Bab 4
Sahabatku mengerti maksudku dan berkata, "Aku senang kamu datang mencariku. Itu berarti kamu percaya padaku."
"Kalau kamu berani diam-diam kabur, percayalah, aku nggak akan pernah memaafkanmu selamanya!"
Setiap hari, sahabatku berusaha menggunakan berbagai cara untuk membuatku bahagia. Sayangnya, kesehatanku makin memburuk dari hari ke hari.
Di suatu malam, aku duduk sendirian di balkon menikmati angin sepoi-sepoi.
Saat aku membuka mataku, aku melihat sosok putriku.
Dia masih mengenakan pakaian yang dikenakannya saat meninggal. Pakaian rumah sakit longgar yang menutupi tubuh mungil putriku.
"Ibu, kenapa kamu mengabaikanku?"
Aku mencoba mengulurkan tangan dan memeluk putriku.
Keesokan paginya, sahabatku menemukan jasadku. Mengikuti surat wasiatku, dia meletakkan abu kremasiku bersama dengan abu putriku.
Putriku dan aku mungkin telah menjadi hantu.
Namun, entah kenapa kami tidak terlahir kembali.
Kami hanya bisa berkelana tanpa tujuan di dunia ini. Di saat Elis sekali lagi mengalihkan pandangannya kepada pria di alun-alun.
Aku baru bertanya padanya, "Kamu ingin bertemu ayahmu?"
Selama beberapa saat ini, matanya selalu tertuju pada orang-orang yang tampak mirip dengan Riyan.
Aku tahu alasannya. Riyan selalu sibuk. Aku hanya bisa beri tahu putriku kalau ayahnya melakukan hal-hal hebat. Karena itu, putriku selalu mengagumi Riyan.
Saat putriku berada di rumah sakit, dia selalu ingin bertemu dengan ayahnya. Sayangnya, sampai saat terakhir pun, dia tidak bisa bertemu dengan ayahnya.
Dia sudah mati sekarang, jadi tidak ada salahnya bertemu dengan ayahnya, 'kan?
Elis akhirnya bertemu dengan ayah yang sangat dirindukannya di kantor. Dia melihat ke kiri dan ke kanan.
Namun, tidak peduli seberapa keras pun dia mencoba, dia tidak bisa menyentuh ayahnya.
Sekretaris Riyan membawakannya kopi. Riyan mengambil kopi itu dan melirik sekretarisnya.
Kemudian bertanya dengan santai, "Bagaimana kondisi putriku di rumah sakit?"
Sekretaris berpikir sejenak, lalu menjawab, "Dia baik-baik saja. Dia sudah keluar dari rumah sakit beberapa waktu lalu."
Namun, Elis sudah meninggal. Apa mungkin Riyan punya putri kedua yang tidak kuketahui?
Riyan tidak bertanya lagi. Dia berbalik dan kembali ke mejanya untuk melanjutkan pekerjaannya.
Setelah kembali ke meja kerjanya, sekretaris itu bergosip dengan rekan-rekannya. "Kalian nggak rasa Pak Riyan aneh? Bukankah dia memberikan bonus pada kita di hari operasi putrinya berhasil?"
"Kenapa dia tanya aku lagi hari ini?"
"Setelah kamu bilang, aku baru ingat. Tanggal 8 bulan lalu, gajiku naik tiga kali lipat!"
Aku menggenggam tangan putriku. Seluruh tubuhku membeku.
Namun, Elis melompat kegirangan. "Ayah datang tanggal 8, 'kan?"
"Ini semua salahku. Kalau saja aku hidup lebih lama, aku pasti bisa bertemu dengan ayahku!"
Bab 5
Rasanya seperti ada duri yang menganjal di tenggorokanku.
Tanggal 8 bulan lalu adalah hari kematian putriku karena serangan jantung.
Aku masih ingat dia terjatuh ke pelukanku dan suhu tubuhnya perlahan turun.
Sebaliknya, Kristin justru menjalani operasi transplantasi jantung yang seharusnya menjadi milik Elis hari itu.
Semua orang mengira Kristin adalah putrinya. Ternyata, di hari putrinya meninggal, dia dengan senang hati membagikan bonus pada seluruh karyawan perusahaan demi merayakan keberhasilan operasi Kristin.
Logikanya, orang yang sudah mati tidak akan merasa kedinginan.
Namun, aku merasa seakan dilempar ke dalam lautan es.
Riyan, tepat di saat kamu menyemangati Kristin untuk kehidupan barunya, putri kandungmu meninggal karena serangan jantung di bangsal sebelah dan meninggalkan dunia ini selamanya.
Kamu punya waktu membayar tiga kali lipat gaji ke seluruh karyawan, tetapi kamu malah mengabaikan ribuan pesan yang aku kirim padamu.
Putri kandungmu bahkan menunggu kedatanganmu hingga saat-saat terakhir sebelum kematiannya.
Riyan, kamu nggak pantas jadi manusia!
Sejak kecil, Elis sudah sangat cerdas. Kebisuanku sepertinya membuatnya menyadari sesuatu.
Dia tidak lagi berputar di sekitar Riyan.
Malam harinya, kami pun mengikuti Riyan pulang ke rumah.
Ini bukan rumah yang dulu kami tinggali, tetapi rumah Riyan dan Monika.
Monika menyambut kepulangan Riyan dengan senang.
"Kristin, Ayah sudah pulang!"
Kristin bergegas keluar ruangan dengan gembira. Ini bukan pertama kalinya aku melihat wajah gadis kecil itu.
Tidak lama setelah Elis masuk SD, dia mengatakan padaku bahwa dia akan pergi bermain dengan teman-temannya.
Saat pulang, wajahnya penuh luka. Setelah sekian lama bertanya, putriku baru bercerita sambil menangis kalau ada seorang gadis kecil yang memukulinya.
Gadis kecil itu juga menyebut Elis sebagai anak haram.
Setelah aku lapor polisi, inilah wajah yang aku lihat dalam rekaman CCTV.
Saat itu, Riyan masih menasihatiku agar tidak perhitungan dengan seorang gadis kecil.
Setelah berulang kali mencari tahu dan hasilnya nihil, aku juga tidak memikirkan hal itu lagi.
Ternyata, dia putrinya Monika.
Melalui percakapan mereka, aku baru tahu kalau Monika adalah cinta pertamanya Riyan.
Hanya saja, karena keluarga Monika dulunya adalah pengasuh Keluarga Tanardi, jadi Monika dan Riyan termasuk teman masa kecil.
Namun, mana mungkin Keluarga Tanardi mengizinkan putri seorang pengasuh menjadi menantunya?
Monika pun menjadi kekasih gelap Riyan. Hubungan mereka sudah terjalin selama bertahun-tahun.
Kristin bahkan dua tahun lebih besar dari Elis.
Riyan menikahiku hanya untuk membungkam orang tuanya.
Pasangan hina ini diam-diam menjalin hubungan cinta yang mereka kira penuh gairah itu.
Riyan, kamu nggak akan mati dengan tenang!