Logo
Di Mana Sayap Tumbuh
Di Mana Sayap Tumbuh

Di Mana Sayap Tumbuh

72 Bab
Tamat
Dalam novel romance modern Di Mana Sayap Tumbuh, Amelia dan Luciano harus melindungi keluarga dari musuh lama yang haus balas dendam. Saat rahasia terungkap, mereka menghadapi misteri yang mengancam kebebasan. Baca mystery story ini di platform read novels online sekarang.
Bab 1 dari Di Mana Sayap Tumbuh

Laut terasa sunyi sore itu. Begitu sunyi, begitu menakutkan. Hamparan perak raksasa yang bergetar, tak berani bergerak, seolah tahu ombak apa pun dapat melepaskan kekacauan. Namun darah tak mengenal keheningan.

Amelia jatuh berlutut di atas pasir basah. Itu bukan jatuh tiba-tiba, melainkan sebuah penyerahan diri. Seolah tubuhnya, yang dikuasai oleh sesuatu yang tak kasat mata, lepas begitu saja. Tangannya gemetar saat berpegangan erat di tepian, tenggelam dalam campuran garam dan tanah, mencari sesuatu untuk berlabuh. Apa pun. Pada kehidupan yang mulai menjauh.

Ia mengenakan gaun putih. Gaun sederhana, yang dikenakan untuk perayaan. Untuk menyambut seseorang. Untuk mengingat bahwa ada hari-hari yang pantas dibalut harapan. Namun putih itu, yang dulu begitu murni, kini ternoda diam-diam, digelapkan oleh lumpur, oleh darah, oleh ketakutan yang tak kunjung datang. Rasa sakit, ketika datang dari kedalaman ini, tak menyerang. Ia merayap masuk, merembes. Ia menetap. "Lari!" Sebuah suara menangis, jauh, terputus oleh desakan dan keputusasaan.

Kaki telanjang menghantam pasir. Seseorang berlari. Seorang pemuda, mungkin tetangga, mungkin orang asing. Ia membawa sebuah buntalan yang digenggam erat di dadanya. Sesuatu yang menangis. Sesuatu yang kecil. Sesuatu yang hidup. Seorang bayi.

Luna.

Nama itu menusuk Amelia bagai pecahan kaca di jiwanya. Ia ingin bangun, berlari, berteriak, melakukan sesuatu. Namun ia tak bisa. Garam laut bercampur dengan garam air matanya, mengalirkan sungai di pipinya.

Di mana Tomás? Di mana Gabriel? Luciano? Pikirannya mengulang nama-nama itu seperti doa yang khusyuk, mencari makna, keteraturan, logika untuk menenangkan kekacauan. Namun tak ada logika. Hanya suara.

Jeritan itu semakin menjadi-jadi di sekelilingnya bagai ombak hitam, menerjang lagi dan lagi, tanpa henti. Seorang perempuan menelepon 911 sambil terisak. Perempuan lain melepas jaketnya dan mencoba menutupinya. Mereka berbicara kepadanya, menyentuhnya, mencoba menolongnya. Namun Amelia tak mendengarnya. Ia tak merasakan apa-apa. Ia hanya bernapas secara naluriah.

Rasa dingin menyusup ke dalam dirinya. Bukan angin. Bukan angin laut yang lembap. Melainkan sesuatu yang telah pecah jauh di dalam, retakan tak kasat mata yang membelah dunianya menjadi dua. Sebuah masa sebelum. Sebuah masa sesudah. ​​Sebuah jurang.

Lalu sebuah siulan tajam membelah udara. Sedetik kemudian, dentuman:

"Dor!"

Sebuah tembakan. Kering. Akhir. Seperti titik yang dipaksakan di tengah kalimat yang belum selesai. Tangisan bayi itu berhenti sejenak. Laut menelan sebuah sepatu kecil seolah ingin menyembunyikan sesuatu.

"Mereka membawanya," bisik seseorang di dekatnya.

"Siapa?"

"Gadis itu. Bayi itu.

Luna."

Dan kemudian tak ada lagi pikiran. Hanya kebisingan. Suara-suara yang tak berkata apa-apa. Sirene meraung di kejauhan. Pasir di mulutnya. Garam di bulu matanya. Dan sebuah janji bisu yang Amelia rasakan lahir dengan keras di dadanya:

Kali ini, mereka tak akan mengambil apa pun lagi dariku.

Ambulans itu berbau logam panas, disinfektan, dan urgensi. Interiornya terasa seperti dunia yang terpisah, putih dan bermusuhan, tak menyadari aturan dunia luar. Seorang paramedis berbicara kepadanya. Ia menyebut namanya. Ia menyuruhnya bernapas. Namun Amelia tak dapat mendengarnya. Ia menatap langit-langit tanpa melihatnya. Napasnya terdengar jauh, seolah berasal dari tubuh lain. Tubuh yang bukan miliknya. Tubuh yang kosong.

Ia merasakan jarum suntik menembus kulitnya. Infus. Cairan dingin memasuki lengannya. Sebuah upaya untuk membuatnya tetap di sini. Di sisi kehidupan ini.

"Kau stabil. Dengarkan aku, kumohon. Bayinya hidup, kau dengar? Ia hidup." Amelia memejamkan mata. Namun bukan bayi itu yang ia cari. Melainkan bayi lain. Bayi yang memiliki nama. Bayi yang ia bayangkan dalam pelukannya. Bayi yang ia rasakan bergerak di dalam rahimnya.

Seorang perawat mendekat dengan sesuatu yang mungil di tangannya. Seekor bayi baru lahir yang merah dan marah. Ia menangis seolah dunia telah menyakitinya. Seolah ia tahu.

"Bayi perempuan!" kata perawat itu. "Dia bernapas dengan baik. Dia tampak tidak terluka. Dia di sini, lihat?"

Tapi itu bukan Luna. Itu bayi perempuan lain. Takdir lain. Awal yang lain.

"Mereka membawanya pergi," gumam Amelia, tanpa memandang siapa pun.

"Tidak, dia di sini. Kau bersamanya di sini." Mereka tidak membicarakan bayi perempuan yang sama. Ia tahu itu. Jiwanya tahu itu. Sedetik. Lalu sedetik lagi. Dan waktu mulai bergerak mundur, seolah mencari jawaban dalam apa yang telah terjadi.

Dua belas minggu sebelumnya

Gabriel meninggalkan sebuah gambar di meja makan. Sebuah pohon bersayap. Warna-warnanya agak acak-acakan, goresannya tidak sempurna, tetapi penuh makna. Di sampingnya, Tomás tidur di antara mainan-mainan, mulutnya sedikit terbuka, satu tangannya menggenggam dinosaurus plastik.

Amelia, yang sedang hamil sembilan bulan, dengan lembut mengelus perutnya. Setiap gerakan di dalam dirinya adalah keajaiban. Setiap tendangan, sebuah janji masa depan. Di luar, burung-burung camar berputar-putar di pesisir, melolong minta kebebasan.

Luciano masuk dengan sekantong roti hangat di tangan dan kabar di bibirnya:

"Aku menemukannya."

Amelia mendongak, bingung.

"Siapa?"

"Mauro Galván. Dia kembali. Dia kembali ke kota."

Nama itu menghantamnya bagai hantaman di perut. Salah satu nama yang tak pernah benar-benar mati. Yang hidup terkubur dalam ingatan, menunggu saat yang tepat untuk muncul kembali.

Ia menelan ludah. ​​Udara terasa sesak.

"Kau yakin?"

"Ya," jawab Luciano, duduk di sampingnya dan menggenggam tangannya erat-erat. "Tapi kita takkan membiarkannya mendekatinya. Tidak kali ini. Kita siap, Amelia. Kali ini kau tak sendirian."

Ia mengangguk, tapi tak berkata apa-apa. Karena ia tahu: tak seorang pun pernah benar-benar siap menghadapi masa lalu. Apalagi menghadapi bagaimana masa lalu itu kembali. Tersamar. Sunyi. Menunggu.

Hari Ini

Bunyi bip mesin yang terputus-putus membawanya kembali ke masa kini. Amelia membuka matanya. Kelopak matanya terasa sakit. Bibirnya kering. Tubuhnya terasa kalah. Perutnya... kosong.

Dan di hadapannya, mata Gabriel, besar dan ketakutan, dipenuhi pertanyaan-pertanyaan yang tak seharusnya ditanyakan siapa pun di usianya.

"Bu... apakah adikmu baik-baik saja?" Amelia mencoba duduk, tetapi tubuhnya tak kunjung merespons. Ia hanya bisa bicara.

"Tomás?"

"Dengan Ayah. Aku ingin menjemputmu, tetapi mereka menyuruhku menunggu di sini." Ia menatapnya dengan air mata berlinang. Ia ingin memeluknya. Untuk melindunginya dari segalanya.

"Sayangku... adikmu! Mereka membawanya!" Gabriel menggelengkan kepalanya.

"Tidak. Luna baik-baik saja. Aku melihatnya. Dia menangis, tetapi dia baik-baik saja." Luciano kemudian masuk, seolah-olah ketegangan telah memanggilnya. Wajahnya tegang, matanya merah, punggungnya berat karena semalaman tak bisa tidur.

"Dia dalam perlindungan," katanya tegas. "Itu ancaman. Tapi kami berhasil mencegah yang terburuk. Kami membawamu ke sini tepat waktu." Amelia menatapnya. Tepat di matanya.

"Apakah itu dia?" Luciano tak menjawab. Ia hanya memejamkan mata dan mengangguk. Dan nama itu kembali memenuhi udara seperti pisau tumpul:

Mauro.

Beberapa jam kemudian, Amelia melihatnya. Luna.

Ia tertidur di inkubator, diselimuti cahaya redup dan suara-suara mekanis. Tak menyadari kengerian itu. Lugu. Sempurna. Secercah cahaya di jurang.

Amelia meraih kaca, seolah ia bisa menjembatani jarak.

"Namamu Luna karena kau membawa cahaya ke dalam kegelapan. Karena kau jatuh dari langit. Karena kau lahir di tengah tembakan dan darah... namun kau memilih untuk tetap tinggal."

Ia masih merasakan ketakutan di kulitnya. Tapi juga sesuatu yang baru. Sesuatu yang ganas. Seperti sebuah kekuatan yang mulai muncul dari tempat yang sebelumnya hanya hampa.

Lalu, sebuah suara. Dingin. Familiar. Sebuah bisikan di belakangnya.

"Sudah kubilang jangan abaikan aku."

Amelia menoleh tajam. Tapi tak ada siapa pun di sana.

Hanya gema ancaman. Masa lalu yang tak melupakannya.

Suara pelayan yang dicintainya.

Lanjutkan Membaca
Pilih Bab
CH. 1CH. 2CH. 3
CH. 4
CH. 5
CH. 6
CH. 7
Semua
Baca Novel Selengkapnya di
moboreader
Kini Tersedia Membaca Gratis

Kamu Mungkin Juga Suka

Duda Kuat
Duda Kuat
Dalam novel Duda Kuat, Satria menghadapi perceraian ketujuh karena stamina ranjangnya yang luar biasa. Pria ini harus mengungkap misteri obat dari sang kakek di tengah pencarian pasangan yang sanggup mengimbanginya. Baca romance novel dewasa ini sebagai pilihan fiction books terbaik.
Jiwa Yang Tertukar
Jiwa Yang Tertukar
Dalam novel fantasy Jiwa Yang Tertukar, hidup Rose dan Herdi berubah total saat tubuh mereka tertukar secara misterius. Herdi harus beradaptasi menjadi wanita, sementara Rose menghadapi penindasan dalam tubuh pria. Temukan kisah unik ini di webnovel modern dengan unsur romance novel yang seru.
 Kerudung Pembalasan
Kerudung Pembalasan
Dalam Kerudung Pembalasan, Ana menghadapi pengkhianatan Javier untuk memulai perjalanan penemuan diri. Sebagai modern novel yang emosional, ia harus memilih antara masa lalu atau cinta baru yang tulus. Baca romance stories ini untuk melihat kekuatannya pulih di tengah kebohongan.
Menikahi Mantan Istriku Lagi: Cinta pertama dan selamanya
Menikahi Mantan Istriku Lagi: Cinta pertama dan selamanya
Dalam novel modern Menikahi Mantan Istriku Lagi: Cinta pertama dan selamanya, Jennifer kembali setelah lima tahun membawa rahasia. Sang billionaire menggunakan bisnis demi mengejarnya. Temukan kelanjutan romance novel ini saat sang mantan istri justru menjadi calon pengantin barunya.
Misteri Ular Xaver
Misteri Ular Xaver
Dalam novel horor Misteri Ular Xaver, seorang ibu membawa pulang patung dewa ular mistis yang meminta tumbal darah perawan demi awet muda. Sang anak terpaksa menuruti ritual ini meski menyembunyikan sebuah rahasia besar. Baca cerita misteri menegangkan ini untuk mengungkap petaka yang menanti mereka.
Obsession In Love
Obsession In Love
Dalam novel modern Obsession In Love, Arinika terjebak paksaan Samuel Xalvandor, dosen killer yang menuntutnya untuk menikah. Arin harus memilih antara kelulusan skripsi atau tunduk pada obsesi sang dosen. Baca romance novel ini untuk melihat perjuangan Arin di platform online novel.

Rilis WebNovel Terbaru

Populer di MiniShort

Bayinya Terjebak oleh Miliarder
Bayinya Terjebak oleh Miliarder
Ketika kanker adik perempuannya memburuk, dia mendapati dirinya menandatangani kontrak untuk melahirkan pewaris miliarder misterius. Namun, ketika membuktikan hubungan mereka dengan kakeknya CEO ternyata lebih sulit dari yang dibayangkan. Sedangkan hubungan dia dengan CEO makin lama makin dekat, meskipun satu-satunya aturan dalam kontrak adalah tidak boleh jatuh cinta.
Cinta Ini Dilarang
Cinta Ini Dilarang
Yusdi Parlin menjadi lumpuh akibat kecelakaan mobil yang direncanakan oleh adik angkatnya, kemudian sifatnya berubah menjadi pemarah. Demi mendapatkan biaya pengobatan anaknya, Yosi Sutio melamar pekerjaan menjadi perawat Yusdi. Yosi memutuskan untuk tetap bekerja demi mendapat gaji yang tinggi walau sering dimarahi Yusdi. Namun, Yusdi tidak sengaja menemukan bahwa Yosi mirip dengan wanita yang dia tiduri 4 tahun lalu. Dia juga akhirnya mengetahui bahwa Yosi telah melahirkan seorang putra. Untuk memastikan apakah anak itu anaknya atau bukan, dia datang ke klub. Di sana dia juga melihat adiknya, Simon yang mencelakainya, dan Simon adalah tunangan Yosi. Setelah mengetahui bahwa Yosi adalah wanita yang pernah tidur satu malam dengannya, dia diam-diam memutuskan untuk mendapatkan Yosi dan anaknya.
[Versi suara dubbing] Pasangan Cinta yang Jahat
[Versi suara dubbing] Pasangan Cinta yang Jahat
Dia menulis bosnya sebagai umpan dalam sebuah novel, lalu secara tidak sengaja melakukan perjalanan bersamanya ke dalam cerita sebagai seorang tiran dan "istri kedua iblis". Bosnya memaksanya untuk tinggal untuk menghindari bahaya; mereka menghadapi krisis bersama, menumbuhkan perasaan, dan akhirnya menjadi penguasa yang dicintai, menjaga kerajaan secara bersama-sama!
Cinta yang Terkoyak
Cinta yang Terkoyak
Mereka yang melanggar diriku, tak peduli siapa kau, mati tanpa ampun!
Warisan Jatuh ke Suaminya
Warisan Jatuh ke Suaminya
Di sebuah maraton yang penuh konflik identitas, Lili harus menghadapi mantan pacarnya yang selingkuh, selingkuhannya, ibu mereka, dan calon pasangan kerajaannya barunya, para wanita yang mengejar cinta sejatinya dan terakhir, ibu mertua yang dominan! Bisakah Liily mengalahkan mereka semua?
Satu Malam, Seorang Anak, Tanpa Dirimu
Satu Malam, Seorang Anak, Tanpa Dirimu
Lima tahun lalu, Scarlett, seorang pelayan berbadan montok, menyelamatkan nyawa Brandon dan menghabiskan satu malam penuh gairah bersamanya sebelum menghilang tanpa kabar. Kini, Scarlett kembali dengan tubuh langsing yang membuatnya hampir tak dikenali, sedangkan Brandon telah menjadi seorang CEO penyendiri yang ternyata adalah ayah dari putri Scarlett.