Bab 4
Di bawah cahaya lampu putih yang menyilaukan, wajah tampan Arvin tampak jelas menegang seperti diselimuti es. Jari-jarinya yang panjang berpindah dari pergelangan tangan Renee ke dagunya, menekan sedikit demi sedikit.
"Renee, menurutmu pernikahan ini permainan anak-anak? Mau nikah tinggal nikah, mau cerai tinggal cerai? Atau kamu pikir aku ini boneka yang bisa kamu kendalikan sesuka hati?"
"Yang bilang mau nikah itu kamu, yang bilang mau cerai juga kamu. Dari mana datangnya kepercayaan diri bahwa aku akan selalu menuruti semua keinginanmu?"
"Aku ...." Dagu Renee terasa nyeri. Air matanya menetes jatuh satu per satu. Dia menahan sakit dan berkata dengan suara terisak, "Memang dulu salahku. Aku pikir setelah menikah, lambat laun kita bisa menumbuhkan perasaan itu. Aku nggak nyangka ...."
"Nggak nyangka apa? Nggak nyangka kamu bakal muak secepat ini? Sudah nggak mau hidup bersamaku lagi?"
"Ya, aku sudah muak."
Tatapan pria itu mengerikan, tetapi Renee tetap menegakkan lehernya, mencoba membela diri. Arvin tiba-tiba marah. Tangannya yang mencengkeram dagunya langsung mendorong Renee ke tempat tidur. Tubuhnya yang tinggi menindih Renee, lalu dia mencium bibirnya dengan kasar.
Ciuman itu penuh kemarahan. Matanya dingin bagai kolam beku. Renee menolak mati-matian, tetapi tetap tak bisa melawannya. Sudah tiga tahun menikah. Arvin sudah sangat mengenal tubuhnya dan dengan mudah membuatnya lemas tak berdaya.
Renee malu dan marah. Dia menendang Arvin, tetapi kakinya segera ditangkap. Jemari pria itu perlahan menelusuri sepanjang kain rok.
Arvin melepaskan bibirnya. Suaranya yang berat dan dingin itu berbisik di telinga Renee. "Renee, kalau kamu berani menyebut kata cerai lagi, aku pastikan kamu akan menyesal seumur hidup."
Renee menahan tangis, tubuhnya gemetar kesakitan. Arvin mencabut alat bantu dengarnya, lalu membiarkan mereka tenggelam dalam malam itu.
Tiga tahun pernikahan, Arvin tak pernah benar-benar menatapnya dengan cinta. Namun, hanya di ranjanglah Renee bisa merasa dirinya seperti seorang istri.
Setelah semua reda, Renee terbaring di atas tempat tidur besar. Matanya menatap wajah pria itu. Sejak kecil Arvin memang tampan. Di setiap pesta atau acara, dialah yang selalu menjadi pusat perhatian.
Sementara Renee hanyalah "itik buruk rupa" dengan kekurangan pendengaran, yang hanya berani bersembunyi di sudut, menatap para wanita yang bisa bercakap bebas dengan Arvin, dengan hati yang diliputi kecemburuan.
Saat pikirannya melayang, pria itu bangkit, berpakaian rapi, bersiap pergi seperti biasanya. Ketika melewati bingkai foto pernikahan yang pecah, langkahnya terhenti sejenak. Kemudian, dia berkata dengan dingin, "Rekatkan kembali."
Renee terdiam, air matanya mengalir lagi. Dia tahu, ini hanyalah satu lagi perlawanan yang sia-sia.
Namun kali ini, dia tidak ingin menyerah lagi. Dia ingin pergi dari sini.
Renee bangkit, mengenakan pakaiannya. Sama seperti Arvin, dia melangkah pergi tanpa sedikit pun menoleh pada pecahan kaca itu.
Renee tidak punya banyak teman. Keluarganya pun tidak bisa diandalkan. Satu-satunya orang yang bisa dia cari hanyalah sahabatnya, Michela.
Michela tentu saja sudah melihat berita beberapa hari terakhir. Dia memutar matanya dengan kesal. "Kamu seharusnya meninggalkan laki-laki berengsek itu sejak awal!"
"Aku cuma belum bisa melepas Renji." Renee tahu dirinya hidup tanpa martabat, tetapi dalam posisinya, semua terasa sulit.
"Untuk apa kamu susah-susah memikirkan Renji? Dia cucu sulung Keluarga Suryana, sudah hidup penuh kemewahan. Apa dia kekurangan makan? Kekurangan kasih sayang? Nggak, 'kan? Nissa memang licik, tapi demi menyenangkan Arvin, dia nggak akan sebodoh itu sampai menyakiti anak kecil."
"Selama Renji bisa tumbuh bahagia, kamu nggak perlu peduli siapa yang dia panggil mama. Kalau kamu suka anak-anak, kamu bisa menikah lagi dan punya anak sendiri. Jangan sia-siakan seluruh hidupmu demi bocah kecil yang bahkan belum tahu apa-apa."
"Renji bukan bocah tak tahu terima kasih, dia baru tiga tahun. Dia nggak mengerti apa pun." Renee langsung membela anaknya.
"Terus, apa gunanya? Kamu bisa bawa dia pergi? Atau pengorbananmu bisa bikin Arvin berubah?"
"Aku tahu nggak bisa. Makanya aku ke sini, mau numpang tinggal di tempatmu." Renee tersenyum lemah.
"Tenang saja, kamu boleh tinggal di sini sesukamu. Aku nggak bisa menafkahi diriku sendiri, tapi bisa menafkahimu." Michela menepuk dada dengan bangga. Dia memang terbiasa hidup boros, tetapi Renee sejak kecil terbiasa hidup hemat, jadi menafkahinya sama sekali bukan hal sulit.
"Omong-omong, setelah cerai kamu bakal balik kerja di studio, 'kan? Aku sudah lama nunggu kamu balik."
Dulu, mereka berdua mendirikan Studio RH. Waktu itu, Renee sangat bersemangat dan penuh keyakinan. Kalau bukan karena pernikahan mendadak dan statusnya sebagai Nyonya Suryana, dia tidak akan berhenti di tengah jalan.
Selama ini studio masih bisa bertahan karena kerja keras Michela. Renee sungguh terharu karena sahabatnya tak pernah menyingkirkannya.
"Terima kasih, Michela." Air mata menggenang di pelupuk matanya. Hanya di pekerjaannya, Renee merasa dirinya masih berguna dan masih hidup.
....
Tiga hari kemudian, setelah urusan bisnis di luar kota, Arvin kembali. Mobilnya berhenti di depan vila. Dia memijat pelipis dengan lelah. Begitu melihat rumah yang gelap gulita, alisnya berkerut. Renee takut gelap. Biasanya meskipun tidur, dia tetap menyalakan lampu ruang tamu dan kamar.
Namun, Arvin tidak terlalu memikirkannya. Begitu turun dari mobil, dia menyalakan lampu satu per satu hingga sampai di kamar utama. Sambil melangkah pelan, dia membuka pintu. Kamar itu kosong.
Cahaya bulan menembus jendela, memantul di pecahan kaca yang berserakan di lantai. Saat lampu dinyalakan, dia baru sadar itu adalah pecahan bingkai foto pernikahan.
Renee bukan hanya tidak menempelkan ulang foto itu, bahkan tidak memungut pecahannya. Jadi, tiga hari ini dia tidak tinggal di rumah?
Arvin mengerutkan kening, lalu matanya menangkap map di meja tamu. Dia mengambilnya. Begitu membaca tulisan di sampulnya, ekspresinya berubah perlahan. Surat perjanjian cerai.
Renee ingin bercerai? Arvin sulit memercayainya. Dia menatap tanda tangan di bawah. Benar, itu adalah tulisan tangan Renee.
Arvin tidak pernah sekaget ini. Kemudian, dia tersenyum dingin. Dia lebih percaya bumi meledak daripada percaya Renee berani menceraikannya.
Dulu demi menikah dengannya, perempuan itu sudah melakukan segalanya, bahkan melahirkan anaknya. Mana mungkin sekarang rela melepaskannya?
Wanita ini semakin pandai bermain peran. Cerai? Kabur dari rumah? Mari kita lihat, berapa lama dia bisa bertahan.
Arvin meremas surat perjanjian cerai itu, melemparnya ke tong sampah, lalu masuk ke kamar mandi untuk mandi seperti biasa.
Selama ini Arvin hidup teratur dan hanya Renee yang tahu ritmenya dengan tepat. Ketika dia bangun, pakaiannya sudah disiapkan dan disetrika. Ketika dia turun, sarapannya sudah terhidang. Ketika dia hendak pergi, tas kerjanya sudah diserahkan ke tangannya.
Semua itu tampak sepele, tetapi tidak semua orang bisa melakukannya dengan tepat dan sabar. Mungkin karena itulah Arvin sering merasa Renee lebih seperti pengasuh daripada istri.
Hari itu, ketika Arvin bangun, tak ada baju di kursinya. Dia turun ke lantai bawah. Pembantu yang bernama Gina pun terlihat bingung.
"Tuan bangun sepagi ini? Saya masih mikir mau buat sarapan apa ...."
Arvin menatap jam di dinding, alisnya berkerut.
Gina buru-buru menunduk. "Maaf, Tuan. Saya sudah coba menelepon Nyonya, tapi nggak diangkat. Saya ... saya langsung buatkan mie saja ya?"
"Nggak usah," jawab Arvin dengan nada datar, lalu melangkah keluar.
Gina merasa bersalah. Biasanya semua urusan makan dan kebutuhan Arvin diurus oleh Renee. Karena Renee hampir tak pernah keluar rumah, mereka semua sangat bergantung padanya.
Siapa sangka, istri yang selama ini begitu penurut dan lembut itu ternyata juga bisa meninggalkan rumah.
Bab 5
Hari ini hari Minggu. Arvin tidak perlu bekerja. Dia mengemudikan mobil menuju rumah lama Keluarga Suryana untuk menjenguk Renji.
Dari kejauhan saja, sudah terdengar suara tawa Renji dan Nissa yang sedang bermain bersama. Tanpa sadar, langkah Arvin menjadi lebih ringan.
Di kamar anak yang luas itu, Nissa mengenakan setelan santai berwarna krem muda. Dia duduk bersila di atas karpet lembut sambil memegang kartu gambar, mengajari Renji mengenal benda-benda.
Nissa mengajar dengan sabar, sementara Renji belajar dengan gembira.
Arvin sebenarnya tidak suka anak kecil dan juga tidak berencana memiliki anak secepat ini. Dulu ketika tahu Renee hamil, reaksi pertamanya adalah ingin menggugurkan kandungan. Namun, Renee tidak setuju, begitu pula para senior Keluarga Suryana.
Selama masa kehamilan itu, Arvin nyaris tidak memperhatikan janin yang ada di perut Renee. Sampai anak itu lahir ... saat pertama kali dia melihat Renji, wajah mungil dan lembut itu langsung menarik perhatiannya, mengguncang sesuatu di dalam hatinya. Saat itu juga, Arvin benar-benar sadar bahwa dirinya sudah menjadi seorang ayah.
Anak yang wajahnya mirip dengan Renee itu adalah darah dagingnya sendiri.
Anak kecil memang cepat belajar. Dibanding kemarin, hari ini Renji sudah jauh lebih pintar.
Di dalam ruangan itu, suasananya begitu akrab. Bukan seperti guru dan murid, tetapi seperti ibu dan anak.
Tak lama kemudian, Renji pun menyadari kehadirannya. Anak kecil itu tertawa riang dan berlari ke arahnya. "Papa!"
Arvin berjongkok, merentangkan kedua tangannya, menangkap tubuh mungil yang melompat ke arahnya. Wajahnya yang biasanya dingin dan tenang kini tampak lembut dan penuh kasih.
"Renji hari ini jadi anak baik nggak?"
"Baik dong! Renji kangen Papa."
"Papa juga kangen Renji."
Arvin mengangkatnya tinggi-tinggi, membuat bocah itu tertawa semakin keras.
Nissa tersenyum, berjalan mendekat, lalu mengelus lembut kepala mungil Renji. "Kak Arvin, tebak deh, hari ini Renji sudah belajar berapa kata baru?"
"Berapa?" Tatapan Arvin hanya tertuju pada anaknya, penuh rasa bangga.
"Dua puluh kata." Nissa memuji dengan senyuman lembut, "Renji ini pintar sekali, nanti pasti jadi anak paling cerdas di kelas."
"Aku seharusnya berterima kasih karena kamu yang mengajarinya dengan baik." Arvin juga merasa anaknya cerdas. Apa pun yang diajarkan selalu bisa dipelajari dengan cepat.
Nissa menunduk sedikit, wajahnya memerah karena malu. "Arvin, kamu nggak perlu terlalu sopan sama aku. Merawat Renji memang sudah jadi tanggung jawabku. Lagi pula, kamu sibuk banget. Aku cuma bantu sedikit."
Kali ini, Arvin akhirnya mengalihkan pandangan dari anaknya ke wajah Nissa. "Terima kasih, Bu Nissa."
Nissa sempat tertegun, lalu segera tersenyum dan menggeleng. "Kenapa kamu sungkan begitu? Ini juga bagian dari pekerjaanku kok."
Dia terdiam sejenak, lalu menatapnya dengan nada sedikit sendu. "Arvin, kamu panggil aku 'Nissa' saja, jangan terlalu formal seperti tadi. Soalnya kalau kamu begitu, aku jadi teringat pada ...."
Ucapannya terputus di tengah kalimat. Raut wajah Arvin pun meredup. Beberapa saat kemudian, barulah dia menjawab singkat, "Baiklah."
Seperti biasa, suasana hatinya cepat berubah. Arvin tersenyum lagi sambil mencubit pipi Renji dengan gemas. "Renji, nanti sore Papa ajak kamu naik kuda, mau nggak?"
"Naik kuda! Aku mau naik kuda!" Anak kecil itu bersorak gembira.
Nissa tersenyum, mencubit pipinya juga. "Wah, hebatnya! Naik kuda itu bagus lho, bisa bikin Renji lebih berani."
Kemudian, dia menjulurkan tangannya. "Sini, Papa sudah capek. Biar Mama Nissa yang gendong ya?"
"Oke, Mama Nissa gendong ...."
Renji langsung melompat ke pelukannya. Ketika Nissa melangkah maju untuk menangkapnya, jarak mereka menjadi sangat dekat, hingga dia bisa mencium wangi bersih dan segar dari tubuh Arvin. Wajahnya memanas, hatinya melembut.
....
Renee tidak suka merepotkan orang lain. Setelah menumpang di rumah Michela, dia mulai mencari tempat tinggal sendiri. Setelah mencari seharian, dia akhirnya menemukan apartemen yang cocok.
Malam itu saat berbaring di tempat tidur, dia merasa sedikit kesepian, tetapi juga luar biasa tenang. Baru saat itu dia sadar, betapa sesaknya hidup bersama Arvin selama ini.
Takut dia kedinginan, takut dia kelaparan, takut dia marah. Hidupnya selalu berputar di sekeliling pria itu, sampai-sampai dia kehilangan dirinya sendiri.
Semua itu karena cinta. Dia rela melakukannya.
Kalau bukan karena Nissa tiba-tiba kembali ke tanah air, mungkin sampai sekarang dia masih terperangkap di dalam lingkaran itu tanpa bisa keluar.
Begitu memikirkan Nissa, hatinya terasa perih lagi. Dia mengambil ponsel, hendak mengirim pesan kepada Rosa untuk menanyakan keadaan Renji. Namun, tiba-tiba muncul pesan dari Michela.
Michela mengirim sebuah foto.
[ Lihat tuh, anakmu si kecil yang tak tahu diri, bahagia banget, 'kan? ]
Renee membuka foto itu. Di dalamnya tampak Arvin dan Nissa bersama Renji di arena berkuda. Renji duduk di atas punggung kuda yang tinggi. Arvin memegang tali kekang dengan satu tangan, tangan satunya lagi memegang lengan mungil anak itu sambil sabar mengajarinya. Nissa berdiri di sisi lain, tampak menyeka keringat di dahi Arvin dengan sapu tangan.
Hati Renee yang sudah sakit sejak awal kembali terkoyak lebih dalam.
Pesan Michela menyusul lagi.
[ Sekarang nggak ada yang bisa diandalkan selain diri sendiri. ]
[ Apa gunanya pria? Anak pun kadang nggak tahu terima kasih. Nggak ada yang pantas kamu perjuangkan. ]
Benar juga. Apa gunanya pria? Apalagi pria yang tidak mencintainya. Sama halnya dengan anak kandung, ibunya, adiknya .... Adakah yang benar-benar menganggapnya keluarga?
Renee mengusap hidung, membalas pesan dengan emotikon senyuman pahit.
[ Kamu benar, cuma diri sendiri yang paling bisa diandalkan. ]
Karena seharian bermain di arena kuda, malamnya Renji tidur nyenyak sekali. Arvin dengan hati-hati meletakkannya di ranjang kecil. Nissa menemaninya, menutup selimut dengan lembut, menyesuaikan suhu ruangan, lalu berdiri menatap Arvin.
"Arvin, sudah malam, kenapa nggak nginap saja di rumah lama?"
Arvin menarik sedikit kerah kemejanya, jelas terlihat kelelahan. Namun, dia hanya menyahut pelan, "Aku pulang sekarang."
Nissa tampak kecewa, tetapi tidak berani memaksa. "Kalau begitu, hati-hati di jalan ya."
"Hmm."
Saat Arvin menuruni tangga, Juwita yang sedang menonton televisi di ruang tamu memanggilnya. "Dengar-dengar si tuli itu mau cerai sama kamu?"
Langkah Arvin terhenti. Dia menoleh, menatap ibunya dengan tajam. "Ibu, dia punya nama. Panggilan itu bisa ditiru Renji nanti."
"Ah, Renji nggak di sini juga," balas Juwita dengan nada kesal. "Lagi pula, kamu saja berani nikah sama si tuli itu, masa dipanggil begitu saja takut?"
"Itu dua hal yang berbeda. Kalau nggak ada urusan lagi, Ibu istirahatlah." Arvin bersiap pergi.
Namun, Juwita kembali bersuara, "Kapan kamu mau urus perceraian itu? Biar Ibu bisa bantu siapkan."
Arvin menoleh lagi. "Siapkan apa?"
"Tentu saja pernikahanmu dengan Nissa." Juwita melirik ke arah kamar anak di lantai dua. "Kamu lihat sendiri 'kan, Renji nempel banget sama Nissa dan Nissa juga sayang banget sama dia. Mereka seperti ibu dan anak."
Melihat wajah Arvin tanpa ekspresi gembira sedikit pun, Juwita kebingungan. "Kenapa? Bukannya kamu paling benci Renee? Sekarang dia sendiri yang minta cerai, harusnya kamu senang dong."
Benar, seharusnya dia senang. Namun, entah kenapa hatinya terasa berat seperti ada yang menekan di dalam dada.
"Arvin, jangan-jangan kamu mulai suka sama si tuli itu?" tanya Juwita dengan nada curiga.
Bab 6
"Nggak." Arvin langsung menolak tanpa berpikir panjang.
Suka pada si tuli itu? Hal itu mustahil terjadi seumur hidupnya.
Juwita masih ingin berbicara, tetapi sudah disela oleh suara Arvin yang datar, "Cukup, Ibu. Aku memang nggak suka Renee, tapi aku juga nggak pernah berpikir untuk menceraikannya."
"Apa katamu?" Mata Juwita membelalak.
"Arvin, kamu mau hidup seumur hidup sama si tuli itu? Kamu nggak peduli dengan martabat Keluarga Suryana?"
"Bukankah dulu aku menikahi Renee juga demi menjaga martabat keluarga?"
"Tiga tahun lalu, kakekmu yang memaksamu menikahinya. Sekarang kakekmu sudah nggak bisa ikut campur urusan ini. Kamu nggak perlu mengorbankan kebahagiaanmu demi seseorang yang cacat."
Juwita berdiri dan berjalan mendekatinya, menepuk pelan bahunya. "Arvin, kebahagiaan itu harus kamu genggam sendiri. Jangan biarkan rasa bersalah atau tanggung jawab mengekangmu."
Arvin terdiam. Beberapa detik kemudian, dia berkata dengan tenang, "Aku tahu."
Tanpa banyak berbicara lagi, dia melangkah ke luar dan menuju mobil.
Arvin mengemudi kembali ke Vila Panorama. Seperti semalam, vila besar itu tenggelam dalam kegelapan tanpa setitik pun cahaya, tanpa kehangatan, tanpa sosok yang familier.
Sambil melepas kancing kemejanya, dia naik ke lantai atas. Begitu masuk ke kamar utama, pandangannya langsung jatuh pada foto pernikahan yang sudah retak.
Gina ingin membereskan semuanya, tetapi Arvin mencegahnya. Dia ingin menunggu Renee kembali, menunggu wanita itu menempel ulang foto pernikahan itu dan menggantungkannya kembali di dinding, lalu melanjutkan perannya sebagai Nyonya Suryana.
Awalnya Arvin yakin Renee akan pulang malam ini. Namun, ternyata dugaannya salah. Bukan hanya tidak pulang, satu pesan darinya pun tidak ada.
Kemarahan yang sudah menumpuk kini semakin membara. Dengan kesal, dia melempar jaket ke sofa, menyalakan sebatang rokok, mengisap dalam-dalam, lalu mengambil ponsel dan menekan nomor asistennya, Andre.
Telepon segera tersambung. "Pak Arvin, sudah larut malam begini, ada perintah?"
"Istriku ke mana?"
"Hah?" Andre sempat tidak paham. Bosnya menelepon tengah malam hanya untuk menanyakan keberadaan istrinya?
Padahal biasanya Renee itu penurut seperti robot, tidak pernah membuat masalah. Kalaupun membuat Arvin kesal, Arvin biasanya tidak akan benar-benar peduli.
Arvin tampaknya juga menyadari hal itu. Nada suaranya merendah. "Istriku lagi ngambek. Kamu hubungi dia."
"Hah?" Andre kembali kaget. Istri bosnya ngambek? Begitu sadar, dia cepat-cepat meminta maaf. "Maaf, aku hanya terkejut saja. Tenang, Pak. Aku akan segera mencari Bu Renee."
"Nggak perlu." Arvin mengisap rokok lagi, meniupkan asap perlahan. "Kasih tahu dia, kalau dalam tiga hari dia nggak pulang, selamanya jangan kembali."
Andre langsung mengiakan. "Baik, Pak. Aku akan sampaikan besok."
Dia tahu betul bosnya menjaga gengsi. Mana mungkin bosnya akan memanggil istrinya pulang?
....
Renee memang tidak bekerja selama ini, tetapi dia sering membantu Michela membuat desain. Jadi, kembali ke dunia kerja tidak sulit baginya.
Pagi itu, dia mengendarai motor listrik menuju studio. Dari jauh, dia melihat Andre berdiri di depan pintu, sepertinya menunggunya.
"Bu Renee, Pak Arvin menyuruhku menyampaikan pesan."
Selama lima tahun bekerja dengan Arvin, Andre selalu bersikap sopan pada Renee.
"Katakan saja."
"Uh ...." Andre agak canggung, tetapi tetap menyampaikan dengan tepat, "Pak Arvin bilang, kalau dalam tiga hari Ibu nggak pulang, jangan pernah kembali lagi."
Renee sudah menduga tidak akan ada kata manis. Dia diam dua detik, lalu berkata pelan, "Tolong sampaikan pada Pak Arvin, aku sudah tinggalkan surat perjanjian cerai di meja kamar."
"Eh?" Andre melongo. Surat perjanjian cerai? Kali ini yang meninggalkan adalah sang istri?
Renee tidak berbicara lagi. Dia hanya tersenyum sopan, lalu masuk ke studio.
Andre kembali ke Vila Panorama untuk melapor. Dengan hormat, dia mengulang kata-kata Renee dan akhirnya bertanya dengan ragu, "Pak, perlu aku bantu ambil surat perjanjian cerainya?"
Ketika dia mendongak, wajah Arvin sudah sehitam arang. Andre bertanya lagi, "Bapak baik-baik saja?"
"Aku baik-baik saja. Aku nggak buta." Arvin menahan amarahnya. Surat itu jelas-jelas ada di meja, mana mungkin dia tidak lihat? Dia bahkan sudah merobeknya sejak awal.
Melihat Arvin begitu gusar, Andre bertanya dengan hati-hati, "Bukankah seharusnya Bapak senang karena Bu Renee setuju untuk bercerai?"
Ekspresi Arvin semakin kelam. Semua orang mengira dia seharusnya senang. Namun, entah kenapa dia sama sekali tidak merasa begitu.
"Kamu rasa aku harus senang?"
"Eee ...." Menyadari bahwa diceraikan oleh wanita tuli itu memalukan, Andre buru-buru menambahkan, "Aku rasa Bu Renee nggak sungguh-sungguh ingin cerai. Mungkin hanya ingin menggertak Bapak saja. Aku yakin belum sampai tiga hari, dia akan pulang."
Raut wajah Arvin sedikit membaik. Karena memang itu juga yang dia pikirkan.
Namun siapa sangka ... tiga hari berlalu begitu cepat. Wanita yang katanya sedang menggertak itu pun bukan hanya tidak pulang, tetapi bahkan tidak mengirim satu pesan pun.
Awalnya Arvin tidak terlalu ambil pusing. Namun, lama-kelamaan rasa gelisah dan kesal menumpuk.
Pagi-pagi, hanya karena tidak menemukan dasi biru tua kesukaannya, dia menendang tong sampah sampai terbang beberapa meter.
Gina sampai gemetar ketakutan, tetapi tidak berani berbicara. Dengan suara hati-hati, dia berkata, "Tuan, mungkin sebaiknya hubungi Nyonya saja. Biasanya Nyonya yang mengatur lemari dan ruang pakaian."
Arvin ingin menolak. Namun, kata yang hendak dikeluarkan tertelan kembali. Akhirnya, dia berjalan ke depan jendela besar. Satu tangan di saku, satu tangan mengambil ponsel.
Untuk pertama kalinya sejak Renee pergi seminggu lalu, Arvin meneleponnya.
Telepon segera tersambung. Arvin tersenyum puas, merasa wanita ini hanya berpura-pura keras. Pasti setiap hari menunggunya menelepon.
"Bu Renee, permainan tarik-ulurmu lumayan juga. Hati-hati, jangan sampai kebablasan."
Renee sedang memakai sepatu dan hendak keluar. Mendengar suara itu, dia sempat tertegun, lalu melanjutkan aktivitasnya dengan tenang.
"Pak Arvin, pagi-pagi begini meneleponku, ada urusan apa?" Suaranya datar dan tenang.
Hal ini di luar dugaan Arvin. Sudut bibirnya turun lagi. "Aku cuma mau tanya, dasi biru tuaku kamu taruh di mana?"
"Semua dasi sudah kurapikan di kotak dasi. Silakan cari sendiri. Kalau nggak ketemu, bisa minta bantuan Kak Gina."
Renee sudah keluar dari apartemennya. Melihat lift hampir tertutup, dia buru-buru berlari kecil.
"Sebentar." Pintu lift terbuka kembali. Renee masuk dan tersenyum pada orang di dalam. "Terima kasih, Kak."
Bahkan lewat ponsel, Arvin bisa merasakan keceriaan dalam suaranya. Hatinya langsung terasa tak nyaman.
"Renee!" panggil Arvin dengan kesal.
Lift sedang penuh karena jam berangkat kerja. Setelah menemukan tempat, barulah Renee kembali berbicara, "Pak Arvin, ada urusan lain?"