itu milikku.
Karena laptop itu adalah hadiah yang kuberikan pada Nindy saat hari jadi kami. Waktu itu aku salah beli warna hitam, tetapi dia tidak keberatan dan memakainya sampai sekarang.
Itu laptop kerjanya. Aku awalnya tidak mau menyentuhnya. Namun, aku teringat di dalamnya ada banyak foto dan video masa pacaran kami. Saat itu dia belum terobsesi pada ajaran agama dan kami masih bahagia.
Karena aku akan pergi, sebaiknya aku hapus semua agar tidak menyakitkan mataku. Aku membuka laptopnya, berniat menghapus semuanya.
Tak kusangka, saat membuka laptop itu, akun WhatsApp-nya secara otomatis terbuka. Kotak obrolan paling atas begitu menusuk mata.
Chicco. Bukan hanya dipin di paling atas, pria itu bahkan mendapat catatan nama khusus satu huruf, "C".
Satu huruf sederhana, tetapi penuh ambigu. Sedangkan aku? Setiap hari aku mengiriminya puluhan pesan, tetapi tak ada satu pun jejakku terlihat di daftar obrolan.
Dadaku terasa nyeri. Aku menggulir ke bawah. Ruang obrolan dengan Chicco adalah satu-satunya yang dipin. Di bawahnya adalah grup perusahaan, beberapa wakil direktur, dan klien. Lebih ke bawah lagi ada grup belajar agama, teman-teman seiman, kepala kuil.
Paling bawah barulah aku, di urutan entah ke berapa puluh. Yang terpampang hanyalah nama akun WhatsApp-ku. Lima tahun menikah, aku bahkan tidak pantas mendapat nama khusus?
Yang lebih menyakitkan, aku satu-satunya kontak yang dia setel "jangan ganggu". Pantas saja setiap hari aku mengirim puluhan pesan, dia hanya membalas beberapa kata tiga hari sekali. Ternyata sejak awal, di mata sang dewi, aku tidak pernah ada.
Inilah pernikahan yang selama ini kupikir bahagia.
Tiba-tiba, rasanya sangat ironis. Satu huruf itu seolah-olah berubah menjadi monster yang mencabik-cabik hatiku, mengoyakku hingga hancur, lalu menenggelamkanku ke dasar laut.
Sakitnya sampai menusuk tulang, dinginnya sampai mematikan. Aku hampir sulit bernapas.
Aku hendak menutup WhatsApp, tetapi sebuah notifikasi muncul. Pesan dari Chicco. Itu adalah belasan foto saat Nindy dan Chicco menemani Andrew ikut lomba permainan di sekolah.
Foto pertama, Nindy, Chicco, dan Andrew memakai baju keluarga, berpegangan tangan, tersenyum bahagia.
Foto kedua, Nindy dan Chicco berdiri sangat dekat, bersama-sama mengangkat Andrew untuk memecahkan balon.
Foto ketiga, Andrew memegang sepotong biskuit, lalu mereka berdua menggigit dari dua sisi. Jarak bibir tinggal dua atau tiga sentimeter.
Foto-foto berikutnya semakin intim dari sebelumnya.
Dadaku sesak, tak bisa bernapas. Aku belum pernah melihat dewi yang dingin itu begitu bebas dan bahagia.
Di sudut kanan bawah ada watermark. Foto-foto itu diambil sepuluh menit lalu. Aku tertawa sinis. Pantas dia tidak membiarkanku pulang. Takut aku melihat ini.
Nindy, kamu bilang kamu sedang rapat. Bukankah katanya orang yang mendalami ajaran agama tidak boleh berbohong? Namun, kenapa dalam pernikahan kita ... hanya ada kebohongan?