Bab 1

Sejak lahir, Renee adalah gadis tuli yang selalu dihina orang lain.

Di usia 20 tahun, ibunya memanfaatkan selembar hasil tes kehamilan untuk memaksa Keluarga Suryana menikahkan putra sulung mereka dengan Renee. Pernikahan itu akhirnya berlangsung selama tiga tahun.

Arvin membencinya sampai ke lubuk hati terdalam, tetapi tidak bisa lari dari takdir untuk menikah dengannya.

Setelah pernikahan, Arvin kerap bermain api dengan berbagai wanita dan selalu mengabaikannya.

Demi mempertahankan citra istri yang baik dan demi anaknya, Renee menahan diri berkali-kali. Sampai suatu hari, cinta sejati Arvin datang mencarinya.

Anak laki-laki yang telah dia lahirkan dengan taruhan nyawa, justru memanggil wanita itu dengan sebutan "Mama".

Saat itulah dia baru sadar, hati Arvin bukan tidak bisa dihangatkan, tetapi sejak awal memang hanya menyala untuk wanita lain.

Renee meninggalkan surat perjanjian cerai, lalu pergi tanpa menoleh lagi.

Namun, Arvin justru datang mencarinya, menahan tubuhnya, dan bertanya dengan suara menekan, "Renee, kamu pikir pernikahan ini permainan anak-anak? Bisa nikah dan cerai sesuka hati?"

"Mau cerai? Boleh saja, tapi setelah kamu melahirkan anak kedua."

Di rumah sakit.

Renee Witansa berdiri di depan layar televisi besar, menggenggam erat hasil pemeriksaan yang baru saja dia dapatkan. Hasilnya menunjukkan ... gangguan pendengarannya bukan hanya tidak membaik sedikit pun, malah menjadi lebih parah dari sebelumnya.

Berbeda dengan dirinya yang terdiam membeku, di layar besar televisi itu, seorang wanita tengah duduk di atas panggung berlampu indah, memainkan piano dengan lembut. Setiap gerakannya memancarkan keanggunan, kecerdasan, dan pesona yang memukau ....

Sementara itu, pria yang duduk di barisan penonton adalah suaminya, Arvin Suryana.

Tiga tahun sudah mereka menikah. Namun, ini pertama kalinya Renee melihat tatapan penuh cinta seperti itu di mata Arvin, yang bukan ditujukan padanya. Hatinya seperti jatuh ke dasar jurang.

Di telinganya, ibunya, Ferawati, terus-menerus memarahi, "Kenapa bisa makin parah? Kamu nggak minum obat tepat waktu ya? Atau nggak menjalani terapi dengan benar?"

"Cinta sejati Arvin sudah terang-terangan muncul di depanmu, tapi kamu masih nggak punya rasa waspada? Kalau kamu terus begini, Keluarga Suryana cepat atau lambat bakal mengusirmu keluar rumah!"

"Kalau kamu bercerai dengan Arvin, gimana nasib Keluarga Witansa? Gimana dengan ayahmu? Kenapa diam saja?" Ferawati mendorong bahu Renee.

Renee hanya bisa berucap dengan kaku, "Maaf, Ibu .... Aku sudah mengecewakan Ibu."

"Aku nggak butuh kata maaf, aku butuh kamu sembuh! Pertahankan posisimu sebagai Nyonya Suryana!"

"Tapi aku sudah berusaha keras ...."

Dia sudah minum obat setiap hari sesuai resep dokter. Dia juga sudah melakukan semua terapi dengan tekun. Namun, pendengarannya tetap tak membaik, malah semakin menurun.

Sementara Arvin semakin kejam dan cinta sejatinya justru semakin bersinar. Apa lagi yang bisa dia lakukan?

Acara di televisi berganti menayangkan wawancara di belakang panggung. Sekelompok wartawan tengah mengelilingi Nissa.

"Bu Nissa, bolehkah kami tahu alasan Anda kembali ke tanah air kali ini?"

Di bawah sorotan lampu kamera, Nissa tersenyum manis. "Untuk seseorang, juga untuk menebus penyesalan hidupku."

Renee dan Ferawati sama-sama tahu siapa orang yang dimaksud. Ferawati marah besar, memaki Nissa habis-habisan sebagai perempuan murahan. Selesai memaki, dia mulai menekan anaknya.

"Wanita nggak tahu malu! Aku harus minta dokter menambah dosis obatmu biar pendengaranmu cepat sembuh!"

Renee ingin bilang semua itu percuma. Karena hati Arvin memang tak pernah untuknya. Bukan hanya karena dia memiliki gangguan pendengaran, tetapi karena sejak awal Arvin memang tidak pernah berniat menikahinya.

Namun, dia tidak mengatakan apa pun.

Renee masih ingat jelas kejadian tiga tahun lalu, ketika dia dan Arvin tertangkap basah oleh wartawan di kamar hotel.

Di tengah suara kamera yang bertubi-tubi, Renee hanya bisa menatap dengan tatapan kosong, panik, dan malu. Dia tidak tahu harus bagaimana.

Arvin bersandar dengan santai di kepala ranjang. Sebatang rokok terselip di jarinya. Dia baru berbicara setelah semua wartawan puas mengambil gambar.

"Kalau kalian begitu tertarik dengan urusan ranjangku dengan tunanganku, perlu aku sekalian tunjukkan di sini? Mau lihat?"

Nada suaranya malas, tetapi tekanannya cukup membuat semua orang terdiam. Para wartawan saling memandang, lalu satu per satu pergi.

Setengah jam kemudian, berita tentang pewaris Keluarga Suryana yang berkencan dengan putri Keluarga Witansa yang memiliki penyakit pendengaran pun tersebar di seluruh situs berita besar.

Saat netizen sibuk mentertawakan selera aneh pewaris Keluarga Suryana, Renee justru diseret oleh Arvin ke kamar mandi. Dia ditarik paksa hingga alat bantu dengarnya terlepas dan disiram air dingin dari pancuran.

Tubuhnya gemetar karena kedinginan. Dia tak bisa mendengar apa yang Arvin katakan, tetapi dari ekspresi jijik pria itu, dia tahu kata-kata yang keluar pasti sangat kejam.

Pada akhirnya, dia pun dipulangkan ke rumah orang tuanya seperti sampah.

Hanya saja, meskipun Arvin begitu membencinya, dia tetap tidak bisa menghindari takdir untuk menikah dengannya.

Keluarga Suryana adalah keluarga terpandang. Mereka menjaga reputasi dengan ketat, tidak akan membiarkan rumor seperti "mempermainkan gadis cacat" mencoreng martabat mereka.

Sebulan kemudian, pernikahan Arvin dan Renee dilangsungkan di depan publik.

Renee tahu semua ini adalah rencana ibunya. Dia merasa semuanya begitu konyol. Dia sempat menolak menikah, tetapi ketika keadaan sudah sampai di titik itu. Bahkan Arvin pun tidak punya pilihan, apalagi dirinya?

Sebuah pernikahan terkutuk pun dimulai.

Selama tiga tahun ini, Renee berusaha keras memainkan perannya sebagai istri. Penuh perhatian, lembut, selalu menempatkan diri, berharap ketulusan hatinya bisa menebus kesalahan Keluarga Witansa terhadap Arvin.

Namun, yang dia dapat hanya satu kalimat dingin dari pria itu. "Aku nggak butuh pembantu."

Meskipun begitu, Renee tetap tidak menyerah.

Setelah keluar dari rumah sakit, dia melewati pasar dan membeli bahan segar seperti biasa, lalu menyiapkan makan malam favorit Arvin.

Menjelang senja, empat hidangan dan satu sup tersaji di meja makan. Namun, Arvin tak kunjung pulang. Renee mengirim pesan menanyakan jam berapa dia akan kembali.

Beberapa saat kemudian, dia hanya menerima balasan empat kata.

[ Malam ini nggak pulang. ]

Dia seharusnya sudah terbiasa, tetapi tetap saja ada rasa kecewa yang menyelinap di hatinya.

Dia makan sendiri, mencuci piring sendiri, lalu mandi dan menelan dua butir obat dosis baru dari dokter. Sebelum tidur, Renee mengirim pesan kepada Rosa, pengasuh di rumah lama.

[ Apa Renji hari ini berperilaku baik? ]

Rosa adalah satu-satunya orang dari Keluarga Suryana yang masih mau berbicara padanya. Setiap kali Renee menanyakan tentang anaknya, Renji akan mengirim video pendek.

Di video itu, Renji yang baru berusia dua tahun tampak begitu lucu, meskipun tubuhnya agak kurus. Melihat tubuh mungil anaknya yang lemah, air mata Renee pun mengalir.

Renji adalah anak yang dia kandung selama sepuluh bulan, tetapi sejak lahir langsung dibawa oleh ibu mertuanya ke rumah lama, dengan alasan seorang perempuan tuli tidak pantas mendidik anak.

Bukan hanya itu, dia bahkan dilarang bertemu anaknya. Setiap kali dia merindukan anaknya hingga hampir gila, dia hanya bisa memohon pada Arvin agar diizinkan mengunjungi rumah lama, sekadar melihat putranya dari jauh.

Jadi, demi anaknya, dia tetap berusaha menyenangkan hati Arvin.

Video itu pendek, tetapi Renee menontonnya berulang-ulang. Sampai akhirnya dia tertidur di sofa sambil memeluk ponsel.

Dalam tidurnya, dia bermimpi berlari di taman bersama Renji. Anak kecil itu tertawa ceria seperti matahari kecil, berlari ke pelukannya sambil berseru manja, "Mama!"

Sebuah adegan sederhana bagi para ibu, tetapi baginya mustahil menjadi nyata. Saat terbangun, pipinya sudah basah oleh air mata.

Renee duduk termangu, sadar bahwa hari sudah pagi. Dari kamar mandi terdengar suara air. Mungkin Arvin sudah pulang.

Arvin tidak suka sarapan di luar, juga tidak suka terlambat ke kantor. Renee pun melihat jam, lalu segera mandi dan bersiap. Kemudian, dia turun ke dapur untuk membuat sarapan.

Arvin sangat pemilih soal makanan, tetapi Renee tahu betul seleranya. Bubur udang sederhana dan bergizi menguarkan aroma harum ke seluruh ruangan.

Waktunya pun pas, tepat pukul 7 pagi. Arvin turun dari lantai dua, mengenakan setelan rapi. Posturnya tegak, wajahnya tampan.

Cahaya pagi menyorot wajah tegasnya, membuatnya tampak berkilau seperti diselimuti emas, juga memancarkan aura seseorang yang berkuasa dan tak bisa dilawan Namun, tatapannya pada Renee sedingin es.

Bab 2

Renee tidak menanyakan ke mana Arvin pergi semalam. Arvin pun tidak memberi tahu apa-apa. Seolah-olah berita utama tentang skandalnya dengan Nissa sama sekali tidak ada hubungannya dengan dirinya yang merupakan menantu sah Keluarga Suryana.

Arvin makan dengan elegan. Sementara Renee merasa makanan di mulutnya hambar. Setelah menelan beberapa suapan dengan susah payah, dia akhirnya berkata, "Pak Arvin, siang ini ada waktu? Kita pergi memilih kue ulang tahun untuk Renji, boleh?"

Renee selalu memanggilnya "Pak Arvin". Itu kebiasaannya sejak awal menikah dan Arvin tidak pernah berusaha mengubahnya.

Arvin tidak mengangkat kepala sedikit pun. "Siang ini aku makan dengan klien. Nggak sempat."

"Kalau sore?" tanya Renee lagi.

Sendok di tangan pria itu terhenti sejenak sebelum akhirnya dia menatap Renee. Mata indahnya tetap sedingin es.

"Kue ulang tahun Renji akan aku suruh orang siapkan. Kamu nggak perlu repot-repot."

"Tapi aku ingin pilih sendiri."

Biasanya Renee sangat penurut, jarang sekali membantah. Namun, kali ini demi ulang tahun anaknya, dia mencoba untuk memperjuangkannya sedikit saja.

Sayangnya, Arvin tidak memberinya kesempatan. Keningnya berkerut.

"Renee, jangan cari masalah."

"Pak Arvin, aku ini ibu Renji."

Tiga tahun menikah, baru kali ini Renee bersikeras pada pendiriannya sendiri. Seperti yang bisa diduga, Arvin menjadi kesal, bahkan selera makannya pun langsung hilang.

Arvin meletakkan sendoknya, mengambil tisu, menyeka sudut bibir, dan berkata dengan datar, "Kalau kamu nggak ada kerjaan, pergilah jalan-jalan atau nonton film. Lakukan apa saja."

Melihat punggung pria itu melangkah pergi, hati Renee terasa seperti diremas. Karena Arvin tidak mau menemaninya, Renee akhirnya pergi sendiri untuk memilih kue ulang tahun Renji.

Dia bukan hanya memilih kue dengan hati-hati, tetapi juga sudah lama menyiapkan hadiah ulang tahun untuk anaknya.

Karena jarang bertemu Renji, Renee tidak tahu apa yang disukai anak itu. Untungnya, Rosa memberitahunya bahwa belakangan ini Renji sedang suka boneka kecil.

Renee lalu menghabiskan waktu sebulan penuh untuk memilih kain yang paling lembut, menjahit sendiri boneka berbulu keriting untuk anaknya. Dia berharap boneka itu bisa menemani Renji tidur setiap malam, menggantikan dirinya.

Sore harinya, Renee membawa kue dan hadiah ke rumah lama Keluarga Suryana. Dari ruang utama, terdengar suara piano yang indah dan lagu ulang tahun yang ceria.

Ketika mendekat, Renee melihat ruang tamu sangat ramai. Nissa duduk di depan piano memainkan lagu ulang tahun, sementara Juwita duduk sambil memeluk Renji di depan kue. Renji pun menepuk tangan mungilnya mengikuti irama.

Arvin duduk di sofa. Wajah dinginnya untuk pertama kali memancarkan senyuman lembut.

Setelah lagu berakhir, Nissa berjongkok di samping Renji dan melambaikan tangan kepada Arvin. "Arvin, cepat sini, kita tiup lilin bersama!"

Renji meniru gerakannya, tertawa ceria sambil melambaikan tangan. "Papa, tiup ... tiup ...."

Arvin tersenyum tipis, lalu bergeser mendekat. Ketiganya meniup lilin di atas kue.

Di bawah cahaya lampu yang hangat, mereka tampak seperti keluarga kecil yang bahagia.

Renee menggenggam erat kue dan boneka di tangannya. Dadanya terasa sesak. Jelas-jelas dia adalah ibu kandung Renji. Seharusnya dia yang berdiri di sana menemani anaknya meniup lilin, bukan Nissa.

Tiba-tiba, seseorang berkata, "Renee datang."

Semua orang di sofa menoleh. Juwita langsung memasang ekspresi dingin dan bertanya dengan galak, "Kamu ke sini buat apa?"

Renee menahan perasaan terhinanya, melangkah masuk sambil menyahut dengan lembut, "Ibu, hari ini ulang tahun Renji. Aku ingin menemaninya."

"Renji sudah ditemani gurunya, kamu nggak perlu datang."

Guru? Renee menatap Arvin dengan bingung. Arvin menatap balik dengan wajah tenang dan sempurna. Di bawah cahaya, wajah itu tampak seperti dewa yang tak tersentuh. Namun, matanya tetap dingin tanpa emosi.

Seandainya dia tidak melihat sendiri bagaimana pria itu tadi tersenyum lembut pada Nissa dan Renji, dia mungkin akan mengira Arvin memang tidak bisa tersenyum.

Pria itu bangkit dan berjalan mendekat. Kalimatnya datar, entah itu adalah pengumuman atau penjelasan. "Nissa menguasai banyak bahasa asing dan juga belajar ilmu pendidikan anak. Kebetulan Renji sedang belajar bicara, jadi Ibu mempekerjakannya sebagai guru bahasa Renji."

Renee tertegun. Kepalanya berdengung. Nissa yang kuliah di bidang musik, belajar ilmu pendidikan anak? Bahkan orang bodoh pun bisa menebak, itu demi bisa masuk ke Keluarga Suryana.

Renee memang pernah takut Nissa akan merebut Arvin, tetapi tidak pernah terpikir kalau jalan masuknya akan melalui anaknya sendiri.

Nissa berjalan ke sisi Arvin, lalu mengulurkan tangan dan tersenyum. "Tenang saja, aku pasti akan menjaga dan mengajar Renji dengan baik."

Renee memandangi tangan yang terulur itu, lalu menatap wajah cantik yang tersenyum lembut di depannya. Wanita ini memang sangat cantik, lebih memesona daripada saat di televisi.

Berdiri di sisi Arvin, keduanya tampak serasi, bagaikan pasangan yang diciptakan untuk bersama.

Renee menggigit bibir dan memandang Arvin dengan tegas. "Boleh aku menolak? Aku juga bisa enam bahasa, aku juga belajar ilmu pendidikan anak. Aku bisa mengajari Renji."

"Apa hakmu untuk menolak?" Juwita tiba-tiba berdiri dari sofa, menatapnya dengan dingin. "Renee, jangan lupa, meskipun kamu hebat, kamu tetap tuli. Aku nggak akan menyerahkan calon pewaris Keluarga Suryana padamu."

Renee tahu sejak awal ibu mertuanya tidak menyukainya. Dia tidak ingin berdebat.

Matanya menatap wajah tampan Arvin penuh harap. Namun, pria itu hanya berkata dengan nada datar, "Tanya saja Renji, apa dia mau sama kamu?"

Renee menoleh ke arah anak kecil itu. Renji bersembunyi di belakang Nissa, hanya kepala mungilnya yang tampak. Dia menatap Renee dengan penasaran.

Renee mengeluarkan boneka keriting dari tasnya, berjongkok sambil tersenyum lembut. "Renji, ini Mama. Lihat, ini hadiah ulang tahun yang Mama buat sendiri untukmu."

Renji memegangi rok Nissa, menggeleng kuat-kuat. "Nggak mau Mama ... maunya Mama Nissa ...."

Mama Nissa .... Ternyata Nissa bukan hanya guru bahasa, tetapi juga ibu angkat anaknya. Hati Renee yang sudah dingin seketika membeku.

Nissa berjongkok sambil memeluk Renji. Suaranya lembut. "Renji, mamamu juga sangat sayang kamu. Nggak boleh bilang nggak mau mama ya? Lihat, ini boneka dari mamamu. Cantik sekali, 'kan?"

Nissa mengambil boneka dari tangan Renee dan menyerahkannya kepada Renji.

Anak kecil itu menatap boneka sebentar, lalu melemparkannya ke lantai. "Nggak mau ... jelek ...."

Kemudian, dia berlari kembali ke sofa, memeluk boneka baru, dan berseru manja, "Mama Nissa ... suka!"

Kata-katanya masih belum terlalu jelas, tetapi Renee mengerti. Renji lebih menyukai boneka dari Nissa.

Melihat itu, Juwita tersenyum sinis. "Renji memang punya selera bagus. Boneka dari mama angkatnya itu barang edisi khusus, lebih layak disimpan."

Wajah Renee pucat pasi.

Nissa menggenggam lembut tangan Renee yang gemetar dan berucap, "Jangan sedih. Anak kecil belum tahu mana yang benar dan salah. Kalau nanti sudah besar, dia pasti akan mengerti arti kata 'Mama'."

Ya ... anak dua tahun mana mungkin tahu mana yang benar atau salah, tetapi mereka belajar dari orang di sekitarnya. Orang-orang di sekitarnya pun jelas sengaja mengajarinya begitu.

Bab 3

"Nyonya, Tuan ... makan malam sudah siap." Seorang pelayan keluar dari dapur dan berbicara dengan hormat.

Juwita bangkit dari sofa. "Ayo makan, Renji pasti sudah lapar."

"Renji mau bawa beruang makan." Renji memeluk boneka beruang yang dibuat secara khusus itu, tertawa riang.

"Baiklah, Bu Guru ajak Renji dan beruang makan bareng ya?" Nissa tersenyum, menggendong Renji, lalu menatap Renee dengan sopan. "Bu Renee, aku bawa Renji makan dulu."

Semua orang menuju ruang makan. Renee menggenggam boneka buatan tangannya, merasa kebingungan. Padahal dia adalah Nyonya Muda Keluarga Suryana, tetapi dia selalu dikucilkan dan diabaikan.

Kue dan boneka di tangannya jatuh ke lantai. Renee melangkah mundur, berniat meninggalkan rumah besar yang tanpa kehangatan itu.

Namun, pergelangan tangannya ditahan oleh Arvin. Dia lantas menatap Arvin. Mata pria itu memancarkan ketegasan. "Makan."

Renee melirik ke arah meja makan. Tempat duduk yang seharusnya miliknya, kini diduduki oleh Nissa. Tanpa suara, dia menarik tangannya dari genggaman Arvin.

"Aku nggak mau ganggu kalian sekeluarga lagi." Usai berbicara, dia berjalan pergi tanpa menoleh.

"Renee!" Arvin mengernyit melihat punggung istrinya. Perempuan ini sekarang sudah berani membantahnya?

"Nggak usah pedulikan dia," ujar Juwita sambil melirik ke arah pintu. "Wanita bodoh dan cacat begitu memang seharusnya nggak dibiarkan masuk ke rumah."

"Benar, Kak," tambah Felicia, adik perempuan Arvin. "Perempuan yang pakai tipu muslihat buat menikah ke keluarga kita cuma nurunin derajat Keluarga Suryana kalau makan bareng kita."

Arvin memang tidak menyukai Renee. Namun, seekor anjing pun tidak pantas dipukul di depan majikannya. Dengan nada dingin, dia membalas, "Terus, aku ini apa? Setiap hari aku makan bareng dia, berarti aku juga menurunkan derajat keluarga?"

"Uh ...." Felicia terdiam, buru-buru mengoreksi. "Kak, hubungan kalian 'kan cuma sementara saja. Setelah kalian cerai nanti ...."

"Diam." Nada suara Arvin menjadi dingin. "Jangan pernah bicara seperti itu di depan Renji lagi."

"Diam ... hihihi ...." Renji menirukan ayahnya sambil tertawa.

....

Di luar, langit sudah gelap. Malam lembap dan dingin. Renee memeluk dirinya sendiri, berjalan sendirian di halaman rumah Keluarga Suryana. Air mata menggenang di pelupuk matanya. Dia menahan diri untuk tidak menangis.

Dia tahu semua ini juga salahnya. Dia tidak pantas menangis. Satu-satunya yang bisa dia lakukan adalah mencari jalan keluar. Namun, di mana jalan keluarnya?

Saat melewati hutan kecil, seberkas cahaya kuning dari lampu mobil menyorot dari belakang. Tak lama kemudian, mobil Rolls-Royce yang dikenalnya berhenti di sisinya.

Jendela terbuka sedikit, memperlihatkan wajah tampan dan dingin Arvin. "Naik."

Renee sudah terbiasa dengan nada perintahnya. Dia bisa saja menolak, tetapi entah kenapa dia akhirnya tetap masuk ke mobil.

Yang mengejutkan, Nissa tidak ada di dalam. Arvin duduk di kursi belakang, tampak tenang dan berwibawa, bersandar dengan santai. Arvin tidak berbicara, hanya menatapnya. Renee lantas menunduk, menghindari tatapannya.

"Kamu marah sampai nggak mau anakmu sendiri?" Pertanyaan retoris itu keluar dari bibir Arvin.

Renee menggigit bibir, menahan emosi, lalu mendongak dan menatapnya. "Pak Arvin, kamu suka Nissa, 'kan?"

Tatapan Arvin menjadi serius. "Kamu mau bilang apa?"

"Kalau kamu suka dia, ceraikan aku dan nikahi dia. Aku setuju."

"Dengan syarat?" Nada suaranya datar, tetapi mengandung kemarahan halus.

"Syaratnya, biarkan aku menemani Renji tumbuh besar. Biar aku yang pilih guru lesnya. Tenang saja, aku nggak akan rebut hak asuhnya darimu."

Renee mengatakannya dengan tenang, tetapi Arvin malah tertawa sinis. "Strategi mundur untuk maju ya? Cerdik juga perhitunganmu."

"Aku nggak bermaksud begitu." Renee buru-buru membantah, suaranya bergetar. "Aku cuma nggak mau Renji tumbuh dalam lingkungan yang membuatnya membenci ibu kandungnya. Dia masih kecil, belum tahu mana yang benar dan salah. Aku cuma ingin dia tahu ibunya nggak bersalah hanya karena tuli."

"Arvin, Renji itu kulahirkan dengan nyawaku." Matanya memerah, suaranya serak.

Dia teringat hari kelahiran Renji. Juwita tahu posisi bayinya sungsang, tetapi tetap memaksa dokter untuk melahirkan normal. Saat dia kehilangan banyak darah, Juwita bahkan berkata, "Selamatkan anaknya saja."

Kalau bukan karena nasibnya bagus, mungkin dia sudah mati di meja operasi. Namun, Arvin tidak tahu itu. Karena ibunya sengaja mengusirnya keluar kota tepat sebelum hari kelahiran. Saat Arvin kembali, semuanya sudah baik-baik saja.

Arvin memang tidak menginginkan anak itu, tetapi begitu melihat Renji, rasa bangga sebagai ayah membuat hatinya melembut. Bahkan dia mentransfer 10 miliar ke rekening Renee sebagai bonus.

Faktanya, setelah pernikahan, senyuman hanya pernah muncul di wajah Arvin saat pertama kali melihat Renji. Selain itu, mereka seperti orang asing.

"Renee, apa aku yang menyuruhmu melahirkan Renji?" Arvin menatapnya dengan dingin.

Renee terdiam. Benar, Renji lahir karena dia sendiri yang bersikeras. Saat tahu dirinya hamil, Arvin langsung menyuruhnya menggugurkan kandungan. Namun, dia memohon dan menangis, hingga akhirnya anak itu lahir.

Suasana di dalam mobil membeku. Tiba-tiba, ponsel Arvin berdering. Dia mengangkatnya. Panggilan video dari Nissa.

"Arvin, Renee nggak apa-apa, 'kan? Sudah kamu jemput?"

"Hmm," gumam Arvin dengan nada datar.

"Syukurlah. Kalau begitu, istirahatlah lebih awal."

"Renji sudah tidur?"

Begitu nama Renji disebut, Nissa langsung tersenyum hangat. "Baru saja tidur. Tadi dia bilang kangen papanya, mau tidur bareng papanya."

Begitu suara Nissa berhenti, terdengar suara lembut Renji. "Mama Nissa ... gendong ...."

"Oke, Mama gendong ya." Nada Nissa lembut, manis, seperti madu yang menetes.

Renee menatap layar ponsel, melihat Nissa memeluk Renji dengan penuh kasih. Pemandangan itu membuat hatinya seperti diremas.

Mobil berhenti di depan vila. Renee turun, berlari ke lantai dua. Sambil bersandar di pintu kamar, dia perlahan terduduk sambil menangis.

Dia hanya ingin memeluk anaknya, hanya ingin bersamanya sebentar saja. Namun, kenapa itu terasa mustahil? Kapan pernikahan ini akan berakhir?

Renee menatap foto pernikahan di dinding. Pria tampan yang dingin, gadis muda yang tampak hati-hati. Itu bukan potret bahagia, melainkan belenggu.

Dia berdiri, meraih bingkai itu, dan menghantamkannya ke lantai. Brak! Bingkai kaca pecah. Di wajah dua orang yang memang tidak cocok itu, muncul retakan.

Arvin yang mendengar suara itu masuk ke kamar. Melihat Renee yang biasanya lembut, kini menghancurkan foto pernikahan, dia sempat tertegun, lalu dengan marah mencengkeram pergelangan tangannya.

"Renee, apa maksudmu ini? Kamu nggak mau tinggal di sini lagi?"

"Arvin, aku mau cerai!" Renee menatapnya dengan air mata mengalir, tetapi kali ini matanya penuh tekad. "Aku sudah muak! Aku nggak mau hidup tanpa harga diri lagi! Aku mau cerai dan aku nggak bercanda soal ini!"

CEO Dingin Menolak Diceraikan Istri Tunarungu

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya