Bab 5

Hari ke-10 masa tenang perceraian, Calista pergi ke kedutaan untuk mengurus visa. Pukul tujuh malam, dia tiba tepat waktu di rumah lama Keluarga Ramosh.

Pesta ulang tahun diselenggarakan dengan sangat megah, tamu-tamunya semua berasal dari keluarga ternama dalam lingkaran elite. Dulu, Keluarga Syahrina juga termasuk di dalamnya.

Ibu Dean, Narcissa, sering berkata, "Banyak sekali gadis di kota ini, tapi hanya Calista yang pantas untuk Dean. Kalau nanti Calista menikah masuk keluarga kita, aku pasti akan memperlakukannya seperti putriku sendiri."

Namun setelah Keluarga Syahrina bangkrut, Narcissa-lah yang melemparkan cek 10 ribu dolar ke wajah Calista di pemakaman ayah Calista. Kemudian, dia memperingatkan Calista untuk mengambil uang itu dan pergi agar tidak merusak masa depan Dean.

Setelah menata emosinya, Calista melangkah masuk ke kediaman lama itu.

Begitu masuk, dia langsung merasakan tatapan aneh dari sekeliling. Tatapan penuh ejekan, meremehkan, dan menunggu drama terjadi.

Di tengah keramaian, Narcissa menggenggam tangan Arcelia sambil menyapa para tamu elite dengan ramah, "Iya, ini Arcelia, pacar Dean. Sudah tiga bulan hamil."

Seseorang sengaja memancing masalah, "Bukannya menantu kalian itu bermarga Syahrina? Kalian nggak takut dia marah melihat kalian terang-terangan begini?"

Narcissa memutar bola matanya, lalu berkata dengan sinis, "Takut apa? Gadis miskin yang hidupnya bergantung pada putraku, apa yang perlu ditakuti?"

"Kalau bukan karena Dean berhati baik dan mau menampungnya, sekarang dia entah sudah mati di mana. Lagian, dia itu mandul. Kalau memang mampu, suruh saja dia melahirkan sendiri."

Calista pernah mengandung anak Dean tiga tahun lalu.

Saat itu, Dean mengajak Calista berkendara untuk melihat laut. Namun, rem mobil mendadak blong dan mereka terlibat tabrakan beruntun. Dalam detik-detik genting, Calista langsung melindungi Dean dengan tubuhnya tanpa berpikir panjang.

Kaca dari jendela mobil menghujani kulitnya. Dia pingsan di tempat. Ketika membuka mata lagi, dia sudah berada di rumah sakit.

Dokter mengatakan bahwa Calista sedang hamil, tetapi telah keguguran dan kemungkinan besar dia tidak akan bisa menjadi seorang ibu lagi untuk selamanya. Mendengar kabar itu, Calista menangis semalaman.

Namun, kepala pelayan kemudian menyampaikan satu hal lagi kepadanya bahwa Dean diselamatkan oleh seorang gadis. Dean sangat berterima kasih dan ingin merekrut gadis itu menjadi asistennya di perusahaan.

Gadis itu adalah Arcelia.

Kilatan ejekan melintas di mata Calista. Dia menjauh dari kerumunan, lalu berlari sendiri ke taman belakang untuk menenangkan diri. Namun, Arcelia tidak melepaskannya begitu saja. Dia diam-diam menyusul dan berdiri di sampingnya.

"Kak Calista, kenapa nggak masuk? Takut melihat Ibu terlalu baik sama aku, terus kamu nangis?" Dia berkedip-kedip manja, takut Calista tidak sadar bahwa dia sedang memprovokasi.

"Lihat, ini gelang yang baru saja diberikan Ibu padaku. Katanya semua nyonya besar Keluarga Ramosh pasti punya. Bagus nggak?"

Arcelia memamerkan gelang giok di pergelangan tangannya dengan penuh kepuasan.

Calista sudah tidak peduli lagi. "Apa sebenarnya yang ingin kamu katakan?"

"Aku hanya ingin bilang bahwa Kak Dean sudah lama nggak suka kamu. Ibu juga muak sama kamu. Jadi untuk apa kamu masih tebal muka mempertahankan posisi Nyonya Ramosh? Lebih baik serahkan saja padaku."

"Kemarin malam Kak Dean juga bilang ingin membuat aku berdiri di sampingnya secara resmi dan nggak akan membiarkan aku atau anak kami diperlakukan nggak adil." Arcelia berkata penuh kemenangan, tetapi Calista justru tersenyum.

"Kalau begitu selamat untukmu."

Baik Keluarga Ramosh maupun Dean sendiri ... Calista sudah tidak menginginkan mereka.

Setelah berkata demikian, Calista berbalik hendak pergi. Namun, entah apa yang dipikirkan Arcelia, dia tiba-tiba menjatuhkan diri ke tanah sambil menjerit, "Tolong! Seseorang, tolong aku! Perutku sakit!"

Ketika Dean berlari masuk ke taman, dia melihat Arcelia memegangi perutnya sambil meringis kesakitan. Tanpa berpikir panjang, Dean mengangkat tangannya dan menampar Calista dengan keras.

"Calista! Kejam sekali kamu! Bahkan wanita hamil pun kamu tega menyakitinya!"

Calista menahan wajahnya, sorot matanya dipenuhi kekecewaan. "Aku nggak melakukannya."

"Aku melihatnya dengan mata kepala sendiri!"

Dean mencengkeram pergelangan tangan Calista begitu kuat hingga hampir mematahkan tulangnya. "Kamu sudah lupa sama pelajaran dulu? Kalau sampai terjadi apa-apa sama Arcelia, aku akan membuat ibumu yang sudah mati itu dikremasi lagi sampai jadi abu!"

"Nggak usah tunggu nanti. Sekarang juga bisa." Suara keras itu berasal dari Narcissa, yang datang bersama beberapa pengawal dengan penuh amarah. Dia langsung memerintahkan mereka menahan Calista.

Arcelia terisak sambil menggeleng, "Bibi, Kak Dean ... sudahlah, Kak Calista juga bukan sengaja. Dia hanya iri karena aku hamil anak Kak Dean. Aku bisa mengerti."

Lalu, dia berbalik dan menjatuhkan diri berlutut di depanku. "Begini saja, Kak Calista boleh memukul aku dua kali lagi. Asal kamu nggak marah, aku akan lakukan apa pun yang kamu minta. Aku hanya mohon ... mohon jangan sakiti bayiku."

Calista hampir tertawa karena marah. "Aku bilang aku nggak mendorongnya. Kalau kalian nggak percaya, taman belakang ada CCTV. Tinggal lihat saja kalian langsung tahu ...."

Wajah Arcelia langsung pucat. Dia menggigit bibirnya, lalu pura-pura pingsan.

Kemarahan Dean pun meledak. Dia menyeret Calista ke tepi kolam renang, mencengkeram rambutnya dan menekan kepalanya ke dalam air.

Satu kali, dua kali ....

Air kolam memenuhi mulut dan hidung Calista dan masuk ke paru-parunya. Rasa perih membuat penglihatannya menggelap, darah terasa mengalir di tenggorokan, dan telinganya berdengung.

Di atas, entah sejak kapan Arcelia sudah "bangun". Dia meringkuk manja dalam pelukan Narcissa, tampak sangat menyedihkan.

Para tamu di sekitar mulai bergosip pelan, "Pak Dean keterlaluan! Ini benar-benar seperti mau membunuh."

"Memang pantas, siapa suruh dia menyakiti orang lain ...."

Setengah jam kemudian, Dean akhirnya melepaskan tangannya. Dia berjalan ke sisi Arcelia dan berkata dengan lembut, "Jangan takut. Aku sudah bela kamu. Perutmu masih sakit nggak? Aku bawa kamu ke rumah sakit."

Lalu, dia mengangkat Arcelia seperti mengangkat pengantin dan pergi tanpa menoleh sedikit pun.

Narcissa memandang Calista dari atas dengan penuh jijik, lalu menendangnya sekali sebelum pergi.

Semua orang pergi meninggalkan tempat itu. Hanya Calista yang tersungkur di pinggir kolam dengan tak berdaya.

Setelah air matanya habis, dia menatap cincin kawinnya dan tiba-tiba tertawa getir. Dia meraih ponsel dan menekan sebuah nomor asing, lalu berkata dengan suara serak, "Dulu kamu bilang bersedia membayar 600 miliar untuk ditukar dengan bukti penggelapan pajak Keluarga Ramosh. Masih berlaku nggak?"

Bab 6

Sejak hari itu, Calista tidak pernah pulang ke rumah lagi. Dia tinggal di hotel selama belasan hari. Selama itu, demi menghukumnya, Dean setiap hari memperbarui media sosialnya dengan postingan tentang Arcelia.

Dia merayakan ulang tahun Arcelia dan hadiah yang dia berikan adalah bros permata yang dulu sangat diinginkan Calista. Dia membawa Arcelia pindah ke rumah dan seprai yang digunakan adalah model yang dulu dipilih Calista sendiri. Dia berjanji akan mengadakan pesta pernikahan untuk Arcelia dan lokasi yang dipilih adalah gereja tempat Dean dan Calista dulu menikah.

Teman-teman dunia elite pun ramai memberi selamat. Mereka berkata Dean dan Arcelia adalah pasangan sempurna. Mereka berkata Dean akhirnya sadar dan sudah seharusnya menendang Calista, si istri tua yang tidak menarik itu. Bahkan ada yang menulis.

[ Kalau mau sekalian, jangan cuma pesta. Cerai saja langsung. Nikahi Arcelia. ]

Komentar itu berada di posisi teratas. Dean tidak membalas.

Keesokan harinya, komentar itu menghilang.

Calista tidak peduli hal-hal kecil itu. Dia sepenuhnya fokus pada transaksi dengan Xeno.

Hari ke-29 masa tenang perceraian.

Calista kembali ke rumah yang dulu dia tinggali bersama Dean. Sesuai dugaan, seluruh rumah sudah berubah menjadi gaya yang disukai Arcelia.

Foto-foto dan pakaian-pakaiannya semua telah digunting dan dirusak. Untungnya, dokumen penting dan surat cerai yang dia sembunyikan di lemari tidak ditemukan.

Setelah mengambil semua dokumen, Calista bersiap untuk pergi. Namun, Arcelia muncul dengan perut hamilnya yang sudah menonjol dan berdiri menghalangi pintu.

"Calista, nggak nyangkan kamu setahan ini ya. Sudah aku permalukan jadi bahan tertawaan seluruh kaum elite, tapi kamu masih saja menempel di Keluarga Ramosh dan nggak mau pergi."

"Yah, wajar juga. Ayahmu lompat bunuh diri, ibumu baru saja mati. Tentu saja kamu harus memegang erat Keluarga Ramosh, 'kan? Siapa lagi di kota ini yang mau perempuan sepertimu?"

Setelah berkata demikian, mata Arcelia tampak berbinar seakan mengingat sesuatu yang lucu. Dia tersenyum polos ke arah Calista, "Kamu tahu kenapa Kak Dean begitu mencintaiku?"

"Karena aku bilang ke dia, waktu kecelakaan mobil itu, kamu meninggalkan dia demi menyelamatkan diri. Kamu kabur duluan. Lalu aku yang menyelamatkan dia dari mobil."

"Aku yang membawanya ke rumah sakit. Sementara kamu terjepit di kursi penumpang, darahmu mengalir ke mana-mana. Aku melihat sendiri kamu keguguran, lho."

"Termasuk ibumu. Aku yang menyuap dokter itu, suruh dia kasih tahu Dean bahwa mencabut alat bantu napas dari pasien koma nggak apa-apa ... supaya kamu bisa menyaksikan ibumu mati tepat di depan matamu."

"Calista, lihat semua yang sudah kulakukan. Mana mungkin kamu bisa mengalahkanku?"

Tas tangan itu jatuh ke lantai dengan suara keras. Calista akhirnya tidak bisa menahan diri. Dia mengangkat tangan dan menampar Arcelia.

Detik berikutnya, bagian belakang lehernya tiba-tiba terasa sakit. Seseorang memukulnya hingga pingsan.

Saat Calista sadar kembali, dia dan Arcelia sudah sama-sama terjebak di dalam mobil ringsek akibat kecelakaan, persis seperti tiga tahun lalu. Bedanya, kali ini yang harus membuat pilihan adalah Dean.

Setelah memeriksa kondisi mobil, petugas penyelamat berkata dengan wajah tegang, "Pak Dean, Bu Calista dan Bu Arcelia sama-sama terjepit di bagian depan mobil yang rusak parah. Waktu sangat mendesak. Kami hanya bisa menyelamatkan satu orang lebih dulu. Siapa yang harus kami selamatkan?"

Dean tidak ragu sedikit pun, "Selamatkan Cali ...."

Belum sempat kata-kata itu selesai, Arcelia memegang perutnya dan berkata dengan lemah, "Kak Dean ... selamatkan Kak Calista saja. Dia sudah bersamamu tujuh tahun. Aku ... aku hanya pernah menyelamatkan nyawamu sekali."

"Kamu pilih dia saja. Aku dan anak ini ... nggak usah dipikirkan."

Dean tertegun sejenak, kata-katanya tertelan kembali. "Selamatkan Arcelia."

Petugas penyelamat mengerutkan kening.

"Pak Dean, Anda yakin? Bu Arcelia hanya terhalang kantong udara. Sementara Bu Calista, seluruh kakinya terjepit. Cedera jauh lebih parah. Kalau salah penanganan, risiko amputasi ...."

"Aku bilang, selamatkan Arcelia."

Suara Dean sedingin es.

"Calista adalah istriku. Walaupun harus amputasi, Keluarga Syahrina bisa menanggung hidupnya seumur hidup. Tapi Arcelia nggak bisa. Dia pernah menyelamatkanku. Aku harus bertanggung jawab."

Petugas itu tidak lagi membujuk dan segera mengambil alat untuk membuka pintu.

Calista hanya bisa menatap mereka, melihat bagaimana Arcelia diselamatkan dengan hati-hati. Sementara di sisi lain, karena tekanan logam, pecahan besi menancap dalam ke pahanya. Rasa sakit yang menusuk tulang menyebar ke seluruh tubuhnya.

Dalam pikirannya yang buram, dia seolah kembali ke tujuh tahun lalu. Saat dia terjatuh, Dean setengah berlutut di hadapannya dan meniup pelan luka di kakinya dengan wajah cemas.

"Calista, kamu mau bikin aku cemas setengah mati, ya?"

Kini, dia terjebak dalam mobil dan darah mengucur tanpa henti.

Yang terakhir kali dilihatnya adalah punggung Dean yang memeluk Arcelia dan membawanya pergi semakin jauh, tanpa menoleh ke arahnya sekali pun.

Bab 7

Calista kembali sadar ketika dia sudah berada di ruang ICU rumah sakit. Dokter memeriksa lukanya, wajahnya penuh rasa syukur.

"Selisih satu milimeter saja, pecahan besi itu sudah akan menusuk arteri utama kamu. Untung kamu masih beruntung dan dibawa ke rumah sakit tepat waktu. Kalau nggak, jangankan kaki, nyawamu pun nggak akan bisa diselamatkan."

Calista berusaha memaksakan senyuman, tetapi pikirannya justru kembali pada suara-suara yang dia dengar saat dirinya setengah sadar.

"Pasien ini kehilangan terlalu banyak darah, kenapa bank darah rumah sakit belum ada kabar?"

"Jangan tanya lagi. Pacar Pak Dean mengaku sakit perut, lalu PAk Dean langsung memerintahkan bank darah rumah sakit ditutup. Semua persediaan darah harus disiapkan untuk pacarnya, katanya sebagai jaga-jaga."

"Ini nggak masuk akal! Kalau bank darah nggak boleh dipakai, terus bagaimana dengan pasien ini?"

"Cuma bisa mengandalkan tubuhnya sendiri."

Jadi Dean ... benar-benar menginginkannya mati?

Mungkin karena rasa sakit sudah sampai batas, bahkan hatinya pun ikut mati rasa. Pada saat ini Calista bahkan tidak bisa meneteskan setitik air mata pun. Dia hanya bersyukur bahwa masa tenang perceraian mereka tinggal beberapa jam terakhir.

Malam itu, Dean datang menjenguknya. Tatapannya tertuju pada paha Calista yang penuh perban dan dia terdiam lama sebelum akhirnya membuka mulut, "Arcelia pernah menyelamatkanku. Aku harus bertanggung jawab padanya."

Calista tidak menjawab. Dia hanya menatap pria yang telah dia cintai dan perjuangkan selama tujuh tahun dengan sangat serius.

Dia ingin bertanya, apakah Dean masih ingat betapa besar cintanya dulu? Ingin bertanya, apakah dia masih ingat bahwa dalam kecelakaan beberapa tahun lalu, Calista juga kehilangan seorang anak demi menyelamatkannya? Ingin bertanya, apakah Dean pernah berpikir ... kalau dirinya benar-benar mati, apa yang akan dilakukan Dean?

Calista memikirkan banyak hal. Namun, ketika kata-kata itu sampai di bibir, yang keluar hanya satu kalimat sederhana, "Aku tahu."

Dia tahu Dean tidak mencintainya. Tahu Dean tidak pernah peduli pada anak yang pernah hilang itu. Tahu bahwa bahkan jika dia mati, Dean tidak akan peduli sedikit pun. Selain itu juga tahu, setelah hari ini, dia dan Dean tidak akan punya hubungan apa pun lagi.

Calista menarik napas panjang, lalu perlahan membuka suara, "Dean, kita cer ...."

Tiba-tiba ponsel Dean berdering. Suara manja Arcelia terdengar dari speaker, "Kak Dean, Tante bawa fotografer ke rumah. Kita mau foto keluarga. Tinggal kamu yang belum datang."

Wajah Dean berubah panik. Dia refleks melihat ke arah ranjang, tetapi hanya melihat Calista sudah memejamkan mata.

'Calista tidak peduli lagi sama aku?'

Sebuah kalimat tiba-tiba muncul di benak Dean. Namun, dia buru-buru menggelengkan kepala.

Tidak mungkin. Calista mencintainya begitu dalam. Lagi pula ... bukankah ibu Calista juga harus bergantung pada Keluarga Ramosh untuk bertahan hidup?

Memikirkan hal itu, tatapan Dean tiba-tiba melunak. "Calista, kamu istirahat yang baik. Setelah kamu keluar dari rumah sakit, aku akan menjemput ibumu secara pribadi."

Pintu kamar tertutup. Calista mengambil ponselnya dan menelepon kepala pelayan.

"Kirimkan tasku yang berisi semua dokumen penting ke rumah sakit."

Lalu, dia mengirim pesan pada Xeno.

[ Jemput aku. ]

Satu jam kemudian, Calista menghapus semua kontak Dean, duduk di kursi roda, dan meninggalkan rumah sakit.

Pada saat yang sama, ketika Dean sedang berpose untuk foto keluarga, sebuah pesan dari pengacaranya muncul di ponselnya.

[ Selamat Pak Dean, hubungan perceraian Anda dengan Bu Calista telah resmi berlaku. ]

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B98240" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B98240
Salin

Cinta Aliansi, Cinta Transaksional

Bab 5
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya