Bab 5
Orang-Orang yang Memandang Rendah Dirinya
"Memutuskan pertunangan???"
"Ahahaha!!"
Alicia tiba-tiba tertawa.
“Xavier, kamu benar-benar naif sekali!!”
"Pertunangan kita telah dibatalkan, sejak kamu menghilang lima tahun lalu."
"Kamu datang ke sini untuk memutuskan pertunangan denganku sekarang? Ahaha ...."
Alicia tertawa terbahak-bahak, bahkan terpingkal-pingkal karena menurutnya perkataan Xavier sangat lucu dan sebagian lagi karena dia ingin melepaskan kegelisahan di hatinya. Tidak peduli seberapa keras dia menggaruk kulit kepalanya, dia tidak pernah mengiria kalau Xavier bisa kembali dalam keadaan hidup.
Jangan-jangan kejadian lima tahun lalu sudah terungkap?
Xavier berkata tanpa ekspresi, "Kalau sudah dibatalkan lima tahun lalu, lalu kenapa kamu masih meminta uang pada orang tuaku setiap bulan?"
Alicia berkata dengan percaya diri mengatakan, "Bagaimana kalau kamu mencari tahu dulu seluk beluk permasalahan ini! Aku tidak meminta uang pada orang tuamu, tetapi mereka yang memohon padaku dan berinisiatif memberiku uang!"
“Benarkah?” tanya Xavier dengan mata menyipit, aura pembunuh sudah muncul di hatinya.
Xavier tidak menyangka meskipun dia sudah kembali, Alicia masih berani berbicara tanpa malu-malu!
Alicia bertanya balik, "Kenapa? Tidak percaya padaku? Kenapa kamu tidak bertanya pada orang tuamu, apakah mereka pernah memohon padaku, mau memberiku uang."
Melihat Alicia mengatakan secara rasional, dalam sesaat Xavier sulit membedakan kebenaran dan kebohongan.
Alicia melanjutkan, "Aku tahu kamu tidak mengetahui alasannya. Sejujurnya, orang tuamu demi mahar pertunangan ini, memberiku dua puluh juta setiap bulan. Jika bukan karena kasihan melihat pasangan jompo itu, aku juga tidak menginginkan uang ini!!”
Setelah mengatakan ini, Alicia merangkul kedua tangan di depan dada, memasang tampang menyedihkan dan kasihan.
Xavier melihat sosok ini malah merasa jijik. Dia tidak menyangka lima tahun lalu, dia menolak begitu banyak orang dan memilih wanita ini, ternyata wanita ini begitu munafik dan keji.
“Lalu menurut apa yang kamu katakan, merobohkan rumah itu juga inisiatif orang tuaku sendiri??" tanya Xavier memandang Alicia sambil bercanda. Dia ingin melihat bagaimana Alicia akan membela diri.
Alicia segera bertanya, “Memang begitu, ‘kan?”
Alicia masih menunjukkan sikap rasional, seperti memang begitu kenyataannya! !
Nada suaranya mengungkapkan rasa tidak bersalahnya.
“Rumah bobrokmu itu, siapa sih yang menginginkannya. Jika bukan karena orang tuamu itu yang memohon padaku, mau memberikannya padaku, aku bahkan tidak ingin melihatnya sama sekali.”
Xavier, "..."
Dia benar-benar tidak menyangka kalau Alicia yang lima tahun lalu berperilaku baik, yang begitu baik hati, begitu lemah lembut itu, bisa berubah menjadi orang yang begitu mata duitan.
“Kamu benar-benar tidak tahu malu!” Xavier tidak bisa menahan diri untuk tidak berteriak marah.
Alicia yang pada awalnya masih begitu bangga, begitu dimarahi Xavier, langsung kehilangan muka, dia menjadi marah dan berkata, "Aku tidak tahu malu? Aku hanya mengambil kembali apa yang menjadi milikku saja."
Setelah mengatakan ini, Alicia menarik napas dalam-dalam, lalu berteriak pada para pelayan keluarga Wynora, "Hari ini kita mengadakan acara yang bahagia ini, jangan sampai dia memengaruhi suasana hati semua orang, usir dia!!"
Xavier memandang Alicia yang terlihat asing ini, ada perasaan yang tak terlukiskan di dalam hatinya, waktu telah berlalu, banyak hal yang ikut berubah termasuk orangnya.
