Bab 7

Arvin menahan emosinya dengan susah payah dan bertanya, "Renee, kamu masih mau pura-pura di depanku ya?"

"Aku nggak ngerti maksudmu. Kalau nggak ada urusan lain, aku tutup dulu ya."

"Tunggu dulu." Arvin menahannya. "Kamu yakin nggak ada yang ingin kamu bicarakan?"

Renee merasa hari ini Arvin agak aneh dan cerewet. Biasanya dia selalu pelit kata-kata di depannya.

Di layar lift sedang diputar jadwal konser Nissa. Gambar berganti ke cuplikan wawancara Nissa. Dia tersenyum lembut dan berkata bahwa lagu penutup konsernya kali ini adalah lagu anak-anak yang khusus dia tulis untuk si kecil tersayang.

Pewawancara penasaran dan bertanya, siapa si kecil itu? Nissa tersenyum misterius dan menyahut, "Itu anak angkatku."

Renee memalingkan pandangan. Saat melihat ke bawah, ternyata telepon masih tersambung dan di seberang sana Arvin sudah kehilangan kesabaran.

"Renee, jangan pura-pura nggak dengar!"

Renee menarik napas perlahan, suaranya tenang. "Pak Arvin, besok kamu punya waktu?"

Akhirnya mau menyenangkannya? Arvin tidak bisa menahan senyumannya. Nadanya pun dipenuhi kesombongan. "Nggak ada."

"Kalau begitu, nanti pas ada waktu, kabarin saja. Kita urus surat cerainya."

"Kamu barusan bilang apa?"

"Aku bilang, nanti pas kamu sempat, kita urus surat cerainya."

Selesai berbicara, Renee langsung menutup telepon tanpa ragu.

Arvin tidak bisa berkata-kata. Sementara itu, Renee benar-benar polos seperti selembar kertas putih. Dia berpikir selama dirinya cukup tegas, pernikahan ini pasti bisa diakhiri.

Namun, tak lama kemudian dia menerima telepon dari ibunya. Tanpa sapaan, tanpa perhatian, hanya teguran tajam dari awal. "Kudengar kamu kabur dari rumah ya?"

"Renee, kamu itu nggak tahu diri ya? Bisa menjadi menantu Keluarga Suryana itu berkah delapan turunan! Bukannya disyukuri, malah buat drama. Kamu ...."

"Ibu!" sela Renee. "Setidaknya tanya dulu kenapa aku sampai begini, 'kan?"

"Apanya yang perlu ditanya? Gara-gara si Nissa, 'kan? Kenapa memangnya kalau Arvin pelihara dia di luar? Memangnya itu ngaruh sama nasibmu di Keluarga Suryana yang sudah enak begini?"

"Kamu urusin saja pengobatan telingamu baik-baik dan rawat Arvin yang benar. Kalau kamu takut si perempuan itu bakal rebut Arvin, ya cepat hamil lagi. Kalau sudah punya anak laki-laki dan perempuan, apa lagi yang perlu ditakutkan?"

Ferawati terus mengomel panjang lebar. Renee sudah lebih dulu melepas alat bantu dengarnya.

Dia tidak boleh mendengar, tidak boleh berpikir, tidak boleh membiarkan siapa pun menggoyahkan tekadnya. Kalau tidak, dia akan selamanya terjebak dalam pernikahan tanpa kehangatan ini.

Karena melepas alat bantu dengar, dia tidak mendengar suara mobil dari belakang. Sebuah mobil menabraknya hingga dia terjatuh ke tanah.

Mobil itu berhenti. Seorang pemuda keluar dari kursi pengemudi. "Kamu nggak apa-apa, 'kan?"

Pria itu tinggi, tampan, dengan raut wajah lembut. Renee tak bisa mendengar suaranya, tetapi dari ekspresinya, dia tahu pria itu sedang mengkhawatirkannya.

Dia mengusap lutut yang perih, lalu berkata dengan nada menyesal, "Maaf, aku yang nggak lihat jalan."

"Kamu terluka? Perlu aku antar ke rumah sakit?" Pria itu menatap kakinya.

Renee tak mendengar jelas ucapannya, hanya membalas dengan senyuman sopan.

"Kamu nggak bisa bicara?" tanya pria itu dengan heran.

Renee mengenakan kembali alat bantu dengarnya dengan tenang, lalu berkata, "Maaf, tadi aku nggak dengar kamu bilang apa."

Oh, ternyata dia tidak bisa mendengar suara. Pria itu menatapnya dan rasa iba pun muncul dalam hatinya. Gadis semuda dan secantik ini, ternyata memiliki gangguan pendengaran.

"Nggak apa-apa, cuma ... luka di kakimu itu ...."

"Nggak parah, nggak sakit," sahut Renee dengan santai. Hanya sedikit lecet, sebentar juga sembuh.

"Kalau begitu, biar aku bantu kasih obat ya? Di mobilku ada obat." Pria itu segera berbalik menuju mobil untuk mengambil obat.

Renee tak tega menolak kebaikannya, jadi dia duduk di tangga, membiarkan pria itu mengobatinya.

Kulit kakinya putih dan halus, tetapi terlihat terlalu kurus. Pria itu tak bisa menahan rasa kasihan.

"Aku Nathan Gumarang. Siapa namamu?"

"Aku Renee Witansa."

"Kamu kerja di sekitar sini?"

"Ya, di gedung depan."

"Kebetulan banget, aku kerja di sebelahnya." Nathan menunjuk gedung tertinggi di depan sana dengan dagunya.

Renee menoleh. Gedung itu milik Grup Gumarang. Pria ini juga bermarga Gumarang ....

Nathan Gumarang? Putra kedua Keluarga Gumarang?

Renee refleks menurunkan roknya, menutupi lutut yang lecet. "Terima kasih, Pak Nathan. Aku baik-baik saja."

"Kamu buru-buru banget?"

"Ya ...."

"Boleh tukar kontak? Anggap saja nambah teman."

"Nggak usah, lukaku nggak parah. Terima kasih atas bantuannya."

Tanpa memperhatikan wajah kecewa Nathan, Renee berbalik dan masuk ke gedung di belakangnya.

Di dalam lift, Renee melihat pantulan dirinya yang tampak sedikit berantakan. Pikirannya melayang ke malam ulang tahunnya tiga tahun lalu.

Saat itu, ibunya menegurnya karena terlalu kurus, menyuruhnya makan yang bergizi, lalu memberinya segelas susu. Renee yang tak suka berdebat, menurut dan meminumnya. Tak lama kemudian, tubuhnya terasa panas dan tak nyaman.

Ketika dia bertanya apakah ibunya menaruh sesuatu di dalam susu itu, Ferawati berkata dengan wajah serius, bahwa semua itu demi kebaikan Renee.

Rencana mereka sederhana. Renee akan menikah dengan putra kedua Keluarga Gumarang. Meskipun status Nathan rendah dan seperti "bank darah berjalan" untuk kakaknya, setidaknya dia masih anak Keluarga Gumarang. Dia tidak mungkin kekurangan uang.

Dengan begitu, Keluarga Witansa bisa terselamatkan berkat mahar yang diperoleh.

Saat itu, Renee marah besar dan menolak keras. Namun, karena pengaruh obat, tubuhnya lemah dan tak bisa melawan. Akhirnya, dia tetap dikirim ke kamar Nathan oleh ibu dan adiknya.

Namun keesokan paginya, pria yang tidur di sebelahnya bukan Nathan, melainkan Arvin. Bagaimana bisa terjadi, Renee sendiri tak tahu. Ibunya pun tidak tahu.

Namun, Ferawati justru sangat gembira. Keluarga Suryana jauh lebih berkuasa daripada Keluarga Gumarang. Posisi Arvin di Keluarga Suryana, bahkan di seluruh Kota Haidar, tidak tertandingi oleh siapa pun.

Bagi ibunya, ini benar-benar berkah yang datang dari kesalahan. Hingga kini, insiden itu pun hanya diketahui oleh Renee, ibunya, dan adiknya.

Renee bersyukur Nathan tidak mengenalinya. Kalau tidak, rasanya pasti sangat canggung.

....

Sementara itu, Andre baru sadar kalau Arvin beberapa hari ini luar biasa murung dan emosional. Khususnya hari ini.

Bosnya yang biasanya super efisien dan tajam, hari ini sudah memakinya "idiot" lebih dari sepuluh kali. Kalau saja Arvin bukan laki-laki, Andre mungkin sudah membuatkan segelas air gula untuk menenangkan suasana hatinya.

Setelah satu lagi kata "idiot" keluar dari mulut Arvin, Andre memberanikan diri untuk berkata, "Pak, aku dengar malam ini di Jalan Sungar ada pertunjukan kembang api. Mungkin bisa ajak Bu Renee dan Renji nonton bareng?"

Kalau Renee terus tidak pulang, Andre yakin dirinya akan benar-benar menjadi idiot karena terus dimaki.

Namun, wajah Arvin yang sudah muram langsung menggelap mendengar usul itu. Tatapannya dingin seperti melihat orang bodoh.

"Kamu suruh aku ngalah sama Renee? Ajak dia nonton kembang api?"

"Eh ... bukan begitu maksudku ...."

"Keluar!" Arvin melempar map di tangannya tepat ke wajah Andre.

Bab 8

Renee malam itu berencana lembur, tetapi Michela tiba-tiba menariknya bangkit.

"Ayo, aku ajak kamu jalan-jalan."

"Jalan-jalan ke mana?" Renee tak terlalu berminat.

"Katanya malam ini di tepi sungai ada pertunjukan kembang api. Aku temani kamu nonton."

"Ngaku saja deh, kamu sendiri yang ingin nonton, 'kan?"

"Sama saja! Ayo, jangan banyak alasan."

Renee membereskan barang-barangnya dan menggeleng pasrah. "Aku akhirnya paham kenapa setelah tiga tahun, studio ini masih belum berjaya."

"Eh, jangan begitu dong! Kerja itu cuma buat hiburan, hidup yang penting dinikmatin. Lagian, manusia hidup cuma beberapa puluh tahun, ya harus dijalanin dengan senang dong."

"Ya, ya, kamu benar banget." Renee mengangguk mengiakan.

Sebenarnya dia cukup iri pada Michela. Meskipun kondisi keluarganya biasa saja, dia punya orang tua dan kakak yang sayang padanya, tidak pernah dipaksa melakukan hal yang dia tidak mau. Jika sedang semangat, dia akan kerja. Jika sedang malas, dia tinggal bersantai di rumah. Yang penting uangnya cukup untuk hidup. Selama tidak menikah, kualitas hidupnya tidak akan berubah.

Bagi Renee, hidup yang sesederhana dan sebahagia itu adalah sesuatu yang hanya bisa diimpikan.

Dalam hidupnya hanya ada ayah yang sakit-sakitan, ibu dan adik yang egois serta licik, juga suami dan anak yang tidak mencintainya.

Karena hati penuh tekanan, bahkan kembang api pun terasa hambar di matanya. Michela terus menjelaskan kalau pertunjukan malam ini spektakuler, gabungan kembang api dan drone yang menciptakan formasi megah di langit. Sorak-sorai di sekeliling pun menggema tak henti. Namun, Renee tetap merasa kembang api hanya sekejap. Seindah apa pun, tetap akan hilang.

Hanya saja, demi tidak merusak suasana hati Michela, dia berusaha menampilkan ekspresi kagum dan ikut bersorak.

Ketika pertunjukan mencapai puncak, tiba-tiba terdengar suara kecil dan lembut di belakangnya. "Kembang api ... cantik .... Mama Nissa cantik!"

Suara itu tenggelam di antara teriakan orang banyak, tetapi Renee langsung mengenalinya. Itu suara Renji, anaknya.

Tanpa sadar, dia menoleh. Benar saja, Arvin sedang menggendong Renji, berdiri di antara kerumunan bersama Nissa. Tiga sosok itu tampak seperti keluarga kecil yang sempurna, begitu bahagia, seindah kembang api di langit.

Nissa menggenggam tangan kecil Renji sambil tersenyum lembut. "Ternyata Renji suka sekali kembang api ya? Kamu harus berterima kasih pada Papa, karena Papa yang bawa kita nonton kembang api malam ini."

"Terima kasih, Papa!" Renji mencium pipi Arvin dengan semangat. Arvin tertawa ringan.

Sudah seminggu tidak bertemu, anak kecil itu tampak semakin gemuk. Kelihatannya Nissa memang merawatnya dengan baik.

Renee berdiri empat atau lima baris orang di belakang mereka, cukup jauh sampai mereka tidak menyadari kehadirannya.

Awalnya dia berniat pura-pura tidak melihat, tetapi saat hendak menoleh, tanpa sengaja dia beradu pandang dengan Arvin.

Kembang api di langit meledak terang, menerangi seluruh tepi sungai. Di bawah cahaya itu, tatapan mereka saling bertaut dan semua emosi di mata masing-masing tak bisa lagi disembunyikan.

Arvin dingin seperti biasanya, sementara Renee tampak begitu rapuh dan kacau. Waktu seakan-akan berhenti.

Kembang api terus bermekaran di langit. Renji tertawa bahagia, Nissa juga tersenyum lebar, seolah-olah dunia hanya milik mereka bertiga.

Renee baru tersadar ketika Michela menarik lengannya keras-keras. "Tunggu aku di sini! Aku mau ke sana buat motong tangan perempuan itu!"

Renee mengikuti arah pandangnya, melihat Nissa menggandeng tangan Renji dengan lembut. Mereka begitu akrab layaknya ibu dan anak.

"Jangan gila," kata Renee segera sambil menahan Michela. "Bukannya kamu sendiri yang suruh aku lepasin si berengsek itu dan fokus kerja? Nah, sekarang aku sudah lepas, malah kamu yang nggak bisa lepas?"

Michela terdiam, tak bisa membalas.

"Sudahlah, nonton kembang api saja." Renee membalikkan tubuh temannya, memaksanya tetap di tempat.

Bab 9

Mereka melanjutkan menonton kembang api. Hanya saja, setelah kejadian kecil tadi, Renee semakin kehilangan minat untuk menikmatinya.

Dia teringat pada pertunjukan kembang api di tahun-tahun sebelumnya. Setiap kali, dia pernah memberanikan diri bertanya pada Arvin apakah mereka bisa membawa Renji ke tepi sungai untuk menonton kembang api. Namun, Arvin selalu menolak dengan alasan Renji masih terlalu kecil.

Malam ini, dia justru datang bersama Nissa dan Renji.

Jadi, ternyata bukan karena Renji terlalu kecil, melainkan karena Arvin memang tidak ingin datang bersamanya.

Hatinya yang sudah remuk, kini tenggelam semakin dalam. Tekadnya untuk bercerai pun semakin kuat.

Kembang api berakhir, kerumunan mulai bubar. Renee menggandeng lengan Michela, berjalan ke arah yang berlawanan dari Arvin.

Awalnya dia berpikir bisa menghindari mereka, tak disangka malah berpapasan di pinggir jalan.

Renee tertegun sejenak. Secara refleks, dia menatap ke arah Arvin. Arvin pun sedang menatapnya dan matanya memancarkan ketidaksenangan.

Renee tidak mengerti. Dia yang membawa kekasih barunya menonton kembang api, tetapi malah terlihat tak senang?

Arvin memang selalu sulit ditebak. Renee juga sudah tidak ingin menebak lagi.

"Pak Arvin, kebetulan sekali," sapanya sambil tersenyum tipis.

Arvin mengeratkan pelukannya pada Renji, lalu menatapnya dengan dingin. "Ngambek sampai anak sendiri pun nggak mau diurus lagi ya?"

Renee menatap Renji. Anak kecil itu merasakan tatapan ibunya. Alis mungilnya berkerut, lalu dia spontan bersandar ke pelukan Nissa.

"Nggak mau Mama ... mau Mama Nissa." Wajah mungilnya penuh keseriusan, tanpa sedikit pun rasa takut membuat mamanya sedih.

"Renji, nggak boleh bicara begitu. Mama itu yang paling sayang sama kamu, tahu?" Nissa segera meraih tubuh mungil itu, lalu membujuk dengan lembut, "Renji anak baik, biarkan Mama gendong sebentar ya?"

"Nggak mau Mama ...." Renji justru semakin menempel di pelukan Nissa. Nissa tidak bisa membujuknya lagi, jadi akhirnya hanya menatap Renee sambil tersenyum sopan.

"Bu Renee, jangan salah paham. Mungkin Renji sudah terlalu lama nggak bertemu denganmu."

"Nggak apa-apa." Renee perlahan menarik kembali tangannya yang sempat terulur, lalu berkata dengan nada datar, "Kalau Renji nggak mau sama aku, aku pulang saja dulu."

"Tunggu." Arvin menahan pergelangan tangannya, menatap wajah sampingnya. "Kita pulang bersama."

Pulang bersama? Ke mana? Ke rumah lama Keluarga Suryana? Atau ke rumah mereka yang dulu? Ke mana pun itu, Renee tidak ingin bersamanya lagi.

Dia berusaha menarik tangannya, sedikit demi sedikit, hingga lolos dari genggaman Arvin. "Nggak usah, kamu antar saja Bu Nissa dan Renji pulang."

Setelah berkata begitu, dia berbalik dan pergi.

"Kamu belum puas bikin masalah?" Arvin melangkah cepat hendak menarik lengannya lagi.

"Pak Arvin!" Michela segera berdiri di depannya tanpa basa-basi. "Tolong jaga sikap. Renee sekarang bukan lagi istrimu. Silakan pulang dengan pelacur dan anak kesayanganmu, jangan ganggu dia lagi."

Tatapan Arvin langsung menjadi suram. Nissa yang di sampingnya pun naik pitam.

"Kamu bilang siapa pelacur?"

"Siapa pun yang merebut suami orang." Michela menyapunya dari atas ke bawah dengan tatapan sinis. "Kenapa? Kamu ini guru les yang katanya mulia itu, mau mengakui sendiri?"

"Kamu ...." Nissa nyaris tak bisa menahan diri. Namun, dia segera menekan emosinya, menggigit bibir seolah-olah menahan tangis.

"Kamu salah paham. Aku ini cuma guru privat Renji."

"Oh, guru privat?" Michela menatapnya, lalu melirik Arvin, dan tanpa sopan meludah ke arah mereka berdua. "Cih!"

Wajah Arvin semakin kelam. Dia tidak ingin membuang waktu berdebat dengan Michela.

Suara beratnya terdengar di belakang Renee yang sudah menjauh. "Renee, kamu nggak ngerti bahasa manusia ya? Ikut aku pulang."

CEO Dingin Menolak Diceraikan Istri Tunarungu

Bab 7
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya