Bab 2

Aku mengikutinya sampai ke rumah sakit dan melayang ke ruang perawatan Anggi.

Melihat Anggi yang terbaring menyedihkan di ranjang rumah sakit, aku pun tidak bisa menahan diri untuk tidak memikirkan anakku yang sudah terbentuk, tetapi tidak memiliki kesempatan untuk melihat dunia ini.

Aku menatap Anggi dan Ferry dengan marah. Aku berharap, aku bisa berubah menjadi hantu sekarang juga dan membuat pasangan ini terkubur bersama anakku.

“Kak, apa Kakak menyalahkanku? Kalau bukan karena aku, Kakak bisa memilih untuk menyelamatkan Kak Vania terlebih dulu.”

“Jangan berpikiran macam-macam.” Ferry memeluk Anggi dan menepuk punggungnya untuk menenangkannya. Kemudian, Ferry berkata dengan begitu lembut, “Kondisi fisiknya selalu baik-baik saja. Aku sudah menyuruh orang untuk menyelamatkannya. Dia nggak akan mati meski harus sedikit menderita.”

“Tapi, bagaimanapun dia itu istrimu. Meski dia melakukan kesalahan ....”

“Melakukan kesalahan, harus dihukum.” Kata-kata dingin yang diucapkan Ferry ini membuat hatiku terasa sakit.

Sayang, apa kamu tahu?

Yang kamu sebut hukuman itu sudah merenggut nyawaku dan nyawa anak kita.

Aku dan Ferry bisa dianggap sebagai kekasih masa kecil. Bahkan, kami pernah dijodohkan sewaktu masih kecil. Sementara itu, Anggi datang ke Keluarga Ardian saat dia berusia enam tahun. Ferry memperlakukan Anggi, adik angkatnya ini lebih baik, dibanding adik kandungnya sendiri.

Aku menyukai Ferry sejak kecil. Namun, Ferry selalu bersikap acuh tak acuh kepadaku. Bahkan, dia juga menolakku lebih dari sekali.

Aku pernah curiga apakah dia menyukai Anggi. Akan tetapi, Ferry mengatakan kepadaku jika Anggi hanyalah adik baginya.

Kemudian, Anggi pergi ke luar negeri. Malam itu Ferry mabuk berat. Dia mendorongku ke dinding, lalu menciumku.

Ciuman itu membuatku hilang akal. Aku merasa begitu bahagia, seperti sudah memenangkan lotre.

Keesokan harinya, Ferry menatapku dengan wajah cemberut. Namun, Ferry tetap mengatakan jika dia akan bertanggung jawab padaku.

Seperti itulah, Ferry akhirnya menikahiku. Tanpa lamaran, tanpa foto pernikahan, tanpa bulan madu dan bahkan, juga tanpa pernyataan cinta yang resmi.

Aku tahu, Ferry tidak menyukaiku. Ferry menikahiku hanya karena dia tidur denganku waktu mabuk dan harus bertanggung jawab.

Akan tetapi, aku tidak bisa mengendalikan diri untuk terus jatuh cinta kepadanya. Kupikir setelah kami menikah, suatu hari nanti Ferry akan mencintaiku, sebesar cintaku padanya.

Namun, setelah menikah, sikapnya padaku biasa-biasa saja. Dia tidak memusuhi juga ramah padaku. Bahkan, hubungan intim sekalipun tak ubahnya hanya seperti menyelesaikan tugas. Tiga kali dalam seminggu, tidak lebih dan tidak kurang.

Hingga akhirnya pada tahun kedua pernikahan kami, Anggi kembali ke negara ini dalam keadaan hamil. Akan tetapi, Anggi tidak mau mengatakan siapa ayah dari anaknya tersebut.

Selama masa itu, Ferry akan pulang ke rumah setiap harinya. Bahkan, dia kembali untuk memasak makan malam hanya agar Anggi bisa makan lebih banyak.

Aku tidak bisa mengendalikan diri. Aku cemburu dan bertengkar dengan Ferry. Aku tidak mampu menahan diri. Aku begitu marah, hingga mengatakan sesuatu yang ngawur.

“Kamu begitu peduli padanya. Mereka yang mengenalnya, tahu kalau dia adikmu. Tapi yang nggak tahu, akan mengira kalau dia itu istrimu!”

“Kamu begitu mencemaskannya. Apa anak yang dikandungnya itu anakmu?”

Ferry menamparku pada saat itu. Tamparannya padaku membuat tubuhku serasa hancur.

Aku tidak menyadari jika Anggi ada di pintu. Aku menangis dan ingin kembali ke rumah ibuku.

Anggi menghentikanku.

“Kak Vania, aku nggak tahu kalau aku ini orang yang hina di hatimu. Aku masih punya rasa malu. Nggak mungkin aku tidur dengan kakakku sendiri. Besok, aku akan meninggalkan negara ini.”

Pada saat itu, aku dan Ferry perang dingin selama setengah bulan. Sebenarnya, hanya Ferry sendiri yang mendiamkanku.

Pada akhirnya, Anggi tidak jadi pergi ke luar negeri. Setelah tenang, aku merasa bersalah dan meminta maaf kepada Anggi.

Kemudian, Anggi mungkin menaruh dendam padaku karena kejadian tersebut. Hari itu, Anggi sendiri yang menarik tanganku, lalu mendorong dirinya sendiri menuruni tangga. Akibatnya, anak yang dikandungnya pun tiada.

Bab 3

Secara kebetulan, Ferry menyaksikan semua itu dengan mata kepalanya sendiri.

“Vania, kalau sampai terjadi sesuatu pada Anggi, aku nggak akan pernah memaafkanmu seumur hidupku.”

Sejak saat itu, Ferry menjadi makin muak padaku dan bahkan ingin menceraikanku.

Pada saat itu, aku terus mengejar cinta Ferry dan apa pun yang terjadi, menolak untuk bercerai dengan Ferry. Akan tetapi, pernikahanku dengan Ferry tetap saja mengalami krisis dan di ambang kehancuran.

Anggi selalu menjadi duri antara aku dan Ferry, tidak bisa dicabut, juga tidak bisa dihilangkan.

Aku menatap Ferry. Jika Ferry tahu aku sudah meninggal, apakah dia akan merasa senang karena akhirnya bisa menyingkirkanku?

Ponsel Ferry berdering dan Ferry pun menjawabnya.

Ferry tidak menyalakan pengeras di ponselnya. Oleh karena itu, aku tidak tahu siapa yang meneleponnya. Berhubung merasa penasaran, aku pun melayang ke arah Ferry. Apakah itu petugas penyelamat yang menelepon untuk memberitahukan kematianku?

Aku menatap Ferry dengan rasa ingin tahu. Aku bertanya-tanya bagaimana reaksinya saat mengetahui kematianku.

Namun, nama si penelepon adalah namaku. Aku pun menjadi tertegun untuk sesaat.

“Ferry, nggak kusangka demi Anggi, kamu nggak mau menyelamatkanku. Aku ingin cerai denganmu.”

Suara yang keluar dari ponsel, benar-benar suaraku. Wajah Ferry terlihat begitu muram.

“Vania, karena kamu baik-baik saja, kembalilah.”

“Kalau kamu ingin aku kembali, kamu harus mengusir Anggi.”

“Kalau begitu, kamu nggak usah kembali. Lebih baik mati saja di luar sana.”

Setelah berkata seperti itu, amarah Ferry langsung meledak sehingga dia langsung menutup teleponnya. Hatiku terasa begitu sakit ketika mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Ferry.

Aku mati di luar sana seperti yang dia inginkan dan tidak akan pernah kembali.

Aku merasa sangat penasaran dengan siapa yang menelepon barusan. Bagaimanapun, tidak mungkin itu aku.

“Kak, sebaiknya Kakak pergi dan temui Kak Vania dulu. Lagi pula, dia sedang mengandung anak Kakak.”

“Anak? Siapa yang tahu ayah dari anak haram itu?” kata Ferry dengan dingin.

“Meski itu anakku, Vania dan anak itu nggak lebih penting dari seujung kukumu.”

Kenapa orang yang sudah mati masih merasakan sakit hati? Aku memegangi dadaku yang terasa sakit.

Ferry membenciku. Begitu membenciku, hingga sama sekali tidak tergerak ketika ayahku meninggal secara tiba-tiba.

“Kak, bagaimana kalau kamu dan dia bercerai saja. Kamu nggak mencintainya. Aku ingin bersamamu.”

“Anggi, kita ini kakak beradik.”

“Ferry, apa kamu benar-benar menganggapku sebagai adikmu sendiri? Jangan lupa, aku ini bukanlah anak kandung keluarga Ardian.”

“Anggi, bagaimana kamu bisa bersikap seperti ini? Meski kamu dan Ferry bukan saudara kandung, kalian tumbuh besar bersama. Dengan melakukan ini, kalian sama saja dengan membunuhku.” Ibu mertua menatap mereka dengan wajah cemberut.

“Ibu, Ibu menyayangiku sejak aku masih kecil. Siapa pun yang dinikahi kakak, bukankah dia tetap saja menikah? Tapi, kenapa dia nggak bisa menikah denganku? Apa sebenarnya kekuranganku dibanding Vania?”

Bab 4

“Ferry, kamu sudah menikah dengan Vania. Sekarang, kalian juga punya anak sendiri. Berpikirlah dengan jernih.”

“Bawa Vania kembali dan minta maaflah dengan tulus. Ibu yang akan mengurus adikmu di sini. Semua yang dikatakan Anggi, cuma omongan orang yang sedang nggak waras.” Ibu mertualah yang memberikan keputusan terakhir.

“Bagaimanapun, Vania itu istrimu. Dia nggak tahu apa yang sedang terjadi sekarang. Kamu nggak boleh tinggal di sini. Pergi dan suruh Vania kembali.” Ibu mertua menatap mereka berdua dengan raut wajah kesal.

Hatiku terasa dingin tak tertahankan. Ternyata, hanya aku saja yang dibohongi dan tidak tahu apa-apa. Tanpa diduga, hanya aku saja yang tidak mengetahui hubungan hina antara Ferry dan Anggi.

Selain itu, tanpa diduga mereka malah masih berusaha menyembunyikannya dariku. Aku menatap orang-orang yang tampak familier, tetapi sebenarnya asing bagiku ini. Aku merasa begitu muak.

Jika aku tidak mengalami kecelakaan itu, apakah aku akan tertipu seumur hidup?

“Ibu, aku akan minta maaf pada Vania. Tapi, sekarang kesehatan Anggi sangat penting. Vania sudah ditemukan dan dia baik-baik saja. Aku akan menjemputnya, saat kondisi Anggi sudah stabil. Sekarang ini, Vania sudah kembali ke rumah ibunya. Dia juga nggak ingin bertemu denganku.”

“Ferry, sikapmu ini benar-benar buruk. Cepat cari Vania sekarang juga.”

Ibu mertuaku jelas tidak tahu jika aku sudah meninggal. Mereka semua mengira aku masih hidup. Padahal, nyatanya aku sudah mati.

“Ibu, sudah kubilang. Sekarang ini aku mencemaskan Anggi. Kalau Ibu khawatir, aku akan menelepon Vania sekarang. Untuk saat ini, aku benar-benar nggak bisa meninggalkan Anggi.”

Ferry melakukan panggilan video padaku dengan ekspresi tidak sabar di wajahnya.

Selama tujuh tahun menikah, jarang sekali Ferry melakukan panggilan video padaku.

Seingatku, akulah yang selalu meneleponnya atau melakukan panggilan video padanya. Namun, tiap kali Ferry tidak akan menjawabnya atau buru-buru menutup teleponnya.

Aku tidak menyangka setelah aku mati, aku akan melihat Ferry berinisiatif meneleponku.

Ibu mertua mengerutkan kening dan berkata dengan cemas, “Dia sedang hamil. Apa sesuatu terjadi padanya ketika gempa bumi?”

Panggilan itu pun terhubung. Wanita yang muncul di layar memang diriku, setidaknya wajahnya sama persis denganku.

Aku menatap wanita dalam video itu dengan mata terbelalak. Butuh waktu lama bagiku untuk menyadari jika wanita itu bukanlah aku. Wanita ini terlihat sangat mirip denganku, tetapi bukan aku.

“Vania, ibu sangat mengkhawatirkanmu. Membuat ulah juga harus ada batasnya. Cepat kembali. Aku anggap, kamu nggak pernah mengatakan apa-apa.”

Ferry dengan tidak sabar menunjukkan layar ponselnya kepada ibu mertua. Kemudian, dia langsung menutup telepon tanpa menunggu wanita dalam video itu angkat bicara.

“Dia begitu beruntung dalam hidup ini dan nggak terjadi apa-apa padanya. Cuma penyakit lamanya saja yang kambuh. Biarkan saja selama beberapa hari. Nanti dia juga akan sadar sendiri.”

Hatiku terasa begitu sakit dan bergetar saat mendengar kata-kata yang teramat dingin dan hampir tidak manusiawi, yang terucap dari mulut suamiku.

Pria yang berbagi ranjang denganku itu bahkan tidak tahu apakah orang yang ada di layar itu benar-benar diriku atau bukan.

Ferry tanpa malu-malu menunjukkan jika dirinya lebih menyukai Anggi, tetapi enggan menunjukkan sedikit saja kepeduliannya kepadaku.

Meski Anggi hanya mengerutkan kening atau terbatuk-batuk saja, Ferry akan langsung merasa sangat cemas.

Suatu hari, saat hujan deras disertai guntur di malam hari, Anggi menelepon Ferry sambil menangis dan mengatakan jika dia takut. Tanpa ragu, Ferry meninggalkanku meskipun aku sedang demam tinggi dan menemani Anggi semalaman.

Keesokan harinya, demamku agak mereda. Aku sempat bertengkar hebat dengan Ferry. Akan tetapi, Ferry hanya berkata dengan wajah dingin jika aku sengaja mencari masalah tanpa alasan.

Cinta Kita Sudah Punah

Bab 2
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya