Bab 3
Namun, aku tak punya waktu untuk berhenti. Aku menggertakkan gigi dan memaksakan diri berdiri, lalu mengerahkan seluruh tenaga berlari menuju rumah Keluarga Pholin di sebelah.
Aku tak peduli lagi kaki yang membeku dan terluka parah karena terjebak di salju, yang kupikirkan hanya satu hal, yaitu berlari sekuat tenaga tanpa henti.
Meskipun rumahnya di sebelah, jaraknya sebenarnya hampir satu kilometer.
Udara dingin menusuk tenggorokan, tapi aku tak berani memperlambat langkah.
Karena aku tahu, di kehidupan sebelumnya, yang masuk ke rumah bukan hanya satu orang!
Saat aku jatuh tersungkur di depan gerbang besi rumah Keluarga Pholin, aku memukul-mukul pintunya dengan sisa tenaga sambil berteriak serak,
“Willy! Buka pintu! Tolong! Ada perampok masuk ke rumahku, tolong selamatkan ibuku!”
Gerbang besi akhirnya terbuka dengan bunyi berderit pelan. Willy berdiri di ambang pintu dengan dahi mengernyit.
Dia mengenakan mantel kasmir tebal yang hangat, tapi wajahnya sama sekali tak menunjukkan kehangatan.
Dia menatapku yang tersungkur di salju, lalu perlahan berkata,
“Kiana, aktingmu semakin bagus sekarang, ya.”
Nada suaranya sinis, bahkan sedikit mengejek.
Dadaku terasa sesak, kepalaku terasa pusing.
“Willy! Aku nggak bercanda, ini bukan main-main, ibuku sedang dalam bahaya!”
“Tolong kirim orang ke rumahku untuk selamatkan ibuku!”
Willy pun melihat tubuhku yang penuh luka dan tampak malang, lalu menggeleng pelan sambil mencibir,
“Kalau bukan karena kakakmu bilang kamu iri sama Mia dan nekat buat skenario perampokan, mungkin aku sudah percaya juga.”
Aku buru-buru menjelaskan, “Jangan dengar kata kakakku, ini benaran!”
“Aku sudah lapor polisi barusan, tapi mereka belum sampai. Tolong, ibuku ditusuk dan sudah nggak kuat!”
Di kehidupan sebelumnya, aku tak tahu apakah setelah itu ketiga perampok itu ada melampiaskan emosi pada ibu atau tidak.
Yang jelas aku dan ibu berjuang mati-matian melawan mereka, tubuh kami sampai dipenuhi luka dan memar.
Bagian bawah tubuhku robek, sementara ibu akhirnya hanya bisa terbaring koma menjadi manusia vegetatif.
Kali ini, aku kembali hidup, aku tak mau ibu kehilangan nyawanya karenaku!
Aku mengeluarkan ponsel dan menunjukkan bukti laporan polisi kepada Willy, tapi dia tetap tak percaya.
Sebaliknya, dia malah mencibir lebih keras dengan nada penuh ejekan, “Wah, kali ini mainnya serius? Sampai lapor polisi segala?”
“Skema perampokan yang kamu rancang sendiri, akting drama sebagai korban kali ini nyaris membuatku percaya. Harus kuakui, kamu memang hebat.”
“Willy! Kamu sudah gila?! Ini sungguhan!”
Teriakku sekuat tenaga, suara serak dan tangis membuat pandanganku kabur.
Namun, semua teriakanku tak mampu menggoyahkan keyakinannya.
Dia berbalik hendak pergi, tapi aku buru-buru meraih tangannya.
“Kumohon! Ibuku benar-benar butuh pertolongan! Kalau kamu nggak pergi sekarang, dia bisa mati! Dia benaran bisa mati!”
Dia menunduk menatapku, tetapi tatapannya tetap dingin tak berperasaan.
“Kiana, kakakmu sudah bilang padaku, tak peduli seberapa ribut kamu, aku tak perlu ikut campur.”
Kata-katanya menusukku seperti pisau.
Sebelum Mia muncul, Willy adalah sahabat masa kecilku. Dia selalu lemah lembut dan perhatian padaku.
Bahkan setelah kami bertunangan, dia semakin memanjakanku.
Namun, semuanya berubah sejak wanita itu muncul.
Willy mulai bersikap dingin, kakakku pun perlahan menjauh dariku.
Demi menyenangkan Mia, mereka rela melakukan hal-hal bodoh.
Hanya karena nama perusahaan orang lain sama dengan nama anjing peliharaan Mia, kakakku sengaja menjatuhkan perusahaan itu dan akibatnya keluarga kami tertimpa masalah ini!
Aku terduduk putus asa di tengah salju, bersujud dan memohon,
“Willy, kumohon padamu! Tolong bawa orang ke rumahku sebentar saja dan lihat sendiri keadaannya! Kumohon!”
“Bahkan kalau kamu mau membatalkan pertunangan kita juga tak apa, kumohon!”
Aku benar-benar kehilangan harapan.
Aku terus berdoa dalam hati. Berdoa agar Willy masih punya sedikit hati nurani.
Bab 4
Semoga memikirkan semua kenangan di masa lalu, Willy mau selamatkan ibuku.
Kepala pelayan yang berdiri di samping, orang yang sudah melihatku tumbuh besar sejak kecil, akhirnya tak tega juga.
“Pak Willy, mohon maaf, tapi sebaiknya kamu bawa orang untuk periksa ke rumah mereka. Nona Kiana nggak akan berbohong soal hal seperti ini.”
Willy terlihat ragu sejenak. Aku langsung mengambil kesempatan itu dan bersujud.
Membenturkan dahi ke lantai yang dingin dan terdengar bunyi gedebuk.
“Kumohon, kumohon selamatkan ibuku!”
Akhirnya, dengan nada yang masih dingin, Willy berkata,
“Aku bawa pasukan dan lihat ke rumahmu.”
“Tapi, Kiana, kalau ternyata semua ini hanya sandiwara yang kamu rancang sendiri, aku pastikan kamu akan menanggung akibatnya.”
Aku langsung mendongak, cahaya harapan menyala di mataku.
Tak peduli bagaimana pun, yang penting dia mau pergi!
Dia memanggil beberapa pengawal, tapi tepat saat itu, ponselnya berdering.
Itu panggilan dari kakak.
Willy melirik ke arahku, lalu menekan tombol pengeras suara.
Suara kakakku terdengar santai dan dingin dari balik telepon,
“Kiana nggak mencarimu, ‘kan? Jangan percaya omongannya. Barusan ada yang pakai ponsel ibu meneleponku, bahkan mengancamku mau membunuhnya, memang konyol sekali.”
Seluruh tubuhku seakan membeku, darah di nadiku terasa berhenti mengalir.
Aku tak menyangka, kakak yang dulu bilang akan melindungiku seumur hidup bisa begitu dingin dan kejam,
Hanya demi seorang wanita, dia tega menutup mata terhadap kondisi ibu dan mengabaikan semua permohonanku.
Amarah dan ketakutan bercampur jadi satu, aku pun berteriak ke arah ponsel,
“Jack! Kamu sudah gila?! Harus tunggu kami mati dulu baru kamu mau percaya?! Padahal kamu pernah lihat sendiri betapa parahnya kondisiku dan ibu waktu itu!”
Dia malah tertawa dingin, “Itu semua hanya trikmu untuk merebut kekuasaan!”
“Aku sudah tanya pada Bibi Siti di rumah, katanya semuanya aman-aman saja.”
“Kamu itu manusia licik dan kejam, aku nggak akan tertipu lagi kali ini.”
“Kalau sampai terjadi sesuatu pada ibu, itu murni salahmu sendiri!”
Aku benar-benar terpuruk.
Padahal Bibi Siti sudah cuti pulang kampung seminggu yang lalu, mana mungkin dia tahu keadaan di rumah?!
Baru saja aku mau membantah, tapi langsung terdengar panggilan terputus ‘tut tut’ yang tersisa.
Ekspresi Willy pun berubah menjadi muram, dia menatapku tajam dan berkata,
“Jadi kamu benar-benar bohong?! Cepat! Patahkan kakinya, biar dia tahu rasa!”
Beberapa pengawal mendekat, siap menahanku.
Aku menahan rasa sakit di kaki, menggertakkan gigi dan berteriak, “Kalian berani?! Kalau ayahku pulang nanti, nggak akan kulepaskan kalian semua!”
Para pengawal saling melirik dan tampak ragu.
Willy malah tertawa dingin, lalu mengambil tongkat baseball di dekatnya.
Dia melangkah ke arahku, berdiri tegap dengan tatapan sinis dan penuh ejekan.
“Mereka nggak berani, tapi aku berani.”
Aku menatapnya dengan putus asa, semua kelembutan yang dulu pernah dia berikan, kini terasa seperti mimpi yang palsu.
Aku tak percaya dia benar-benar akan menyakitiku.
Aku ketakutan dan mundur perlahan, tapi dia malah menendangku hingga jatuh ke lantai.
Perutku terasa nyeri hebat, bahkan belum sempat menarik napas, tongkat itu sudah menghantam kakiku yang sudah terluka.
“Aaaaa!”
Aku menjerit keras, tubuhku gemetar hebat. Rasa sakitnya luar biasa hingga nyaris membuatku pingsan.
Namun, Willy hanya berdiri di sana dengan tatapan dingin.
“Ini akibatmu sudah membohongiku.”
Tiba-tiba, ponselku berdering.
Willy memungutnya, bibirnya menyunggingkan senyuman menyindir.
“Coba kita lihat, siapa lagi yang menelepon kali ini.”
“Halo, ini dengan Nona Kiana yang melapor polisi?”
“Kami sudah sampai di rumahmu, para pelaku kabur saat terjadi perlawanan. Kondisi ibumu sangat buruk, harus segera dibawa ke rumah sakit.”