Bab 3
Liana menarik napas dalam-dalam untuk menahan rasa sakit di hatinya, ketika dia berdiri bersiap untuk pulang, sepasang tangan besar menahannya.
“Liana, kenapa tidak menungguku? Suasana hatimu sedang buruk hari ini? Kalau begitu aku bawa kamu mencoba gaun pengantin ya. Gaun pengantin yang dibuat khusus sudah sampai, ayo pergi coba dan lihat apa kamu suka. Jika kamu tidak suka, aku akan minta seseorang mengubahnya lagi.”
Hansen memeluknya dan mengusap kepalanya dengan penuh kasih sayang.
“Aku tidak mau pergi, kamu saja yang putuskan untuk gaun pengantinnya.”
Di hari pernikahan, dia akan meninggalkan Hansen. Jadi tentu saja dia tidak akan muncul di acara pernikahan dengan mengenakan gaun pengantin.
Jadi tidak masalah baginya seperti apa gaun pengantin itu.
Hansen menyadari sikap dinginnya, jadi dia bertanya dengan hati-hati dengan bahasa isyarat.
“Liana, sepertinya kamu tidak menantikan pernikahan kita? Apa kamu tidak ingin nikah denganku lagi?”
Liana menatap pria yang tampak panik itu, dia ingin memberitahunya.
‘Ya, aku tidak mau menikah.’
‘Jelas-jelas kamu sudah lama selingkuh. Kamu yang menginjak-injak hubungan kita. Kamu yang membuatku kehilangan ekspektasi terhadap pernikahan ini.’
‘Jadi apa hakmu bertanya padaku sekarang?’
Namun dia tidak berniat mengungkapkan kebenarannya sekarang.
Di toko gaun pengantin, begitu Liana dan Hansen masuk, staf toko membuka tirai dan menunjukkan gaun pengantin yang telah disiapkan.
“Nona Liana, gaun pengantin yang dipesan khusus oleh Tuan Hansen dari Perancis telah tiba. Coba Anda lihat apa ada yang perlu dipermak?”
Begitu dia selesai berbicara, seseorang yang ada di sebelahnya segera melangkah maju untuk menerjemahkan perkataan staf toko itu ke dalam bahasa isyarat.
Ketika para staf toko melihat ini, mereka berbisik dengan iri.
“Tuan Hansen perhatian banget, dia bahkan secara khusus menyewa seorang penerjemah bahasa isyarat.”
“Tidak hanya itu, lihatlah gaun pengantin ini. Berlian utama di atasnya dibeli oleh Tuan Hansen dari acara lelang Scothe. Dia meminta desainer untuk menyematkannya di gaun pengantin itu.”
“Tuan Hansen juga mengeluarkan banyak uang untuk menyewa desainer itu selama setahun, sehingga dia hanya fokus mendesain gaun pengantin ini.”
Kekaguman dari para staf toko membuat Hansen tersenyum dan memeluk pinggang Liana.
“Sayangku, apa kamu suka?”
Di bagian tengah gaun pengantin ada berlian merah muda seukuran telur merpati. Gaun sepanjang 5 meter itu bertabur berlian halus memancarkan cahaya menyilaukan di bawah sinar lampu.
Liana dengan lembut menyentuh gaun pengantin itu.
Tak bisa disangkal, gaun pengantin ini persis seperti yang dia suka.
Saat pacaran, dia berkali-kali menyebutkan bahwa dia paling suka warna pink dan suka gaun pengantin yang memanjang di belakang.
Hansen mengingat semua detail ini, makanya gaun pengantin yang sempurna ini bisa terbentuk.
Sayangnya, seindah apapun gaun pengantinnya atau seberapa berkilau berliannya, itu tetap tidak dapat menutupi luka di hatinya.
“Liana, perhatikan baik-baik bagian tengah berliannya. Ada ukiran L&Hforever di atasnya.”
“Berlian berarti selamanya dan akan bertahan selamanya. Aku mengukir nama kita di atasnya untuk menyatakan bahwa cintaku padamu juga selamanya.”
Liana tanpa sadar memandangi berlian itu dan memang ada sederet huruf yang terukir di tengahnya.
Dia berbalik dan menatap mata penuh kasih Hansen, hatinya bergetar dan dia bertanya dengan lembut.
“Benarkah cintamu padaku akan bertahan selamanya?”
Hansen sangat cemas hingga dia segera menjawab dengan bahasa isyarat, dia takut Liana akan salah paham jika dia tidak segera menjawab.