Gadis yang pernah dia sukai ini pun telah berubah.
Pandangan mata Xavier menyapu ke para pelayan keluarga Wynora dan akhirnya tertuju pada Alicia.
"Aku bisa berjalan sendiri!"
“Hanya ada satu hal terakhir yang ingin kukatakan padamu.”
"Jika kamu tidak ingin orang lain tahu, maka kamu sendiri jangan melakukan apa pun!"
"Selama lima tahun ini, bagaimana kamu menghina orang tuaku, aku pasti akan melakukan hal yang sama terhadapmu!"
"Aku akan membuatmu menyesali pilihanmu!"
Setelah mengatakan ini, Xavier berbalik dan bersiap untuk pergi.
Akan tetapi malah terdengar ledakan tawa dari belakangnya.
Xavier berhenti dan melihat ke belakang.
Dia melihat semua orang di ruang tamu itu tertawa.
Terutama ibunya Alicia, Christina Lawrence, dia yang tertawa paling keras dan hampir menitikkan air mata ketika dia tertawa, “Lima tahun kamu menghilang, perusahaanmu pun sudah tidak ada, sekarang orang tuamu masih terbaring di rumah sakit dan rumahmu telah dibongkar setengah. Rumahmu pun hanya tinggal tembok saja, tidak memiliki apa-apa. Orang miskin sepertimu, apa yang harus disesali Alicia kami ini?"
Setelah Christina mengatakan ini dengan arogan, dia melihat Xavier dari atas sampai ke bawah dan mengeluarkan suara berdecak "tsk, tsk". Kamu berusia dua puluh tahunan, mengenakan pakaian yang begitu lusuh. Aku rasa pakaian yang kamu pakai ini, nilainya masih tidak sebanding dengan nilai sepatu yang aku pakai ini, deh!”
“Melihat betapa miskinnya kamu, aku rasa lima tahun ini, kamu tidak menghasilkan uang, ‘kan!”
"Pantas saja orang tuamu mengganggu Alicia setiap hari. Mereka mungkin takut kalau saat kamu kembali, kamu tidak bisa punya uang, tidak bisa menikah dan punya istri, ‘kan!"
Setelah mengatakan ini, Christina tertawa sepuasnya.
Semua orang di ruang tamu itu juga ikut tertawa.
"Hanya orang buta saja yang mau menikah dengannya, ‘kan? Haha ...."
“Bagaimanapun, aku tidak akan membiarkan putriku menikah dengan sampah semacam ini!” kata anggota keluarga Wynora lainnya di ruang tamu.
Wajah Xavier tampak pucat, dia tidak menyangka kalau mereka ini memandang rendah dirinya, hanya karena pakaian yang dia pakai. Mereka langsung menolak dirinya dan menganggap dia miskin.
Kalau saja mereka tahu, Xavier adalah Panglima Besar Pluno, yang juga pernah dianugerahi Medali Negarawan Terbaik Tiada Tara yang memimpin jutaan pasukan, apakah mungkin Xavier bisa tidak punya uang?
Saking banyak uang yang dia miliki, dia sendiri pun tidak tahu bagaimana menghitungnya lagi!
Dia sendiri bahkan tidak mengetahui aset apa saja yang dimilikinya.
Dia hanya ingat, anak buahnya pernah melaporkan padanya, sepertinya dia memiliki beberapa bank dan beberapa perusahaan multinasional yang beroperasi di luar negeri.
Namun dia belum mengetahui secara pasti berapa jumlah asetnya. Bagaimanapun, dia tidak pernah memedulikan hal-hal ini. Dia hanya samar-samar ingat kalau dia sekarang bisa menyebut dirinya sebagai "sultan".
Tepat ketika dia hendak memberi pelajaran beberapa anggota keluarga Wynora yang meremehkan dirinya, tiba-tiba terdengar langkah kaki tergesa-gesa di luar pintu.
Seorang wanita secantik dewi, berjalan masuk dengan sepatu hak tinggi.
“Siapa bilang tidak ada yang bersedia menikah dengannya?
"Aku bersedia menikah dengannya sih!!"
Bab 6
Membuat Seluruh Penduduk Kota Ini Menjunjungmu
Pengunjung itu tak lain adalah Graciela Martinez, dengan sosok langsing dan cantik, dia muncul begitu saja di depan pintu dan langsung mengejutkan seluruh tamu yang hadir di ruangan itu.
Setelah Graciela mengetahui kalau dirinya telah salah paham terhadap Xavier, dia menggunakan koneksinya untuk mendapatkan akses kamera CCTV di sepanjang jalan dan kemudian dia pun datang kemari.
Tanpa diduga, begitu memasuki pintu, dia langsung mendengar Xavier ditertawakan.
Keterampilan medis Xavier tiada tandingannya dan teknik akupunktur Fuxi pun dikuasainya dan diterapkan dengan mudah.
Mereka, kenapa mereka berani menertawakannya.
Xavier tercengang, tidak menyangka kalau wanita yang dia selamatkan tadi, akan muncul di rumah keluarga Wynora.
Mata Graciela tampak arogan dan percaya diri.
Karismanya sangat kuat.
Seluruh tubuh memancarkan cahaya yang menyilaukan mata dan bersinar gemerlap.
Kemudian, dia berjalan lurus dan mencubit pinggang Xavier dengan keras.
Wanita itu langsung memeluk lengan Xavier dan memukul bahunya dengan tangannya yang mulus itu, "Suamiku, kamu jahat deh! Kamu bahkan belum check out dari hotel, kamu langsung pergi begitu saja."
Demikian pula orang-orang di keluarga Wynora juga ikut tercengang. Semua orang memandang ke arah Graciela, bertanya-tanya siapa sebenarnya wanita ini.
Alicia memandang Graciela dari atas ke bawah.
Wanita ini mengenakan mantel kerah bateau hitam modis dengan rok panjang berbentuk V.
Kaki halus dan mulus di balik rok panjang itu terlihat sangat ramping.
Wanita mana pun akan kehilangan kepercayaan diri dengan kehadiran Graciela.
Alicia pun terlihat biasa saja, bila dibandingkan dengan kecantikan Graciela.
Perasaan cemburu pun muncul secara spontan.
Alicia mengangkat alisnya, menatap Graciela dan bertanya dengan nada yang tidak bersahabat, "Wanita gila dari mana ini?"
Graciela tidak melihat ke arah Alicia, dia bagaikan istri yang patuh bersandar di depan Xavier dan berkata dengan wajah yang bahagia, "Aku ini ... sekarang adalah wanitanya."
Wajah Alicia tiba-tiba menjadi gelap.
Dia tidak menyangka kalau Xavier akan menemukan seorang wanita secepat itu.
Apalagi wanita ini juga sangat cantik.
Dengan ekspresi jijik di wajahnya, Alicia berkata, "Cih, hanya wanita binal saja yang akan asal mencari pasangan sembarangan. Bagi seorang wanita, kriteria terpenting dalam memilih pria adalah melihat masa depannya."
“Contohnya aku, pacarku adalah seorang supervisor di anak perusahaan Martinez Grup, dengan gaji tahunan dua miliar. Jika aku menikah dengannya, aku tidak perlu khawatir tentang sandang dan pangan selama sisa hidupku. Ini barulah pilihan terbaik bagi seorang wanita."
Graciela masih tidak melihat ke arah Alicia, tapi berkata dengan tenang, "Uang? Aku punya uang kok .... Standar yang aku pakai dalam memilih pria adalah menjalani hidup ini dengan baik, itu saja sudah cukup."
Setelah Graciela selesai berbicara, dia pun tidak bisa menahan diri untuk tidak melihat pria di samping Alicia dan berkata dengan sangat jijik, "Dia ... tidak memenuhi syarat. Sekali lihat saja sudah tahu, pinggangnya lemah."
“Sedangkan Xavier.”
"Hari ini aku beri tahu, yah. Pria ini ibarat ikan bersisik emas yang ada di kolam, saat badai datang, ikan ini akan berubah menjadi naga yang terbang di langit. Semua kesulitan yang Xavier alami hanya sementara saja. Saat badai berlalu, dia akan menjadi pria hebat."
"Dan aku adalah badai itu. Dalam waktu kurang dari sebulan, kalian semua harus berlutut dan memohon padanya."
Kemudian, Graciela menarik lengan Xavier dan berkata, "Suamiku, ayo kita pulang! Aku sudah mengantuk."
Suara Graciela saat menyebut "suamiku" terdengar begitu lembut, membuat jantung Xavier berdebar kencang.
Wajahnya pun merona merah hingga ke bagian lehernya.
Untungnya saat itu sudah malam dan tidak ada yang bisa melihatnya.
Dia berkata dengan tegas dan tenang, "Oke, yuk ... kita pergi."
Keduanya berpegangan tangan dan berjalan keluar dari ruang tamu berdampingan.
Ketika dia sampai di pintu, Xavier berhenti, membelakangi pintu ruang tamu dan berkata, "Alicia, kita akan perhitungkan utangmu di lain hari!"
Setelah mengatakan ini, Xavier meninggalkan kediaman keluarga Wynora tanpa menoleh ke belakang.
···
Setelah keluar dari pintu, Graciela berkata, "Kamu masih tidak melepaskanku, apa kamu benar-benar ingin aku menikah denganmu?"
Xavier tersenyum malu-malu dan buru-buru melepaskan tangannya.
"Terima kasih telah membantuku."
Graciela melambaikan tangannya dengan acuh tak acuh dan berkata, "Kamu menyelamatkanku, aku seharusnya berhutang budi padamu. Tapi kamu melepas pakaianku dan melihat semuanya, jadi sudah impas."
“Sekarang aku membantumu lagi, jadi kamu yang berhutang padaku.”
Setelah mengatakan itu, dia berjalan menuju mobil sport merah yang diparkir di depan pintu.
Wajah Xavier menjadi gelap dan berkata, "Sudah impas? Aku tidak melihat apa pun."
Waktu itu, demi menyelamatkan nyawa orang, Xavier hampir menutup sebelah matanya.
Apalagi Graciela masih mengenakan bra.
Meskipun postur tubuhnya tampak sangat bagus dan ukuran bagian tubuh atasnya pun indah, tetapi bagian paling menarik dari Graciela, Xavier sedikitpun belum melihatnya.
Graciela membuka pintu mobil, mengangkat roknya, memperlihatkan kakinya yang jejang dan indah dan bertanya, "Bagaimana kalau aku memberikan kesempatan sekali lagi padamu?"
Xavier, "..."
Wanita ini sengaja menggoda Xavier.
Saat Xavier hendak pergi, Graciela mengemudikan mobil sampai di depan Xavier dan berkata, "Masuk ke mobil, aku akan mengantarmu pulang!"
Xavier juga tidak sungkan lagi, dia langsung duduk di jok samping pengemudi, kemudian setelah memberi tahu Graciela alamat rumahnya, mereka tidak berbicara lagi dan suasananya agak canggung.
Xavier tidak mengatakan apa-apa, karena dia sedang menebak tujuan Graciela mendatanginya.
Graciela tidak berbicara karena dia tidak tahu harus bagaimana memulai pembicaraan.
Seperti ini, dalam suasana yang aneh, Graciela mengemudikan mobil hingga ke depan pintu rumah Xavier.
Begitu dia memarkir mobil, Graciela melihat rumah Xavier. Atap rumah itu telah dibongkar orang. Dia bertanya dengan bingung, "Apa yang terjadi dengan rumahmu? Kenapa kondisinya setengah dibongkar? Bagaimana kamu bisa tinggal di sini?"
Xavier menggelengkan kepalanya dan berkata, "Aku juga tidak terlalu jelas. Sepertinya sih itu dibongkar paksa seseorang."
Graciela mengangguk, sambil berpikir hendak memarahi orang-orang yang menghancurkannya.
Tiba-tiba, dia teringat kalau perusahaan real estate miliknya baru saja membeli sebidang tanah dan lokasinya sepertinya berada di sini dan perusahaan mereka juga yang bertanggung jawab atas pekerjaan pembongkaran tersebut. Jangan-jangan orang yang membongkarnya adalah karyawan perusahaannya sendiri??
Memikirkan hal ini, Graciela merasa sedikit malu.
Saat ini, Xavier berinisiatif untuk berbicara.
“Kamu mencariku karena racun di tubuhmu itu, ‘kan?”
Graciela mengangguk dan berkata dengan malu-malu, "Ya, aku salah paham saat kita berada di rumah sakit."
Tepat setelah mengatakan ini, Graciela memikirkan kejadian ketika dia membuka matanya dan wajahnya agak memerah.
Untungnya, Xavier tidak melihatnya.
“Tidak apa-apa.” Xavier melambaikan tangannya dan berkata, “Racun di tubuhmu itu karena konsumsi jangka panjang dan seiring dengan berjalannya waktu, racun ini telah mengikis organ dalammu.”
Graciela mengangguk sambil berpikir.
Ketika dia berada di rumah sakit tadi, dokter Gonzales sudah memberitahunya kalau racunnya sudah sangat parah sehingga dia tidak mampu menyembuhkannya, satu-satunya orang di dunia ini yang dapat menyembuhkannya adalah orang yang dapat menusukkan jarum akupunktur "Ketiga belas Jarum Fuxi".
Jadi Xavier adalah orang itu.
Apalagi saat di rumah sakit, Xavier hanya membantunya menekan racun itu sementara waktu saja, tetapi racun itu masih dapat bereaksi kapan saja.
Kali ini, Graciela cukup beruntung bisa bertemu Xavier. Lain kali, dia mungkin tidak seberuntung itu.
Ini juga alasan kenapa Graciela menggunakan kekuatan keluarganya, berpacu dengan waktu untuk mencari dan menemukan Xavier.
Sambil menggelengkan kepalanya, Graciela tersadar dari lamunannya dan bertanya dengan suara rendah, "Bisakah kamu menetralisir racun ini?"
Xavier mengangguk dan berkata, "Racun ini memang bisa dinetralisir sih, tapi prosesnya panjang dan memakan waktu lama."
"Selain itu, kamu juga tahu ‘kan untuk menetralisir racun ini, kamu harus ditusuk dengan jarum akupunktur. Untuk menusuk jarum ini, kamu harus mau bekerja sama ...."
Rona merah yang tak terlihat muncul di wajah Graciela.
Dia tahu apa yang dimaksud Xavier.
Apalah artinya telanjang jika dibandingkan dengan nyawanya ini.
Setelah hening beberapa saat, Graciela pun berkata, “Aku tahu kamu menghilang selama lima tahun dan baru saja kembali ke Kota Merkuri. Lagi pula kamu belum memiliki pekerjaan.”
"Begini saja. Aku akan mempekerjakanmu sebagai asisten pribadiku, kamu katakan saja berapa gaji yang kamu mau."
“Asalkan kamu bisa menyembuhkan penyakitku, aku akan lakukan apa saja yang kamu mau. Dalam sebulan, aku bisa membuat seluruh penduduk kota ini menjunjungmu.”
Bab 7
Sudah Mendapat Pekerjaan
"..."
Xavier tertegun sejenak.
Membiarkan dia, sang dewa perang Panglima Besar Pluno, untuk menjadi asisten pribadimu???
Ini ....
Bukankah ini terlalu berlebihan?
Kalau saja para tentara musuh yang tewas di Pluno itu mengetahui Panglima Besar Pluno yang mereka takuti itu kini malah menjadi asisten pribadi seseorang, senyuman mereka pasti akan sangat aneh deh??
Memikirkan hal ini, Xavier tidak bisa menahan tawa.
Namun, dia tidak langsung menolak, tetapi malah berkata dengan penuh minat, "Aku akan membantumu menetralisir racun, tetapi hal satunya lagi, aku harus mempertimbangkanya lagi!"
Bukannya dia menganggap pekerjaan ini tidak bagus, tetapi dia baru saja kembali dan masih banyak hal yang perlu dia lakukan sendiri, dia tidak tahu apakah dia memiliki cukup waktu atau tidak.
Graciela juga tahu kalau hal semacam ini tidak dapat dipaksakan. Dengan keterampilan medis Xavier, walau dia baru saja kembali ke Kota Merkuri, dia tidak akan mengalami masalah soal bertahan hidup.
Memikirkan hal ini, Graciela merasa sedikit tertekan, tetapi dia tetap meninggalkan informasi kontaknya dan berkata, "Kalau kamu sudah memikirkannya dengan seksama, kamu bisa menelepon aku kapan saja atau langsung datang ke Venus Grup untuk mencari aku."
“Baik!” Xavier mengangguk, menuliskan informasi kontak Graciela, dan juga memberi tahu Graciela informasi kontaknya sendiri.
Setelah Graciela menuliskannya, dia awalnya ingin mengatakan sesuatu, tapi dia berhenti.
Sambil menggelengkan kepalanya, dia menyalakan mobil.
Xavier memandang Graciela yang tiba-tiba kehilangan minat dan berkata, "Oh ya, kamu harus berhati-hati dengan pola makanmu dan berhenti mengonsumsi racun kronik. Jika tidak, meskipun aku memiliki keterampilan medis yang hebat, aku tidak akan bisa menyelamatkanmu."
Graciela memejamkan mata besarnya dengan penuh semangat, menatap Xavier dan berkata, "Jika kamu benar-benar mengkhawatirkanku, jadilah asisten pribadiku."
Xavier, "..."
Melihat keheningan Xavier, Graciela mengeluarkan "senandung", merentangkan kaki putih rampingnya, dan matanya menakjubkan.
“Kenapa, apa aku kurang cantik? Apa uang yang kuberikan padamu tidak cukup?”
Apa ini sedang merayuku!!
Xavier berpikir dalam hati, ‘Putih sekali!’
Dia segera mengalihkan pandangannya.
Segera, Graciela menghentikan gerakannya lagi dan berkata dengan nada yang nakal dan bangga, "Apa yang kamu lihat? Hanya melihatnya saja ... apa gunanya dan kamu tidak bisa menikmatinya, ‘kan. La la la ...."
Xavier, "..."
Setelah menggoda Xavier, Graciela menyalakan mobil dan bergegas pergi.
Dari kecepatan mobilnya bisa dilihat ketidakstabilan emosi Glaciela.
Dia memutar musiknya sampai yang paling keras dan tidak bisa menahan diri untuk tidak bergumam, "Sialan! Kamu benar-benar menolakku!! Namun, aku juga dapat melihat kalau kamu sebenarnya ingin! Orang yang aku targetkan, tidak mungkin bisa kabur. Xavier, kamu bersedia atau tidak! Kamu pasti akan menjadi Sultan kota ini."
Saat bergumam, Graciela memikirkan kejadian di ruang gawat darurat lagi, dia tersipu malu dan menepuk kepalanya sendiri dengan keras, lalu berkonsentrasi untuk mengemudi.
Di sisi lain, setelah Graciela pergi, Xavier membuka pintu kayu yang sudah bobrok itu.
Kembali ke rumah.
Melihat rumahnya yang porak-polanda, Xavier merasa bersalah.
“Ayah dan Ibu, anakmu tidak berbakti, telah membuat kalian menderita selama lima tahun.”
"Tapi, jangan khawatir. Mulai sekarang, anakmu tidak akan membiarkan kalian menderita lagi."
Setelah hening beberapa saat, dia berjalan ke dapur yang terbuat dari batu bata ringan dan membuatkan makanan cemilan malam untuk orang tuanya.
Kemudian dia mendatangi rumah sakit lagi sambil membawa rantangan yang berisi makanan itu.
Kedua orang tuanya sedang mengobrol di bangsal, ketika mereka melihat putra mereka datang membawa makanan cemilan malam, air mata memenuhi mata mereka.
“Sudah lima tahun tidak bertemu, putraku telah dewasa dan sudah tahu cara merawat orang.”
Menyantap cemilan malam yang dibuat oleh putra mereka, kedua orang ini dipenuhi dengan luapan emosi.
Setelah cemilan malam.
Sang ayah bertanya, "Nak, ke mana saja kamu selama ini? Kenapa kamu tidak menelepon orang tuamu? Kamu tidak tahu betapa ibumu sangat merindukanmu."
Sang ibu tidak dapat menahan diri untuk menyeka air matanya dan berkata, "Anakku telah kembali, kenapa kamu membicarakan hal ini .... Dasar!"
Xavier tahu kalau ketidakhadirannya selama lima tahun telah membuat kedua orang tuanya sedih, jadi dia buru-buru menjelaskan, "Ayah, Bu, bukan aku tidak ingin menghubungi kalian, tetapi anakmu telah mendaftar ikut militer di luar negeri. Persyaratannya sangat ketat. Aku benar-benar tidak bisa menghubungi kalian.”
Mendengar penjelasan putranya, kedua orang tua itu pun merasa lega, ternyata putranya telah menjadi tentara.
Senang rasanya menjadi tentara dan mengabdi pada negara Anda.
Pria mana yang tidak bermimpi menjadi tentara ketika masih muda?
Setelah menghela napas dengan penuh emosi, ayah Xavier bertanya lagi, "Apakah kamu akan kembali kali ini untuk menjenguk keluarga atau sudah pensiun dari tugas militer?"
“Pensiun,” kata Xavier sedikit berbohong.
Faktanya, masa lima tahun telah tiba dan dia sangat merindukan kedua orang tuanya, jadi dia bergegas kembali secepatnya. Adapun Pluno, dia masih menjadi Panglima Besar di sana, tetapi sekarang setelah perang mereda, dia telah menyerahkan masalah tersebut pada para bawahannya.
Sang ayah mengangguk, lalu terdiam beberapa saat, lalu bertanya lagi, "Apa rencanamu jika kamu kembali kali ini? Pekerjaan apa yang akan kamu lakukan?"
Sang ibu yang berada di sampingnya juga berkata, "Kenapa kamu tidak pergi dan meminta pada atasanmu, membiarkan anak kita mengambil alih pekerjaanmu? Lagi pula, anak kita sudah dewasa. Sekarang dia kembali, jika dia tidak memiliki pekerjaan tetap, bagaimana dia akan menikahi kelak?"
Hal ini adalah hal yang paling dikhawatirkan ibunya, Elena, terutama ketika dia melihat semua tetangganya sudah memiliki cucu, kedua orang tua itu pun iri melihatnya.
Mereka pun berharap agar putra mereka segera menikah dan memberikan cucu yang gemuk, agar mereka juga bisa menikmati kebahagiaan.
Bagaimana mungkin Xavier tidak tahu apa yang dipikirkan orang tuanya, dan buru-buru melambaikan tangannya dan berkata, "Tidak, aku sudah mendapatkan pekerjaan."
Ibu Elena berkata dengan heran, "Kamu sudah dapat pekerjaan? Pekerjaan apa?"
Xavier berkata, "Venus Grup, aku bisa pergi kerja kapan saja."
Dia mengatakan ini hanya karena tidak ingin orang tuanya mengkhawatirkan urusannya sendiri.
Ivander dan Elena saling bertukar pandangan, setelah mendengar nama perusahaan, rumah mereka dibongkar paksa oleh perusahaan ini.
Mereka tidak menyangka putranya akan bekerja di sana.
Saat Elena hendak berbicara, Ivander menyela dan berkata, "Venus Grup tidak buruk. Ini juga merupakan perusahaan besar di Kota Merkuri. Setelah kamu kerja di sana, kamu harus bekerja keras."
Xavier mengangguk dan berkata, "Ayah dan Ibu, jangan khawatir, aku pasti akan bekerja keras untuk membuat hidup kalian menjadi lebih baik dan lebih baik lagi."
Mendengarkan perkataan putra mereka yang masuk akal, pasangan tua itu pun tersenyum bahagia.
Setelah mereka bertiga mengobrol selama satu jam, sang ibu bersikeras untuk membiarkan Xavier pulang untuk beristirahat, sementara dia tinggal bersama ayah Xavier di rumah sakit.
Tidak dapat mengabaikan perintah ibunya, Xavier tidak punya pilihan selain meninggalkan rumah sakit.
Setelah Xavier pergi, Elena menepuk Ivander dan berkata, "Venus Grup ini yang mengirim orang untuk menghancurkan rumah kita dan melukaimu. Kenapa kamu tidak mengizinkan aku memberi tahu putra kita? Apakah kamu masih ingin putra kita bekerja di perusahaan seperti itu?”
Ivander menghela napas dan berkata, "Putraku akhirnya kembali dan mendapat pekerjaan. Sebagai orang tua, kita tidak dapat melakukan apa pun untuk membantu anak-anak kita. Satu-satunya hal yang dapat kami lakukan adalah tidak mengganggu pekerjaan putra kita dan tidak menghambatnya."
“Jadi, lupakan saja urusan keluarga kita. Selama kita bisa mendapat kompensasi, jangan beri tahu anak kita. Biarkan dia bekerja keras.”
"Sekarang, yang terpenting adalah membiarkan putra kita mendapatkan pekerjaan yang layak, lalu pergi ke Keluarga Wynora dan bertanya pada Alicia bagaimana keinginannya. Jika dia masih bersedia menikah dengan putra kita, alangkah bagusnya," kata Ivander dengan penuh harap.
Elena mengangguk dan berkata, "Besok aku akan meluangkan waktu pergi ke Keluarga Wynora dan menanyakan Alicia. Selama bertahun-tahun, kami telah memberinya banyak mahar ...."