Bab 1
“Nona Liana Tandra, kami telah menyiapkan mayat yang persis sepertimu sesuai permintaan Anda. Sepuluh hari kemudian, kami akan mengirimkannya ke pernikahanmu dengan Tuan Hansen Gunadi.”
Setelah mendengar jawaban dari staf di telepon, ketegangan Liana selama berhari-hari akhirnya sedikit mereda.
“Baik, terima kasih.”
“Sama-sama, ini memang pekerjaan kami. Anda tidak perlu khawatir, tidak akan ada yang curiga dengan mayat ini.”
Setelah mendapatkan jaminan, Liana menghela napas lega. Kemudian dia memastikan lagi rincian pengiriman mayat dengan staf, dan menutup telepon lalu masuk ke dalam ruangan VIP.
Ruangan VIP yang awalnya berisik, seketika semua orang terdiam saat melihatnya masuk.
“Nona Liana Tandra, kami telah siapkan mayat yang persis sepertimu sesuai permintaan Anda. Sepuluh hari kemudian, kami akan kirimkan ke pernikahanmu dengan Tuan Hansen Gunadi.”
Setelah mendengar jawaban dari staf di telepon, ketegangan Liana selama berhari-hari akhirnya sedikit mereda.
“Baik, terima kasih.”
“Sama-sama, ini memang pekerjaan kami. Anda tidak perlu khawatir, tidak akan ada yang curiga dengan mayat ini.”
Setelah mendapatkan jaminan, Liana menghela napas lega.
Setelah memastikan lagi rincian pengiriman mayat dengan staf, dia menutup telepon dan masuk ke dalam ruang VIP.
Ruang VIP yang awalnya berisik, seketika semua orang terdiam saat melihatnya masuk.
Hansen yang duduk di tengah segera berdiri dan memegang tangannya, tampak kekhawatiran di matanya.
“Liana, kenapa kamu lama di kamar mandi? Kamu tidak enak badan? Aku antarkan pulang untuk istirahat sekarang ya.”
Hansen tampak hendak menariknya pergi.
Melihat tatapan mata Hansen yang sepenuhnya tertuju padanya, Liana menahan kepahitan di hatinya dan menggelengkan kepalanya.
“Aku tidak apa-apa, kalian lanjutkan saja.”
Setelah mendengar konfirmasinya, Hansen menggandeng tangannya dan kembali ke tempat duduk.
Suasana di dalam ruangan menjadi hidup lagi dan tiba-tiba seseorang bertanya.
“Kak Hansen, kamu dan kakak ipar bakal segera nikah. Gimana dengan asistenmu?”
Mendengar ini, kuku Liana menancap di telapak tangannya dan wajahnya menjadi pucat.
Orang di sebelahnya menyenggol orang yang baru saja berbicara dengan sikunya.
“Kakak ipar masih di sini, jaga omonganmu.”
Orang itu mengangkat bahu dan tampak tidak peduli.
“Ngapain takut? Kakak ipar tidak bisa dengar apa yang kita bicarakan. Aku hanya ingin tahu apa rencana Kak Hansen pada simpanannya.”
Seketika tatapan semua orang tertuju pada Hansen.
“Tetap lanjut bersama dia.”
Hansen mengambil seekor udang, mengupasnya dengan teliti dan menaruhnya ke dalam mangkuk Liana sebelum melanjutkan berbicara.
“Dia cuma peliharaan yang kupelihara agar tidak bosan. Aku hanya mencintai Liana.”
“Tapi Liana bakal tinggalkan aku kalau dia tahu tentang ini, jadi aku merahasiakannya dengan sangat baik. Aku tidak akan biarkan dia tahu bahkan setelah kami nikah.”
“Kalian juga harus perhatikan. Kalau ada yang berani beri tahu hal ini pada Liana, jangan salahkan aku bersikap kasar.”
Hansen memberikan tatapan peringatan kepada semua orang yang ada di sana.
Mereka semua sama-sama ada di lingkaran orang kaya, jadi sudah terbiasa dengan situasi di mana seseorang memiliki simpanan di luar. Sebaliknya, mereka malah memuji jawaban Hansen.
“Kasihan sekali Kak Hansen, dia bahkan tidak boleh ketahuan punya simpanan. Istriku saja sudah lama tahu tentang simpananku.”
“Kamu pikir Kak Hansen playboy seperti dirimu? Tindakan Kak Hansen ini disebut cinta sejati, tahu nggak?”
…
Mata seseorang berbinar dan dia berkata dengan ekspresi penasaran.
“Kak Hansen, kakak ipar kan tidak bisa dengar, jadi apa kamu dan asistenmu di rumah pernah... ”
Kata-katanya belum selesai, menyisakan cukup ruang bagi semua orang untuk berimajinasi.
Hansen terkekeh, memutar cincin tunangan di tangannya dan menjawab dengan acuh tak acuh.
“Tentu saja. Sungguh... Menggairahkan.”
Tepuk tangan meriah bergema di dalam ruangan dan semua orang mengacungkan jempol.
“Keren! Kak Hansen jago banget mainnya!”
“Aku rasa kalian pasti sudah pernah coba di seluruh rumah, ‘kan? Aku benar-benar iri pada Kak Hansen!”
“Sepertinya walau nikah dengan kakak ipar, hubunganmu dengan asistenmu itu juga tidak akan terganggu.”
Semua orang terus memujinya, tetapi tidak seorang pun menyadari bahwa jari tangan Liana yang memegang sumpit telah tampak memutih.
Tidak seorang pun tahu bahwa pendengarannya telah pulih.
Tidak seorang pun tahu bahwa dia telah memutuskan untuk pergi dan tidak akan menikah dengan Hansen.
Pada hari pernikahan, yang tersisa untuk Hansen hanyalah mayat palsu yang tampak persis seperti dirinya.
Hansen sadar dari sudut matanya, Liana sama sekali tidak menyentuh udang di mangkuk, jadi dia segera bertanya dengan bahasa isyarat.
“Liana, kenapa kamu tidak makan?”
Liana menatap pria yang terlihat khawatir dari matanya dan memaksakan diri tersenyum.
“Barusan apa yang kalian bicarakan, tampaknya heboh banget?”
Hansen tersenyum dan dengan lembut mencium punggung tangannya.
“Mereka iri dengan hubungan kita dan memuji kita pasti bakal jadi pasangan yang sangat saling mencintai di dunia ini.”
Setelah mengatakan itu, dia membuat isyarat “aku mencintaimu” dengan gerakan tangannya.
Semua orang di dalam ruangan saling menatap, Liana jelas melihat ejekan di mata mereka.
Hatinya terasa seperti direndam dalam air es, dinginnya menusuk tulang.
Mereka jelas-jelas sedang membicarakan dia dan simpanannya, tetapi faktanya diubah menjadi seakan semua orang iri pada hubungan mereka.
Hansen, Hansen, aku tidak menyangka ternyata kamu pandai berbohong.
Bab 2
Liana meletakkan sumpitnya dan berdiri, dia tidak ingin mendengarkan kebohongan munafik ini lagi.
Melihat dia akan pergi, Hansen dengan cepat berdiri dan bertanya ada apa dengan bahasa isyarat.
Liana menggelengkan kepala dan berkata dengan pelan.
“Aku lelah, ingin pulang istirahat.”
Setelah mengatakan itu, dia tidak peduli dengan jawaban Hansen dan langsung berjalan keluar dari ruangan.
Di jalan raya, Liana mendongak dan melihat video lamaran pernikahan yang ada di layar gedung kantor di seberangnya.
[Liana, menikahlah denganku!] Kata-kata ini terlihat jelas di tengah layar.
Seorang pejalan kaki lewat, melihat teks di layar dan merasa iri.
“Astaga, kabarnya karena pacarnya memiliki gangguan pendengaran, ketika Tuan Hansen melamar pacarnya, dia menyewa layar untuk menampilkan tulisan di gedung tertinggi kota ini, agar pacarnya bisa dengan jelas melihat tiga kata [ayo menikah denganku]. Setelah lamaran berhasil, dia memutar video lamarannya selama sebulan penuh, agar semua orang memberkati mereka.”
“Tuan Hansen sungguh mencintai pacarnya. Dia pasti bisa jadi suami yang baik setelah nikah.”
Sebagai orang yang terlibat, Liana hanya bisa mencibir.
Seminggu yang lalu, dia memiliki reaksi yang sama dengan orang-orang itu, percaya pada cinta Hansen dan mengira dia akan menjadi suami yang baik.
Dia tumbuh besar di panti asuhan dan kehilangan pendengaran ketika dia berusia sembilan tahun karena demam tinggi.
Sejak saat itu, ia menjadi target intimidasi semua orang di panti asuhan dan sekolah.
Dalam kesengsaraan, hari demi hari dia mendirikan tembok tinggi di hatinya dan menutup hatinya dari semua orang.
Dalam situasi ini, Hansen kebetulan muncul. Dia jatuh cinta pada pandangan pertama terhadapnya dan mulai mendekatinya.
Tapi dia bukan tidak pernah mengalami godaan seperti itu, jadi dia selalu menghindarinya.
Hansen pernah menyatakan cinta 99 kali dan dia pun menolaknya 99 kali.
Sampai suatu saat ketika ada gempa bumi, Hansen tanpa ragu melindungi Liana dengan tubuhnya dan meskipun besi beton menembus bahunya, dia masih tetap melindunginya.
Ketika dia terbangun di rumah sakit dan masih sangat lemah, hal pertama yang dia lakukan begitu melihat Liana adalah memberikan bahasa isyarat, yang berarti syukurlah kamu tidak apa-apa.
Saat itulah Liana menyadari bahwa demi bisa berkomunikasi dengan lebih baik dengannya, Hansen secara khusus mempelajari bahasa isyarat selama tiga bulan.
Saat itu juga tembok tinggi di hatinya pecah dan memiliki celah.
Bekas luka yang ditinggalkan oleh besi beton tidak sepenuhnya sembuh dan meninggalkan bekas luka bundar permanen yang berwarna coklat.
Setiap kali dia melihat bekas luka itu, dia sangat terharu.
Selama lima tahun bersama, Hansen memperlakukannya dengan baik seperti sebelumnya, membuatnya benar-benar merasakan ketulusannya.
Meskipun Keluarga Gunadi tidak setuju mereka bersama, dia tetap bersikeras melamarnya.
Agar dirinya bisa mendengar Hansen mengatakan kata “saya bersedia” di pernikahan dengan telinganya sendiri dan agar Hansen tidak lagi dipersulit oleh Keluarga Gunadi, dia terbang ke luar negeri untuk mengobati telinganya, meski ada resiko kematian jika operasi gagal.
Akhirnya keberuntungan berpihak padanya dan operasinya berhasil.
Dia berencana untuk beri kejutan pada Hansen di hari pernikahan, jadi dia menyembunyikan fakta bahwa telinganya sudah sembuh.
Dia bahkan telah beberapa kali membayangkan betapa terkejutnya Hansen ketika tahu pendengarannya sudah pulih di hari pernikahan.
Tapi siapa sangka, pada hari dia kembali dari luar negeri, dia mendengar Hansen dan asistennya sedang saling menggoda satu sama lain di telepon tanpa malu.
Baru pada saat itulah Liana menyadari bahwa dia diam-diam sudah berhubungan dengan asistennya.
Hubungan mereka telah berlangsung selama setahun, tetapi dirinya tidak tahu apa-apa!
Rasa sakit di hatinya membuatnya terjongkok dan memeluk dirinya dengan erat.
Jawaban Hansen di dalam ruangan terus terngiang di benaknya.
Meskipun sudah akan menikah, dia bahkan tidak ada niat untuk mengakhiri hubungan itu.
Apa Hansen merasa karena dia tidak bisa mendengar, jadi dia yakin bisa menyembunyikannya selamanya?
Ketika angin dingin bertiup pada malam musim dingin, udara dingin menembus ke dalam tulang dan pikiran Liana menjadi lebih jelas.
Dia akan memberi tahu Hansen dengan kenyataan nantinya, bahwa kebohongan pada akhirnya akan terbongkar.
Dan dia tidak akan pernah mentolerir kebohongan.
Bab 3
Liana menarik napas dalam-dalam untuk menahan rasa sakit di hatinya, ketika dia berdiri bersiap untuk pulang, sepasang tangan besar menahannya.
“Liana, kenapa tidak menungguku? Suasana hatimu sedang buruk hari ini? Kalau begitu aku bawa kamu mencoba gaun pengantin ya. Gaun pengantin yang dibuat khusus sudah sampai, ayo pergi coba dan lihat apa kamu suka. Jika kamu tidak suka, aku akan minta seseorang mengubahnya lagi.”
Hansen memeluknya dan mengusap kepalanya dengan penuh kasih sayang.
“Aku tidak mau pergi, kamu saja yang putuskan untuk gaun pengantinnya.”
Di hari pernikahan, dia akan meninggalkan Hansen. Jadi tentu saja dia tidak akan muncul di acara pernikahan dengan mengenakan gaun pengantin.
Jadi tidak masalah baginya seperti apa gaun pengantin itu.
Hansen menyadari sikap dinginnya, jadi dia bertanya dengan hati-hati dengan bahasa isyarat.
“Liana, sepertinya kamu tidak menantikan pernikahan kita? Apa kamu tidak ingin nikah denganku lagi?”
Liana menatap pria yang tampak panik itu, dia ingin memberitahunya.
‘Ya, aku tidak mau menikah.’
‘Jelas-jelas kamu sudah lama selingkuh. Kamu yang menginjak-injak hubungan kita. Kamu yang membuatku kehilangan ekspektasi terhadap pernikahan ini.’
‘Jadi apa hakmu bertanya padaku sekarang?’
Namun dia tidak berniat mengungkapkan kebenarannya sekarang.
Di toko gaun pengantin, begitu Liana dan Hansen masuk, staf toko membuka tirai dan menunjukkan gaun pengantin yang telah disiapkan.
“Nona Liana, gaun pengantin yang dipesan khusus oleh Tuan Hansen dari Perancis telah tiba. Coba Anda lihat apa ada yang perlu dipermak?”
Begitu dia selesai berbicara, seseorang yang ada di sebelahnya segera melangkah maju untuk menerjemahkan perkataan staf toko itu ke dalam bahasa isyarat.
Ketika para staf toko melihat ini, mereka berbisik dengan iri.
“Tuan Hansen perhatian banget, dia bahkan secara khusus menyewa seorang penerjemah bahasa isyarat.”
“Tidak hanya itu, lihatlah gaun pengantin ini. Berlian utama di atasnya dibeli oleh Tuan Hansen dari acara lelang Scothe. Dia meminta desainer untuk menyematkannya di gaun pengantin itu.”
“Tuan Hansen juga mengeluarkan banyak uang untuk menyewa desainer itu selama setahun, sehingga dia hanya fokus mendesain gaun pengantin ini.”
Kekaguman dari para staf toko membuat Hansen tersenyum dan memeluk pinggang Liana.
“Sayangku, apa kamu suka?”
Di bagian tengah gaun pengantin ada berlian merah muda seukuran telur merpati. Gaun sepanjang 5 meter itu bertabur berlian halus memancarkan cahaya menyilaukan di bawah sinar lampu.
Liana dengan lembut menyentuh gaun pengantin itu.
Tak bisa disangkal, gaun pengantin ini persis seperti yang dia suka.
Saat pacaran, dia berkali-kali menyebutkan bahwa dia paling suka warna pink dan suka gaun pengantin yang memanjang di belakang.
Hansen mengingat semua detail ini, makanya gaun pengantin yang sempurna ini bisa terbentuk.
Sayangnya, seindah apapun gaun pengantinnya atau seberapa berkilau berliannya, itu tetap tidak dapat menutupi luka di hatinya.
“Liana, perhatikan baik-baik bagian tengah berliannya. Ada ukiran L&Hforever di atasnya.”
“Berlian berarti selamanya dan akan bertahan selamanya. Aku mengukir nama kita di atasnya untuk menyatakan bahwa cintaku padamu juga selamanya.”
Liana tanpa sadar memandangi berlian itu dan memang ada sederet huruf yang terukir di tengahnya.
Dia berbalik dan menatap mata penuh kasih Hansen, hatinya bergetar dan dia bertanya dengan lembut.
“Benarkah cintamu padaku akan bertahan selamanya?”
Hansen sangat cemas hingga dia segera menjawab dengan bahasa isyarat, dia takut Liana akan salah paham jika dia tidak segera menjawab.
“Aku, Hansen, akan selalu mencintai Liana. Selama hidupku, bukan, seumur hidupku, aku tidak akan pernah mengkhianatinya. Jika aku melanggar sumpahku, aku akan disambar petir.”
Kata-kata penuh cinta ini tidak dapat menghangatkan hatinya yang sudah dingin.
Jelas jelas dia sudah melanggar sumpahnya, tetapi masih berpura-pura di depan Liana. Apa dia tidak lelah?
Liana berbalik, tidak ingin melihat wajah munafiknya.
Hansen ingin lanjut mengatakan sesuatu, tapi ponselnya tiba-tiba berdering.
Ekspresi wajahnya sedikit berubah, dia berjalan ke samping untuk menghindar dan mengangkat telepon.
Ketika dia kembali, tampak sedikit perasaan bersalah di wajahnya.
“Liana, tiba-tiba ada masalah, aku harus kembali ke perusahaan. Kamu coba dulu gaun pengantinnya. Kalau ada yang perlu dipermak, bilang saja ke staf toko. Setelah itu, aku akan minta sopir mengantarmu pulang.”
Setelah memberikan isyarat, dia buru-buru masuk ke mobil, bahkan pelukan yang dulu sering dilakukan pun tidak sempat dilakukannya.
Para staf toko berseru dengan semangat setelah dia pergi.
“Astaga, pernyataan cinta Tuan Hansen barusan sangat mengharukan, aku hampir menangis.”
“Bahkan saat sedang buru-buru mau pergi urus pekerjaan, dia tidak lupa menasehati Nona Liana dengan perhatian. Dia pria yang luar biasa.”
Liana merasa ironis di hatinya.
Hansen tidak pernah meninggalkannya sendirian hanya untuk bekerja.
Terlebih lagi, ketika dia kembali setelah menerima telepon, matanya jelas dipenuhi nafsu.
‘Mana mungkin ada masalah di perusahaan?’
‘Dia pasti mau pergi cari simpanannya, Susan Riyanto.’
Liana menggerakkan sudut bibirnya dan berbalik untuk pergi.
Staf toko segera menghentikannya.
“Nona Liana, Anda belum mencoba gaun pengantinnya.”
Liana dengan tenang menggelengkan kepalanya.
“Tidak perlu dicoba.”
‘Lagi pula, hanya akan ada “mayat” pengantin wanita di hari pernikahan, gaun pengantin tidak akan terpakai.’