Bab 2

"Sayang sekali, waktu sampai di rumah sakit sudah terlambat. Operasi untuk ibu sukses, tapi anaknya nggak bisa diselamatkan. Di mana keluarga pasien?"

"Nggak ada, operasi ditandatangani sendiri oleh pasien."

Setelah efek anestesi operasi, ketakutan Scarlett karena nyaris meninggal masih belum hilang. Dia mendengar suara dokter dan perawat di sampingnya, lalu otomatis meletakkan tangannya di perut. Benar seperti kata dokter, anaknya sudah diambil.

Perut yang dulu sedikit membuncit kini kembali rata. Dia tak akan pernah bisa merasakan kehidupan kecil itu lagi.

Dia tahu seharusnya sekarang menangis sejadi-jadinya, tetapi entah kenapa tidak ada setetes pun air mata yang keluar. Mungkin karena dulu dia sudah menangis terlalu banyak.

Dokter yang melihatnya sadar bertanya bagaimana kondisinya sekarang. Sebelum pergi, dokter pun memberi nasihat agar Scarlett menjaga kesehatan dan mengatakan suatu hari dia akan punya anak lagi.

Scarlett hanya mengangguk. Dia tak menjelaskan karena anak itu tak akan pernah ada lagi. Anak itu adalah "hasil curian", seperti halnya pernikahan ini.

Dulu, dia berhasil menikah dengan Devan, si genius dari Kota Nordigo. Namun, Devan merasa dia penuh perhitungan sehingga sangat membencinya. Bahkan di malam pernikahan, Devan sengaja pergi ke kelab untuk menghinanya.

Scarlett pun menjadi bahan tertawaan seantero Kota Nordigo. Setelah lima tahun pernikahan, sikap Devan tidak sekeras dulu. Kadang jika dia diejek terlalu berlebihan, Devan masih mau membelanya.

Seperti kata pepatah, sering bertemu, maka sedikit rasa akan muncul. Mungkin karena mereka menjadi pasangan palsu terlalu lama dan bertemu setiap hari, setidaknya ada sedikit rasa hormat untuk satu sama lain.

Namun, Devan pernah menegaskan bahwa dia hanya tertarik pada Scarlett, tetapi tidak jatuh cinta, juga tidak mengizinkan Scarlett memiliki anak darinya.

Jadi, setiap kali mereka selalu sangat menjaga. Meskipun beberapa kali tidak ada persiapan, Devan tetap memberinya pil kontrasepsi setelahnya.

Bertahun-tahun, Scarlett selalu taat pada perannya sebagai istri Devan dan mematuhi aturan dari Devan dengan hati-hati.

Namun tiga bulan lalu, suatu malam, Devan pulang dalam keadaan mabuk dan memaksanya berhubungan intim. Tanpa perlindungan apa pun.

Setelah itu, Scarlett ingin minum pil kontrasepsi, tetapi kotaknya kosong. Dia berniat membeli di apotek, tetapi kemudian sibuk dengan berbagai hal hingga melupakan kejadian itu.

Dia pun berpikir tidak akan ada masalah karena hanya sekali. Namun siapa sangka, ternyata dia hamil.

Scarlett ragu-ragu sangat lama, menyembunyikan kabar itu hampir tiga bulan, sampai hari ini memutuskan untuk mengaku.

Dia kira dengan memiliki anak ini, hubungannya dengan Devan akan membaik. Namun, di jalan menuju pertemuan, kecelakaan itu terjadi.

Orang tuanya sudah meninggal dan Keluarga Laksmana tidak menyukainya. Sebelum operasi, dia sempat melihat dokter mengambil ponselnya dan menelepon Devan, juga mengirim kabar kecelakaan. Devan tidak mengangkat. Mungkin merasa kesal, dia bahkan langsung mematikan telepon.

Scarlett tahu Devan tidak berperasaan, tetapi tidak menyangka pria itu bisa sekejam ini. Dia menatap dinding putih rumah sakit. Lima tahun pernikahan terasa seperti mimpi buruk.

Scarlett ingin ke kamar mandi, tetapi para staf tampak sibuk. Karena tidak ada yang membantu, dia harus menyeret botol infus selangkah demi selangkah.

Untungnya, baju rumah sakitnya tidak berkancing. Namun, urusan yang biasanya bisa selesai dalam beberapa menit, kini memakan hampir setengah jam.

Saat keluar dari kamar mandi dan hendak kembali ke ranjang, terdengar suara wanita dari ruang kantor rumah sakit di samping. Suara yang familier membuat langkah Scarlett terhenti.

"Devan, cuma kaki yang terluka sedikit. Aku sudah bilang nggak apa-apa, kamu yang berlebihan." Suara itu lembut dan hangat. Nada bicaranya bukan menegur, tetapi lebih ke manja.

Wajahnya polos, cantik, bahkan Scarlett sendiri ingin melindunginya. Sekarang dia melihat jelas, wanita itu memang cinta pertama Devan, Vivian.

Dia tidak tahu apakah saat itu Devan memang tidak melihatnya, atau melihat tetapi tidak peduli. Namun, itu sudah tidak penting lagi.

Scarlett tahu, salah satu alasan pernikahan mereka selama ini penuh kekacauan adalah karena Vivian. Bahkan jika insiden hari ini tidak terjadi, suatu saat pasti akan meledak juga.

"Kak Vivian, ini semua karena Kak Devan khawatir padamu. Awalnya dia menelepon dengan suara gemetar, bilang harus periksa semuanya. Aku kira ada masalah serius," kata seorang dokter muda berjas putih sambil tersenyum.

Itu adalah Ryan, sahabat Devan, sekaligus saksi hubungan Devan dan Vivian.

Vivian tersipu dan menatap Devan yang memeluknya dengan cemas. Wajah tampan, tubuh atletis. Di balik kain tipis, terasa hangatnya tubuh seorang pria. Dengan bersandar pada pelukan Devan, Vivian merasa sangat aman, seolah-olah Devan akan menahan segalanya untuknya.

"Namanya juga kecelakaan, tentu harus diperiksa," kata Devan dengan tenang.

"Kamu cuma khawatir sama Kak Vivian. Kalau orang lain, kamu nggak seheboh ini," goda Ryan.

Ryan tentu tahu Devan menikahi Scarlett karena paksaan keluarga. "Orang lain" dalam ucapannya jelas merujuk pada Scarlett.

Bertahun-tahun, Scarlett selalu datang sendiri ke rumah sakit. Ryan kadang memberitahu Devan, tetapi Devan tetap tak peduli.

Mengenai Scarlett yang hampir meninggal dan keguguran, Ryan sudah mendengarnya. Selama ini, dia memanggil Scarlett dengan sebutan "Kakak Ipar". Kali ini, dia juga adalah dokter penanggung jawab Scarlett. Secara logika dan perasaan, seharusnya dia menghibur atau setidaknya menanyakan kondisinya.

Namun, dia bahkan tidak menjenguk Scarlett. Bukan karena alasan lain, tetapi karena dia merasa Scarlett memang pantas mendapatkannya.

Dulu ketika Scarlett menikah dengan Devan, pernikahan itu memang tidak murni. Mengenai kehamilan Scarlett kali ini, Ryan sempat mencoba menanyakannya kepada Devan, tetapi Devan sama sekali tidak tahu.

Bisa ditebak, Scarlett pasti ingin menggunakan anak itu untuk mengikat Devan. Sayangnya, rencananya gagal. Kini, anak itu gugur. Mungkin memang sudah takdir, jadi tidak ada yang pantas dikasihani.

"Aku akan uruskan ruang VIP untuk Kak Vivian, biar bisa diobservasi dua hari lagi," kata Ryan sambil tersenyum dan menoleh ke keduanya.

Vivian mengangguk. "Terima kasih ya."

"Nggak masalah, urusanmu adalah urusan Devan. Tentu aku harus mengurus dengan baik." Ryan menepuk dadanya dengan bangga.

Ucapan itu jelas untuk menyenangkan Vivian. Vivian pun tersenyum dan secara tidak sadar melirik ke arah pintu.

Di pintu, Scarlett kebetulan menatapnya. Vivian segera mengalihkan pandangan, lalu tersenyum tipis pada Devan. "Devan, aku ingat tadi Scarlett meneleponmu dan kelihatannya cukup penting. Mungkin kamu bisa telepon dia dulu."

Menyebut nama Scarlett, alis Devan mengerut tajam.

Belum sempat dia menjawab, Ryan yang sedang menunduk dan sibuk dengan pekerjaannya langsung menyela, "Nggak usah dipedulikan. Scarlett memang sering mengganggu Kak Devan. Bertahun-tahun ini selalu menelepon tanpa alasan. Kak Devan pasti muak."

"Vivian, biarkan Kak Devan menemanimu. Rawat lukamu dengan baik," tambah Ryan. "Cepat atau lambat, Scarlett pasti akan memberimu posisinya."

"Ryan, jangan sembarangan!" tegur Vivian.

Ryan buru-buru melambaikan tangan. "Aku nggak sembarangan, itu memang yang dipikirkan Kak Devan."

Devan tetap diam, hanya alisnya yang semakin berkerut.

Scarlett merasakan keheningan di udara dan mentertawakan dirinya sendiri. Tidak apa-apa, hari itu akan segera tiba.

Bab 3

Di dalam kamar rumah sakit, Ryan masih dengan antusias menceritakan kepada Vivian bagaimana Devan bersikap dingin terhadap Scarlett selama dirinya pergi.

"Pernah sekali, Scarlett sampai mengancam Kak Devan dengan menyayat pergelangan tangannya, bahkan mengirim foto pada Kak Devan. Tebak apa yang terjadi?"

"Kak Devan sama sekali nggak peduli. Dia langsung pulang, mengusir Scarlett dari rumah. Dia bilang kalau mau mati, mati saja di luar, jangan kotorin rumah."

Sebenarnya Ryan juga hanya mendengar dari orang lain. Dikatakan saat itu suhu di luar di bawah nol, Scarlett kedinginan di luar sampai darah percobaan bunuh diri mengental. Ryan pun merasa lucu sekaligus kasihan.

"Sikap Kak Devan padanya jelas sangat dingin. Coba lihat sikap Kak Devan padamu. Kalau kamu di luar negeri demam saja, Kak Devan pasti ...."

"Sudah, kamu bicara terlalu banyak," sela Devan dingin sebelum Ryan selesai berbicara.

"Cih, malu sendiri ya? Kak Vivian, lihat Kak Devan mengancamku. Kamu nggak mau turun tangan?" ejek Ryan.

Vivian menutup mulut sambil tertawa tanpa berkata apa-apa. Devan merasa ada sesuatu yang rumit di hatinya dan tak bisa dijelaskan.

Kebetulan, saat itu Ryan sudah mengurus ruang VIP untuk Vivian. Tanpa berbasa-basi, Devan mengambil berkas dan pergi mengurus administrasi.

Ryan menopang dagunya sambil menatap punggung Devan, lalu mengedipkan mata ke Vivian dan berbisik, "Lihat? Setiap kali berkaitan dengan dirimu, Kak Devan akan sangat serius."

Suaranya lirih sehingga Devan tidak mendengar.

Devan membawa berkas ke lantai bawah, membayar biaya, dan khusus memilih ruang rawat yang tenang untuk Vivian.

Setelah urusan selesai, dia tak bisa menahan diri untuk memikirkan Scarlett. Dia pun mengeluarkan ponsel, baru melihat panggilan dan pesan dari Scarlett.

[ Kami dokter Rumah Sakit Murni. Kami sudah beberapa kali menelepon, tapi nggak diangkat. Kami ingin memberitahukan bahwa Bu Scarlett mengalami kecelakaan dan membutuhkan tanda tangan untuk operasi. Mohon segera ke rumah sakit! ]

Rumah Sakit Murni. Kebetulan itu adalah rumah sakit tempatnya berada sekarang.

Devan terdiam dua detik, tak kuasa mengingat ucapan Ryan tadi. Dia ingat, sejak kejadian percobaan bunuh diri Scarlett, Scarlett memang berubah banyak. Dulu Scarlett selalu menelepon berulang kali, tetapi lama-kelamaan menjadi semakin jarang.

Kadang ketika dia pulang malam, Scarlett pun tidak mencarinya. Ini sungguh aneh. Tanpa sadar, Devan menghubungi balik.

....

Scarlett sedang duduk di ranjang rumah sakit. Dia baru saja bertanya pada pengacaranya tentang urusan perceraian. Saat menerima panggilan Devan, dia pun terkejut.

Dia sudah siap bahwa Devan tidak akan menghubunginya sepanjang hari, tetapi ternyata Devan justru meneleponnya.

Padahal setiap kali Vivian kembali ke Kota Nordigo, Devan selalu fokus 24 jam penuh padanya dan tidak pernah memikirkan Scarlett.

Setelah terdiam sejenak, Scarlett mengangkat telepon. Begitu tersambung, Devan sedikit terkejut. Rasanya kesal. Ternyata ini hanya trik Scarlett untuk memancing reaksinya. Dia malah tertipu?

Namun, sekarang sudah terlambat untuk menutup telepon. Devan merendahkan suaranya, bertanya dengan dingin, "Di mana?"

"Di rumah sakit," jawab Scarlett dengan jujur.

Devan terkekeh-kekeh sinis. Suara Scarlett terdengar tenang dan kuat, sama sekali tidak seperti orang yang baru saja mengalami kecelakaan.

"Katanya kamu kecelakaan. Gimana kondisimu?" tanya Devan lagi. Suaranya tetap dingin tanpa emosi, membuat Scarlett termangu sesaat.

Apakah ini bentuk perhatian dari Devan? Padahal sebelumnya, dia tidak pernah peduli pada kondisi Scarlett, apalagi meneleponnya.

Scarlett merasa sedikit tidak nyata. Matanya tiba-tiba perih, dadanya seperti ditimpa oleh batu besar di atasnya. Dia menaruh tangan di perut sambil berpikir, mungkinkah Devan masih peduli padanya?

"Sudah lebih baik, tapi ...." Scarlett ragu, apakah harus memberitahukan soal anaknya.

Di seberang, terdengar suara Devan lagi. "Kalau nggak ada masalah, pulang saja. Vivian kecelakaan. Dokter bilang tubuhnya lemah. Sekarang dia perlu perawatan, jadi kamu pulang saja dan buatkan makanan bergizi untuknya supaya bisa lebih cepat pulih."

Mendengar itu, sedikit kehangatan di hati Scarlett seketika berubah dingin. Perkataan yang dia kira adalah perhatian itu menjadi sangat konyol.

Dulu saat Devan terus mabuk, Scarlett memasak sup selama sebulan untuk merawat tubuh Devan. Dia tidak berharap Devan terharu. Namun, dia tidak menyangka Devan akan menganggap itu wajar, bahkan menyuruhnya melakukan hal itu untuk wanita lain.

Scarlett tersenyum pahit. Bertahun-tahun pernikahan mereka ternyata hanyalah lelucon.

Devan selalu mengawasi Vivian 24 jam. Jika Vivian flu ringan, dia akan selalu menjadi orang pertama yang tahu. Kemudian, dia akan naik penerbangan malam hari demi merawat Vivian. Kini, Scarlett mengalami kecelakaan serius, tetapi Devan menganggapnya hanya masalah sepele.

"Urus saja sendiri," kata Scarlett dengan dingin.

Devan menyahut, "Vivian cukup pemilih, masakan orang lain nggak cocok."

Scarlett tertegun, lalu tertawa. "Devan, aku ini istrimu, bukan pembantumu."

"Maksudmu?" Devan mengerutkan alis.

"Seperti yang kukatakan tadi. Aku nggak akan buatkan makanan bernutrisi apa pun." Ini pertama kalinya Scarlett menolak permintaan Devan.

Devan mengerutkan alis, lalu memahami maksudnya dan mulai tak sabar. "Scarlett, kamu cemburu lagi?"

"Aku ini satu-satunya orang terdekat Vivian di dunia ini. Kalau aku nggak peduli padanya, siapa lagi yang bakal peduli padanya? Lagi pula, jangan lupa, posisimu itu dulunya miliknya. Kalau bukan karena kamu menikah denganku, istriku sekarang seharusnya adalah dia."

Ucapan itu membuat Scarlett merasa sesak. Devan sering mengatakan itu. Setiap kali mendengarnya, Scarlett tidak bisa berkata apa-apa.

Dulu, ayah Devan mengalami gagal ginjal dan membutuhkan donor. Golongan darahnya langka dan hanya ibu Scarlett yang cocok. Ibu Scarlett bersedia mendonorkan ginjalnya, tetapi dengan syarat Scarlett menikah dengan Devan.

Namun, operasi bermasalah dan ibu Scarlett kritis. Sebelum meninggal, di depan media, dia meminta Scarlett menikah dengan Devan.

Saat itu, Devan sedang berpacaran dengan Vivian. Keluarga terus memaksa sehingga akhirnya Scarlett dan Devan bertunangan. Sementara itu, Vivian pergi ke luar negeri karena patah hati.

Kemudian, saat mengurus barang peninggalan ibu Scarlett, keluarga menemukan surat penyakit dan surat wasiatnya. Ternyata ibu Scarlett sejak awal tahu hidupnya tak lama lagi. Tujuannya memang agar Scarlett menikah dengan Devan.

Scarlett menjadi sasaran hinaan. Dia berkali-kali ingin menolak pernikahan ini, tetapi akhirnya menyerah. Jika menolak, kematian ibunya akan sia-sia.

Selama ini, dia selalu menahan diri. Namun, kali ini tak ada lagi yang perlu ditahan. Dia berpikir, jika ibunya melihatnya seperti ini, ibunya pasti juga akan sedih.

"Kalau begitu, aku kembalikan posisi ini kepadanya." Scarlett menggenggam surat perjanjian cerai yang baru ditandatangani, lalu berkata dengan dingin, "Devan, kita cerai saja."

Bab 4

"Apa?" Devan sempat mengira dirinya salah dengar.

Scarlett mengulangi perkataannya lagi, tetapi Devan masih sulit percaya. "Scarlett, kamu mau main tipu muslihat apa lagi?"

"Aku serius."

"Devan, aku akan merestui hubunganmu dengan Vivian. Aku sudah hubungi pengacara. Sekarang aku di kamar rumah sakit di lantai atas. Kalau ada waktu, datanglah, kita bicarakan soal perceraian ...."

Belum selesai Scarlett berbicara, Devan seperti tiba-tiba memahami sesuatu. Dia tersenyum dingin, lalu menyela, "Aku sibuk."

Setelah itu, Devan langsung menutup telepon dan tertawa kesal. Perilaku Scarlett belakangan ini memang adalah trik untuk memancing reaksinya. Wanita itu berbicara panjang lebar tadi pasti supaya dia mau menemuinya. Perceraian itu hanya umpan. Hampir saja dia percaya.

Selama bertahun-tahun, Devan juga pernah memaksa Scarlett bercerai. Dia bersedia memberinya separuh harta, memberinya semua yang bisa diberikan, tetapi Scarlett menolak.

Kemudian, dia berniat membuat Scarlett mengajukan perceraian sendiri. Dia sengaja memeluk wanita lain di depan matanya, bersikap dingin di depan Keluarga Laksmana, mengabaikannya di depan teman. Kalau wanita lain, pasti sudah minta cerai, tetapi Scarlett tidak.

Awalnya Devan mengira Scarlett serakah, ingin lebih. Sampai akhirnya, dia sadar selama ini yang Scarlett inginkan hanyalah dirinya.

Devan tak bisa menahan senyuman sinis. Dia bisa memberikan segalanya pada Scarlett, kecuali dirinya sendiri.

[ Aku dan Vivian nggak ingin bertemu denganmu, urus dirimu sendiri. ]

Setelah mengirim pesan itu, Devan tidak peduli lagi, langsung naik ke lantai atas. Dia berharap Scarlett kali ini bisa sadar diri. Kalau tidak, dia tidak keberatan mengusirnya dari rumah sakit di depan umum.

Menerima pesan Devan, Scarlett menatap pesan yang dingin itu. Dia tersenyum pahit. Meskipun sudah siap mental, hatinya tetap terasa sedikit dingin. Ternyata ketidakpercayaan Devan padanya sudah sejauh ini. Lima tahun pernikahan, gagal total.

Namun yang mengejutkan, dia tidak merasakan kesedihan seperti biasanya, malah lebih tenang. Mungkin kejadian ini membuatnya benar-benar sadar.

Kurang dari beberapa menit, Scarlett menerima kenyataan bahwa Devan tidak ingin menemuinya. Dia bersiap untuk beristirahat, memulihkan tubuhnya.

Menjelang sore, seorang perawat menemui Scarlett, dengan halus memintanya pindah rumah sakit. "Dokter Ryan bilang Ibu butuh istirahat yang baik. Beliau sudah hubungi rumah sakit lain. Kalau Ibu keberatan, boleh langsung bicara dengannya."

Mendengar nama Ryan, Scarlett langsung paham. Direktur rumah sakit ini adalah ayah Ryan. Meskipun Ryan hanya dokter magang di sini, perkataannya pasti didengar. Ini jelas adalah upaya Ryan secara terang-terangan untuk mengusirnya.

Scarlett tidak ingin menyulitkan perawat itu dan mengangguk setuju. Dengan memegang tulang janin yang dia dapat dari dokter, dia perlahan turun dari ranjang.

Melihatnya kesulitan, seorang perawat merasa kasihan. "Kalau pasien nggak setuju, dokter nggak bisa memindahkan pasien sembarangan. Ibu juga bisa komplain, nomor pengaduan rumah sakit ...."

"Nggak perlu," sela Scarlett sambil memaksakan senyuman. Dia tahu perawat itu baik, tetapi dia juga tahu yang mengusirnya adalah Ryan. Tanpa izin Devan, Ryan tidak akan berani. Tidak akan ada gunanya komplain. Kalau Devan tidak ingin bertemu, dia pasti punya banyak cara untuk membuatnya pergi.

Setelah mengucapkan terima kasih pada perawat, Scarlett tidak tinggal lebih lama. Menahan tubuh yang masih sakit, dia keluar dari rumah sakit dengan tertatih-tatih.

....

Di ruang rawat VIP.

"Devan, mikirin apa?" Vivian menatap sosok gagah yang berdiri di dekat jendela. Sejak kembali ke kamar, Devan diam cukup lama, entah memikirkan apa.

"Nggak ada apa-apa," jawab Devan yang tersadar dari lamunannya. Dia melangkah dengan kaki panjang dan lurus, menuju ranjang Vivian. Ketika dia berbalik, sosok kurus dan pincang di lantai bawah kebetulan lewat.

Devan sampai di samping ranjang Vivian, merapikan selimut untuknya. Merasakan kelembutan tangannya, Vivian tersenyum. Selimut sutra ini khusus dipesan oleh Devan, agar Vivian tidak merasa pengap. Bahkan ada TV yang dipasang atas permintaan Devan. Memikirkan ini membuat hatinya terasa hangat.

Tiba-tiba, Vivian teringat pada Scarlett yang tampak pucat dan berdiri di pintu kamar. Dia menahan senyumannya. Dia ingin meraih wajah Devan, tetapi Devan seolah-olah tahu dan mundur sedikit. Tangan Vivian pun menggantung di udara dengan canggung.

Devan tetap santai, lalu bertanya, "Kapan kamu berencana balik ke luar negeri?"

Vivian sedikit kecewa. Dia tidak mengerti satu hal. Devan begitu peduli padanya, bahkan mengingat siklus menstruasinya, tetapi selalu menolak kedekatannya. Sambil menahan rasa kesal, Vivian pun tersenyum menggoda. "Kamu ingin aku pulang kapan?"

Devan diam.

Vivian mengerti maksudnya dan tertawa ringan. "Kali ini, aku nggak berencana pulang. Lagi pula, orang yang aku suka masih di sini."

Dia menatap Devan tanpa berkedip.

Devan terlihat canggung, lalu berdiri dan menghindari pandangan Vivian. "Jangan main-main, aku sudah menikah."

"Tapi 'kan kamu nggak mencintainya?" Vivian tidak menunggu jawaban Devan, langsung menghela napas dan bertanya, "Devan, kalau kamu nggak suka Scarlett, pernah terpikir untuk cerai?"

Mata Devan menatap dalam-dalam. Perasaan gelisah yang tak jelas muncul di benaknya. Dia teringat kata-kata Scarlett soal perceraian tadi, lalu mencibir. "Memang kami akan cerai, tapi sekarang belum waktunya."

Scarlett sudah mengacak hidupnya sampai kacau, lalu mau pergi begitu saja? Itu terlalu mudah baginya. Selain itu, apa mungkin Scarlett rela bercerai dengannya? Omong kosong. Kecuali kalau otaknya terguncang karena kecelakaan.

Kecelakaan? Begitu pikiran itu muncul, senyuman Devan membeku di bibir. Sikap Scarlett tadi sepertinya berbeda dari biasanya. Apakah dia benar-benar terluka parah sampai berdampak pada otaknya?

Memikirkan ini, Devan merasa gelisah. Dia mencari alasan, lalu meninggalkan ruang rawat Vivian.

Dia naik ke lantai atas, mencari nomor kamar Scarlett yang tadi disebut di telepon. Namun, saat melihat ke dalam, Scarlett tidak terlihat. Kamar kosong, hanya ada dua perawat yang sedang membereskan barang.

"Pasien yang tinggal di sini mana?" tanya Devan.

Melihatnya, perawat bingung. "Sepertinya sudah keluar rumah sakit."

'Keluar rumah sakit? Sepertinya lukanya nggak parah', pikir Devan.

Dia menahan tawa sinis, merasa heran dirinya benar-benar naik ke lantai atas untuk memeriksa. Dia pun berbalik untuk pergi.

Saat ini, perawat lain berkata, "Pasien ini cukup malang. Kecelakaan, keguguran, baru saja selamat dari maut, tapi langsung disuruh keluar rumah sakit."

Langkah kaki Devan berhenti. Mata hitamnya menatap tajam ke perawat. "Kamu bilang apa? Keguguran?"

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B94474" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B94474
Salin

Cinta Mati Bersama Kepergian Buah Hati

Bab 2
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya