Bab 3

"Nyonya, Tuan ... makan malam sudah siap." Seorang pelayan keluar dari dapur dan berbicara dengan hormat.

Juwita bangkit dari sofa. "Ayo makan, Renji pasti sudah lapar."

"Renji mau bawa beruang makan." Renji memeluk boneka beruang yang dibuat secara khusus itu, tertawa riang.

"Baiklah, Bu Guru ajak Renji dan beruang makan bareng ya?" Nissa tersenyum, menggendong Renji, lalu menatap Renee dengan sopan. "Bu Renee, aku bawa Renji makan dulu."

Semua orang menuju ruang makan. Renee menggenggam boneka buatan tangannya, merasa kebingungan. Padahal dia adalah Nyonya Muda Keluarga Suryana, tetapi dia selalu dikucilkan dan diabaikan.

Kue dan boneka di tangannya jatuh ke lantai. Renee melangkah mundur, berniat meninggalkan rumah besar yang tanpa kehangatan itu.

Namun, pergelangan tangannya ditahan oleh Arvin. Dia lantas menatap Arvin. Mata pria itu memancarkan ketegasan. "Makan."

Renee melirik ke arah meja makan. Tempat duduk yang seharusnya miliknya, kini diduduki oleh Nissa. Tanpa suara, dia menarik tangannya dari genggaman Arvin.

"Aku nggak mau ganggu kalian sekeluarga lagi." Usai berbicara, dia berjalan pergi tanpa menoleh.

"Renee!" Arvin mengernyit melihat punggung istrinya. Perempuan ini sekarang sudah berani membantahnya?

"Nggak usah pedulikan dia," ujar Juwita sambil melirik ke arah pintu. "Wanita bodoh dan cacat begitu memang seharusnya nggak dibiarkan masuk ke rumah."

"Benar, Kak," tambah Felicia, adik perempuan Arvin. "Perempuan yang pakai tipu muslihat buat menikah ke keluarga kita cuma nurunin derajat Keluarga Suryana kalau makan bareng kita."

Arvin memang tidak menyukai Renee. Namun, seekor anjing pun tidak pantas dipukul di depan majikannya. Dengan nada dingin, dia membalas, "Terus, aku ini apa? Setiap hari aku makan bareng dia, berarti aku juga menurunkan derajat keluarga?"

"Uh ...." Felicia terdiam, buru-buru mengoreksi. "Kak, hubungan kalian 'kan cuma sementara saja. Setelah kalian cerai nanti ...."

"Diam." Nada suara Arvin menjadi dingin. "Jangan pernah bicara seperti itu di depan Renji lagi."

"Diam ... hihihi ...." Renji menirukan ayahnya sambil tertawa.

....

Di luar, langit sudah gelap. Malam lembap dan dingin. Renee memeluk dirinya sendiri, berjalan sendirian di halaman rumah Keluarga Suryana. Air mata menggenang di pelupuk matanya. Dia menahan diri untuk tidak menangis.

Dia tahu semua ini juga salahnya. Dia tidak pantas menangis. Satu-satunya yang bisa dia lakukan adalah mencari jalan keluar. Namun, di mana jalan keluarnya?

Saat melewati hutan kecil, seberkas cahaya kuning dari lampu mobil menyorot dari belakang. Tak lama kemudian, mobil Rolls-Royce yang dikenalnya berhenti di sisinya.

Jendela terbuka sedikit, memperlihatkan wajah tampan dan dingin Arvin. "Naik."

Renee sudah terbiasa dengan nada perintahnya. Dia bisa saja menolak, tetapi entah kenapa dia akhirnya tetap masuk ke mobil.

Yang mengejutkan, Nissa tidak ada di dalam. Arvin duduk di kursi belakang, tampak tenang dan berwibawa, bersandar dengan santai. Arvin tidak berbicara, hanya menatapnya. Renee lantas menunduk, menghindari tatapannya.

"Kamu marah sampai nggak mau anakmu sendiri?" Pertanyaan retoris itu keluar dari bibir Arvin.

Renee menggigit bibir, menahan emosi, lalu mendongak dan menatapnya. "Pak Arvin, kamu suka Nissa, 'kan?"

Tatapan Arvin menjadi serius. "Kamu mau bilang apa?"

"Kalau kamu suka dia, ceraikan aku dan nikahi dia. Aku setuju."

"Dengan syarat?" Nada suaranya datar, tetapi mengandung kemarahan halus.

"Syaratnya, biarkan aku menemani Renji tumbuh besar. Biar aku yang pilih guru lesnya. Tenang saja, aku nggak akan rebut hak asuhnya darimu."

Renee mengatakannya dengan tenang, tetapi Arvin malah tertawa sinis. "Strategi mundur untuk maju ya? Cerdik juga perhitunganmu."

"Aku nggak bermaksud begitu." Renee buru-buru membantah, suaranya bergetar. "Aku cuma nggak mau Renji tumbuh dalam lingkungan yang membuatnya membenci ibu kandungnya. Dia masih kecil, belum tahu mana yang benar dan salah. Aku cuma ingin dia tahu ibunya nggak bersalah hanya karena tuli."

"Arvin, Renji itu kulahirkan dengan nyawaku." Matanya memerah, suaranya serak.

Dia teringat hari kelahiran Renji. Juwita tahu posisi bayinya sungsang, tetapi tetap memaksa dokter untuk melahirkan normal. Saat dia kehilangan banyak darah, Juwita bahkan berkata, "Selamatkan anaknya saja."

Kalau bukan karena nasibnya bagus, mungkin dia sudah mati di meja operasi. Namun, Arvin tidak tahu itu. Karena ibunya sengaja mengusirnya keluar kota tepat sebelum hari kelahiran. Saat Arvin kembali, semuanya sudah baik-baik saja.

Arvin memang tidak menginginkan anak itu, tetapi begitu melihat Renji, rasa bangga sebagai ayah membuat hatinya melembut. Bahkan dia mentransfer 10 miliar ke rekening Renee sebagai bonus.

Faktanya, setelah pernikahan, senyuman hanya pernah muncul di wajah Arvin saat pertama kali melihat Renji. Selain itu, mereka seperti orang asing.

"Renee, apa aku yang menyuruhmu melahirkan Renji?" Arvin menatapnya dengan dingin.

Renee terdiam. Benar, Renji lahir karena dia sendiri yang bersikeras. Saat tahu dirinya hamil, Arvin langsung menyuruhnya menggugurkan kandungan. Namun, dia memohon dan menangis, hingga akhirnya anak itu lahir.

Suasana di dalam mobil membeku. Tiba-tiba, ponsel Arvin berdering. Dia mengangkatnya. Panggilan video dari Nissa.

"Arvin, Renee nggak apa-apa, 'kan? Sudah kamu jemput?"

"Hmm," gumam Arvin dengan nada datar.

"Syukurlah. Kalau begitu, istirahatlah lebih awal."

"Renji sudah tidur?"

Begitu nama Renji disebut, Nissa langsung tersenyum hangat. "Baru saja tidur. Tadi dia bilang kangen papanya, mau tidur bareng papanya."

Begitu suara Nissa berhenti, terdengar suara lembut Renji. "Mama Nissa ... gendong ...."

"Oke, Mama gendong ya." Nada Nissa lembut, manis, seperti madu yang menetes.

Renee menatap layar ponsel, melihat Nissa memeluk Renji dengan penuh kasih. Pemandangan itu membuat hatinya seperti diremas.

Mobil berhenti di depan vila. Renee turun, berlari ke lantai dua. Sambil bersandar di pintu kamar, dia perlahan terduduk sambil menangis.

Dia hanya ingin memeluk anaknya, hanya ingin bersamanya sebentar saja. Namun, kenapa itu terasa mustahil? Kapan pernikahan ini akan berakhir?

Renee menatap foto pernikahan di dinding. Pria tampan yang dingin, gadis muda yang tampak hati-hati. Itu bukan potret bahagia, melainkan belenggu.

Dia berdiri, meraih bingkai itu, dan menghantamkannya ke lantai. Brak! Bingkai kaca pecah. Di wajah dua orang yang memang tidak cocok itu, muncul retakan.

Arvin yang mendengar suara itu masuk ke kamar. Melihat Renee yang biasanya lembut, kini menghancurkan foto pernikahan, dia sempat tertegun, lalu dengan marah mencengkeram pergelangan tangannya.

"Renee, apa maksudmu ini? Kamu nggak mau tinggal di sini lagi?"

"Arvin, aku mau cerai!" Renee menatapnya dengan air mata mengalir, tetapi kali ini matanya penuh tekad. "Aku sudah muak! Aku nggak mau hidup tanpa harga diri lagi! Aku mau cerai dan aku nggak bercanda soal ini!"

Bab 4

Di bawah cahaya lampu putih yang menyilaukan, wajah tampan Arvin tampak jelas menegang seperti diselimuti es. Jari-jarinya yang panjang berpindah dari pergelangan tangan Renee ke dagunya, menekan sedikit demi sedikit.

"Renee, menurutmu pernikahan ini permainan anak-anak? Mau nikah tinggal nikah, mau cerai tinggal cerai? Atau kamu pikir aku ini boneka yang bisa kamu kendalikan sesuka hati?"

"Yang bilang mau nikah itu kamu, yang bilang mau cerai juga kamu. Dari mana datangnya kepercayaan diri bahwa aku akan selalu menuruti semua keinginanmu?"

"Aku ...." Dagu Renee terasa nyeri. Air matanya menetes jatuh satu per satu. Dia menahan sakit dan berkata dengan suara terisak, "Memang dulu salahku. Aku pikir setelah menikah, lambat laun kita bisa menumbuhkan perasaan itu. Aku nggak nyangka ...."

"Nggak nyangka apa? Nggak nyangka kamu bakal muak secepat ini? Sudah nggak mau hidup bersamaku lagi?"

"Ya, aku sudah muak."

Tatapan pria itu mengerikan, tetapi Renee tetap menegakkan lehernya, mencoba membela diri. Arvin tiba-tiba marah. Tangannya yang mencengkeram dagunya langsung mendorong Renee ke tempat tidur. Tubuhnya yang tinggi menindih Renee, lalu dia mencium bibirnya dengan kasar.

Ciuman itu penuh kemarahan. Matanya dingin bagai kolam beku. Renee menolak mati-matian, tetapi tetap tak bisa melawannya. Sudah tiga tahun menikah. Arvin sudah sangat mengenal tubuhnya dan dengan mudah membuatnya lemas tak berdaya.

Renee malu dan marah. Dia menendang Arvin, tetapi kakinya segera ditangkap. Jemari pria itu perlahan menelusuri sepanjang kain rok.

Arvin melepaskan bibirnya. Suaranya yang berat dan dingin itu berbisik di telinga Renee. "Renee, kalau kamu berani menyebut kata cerai lagi, aku pastikan kamu akan menyesal seumur hidup."

Renee menahan tangis, tubuhnya gemetar kesakitan. Arvin mencabut alat bantu dengarnya, lalu membiarkan mereka tenggelam dalam malam itu.

Tiga tahun pernikahan, Arvin tak pernah benar-benar menatapnya dengan cinta. Namun, hanya di ranjanglah Renee bisa merasa dirinya seperti seorang istri.

Setelah semua reda, Renee terbaring di atas tempat tidur besar. Matanya menatap wajah pria itu. Sejak kecil Arvin memang tampan. Di setiap pesta atau acara, dialah yang selalu menjadi pusat perhatian.

Sementara Renee hanyalah "itik buruk rupa" dengan kekurangan pendengaran, yang hanya berani bersembunyi di sudut, menatap para wanita yang bisa bercakap bebas dengan Arvin, dengan hati yang diliputi kecemburuan.

Saat pikirannya melayang, pria itu bangkit, berpakaian rapi, bersiap pergi seperti biasanya. Ketika melewati bingkai foto pernikahan yang pecah, langkahnya terhenti sejenak. Kemudian, dia berkata dengan dingin, "Rekatkan kembali."

Renee terdiam, air matanya mengalir lagi. Dia tahu, ini hanyalah satu lagi perlawanan yang sia-sia.

Namun kali ini, dia tidak ingin menyerah lagi. Dia ingin pergi dari sini.

Renee bangkit, mengenakan pakaiannya. Sama seperti Arvin, dia melangkah pergi tanpa sedikit pun menoleh pada pecahan kaca itu.

Renee tidak punya banyak teman. Keluarganya pun tidak bisa diandalkan. Satu-satunya orang yang bisa dia cari hanyalah sahabatnya, Michela.

Michela tentu saja sudah melihat berita beberapa hari terakhir. Dia memutar matanya dengan kesal. "Kamu seharusnya meninggalkan laki-laki berengsek itu sejak awal!"

"Aku cuma belum bisa melepas Renji." Renee tahu dirinya hidup tanpa martabat, tetapi dalam posisinya, semua terasa sulit.

"Untuk apa kamu susah-susah memikirkan Renji? Dia cucu sulung Keluarga Suryana, sudah hidup penuh kemewahan. Apa dia kekurangan makan? Kekurangan kasih sayang? Nggak, 'kan? Nissa memang licik, tapi demi menyenangkan Arvin, dia nggak akan sebodoh itu sampai menyakiti anak kecil."

"Selama Renji bisa tumbuh bahagia, kamu nggak perlu peduli siapa yang dia panggil mama. Kalau kamu suka anak-anak, kamu bisa menikah lagi dan punya anak sendiri. Jangan sia-siakan seluruh hidupmu demi bocah kecil yang bahkan belum tahu apa-apa."

"Renji bukan bocah tak tahu terima kasih, dia baru tiga tahun. Dia nggak mengerti apa pun." Renee langsung membela anaknya.

"Terus, apa gunanya? Kamu bisa bawa dia pergi? Atau pengorbananmu bisa bikin Arvin berubah?"

"Aku tahu nggak bisa. Makanya aku ke sini, mau numpang tinggal di tempatmu." Renee tersenyum lemah.

"Tenang saja, kamu boleh tinggal di sini sesukamu. Aku nggak bisa menafkahi diriku sendiri, tapi bisa menafkahimu." Michela menepuk dada dengan bangga. Dia memang terbiasa hidup boros, tetapi Renee sejak kecil terbiasa hidup hemat, jadi menafkahinya sama sekali bukan hal sulit.

"Omong-omong, setelah cerai kamu bakal balik kerja di studio, 'kan? Aku sudah lama nunggu kamu balik."

Dulu, mereka berdua mendirikan Studio RH. Waktu itu, Renee sangat bersemangat dan penuh keyakinan. Kalau bukan karena pernikahan mendadak dan statusnya sebagai Nyonya Suryana, dia tidak akan berhenti di tengah jalan.

Selama ini studio masih bisa bertahan karena kerja keras Michela. Renee sungguh terharu karena sahabatnya tak pernah menyingkirkannya.

"Terima kasih, Michela." Air mata menggenang di pelupuk matanya. Hanya di pekerjaannya, Renee merasa dirinya masih berguna dan masih hidup.

....

Tiga hari kemudian, setelah urusan bisnis di luar kota, Arvin kembali. Mobilnya berhenti di depan vila. Dia memijat pelipis dengan lelah. Begitu melihat rumah yang gelap gulita, alisnya berkerut. Renee takut gelap. Biasanya meskipun tidur, dia tetap menyalakan lampu ruang tamu dan kamar.

Namun, Arvin tidak terlalu memikirkannya. Begitu turun dari mobil, dia menyalakan lampu satu per satu hingga sampai di kamar utama. Sambil melangkah pelan, dia membuka pintu. Kamar itu kosong.

Cahaya bulan menembus jendela, memantul di pecahan kaca yang berserakan di lantai. Saat lampu dinyalakan, dia baru sadar itu adalah pecahan bingkai foto pernikahan.

Renee bukan hanya tidak menempelkan ulang foto itu, bahkan tidak memungut pecahannya. Jadi, tiga hari ini dia tidak tinggal di rumah?

Arvin mengerutkan kening, lalu matanya menangkap map di meja tamu. Dia mengambilnya. Begitu membaca tulisan di sampulnya, ekspresinya berubah perlahan. Surat perjanjian cerai.

Renee ingin bercerai? Arvin sulit memercayainya. Dia menatap tanda tangan di bawah. Benar, itu adalah tulisan tangan Renee.

Arvin tidak pernah sekaget ini. Kemudian, dia tersenyum dingin. Dia lebih percaya bumi meledak daripada percaya Renee berani menceraikannya.

Dulu demi menikah dengannya, perempuan itu sudah melakukan segalanya, bahkan melahirkan anaknya. Mana mungkin sekarang rela melepaskannya?

Wanita ini semakin pandai bermain peran. Cerai? Kabur dari rumah? Mari kita lihat, berapa lama dia bisa bertahan.

Arvin meremas surat perjanjian cerai itu, melemparnya ke tong sampah, lalu masuk ke kamar mandi untuk mandi seperti biasa.

Selama ini Arvin hidup teratur dan hanya Renee yang tahu ritmenya dengan tepat. Ketika dia bangun, pakaiannya sudah disiapkan dan disetrika. Ketika dia turun, sarapannya sudah terhidang. Ketika dia hendak pergi, tas kerjanya sudah diserahkan ke tangannya.

Semua itu tampak sepele, tetapi tidak semua orang bisa melakukannya dengan tepat dan sabar. Mungkin karena itulah Arvin sering merasa Renee lebih seperti pengasuh daripada istri.

Hari itu, ketika Arvin bangun, tak ada baju di kursinya. Dia turun ke lantai bawah. Pembantu yang bernama Gina pun terlihat bingung.

"Tuan bangun sepagi ini? Saya masih mikir mau buat sarapan apa ...."

Arvin menatap jam di dinding, alisnya berkerut.

Gina buru-buru menunduk. "Maaf, Tuan. Saya sudah coba menelepon Nyonya, tapi nggak diangkat. Saya ... saya langsung buatkan mie saja ya?"

"Nggak usah," jawab Arvin dengan nada datar, lalu melangkah keluar.

Gina merasa bersalah. Biasanya semua urusan makan dan kebutuhan Arvin diurus oleh Renee. Karena Renee hampir tak pernah keluar rumah, mereka semua sangat bergantung padanya.

Siapa sangka, istri yang selama ini begitu penurut dan lembut itu ternyata juga bisa meninggalkan rumah.

Bab 5

Hari ini hari Minggu. Arvin tidak perlu bekerja. Dia mengemudikan mobil menuju rumah lama Keluarga Suryana untuk menjenguk Renji.

Dari kejauhan saja, sudah terdengar suara tawa Renji dan Nissa yang sedang bermain bersama. Tanpa sadar, langkah Arvin menjadi lebih ringan.

Di kamar anak yang luas itu, Nissa mengenakan setelan santai berwarna krem muda. Dia duduk bersila di atas karpet lembut sambil memegang kartu gambar, mengajari Renji mengenal benda-benda.

Nissa mengajar dengan sabar, sementara Renji belajar dengan gembira.

Arvin sebenarnya tidak suka anak kecil dan juga tidak berencana memiliki anak secepat ini. Dulu ketika tahu Renee hamil, reaksi pertamanya adalah ingin menggugurkan kandungan. Namun, Renee tidak setuju, begitu pula para senior Keluarga Suryana.

Selama masa kehamilan itu, Arvin nyaris tidak memperhatikan janin yang ada di perut Renee. Sampai anak itu lahir ... saat pertama kali dia melihat Renji, wajah mungil dan lembut itu langsung menarik perhatiannya, mengguncang sesuatu di dalam hatinya. Saat itu juga, Arvin benar-benar sadar bahwa dirinya sudah menjadi seorang ayah.

Anak yang wajahnya mirip dengan Renee itu adalah darah dagingnya sendiri.

Anak kecil memang cepat belajar. Dibanding kemarin, hari ini Renji sudah jauh lebih pintar.

Di dalam ruangan itu, suasananya begitu akrab. Bukan seperti guru dan murid, tetapi seperti ibu dan anak.

Tak lama kemudian, Renji pun menyadari kehadirannya. Anak kecil itu tertawa riang dan berlari ke arahnya. "Papa!"

Arvin berjongkok, merentangkan kedua tangannya, menangkap tubuh mungil yang melompat ke arahnya. Wajahnya yang biasanya dingin dan tenang kini tampak lembut dan penuh kasih.

"Renji hari ini jadi anak baik nggak?"

"Baik dong! Renji kangen Papa."

"Papa juga kangen Renji."

Arvin mengangkatnya tinggi-tinggi, membuat bocah itu tertawa semakin keras.

Nissa tersenyum, berjalan mendekat, lalu mengelus lembut kepala mungil Renji. "Kak Arvin, tebak deh, hari ini Renji sudah belajar berapa kata baru?"

"Berapa?" Tatapan Arvin hanya tertuju pada anaknya, penuh rasa bangga.

"Dua puluh kata." Nissa memuji dengan senyuman lembut, "Renji ini pintar sekali, nanti pasti jadi anak paling cerdas di kelas."

"Aku seharusnya berterima kasih karena kamu yang mengajarinya dengan baik." Arvin juga merasa anaknya cerdas. Apa pun yang diajarkan selalu bisa dipelajari dengan cepat.

Nissa menunduk sedikit, wajahnya memerah karena malu. "Arvin, kamu nggak perlu terlalu sopan sama aku. Merawat Renji memang sudah jadi tanggung jawabku. Lagi pula, kamu sibuk banget. Aku cuma bantu sedikit."

Kali ini, Arvin akhirnya mengalihkan pandangan dari anaknya ke wajah Nissa. "Terima kasih, Bu Nissa."

Nissa sempat tertegun, lalu segera tersenyum dan menggeleng. "Kenapa kamu sungkan begitu? Ini juga bagian dari pekerjaanku kok."

Dia terdiam sejenak, lalu menatapnya dengan nada sedikit sendu. "Arvin, kamu panggil aku 'Nissa' saja, jangan terlalu formal seperti tadi. Soalnya kalau kamu begitu, aku jadi teringat pada ...."

Ucapannya terputus di tengah kalimat. Raut wajah Arvin pun meredup. Beberapa saat kemudian, barulah dia menjawab singkat, "Baiklah."

Seperti biasa, suasana hatinya cepat berubah. Arvin tersenyum lagi sambil mencubit pipi Renji dengan gemas. "Renji, nanti sore Papa ajak kamu naik kuda, mau nggak?"

"Naik kuda! Aku mau naik kuda!" Anak kecil itu bersorak gembira.

Nissa tersenyum, mencubit pipinya juga. "Wah, hebatnya! Naik kuda itu bagus lho, bisa bikin Renji lebih berani."

Kemudian, dia menjulurkan tangannya. "Sini, Papa sudah capek. Biar Mama Nissa yang gendong ya?"

"Oke, Mama Nissa gendong ...."

Renji langsung melompat ke pelukannya. Ketika Nissa melangkah maju untuk menangkapnya, jarak mereka menjadi sangat dekat, hingga dia bisa mencium wangi bersih dan segar dari tubuh Arvin. Wajahnya memanas, hatinya melembut.

....

Renee tidak suka merepotkan orang lain. Setelah menumpang di rumah Michela, dia mulai mencari tempat tinggal sendiri. Setelah mencari seharian, dia akhirnya menemukan apartemen yang cocok.

Malam itu saat berbaring di tempat tidur, dia merasa sedikit kesepian, tetapi juga luar biasa tenang. Baru saat itu dia sadar, betapa sesaknya hidup bersama Arvin selama ini.

Takut dia kedinginan, takut dia kelaparan, takut dia marah. Hidupnya selalu berputar di sekeliling pria itu, sampai-sampai dia kehilangan dirinya sendiri.

Semua itu karena cinta. Dia rela melakukannya.

Kalau bukan karena Nissa tiba-tiba kembali ke tanah air, mungkin sampai sekarang dia masih terperangkap di dalam lingkaran itu tanpa bisa keluar.

Begitu memikirkan Nissa, hatinya terasa perih lagi. Dia mengambil ponsel, hendak mengirim pesan kepada Rosa untuk menanyakan keadaan Renji. Namun, tiba-tiba muncul pesan dari Michela.

Michela mengirim sebuah foto.

[ Lihat tuh, anakmu si kecil yang tak tahu diri, bahagia banget, 'kan? ]

Renee membuka foto itu. Di dalamnya tampak Arvin dan Nissa bersama Renji di arena berkuda. Renji duduk di atas punggung kuda yang tinggi. Arvin memegang tali kekang dengan satu tangan, tangan satunya lagi memegang lengan mungil anak itu sambil sabar mengajarinya. Nissa berdiri di sisi lain, tampak menyeka keringat di dahi Arvin dengan sapu tangan.

Hati Renee yang sudah sakit sejak awal kembali terkoyak lebih dalam.

Pesan Michela menyusul lagi.

[ Sekarang nggak ada yang bisa diandalkan selain diri sendiri. ]

[ Apa gunanya pria? Anak pun kadang nggak tahu terima kasih. Nggak ada yang pantas kamu perjuangkan. ]

Benar juga. Apa gunanya pria? Apalagi pria yang tidak mencintainya. Sama halnya dengan anak kandung, ibunya, adiknya .... Adakah yang benar-benar menganggapnya keluarga?

Renee mengusap hidung, membalas pesan dengan emotikon senyuman pahit.

[ Kamu benar, cuma diri sendiri yang paling bisa diandalkan. ]

Karena seharian bermain di arena kuda, malamnya Renji tidur nyenyak sekali. Arvin dengan hati-hati meletakkannya di ranjang kecil. Nissa menemaninya, menutup selimut dengan lembut, menyesuaikan suhu ruangan, lalu berdiri menatap Arvin.

"Arvin, sudah malam, kenapa nggak nginap saja di rumah lama?"

Arvin menarik sedikit kerah kemejanya, jelas terlihat kelelahan. Namun, dia hanya menyahut pelan, "Aku pulang sekarang."

Nissa tampak kecewa, tetapi tidak berani memaksa. "Kalau begitu, hati-hati di jalan ya."

"Hmm."

Saat Arvin menuruni tangga, Juwita yang sedang menonton televisi di ruang tamu memanggilnya. "Dengar-dengar si tuli itu mau cerai sama kamu?"

Langkah Arvin terhenti. Dia menoleh, menatap ibunya dengan tajam. "Ibu, dia punya nama. Panggilan itu bisa ditiru Renji nanti."

"Ah, Renji nggak di sini juga," balas Juwita dengan nada kesal. "Lagi pula, kamu saja berani nikah sama si tuli itu, masa dipanggil begitu saja takut?"

"Itu dua hal yang berbeda. Kalau nggak ada urusan lagi, Ibu istirahatlah." Arvin bersiap pergi.

Namun, Juwita kembali bersuara, "Kapan kamu mau urus perceraian itu? Biar Ibu bisa bantu siapkan."

Arvin menoleh lagi. "Siapkan apa?"

"Tentu saja pernikahanmu dengan Nissa." Juwita melirik ke arah kamar anak di lantai dua. "Kamu lihat sendiri 'kan, Renji nempel banget sama Nissa dan Nissa juga sayang banget sama dia. Mereka seperti ibu dan anak."

Melihat wajah Arvin tanpa ekspresi gembira sedikit pun, Juwita kebingungan. "Kenapa? Bukannya kamu paling benci Renee? Sekarang dia sendiri yang minta cerai, harusnya kamu senang dong."

Benar, seharusnya dia senang. Namun, entah kenapa hatinya terasa berat seperti ada yang menekan di dalam dada.

"Arvin, jangan-jangan kamu mulai suka sama si tuli itu?" tanya Juwita dengan nada curiga.

CEO Dingin Menolak Diceraikan Istri Tunarungu

Bab 3
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya