Bab 1
Suamiku menyuap dokter untuk mentransplantasikan jantung yang mulanya milik putri kami ke putri teman masa kecilnya.
Hari itu juga, putriku terkena serangan jantung dan meninggal di pelukanku.
Sebaliknya, transplantasi jantung putri teman masa kecil suamiku berhasil. Dia begitu gembira sampai membagikan bonus untuk seluruh karyawan perusahaan.
Aku sangat emosi sampai muntah darah. Dokter mengatakan aku menderita leukemia stadium lanjut.
Aku tidak punya banyak waktu lagi.
Aku pulang dengan hati hancur, memegang guci abu putriku.
Namun, suamiku malah ingin berkeliling dunia bersama teman masa kecilnya dan juga putrinya untuk merayakan kehidupan baru mereka.
"Monika, kalau Kristin sudah sembuh, aku bakal ajak kalian keliling dunia. Bukankah kamu bilang mau ke Vadronia lihat aurora?"
"Kamu temani aku, lantas istrimu nggak cemburu? Bagaimana kalau dia ngamuk?"
Riyan mendengus dingin. "Dia mana berani!"
Dulu aku mungkin tidak berani melakukannya, tetapi kini putriku sudah meninggal. Aku sendiri juga sudah sekarat. Apa lagi yang aku takutkan?
Aku memegang guci abu di tanganku dan mendorong pintu hingga terbuka.
Monika tengah duduk di pangkuan Riyan dan bertingkah genit. Saat melihatku, dia juga tidak berniat berhenti dan malah merangkul leher Riyan.
"Kak Sofia, Kak Riyan bilang lehernya sakit. Aku bantu dia pijat bentar. Kamu nggak cemburu, 'kan?"
Jelas ada provokasi di mata Monika. Dia yakin aku akan menahan emosi demi keharmonisan keluarga.
Riyan justru menatapku dengan kesal, seolah-olah aku sudah menganggu kesenangannya. "Baru berapa hari nggak pulang, kamu sudah buat dirimu terlihat seperti pengemis!"
"Aku tahu kamu marah. Masalah transplantasi jantung memang keputusanku sendiri. Kristin nggak bisa tunggu lebih lama lagi. Lain kali kalau ada yang lebih baik, aku akan atur buat putri kita."
Namun, putriku sudah meninggal. Dia tidak butuh lagi.
"Aku tahu kamu sayang sama putrimu, tapi nyawa siapa nggak penting? Elis adalah putri kandungku. Mana mungkin aku nggak peduli dengan hidup matinya? Kalau kamu buat masalah lagi, itu berarti kamu nggak pengertian!"
Nada bicara Riyan penuh dengan ketidaksabaran, seakan-akan semua yang dilakukannya sudah benar. Sebaliknya, akulah yang mencari masalah tanpa alasan.
Kristin tidak bisa menunggu lagi, tetapi apa putriku bisa menunggu?
Kalau saja putriku yang dioperasi hari itu, dia tidak akan meninggal. Orang yang sembuh sekarang seharusnya putrinya.
Setelah kehilangan donor jantung, Monika sengaja mengutus orang di luar bangsal putriku untuk mengatakan bahwa ayahnya tidak menginginkannya lagi.
Putriku yang terkena serangan jantung akibat syok langsung terjatuh ke pelukanku dan menghembuskan napas terakhirnya.
Dia masih begitu muda dan belum melihat dunia ini sepenuhnya.
Sebelum meninggal, dia mencengkeram bajuku erat-erat dan bertanya, "Benarkah yang mereka bilang itu? Ayah sungguh nggak menginginkanku lagi?"
Aku hanya bisa memeluknya erat dan mengatakan padanya kalau Ibu akan selalu mencintaimu.
Sampai ajal menjemputnya, putriku juga tidak bertemu ayahnya.
Lantaran operasi transplantasi jantung berhasil, putri teman masa kecilnya, Kristin, pun sehat sekali.
Di saat itu juga, aku dipenuhi kebencian dan ingin menelan mereka hidup-hidup.
Karena aku hanya diam, Riyan mengira aku sudah menerima nasib.
"Masalah ini berakhir sampai di sini saja. Cepat rapikan dirimu. Lihat penampilanmu sudah seperti apa!"
Aku memegang guci abu erat-erat di tanganku dan menatap lelaki yang pernah kucintai itu.
"Riyan, kita cerai saja!"
Bab 2
Riyan tertegun di tempat. Matanya terbelalak. Dia kelihatan tidak percaya.
Aku berinisiatif minta cerai dengannya?
"Sofia, kamu salah minum obat? Kamu minta cerai denganku?"
Aku menarik napas dalam-dalam. "Riyan, apa kamu tuli? Aku bilang aku mau cerai sama kamu!"
Selesai bicara, aku lempar surat perjanjian cerai yang sudah aku cetak sebelumnya ke hadapannya.
"Aku nggak akan ambil sepeser pun dari hartamu. Aku akan tinggalkan rumah ini dengan tangan kosong. Satu-satunya permintaanku adalah kita harus cerai secepatnya!"
"Kalau besok kamu ada waktu, kita langsung urus ke kantor sipil."
Seketika, rasanya dunia menjadi tenang.
Monika juga jarang sekali tidak mengeluarkan suara.
Riyan tidak mengambil surat perjanjian perceraian yang tergeletak di bawah.
Ada kerutan di dahinya. "Mau sampai kapan kamu ribut-ribut?"
"Hanya karena jantung itu nggak diberikan pada Elis? Memangnya sepenting itu? Kristin jelas lebih butuh jantung ini. Apa kamu nggak ngerti?"
"Sofia, kamu juga seorang ibu. Mengapa kamu nggak bisa sedikit lebih pengertian?"
Monika juga berpura-pura menangis. "Kalau tahu kamu bakal begitu marah, meski Kristin bakal mati, aku juga nggak akan membiarkan dia mengambil jantung ini!"
"Ini semua salahku. Kamu boleh pukul aku atau marahi aku."
Riyan memapah Monika duduk di sofa. "Jangan salahkan dirimu. Ini semua keputusanku sendiri. Tubuhmu lemah. Jangan nangis lagi. Aku bisa atasi semua ini!"
Saat Riyan menoleh ke arahku, wajahnya tampak sedingin es. "Kamu pikir kamu bisa mengancamku dengan cerai? Jantung sudah diberikan pada Kristin, jadi percuma saja kamu ribut!"
"Kalau kamu sungguh mau cerai denganku, jangan harap kamu bisa bertemu dengan putrimu lagi!"
Riyan memapah Monika kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Sesampainya di tangga, pria itu berbalik dan memelototiku. "Jangan bahas soal cerai lagi!"
Pintu terbanting dengan keras. Aku memeluk guci abu erat-erat dalam pelukanku.
Rasanya seperti putri kecilku masih ada di sisiku.
Sejak aku pulang sampai sekarang, Riyan sama sekali tidak menanyakan hal yang menunjukkan kepeduliannya padaku dan putriku.
Dia hanya melihat penampilanku yang menyedihkan dan merasa aku sudah mempermalukannya.
Namun, dia tidak melihat guci di tanganku, yang mana tertempel foto putriku di atasnya.
Aku memandangi rumah yang luas itu. Putriku dan aku punya banyak kenangan di sana.
Putriku menari dan bermain-main di sini.
Terakhir, putriku terjatuh di sana dengan tidak berdaya.
Aku memanggilnya, tetapi dia tidak bisa bangun.
Riyan melewatkan saat-saat terakhir putrinya. Dia juga ditakdirkan untuk tidak melihat saat-saat terakhirku.
Bab 3
Keesokan paginya, aku memakai riasan tipis.
Aku tidak ingin penampilanku terlihat menyedihkan sekalipun di saat-saat terakhirku.
Hanya saja, meski aku terus menunggu di Kantor Sipil, Riyan tidak kunjung datang.
Aku juga meneleponnya, tetapi dia tidak menjawab.
Aku langsung menelepon Monika. "Riyan ada di sana, 'kan? Suruh dia datang urus cerai!"
Suara jengkel Riyan terdengar. "Sofia, jangan nggak tahu diri! Kalau sempat aku tanda tangan surat cerai itu, kamu bakal nyesal!"
Suaraku terdengar tenang. "Apanya yang perlu disesalkan? Kalau kamu nggak berani datang, berarti kamu pengecut!"
Mana mungkin Riyan rela kehilangan harga diri seperti itu? Dia terpaksa datang juga.
Prosedur cerai berjalan lancar. Melihat akta cerai itu, hatiku merasa lega.
Aku nggak ingin nama Riyan ada di batu nisanku setelah aku meninggal. Sekalipun sudah meninggal, hal itu tetap terasa menjijikkan.
Wajahku refleks tersenyum. Sebaliknya, ekspresi Riyan sangat muram. "Sofia, kamu hebat sekarang! Di saat cerai, kamu masih bisa senyum! Kenapa? Kamu sudah temukan penggantiku?"
"Jangan coba-coba bawa putriku! Beberapa hari lagi, aku akan pergi jemput dia di rumah sakit. Kalau kamu berani macam-macam, aku juga nggak segan lagi!"
Monika menoleh ke belakang dan memberiku senyuman penuh kemenangan.
Dia tampak sangat bangga karena memungut 'sampah' yang tidak aku inginkan.
Riyan, kamu nggak akan bisa bertemu dengan putrimu lagi. Dia sudah meninggal. Dia meninggal di hari di mana Kristin sehat kembali.
Mungkin kamu seharusnya senang karena tidak perlu membayar tunjangan anak lagi.
Aku kembali ke tempat yang pernah kusebut sebagai rumah.
Sendirian mengemasi semua barang yang berhubungan denganku dan putriku.
Mengambil apa yang bisa kuambil. Yang tidak bisa diambil, maka dihancurkan saja.
Aku jelas merasa kondisi tubuhku jauh lebih lemah dalam dua hari ini. Hanya mengemasi barang-barang saja sudah membuatku hampir tidak bisa bernapas dengan normal.
Alasan aku memaksa untuk bercerai dan menghapus semua jejak sebenarnya sangatlah sederhana.
Aku tidak ingin melihat Riyan lagi. Aku juga tidak ingin ada barang milikku yang tertinggal di tempat Riyan lagi.
Bahkan, menghirup udara yang sama dengannya membuatku merasa mual.
Di hari itu juga, aku memesan tiket dan pergi ke rumah sahabatku dengan menenteng sedikit barang bawaan dan juga guci abu milik putriku.
Mulanya, aku ingin kembali ke kampung halaman. Namun, setelah aku menikah dengan Riyan, orang tuaku tidak punya siapa-siapa lagi yang merawat mereka di kampung halaman. Kesehatan mereka juga perlahan memburuk.
Aku menelepon mereka. Mereka juga hanya menceritakan kabar baik dan menghindari kabar buruk padaku.
Flu membuat kedua orangtuaku meninggal. Kalau aku kembali, aku takut akan teringat dengan masa lalu.
Sahabatku memarahi Riyan di depanku. Melihat kondisi tubuhku yang menyedihkan, sahabatku menangis.
Hari demi hari kulewati, tubuhku juga makin lemah. Wajah sahabatku pun tampak makin lelah.
Tiba-tiba aku merasa sedikit menyesal. Mungkin aku tidak seharusnya merepotkannya. Seharusnya aku mencari tempat yang sepi dan menunggu ajal datang dengan tenang tanpa mengganggu siapa pun.