“Aku, Hansen, akan selalu mencintai Liana. Selama hidupku, bukan, seumur hidupku, aku tidak akan pernah mengkhianatinya. Jika aku melanggar sumpahku, aku akan disambar petir.”
Kata-kata penuh cinta ini tidak dapat menghangatkan hatinya yang sudah dingin.
Jelas jelas dia sudah melanggar sumpahnya, tetapi masih berpura-pura di depan Liana. Apa dia tidak lelah?
Liana berbalik, tidak ingin melihat wajah munafiknya.
Hansen ingin lanjut mengatakan sesuatu, tapi ponselnya tiba-tiba berdering.
Ekspresi wajahnya sedikit berubah, dia berjalan ke samping untuk menghindar dan mengangkat telepon.
Ketika dia kembali, tampak sedikit perasaan bersalah di wajahnya.
“Liana, tiba-tiba ada masalah, aku harus kembali ke perusahaan. Kamu coba dulu gaun pengantinnya. Kalau ada yang perlu dipermak, bilang saja ke staf toko. Setelah itu, aku akan minta sopir mengantarmu pulang.”
Setelah memberikan isyarat, dia buru-buru masuk ke mobil, bahkan pelukan yang dulu sering dilakukan pun tidak sempat dilakukannya.
Para staf toko berseru dengan semangat setelah dia pergi.
“Astaga, pernyataan cinta Tuan Hansen barusan sangat mengharukan, aku hampir menangis.”
“Bahkan saat sedang buru-buru mau pergi urus pekerjaan, dia tidak lupa menasehati Nona Liana dengan perhatian. Dia pria yang luar biasa.”
Liana merasa ironis di hatinya.
Hansen tidak pernah meninggalkannya sendirian hanya untuk bekerja.
Terlebih lagi, ketika dia kembali setelah menerima telepon, matanya jelas dipenuhi nafsu.
‘Mana mungkin ada masalah di perusahaan?’
‘Dia pasti mau pergi cari simpanannya, Susan Riyanto.’
Liana menggerakkan sudut bibirnya dan berbalik untuk pergi.
Staf toko segera menghentikannya.
“Nona Liana, Anda belum mencoba gaun pengantinnya.”
Liana dengan tenang menggelengkan kepalanya.
“Tidak perlu dicoba.”
‘Lagi pula, hanya akan ada “mayat” pengantin wanita di hari pernikahan, gaun pengantin tidak akan terpakai.’
Bab 4
Ketika sampai di rumah, notifikasi pesan di ponsel berbunyi.
Liana membuka ponselnya dan melihat sebuah foto.
Dalam foto tersebut, Hansen dengan tubuh bagian atas yang telanjang membelakangi kamera, Susan mengenakan gaun pengantin model mermaid, gaun yang panjang menyentuh lantai dan diangkat hingga ke pinggang, kedua pahanya yang indah melingkari pinggang Hansen dengan sangat menggoda.
Kemudian pesan lain berupa video masuk.
Susan menempel di leher Hansen dengan wajah kemerahan dan suaranya terengah-engah.
“Tuan Hansen... gaun pengantin yang baru tiba hari ini, sudah sobek karenamu... ”
Hansen terkekeh dan bersandar ke telinga Susan, suaranya terdengar serak.
“Gaun pengantin ini memang kamu pakai untuk ditunjukkan padaku, ‘kan?”
“Aku sudah kabulkan permintaanmu dan minta desainer gaun pengantin Liana untuk buatkan satu lagi untukmu. Malam ini giliranmu untuk memuaskanku, ‘kan?”
Susan menjerit pelan dan videonya tiba-tiba berhenti.
Seolah itu belum cukup, pesan lain masuk lagi.
[Oh ya, aku lupa Nona Liana tidak bisa dengar. Sayang sekali. Lain kali aku akan tambahkan teks deh.]
Tangan Liana yang memegang ponsel memutih dan air mata jatuh tak terkendali.
Dia tidak pernah tahu bahwa hati manusia bisa terbelah dua.
‘Meminta desainer mendesain dua set gaun pengantin untuk dua wanita, Hansen, apa ini yang kamu sebut cinta?’
Dia tidak tahan dan tidak menginginkan cinta seperti ini.
Dia menahan rasa sakit di hatinya dan mengangkat tangannya untuk menghapus air matanya.
Tatapannya jatuh pada cincin pertunangan yang ada di jari manisnya.
Liana menatap cincin itu, lalu melepasnya dan membuangnya ke tempat sampah.
Cincin ini secara pribadi didesain oleh Hansen setelah dia belajar dari seorang desainer perhiasan. Setelah desain selesai, dia pergi ke produsen cincin untuk membentuknya sendiri. Seluruh prosesnya dilakukannya sendiri.
Saat melamar, dia mengatakan bahwa hanya cincin yang dirancang dan dibuat sendiri yang akan bermakna. Dia juga bilang kelak setiap dia menyentuh cincin itu, dia akan merasakan cintanya.
Namun kini, cintanya sudah berubah.
Cincin ini pun kehilangan makna aslinya.
Hansen baru pulang saat larut malam.
Liana merasakan seseorang di sampingnya, aroma parfum bercampur aroma bunga Photinia tercium di sampingnya. Sosok dua orang dalam video itu tiba-tiba muncul di benaknya, dia tidak bisa menahan diri dan bergegas ke kamar mandi untuk muntah.
Melihat Liana yang tidak tampak baik-baik saja, Hansen sangat cemas hingga dia ingin memanggil dokter keluarga.
“Liana, perutmu sakit? Aku segera panggil dokter!”
Liana memegang tangannya dengan mata yang memerah.
“Aku baik-baik saja, aku hanya... Teringat beberapa foto dan video yang membuatku mual.”
Hansen berlutut dan menepuk punggungnya, matanya penuh kekhawatiran.
“Lain kali jangan lihat hal-hal seperti itu lagi. Melihatmu tidak nyaman aku juga merasa tidak nyaman.”
Hansen takut bahasa isyarat tidak bisa mengungkapkan ketidaknyamanannya, jadi dia meraih tangan Liana dan meletakkannya di dadanya agar merasakan jantungnya berdebar kencang.
Liana tanpa sadar menundukkan kepalanya untuk melihatnya, tetapi sekilas dia melihat beberapa tanda merah mencolok di bawah kerah yang terbuka.
Dia tidak tahan dan muntah lagi.
‘Seberapa kuat mental Hansen untuk bisa menunjukkan ekspresi penuh cinta di hadapanku meskipun ada jejak wanita lain?’
Hansen menjadi semakin cemas saat melihat ini.
“Siapa sih yang kirimkan foto dan video yang buat Liana-ku jadi seperti ini? Kalau aku tahu, aku tidak akan mengampuninya!”
Senyuman pahit muncul di bibir Liana.
‘Hansen, kamulah yang membuatku seperti ini.’
Dia tidak ingin melihat wajah munafiknya lagi, jadi dia mendorongnya keluar kamar dan mengunci pintu.
“Aku ingin tidur sendirian malam ini.”
Suara khawatir Hansen terus terdengar dari luar pintu, tapi dia seperti tidak mendengarnya dan langsung pergi tidur.
Kata-kata Hansen dalam video itu terus terngiang di benaknya.
Saat berpacaran dengan Hansen, Hansen berkata bahwa dia akan memberinya cinta yang tiada duanya.
Saat itu dia merasa bahwa Hansen adalah penyelamatnya.
Tapi sekarang, dia jelas-jelas adalah iblis yang menyeretnya ke tingkat neraka yang lebih dalam.
Setelah mengalami cinta yang tak terlupakan, dia memberikan pukulan fatal padanya.
Liana memejamkan mata, air mata mengalir dari sudut matanya.
Jika dia bisa mengulanginya lagi, dia akan memilih tidak pernah mengenal Hansen.
Keesokan paginya, Liana membuka pintu dan melihat Hansen yang memiliki tatapan sedih.
“Liana, kenapa kamu mengusirku dari kamar? Kamu marah karena aku meninggalkanmu di toko gaun pengantin kemarin? Kemarin benar-benar ada hal mendesak, maafkan aku ya?”
‘Hal mendesak?’
‘Tampaknya buru-buru untuk tidur bersama Susan memang merupakan hal yang mendesak baginya.’
Liana tidak membongkar kebohongannya. Dia akan pergi dalam delapan hari lagi, saat itu Hansen dengan sendirinya akan tahu bahwa Liana telah mengetahui segalanya.
Liana menggelengkan kepalanya.
“Aku tidak marah. Pekerjaan lebih penting, aku mengerti kok.”
Nada tenang seperti itu membuat jantung Hansen berdetak kencang dan dia segera membalas.
“Tidak! Tentu saja, Liana-ku yang paling penting. Ke depannya aku tidak akan pernah meninggalkanmu sendirian lagi.”
Setelah memberikan isyarat, dia memeluknya erat-erat, seolah dia ingin menyatu dengannya dan tidak akan terpisah lagi.
Liana tidak menjawab.
‘Ke depannya?’
Sudah tidak akan ada lagi masa depan bagi mereka.
Bab 5
Mungkin karena Hansen merasa bersalah, beberapa hari kedepan dia selalu menemaninya, bekerja dari rumah sambil mengurus detail pernikahan.
Hingga ada pertemuan bisnis hari itu, barulah Hansen terpaksa hadir.
Dia bersikeras agar Liana ikut dengannya dan tanpa menunggunya menolak, dia langsung mengundang penata rias untuk datang ke rumahnya.
Ketika mereka tiba di pertemuan, Liana menyadari Susan juga ada di sana.
Mengenakan gaun ketat v-neck, sosok cantiknya terlihat jelas. Dia tersenyum dan berjalan ke arah mereka untuk menyapa.
“Tuan Hansen, Nona Liana.”
Liana memandangi Susan di depannya, dia tampak anggun dan tenang, beda sekali dengan orang yang memprovokasinya semalam.
Aktingnya sama bagusnya dengan Hansen.
Liana melihat dengan jelas tatapan mata Hansen ketika dia melihat Susan, jakunnya pun bergerak, tapi dia masih menggandeng tangan Liana, berpura-pura bersikap dingin kepadanya selayaknya atasan dan hanya mengangguk.
Orang-orang di pertemuan yang melihat Hansen pun datang untuk berbicara dengannya sambil membawa gelas anggur.
Para istri juga datang berbicara dengan Liana, tetapi dia tetap berperan sebagai orang tuli dan berpura-pura tidak mendengar apa pun.
Hansen tersenyum dan menjelaskan semuanya kepada mereka. Dia takut Liana akan bosan, jadi dia mengambil kue-kue yang Liana suka dan meletakkan segelas jus di tangannya. Hal ini menarik pujian dari semua orang.
“Tuan Hansen benar-benar pria yang luar biasa.”
“Aku sudah lama mendengar bahwa Tuan Hansen sangat mencintai tunangannya, setelah melihatnya sendiri, ternyata rumor itu benar.”
Liana menunduk, bulu matanya yang panjang menutupi sarkasme di matanya.
Saat mereka berbincang, ponsel Hansen berdering.
Dia melihat ponselnya, wajahnya sedikit berubah dan dia berkata dengan nada meminta maaf, “Maaf semuanya, ada pekerjaan yang harus aku urus.”
Setelah berbicara, dia tidak lupa memberitahu Liana dengan bahasa isyarat.
“Liana, ada yang harus aku urus. Kamu duduk di sini tunggu aku. Aku segera kembali.”
Liana tanpa sadar melirik ke sekitar dan menyadari Susan juga tidak ada di sana.
Tidak lama kemudian, ponselnya bergetar, Susan mengirimkan pesan padanya.
Itu adalah tangkapan layar obrolan.
Dalam gambar itu, Susan mengirimkan foto dengan punggung telanjang, bagian bawah resleting membuat orang berimajinasi.
Ada juga teks di bawahnya: [Tuan Hansen, resletingku tidak bisa ditutup, apa kamu bisa bantu aku?]
Hansen hanya menjawab dengan singkat: [Kirim lokasi.]
[Dia sudah menunggu di kamar mandi dengan tidak sabar. Bahkan ada orang lewat di luar, benar-benar mengasyikkan. Dia melakukannya denganku dua kali, aku bahkan hampir tidak bisa berjalan. Kamu tidak akan pernah bisa memberinya perasaan ini.]
[Tadi kami tidak memakai kondom, lho. Ini sudah kesekian kalinya kami tidak memakainya. Katanya dia mau aku lahirkan anakku kalau hamil. Mungkin saat ini aku sudah mengandung anaknya di dalam perutku.]
Liana memejamkan mata dan menekan jantungnya dengan kuat, berusaha menghilangkan rasa sakitnya.
‘Apa dia begitu tidak tahan, hingga tak bisa menunggu mesti hanya beberapa jam?’
Saat ini, ponselnya bergetar lagi.
Dia mengira itu pesan provokatif dari Susan lagi, tetapi setelah mengklik dan melihatnya, itu dari agensi kematian palsu.
[Nona Liana, identitas baru Anda sudah siap. Kami telah memesan tiket pesawat ke Inggris jam 6 sore lima hari lagi. Kami perlu mengkonfirmasi lagi apakah Anda yakin mau pergi.]
Liana membuka kamera dan merekam video pendek.
“Aku yakin mau pergi.”
Begitu dia selesai berbicara, suara panik terdengar dari belakang.
“Pergi? Kamu mau pergi, Liana?”