Bab 5
Hari ini hari Minggu. Arvin tidak perlu bekerja. Dia mengemudikan mobil menuju rumah lama Keluarga Suryana untuk menjenguk Renji.
Dari kejauhan saja, sudah terdengar suara tawa Renji dan Nissa yang sedang bermain bersama. Tanpa sadar, langkah Arvin menjadi lebih ringan.
Di kamar anak yang luas itu, Nissa mengenakan setelan santai berwarna krem muda. Dia duduk bersila di atas karpet lembut sambil memegang kartu gambar, mengajari Renji mengenal benda-benda.
Nissa mengajar dengan sabar, sementara Renji belajar dengan gembira.
Arvin sebenarnya tidak suka anak kecil dan juga tidak berencana memiliki anak secepat ini. Dulu ketika tahu Renee hamil, reaksi pertamanya adalah ingin menggugurkan kandungan. Namun, Renee tidak setuju, begitu pula para senior Keluarga Suryana.
Selama masa kehamilan itu, Arvin nyaris tidak memperhatikan janin yang ada di perut Renee. Sampai anak itu lahir ... saat pertama kali dia melihat Renji, wajah mungil dan lembut itu langsung menarik perhatiannya, mengguncang sesuatu di dalam hatinya. Saat itu juga, Arvin benar-benar sadar bahwa dirinya sudah menjadi seorang ayah.
Anak yang wajahnya mirip dengan Renee itu adalah darah dagingnya sendiri.
Anak kecil memang cepat belajar. Dibanding kemarin, hari ini Renji sudah jauh lebih pintar.
Di dalam ruangan itu, suasananya begitu akrab. Bukan seperti guru dan murid, tetapi seperti ibu dan anak.
Tak lama kemudian, Renji pun menyadari kehadirannya. Anak kecil itu tertawa riang dan berlari ke arahnya. "Papa!"
Arvin berjongkok, merentangkan kedua tangannya, menangkap tubuh mungil yang melompat ke arahnya. Wajahnya yang biasanya dingin dan tenang kini tampak lembut dan penuh kasih.
"Renji hari ini jadi anak baik nggak?"
"Baik dong! Renji kangen Papa."
"Papa juga kangen Renji."
Arvin mengangkatnya tinggi-tinggi, membuat bocah itu tertawa semakin keras.
Nissa tersenyum, berjalan mendekat, lalu mengelus lembut kepala mungil Renji. "Kak Arvin, tebak deh, hari ini Renji sudah belajar berapa kata baru?"
"Berapa?" Tatapan Arvin hanya tertuju pada anaknya, penuh rasa bangga.
"Dua puluh kata." Nissa memuji dengan senyuman lembut, "Renji ini pintar sekali, nanti pasti jadi anak paling cerdas di kelas."
"Aku seharusnya berterima kasih karena kamu yang mengajarinya dengan baik." Arvin juga merasa anaknya cerdas. Apa pun yang diajarkan selalu bisa dipelajari dengan cepat.
Nissa menunduk sedikit, wajahnya memerah karena malu. "Arvin, kamu nggak perlu terlalu sopan sama aku. Merawat Renji memang sudah jadi tanggung jawabku. Lagi pula, kamu sibuk banget. Aku cuma bantu sedikit."
Kali ini, Arvin akhirnya mengalihkan pandangan dari anaknya ke wajah Nissa. "Terima kasih, Bu Nissa."
Nissa sempat tertegun, lalu segera tersenyum dan menggeleng. "Kenapa kamu sungkan begitu? Ini juga bagian dari pekerjaanku kok."
Dia terdiam sejenak, lalu menatapnya dengan nada sedikit sendu. "Arvin, kamu panggil aku 'Nissa' saja, jangan terlalu formal seperti tadi. Soalnya kalau kamu begitu, aku jadi teringat pada ...."
Ucapannya terputus di tengah kalimat. Raut wajah Arvin pun meredup. Beberapa saat kemudian, barulah dia menjawab singkat, "Baiklah."
Seperti biasa, suasana hatinya cepat berubah. Arvin tersenyum lagi sambil mencubit pipi Renji dengan gemas. "Renji, nanti sore Papa ajak kamu naik kuda, mau nggak?"
"Naik kuda! Aku mau naik kuda!" Anak kecil itu bersorak gembira.
Nissa tersenyum, mencubit pipinya juga. "Wah, hebatnya! Naik kuda itu bagus lho, bisa bikin Renji lebih berani."
Kemudian, dia menjulurkan tangannya. "Sini, Papa sudah capek. Biar Mama Nissa yang gendong ya?"
"Oke, Mama Nissa gendong ...."
Renji langsung melompat ke pelukannya. Ketika Nissa melangkah maju untuk menangkapnya, jarak mereka menjadi sangat dekat, hingga dia bisa mencium wangi bersih dan segar dari tubuh Arvin. Wajahnya memanas, hatinya melembut.
....
Renee tidak suka merepotkan orang lain. Setelah menumpang di rumah Michela, dia mulai mencari tempat tinggal sendiri. Setelah mencari seharian, dia akhirnya menemukan apartemen yang cocok.
Malam itu saat berbaring di tempat tidur, dia merasa sedikit kesepian, tetapi juga luar biasa tenang. Baru saat itu dia sadar, betapa sesaknya hidup bersama Arvin selama ini.
Takut dia kedinginan, takut dia kelaparan, takut dia marah. Hidupnya selalu berputar di sekeliling pria itu, sampai-sampai dia kehilangan dirinya sendiri.
Semua itu karena cinta. Dia rela melakukannya.
Kalau bukan karena Nissa tiba-tiba kembali ke tanah air, mungkin sampai sekarang dia masih terperangkap di dalam lingkaran itu tanpa bisa keluar.
Begitu memikirkan Nissa, hatinya terasa perih lagi. Dia mengambil ponsel, hendak mengirim pesan kepada Rosa untuk menanyakan keadaan Renji. Namun, tiba-tiba muncul pesan dari Michela.
Michela mengirim sebuah foto.
[ Lihat tuh, anakmu si kecil yang tak tahu diri, bahagia banget, 'kan? ]
Renee membuka foto itu. Di dalamnya tampak Arvin dan Nissa bersama Renji di arena berkuda. Renji duduk di atas punggung kuda yang tinggi. Arvin memegang tali kekang dengan satu tangan, tangan satunya lagi memegang lengan mungil anak itu sambil sabar mengajarinya. Nissa berdiri di sisi lain, tampak menyeka keringat di dahi Arvin dengan sapu tangan.
Hati Renee yang sudah sakit sejak awal kembali terkoyak lebih dalam.
Pesan Michela menyusul lagi.
[ Sekarang nggak ada yang bisa diandalkan selain diri sendiri. ]
[ Apa gunanya pria? Anak pun kadang nggak tahu terima kasih. Nggak ada yang pantas kamu perjuangkan. ]
Benar juga. Apa gunanya pria? Apalagi pria yang tidak mencintainya. Sama halnya dengan anak kandung, ibunya, adiknya .... Adakah yang benar-benar menganggapnya keluarga?
Renee mengusap hidung, membalas pesan dengan emotikon senyuman pahit.
[ Kamu benar, cuma diri sendiri yang paling bisa diandalkan. ]
Karena seharian bermain di arena kuda, malamnya Renji tidur nyenyak sekali. Arvin dengan hati-hati meletakkannya di ranjang kecil. Nissa menemaninya, menutup selimut dengan lembut, menyesuaikan suhu ruangan, lalu berdiri menatap Arvin.
"Arvin, sudah malam, kenapa nggak nginap saja di rumah lama?"
Arvin menarik sedikit kerah kemejanya, jelas terlihat kelelahan. Namun, dia hanya menyahut pelan, "Aku pulang sekarang."
Nissa tampak kecewa, tetapi tidak berani memaksa. "Kalau begitu, hati-hati di jalan ya."
"Hmm."
