Bab 6
Liana tanpa sadar ingin berbalik, namun dia teringat bahwa gangguan pendengarannya belum “pulih”, jadi dia tiba-tiba berhenti.
Hansen bergegas ke hadapan Liana, tatapannya terlihat panik.
“Liana, kamu mau tinggalin aku? Kita akan segera nikah, kamu mau pergi ke mana?”
Melihat dia tidak menjawab, Hansen panik dan segera mengulanginya dalam bahasa isyarat.
Liana tampak tenang.
“Seorang temanku yang akan pergi.”
Hansen mengamati ekspresi wajahnya dan merasa lega setelah mengetahui bahwa dia tampak tenang dan tidak terlihat berbohong.
“Syukurlah, Liana, tadi aku hampir mati ketakutan. Aku benar-benar tidak bisa membayangkan gimana aku bisa hidup jika kamu meninggalkanku.”
Hansen memeluknya erat dengan ekspresi ketakutan di wajahnya.
Mendengarkan kata-kata yang menyentuh ini, Liana tidak merasakan apa pun di hatinya.
Jika dia begitu takut dirinya akan pergi, mengapa dia mengkhianatinya?
Apa karena mengira dia tidak bisa mendengar, jadi dia merasa percaya diri?
Sayangnya, dia akhirnya akan kecewa.
Ketakutan Hansen belum hilang, jadi sambil memegangi pinggangnya dan bersiap untuk pergi.
“Liana, ayo kita pulang. Aku tidak akan membiarkanmu hilang dari pandanganku sedetik pun sekarang.”
“Gimana dengan asistenmu?”
“Dia agak tidak enak badan, jadi sudah pulang.”
Liana hanya merasa ironis ketika mendengar kebohongan yang dijawabnya dengan mudah.
Ketika berjalan ke tempat parkir, Liana melihat Susan sedang bersama seorang pria.
Pria itu memegang pergelangan tangan Susan dengan satu tangan dan tidak membiarkannya pergi.
Tangan satunya ingin menyentuh pinggangnya, tapi Susan berusaha melepaskan diri dan menampar pria itu.
Pria itu kesal, mengambil botol bir dan mengarahkan padanya.
Pada saat ini, Liana merasakan tangan yang melingkari pinggangnya tiba-tiba mengendur.
Hansen bergegas maju dan memeluk Susan erat-erat.
Botol bir mengenai bahunya, kaca tajam menusuknya dan gemercik darah merah menodai kemejanya.
Wajah Hansen muram dan menakutkan, pertama-tama dia memastikan Susan di pelukannya tidak terluka, lalu meraih kerah pria itu dan meninju wajahnya dengan keras.
“Beraninya kamu menyentuh orangku, cari mati ya!”
Setelah melihat wajah Hansen dengan jelas, pria itu begitu ketakutan hingga memohon ampun dan tidak berani melawan.
Pipi Liana yang berdiri di samping pun berdarah karena tergores pecahan kaca, namun sepertinya dia tidak menyadarinya, dia berdiri diam dan menatap pria yang sedang marah itu.
Situasi di depannya berangsur-angsur tumpang tindih dengan ingatannya. Lima tahun lalu, saat dia dan Hansen baru saja berpacaran, mereka juga pernah menghadiri sebuah pertemuan bisnis.
Itu adalah pertama kalinya dia muncul di hadapan publik sebagai pacar Hansen. Kesetiaan Hansen belum terungkap saat itu.
Setelah mereka mengetahui bahwa dia tidak bisa mendengar, dia dengan jelas melihat penghinaan dan ejekan di mata semua orang.
Saat Hansen dipanggil oleh rekannya untuk mendiskusikan bisnis, pria-pria dengan niat jahat mengelilinginya. Mereka semua mengira dia hanyalah mainan saat bosan bagi Hansen.
Meskipun dia tidak bisa mendengar apa yang mereka katakan, Liana masih bisa melihat ekspresi menggoda dan cabul di wajah para pria itu.
Dia ingin meminta bantuan, tapi dia takut hal itu akan membawa masalah bagi Hansen, jadi dia hanya bisa memperingatkan mereka lagi dan lagi, tapi dia malah mendapatkan ejekan yang lebih parah dari para pria itu.
Tepat ketika tangan seseorang hendak menyentuh pipinya, Hansen menendang orang tersebut hingga terjatuh dan dengan marah menekan orang itu ke tanah sambil memukulnya. Kemudian dia memerintahkan sekretarisnya untuk memutuskan semua kerja sama orang-orang ini dengan grup Gunadi, dan memasukkan mereka ke daftar hitam.
Sejak saat itu, semua orang tahu bahwa Liana adalah yang paling berharga bagi Hansen, tidak ada yang boleh menyentuhnya.
Sekarang, situasinya sama, hanya saja orang yang dia lindungi di pelukannya bukan lagi dirinya.
Bab 7
Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Hansen yang baru saja memukuli orang dan sibuk menenangkan Susan akhirnya menyadari Liana yang pipinya berdarah.
Sesampainya di rumah sakit, dia mengabaikan bahunya yang berdarah dan bersikeras agar dokter merawat luka di wajah Liana terlebih dahulu.
“Hari pernikahan sudah dekat, tidak boleh ada luka apa pun di wajah Liana-ku!”
Setelah mengatakan itu, dia berbalik dan menjelaskan dalam bahasa isyarat dengan rasa bersalah di matanya.
“Sayangku, ini semua salahku. Aku melindungi Susan hanya karena dia adalah bawahanku. Jangan marah padaku, ya?”
Liana tidak menjawab, dia meminta dokter tidak perlu peduli pada lukanya dan berkonsentrasi merawat bahu Hansen.
Lagipula, dia tidak akan datang ke pernikahan itu, jadi tidak masalah kalau wajahnya terluka.
Hansen mengira ini adalah tanda sayang padanya dan merasa terharu.
Dokter menggunting baju yang berlumuran darah itu, luka yang mengerikan pun terlihat.
Baru pada saat itulah Liana menyadari bahwa luka itu berada persis di lokasi yang sama dengan bekas luka yang diakibatkan oleh besi beton yang melukainya lima tahun lalu.
Kini bekas luka itu tertutup oleh luka baru dan tidak ada bekasnya lagi.
Seketika dia tersadar, sepertinya Tuhan juga mengisyaratkan bahwa hubungan mereka akan segera menjadi masa lalu.
Setelah keluar dari rumah sakit, Susan memeluk bahunya dengan kedua tangannya sambil berkata kepada Hansen dengan tersedak.
“Hansen, bolehkah aku pergi ke rumahmu malam ini?”
Hansen jarang melihat Susan terlihat begitu rapuh, jadi hatinya melunak.
Sambil melihat ekspresi Liana, dia dengan ragu-ragu memberikan bahasa isyarat.
“Liana, Susan agak terkejut karena kejadian ini. Bolehkah dia menginap di rumah kita satu malam?”
Seolah dia takut Liana salah paham, dia menjelaskan dengan cepat.
“Aku tidak ada maksud lain, hanya saja sebagai atasannya aku punya kewajiban untuk tenangkan karyawanku.”
Melihat ekspresi gugupnya, tanpa sadar kuku Liana menancap di telapak tangannya.
‘Beraninya dia ingin membawanya ke rumah secara terang-terangan?’
Lalu dia tersenyum.
Sudahlah, lagipula setelah dia pergi, cepat atau lambat Susan akan pindah ke rumah itu, tidak ada yang perlu dipermasalahkan lagi.
“Terserah kamu.”
Mungkin karena ada dirinya, selama di perjalanan Hansen tidak banyak bicara dengan Susan.
Bahkan ketika Susan ingin berbicara dengannya, dia menghentikannya dengan tatapannya.
Dia tidak ingin melihat akting kedua orang itu, jadi dia memejamkan mata untuk beristirahat sambil bersandar di jendela mobil.
Setelah tiba di rumah, Hansen mengabaikan tatapan kesal Susan dan mengaturnya di kamar tamu lantai dua.
Di kamar tidur, Hansen mengambil antiseptik dan plester luka untuk mengobati luka di wajah Liana.
“Liana, aku tahu kamu peduli padaku, tapi mana boleh kamu tidak membiarkan dokter merawat lukamu? Aku akan merasa sedih jika ada bekas luka.”
Setelah mengobati lukanya, dia mencium keningnya.
“Aku tidak akan membiarkanmu terluka lagi. Tadi aku lihat karyawanku ditindas, makanya aku langsung bergerak tanpa pikir panjang.”
“Lagipula jika karyawanku ditindas, sama artinya dengan menginjak-injak wajahku. Jadi gimana mungkin aku membiarkannya? Kamu pasti mengerti kan sayangku?”
Penjelasan Hansen masuk akal. Jika Liana tidak mengetahui hubungan mereka dan dengan jelas melihat sikap posesif dan kemarahan di matanya, dia pasti akan mempercayainya.
Dia tidak mengucapkan sepatah kata pun, dia hanya mengatakan dia lelah dan ingin istirahat.
Hansen segera membawakannya segelas susu sebelum tidur seperti biasanya dan dengan lembut menepuk punggungnya agar dia tertidur.
Larut malam, Liana terbangun oleh suara guntur.
Tanpa sadar dia ingin memeluk orang di sebelahnya, tapi ternyata tidak ada orang.
Hal ini membuatnya langsung tersadar.
Dia pun bangkit dan hendak turun ke lantai bawah. Begitu dia sampai tangga di lantai dua, terdengar desahan lembut seorang wanita.
Dia berhenti, menekan kepahitan di hatinya dan bergerak selangkah demi selangkah ke pintu kamar tamu.
Pintu kamar tamu terbuka lebar, dua tubuh telanjang yang saling berpelukan terpantul dalam cahaya kuning yang hangat.
Bab 8
Susan melingkarkan tangannya di leher Hansen, wajahnya memerah dan dia terengah-engah.
“Hansen, tidak, aku sudah tidak kuat.”
Hansen mengarahkan kepalanya di dadanya, suaranya serak.
“Pria itu menyentuhmu hari ini, jadi aku mau menanamkan aromaku di seluruh tubuhmu. Kamu tidak boleh tidur sampai aku selesai.”
Susan mengangkat kepalanya dan berbicara dengan terengah-engah.
“Menurutmu, jika Nona Liana melihatnya...”
Sebelum dia selesai berbicara, Hansen berhenti dan menyelanya dengan tatapan dingin.
“Dia tidak bisa mendengar jadi tidak akan menyadarinya. Kamu tidak boleh beberkan hubungan kita padanya.”
Susan mengulurkan tangannya dan menggambar lingkaran di dadanya dengan sedih.
“Aku tahu, hanya saja setiap berpikir dia bakal segera jadi istrimu sementara aku cuma simpanan... Aku merasa sedih.”
Hansen sedikit melunak ketika mendengarnya dan mencubit wajahnya.
“Dasar pencemburu, padahal aku sudah membawamu pulang, kamu masih belum puas?”
“Tenang saja, aku tidak akan meninggalkanmu meskipun aku nikah. Aku akan berikan apa pun yang kamu mau. Aku juga akan belikan barang-barang yang dimiliki Liana untukmu juga.”
Saat itulah Susan tersenyum lagi.
“Kalau begitu aku ingin kamu tetap bersamaku sebelum acara pernikahan.”
Hansen ragu sejenak, tetapi melihat mata berair wanita itu, dia pun setuju.
“Baiklah.”
Mata Susan berbinar dan dia segera mencondongkan tubuh ke arah telinganya dan menggigitnya.
“Sekarang aku menginginkanmu.”
Mata Hansen langsung menjadi gelap, dia meraih pinggangnya dan tubuh keduanya bersatu lagi.
Kilatan petir dari luar jendela menyinari wajah pucat Liana yang ada di luar pintu.
Dia menutup mulutnya, tidak ingin suara tangisannya terdengar, meski air mata sudah menutupi matanya.
Walaupun telah melihat video yang dikirimkan Susan, rasa sakit yang dirasakan saat melihatnya sendiri tetap terasa lebih besar.
Suara terengah-engah dan kata-kata godaan itu seperti pisau tajam, menusuk jantungnya hingga berlubang dan berlumuran darah.
Suara di dalam pintu menjadi semakin keras. Liana sudah tidak tahan, jadi dia berbalik dan pergi dari sana.
Dia kembali ke kamar, meringkuk di tempat tidur dan memeluk dirinya sendiri erat-erat, tetapi dia tetap tidak merasakan kehangatan apa pun.
Nafas yang terengah terus bergema di telinganya dan dia berusaha sekuat tenaga untuk menutup telinganya, tetapi tidak berhasil.
Dia turun dengan tanpa memakai alas kaki dan berlari ke tengah hujan lebat.
Di luar hujan turun dengan deras, tapi dia seperti tidak merasakannya. Dia hanya merasa vila di belakangnya seperti berlumuran darah. Dia ingin melarikan diri sejauh mungkin.
Dia berjalan di jalanan yang kosong, hujan membasahi seluruh tubuhnya dan dia hampir tidak bisa membuka matanya.
Tiba-tiba, hujan seperti sudah berhenti.
Dia mendongak dan seperti melihat Hansen sedang memegang payung. Ekspresi keengganan tampak di wajahnya.
‘Liana, tinggalkan dia, tinggalkan aku yang tidak lagi mencintaimu, jangan maafkan aku.’
Dia menatap pria yang dulunya sangat dia cintai dengan mata merah.
‘Oke, aku pasti akan meninggalkannya dan tidak akan memaafkannya.’
Ketika subuh, Liana baru kembali ke rumah dalam keadaan linglung.
Begitu dia melepas pakaiannya yang basah dan berbaring di tempat tidur, Hansen dengan pelan membuka pintu kamar.
Seperti biasa, dia dengan hati-hati menyelimutinya, lalu dengan lembut memeluknya, mencium keningnya dan berbisik.
“Liana, aku sangat mencintaimu. Tiga hari lagi, kamu akan jadi istriku. Kita akan bersama hingga tua.”
Dia sibuk berbicara tanpa menyadari air mata mengalir di sudut mata Liana.
Dia pernah membaca satu kalimat di internet, cinta mendadak dari seorang pria sebagian besar datang karena rasa bersalahnya setelah berselingkuh.
Sebelumnya dia tidak mengerti apa maksudnya, tapi sekarang dia benar-benar memahaminya.
Sekarang dia hanya ingin waktu lebih cepat berlalu, agar hari kepergiannya bisa tiba lebih cepat.