Bab 1
Kalau kamu dan cinta sejati suamimu mengalami kecelakaan bersamaan, siapa yang akan diselamatkan suamimu?
Devan memilih menggendong cinta sejatinya pergi. Bersama darah yang mengalir, bukan hanya nyawa bayi dalam kandungan yang mati, tetapi hati Scarlett juga ikut mati.
Pernikahan mereka hanyalah sebuah transaksi. Semua orang tahu Scarlett merebut Devan dari wanita yang benar-benar dia cintai.
Namun, dia percaya seiring berjalannya waktu, dia pasti bisa menunggu hari saat Devan menoleh dan melihat dirinya.
Sampai tiba hari ketika harus mengubur anak yang sudah tiga bulan berada dalam rahimnya, Scarlett akhirnya sadar.
"Kita cerai."
Satu lembar perjanjian, dua hati yang tidak lagi terikat.
Tiga bulan kemudian, di bawah gemerlap cahaya panggung, Scarlett berdiri menerima penghargaan. Devan terpaku menatapnya selama beberapa detik, lalu berkata dengan tenang kepada semua orang, "Ya, itu istriku."
"Istri?" Scarlett tersenyum tipis, menyodorkan surat perjanjian cerai ke tangannya. "Maaf sekali, Pak Devan. Yang benar itu mantan istri."
Untuk pertama kalinya, pria yang selama ini selalu tenang dan dingin itu kehilangan kendali. Matanya memerah, suaranya bergetar. "Mantan? Aku nggak pernah menyetujui perceraian ini!"
"Pak Devan, lokasi kecelakaan masih sangat berbahaya, Bapak nggak boleh mendekat."
"Kami sudah menghubungi tim penyelamat, ambulans sebentar lagi akan datang."
"Pak Devan ...."
"Minggir! Kalau sampai terlambat dan terjadi sesuatu padanya, kalian semua akan kukirim ke alam baka untuk menemaninya!"
Di tengah suara hiruk-pikuk yang bagaikan ombak menghantam telinga, sebuah teriakan penuh amarah membuat Scarlett Permana perlahan sadar dari pingsan akibat kecelakaan.
Dengan susah payah, dia menoleh dan melihat sosok tinggi besar yang begitu familier sedang berlari cepat ke arahnya bagaikan dewa penolong.
Air mata haru langsung mengalir di wajah Scarlett. Setelah kecelakaan, dia sudah lama terjebak dalam mobil yang terbalik. Dia sempat berpikir Devan tidak akan datang.
Sebelum kecelakaan, dia bahkan masih bertengkar dengan Devan. Karena semalam mereka sudah janjian bertemu di kantor, tetapi pagi harinya Devan tiba-tiba membatalkan janji setelah menerima telepon.
Tidak peduli bagaimana dihubungi, panggilannya tak pernah diangkat. Hingga akhirnya kecelakaan itu terjadi, Scarlett segera menggunakan sisa baterai ponselnya untuk mengirimkan lokasinya kepada sekretaris Devan.
Scarlett sempat mengira, Devan akan kembali mengabaikan pesannya seperti biasanya. Tak disangka ....
"Sayang ... masih ada harapan .... Papa sudah datang ...." Scarlett menatap darah yang terus mengalir dari tubuhnya, tetap memeluk harapan terakhir demi sang bayi.
Dia tak peduli pada rasa pusing dan mual yang mendera, ingin memanggil nama Devan. Namun, baru saja membuka mulut, dia sadar suaranya serak dan tak mampu keluar.
Tidak masalah. Toh Devan sudah menemukannya. Dia mengangkat tangannya yang lemah, mencoba melambaikan sedikit .....
Namun detik berikutnya, Devan Laksmana justru melewatinya dan terus berjalan. Scarlett tertegun, mengira dia salah mengenali orang.
Hari ini Scarlett memang tidak membawa mobil dari rumah Keluarga Laksmana. Pagi tadi mobil itu dipinjam adik iparnya. Mobil yang dia kendarai ini adalah hadiah dari ibunya, yang jarang dia gunakan. Jadi, wajar jika Devan tidak mengenalinya.
Scarlett tak sempat berpikir banyak. Dia menguatkan diri dan berteriak memanggil nama Devan. Namun, karena kehilangan banyak darah, suaranya lirih bagai dengungan nyamuk.
Devan tidak mendengar, malah semakin menjauh, hingga berhenti di depan sebuah mobil putih yang menabraknya.
Sebelum Scarlett sempat mencerna, Devan membuka pintu mobil itu, lalu mengangkat seorang wanita yang gemetar ketakutan di dalam pelukannya.
Wanita itu mengenakan mantel panjang, bertubuh ramping, berwibawa, tetapi juga tampak rapuh. Penampilannya yang seperti itu membuat siapa pun yang melihat ingin melindunginya.
Begitu melihat wajah itu, tubuh Scarlett seketika membeku bagaikan jatuh ke dalam jurang es. Itu adalah Vivian, cinta pertama Devan.
Dia sontak teringat barusan mobil itu terus berpindah jalur, bahkan tidak memberinya waktu untuk menghindar dan gila-gilaan menabrak dari belakang. Namun, sekarang mobil itu diam di pinggir jalan, seolah-olah adalah seorang anak kecil yang ketakutan.
Selain itu, pemilik mobil itu kini bersandar di pelukan suaminya.
Scarlett tidak sempat memikirkan kenapa Vivian yang seharusnya di luar negeri tiba-tiba pulang, atau kenapa kebetulan sekali dialah yang menabrak mobilnya. Yang ada di benaknya hanya satu, yaitu menyelamatkan bayinya.
"Pak Devan, di dalam mobil itu masih ada orang!"
Saat Scarlett berusaha mengangkat tangan ingin mengetuk kaca, seorang pengawal di sisi Devan sudah lebih dulu melihat ada bayangan bergerak di dalam mobil. Dia juga merasa mobil itu agak familier sehingga berseru kaget.
Mendengar itu, Devan menoleh. Wanita di dalam mobil berlumuran darah, tubuhnya terus mengalirkan darah. Meskipun tampak menyedihkan, tetap terlihat jelas wajahnya yang cantik dan bersih. Sepertinya agak familier juga.
Devan sempat terhenti sejenak, hendak berbicara sesuatu. Namun, Vivian yang berada di pelukannya malah mengerang lirih penuh kesakitan.
"Vivian terluka, segera bersihkan jalan menuju rumah sakit." Devan tidak lagi peduli pada hal lain.
"Tapi Pak Devan ...." Belum selesai pengawal berbicara, tatapan dingin Devan langsung membuatnya menelan kembali kata-katanya. "Baik, Pak."
Scarlett hanya bisa menatap suaminya yang hanya berhenti sebentar untuk melihatnya, lalu berbalik membawa Vivian masuk ke mobil.
'Devan, tolong aku! Tolong anak kita ....' Scarlett mencoba berteriak, tetapi begitu membuka mulut, darah langsung menyumbat tenggorokannya.
Tak seorang pun menghiraukannya lagi. Mobil Devan melaju kencang membawa Vivian.
Scarlett hanya bisa menatap mobil itu semakin menjauh, pandangannya perlahan mengabur. Detik berikutnya, rasa sakit yang meremukkan hati bagaikan banjir besar yang menenggelamkan segalanya.
Dia akhirnya tak sanggup bertahan lagi. Dunia di hadapannya gelap, lalu dia kembali kehilangan kesadaran.
Bab 2
"Sayang sekali, waktu sampai di rumah sakit sudah terlambat. Operasi untuk ibu sukses, tapi anaknya nggak bisa diselamatkan. Di mana keluarga pasien?"
"Nggak ada, operasi ditandatangani sendiri oleh pasien."
Setelah efek anestesi operasi, ketakutan Scarlett karena nyaris meninggal masih belum hilang. Dia mendengar suara dokter dan perawat di sampingnya, lalu otomatis meletakkan tangannya di perut. Benar seperti kata dokter, anaknya sudah diambil.
Perut yang dulu sedikit membuncit kini kembali rata. Dia tak akan pernah bisa merasakan kehidupan kecil itu lagi.
Dia tahu seharusnya sekarang menangis sejadi-jadinya, tetapi entah kenapa tidak ada setetes pun air mata yang keluar. Mungkin karena dulu dia sudah menangis terlalu banyak.
Dokter yang melihatnya sadar bertanya bagaimana kondisinya sekarang. Sebelum pergi, dokter pun memberi nasihat agar Scarlett menjaga kesehatan dan mengatakan suatu hari dia akan punya anak lagi.
Scarlett hanya mengangguk. Dia tak menjelaskan karena anak itu tak akan pernah ada lagi. Anak itu adalah "hasil curian", seperti halnya pernikahan ini.
Dulu, dia berhasil menikah dengan Devan, si genius dari Kota Nordigo. Namun, Devan merasa dia penuh perhitungan sehingga sangat membencinya. Bahkan di malam pernikahan, Devan sengaja pergi ke kelab untuk menghinanya.
Scarlett pun menjadi bahan tertawaan seantero Kota Nordigo. Setelah lima tahun pernikahan, sikap Devan tidak sekeras dulu. Kadang jika dia diejek terlalu berlebihan, Devan masih mau membelanya.
Seperti kata pepatah, sering bertemu, maka sedikit rasa akan muncul. Mungkin karena mereka menjadi pasangan palsu terlalu lama dan bertemu setiap hari, setidaknya ada sedikit rasa hormat untuk satu sama lain.
Namun, Devan pernah menegaskan bahwa dia hanya tertarik pada Scarlett, tetapi tidak jatuh cinta, juga tidak mengizinkan Scarlett memiliki anak darinya.
Jadi, setiap kali mereka selalu sangat menjaga. Meskipun beberapa kali tidak ada persiapan, Devan tetap memberinya pil kontrasepsi setelahnya.
Bertahun-tahun, Scarlett selalu taat pada perannya sebagai istri Devan dan mematuhi aturan dari Devan dengan hati-hati.
Namun tiga bulan lalu, suatu malam, Devan pulang dalam keadaan mabuk dan memaksanya berhubungan intim. Tanpa perlindungan apa pun.
Setelah itu, Scarlett ingin minum pil kontrasepsi, tetapi kotaknya kosong. Dia berniat membeli di apotek, tetapi kemudian sibuk dengan berbagai hal hingga melupakan kejadian itu.
Dia pun berpikir tidak akan ada masalah karena hanya sekali. Namun siapa sangka, ternyata dia hamil.
Scarlett ragu-ragu sangat lama, menyembunyikan kabar itu hampir tiga bulan, sampai hari ini memutuskan untuk mengaku.
Dia kira dengan memiliki anak ini, hubungannya dengan Devan akan membaik. Namun, di jalan menuju pertemuan, kecelakaan itu terjadi.
Orang tuanya sudah meninggal dan Keluarga Laksmana tidak menyukainya. Sebelum operasi, dia sempat melihat dokter mengambil ponselnya dan menelepon Devan, juga mengirim kabar kecelakaan. Devan tidak mengangkat. Mungkin merasa kesal, dia bahkan langsung mematikan telepon.
Scarlett tahu Devan tidak berperasaan, tetapi tidak menyangka pria itu bisa sekejam ini. Dia menatap dinding putih rumah sakit. Lima tahun pernikahan terasa seperti mimpi buruk.
Scarlett ingin ke kamar mandi, tetapi para staf tampak sibuk. Karena tidak ada yang membantu, dia harus menyeret botol infus selangkah demi selangkah.
Untungnya, baju rumah sakitnya tidak berkancing. Namun, urusan yang biasanya bisa selesai dalam beberapa menit, kini memakan hampir setengah jam.
Saat keluar dari kamar mandi dan hendak kembali ke ranjang, terdengar suara wanita dari ruang kantor rumah sakit di samping. Suara yang familier membuat langkah Scarlett terhenti.
"Devan, cuma kaki yang terluka sedikit. Aku sudah bilang nggak apa-apa, kamu yang berlebihan." Suara itu lembut dan hangat. Nada bicaranya bukan menegur, tetapi lebih ke manja.
Wajahnya polos, cantik, bahkan Scarlett sendiri ingin melindunginya. Sekarang dia melihat jelas, wanita itu memang cinta pertama Devan, Vivian.
Dia tidak tahu apakah saat itu Devan memang tidak melihatnya, atau melihat tetapi tidak peduli. Namun, itu sudah tidak penting lagi.
Scarlett tahu, salah satu alasan pernikahan mereka selama ini penuh kekacauan adalah karena Vivian. Bahkan jika insiden hari ini tidak terjadi, suatu saat pasti akan meledak juga.
"Kak Vivian, ini semua karena Kak Devan khawatir padamu. Awalnya dia menelepon dengan suara gemetar, bilang harus periksa semuanya. Aku kira ada masalah serius," kata seorang dokter muda berjas putih sambil tersenyum.
Itu adalah Ryan, sahabat Devan, sekaligus saksi hubungan Devan dan Vivian.
Vivian tersipu dan menatap Devan yang memeluknya dengan cemas. Wajah tampan, tubuh atletis. Di balik kain tipis, terasa hangatnya tubuh seorang pria. Dengan bersandar pada pelukan Devan, Vivian merasa sangat aman, seolah-olah Devan akan menahan segalanya untuknya.
"Namanya juga kecelakaan, tentu harus diperiksa," kata Devan dengan tenang.
"Kamu cuma khawatir sama Kak Vivian. Kalau orang lain, kamu nggak seheboh ini," goda Ryan.
Ryan tentu tahu Devan menikahi Scarlett karena paksaan keluarga. "Orang lain" dalam ucapannya jelas merujuk pada Scarlett.
Bertahun-tahun, Scarlett selalu datang sendiri ke rumah sakit. Ryan kadang memberitahu Devan, tetapi Devan tetap tak peduli.
Mengenai Scarlett yang hampir meninggal dan keguguran, Ryan sudah mendengarnya. Selama ini, dia memanggil Scarlett dengan sebutan "Kakak Ipar". Kali ini, dia juga adalah dokter penanggung jawab Scarlett. Secara logika dan perasaan, seharusnya dia menghibur atau setidaknya menanyakan kondisinya.
Namun, dia bahkan tidak menjenguk Scarlett. Bukan karena alasan lain, tetapi karena dia merasa Scarlett memang pantas mendapatkannya.
Dulu ketika Scarlett menikah dengan Devan, pernikahan itu memang tidak murni. Mengenai kehamilan Scarlett kali ini, Ryan sempat mencoba menanyakannya kepada Devan, tetapi Devan sama sekali tidak tahu.
Bisa ditebak, Scarlett pasti ingin menggunakan anak itu untuk mengikat Devan. Sayangnya, rencananya gagal. Kini, anak itu gugur. Mungkin memang sudah takdir, jadi tidak ada yang pantas dikasihani.
"Aku akan uruskan ruang VIP untuk Kak Vivian, biar bisa diobservasi dua hari lagi," kata Ryan sambil tersenyum dan menoleh ke keduanya.
Vivian mengangguk. "Terima kasih ya."
"Nggak masalah, urusanmu adalah urusan Devan. Tentu aku harus mengurus dengan baik." Ryan menepuk dadanya dengan bangga.
Ucapan itu jelas untuk menyenangkan Vivian. Vivian pun tersenyum dan secara tidak sadar melirik ke arah pintu.
Di pintu, Scarlett kebetulan menatapnya. Vivian segera mengalihkan pandangan, lalu tersenyum tipis pada Devan. "Devan, aku ingat tadi Scarlett meneleponmu dan kelihatannya cukup penting. Mungkin kamu bisa telepon dia dulu."
Menyebut nama Scarlett, alis Devan mengerut tajam.
Belum sempat dia menjawab, Ryan yang sedang menunduk dan sibuk dengan pekerjaannya langsung menyela, "Nggak usah dipedulikan. Scarlett memang sering mengganggu Kak Devan. Bertahun-tahun ini selalu menelepon tanpa alasan. Kak Devan pasti muak."
"Vivian, biarkan Kak Devan menemanimu. Rawat lukamu dengan baik," tambah Ryan. "Cepat atau lambat, Scarlett pasti akan memberimu posisinya."
"Ryan, jangan sembarangan!" tegur Vivian.
Ryan buru-buru melambaikan tangan. "Aku nggak sembarangan, itu memang yang dipikirkan Kak Devan."
Devan tetap diam, hanya alisnya yang semakin berkerut.
Scarlett merasakan keheningan di udara dan mentertawakan dirinya sendiri. Tidak apa-apa, hari itu akan segera tiba.
Bab 3
Di dalam kamar rumah sakit, Ryan masih dengan antusias menceritakan kepada Vivian bagaimana Devan bersikap dingin terhadap Scarlett selama dirinya pergi.
"Pernah sekali, Scarlett sampai mengancam Kak Devan dengan menyayat pergelangan tangannya, bahkan mengirim foto pada Kak Devan. Tebak apa yang terjadi?"
"Kak Devan sama sekali nggak peduli. Dia langsung pulang, mengusir Scarlett dari rumah. Dia bilang kalau mau mati, mati saja di luar, jangan kotorin rumah."
Sebenarnya Ryan juga hanya mendengar dari orang lain. Dikatakan saat itu suhu di luar di bawah nol, Scarlett kedinginan di luar sampai darah percobaan bunuh diri mengental. Ryan pun merasa lucu sekaligus kasihan.
"Sikap Kak Devan padanya jelas sangat dingin. Coba lihat sikap Kak Devan padamu. Kalau kamu di luar negeri demam saja, Kak Devan pasti ...."
"Sudah, kamu bicara terlalu banyak," sela Devan dingin sebelum Ryan selesai berbicara.
"Cih, malu sendiri ya? Kak Vivian, lihat Kak Devan mengancamku. Kamu nggak mau turun tangan?" ejek Ryan.
Vivian menutup mulut sambil tertawa tanpa berkata apa-apa. Devan merasa ada sesuatu yang rumit di hatinya dan tak bisa dijelaskan.
Kebetulan, saat itu Ryan sudah mengurus ruang VIP untuk Vivian. Tanpa berbasa-basi, Devan mengambil berkas dan pergi mengurus administrasi.
Ryan menopang dagunya sambil menatap punggung Devan, lalu mengedipkan mata ke Vivian dan berbisik, "Lihat? Setiap kali berkaitan dengan dirimu, Kak Devan akan sangat serius."
Suaranya lirih sehingga Devan tidak mendengar.
Devan membawa berkas ke lantai bawah, membayar biaya, dan khusus memilih ruang rawat yang tenang untuk Vivian.
Setelah urusan selesai, dia tak bisa menahan diri untuk memikirkan Scarlett. Dia pun mengeluarkan ponsel, baru melihat panggilan dan pesan dari Scarlett.
[ Kami dokter Rumah Sakit Murni. Kami sudah beberapa kali menelepon, tapi nggak diangkat. Kami ingin memberitahukan bahwa Bu Scarlett mengalami kecelakaan dan membutuhkan tanda tangan untuk operasi. Mohon segera ke rumah sakit! ]
Rumah Sakit Murni. Kebetulan itu adalah rumah sakit tempatnya berada sekarang.
Devan terdiam dua detik, tak kuasa mengingat ucapan Ryan tadi. Dia ingat, sejak kejadian percobaan bunuh diri Scarlett, Scarlett memang berubah banyak. Dulu Scarlett selalu menelepon berulang kali, tetapi lama-kelamaan menjadi semakin jarang.
Kadang ketika dia pulang malam, Scarlett pun tidak mencarinya. Ini sungguh aneh. Tanpa sadar, Devan menghubungi balik.
....
Scarlett sedang duduk di ranjang rumah sakit. Dia baru saja bertanya pada pengacaranya tentang urusan perceraian. Saat menerima panggilan Devan, dia pun terkejut.
Dia sudah siap bahwa Devan tidak akan menghubunginya sepanjang hari, tetapi ternyata Devan justru meneleponnya.
Padahal setiap kali Vivian kembali ke Kota Nordigo, Devan selalu fokus 24 jam penuh padanya dan tidak pernah memikirkan Scarlett.
Setelah terdiam sejenak, Scarlett mengangkat telepon. Begitu tersambung, Devan sedikit terkejut. Rasanya kesal. Ternyata ini hanya trik Scarlett untuk memancing reaksinya. Dia malah tertipu?
Namun, sekarang sudah terlambat untuk menutup telepon. Devan merendahkan suaranya, bertanya dengan dingin, "Di mana?"
"Di rumah sakit," jawab Scarlett dengan jujur.
Devan terkekeh-kekeh sinis. Suara Scarlett terdengar tenang dan kuat, sama sekali tidak seperti orang yang baru saja mengalami kecelakaan.
"Katanya kamu kecelakaan. Gimana kondisimu?" tanya Devan lagi. Suaranya tetap dingin tanpa emosi, membuat Scarlett termangu sesaat.
Apakah ini bentuk perhatian dari Devan? Padahal sebelumnya, dia tidak pernah peduli pada kondisi Scarlett, apalagi meneleponnya.
Scarlett merasa sedikit tidak nyata. Matanya tiba-tiba perih, dadanya seperti ditimpa oleh batu besar di atasnya. Dia menaruh tangan di perut sambil berpikir, mungkinkah Devan masih peduli padanya?
"Sudah lebih baik, tapi ...." Scarlett ragu, apakah harus memberitahukan soal anaknya.
Di seberang, terdengar suara Devan lagi. "Kalau nggak ada masalah, pulang saja. Vivian kecelakaan. Dokter bilang tubuhnya lemah. Sekarang dia perlu perawatan, jadi kamu pulang saja dan buatkan makanan bergizi untuknya supaya bisa lebih cepat pulih."
Mendengar itu, sedikit kehangatan di hati Scarlett seketika berubah dingin. Perkataan yang dia kira adalah perhatian itu menjadi sangat konyol.
Dulu saat Devan terus mabuk, Scarlett memasak sup selama sebulan untuk merawat tubuh Devan. Dia tidak berharap Devan terharu. Namun, dia tidak menyangka Devan akan menganggap itu wajar, bahkan menyuruhnya melakukan hal itu untuk wanita lain.
Scarlett tersenyum pahit. Bertahun-tahun pernikahan mereka ternyata hanyalah lelucon.
Devan selalu mengawasi Vivian 24 jam. Jika Vivian flu ringan, dia akan selalu menjadi orang pertama yang tahu. Kemudian, dia akan naik penerbangan malam hari demi merawat Vivian. Kini, Scarlett mengalami kecelakaan serius, tetapi Devan menganggapnya hanya masalah sepele.
"Urus saja sendiri," kata Scarlett dengan dingin.
Devan menyahut, "Vivian cukup pemilih, masakan orang lain nggak cocok."
Scarlett tertegun, lalu tertawa. "Devan, aku ini istrimu, bukan pembantumu."
"Maksudmu?" Devan mengerutkan alis.
"Seperti yang kukatakan tadi. Aku nggak akan buatkan makanan bernutrisi apa pun." Ini pertama kalinya Scarlett menolak permintaan Devan.
Devan mengerutkan alis, lalu memahami maksudnya dan mulai tak sabar. "Scarlett, kamu cemburu lagi?"
"Aku ini satu-satunya orang terdekat Vivian di dunia ini. Kalau aku nggak peduli padanya, siapa lagi yang bakal peduli padanya? Lagi pula, jangan lupa, posisimu itu dulunya miliknya. Kalau bukan karena kamu menikah denganku, istriku sekarang seharusnya adalah dia."
Ucapan itu membuat Scarlett merasa sesak. Devan sering mengatakan itu. Setiap kali mendengarnya, Scarlett tidak bisa berkata apa-apa.
Dulu, ayah Devan mengalami gagal ginjal dan membutuhkan donor. Golongan darahnya langka dan hanya ibu Scarlett yang cocok. Ibu Scarlett bersedia mendonorkan ginjalnya, tetapi dengan syarat Scarlett menikah dengan Devan.
Namun, operasi bermasalah dan ibu Scarlett kritis. Sebelum meninggal, di depan media, dia meminta Scarlett menikah dengan Devan.
Saat itu, Devan sedang berpacaran dengan Vivian. Keluarga terus memaksa sehingga akhirnya Scarlett dan Devan bertunangan. Sementara itu, Vivian pergi ke luar negeri karena patah hati.
Kemudian, saat mengurus barang peninggalan ibu Scarlett, keluarga menemukan surat penyakit dan surat wasiatnya. Ternyata ibu Scarlett sejak awal tahu hidupnya tak lama lagi. Tujuannya memang agar Scarlett menikah dengan Devan.
Scarlett menjadi sasaran hinaan. Dia berkali-kali ingin menolak pernikahan ini, tetapi akhirnya menyerah. Jika menolak, kematian ibunya akan sia-sia.
Selama ini, dia selalu menahan diri. Namun, kali ini tak ada lagi yang perlu ditahan. Dia berpikir, jika ibunya melihatnya seperti ini, ibunya pasti juga akan sedih.
"Kalau begitu, aku kembalikan posisi ini kepadanya." Scarlett menggenggam surat perjanjian cerai yang baru ditandatangani, lalu berkata dengan dingin, "Devan, kita cerai saja."