Bab 1
Di lingkungan para konglomerat, ada sebuah aturan tak tertulis, yaitu pasangan yang menikah karena aliansi keluarga boleh saja punya kehidupan masing-masing di luar. Namun, apa pun yang dibelikan untuk selingkuhan, wajib dibelikan juga untuk pasangan sah di rumah.
Dean Ramosh adalah orang yang sangat berprinsip. Jadi bahkan setelah Keluarga Syahrina bangkrut, dia tetap teguh mematuhi aturan itu, bahkan memberikannya seratus kali lipat demi menghargai Calista Syahrina.
Jika kartu selingkuhannya menerima uang saku 200 juta per bulan, kartu Calista harus stabil menerima 20 miliar. Baru saja Dean menghadiahi selingkuhannya perhiasan senilai dua miliar, dia langsung mengirimkan Calista sebuah cincin zamrud antik bernilai 200 miliar.
Para nyonya kalangan elite yang sudah terbiasa melihat laki-laki hidup hedon bersama wanita simpanan, memang menghela napas prihatin melihat drama asmara antara Calista dan Dean yang sempat membuat heboh seantero kota. Namun, mereka tetap saja tak tahan untuk memberi saran bahwa Calista seharusnya belajar untuk merasa bersyukur.
Bersyukur? Tentu saja Calista merasa bersyukur.
Oleh karena itu, di hari ketika Dean terang-terangan memberikan sebuah rumah di pinggiran kota yang nilainya tak seberapa kepada selingkuhannya, Calista juga menerima sertifikat Vila Northcoast No. 1 dari tangan Dean sambil berkata, "Sepertinya aku tiba-tiba merasa agak bosan. Gimana kalau kita bercerai?"
Di lingkungan para konglomerat, ada sebuah aturan tak tertulis, yaitu pasangan yang menikah karena aliansi keluarga boleh saja punya kehidupan masing-masing di luar. Namun, apa pun yang dibelikan untuk selingkuhan, wajib dibelikan juga untuk pasangan sah di rumah.
Dean Ramosh adalah orang yang sangat berprinsip. Jadi bahkan setelah Keluarga Syahrina bangkrut, dia tetap teguh mematuhi aturan itu, bahkan memberikannya seratus kali lipat demi menghargai Calista Syahrina.
Jika kartu Selingkuhannya menerima uang saku 200 juta per bulan, kartu Calista harus stabil menerima 20 miliar. Baru saja Dean menghadiahi Selingkuhannya perhiasan senilai dua miliar, dia langsung mengirimkan Calista sebuah cincin zamrud antik bernilai 200 miliar.
Para nyonya kalangan elite yang sudah terbiasa melihat laki-laki hidup hedon bersama wanita simpanan, memang menghela napas prihatin melihat drama asmara antara Calista dan Dean yang sempat membuat heboh seantero kota. Namun, mereka tetap saja tak tahan untuk memberi saran bahwa Calista seharusnya belajar untuk merasa bersyukur.
Bersyukur? Tentu saja Calista merasa bersyukur.
Oleh karena itu, di hari ketika Dean terang-terangan memberikan sebuah rumah di pinggiran kota yang nilainya tak seberapa kepada Selingkuhannya, Calista juga menerima sertifikat Vila Northcoast No. 1 dari tangan Dean sambil berkata, "Sepertinya aku tiba-tiba merasa agak bosan. Gimana kalau kita bercerai?"
....
Dean sedang memilih hadiah ulang tahun ke-23 untuk Arcelia di atas tabletnya. Mendengar ucapan Calista, dia bahkan tidak mengangkat kepala.
"Rumah yang kuberikan ke Arcelia itu memang nggak mahal. Ditambah biaya agen, totalnya juga nggak sampai 1,4 miliar. Sedangkan Vila Northcoast No. 1 yang ada di tanganmu berada di lokasi terbaik kota ini. Kamu nggak rugi."
"Calista, aku tetap paling sayang sama kamu."
Nada bicaranya santai, tetapi mata Calista hampir memerah.
Dean memang tidak salah. Selama tujuh tahun pernikahan, dia memang paling memanjakan Calista.
Arcelia mendapatkan uang saku 200 juta setiap bulan, sedangkan kartu Calista selalu terisi 20 miliar tanpa pernah terlambat. Baru saja Dean memberikan Arcelia perhiasan senilai dua miliar, dia langsung menyalakan lampu sorotan di balai lelang dan mengirimkan Calista cincin zamrud antik bernilai 200 miliar.
Namun kenyataannya, uang 20 miliar itu berasal dari dana Keluarga Ramosh yang diberikan rutin setiap bulan. Cincin zamrud antik itu juga dibeli tanpa kehadiran Dean. Dia hanya menyuruh kepala pelayan untuk mengurus semuanya.
Sementara terhadap Arcelia ... hanya karena Arcelia berkata lapar dan ingin bubur seafood, Dean langsung turun tangan sendiri ke dapur, bahkan sampai merusakkan dua panci.
Teman-temannya menasihati, "Calista, kamu sekarang punya uang dan status. Dean cuma punya simpanan seorang gadis muda di luar, tapi dia nggak pernah mengabaikanmu. Jangan nggak tahu bersyukur."
"Benar, Calista. Ayahmu sudah meninggal, ibumu jadi vegetatif. Kamu harus merasa beruntung karena Dean masih mau mempertahankan pernikahan denganmu sekarang."
Calista juga ingin merasa bersyukur.
Namun, dia tidak bisa melupakan saat awal bersama Dean, ketika pria itu menyalakan kembang api setengah kota hanya untuknya. Tidak bisa melupakan hari Keluarga Syahrina bangkrut, ketika dia takut membebani Dean dan bersikeras ingin putus. Saat itu, Dean berdiri menunggunya di bawah hujan deras dengan mata memerah.
Dia pernah berkata, "Calista, kamu adalah hidupku. Tanpa kamu, aku nggak bisa hidup."
Sekarang tujuh tahun telah berlalu. Ketika Calista mengajukan perceraian, Dean hanya merespons dengan nada datar, "Ulang tahun Arcelia sebentar lagi. Bertindaklah dewasa sedikit, jangan cari ribut di waktu seperti ini."
Hidungnya terasa panas, tapi Calista mengeluarkan surat cerai yang sudah lama dipersiapkannya dan berusaha terdengar santai, "Tandatangani saja. Kalau kamu tanda tangan, aku nggak akan bikin masalah lagi."
Dia mengira Dean akan marah besar atau mungkin langsung merebut surat cerai itu dari tangannya, merobeknya berkeping-keping, lalu berkata dengan penuh kemarahan, "Calista, jangan bermimpi. Aku nggak akan pernah membiarkan kamu meninggalkanku."
Namun di luar dugaan, Dean hanya meliriknya sekilas, lalu membalik dokumen itu ke halaman terakhir.
Sambil menandatangani, dia berkata, "Ingat apa yang kamu bilang. Setelah aku tanda tangan, kamu nggak boleh mengacau lagi."
Calista mengangguk dan berkata dengan santai, "Ingat. Aku nggak akan mengacau lagi."
Sekarang, antara dia dan Dean hanya tersisa masa tenang selama tiga puluh hari.
Bab 2
Hari pertama setelah penandatanganan surat cerai.
Calista pergi ke rumah sakit. Di perjalanan dia melihat unggahan terbaru Arcelia di media sosial.
Isinya adalah foto sebuah kamar kontrakan. Di sofa berwarna hijau, Arcelia duduk dengan kaki telanjang terjulur di pangkuan Dean, sambil mengangkat dua jari ke arah kamera dengan teks.
[ Ingin juga ikut menjadi bagian dari masa lalumu. ]
Saat Keluarga Syahrina bangkrut, Calista masih berada di semester enam. Ayahnya tidak sanggup menerima kenyataan dan bunuh diri dengan melompat dari gedung. Ibunya didorong oleh penagih utang hingga jatuh dari tangga dan menjadi vegetatif.
Dalam satu malam, seluruh dunia meninggalkannya. Calista hanya membawa beberapa barang yang tersisa dan hidup terlunta-lunta. Di malam ketiga menginap di lorong rumah sakit, Dean yang kala itu bertengkar besar dengan keluarganya, menjual semua barang berharganya, lalu membawa uang 36 juta dan menemukannya.
Dia berkata, "Calista, sekarang aku juga sama sepertimu, nggak punya rumah."
"Calista, bisakah kamu mengasihaniku? Ajak aku berkelana bersamamu?"
Calista tertegun, lalu menangis sesenggukan di pelukan Dean, memakinya sebagai orang paling bodoh sedunia. Dean menghapus air matanya dengan panik, sambil tersenyum.
"Iya, di hadapan Calista, Dean akan selamanya jadi orang paling bodoh."
Dengan uang 16 juta, mereka menyewa kamar seluas 40 meter persegi untuk enam bulan. Dengan 6 juta, mereka mendekorasi tempat itu menjadi sebuah rumah.
Calista yang masih kaku dalam memotong sayur dan memasak, membuatkan Dean mi telur-tomat kesukaannya. Saat itu, Dean merasa kesal dan mengangkat tubuh Calista ke pelukan, lalu memarahinya karena turun dari tempat tidur tanpa memakai alas kaki.
Bahkan lamaran pun terjadi di kamar kecil itu.
Ketika Dean kembali ke identitas aslinya sebagai putra sulung Keluarga Ramosh, dia memutar Calista di ruangan itu dan bersumpah, "Rumah ini selamanya hanya milik Calista."
Sekarang, hanya karena Arcelia mengatakan ingin ikut menjadi bagian dari masa lalunya, Dean langsung melupakan segalanya.
Air mata mengalir di pipi Calista, lalu segera diseka dengan cepat.
Calista menarik napas dalam-dalam, lalu meninggalkan komentar di unggahan Arcelia sambil menekan tombol suka.
[ Barang yang nggak aku inginkan lagi, memang cocok diberikan padamu. ]
Kemudian, dia memperbarui layar. Unggahan itu sudah hilang. Namun, telepon dari Dean masuk dan memarahinya dengan suara tajam, "Calista, kamu ngamuk apaan, sih? Arcelia sampai menangis gara-gara kamu."
"Aku nggak peduli kamu ada di mana sekarang, segera datang dan minta maaf pada Arcelia. Kalau nggak, jangan harap kamu dapat uang biaya pengobatan ibumu."
Mendengar hal itu, Calista tidak bisa menahan diri dan tertawa kecil.
Tujuh tahun lalu, saat dia bersikeras menolak bantuan Keluarga Ramosh dan ingin membayar sendiri biaya medis ibunya, Dean menggenggam tangannya dengan erat dan wajahnya memerah karena marah.
"Calista, dia juga ibuku!"
Namun sekarang, hanya karena Arcelia menangis, Dean langsung bersedia mencabut hak hidup satu-satunya yang tersisa untuk ibu Calista.
Tangan yang memegang ponsel bergetar sedikit. Calista menjawab singkat, "Oke."
"Apa?" Dean mengerutkan kening, mengira dia salah dengar.
Calista menarik napas, suaranya tenang dan tidak merendah, "Biaya pengobatan ibuku bisa aku bayar sendiri."
Selama tujuh tahun menikah dengan Dean, Calista tidak pernah berhenti bekerja. Sekarang dia sudah menjadi desainer yang cukup terkenal di dalam negeri. Tanpa Keluarga Ramosh, dia tetap mampu membayar semua biaya itu.
Di seberang telepon, napas Dean terdengar memburu beberapa kali. Lalu dia tertawa saking marahnya, "Oke. Berani juga kamu!"
Bab 3
Setelah mengakhiri panggilan, Calista tiba di rumah sakit.
Baru saja keluar dari lift, dia melihat dokter penanggung jawab ibunya berlari tergesa-gesa menuju kamar perawatan. Jantungnya mencelos, Calista buru-buru mengejar.
Direktur rumah sakit menahannya dengan wajah penuh kegelisahan, "Bu Calista, Pak Dean baru saja memberi instruksi. Seluruh rumah sakit di bawah nama Grup Ramosh dilarang menangani ibu Anda."
"Kalau dalam satu jam Bu Calista tidak bisa membuat Pak Dean mengubah keputusan, kami harus memindahkan ibu Anda keluar dari rumah sakit."
"Apa?"
Wajah Calista seketika memucat. Dia segera menelepon Dean, tapi tidak diangkat. Mengirim pesan juga tidak dibalas. Akhirnya, Calista hanya bisa tertawa getir dan turun ke lantai dasar, lalu pergi ke rumah kecil tempat Dean tinggal bersama Arcelia.
Sebelum masuk ke dalam, dia sudah mendengar suara tawa dari dalam rumah.
"Kak Dean, apakah cara ini benar-benar berhasil? Kalau Kak Calista membawa Tante ke rumah sakit lain gimana? Kalau begitu, bukankah kamu nggak bisa mengendalikan Kak Calista lagi?" Arcelia berkedip manja dan berkata dengan suara lembut.
Dean menjawab dengan malas, "Dia nggak berani. Seluruh Keluarga Ramosh tahu hal yang paling nggak bisa dia lepaskan adalah si tua bangka itu."
"Kalau bukan karena ibunya ada di tanganku, mana mungkin aku berani sebegitu terang-terangan bersamamu? Dia pasti akan menyerah."
Jadi, ini alasan Dean berubah hati? Karena dia punya kelemahan Calista, jadi dia bisa bertindak semena-mena. Arcelia terkekeh pelan, lalu tiba-tiba ragu dan bertanya, "Kak Dean, tapi bagaimanapun juga itu ibunya Kak Calista. Apa kamu nggak terlalu berlebihan?"
Dean menaikkan alis. Cahaya lampu memantul dingin pada gelang jam logamnya.
"Kalau mengingat bagaimana aku dulu sampai harus berlutut di depan seseorang yang hampir mati, aku merasa jijik setengah mati."
Calista berdiri di depan pintu. Seluruh tubuhnya terasa membeku. Yang disebut Dean sebagai momen berlutut itu terjadi pada hari pernikahan mereka.
Saat itu, semua orang mengatai ibu Calista pembawa sial, bahkan di ambang kematian pun masih dianggap menyusahkan keluarga.
Hanya Dean satu-satunya yang saat itu memaksa masuk, mendorong orang-orang yang mencoba menghalangi, lalu bersikeras menarik Calista menuju rumah sakit. Di depan ranjang tempat ibu Calista terbaring sebagai vegetatif, Dean berlutut.
"Ibu, tenang saja. Aku pasti akan menjaga Calista sebaik mungkin. Aku akan membuatnya jadi wanita paling bahagia di dunia."
"Ibu, bertahanlah. Selama aku masih hidup, aku nggak akan membiarkan Ibu dan Calista diperlakukan tidak adil."
Ternyata masa berlaku sumpah itu hanya tujuh tahun.
Jantung Calista terasa seperti dicabik-cabik. Dia ingin mengatakan sesuatu, tetapi air mata justru jatuh terlebih dahulu. Ternyata begini rupanya rasa sakit yang paling dalam.
Setelah mengusap air matanya, Calista mengangkat tangan dan mendorong pintu masuk.
Sebuah gelas pecah segera menghantam lantai di dekat kakinya. Dean duduk dengan kaki bersilang, memeluk Arcelia sambil tersenyum mengejek. "Bukannya kamu merasa hebat? Mau apa datang ke sini?"
"Kembalikan akses pengobatan ibuku. Aku bisa lakukan apa pun yang kamu mau." Calista menunduk dan terdiam dengan tenang.
Dean terkekeh, suara bass-nya terdengar jelas di seluruh ruangan, "Oke, kalau itu permintaanmu, minta maaf dulu sama Arcelia."
"Baik," jawab Calista tanpa sedikit pun keraguan.
Namun, Arcelia tampil tidak puas. Dia mencemberutkan bibir dan berkata dengan manja, "Kak Calista kelihatannya nggak tulus. Aku mau seperti di drama-drama itu, Kak Calista harus berlutut meminta maaf."
Mata Dean langsung berbinar. "Arcelia benar. Calista, kalau kamu nggak menunjukkan ketulusan, bagaimana aku bisa membantumu? Ayo cepat, berlutut dan minta maaf."
Setelah berkata demikian, dia mengubah posisi duduk, menatap Calista dengan minat dan menunggu reaksinya.
Calista tahu, Dean hanya ingin melihat dirinya panik dan kehilangan kendali. Seperti saat menghadiri pernikahan teman mereka. Padahal sudah diinformasikan jauh sebelumnya bahwa akan ada wawancara media. Namun, Dean tetap mencium Arcelia dengan penuh gairah di depan kamera,
meninggalkan Calista sendirian menghadapi banjiran pertanyaan dari media.
Setelah itu, Dean bahkan berkata dengan tegas, "Arcelia penakut. Dia mudah kaget kalau menghadapi media. Kamu 'kan nggak, kamu sudah terbiasa."
Karena dianggap terbiasa, Calista kehilangan hak untuk menolak. Meski hatinya berdarah, wajahnya tetap harus tampak tenang seolah tidak terjadi apa-apa.
Seperti sekarang, menghadapi tatapan Dean dan Arcelia yang jelas-jelas sedang menonton drama, Calista hanya meletakkan tasnya ke lantai. Lalu, dia berlutut dengan pelan.
Bunyi keras terdengar saat lututnya menghantam pecahan kaca di lantai. Pecahan itu menancap ke dalam kulitnya, darah mengalir membasahi ubin.
Namun, Calista seolah tidak merasakan apa pun. Dia hanya membuka mulut dan berkata lembut, "Maaf, Bu Arcelia."
Dean tertegun. Secara refleks, dia mendorong Arcelia dari pelukannya dan mengulurkan tangan hendak menolong Calista. Namun sebelum dia bisa menyentuh Calista, suara tangis Arcelia terdengar.
"Kak Dean, aku takut darah .... aku pingsan kalau lihat darah ...."
Dean langsung berhenti, lalu mengangkat Arcelia di pinggang dan bergegas membawanya ke rumah sakit. Calista ingin mengejar, tetapi lututnya kehilangan tenaga dan dia jatuh kembali ke lantai. Pecahan kaca menusuk dagingnya semakin dalam.
Namun, dia tetap tidak merasakan sakit. Dia hanya meraih ujung baju Dean dengan putus asa, "Dean, biaya medis ibuku ...."
"Calista!" Dean memotong ucapannya.
"Kenapa kamu egois sekali? Nggak lihat Arcelia hampir pingsan? Kamu masih bisa memikirkan ibumu yang sudah seperti mayat hidup itu."
"Kukasih tahu kamu nih, kalau Arcelia sampai kenapa-kenapa hari ini, kamu dan ibumu sama-sama harus menanggung akibatnya!"
Setelah berkata demikian, Dean menendang Calista hingga terjatuh, lalu pergi terburu-buru. Tinggallah Calista yang menatap punggungnya menjauh dengan pandangan penuh keputusasaan.
"Dean, aku benar-benar sudah salah mencintaimu."
Setelah menenangkan diri beberapa detik, Calista menekan nomor rumah sakit.