Saat Arvin menuruni tangga, Juwita yang sedang menonton televisi di ruang tamu memanggilnya. "Dengar-dengar si tuli itu mau cerai sama kamu?"
Langkah Arvin terhenti. Dia menoleh, menatap ibunya dengan tajam. "Ibu, dia punya nama. Panggilan itu bisa ditiru Renji nanti."
"Ah, Renji nggak di sini juga," balas Juwita dengan nada kesal. "Lagi pula, kamu saja berani nikah sama si tuli itu, masa dipanggil begitu saja takut?"
"Itu dua hal yang berbeda. Kalau nggak ada urusan lagi, Ibu istirahatlah." Arvin bersiap pergi.
Namun, Juwita kembali bersuara, "Kapan kamu mau urus perceraian itu? Biar Ibu bisa bantu siapkan."
Arvin menoleh lagi. "Siapkan apa?"
"Tentu saja pernikahanmu dengan Nissa." Juwita melirik ke arah kamar anak di lantai dua. "Kamu lihat sendiri 'kan, Renji nempel banget sama Nissa dan Nissa juga sayang banget sama dia. Mereka seperti ibu dan anak."
Melihat wajah Arvin tanpa ekspresi gembira sedikit pun, Juwita kebingungan. "Kenapa? Bukannya kamu paling benci Renee? Sekarang dia sendiri yang minta cerai, harusnya kamu senang dong."
Benar, seharusnya dia senang. Namun, entah kenapa hatinya terasa berat seperti ada yang menekan di dalam dada.
"Arvin, jangan-jangan kamu mulai suka sama si tuli itu?" tanya Juwita dengan nada curiga.
Bab 6
"Nggak." Arvin langsung menolak tanpa berpikir panjang.
Suka pada si tuli itu? Hal itu mustahil terjadi seumur hidupnya.
Juwita masih ingin berbicara, tetapi sudah disela oleh suara Arvin yang datar, "Cukup, Ibu. Aku memang nggak suka Renee, tapi aku juga nggak pernah berpikir untuk menceraikannya."
"Apa katamu?" Mata Juwita membelalak.
"Arvin, kamu mau hidup seumur hidup sama si tuli itu? Kamu nggak peduli dengan martabat Keluarga Suryana?"
"Bukankah dulu aku menikahi Renee juga demi menjaga martabat keluarga?"
"Tiga tahun lalu, kakekmu yang memaksamu menikahinya. Sekarang kakekmu sudah nggak bisa ikut campur urusan ini. Kamu nggak perlu mengorbankan kebahagiaanmu demi seseorang yang cacat."
Juwita berdiri dan berjalan mendekatinya, menepuk pelan bahunya. "Arvin, kebahagiaan itu harus kamu genggam sendiri. Jangan biarkan rasa bersalah atau tanggung jawab mengekangmu."
Arvin terdiam. Beberapa detik kemudian, dia berkata dengan tenang, "Aku tahu."
Tanpa banyak berbicara lagi, dia melangkah ke luar dan menuju mobil.
Arvin mengemudi kembali ke Vila Panorama. Seperti semalam, vila besar itu tenggelam dalam kegelapan tanpa setitik pun cahaya, tanpa kehangatan, tanpa sosok yang familier.
Sambil melepas kancing kemejanya, dia naik ke lantai atas. Begitu masuk ke kamar utama, pandangannya langsung jatuh pada foto pernikahan yang sudah retak.
Gina ingin membereskan semuanya, tetapi Arvin mencegahnya. Dia ingin menunggu Renee kembali, menunggu wanita itu menempel ulang foto pernikahan itu dan menggantungkannya kembali di dinding, lalu melanjutkan perannya sebagai Nyonya Suryana.
Awalnya Arvin yakin Renee akan pulang malam ini. Namun, ternyata dugaannya salah. Bukan hanya tidak pulang, satu pesan darinya pun tidak ada.
Kemarahan yang sudah menumpuk kini semakin membara. Dengan kesal, dia melempar jaket ke sofa, menyalakan sebatang rokok, mengisap dalam-dalam, lalu mengambil ponsel dan menekan nomor asistennya, Andre.
Telepon segera tersambung. "Pak Arvin, sudah larut malam begini, ada perintah?"
"Istriku ke mana?"
"Hah?" Andre sempat tidak paham. Bosnya menelepon tengah malam hanya untuk menanyakan keberadaan istrinya?
Padahal biasanya Renee itu penurut seperti robot, tidak pernah membuat masalah. Kalaupun membuat Arvin kesal, Arvin biasanya tidak akan benar-benar peduli.
Arvin tampaknya juga menyadari hal itu. Nada suaranya merendah. "Istriku lagi ngambek. Kamu hubungi dia."
"Hah?" Andre kembali kaget. Istri bosnya ngambek? Begitu sadar, dia cepat-cepat meminta maaf. "Maaf, aku hanya terkejut saja. Tenang, Pak. Aku akan segera mencari Bu Renee."
"Nggak perlu." Arvin mengisap rokok lagi, meniupkan asap perlahan. "Kasih tahu dia, kalau dalam tiga hari dia nggak pulang, selamanya jangan kembali."
Andre langsung mengiakan. "Baik, Pak. Aku akan sampaikan besok."
Dia tahu betul bosnya menjaga gengsi. Mana mungkin bosnya akan memanggil istrinya pulang?
....
Renee memang tidak bekerja selama ini, tetapi dia sering membantu Michela membuat desain. Jadi, kembali ke dunia kerja tidak sulit baginya.
Pagi itu, dia mengendarai motor listrik menuju studio. Dari jauh, dia melihat Andre berdiri di depan pintu, sepertinya menunggunya.
"Bu Renee, Pak Arvin menyuruhku menyampaikan pesan."
Selama lima tahun bekerja dengan Arvin, Andre selalu bersikap sopan pada Renee.
"Katakan saja."
"Uh ...." Andre agak canggung, tetapi tetap menyampaikan dengan tepat, "Pak Arvin bilang, kalau dalam tiga hari Ibu nggak pulang, jangan pernah kembali lagi."
Renee sudah menduga tidak akan ada kata manis. Dia diam dua detik, lalu berkata pelan, "Tolong sampaikan pada Pak Arvin, aku sudah tinggalkan surat perjanjian cerai di meja kamar."
"Eh?" Andre melongo. Surat perjanjian cerai? Kali ini yang meninggalkan adalah sang istri?
Renee tidak berbicara lagi. Dia hanya tersenyum sopan, lalu masuk ke studio.
Andre kembali ke Vila Panorama untuk melapor. Dengan hormat, dia mengulang kata-kata Renee dan akhirnya bertanya dengan ragu, "Pak, perlu aku bantu ambil surat perjanjian cerainya?"
Ketika dia mendongak, wajah Arvin sudah sehitam arang. Andre bertanya lagi, "Bapak baik-baik saja?"
"Aku baik-baik saja. Aku nggak buta." Arvin menahan amarahnya. Surat itu jelas-jelas ada di meja, mana mungkin dia tidak lihat? Dia bahkan sudah merobeknya sejak awal.
Melihat Arvin begitu gusar, Andre bertanya dengan hati-hati, "Bukankah seharusnya Bapak senang karena Bu Renee setuju untuk bercerai?"
Ekspresi Arvin semakin kelam. Semua orang mengira dia seharusnya senang. Namun, entah kenapa dia sama sekali tidak merasa begitu.
"Kamu rasa aku harus senang?"
"Eee ...." Menyadari bahwa diceraikan oleh wanita tuli itu memalukan, Andre buru-buru menambahkan, "Aku rasa Bu Renee nggak sungguh-sungguh ingin cerai. Mungkin hanya ingin menggertak Bapak saja. Aku yakin belum sampai tiga hari, dia akan pulang."
Raut wajah Arvin sedikit membaik. Karena memang itu juga yang dia pikirkan.
Namun siapa sangka ... tiga hari berlalu begitu cepat. Wanita yang katanya sedang menggertak itu pun bukan hanya tidak pulang, tetapi bahkan tidak mengirim satu pesan pun.
Awalnya Arvin tidak terlalu ambil pusing. Namun, lama-kelamaan rasa gelisah dan kesal menumpuk.
Pagi-pagi, hanya karena tidak menemukan dasi biru tua kesukaannya, dia menendang tong sampah sampai terbang beberapa meter.
Gina sampai gemetar ketakutan, tetapi tidak berani berbicara. Dengan suara hati-hati, dia berkata, "Tuan, mungkin sebaiknya hubungi Nyonya saja. Biasanya Nyonya yang mengatur lemari dan ruang pakaian."
Arvin ingin menolak. Namun, kata yang hendak dikeluarkan tertelan kembali. Akhirnya, dia berjalan ke depan jendela besar. Satu tangan di saku, satu tangan mengambil ponsel.
Untuk pertama kalinya sejak Renee pergi seminggu lalu, Arvin meneleponnya.
Telepon segera tersambung. Arvin tersenyum puas, merasa wanita ini hanya berpura-pura keras. Pasti setiap hari menunggunya menelepon.
"Bu Renee, permainan tarik-ulurmu lumayan juga. Hati-hati, jangan sampai kebablasan."
Renee sedang memakai sepatu dan hendak keluar. Mendengar suara itu, dia sempat tertegun, lalu melanjutkan aktivitasnya dengan tenang.
"Pak Arvin, pagi-pagi begini meneleponku, ada urusan apa?" Suaranya datar dan tenang.
Hal ini di luar dugaan Arvin. Sudut bibirnya turun lagi. "Aku cuma mau tanya, dasi biru tuaku kamu taruh di mana?"
"Semua dasi sudah kurapikan di kotak dasi. Silakan cari sendiri. Kalau nggak ketemu, bisa minta bantuan Kak Gina."
Renee sudah keluar dari apartemennya. Melihat lift hampir tertutup, dia buru-buru berlari kecil.
"Sebentar." Pintu lift terbuka kembali. Renee masuk dan tersenyum pada orang di dalam. "Terima kasih, Kak."
Bahkan lewat ponsel, Arvin bisa merasakan keceriaan dalam suaranya. Hatinya langsung terasa tak nyaman.
"Renee!" panggil Arvin dengan kesal.
Lift sedang penuh karena jam berangkat kerja. Setelah menemukan tempat, barulah Renee kembali berbicara, "Pak Arvin, ada urusan lain?"
Bab 7
Arvin menahan emosinya dengan susah payah dan bertanya, "Renee, kamu masih mau pura-pura di depanku ya?"
"Aku nggak ngerti maksudmu. Kalau nggak ada urusan lain, aku tutup dulu ya."
"Tunggu dulu." Arvin menahannya. "Kamu yakin nggak ada yang ingin kamu bicarakan?"
Renee merasa hari ini Arvin agak aneh dan cerewet. Biasanya dia selalu pelit kata-kata di depannya.
Di layar lift sedang diputar jadwal konser Nissa. Gambar berganti ke cuplikan wawancara Nissa. Dia tersenyum lembut dan berkata bahwa lagu penutup konsernya kali ini adalah lagu anak-anak yang khusus dia tulis untuk si kecil tersayang.
Pewawancara penasaran dan bertanya, siapa si kecil itu? Nissa tersenyum misterius dan menyahut, "Itu anak angkatku."
Renee memalingkan pandangan. Saat melihat ke bawah, ternyata telepon masih tersambung dan di seberang sana Arvin sudah kehilangan kesabaran.
"Renee, jangan pura-pura nggak dengar!"
Renee menarik napas perlahan, suaranya tenang. "Pak Arvin, besok kamu punya waktu?"
Akhirnya mau menyenangkannya? Arvin tidak bisa menahan senyumannya. Nadanya pun dipenuhi kesombongan. "Nggak ada."
"Kalau begitu, nanti pas ada waktu, kabarin saja. Kita urus surat cerainya."
"Kamu barusan bilang apa?"
"Aku bilang, nanti pas kamu sempat, kita urus surat cerainya."
Selesai berbicara, Renee langsung menutup telepon tanpa ragu.
Arvin tidak bisa berkata-kata. Sementara itu, Renee benar-benar polos seperti selembar kertas putih. Dia berpikir selama dirinya cukup tegas, pernikahan ini pasti bisa diakhiri.
Namun, tak lama kemudian dia menerima telepon dari ibunya. Tanpa sapaan, tanpa perhatian, hanya teguran tajam dari awal. "Kudengar kamu kabur dari rumah ya?"
"Renee, kamu itu nggak tahu diri ya? Bisa menjadi menantu Keluarga Suryana itu berkah delapan turunan! Bukannya disyukuri, malah buat drama. Kamu ...."
"Ibu!" sela Renee. "Setidaknya tanya dulu kenapa aku sampai begini, 'kan?"
"Apanya yang perlu ditanya? Gara-gara si Nissa, 'kan? Kenapa memangnya kalau Arvin pelihara dia di luar? Memangnya itu ngaruh sama nasibmu di Keluarga Suryana yang sudah enak begini?"
"Kamu urusin saja pengobatan telingamu baik-baik dan rawat Arvin yang benar. Kalau kamu takut si perempuan itu bakal rebut Arvin, ya cepat hamil lagi. Kalau sudah punya anak laki-laki dan perempuan, apa lagi yang perlu ditakutkan?"
Ferawati terus mengomel panjang lebar. Renee sudah lebih dulu melepas alat bantu dengarnya.
Dia tidak boleh mendengar, tidak boleh berpikir, tidak boleh membiarkan siapa pun menggoyahkan tekadnya. Kalau tidak, dia akan selamanya terjebak dalam pernikahan tanpa kehangatan ini.
Karena melepas alat bantu dengar, dia tidak mendengar suara mobil dari belakang. Sebuah mobil menabraknya hingga dia terjatuh ke tanah.
Mobil itu berhenti. Seorang pemuda keluar dari kursi pengemudi. "Kamu nggak apa-apa, 'kan?"
Pria itu tinggi, tampan, dengan raut wajah lembut. Renee tak bisa mendengar suaranya, tetapi dari ekspresinya, dia tahu pria itu sedang mengkhawatirkannya.
Dia mengusap lutut yang perih, lalu berkata dengan nada menyesal, "Maaf, aku yang nggak lihat jalan."
"Kamu terluka? Perlu aku antar ke rumah sakit?" Pria itu menatap kakinya.
Renee tak mendengar jelas ucapannya, hanya membalas dengan senyuman sopan.
"Kamu nggak bisa bicara?" tanya pria itu dengan heran.
Renee mengenakan kembali alat bantu dengarnya dengan tenang, lalu berkata, "Maaf, tadi aku nggak dengar kamu bilang apa."
Oh, ternyata dia tidak bisa mendengar suara. Pria itu menatapnya dan rasa iba pun muncul dalam hatinya. Gadis semuda dan secantik ini, ternyata memiliki gangguan pendengaran.
"Nggak apa-apa, cuma ... luka di kakimu itu ...."
"Nggak parah, nggak sakit," sahut Renee dengan santai. Hanya sedikit lecet, sebentar juga sembuh.
"Kalau begitu, biar aku bantu kasih obat ya? Di mobilku ada obat." Pria itu segera berbalik menuju mobil untuk mengambil obat.
Renee tak tega menolak kebaikannya, jadi dia duduk di tangga, membiarkan pria itu mengobatinya.
Kulit kakinya putih dan halus, tetapi terlihat terlalu kurus. Pria itu tak bisa menahan rasa kasihan.
"Aku Nathan Gumarang. Siapa namamu?"
"Aku Renee Witansa."
"Kamu kerja di sekitar sini?"
"Ya, di gedung depan."
"Kebetulan banget, aku kerja di sebelahnya." Nathan menunjuk gedung tertinggi di depan sana dengan dagunya.
Renee menoleh. Gedung itu milik Grup Gumarang. Pria ini juga bermarga Gumarang ....
Nathan Gumarang? Putra kedua Keluarga Gumarang?
Renee refleks menurunkan roknya, menutupi lutut yang lecet. "Terima kasih, Pak Nathan. Aku baik-baik saja."
"Kamu buru-buru banget?"
"Ya ...."
"Boleh tukar kontak? Anggap saja nambah teman."
"Nggak usah, lukaku nggak parah. Terima kasih atas bantuannya."
Tanpa memperhatikan wajah kecewa Nathan, Renee berbalik dan masuk ke gedung di belakangnya.
Di dalam lift, Renee melihat pantulan dirinya yang tampak sedikit berantakan. Pikirannya melayang ke malam ulang tahunnya tiga tahun lalu.
Saat itu, ibunya menegurnya karena terlalu kurus, menyuruhnya makan yang bergizi, lalu memberinya segelas susu. Renee yang tak suka berdebat, menurut dan meminumnya. Tak lama kemudian, tubuhnya terasa panas dan tak nyaman.
Ketika dia bertanya apakah ibunya menaruh sesuatu di dalam susu itu, Ferawati berkata dengan wajah serius, bahwa semua itu demi kebaikan Renee.
Rencana mereka sederhana. Renee akan menikah dengan putra kedua Keluarga Gumarang. Meskipun status Nathan rendah dan seperti "bank darah berjalan" untuk kakaknya, setidaknya dia masih anak Keluarga Gumarang. Dia tidak mungkin kekurangan uang.
Dengan begitu, Keluarga Witansa bisa terselamatkan berkat mahar yang diperoleh.
Saat itu, Renee marah besar dan menolak keras. Namun, karena pengaruh obat, tubuhnya lemah dan tak bisa melawan. Akhirnya, dia tetap dikirim ke kamar Nathan oleh ibu dan adiknya.
Namun keesokan paginya, pria yang tidur di sebelahnya bukan Nathan, melainkan Arvin. Bagaimana bisa terjadi, Renee sendiri tak tahu. Ibunya pun tidak tahu.
Namun, Ferawati justru sangat gembira. Keluarga Suryana jauh lebih berkuasa daripada Keluarga Gumarang. Posisi Arvin di Keluarga Suryana, bahkan di seluruh Kota Haidar, tidak tertandingi oleh siapa pun.
Bagi ibunya, ini benar-benar berkah yang datang dari kesalahan. Hingga kini, insiden itu pun hanya diketahui oleh Renee, ibunya, dan adiknya.
Renee bersyukur Nathan tidak mengenalinya. Kalau tidak, rasanya pasti sangat canggung.
....
Sementara itu, Andre baru sadar kalau Arvin beberapa hari ini luar biasa murung dan emosional. Khususnya hari ini.
Bosnya yang biasanya super efisien dan tajam, hari ini sudah memakinya "idiot" lebih dari sepuluh kali. Kalau saja Arvin bukan laki-laki, Andre mungkin sudah membuatkan segelas air gula untuk menenangkan suasana hatinya.
Setelah satu lagi kata "idiot" keluar dari mulut Arvin, Andre memberanikan diri untuk berkata, "Pak, aku dengar malam ini di Jalan Sungar ada pertunjukan kembang api. Mungkin bisa ajak Bu Renee dan Renji nonton bareng?"
Kalau Renee terus tidak pulang, Andre yakin dirinya akan benar-benar menjadi idiot karena terus dimaki.
Namun, wajah Arvin yang sudah muram langsung menggelap mendengar usul itu. Tatapannya dingin seperti melihat orang bodoh.
"Kamu suruh aku ngalah sama Renee? Ajak dia nonton kembang api?"
"Eh ... bukan begitu maksudku ...."
"Keluar!" Arvin melempar map di tangannya tepat ke wajah Andre.