Bab 1

Adik angkat suamiku mengajakku keluar makan, tapi saat makan terjadinya gempa bumi.

Suamiku selaku seorang pemadam kebakaran di waktu pertama datang menolong kami.

Tapi karena kami tertimpa di satu batu, dia hanya bisa menolong seorang dulu, akhirnya dia memilih menolong adik angkatnya yang banyak penyakit itu dan memilih tidak menolongku yang sedang hamil lima bulan.

Aku meminta tolong dia untuk menolongku.

Tapi dia hanya membiarkan batu besar menimpa patah kakiku.

“Anggi sejak kecil banyak penyakit, kalau dia tetap di sini, dia akan mati.”

Tapi setelah aku meninggal, dia malah gila.

Ketika Ferry tiba di lokasi gempa, aku dan Anggi tengah terjebak di bawah sebuah batu besar.

Aku tertindih hingga tidak bisa bergerak. Perutku terasa begitu sakit. Aku tahu, kondisi bayi dalam kandunganku tidak baik.

Aku agak khawatir karena tidak mendengar suara Ferry. Meski kondisiku sendiri juga begitu buruk, aku tetap menghibur Anggi.

“Jangan takut, Anggi. Kakakmu akan segera datang menyelamatkan kita.”

Meskipun pagi tadi aku dan Ferry bertengkar soal Anggi dan kami sedang perang dingin, aku yakin Ferry tetap akan datang karena aku mengandung anaknya.

Ferry pasti berpikir meskipun tidak menyukaiku, setidaknya dia masih menantikan bayi dalam perutku.

Namun, ternyata aku masih saja melebih-lebihkan pentingnya diriku dan bayiku di hati Ferry.

Ketika hanya ada satu orang yang bisa diselamatkan terlebih dahulu antara aku dan Anggi, Ferry berkata dengan suara dingin.

“Aku cuma bisa menyelamatkan Anggi dulu.”

“Apa?” Aku ragu apakah aku sudah salah dengar dan menatap Ferry dengan bingung. Akan tetapi, suara Ferry tetap dingin dan tanpa sedikit pun emosi di sana.

“Vania, kuharap kamu bisa lebih bijaksana. Anggi sudah sakit-sakitan sejak kecil. Kalau aku menyelamatkanmu dulu, mungkin dia akan mati. Aku nggak sanggup melihatnya mati.”

“Menurutlah sedikit. Setelah menyelamatkan Anggi, mereka akan segera menyelamatkanmu.”

Aku berusaha keras menahan diri agar tidak menangis. Namun, tetap saja terdengar isak tangis dalam suaraku.

“Sayang, kamu nggak bisa melakukan ini. Aku bisa menunggu, tapi bayi dalam perutku ini nggak bisa.”

“Nggak bisa.”

“Ferry, jangan lakukan ini. Bayi kita benar-benar bisa mati.” Aku menatap Ferry dengan putus asa dengan kesakitan.

“Vania, kalau bayi dalam perutmu benar-benar tiada, ini juga utangmu pada Anggi. Waktu itu, kamu yang sudah menyebabkan bayi Anggi meninggal. Sekarang, anggaplah ini sebagai balasannya.”

“Kamu tahu betul di dalam hati, apakah anak dalam perutmu itu anakku atau bukan. Aku akan menganggap kalau anak haram itu nggak pernah ada.”

Nada dingin dalam suara Ferry membuatku menggigil. Aku mencoba untuk menjelaskan.

“Bagaimana mungkin anak yang kukandung bukan anakmu? Waktu itu, aku juga nggak ….”

Akan tetapi, sebelum aku sempat menyelesaikan kata-kataku, para penyelamat sudah mulai bekerja. Batu besar itu terbalik sepenuhnya ke arahku dan aku pun benar-benar terkubur dalam kegelapan.

Hatiku menjadi sedingin es. Aku sudah mencintai Ferry selama tujuh tahun. Ditambah bayi dalam perutku, tetap saja tidak sepenting Anggi dalam hati Ferry.

Demi menyelamatkan Anggi, Ferry bahkan tega mengatakan jika anak ini bukanlah anaknya.

Aku pun mati dengan cara seperti itu. Jiwaku melayang di udara, menyaksikan Anggi yang diselamatkan.

Sementara itu, suamiku memeluk Anggi dengan ekspresi gembira, seperti baru mendapatkan kembali sesuatu yang sebelumnya hilang.

Rekan Ferry sepertinya tidak tahan melihatnya dan mengingatkan Ferry dengan suara pelan.

“Kak Ferry, Kak Vania belum ditemukan.”

“Kalau belum ditemukan, teruskan pencarian. Untuk apa mengatakannya padaku?”

Aku merasakan hawa dingin di dalam hatiku, ketika mendengarnya. Aku ini istri dan ibu dari anaknya. Namun, hidup dan matiku tidak berarti baginya.

Seakan-akan, nyawaku sedang tidak terancam dan aku hanya sedang keluar untuk makan.

“Kak, aku sangat takut. Waktu terjadi gempa, aku benar-benar takut aku nggak akan pernah bisa melihatmu lagi. Perutku sakit. Bisakah Kakak mengantarku ke rumah sakit? Aku khawatir terjadi sesuatu pada bayi di dalam perutku.” Wajah Anggi pucat pasi dan dia juga terlihat memelas.

Begitulah, Ferry pun menggendong Anggi dan pergi begitu saja tanpa menoleh ke arahku, yang “hidup dan matinya tidak diketahui”.

Pada saat itulah, tiba-tiba aku merasa beruntung karena aku sudah mati. Jika aku masih hidup, bagaimana aku akan menghadapi semua ini?

Bab 2

Aku mengikutinya sampai ke rumah sakit dan melayang ke ruang perawatan Anggi.

Melihat Anggi yang terbaring menyedihkan di ranjang rumah sakit, aku pun tidak bisa menahan diri untuk tidak memikirkan anakku yang sudah terbentuk, tetapi tidak memiliki kesempatan untuk melihat dunia ini.

Aku menatap Anggi dan Ferry dengan marah. Aku berharap, aku bisa berubah menjadi hantu sekarang juga dan membuat pasangan ini terkubur bersama anakku.

“Kak, apa Kakak menyalahkanku? Kalau bukan karena aku, Kakak bisa memilih untuk menyelamatkan Kak Vania terlebih dulu.”

“Jangan berpikiran macam-macam.” Ferry memeluk Anggi dan menepuk punggungnya untuk menenangkannya. Kemudian, Ferry berkata dengan begitu lembut, “Kondisi fisiknya selalu baik-baik saja. Aku sudah menyuruh orang untuk menyelamatkannya. Dia nggak akan mati meski harus sedikit menderita.”

“Tapi, bagaimanapun dia itu istrimu. Meski dia melakukan kesalahan ....”

“Melakukan kesalahan, harus dihukum.” Kata-kata dingin yang diucapkan Ferry ini membuat hatiku terasa sakit.

Sayang, apa kamu tahu?

Yang kamu sebut hukuman itu sudah merenggut nyawaku dan nyawa anak kita.

Aku dan Ferry bisa dianggap sebagai kekasih masa kecil. Bahkan, kami pernah dijodohkan sewaktu masih kecil. Sementara itu, Anggi datang ke Keluarga Ardian saat dia berusia enam tahun. Ferry memperlakukan Anggi, adik angkatnya ini lebih baik, dibanding adik kandungnya sendiri.

Aku menyukai Ferry sejak kecil. Namun, Ferry selalu bersikap acuh tak acuh kepadaku. Bahkan, dia juga menolakku lebih dari sekali.

Aku pernah curiga apakah dia menyukai Anggi. Akan tetapi, Ferry mengatakan kepadaku jika Anggi hanyalah adik baginya.

Kemudian, Anggi pergi ke luar negeri. Malam itu Ferry mabuk berat. Dia mendorongku ke dinding, lalu menciumku.

Ciuman itu membuatku hilang akal. Aku merasa begitu bahagia, seperti sudah memenangkan lotre.

Keesokan harinya, Ferry menatapku dengan wajah cemberut. Namun, Ferry tetap mengatakan jika dia akan bertanggung jawab padaku.

Seperti itulah, Ferry akhirnya menikahiku. Tanpa lamaran, tanpa foto pernikahan, tanpa bulan madu dan bahkan, juga tanpa pernyataan cinta yang resmi.

Aku tahu, Ferry tidak menyukaiku. Ferry menikahiku hanya karena dia tidur denganku waktu mabuk dan harus bertanggung jawab.

Akan tetapi, aku tidak bisa mengendalikan diri untuk terus jatuh cinta kepadanya. Kupikir setelah kami menikah, suatu hari nanti Ferry akan mencintaiku, sebesar cintaku padanya.

Namun, setelah menikah, sikapnya padaku biasa-biasa saja. Dia tidak memusuhi juga ramah padaku. Bahkan, hubungan intim sekalipun tak ubahnya hanya seperti menyelesaikan tugas. Tiga kali dalam seminggu, tidak lebih dan tidak kurang.

Hingga akhirnya pada tahun kedua pernikahan kami, Anggi kembali ke negara ini dalam keadaan hamil. Akan tetapi, Anggi tidak mau mengatakan siapa ayah dari anaknya tersebut.

Selama masa itu, Ferry akan pulang ke rumah setiap harinya. Bahkan, dia kembali untuk memasak makan malam hanya agar Anggi bisa makan lebih banyak.

Aku tidak bisa mengendalikan diri. Aku cemburu dan bertengkar dengan Ferry. Aku tidak mampu menahan diri. Aku begitu marah, hingga mengatakan sesuatu yang ngawur.

“Kamu begitu peduli padanya. Mereka yang mengenalnya, tahu kalau dia adikmu. Tapi yang nggak tahu, akan mengira kalau dia itu istrimu!”

“Kamu begitu mencemaskannya. Apa anak yang dikandungnya itu anakmu?”

Ferry menamparku pada saat itu. Tamparannya padaku membuat tubuhku serasa hancur.

Aku tidak menyadari jika Anggi ada di pintu. Aku menangis dan ingin kembali ke rumah ibuku.

Anggi menghentikanku.

“Kak Vania, aku nggak tahu kalau aku ini orang yang hina di hatimu. Aku masih punya rasa malu. Nggak mungkin aku tidur dengan kakakku sendiri. Besok, aku akan meninggalkan negara ini.”

Pada saat itu, aku dan Ferry perang dingin selama setengah bulan. Sebenarnya, hanya Ferry sendiri yang mendiamkanku.

Pada akhirnya, Anggi tidak jadi pergi ke luar negeri. Setelah tenang, aku merasa bersalah dan meminta maaf kepada Anggi.

Kemudian, Anggi mungkin menaruh dendam padaku karena kejadian tersebut. Hari itu, Anggi sendiri yang menarik tanganku, lalu mendorong dirinya sendiri menuruni tangga. Akibatnya, anak yang dikandungnya pun tiada.

Bab 3

Secara kebetulan, Ferry menyaksikan semua itu dengan mata kepalanya sendiri.

“Vania, kalau sampai terjadi sesuatu pada Anggi, aku nggak akan pernah memaafkanmu seumur hidupku.”

Sejak saat itu, Ferry menjadi makin muak padaku dan bahkan ingin menceraikanku.

Pada saat itu, aku terus mengejar cinta Ferry dan apa pun yang terjadi, menolak untuk bercerai dengan Ferry. Akan tetapi, pernikahanku dengan Ferry tetap saja mengalami krisis dan di ambang kehancuran.

Anggi selalu menjadi duri antara aku dan Ferry, tidak bisa dicabut, juga tidak bisa dihilangkan.

Aku menatap Ferry. Jika Ferry tahu aku sudah meninggal, apakah dia akan merasa senang karena akhirnya bisa menyingkirkanku?

Ponsel Ferry berdering dan Ferry pun menjawabnya.

Ferry tidak menyalakan pengeras di ponselnya. Oleh karena itu, aku tidak tahu siapa yang meneleponnya. Berhubung merasa penasaran, aku pun melayang ke arah Ferry. Apakah itu petugas penyelamat yang menelepon untuk memberitahukan kematianku?

Aku menatap Ferry dengan rasa ingin tahu. Aku bertanya-tanya bagaimana reaksinya saat mengetahui kematianku.

Namun, nama si penelepon adalah namaku. Aku pun menjadi tertegun untuk sesaat.

“Ferry, nggak kusangka demi Anggi, kamu nggak mau menyelamatkanku. Aku ingin cerai denganmu.”

Suara yang keluar dari ponsel, benar-benar suaraku. Wajah Ferry terlihat begitu muram.

“Vania, karena kamu baik-baik saja, kembalilah.”

“Kalau kamu ingin aku kembali, kamu harus mengusir Anggi.”

“Kalau begitu, kamu nggak usah kembali. Lebih baik mati saja di luar sana.”

Setelah berkata seperti itu, amarah Ferry langsung meledak sehingga dia langsung menutup teleponnya. Hatiku terasa begitu sakit ketika mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Ferry.

Aku mati di luar sana seperti yang dia inginkan dan tidak akan pernah kembali.

Aku merasa sangat penasaran dengan siapa yang menelepon barusan. Bagaimanapun, tidak mungkin itu aku.

“Kak, sebaiknya Kakak pergi dan temui Kak Vania dulu. Lagi pula, dia sedang mengandung anak Kakak.”

“Anak? Siapa yang tahu ayah dari anak haram itu?” kata Ferry dengan dingin.

“Meski itu anakku, Vania dan anak itu nggak lebih penting dari seujung kukumu.”

Kenapa orang yang sudah mati masih merasakan sakit hati? Aku memegangi dadaku yang terasa sakit.

Ferry membenciku. Begitu membenciku, hingga sama sekali tidak tergerak ketika ayahku meninggal secara tiba-tiba.

“Kak, bagaimana kalau kamu dan dia bercerai saja. Kamu nggak mencintainya. Aku ingin bersamamu.”

“Anggi, kita ini kakak beradik.”

“Ferry, apa kamu benar-benar menganggapku sebagai adikmu sendiri? Jangan lupa, aku ini bukanlah anak kandung keluarga Ardian.”

“Anggi, bagaimana kamu bisa bersikap seperti ini? Meski kamu dan Ferry bukan saudara kandung, kalian tumbuh besar bersama. Dengan melakukan ini, kalian sama saja dengan membunuhku.” Ibu mertua menatap mereka dengan wajah cemberut.

“Ibu, Ibu menyayangiku sejak aku masih kecil. Siapa pun yang dinikahi kakak, bukankah dia tetap saja menikah? Tapi, kenapa dia nggak bisa menikah denganku? Apa sebenarnya kekuranganku dibanding Vania?”

Cinta Kita Sudah Punah

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya