Bab 3

Secara kebetulan, Ferry menyaksikan semua itu dengan mata kepalanya sendiri.

“Vania, kalau sampai terjadi sesuatu pada Anggi, aku nggak akan pernah memaafkanmu seumur hidupku.”

Sejak saat itu, Ferry menjadi makin muak padaku dan bahkan ingin menceraikanku.

Pada saat itu, aku terus mengejar cinta Ferry dan apa pun yang terjadi, menolak untuk bercerai dengan Ferry. Akan tetapi, pernikahanku dengan Ferry tetap saja mengalami krisis dan di ambang kehancuran.

Anggi selalu menjadi duri antara aku dan Ferry, tidak bisa dicabut, juga tidak bisa dihilangkan.

Aku menatap Ferry. Jika Ferry tahu aku sudah meninggal, apakah dia akan merasa senang karena akhirnya bisa menyingkirkanku?

Ponsel Ferry berdering dan Ferry pun menjawabnya.

Ferry tidak menyalakan pengeras di ponselnya. Oleh karena itu, aku tidak tahu siapa yang meneleponnya. Berhubung merasa penasaran, aku pun melayang ke arah Ferry. Apakah itu petugas penyelamat yang menelepon untuk memberitahukan kematianku?

Aku menatap Ferry dengan rasa ingin tahu. Aku bertanya-tanya bagaimana reaksinya saat mengetahui kematianku.

Namun, nama si penelepon adalah namaku. Aku pun menjadi tertegun untuk sesaat.

“Ferry, nggak kusangka demi Anggi, kamu nggak mau menyelamatkanku. Aku ingin cerai denganmu.”

Suara yang keluar dari ponsel, benar-benar suaraku. Wajah Ferry terlihat begitu muram.

“Vania, karena kamu baik-baik saja, kembalilah.”

“Kalau kamu ingin aku kembali, kamu harus mengusir Anggi.”

“Kalau begitu, kamu nggak usah kembali. Lebih baik mati saja di luar sana.”

Setelah berkata seperti itu, amarah Ferry langsung meledak sehingga dia langsung menutup teleponnya. Hatiku terasa begitu sakit ketika mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Ferry.

Aku mati di luar sana seperti yang dia inginkan dan tidak akan pernah kembali.

Aku merasa sangat penasaran dengan siapa yang menelepon barusan. Bagaimanapun, tidak mungkin itu aku.

“Kak, sebaiknya Kakak pergi dan temui Kak Vania dulu. Lagi pula, dia sedang mengandung anak Kakak.”

“Anak? Siapa yang tahu ayah dari anak haram itu?” kata Ferry dengan dingin.

“Meski itu anakku, Vania dan anak itu nggak lebih penting dari seujung kukumu.”

Kenapa orang yang sudah mati masih merasakan sakit hati? Aku memegangi dadaku yang terasa sakit.

Ferry membenciku. Begitu membenciku, hingga sama sekali tidak tergerak ketika ayahku meninggal secara tiba-tiba.

“Kak, bagaimana kalau kamu dan dia bercerai saja. Kamu nggak mencintainya. Aku ingin bersamamu.”

“Anggi, kita ini kakak beradik.”

“Ferry, apa kamu benar-benar menganggapku sebagai adikmu sendiri? Jangan lupa, aku ini bukanlah anak kandung keluarga Ardian.”

“Anggi, bagaimana kamu bisa bersikap seperti ini? Meski kamu dan Ferry bukan saudara kandung, kalian tumbuh besar bersama. Dengan melakukan ini, kalian sama saja dengan membunuhku.” Ibu mertua menatap mereka dengan wajah cemberut.

“Ibu, Ibu menyayangiku sejak aku masih kecil. Siapa pun yang dinikahi kakak, bukankah dia tetap saja menikah? Tapi, kenapa dia nggak bisa menikah denganku? Apa sebenarnya kekuranganku dibanding Vania?”

Bab 4

“Ferry, kamu sudah menikah dengan Vania. Sekarang, kalian juga punya anak sendiri. Berpikirlah dengan jernih.”

“Bawa Vania kembali dan minta maaflah dengan tulus. Ibu yang akan mengurus adikmu di sini. Semua yang dikatakan Anggi, cuma omongan orang yang sedang nggak waras.” Ibu mertualah yang memberikan keputusan terakhir.

“Bagaimanapun, Vania itu istrimu. Dia nggak tahu apa yang sedang terjadi sekarang. Kamu nggak boleh tinggal di sini. Pergi dan suruh Vania kembali.” Ibu mertua menatap mereka berdua dengan raut wajah kesal.

Hatiku terasa dingin tak tertahankan. Ternyata, hanya aku saja yang dibohongi dan tidak tahu apa-apa. Tanpa diduga, hanya aku saja yang tidak mengetahui hubungan hina antara Ferry dan Anggi.

Selain itu, tanpa diduga mereka malah masih berusaha menyembunyikannya dariku. Aku menatap orang-orang yang tampak familier, tetapi sebenarnya asing bagiku ini. Aku merasa begitu muak.

Jika aku tidak mengalami kecelakaan itu, apakah aku akan tertipu seumur hidup?

“Ibu, aku akan minta maaf pada Vania. Tapi, sekarang kesehatan Anggi sangat penting. Vania sudah ditemukan dan dia baik-baik saja. Aku akan menjemputnya, saat kondisi Anggi sudah stabil. Sekarang ini, Vania sudah kembali ke rumah ibunya. Dia juga nggak ingin bertemu denganku.”

“Ferry, sikapmu ini benar-benar buruk. Cepat cari Vania sekarang juga.”

Ibu mertuaku jelas tidak tahu jika aku sudah meninggal. Mereka semua mengira aku masih hidup. Padahal, nyatanya aku sudah mati.

“Ibu, sudah kubilang. Sekarang ini aku mencemaskan Anggi. Kalau Ibu khawatir, aku akan menelepon Vania sekarang. Untuk saat ini, aku benar-benar nggak bisa meninggalkan Anggi.”

Ferry melakukan panggilan video padaku dengan ekspresi tidak sabar di wajahnya.

Selama tujuh tahun menikah, jarang sekali Ferry melakukan panggilan video padaku.

Seingatku, akulah yang selalu meneleponnya atau melakukan panggilan video padanya. Namun, tiap kali Ferry tidak akan menjawabnya atau buru-buru menutup teleponnya.

Aku tidak menyangka setelah aku mati, aku akan melihat Ferry berinisiatif meneleponku.

Ibu mertua mengerutkan kening dan berkata dengan cemas, “Dia sedang hamil. Apa sesuatu terjadi padanya ketika gempa bumi?”

Panggilan itu pun terhubung. Wanita yang muncul di layar memang diriku, setidaknya wajahnya sama persis denganku.

Aku menatap wanita dalam video itu dengan mata terbelalak. Butuh waktu lama bagiku untuk menyadari jika wanita itu bukanlah aku. Wanita ini terlihat sangat mirip denganku, tetapi bukan aku.

“Vania, ibu sangat mengkhawatirkanmu. Membuat ulah juga harus ada batasnya. Cepat kembali. Aku anggap, kamu nggak pernah mengatakan apa-apa.”

Ferry dengan tidak sabar menunjukkan layar ponselnya kepada ibu mertua. Kemudian, dia langsung menutup telepon tanpa menunggu wanita dalam video itu angkat bicara.

“Dia begitu beruntung dalam hidup ini dan nggak terjadi apa-apa padanya. Cuma penyakit lamanya saja yang kambuh. Biarkan saja selama beberapa hari. Nanti dia juga akan sadar sendiri.”

Hatiku terasa begitu sakit dan bergetar saat mendengar kata-kata yang teramat dingin dan hampir tidak manusiawi, yang terucap dari mulut suamiku.

Pria yang berbagi ranjang denganku itu bahkan tidak tahu apakah orang yang ada di layar itu benar-benar diriku atau bukan.

Ferry tanpa malu-malu menunjukkan jika dirinya lebih menyukai Anggi, tetapi enggan menunjukkan sedikit saja kepeduliannya kepadaku.

Meski Anggi hanya mengerutkan kening atau terbatuk-batuk saja, Ferry akan langsung merasa sangat cemas.

Suatu hari, saat hujan deras disertai guntur di malam hari, Anggi menelepon Ferry sambil menangis dan mengatakan jika dia takut. Tanpa ragu, Ferry meninggalkanku meskipun aku sedang demam tinggi dan menemani Anggi semalaman.

Keesokan harinya, demamku agak mereda. Aku sempat bertengkar hebat dengan Ferry. Akan tetapi, Ferry hanya berkata dengan wajah dingin jika aku sengaja mencari masalah tanpa alasan.

Bab 5

Jika sekarang dipikir-pikir, semua itu hanya karena Ferry lebih menyukai Anggi. Berhubung orang yang dicintai Ferry adalah Anggi, maka semua orang dan hal-hal lainnya menjadi tidak penting jika dibandingkan dengan Anggi.

Ibu mertua berusaha sekuat tenaga membujuk Ferry untuk pergi menemuiku. Namun, Ferry tetap saja tidak bergeming. Notifikasi WhatsApp Ferry berbunyi. Ferry meliriknya dan raut wajahnya langsung terlihat marah.

“Jangan bicara lagi, Bu. Vania nggak mau menyesali perbuatannya. Karena aku menyelamatkan Anggi duluan, sekarang dia ingin menceraikanku. Vania juga mengancamku kalau aku nggak mengusir Anggi dari rumah, dia akan menggugurkan bayi dalam perutnya. Benar-benar wanita yang kejam.” Ferry begitu marah hingga wajahnya menjadi merah padam.

Aku merasa agak bingung dan menghampiri Ferry untuk melihat WhatsApp-nya. Ternyata, memang akulah yang mengirimkan pesan itu padanya.

Aku sendiri sudah mati. Aku pun menatap Anggi. Aku curiga semua ini direkayasa dan dimainkan sendiri oleh Anggi. Tidak ada seorang pun yang akan melakukan semua ini, kecuali dirinya.

“Kamu ini, dasar anak pembangkang! Kamu ingin membuatku marah setengah mati? Kalau terjadi apa-apa pada Vania dan bayi dalam kandungannya, kamu akan sangat menyesal sampai nggak punya tempat untuk menangis.”

“Bu, Ibu itu cuma khawatir tanpa alasan. Dia sudah mulai mengancamku. Mana mungkin terjadi sesuatu padanya?”

Aku mencibir di dalam hati. Meski kami ini suami istri, Ferry tidak pernah mengerti dan tidak percaya padaku sedikit saja.

“Ferry, pergilah cari Vania. Ibu selalu merasa gelisah di dalam hati. Vania nggak mungkin bertindak gegabah seperti ini.”

Aku menatap ibu mertua. Aku dan ibu mertua memiliki hubungan yang cukup baik. Setidaknya, dia lebih memahami orang seperti apa aku ini, dibanding suamiku sendiri. Melihat rambutnya yang sudah banyak beruban, aku merasa agak kasihan kepadanya.

Sebenarnya, aku sama sekali tidak ingin tinggal di sini. Aku tidak tahu, kapan jiwaku akan menghilang. Aku ingin pergi menemui ibuku.

Ibu sendirian sejak ayah meninggal. Ibu pasti tidak akan bisa menerima kematianku.

Akan tetapi, aku tidak bisa meninggalkan Ferry.

Pada akhirnya, ibu mertua juga tidak berhasil membujuk Ferry untuk menemuiku.

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B29662" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B29662
Salin

Cinta Kita Sudah Punah

Bab 3
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya