Bab 1
Di kehidupan sebelumnya, kakakku rela mengantar wanita simpanannya keluar kota hanya karena wanita itu bilang ingin melihat hujan meteor.
Dia pun membawa seluruh pengawal di rumah dan mengemudi keluar kota demi menciptakan malam hujan meteor untuk wanita itu.
Tak disangka, musuh lama yang pernah dihancurkan oleh kakakku malah memanfaatkan kesempatan itu untuk menyelinap ke rumah. Dia berusaha membantai seluruh keluarga sebagai pembalasan dendamnya.
Ibu berjuang mati-matian untuk melindungiku. Dia terluka parah dan nyaris kehilangan nyawa.
Aku terus-menerus menelepon kakakku, memohon agar dia segera pulang membawa bantuan.
Akhirnya, dia pun terpaksa pulang bersama pengawal.
Musuhnya berhasil ditangkap, tapi malah datang kabar buruk dari luar kota.
Wanita simpanan itu meninggalkan sepucuk surat dan menghilang. Entah hidup atau mati, tak ada yang tahu.
Dalam suratnya, dia menuduhku dengan kejam. Katanya aku sengaja memancing kakakku menjauh darinya, hingga dia disiksa oleh musuh dan memilih mengakhiri hidup.
Kakakku hanya membakar surat itu tanpa ekspresi dan menyuruhku jangan memikirkannya.
Setelah kejadian itu, kakak pun disalahkan. Ayah memutuskan menyerahkan kendali perusahaan padaku.
Namun, di malam perayaan syukuran itu, aku dibunuh oleh kakakku di kamar tidurku sendiri.
Wajahnya tanpa emosi dan berkata, “Orang sekejam kamu memang pantas mati.”
“Yang seharusnya mati itu kamu! Aku yang seharusnya menjadi pewaris keluarga ini!”
Aku mati tak tenang, tapi saat membuka mata kembali, suara pintu vila didobrak oleh para musuh pun terdengar dari luar.
Pintu besi vila yang tebal dibobol dengan suara keras menggema. Seketika membangunkanku dari sensasi sesak napas yang seolah menyeretku menuju kematian.
Aku reflek menarik ibu yang panik dan hendak berlari keluar untuk memeriksa keadaan, lalu menyeretnya masuk ke kamarku.
Begitu pintu tertutup, aku langsung menguncinya rapat-rapat, napasku terengah-engah. Aku memberi isyarat agar ibu membantuku mendorong lemari pakaian dari kayu jati yang berat itu untuk mengganjal pintu.
“Kiana, apa yang kamu lakukan? Ada pengawal di rumah ini, apain harus takut?”
Tanya ibu dengan bingung sambil menatapku, rasa takut tetap terlihat jelas dari tatapan matanya.
Dia belum tahu kalau kakak sudah membawa semua pengawal pergi demi si wanita simpanannya.
“Bu, kakak bawa pergi semua pengawal! Hanya ada kita berdua di rumah ini sekarang!”
Aku menggertakkan gigi, mengerahkan seluruh tenaga untuk mendorong lemari berat itu.
Suara gesekan lemari yang menyakitkan telinga menggema di ruangan, meninggalkan bekas goresan dalam di lantai kayu.
Ibu membeku, tak percaya bahwa kakakku yang selama ini selalu terlihat bertanggung jawab bisa melakukan hal sebodoh itu.
Keluarga Joman bukan orang sembarangan.
Keamanan selalu menjadi prioritas utama, bagaimana mungkin semua pengawal dibawa pergi?
Namun, melihat wajahku yang pucat, ibu pun terpaksa memercayaiku.
“Cepat! Telepon kakakmu! Suruh dia cepat pulang!”
Desak ibu dengan suara gemetar.
Aku tak menjawab, hanya menatap tajam ke arah pintu kamar yang kini hanya dibentengi oleh lemari besar.
Dengan tangan yang gemetar, aku memutuskan menelepon polisi lebih dulu. Aku menjelaskan situasinya dengan singkat dan cepat, lalu menyebutkan alamat kami.
Aku tak berani menyerahkan keselamatan kami sepenuhnya pada kakak, karena di kehidupan sebelumnya, dia datang terlalu terlambat.
Hingga ibu kehilangan nyawanya karena tak mendapat pertolongan medis tepat waktu.
Begitu telepon ditutup, perasaanku terasa semakin berat.
Beberapa hari terakhir ini, salju deras menutupi jalan. Vila kami yang terletak di lereng bukit cukup jauh dari kantor polisi terdekat.
Aku tak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi sebelum polisi tiba….
“Duk!” terdengar sebuah hantaman keras mengguncang pintu kamar.
Reflek, aku menekan tubuhku ke arah lemari, rasa takut menyapu sekujur tubuh seperti gelombang pasang.
Tiba-tiba, telepon ibu akhirnya tersambung dengan kakak.
“Jack, cepat pulang! Ada… ada perampok yang masuk ke rumah!”
Suara ibu sudah hampir menangis.
Namun, suara kakak di balik telepon terdengar kesal,
“Sudahlah bu, jangan bohong. Aku lagi merayakan ulang tahun Mia, bakal pulang besok.”
“Aku nggak bohong! Benaran ada perampok! Cepat pulang atau kamu siap-siap melihat jasad kami!”
Teriak ibu dengan histeris.
Namun, suara kakak semakin dingin, “Aku tahu ibu nggak suka Mia, tapi nggak perlu juga buat cerita seperti ini untuk menakutiku.”
Bab 2
“Dan satu lagi, bilang ke Kiana hentikan semua trik murahan itu. Aku nggak akan tertipu lagi.”
Mendengar ucapan itu, hatiku langsung terasa membeku.
Ternyata kakakku juga bereinkarnasi?! Tapi kenapa dia bisa mengira ini semua hanya kebohonganku?
Padahal di kehidupan sebelumnya, dia sendiri yang menyaksikan bagaimana para penjahat itu menyiksa aku dan ibu.
Kenapa di kehidupan ini dia jadi sedingin ini?
Hanya karena wanita bernama Mia itu bilang,‘Kiana sengaja’?
Langkah kaki seseorang terdengar semakin berat, mendekat ke arah pintu.
Tak lama kemudian, pintu digedor semakin keras dan suara gesekan lemari yang diseret di lantai terdengar nyaring menusuk telinga.
Kami hanya bisa terpaku melihat pertahanan lemari itu semakin melemah, hingga, “Plak!”
Salah satu sudut lemari pecah dihantam keras, menimbulkan celah besar yang langsung terbuka di depan mataku dan ibu.
Suara tawa rendah dan serah terdengar dari luar, “Ternyata kalian sembunyi di sini.”
Aku berdiri di depan ibu, perlahan mundur ke arah ranjang.
Menatap celah di pintu yang mulai terbuka dan menyodorkan cahaya, perasaan tak berdaya karena tangan kosong membuat keningku basah oleh keringat dingin.
Lalu, pintu pun ditendang terbuka. Suara gesekan kaki lemari yang menyeret lantai menjerit seperti rel kereta api yang tergesek keras.
Sepasang sepatu bot kotor melangkah masuk.
“Kalian pikir bisa selamat hanya dengan menahan pintu? Aku bukan orang yang sabar bermain petak umpet.”
Pria itu menyeringai sinis, tatapannya menyapu sekeliling ruangan.
Tubuhku membeku di tempat, menatap pisau mengilap di tangannya. Pantulan cahaya menyinari jari-jarinya yang kotor dan hitam.
Tatapannya berhenti padaku, penuh nafsu dan menjijikkan, seperti lidah ular yang menjilat kulit, “
“Lumayan juga, nggak kusangka ada nona secantik ini di sini.”
Ibu berteriak sekuat tenaga, “Jangan sentuh dia!”
Aku menggertakkan gigi, menahan rasa putus asa yang menggeladak di dada, lalu menoleh ke ibu dan berbisik pelan,
“Bu, apapun yang terjadi nanti, kamu jangan ikut campur.”
“Ibu mundur, ada trampolin di luar jendela. Loncat ke bawah bisa mengurangi benturan.”
“Lalu ibu lari ke rumah sebelah, rumah Keluarga Phoin. Cari Willy dan suruh dia bawa orang untuk selamatkan aku.”
Pria itu sudah semakin dekat sambil menggoyangkan pisaunya, waktu kami hampir habis.
Lagipula, di kehidupan sebelumnya aku juga sudah pernah disiksa. Di kehidupan ini, bagaimanapun caranya aku harus melindungi ibu.
“Kiana, ibu nggak mungkin tinggalkan kamu!”
Aku mencengkeram pergelangan tangan ibu sekuat tenaga.
“Tolong dengarkan aku, bu. Ibu harus loncat dan lari secepat mungkin ke rumah Keluarga Pholin. Selama ibu selamat, semuanya masih ada harapan.”
Saat itu juga, pria itu mendorong lemari ke samping dan maju mendekat ke arah kami.
“Bu, cepat loncat!” bisikku panik.
Namun, ibu malah melesat ke depan dan menyerbu pria itu.
Dia memeluk lengannya erat-erat dan berusaha menyeretnya mundur.
“Kiana! Cepat loncat! Cepat pergi! Ibu nggak akan biarkan mereka menangkapmu!”
Suaranya tersendat oleh isak tangis, tapi terdengar penuh ketegasan.
“Ibu!”
Aku menjerit ketakutan.
Dan di depan mataku sendiri, pria itu mengayunkan tangannya dan menusukkan pisau itu tepat ke punggung ibu!
Seketika, cairan merah menyala seolah langsung menyerbu masuk ke dalam pikiranku, menghancurkan semua logika dan ketenanganku.
Ibu terengah-engah menahan sakit, tapi tetap memeluk pinggang pria itu erat-erat, sambil menangis dan berteriak,
“Cepat lompat! Kiana! Cepat! Jangan ragu-ragu lagi!”
Seluruh darah dalam tubuhku rasanya membeku, tapi naluri untuk bertahan hidup terasa seperti reaksi otomatis.
Melawan secara langsung jelas bukan pilihan tepat. Aku berlari ke jendela dan tanpa ragu melompat ke bawah.
Saat mendarat, trampolin memantulkan tubuhku kuat-kuat dan rasa sakit yang menusuk tiba-tiba menjalar dari pergelangan kaki hingga ke betis.
Bab 3
Namun, aku tak punya waktu untuk berhenti. Aku menggertakkan gigi dan memaksakan diri berdiri, lalu mengerahkan seluruh tenaga berlari menuju rumah Keluarga Pholin di sebelah.
Aku tak peduli lagi kaki yang membeku dan terluka parah karena terjebak di salju, yang kupikirkan hanya satu hal, yaitu berlari sekuat tenaga tanpa henti.
Meskipun rumahnya di sebelah, jaraknya sebenarnya hampir satu kilometer.
Udara dingin menusuk tenggorokan, tapi aku tak berani memperlambat langkah.
Karena aku tahu, di kehidupan sebelumnya, yang masuk ke rumah bukan hanya satu orang!
Saat aku jatuh tersungkur di depan gerbang besi rumah Keluarga Pholin, aku memukul-mukul pintunya dengan sisa tenaga sambil berteriak serak,
“Willy! Buka pintu! Tolong! Ada perampok masuk ke rumahku, tolong selamatkan ibuku!”
Gerbang besi akhirnya terbuka dengan bunyi berderit pelan. Willy berdiri di ambang pintu dengan dahi mengernyit.
Dia mengenakan mantel kasmir tebal yang hangat, tapi wajahnya sama sekali tak menunjukkan kehangatan.
Dia menatapku yang tersungkur di salju, lalu perlahan berkata,
“Kiana, aktingmu semakin bagus sekarang, ya.”
Nada suaranya sinis, bahkan sedikit mengejek.
Dadaku terasa sesak, kepalaku terasa pusing.
“Willy! Aku nggak bercanda, ini bukan main-main, ibuku sedang dalam bahaya!”
“Tolong kirim orang ke rumahku untuk selamatkan ibuku!”
Willy pun melihat tubuhku yang penuh luka dan tampak malang, lalu menggeleng pelan sambil mencibir,
“Kalau bukan karena kakakmu bilang kamu iri sama Mia dan nekat buat skenario perampokan, mungkin aku sudah percaya juga.”
Aku buru-buru menjelaskan, “Jangan dengar kata kakakku, ini benaran!”
“Aku sudah lapor polisi barusan, tapi mereka belum sampai. Tolong, ibuku ditusuk dan sudah nggak kuat!”
Di kehidupan sebelumnya, aku tak tahu apakah setelah itu ketiga perampok itu ada melampiaskan emosi pada ibu atau tidak.
Yang jelas aku dan ibu berjuang mati-matian melawan mereka, tubuh kami sampai dipenuhi luka dan memar.
Bagian bawah tubuhku robek, sementara ibu akhirnya hanya bisa terbaring koma menjadi manusia vegetatif.
Kali ini, aku kembali hidup, aku tak mau ibu kehilangan nyawanya karenaku!
Aku mengeluarkan ponsel dan menunjukkan bukti laporan polisi kepada Willy, tapi dia tetap tak percaya.
Sebaliknya, dia malah mencibir lebih keras dengan nada penuh ejekan, “Wah, kali ini mainnya serius? Sampai lapor polisi segala?”
“Skema perampokan yang kamu rancang sendiri, akting drama sebagai korban kali ini nyaris membuatku percaya. Harus kuakui, kamu memang hebat.”
“Willy! Kamu sudah gila?! Ini sungguhan!”
Teriakku sekuat tenaga, suara serak dan tangis membuat pandanganku kabur.
Namun, semua teriakanku tak mampu menggoyahkan keyakinannya.
Dia berbalik hendak pergi, tapi aku buru-buru meraih tangannya.
“Kumohon! Ibuku benar-benar butuh pertolongan! Kalau kamu nggak pergi sekarang, dia bisa mati! Dia benaran bisa mati!”
Dia menunduk menatapku, tetapi tatapannya tetap dingin tak berperasaan.
“Kiana, kakakmu sudah bilang padaku, tak peduli seberapa ribut kamu, aku tak perlu ikut campur.”
Kata-katanya menusukku seperti pisau.
Sebelum Mia muncul, Willy adalah sahabat masa kecilku. Dia selalu lemah lembut dan perhatian padaku.
Bahkan setelah kami bertunangan, dia semakin memanjakanku.
Namun, semuanya berubah sejak wanita itu muncul.
Willy mulai bersikap dingin, kakakku pun perlahan menjauh dariku.
Demi menyenangkan Mia, mereka rela melakukan hal-hal bodoh.
Hanya karena nama perusahaan orang lain sama dengan nama anjing peliharaan Mia, kakakku sengaja menjatuhkan perusahaan itu dan akibatnya keluarga kami tertimpa masalah ini!
Aku terduduk putus asa di tengah salju, bersujud dan memohon,
“Willy, kumohon padamu! Tolong bawa orang ke rumahku sebentar saja dan lihat sendiri keadaannya! Kumohon!”
“Bahkan kalau kamu mau membatalkan pertunangan kita juga tak apa, kumohon!”
Aku benar-benar kehilangan harapan.
Aku terus berdoa dalam hati. Berdoa agar Willy masih punya sedikit hati nurani.