Bab 1

Kembalinya Sang Jagoan

“Xavier Morris, kamu ini terlalu durhaka deh?”

“Sudah lima tahun sejak kamu pergi, kamu bahkan tidak menelepon kedua orang tuamu!”

“Aku bisa memahami, kalau kamu sibuk bekerja.”

“Tapi sekarang, orang tuamu ditindas, kamu juga tidak kembali?”

“Kamu tahu, tidak? Orang tuamu akan segera meninggal?”

“Di lubuk hatimu, apa kamu masih ingat kedua orang tuamu? Apakah kamu ini masih manusiawi?”

Xavier tiba-tiba menerima panggilan ini, orang yang ada di telepon itu sangat kasar, memarahinya tanpa ampun, membuat Xavier tidak bisa berkata-kata.

Baru saja dia hendak menjelaskan dan bertanya lebih jauh, dia sudah mendengar nada panggilan sibuk “Tutt, tutt, tutt” dari telepon.

"Humm?"

Xavier tertegun sejenak dan mencoba menelepon kembali, tetapi panggilan itu tidak tersambung.

Hal ini membuat Xavier semakin merasa tidak nyaman.

"Syuut!"

Dia berdiri dari kursinya, badannya memancarkan aura pembunuhan yang sangat kuat.

"Cepat! Periksa! Apa yang sedang terjadi pada orang tuaku!"

Dia meraung dengan suara serak.

Keempat pengawal yang berdiri di sampingnya, mengguncang tubuh mereka dan segera berlari keluar.

“Cepat Periksa! Apa yang terjadi dengan kedua orang tua Panglima!”

Mereka berteriak dan berlari menuju area intelijen.

Sepuluh menit kemudian, mereka kembali ke ruangan tempat Panglima Xavier berada dan berkata dengan penuh hormat, "Lapor, Panglima! Kami sudah menyelidikinya."

"Katakan!"

Xavier tidak berbalik, tetapi menatap peta yang tergantung di dinding.

Salah seorang anggota pengawal itu tampak ragu-ragu, "Anda ... Anda ...."

Setelah mengucapkan dua kali, anggota pengawal itu tidak sanggup mengucapkan apa-apa lagi.

Xavier menyadari sesuatu yang aneh, tiba-tiba berbalik dan mendesaknya, "Apa yang sebenarnya terjadi!"

Para anggota pengawal itu pun berdiri tegak dan berkata dengan gigi terkatup, "Orang tuamu telah dibuli oleh Bandit Kamillo selama tiga tahun. Sepuluh jam yang lalu, mereka diculik oleh Bandit Kamillo untuk memaksa pasangan renta itu menandatangani perjanjian penjualan rumah."

Xavier membeku saat mendengar ini.

“Orang tuaku dibuli selama tiga tahun?”

“Orang tuaku dipaksa menjual rumah?”

Para anggota pengawal juga sangat marah, mereka mengangguk dan berkata, "Ya!"

"Namun, Panglima, Anda tidak perlu khawatir. Kami telah mengirimkan tim aksi. Dalam lima jam, mereka akan tiba di Kota Merkuri dan membunuh bandit itu."

Xavier melambaikan tangannya dan berkata, "Tidak perlu, aku sendiri yang akan kembali ke Kota Merkuri!"

Lima menit kemudian, sebuah helikopter parkir di luar.

Xavier menaiki helikopter tanpa ragu-ragu dan segera memerintahkan, "Ayo, berangkat!"

Helikopter itu naik dan menuju Kota Merkuri.

Meskipun helikopternya sangat cepat, Xavier tidak bisa menahan diri untuk tidak mendesak sang pilot, "Cepat! Bisakah kamu melaju lebih cepat lagi?"

Dia ingin kembali ke Kota Merkuri dan kembali ke sisi kedua orang tuanya secepat mungkin.

Pada saat yang sama, dia merasa sangat, sangat bersalah.

Dia berkata dalam hatinya, ‘Ayah ... Ibu, anakmu ini tidak berbakti. Anakmu pasti akan kembali ke sisi kalian secepatnya. Anakmu ini tidak akan pernah membiarkan siapa pun mengganggumu lagi!"

Kemudian, Xavier tenggelam dalam ingatannya.

Lima tahun lalu, dia dijebak, otot kakinya diputuskan dan dia juga dijebloskan ke penjara di bawah laut. Dia pikir dia akan menghabiskan sisa hidupnya di penjara ini.

Namun tanpa disangka, seorang pria tua misterius tidak hanya menyembuhkan otot kakinya yang putus, tetapi juga mengajarinya ilmu bela diri.

Setelah dia menguasainya, dia pun diasingkan ke Pluno dan memintanya untuk membuat sumpah janji selama lima tahun.

Selama lima tahun, dia akan bertugas di Pluno dan tidak diizinkan meninggalkan tempat atau menghubungi siapa pun.

Dengan tak berdaya, Xavier hanya bisa meminta seseorang untuk mengirimkan pesan pada kedua orang tuanya, bahwa dia sedang menjalankan misi dan tidak bisa menghubungi mereka. Meminta mereka untuk tidak mencemaskan dirinya.

Saat itu, Pluno sedang dilanda perang, jadi dia mendaftarkan diri menjadi tentara. Butuh waktu tiga tahun baginya untuk naik pangkat dari seorang prajurit menjadi seorang panglima besar.

Tiga tahun lalu, pihak musuh mengumpulkan tiga puluh enam batalion pasukan dan jutaan serdadu untuk menyerang Pluno.

Xavier memimpin pasukan untuk bertahan melawan musuh, dia sendirian yang membalikkan keadaan perang, memenggal tiga puluh enam pemimpin batalion dan menakuti jutaan pasukan musuh hingga mereka mundur.

Dalam pertempuran ini, Xavier menjadi terkenal dan menorehkan prestasi besar, dia pun dinobatkan sebagai Panglima Besar Pluno dan dianugerahi Medali Negarawan Terbaik Tiada Tara.

Butuh waktu dua tahun baginya untuk memimpin pasukannya sendiri untuk menaklukkan dan menyatukan tiga puluh enam negara kepulauan di sekitar Pluno dan merebut kembali 30.000 mil wilayah kedaulatan yang sempat hilang karena dijajah musuh!

Hingga sekarang ini, waktu lima tahun pun telah berlalu.

Sebenarnya Xavier ingin pulang secepatnya, tetapi selama ini selalu berhalangan dengan berbagai rutinitas kesibukannya sehari-hari.

Namun tidak disangka, ponselnya yang sudah berdebu tebal karena sudah lama tidak disentuhnya itu, begitu dinyalakan langsung menerima panggilan seperti itu.

Hal ini membuat hatinya tidak tenang.

Membuat Xavier terus menyalahkan dirinya sendiri.

Saat memikirkan hal ini, sang jagoan bertubuh sekeras baja itu malah menitikkan air mata.

Pada saat yang sama.

Di kota Merkuri.

Di sebuah lokasi konstruksi yang mangkrak.

Tangan ibu Xavier, Elena Bryant diikat dan digantung di tiang.

Sekujur tubuhnya berlumuran darah dan tampak jelas kalau dia telah dicambuk.

Seorang pria berkepala botak dan memakai kalung emas, berdiri di samping Elena dan berkata dengan kejam, "Kamu sudah pertimbangkan, ‘kan? Kontrak ini, kamu tanda tangani atau tidak?"

Elena tidak berkata apa-apa.

Hal ini membuat si kepala botak marah.

Dia menendang Elena, mendengkus dan berkata, "Tidak mau ngomong? Baiklah! Kita lihat saja, seberapa keras tulangmu!"

Kemudian, dia berbalik dan berkata pada puluhan anak buah di sampingnya, "Pukul sampai dia mau tanda tangan!"

"Baik!"

Puluhan pemuda itu pun bersama-sama mengeroyok Elena, mereka meninju dan menendang Elena tanpa ampun!

Elena mengerang kesakitan.

Namun, dia tidak memohon belas kasihan.

Membiarkan kepalan tangan sebesar mangkuk itu menghantam tubuhnya.

Lambat laun, kesadaran Elena menjadi hilang.

Dalam keadaan setengah sadar, dia melihat putranya. Elena melihat putranya kembali.

Dia berkata sesekali, "Rumah ini untuk anakku. Tidak mungkin menjualnya!"

Ketika mendengar ucapan ini, pria botak itu pun tertawa dengan arogan.

“Haha … rumah buat anakmu?”

"Elena, berhentilah bermimpi? Anakmu tidak mungkin kembali! Lima tahun telah berlalu, mungkin dia juga sudah mati deh?"

“Kalaupun anakmu kembali, lantas dia bisa apa?”

“Hutang tetap harus dibayar, ini adalah hal yang wajar, hari ini kamu harus bayar hutangmu, atau menandatangani kontrak ini.”

"Kalau tidak, jangan salahkan aku, kalau aku bersikap kasar padamu!"

Ketika Elena mendengar ini, dia sangat terkejut dan segera berkata, "Tidak! Tidak mungkin! Putraku belum mati! Putraku sedang menjalankan misi! Dia akan segera kembali! Dia pasti akan kembali!"

Saat Elena berbicara, air mata pun mengalir di wajahnya.

Dia sangat merindukan putranya.

Kalau saja putranya berada di rumah, apakah mereka masih berani menindas pasangan tua ini?

Pria botak yang memakai kalung emas itu jelas sudah kehilangan kesabarannya.

Dia menatap Elena dan berkata dengan sengit, "Kalau anakmu kembali, memangnya dia bisa apa? Dia hanya sampah tak berguna!"

Kemudian, dia berkata pada selusin anak laki-laki itu lagi, "Bawalah anjing-anjing galak itu kemari."

"Baik!"

Para pemuda itu dengan cepat membawa masuk tiga ekor anjing galak.

Ketiga anjing itu tampak sangat galak, menampakan deretan gigi yang menakutkan dan menggonggong ke arah Elena.

Elena sangat ketakutan hingga sekujur tubuhnya gemetaran.

Melihat adegan ini, pria botak itu menunjukkan senyuman yang kejam, "Elena, aku akan memberimu satu kesempatan terakhir. Jika kamu menandatangani, semuanya akan mudah dibicarakan. Jika tidak, hehe ...."

Elena berjuang untuk meronta mati-matian, tetapi dengan tangan terikat dan tergantung di udara, mana mungkin dia bisa bersembunyi?

Walau demikian, dia tetap tidak setuju untuk menandatangani penjualan rumah tersebut.

Dalam hatinya, rumah itu sudah seperti nyawanya, dia tinggalkan rumah itu untuk putranya, untuk dipakai saat sang putra kembali dan menikah. Bahkan jika dia meninggal pun, dia tetap tidak akan menjual rumah itu.

Pria botak yang memakai kalung emas itu akhirnya kehilangan kesabaran.

Dia menunjuk Elena dan berteriak dengan marah, "Baiklah, kamu tidak mau menandatanganinya, ‘kan? Oke!"

Kemudian, dia menoleh ke arah anak buahnya dan berteriak, “Lepaskan anjing galak itu. Biarkan dia digigit sampai mati!”

“Baik, Kak Kamillo!” jawab para pemuda itu sambil melepaskan tali di tangan mereka dan ketiga anjing galak itu bergegas berlari menuju ke arah Elena.

Elena sangat ketakutan hingga sekujur tubuhnya gemetar, dia memejamkan matanya.

“Xavier, ibu … sekarat, mungkin akan segera menemui ajal, kelak kamu tidak bisa makan masakan ibu lagi.”

“Ibu sangat merindukanmu! Lima tahun telah berlalu, kapan kamu akan kembali!”

Saat ini, deru suara helikopter terdengar dari udara.

"Dung dung dung ...!"

Suara helikopter terdengar keras, baling-balingnya berputar-putar di udara, membuat semua orang membungkukkan badan. Bahkan ketiga anjing galak itu pun tertiup angina dan terbang ke samping dan tidak berani menyalak sedikitpun.

Pada saat ini, pintu helikopter terbuka dan sesosok tubuh yang kuat, melompat turun dari sana.

"Dung!"

Dia mendarat dengan kokoh di tanah, matanya semerah darah dan tubuhnya memancarkan aura pembunuh yang mengerikan.

"Siapa?"

“Siapa yang telah memukuli ibuku?”

Bab 2

Siapa yang Telah Memukuli Ayahku

Suaranya yang meninggi terdengar sangat jelas, bahkan menutupi suara deru helikopter.

Aura pembunuh yang terpancar dari badannya, membuat semua orang yang hadir di sana gemetaran, mereka ketakutan dan sangat panik.

Si Kepala botak itu menekan rasa takut yang ada di hatinya dan bertanya dengan gemetar, "Kamu ... siapa kamu?"

“Xavier Morris!”

"Apa? Kamu Xavier? Bukankah kamu sudah mati?" Ada ekspresi tidak percaya terlukis di wajah si botak itu. Dia tidak menyangka kalau orang yang berdiri di depannya, sebenarnya adalah Xavier yang dijebloskan ke penjara bawah laut lima tahun yang lalu.

Xavier benar-benar sudah kembali?

Bagaimana mungkin?

Elena yang digantung di tiang pun membuka matanya, saat mendengar nama Xavier.

“Nak, kamu ‘kah itu? Kamu sudah pulang?”

Suaranya bergetar dan matanya yang keruh itu menitikkan air mata "kerinduan".

Xavier kaget saat mendengar suara ibunya, dia menahan aura pembunuhnya dan berkata dengan penuh semangat, "Bu, ini aku, aku telah kembali!"

Lalu, dia segera berjalan ke sisi ibunya.

Jebruk!

Xavier langsung berlutut dan sembah sujud dengan membenturkan kepalanya ke tanah dengan keras, berkata dengan suara gemetar, "Bu, anakmu tidak berbakti. Selama lima tahun ini, aku telah membuatmu menderita!"

Ibu Elena menggelengkan kepalanya, dia ingin mengulurkan tangan untuk menyentuh kepala putranya, seperti yang dia lakukan ketika Xavier masih kecil. Akan tetapi, dia tidak dapat melakukannya karena tangannya masih terikat. Dia hanya bisa berkata dengan suara gemetar, "Baguslah, Nak. Kamu telah kembali. Baguslah."

Setelah mengatakan ini, Elena tidak kuasa menahan luapan kesedihan dan kegembiraan di waktu yang sama, matanya langsung menjuling ke atas dan pingsan.

"Ibu!"

Xavier terkejut, dia buru-buru melepaskan ikatan dan menurunkan ibunya.

Dia berlutut untuk memeriksa kondisi luka ibunya. Dia baru merasa lega setelah mengetahui ibunya pingsan karena luapan emosional.

Kemudian, Xavier langsung berdiri dan berbalik untuk menatap si kepala botak dan para pemuda di belakangnya.

Mata Xavier tampak memerah, seperti mata binatang buas.

Si Botak dan para pemuda tidak bisa menahan diri untuk tidak bergidik ketika melihat ini.

Mata Xavier perlahan menyipit dan aura pembunuh yang luar biasa menyebar dari dalam dirinya lagi.

Si Botak itu tergagap, "Xavier ... Morris, kau mau apa sih?"

Xavier maju selangkah.

Dia berkata dengan niat membunuh yang membara, "Hutang budi dibalas budi, hutang nyawa dibayar nyawa! Kenapa kamu menyakiti ibuku tanpa alasan?"

Si Botak itu menelan ludahnya dan masih tergagap, "Dia ... dia berhutang uang padaku dan belum bayar selama tiga tahun. Aku di sini untuk menuntut utang itu."

“Oh?” Xavier mengangkat alisnya, mengulurkan tangan dan mengambil kontrak itu dari tangan si botak itu dan melihat sekilas.

Dia melihat kontrak itu tertulis jelas kalau tiga tahun yang lalu, tembok halaman rumah Elena runtuh karena hujan lebat dan menghancurkan tanah keluarga Kamillo. Jadi, Elena perlu membayar kompensasi kerugian sebesar seratus juta pada Kamillo. Namun karena Elena membutuhkan waktu tiga tahun untuk membayar semuanya. Bunga hutangnya naik menjadi seratus enam puluh juta.

Elena sendiri tidak punya uang untuk membayar bunganya, jadi dia secara sukarela bersedia mengalihkan propertinya ke Kamillo.

Melihat hal tersebut, Xavier langsung melumatkan kontrak yang ada di tangannya itu menjadi gumpalan dan melemparnya ke wajah si botak bernama Kamillo itu. Dengan marah, Xavier berkata,

"Kamillo! Nyalimu sungguh besar!"

"Setahuku, tembok luar pekarangan rumahku itu lahan kosong. Kalaupun tembok itu runtuh, kamu bisa membersihkannya saja. Kenapa harus membayar kompensasi kerugian sebesar seratus juta padamu?"

"Kedua orang tuaku orang yang jujur. Mereka memberimu kompensasi seratus juta dalam tiga tahun, tetapi kamu malah menginginkan bunga sebesar seratus enam puluh juta? Hati sungguh kotor!"

"Sekarang ... kamu malah ingin ibuku mengalihkan kepemilikan rumah itu padamu lagi? Kamu sedang bermimpi, ‘kah? Siapa yang tidak tahu kalau rumahku akan segera digusur!"

Setelah mengatakan ini, Xavier tidak tahan lagi, dia berjalan ke arah si botak itu dan menampar wajahnya.

"Plaak!"

Tubuh si botak itu langsung terhempas dan lima jejak jari tangan pun muncul di wajahnya.

"Puuuh!"

Setelah itu si botak itu pun jatuh ke tanah, dia memuntahkan seteguk darah dan melihat dua onggok gigi bercampur darah di telapak tangannya.

Melihat si Botak itu dipukuli, pemuda di sebelahnya mengecam Xavier, "Beraninya kamu memukul Kak Kamillo? Apakah kamu sudah bosan hidup?"

Setelah memarahi Xavier, mereka mengambil tongkat baseball dan mengepung Xavier.

Si Botak melihat ini, dia ingin menghentikannya. Namun, sebelum dia sempat membuka mulut, Xavier sudah bergerak.

"Bang bang bang!"

Xavier memukul para pemuda itu. Dalam sekejap, para pemuda itu satu per satu terkapar di tanah.

Kemudian, Xavier berjalan mendekati si kepala botak itu, menginjak wajahnya, menatap si botak itu dan berkata, "Kamillo, apakah kamu masih mengenalku?"

Saat baru tiba di sini tadi, Xavier tidak terpikirkan.

Sekarang, dia sudah teringat kalau Kamillo ini adalah tetangganya. Awalnya, si Botak ini selalu menjadi pengikut Xavier ke mana-mana dan memanggilnya Kak Xavier. Tak disangka, belum lima tahun, si botak sudah berani menindas kedua orang tuanya.

Hal ini membuat amarah di hati Xavier semakin berkobar.

"Aku kenal, aku kenal ...." kata si botak itu dengan terbata-bata.

Bagaimana mungkin dia tidak mengenal Xavier.

“Kamu kenal aku, kamu masih berani menindas ibuku?" Xavier mengangkat alisnya, menatap Kamillo dan berkata, "Kamu pikir aku sudah mati, ya? Kamu pikir aku tidak bisa kembali lagi?"

“Bukan, bukan,” kata si Botak menggelengkan kepalanya dengan tergesa-gesa.

Xavier tersenyum tanpa komitmen.

Kemudian dia berkata pada para pengawal yang baru saja turun dari helikopter, "Gantung mereka semuanya!"

“Baik!” Para pengawal sudah tidak bisa bersabar lagi sejak tadi. Jika bukan karena sang Panglima tidak berbicara, mereka pasti sudah menghabisi sekelompok bajingan ini! Mereka bahkan berani menindas ibunda sang Panglima Besar. Mereka itu benar-benar pantas mati.

Para pengawal ini langsung berjalan ke arah si botak dan para pemuda, menjambak mereka seperti menjambak kelinci-kelinci yang sudah tidak bernyawa.

Si botak itu menunduk dan berteriak dengan putus asa, “Kak Xavier, ampuni kesalahanku, tolong ampuni saya kali ini!"

Para pemuda itu juga tahu, saat ini mereka telah menyinggung seseorang yang tidak seharusnya mereka singgung. Mereka mengikuti Kamillo dan memohon belas kasihan, “Ampuni kami, lain kali tidak akan lakukan lagi."

Bagaimana Xavier bisa berhati lembut terhadap orang-orang yang telah menindas ibunya?

Dia berkata kepada para penjaga, "Lepaskan ketiga anjing galak itu!"

"Bagaimana mereka mempelakukan ibuku, lakukan hal yang sama terhadap mereka. Bagaimanapun juga harus biarkan mereka rasakan selama tujuh hari, kalian sudah mendengarkan, ‘kan?"

“Baik!” Para pengawal itu mengangguk.

Lalu, mereka pun melepaskan ketiga anjing galak itu.

Ketiga anjing galak itu mulai menggigit si botak dan beberapa pemuda itu.

Tiba-tiba, seluruh lokasi pembangunan dipenuhi suara teriakan si pria botak dan anak-anak muda tersebut.

"Ah! Ampun, tidak berani lagi, jangan biarkan dia menggigitku!"

"Ah! Aku benar-benar sudah tahu salah! Cepat, pegang anjing ini erat-erat, kalau mereka menggigit lagi ... Aku pasti akan mati."

Mendengar teriakan orang-orang ini, amarah Xavier pun mereda.

Dia mengangkat ibunya, Elena dari tanah dan berjalan pulang perlahan.

Segera, mereka tiba di dekat rumah mereka.

Ini adalah kawasan kumuh kampung brandan yang konon dikabarkan akan digusur lima tahun lalu. Tak disangka, lima tahun kemudian, kawasan itu masih belum digusur, hanya atapnya saja yang dibongkar. Banyak rumah-rumah di sekitarnya yang bahkan telah ditambah menjadi dua tingkat atau tiga tingkat. Hal ini terjadi, diduga agar menambah luas bangunan sehingga menambah nilai kompensasi saat digusur nantinya.

Sebaliknya, rumah Xavier sendiri sudah tampak kumuh dan compang-camping, tidak bisa kuat diterpa angin dan hujan.

Dia berjalan cepat ke pintu, membuka pintu kayu yang sudah lapuk itu dan melihat pekarangan kecil yang terasa asing tetapi juga familier itu.

Xavier memeluk ibunya dan baru saja berjalan masuk ke halaman, tiba-tiba ibunya membuka matanya.

“Nak, ternyata itu benar-benar kamu?”

“Ini aku!” Xavier mengangguk.

Elena tertawa setelah mendapat jawaban positif.

Hanya saja ... setelah tersenyum sebentar, dia pun menitikkan air mata.

Setelah Xavier menurunkan ibunya di tanah, dia menggigit bibirnya, berusaha menahan air mata dan berkata, "Bu, ayo kita masuk dulu, aku akan membantu memeriksa luka di tubuhmu."

Namun Elena berkata, "Tidak perlu, tidak ada yang serius pada diriku."

Xavier ingin mengatakan sesuatu lainnya, tetapi ibunya menggerak-gerakkan tubuhnya dan berkata, "Lihatlah ... bukankah aku baik-baik saja."

Namun setelah selesai bergerak, sudut mulutnya masih berkedut.

Hati Xavier seperti meneteskan darah, dia merasa sangat sedih.

Ibu, bagaimana mungkin kamu tidak merasa sakit?

Sekujur tubuhnya penuh dengan noda merah dan bengkak akibat dipukul dan ditendang, bahkan ada memar. Namun, sang ibu mungkin tidak ingin Xavier merasa khawatir, dia juga tidak ingin mengungkap kepura-puraan dan keteguhan ibunya.

Elena malah mengganti topik pembicaraan dan berkata, "Nak, apakah kamu lapar? Ibu akan memasak untukmu."

Xavier menggelengkan kepalanya dan berkata, "Aku tidak lapar. Aku sudah makan saat di perjalanan."

Elena mengangguk dan berkata, "Ayo masuk, kita masuk ke dalam rumah dan mengobrol."

Setelah mengatakan ini, sang ibu berjalan menuju rumah dan membukakan pintu.

Setelah memasuki rumah, Xavier bertanya, "Oh ya, Bu, di mana ayahku?"

Sang ibu terkejut sesaat, menundukkan kepala dan tidak berkata apa-apa.

Sebuah firasat buruk muncul di benak Xavier.

Xavier meraih bahu ibunya dengan kedua tangan dan bertanya dengan cemas, "Bu, di mana ayahku?"

Saat ini sang ibu tampak ragu-ragu.

Melihat gelagat ini, Xavier melanjutkan, "Bu, jika terjadi sesuatu, katakan saja padaku! Putramu sudah kembali, tidak ada yang berani mengganggumu lagi."

Pada saat ini, aura yang sangat dingin muncul dari tubuh Xavier.

Namun pada saat ini, sang ibu justru merasa aman, perasaan ini belum pernah terjadi sebelumnya.

Ya, benar. Anakku sudah kembali. Tidak ada yang bisa menindas pasangan jompo ini lagi.

Memikirkan hal ini, Elena menyeka air matanya dan berkata, "Ayahmu ... ayahmu ... dia sedang dirawat di rumah sakit."

Xavier tertegun sejenak dan berkata, "Dirawat di rumah sakit? Apakah ayahku sakit?"

Sang ibu menggelengkan kepalanya dan berkata dengan suara yang rendah, "Tidak, dia dipukuli."

Ketika Xavier mendengar ini, dia menjadi sangat marah.

Namun melihat ekspresi kekhawatiran Elena, Xavier pun menahan amarah di hatinya dan bertanya dengan tenang, "Bu, siapa yang memukul ayahku?"

Bab 3

Kondisi Ayah

Selain sang ibu, tidak ada yang lebih mengenal watak si anak.

Bagaimana mungkin seorang ibu tidak memahami apa yang dipikirkan putranya?

Elena khawatir putranya akan bertindak impulsif, jadi dia tidak berani memberi tahu putranya, siapa pelakunya dan sengaja mengubah topik pembicaraan.

"Mari kita bahas masalah ini di lain hari. Sekarang, ayahmu masih terbaring di rumah sakit sendirian, dia belum makan! Aku harus memasak dan bawa ke rumah sakit secepatnya."

Setelah mengatakan ini, Elena menahan kesedihan di hatinya dan pergi ke dapur untuk memasak.

Xavier ingin membantu di dapur, tetapi malah diusir oleh ibunya.

Xavier melihat langkah ibunya yang terhuyung-huyung, sedang sibuk di dapur, hatinya terasa pilu dan sedih, dia juga menyalahkan dirinya sendiri.

Xavier berpikir sambil mengepalkan tangannya erat-erat.

Karena sekarang, dia sudah kembali.

Budi, pasti dibalas!

Dendam juga harus dibalas!

Selama lima tahun terakhir, siapa pun yang telah menindas orang tuanya, dia tidak akan melepaskan mereka.

Orang-orang yang pernah berbaik hati pada orang tuanya, Xavier juga akan membalas budi mereka satu per satu!

Tak lama kemudian, ibu Xavier sudah selesai menyiapkan makanan dan menaruhnya di rantang makanan, lalu keluar dari dapur.

"Nak, kamu baru saja kembali. Istirahatlah di rumah. Aku akan mengantarkan makanan untuk ayahmu dulu."

Xavier berkata, "Bu, aku akan pergi bersamamu!"

“Lagipula, aku sudah lima tahun tidak bertemu ayah, aku juga sudah merindukannya.”

Elena ragu-ragu.

Khawatir Xavier akan menjadi impulsif setelah melihat cedera ayahnya.

Akan tetapi, dia juga berpikir kalau ayahnya Xavier melihat putranya yang sudah menghilang selama lima tahun itu kembali, suasana hatinya pasti akan membaik, ini juga bermanfaat untuk kesembuhannya.

Elena pun merasa dilema, tetapi melihat ekspresi penuh harap di mata putranya, Xavier ... dia akhirnya mengangguk setuju.

Namun, dia tetap khawatir dan berkata, "Saat bertemu ayahmu, jangan beri tahu dia, apa yang terjadi di rumah. Kamillo hanya menginginkan rumah kita, dia tidak melakukan apa pun padaku. Jika ayahmu tahu kalau aku terluka, ayahmu pasti akan marah dan tertekan, ini tidak baik untuk kondisi kesehatannya."

Xavier menggigit bibirnya, mengangguk dan berkata, "Jangan khawatir, Bu. Aku tidak akan memberi tahu Ayah."

Lagi pula, Kamillo yang menindas ibunya tidak akan meninggalkan lokasi bangunan mangkrak itu hidup-hidup. Jadi, tidak menjadi persoalan apakah dia beri tahu ayahnya atau tidak.

Sang ibu merasa lega dan pergi mandi, mengenakan pakaian yang bisa menutupi bekas luka di tubuhnya, lalu berjalan keluar.

Melihat kondisi ibunya, Xavier segera mengambil rantang dari tangan ibunya, lalu merangkul ibunya berjalan keluar dari halaman kecil.

Melihat pemandangan yang tak asing di kedua sisi jalan, Xavier seperti telah kembali ke masa kecilnya, ketika sang ibu memegang tangannya dan mengantarnya ke sekolah.

Saat itu, ibu Xavier masih sangat muda, Xavier sendiri harus mati-matian mengejar langkah ibunya.

Kini seiring dengan bertambahnya usia ibu, sang ibu sudah berjalan lebih lambat, Xavier sengaja memperlambat langkah, seperti sang ibu yang melambatkan langkah kakinya ketika Xavier masih kecil.

Tanpa disadari, matanya kembali memerah.

Tak lama kemudian, ibu dan anak tersebut telah berjalan keluar dari kawasan kumuh Kampung Brandan itu. Awalnya Xavier ingin memanggil taksi, tetapi ibunya bersikeras untuk naik bus dan tidak membiarkan Xavier menyia-nyiakan uang.

Meskipun Xavier tidak kekurangan uang, dia tetap mengikuti keinginan ibunya.

Kedua orang itu naik bus dan datang ke rumah sakit.

Ibu sangat mengenal jalan, dia membawa Xavier ke bangsal tempat ayahnya berada.

Ini adalah bangsal yang menampung enam orang pasien, kondisi di dalamnya kotor dan berantakan, berbaunya pun tidak sedap. Begitu memasuki pintu, Xavier langsung melihat ayahnya.

Ayahnya terbaring di ranjang paling sudut, badannya kurus kerempeng, wajahnya pun pucat pasi.

Pria tua itu kepalanya terbalut perban, lengannya pun ikut diperban.

"Ayah!"

Xavier dengan cepat berjalan ke samping ranjang itu dan memanggil sang ayah.

Sang ayah yang sedang terbaring di tempat tidur pun membuka matanya. Setelah melihat jelas kalau itu adalah putranya Xavier, matanya yang semula terlihat suram pun menampakkan secercah harapan.

"Nak, kamu ‘kah itu?"

“Ini aku, anakmu sudah kembali,” kata Xavier sambil berlutut di depan ranjang rumah sakit, matanya merah.

Ivander Morris, Ayah Xavier tampak begitu emosional saat melihat putranya yang telah menghilang selama lima tahun itu kembali. Dia bahkan tidak bisa berkata apa-apa untuk waktu yang lama, hanya menepuk bahu Xavier dengan telapak tangannya yang lebar itu.

Ini adalah satu-satunya cara seorang ayah mengungkapkan perasaannya.

Melihat suami dan putranya, Elena hampir menangis dan buru-buru berkata, "Ivander, ayo makan dulu!"

“Baik!” Ivander sedang dalam suasana hati yang baik, dia berjuang untuk duduk dari ranjang rumah sakit.

Elena buru-buru membantunya, lalu membuka rantangan dan menyuapi suaminya.

Ketika Xavier melihat pemandangan ini, dia menyeka air matanya dan diam-diam berjalan keluar dari bangsal.

Dia langsung pergi ke ruang praktek dokter, saat dia hendak mengetuk pintu, dia bertemu dengan seorang perawat.

Perawat bertanya dengan ragu, "Dokter Wales sedang rapat. Apa yang bisa saya lakukan untuk Anda?"

Xavier berhenti mengetuk pintu dan berkata, "Begini, saya ingin bertanya tentang kondisi pasien bernama Ivander di Bangsal 3, ranjang nomor 6."

Perawat menatap Xavier dan bertanya, “Apa hubungan Anda dengannya?”

"Dia ayahku."

Begitu Xavier mengatakan ini, dia melihat ekspresi memuakan muncul di mata perawat itu, lalu mendengar perawat itu berkata dengan marah, "Haha, ternyata kamu ini anaknya yang tidak berbakti itu! Sekarang kamu sudah tahu datang memedulikan orang tua mu? Kenapa kamu tidak berani keluar saat istrimu menindas ayahmu?"

Xavier memandang perawat itu dengan lesu berkata, "Apakah kamu salah orang? Aku belum menikah!"

"Belum menikah? Lantas siapa Alicia Wynora?" kata perawat itu langsung.

Setelah Xavier mendengar nama Alicia, dia tahu kalau perawat itu tidak salah orang tersebut. Namun, kenapa perawat itu mengatakan kalau Alicia menindas ayahnya?

Dia mempunyai sepuluh ribu pertanyaan di benaknya, sedangkan perawat ini sepertinya mengetahui banyak hal.

Memikirkan hal ini, dia tidak bisa menahan diri untuk tidak meraih lengan perawat dan menyeretnya ke koridor.

“Lepaskan!” Perawat itu menatap Xavier dengan muak lagi.

Xavier memandang perawat itu dengan nada meminta maaf dan berkata, "Maaf, aku ingin tahu apa yang terjadi, kamu bilang Alicia menindas ayahku?"

“Haha, tidak bisakah kamu menanyakan istrimu saja?” kata perawat itu dengan marah.

Dia telah bekerja di rumah sakit ini selama enam tahun. Dia telah bertemu dengan banyak pasien, tetapi belum pernah melihat orang seperti putra dan menantu Ivander yang suka-suka memukuli ayah sendiri. Jadi ketika dia mendengar Xavier adalah putra Ivander, dia tidak ingin bersikap segan sama sekali.

Xavier tersenyum canggung dan berkata, "Mungkin kamu salah paham padaku. Aku belum menikah, tetapi Alicia yang kamu sebutkan itu, memang tunanganku. Hanya saja, selama lima tahun terakhir ini, aku berada di luar kota. Aku sama sekali tidak tahu hal apa pun yang terjadi di rumah. Jadi kalau kamu tahu, tolong beri tahu aku."

Perawat yang bernama Mery Clint itu kebingungan melihat ketulusan Xavier, dia pun bertanya, "Apakah kamu benar-benar tidak tahu apa yang dilakukan Alicia terhadap ayahmu?"

“Yah, begitu aku kembali, aku hanya tahu kalau ayahku sedang dirawat di rumah sakit, jadi aku tidak tahu apa yang sedang terjadi,” kata Xavier dengan tulus. Pada saat yang sama, dia menatap Mery dengan penuh harap, ingin Mery menceritakan semua hal yang dia ketahui.

"Hei ...." Mery menghela napas dan berkata, "Pantas saja, aku bertanya kenapa putra mereka tidak datang, setiap kali dia dirawat di rumah sakit. rupanya sedang keluar kota."

Untuk sementara, Mery pun percaya pada Xavier.

Akan tetapi Xavier mendengar sesuatu yang salah dalam kata-kata Mery, "Maksudmu setiap kali dia dirawat di rumah sakit? Artinya ini bukan pertama kali ayahku dirawat di rumah sakit?"

Melihat emosi rumit di mata Xavier, Mery pun berkata, "Benar. Alicia, tunanganmu itu benar-benar bukan manusia yang beraklak baik. Dia mendatangi pasangan tua ini setiap bulan untuk meminta uang. Jika mereka tidak memberi uang, dia akan menangis dan membuat onar."

Setelah mengatakan ini, Mery menutup mulutnya lagi.

Xavier bertanya dengan cemas, "Teruslah berbicara."

Mery ragu-ragu sejenak dan akhirnya berkata, "Selama ini, tunanganmu selalu meminta uang pada orang tuamu. Jika orang tuamu tidak memberikan uang padanya, dia akan mencari seseorang untuk memukuli orang tuamu."

“Jadi kali ini, luka-luka di tubuh ayahku, juga dia yang menyuruh seseorang untuk memukuli ayahku?”

Dewa perang jadi Pengawal Pribadi CEO

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya