Bab 2
Renee tidak menanyakan ke mana Arvin pergi semalam. Arvin pun tidak memberi tahu apa-apa. Seolah-olah berita utama tentang skandalnya dengan Nissa sama sekali tidak ada hubungannya dengan dirinya yang merupakan menantu sah Keluarga Suryana.
Arvin makan dengan elegan. Sementara Renee merasa makanan di mulutnya hambar. Setelah menelan beberapa suapan dengan susah payah, dia akhirnya berkata, "Pak Arvin, siang ini ada waktu? Kita pergi memilih kue ulang tahun untuk Renji, boleh?"
Renee selalu memanggilnya "Pak Arvin". Itu kebiasaannya sejak awal menikah dan Arvin tidak pernah berusaha mengubahnya.
Arvin tidak mengangkat kepala sedikit pun. "Siang ini aku makan dengan klien. Nggak sempat."
"Kalau sore?" tanya Renee lagi.
Sendok di tangan pria itu terhenti sejenak sebelum akhirnya dia menatap Renee. Mata indahnya tetap sedingin es.
"Kue ulang tahun Renji akan aku suruh orang siapkan. Kamu nggak perlu repot-repot."
"Tapi aku ingin pilih sendiri."
Biasanya Renee sangat penurut, jarang sekali membantah. Namun, kali ini demi ulang tahun anaknya, dia mencoba untuk memperjuangkannya sedikit saja.
Sayangnya, Arvin tidak memberinya kesempatan. Keningnya berkerut.
"Renee, jangan cari masalah."
"Pak Arvin, aku ini ibu Renji."
Tiga tahun menikah, baru kali ini Renee bersikeras pada pendiriannya sendiri. Seperti yang bisa diduga, Arvin menjadi kesal, bahkan selera makannya pun langsung hilang.
Arvin meletakkan sendoknya, mengambil tisu, menyeka sudut bibir, dan berkata dengan datar, "Kalau kamu nggak ada kerjaan, pergilah jalan-jalan atau nonton film. Lakukan apa saja."
Melihat punggung pria itu melangkah pergi, hati Renee terasa seperti diremas. Karena Arvin tidak mau menemaninya, Renee akhirnya pergi sendiri untuk memilih kue ulang tahun Renji.
Dia bukan hanya memilih kue dengan hati-hati, tetapi juga sudah lama menyiapkan hadiah ulang tahun untuk anaknya.
Karena jarang bertemu Renji, Renee tidak tahu apa yang disukai anak itu. Untungnya, Rosa memberitahunya bahwa belakangan ini Renji sedang suka boneka kecil.
Renee lalu menghabiskan waktu sebulan penuh untuk memilih kain yang paling lembut, menjahit sendiri boneka berbulu keriting untuk anaknya. Dia berharap boneka itu bisa menemani Renji tidur setiap malam, menggantikan dirinya.
Sore harinya, Renee membawa kue dan hadiah ke rumah lama Keluarga Suryana. Dari ruang utama, terdengar suara piano yang indah dan lagu ulang tahun yang ceria.
Ketika mendekat, Renee melihat ruang tamu sangat ramai. Nissa duduk di depan piano memainkan lagu ulang tahun, sementara Juwita duduk sambil memeluk Renji di depan kue. Renji pun menepuk tangan mungilnya mengikuti irama.
Arvin duduk di sofa. Wajah dinginnya untuk pertama kali memancarkan senyuman lembut.
Setelah lagu berakhir, Nissa berjongkok di samping Renji dan melambaikan tangan kepada Arvin. "Arvin, cepat sini, kita tiup lilin bersama!"
Renji meniru gerakannya, tertawa ceria sambil melambaikan tangan. "Papa, tiup ... tiup ...."
Arvin tersenyum tipis, lalu bergeser mendekat. Ketiganya meniup lilin di atas kue.
Di bawah cahaya lampu yang hangat, mereka tampak seperti keluarga kecil yang bahagia.
Renee menggenggam erat kue dan boneka di tangannya. Dadanya terasa sesak. Jelas-jelas dia adalah ibu kandung Renji. Seharusnya dia yang berdiri di sana menemani anaknya meniup lilin, bukan Nissa.
Tiba-tiba, seseorang berkata, "Renee datang."
Semua orang di sofa menoleh. Juwita langsung memasang ekspresi dingin dan bertanya dengan galak, "Kamu ke sini buat apa?"
Renee menahan perasaan terhinanya, melangkah masuk sambil menyahut dengan lembut, "Ibu, hari ini ulang tahun Renji. Aku ingin menemaninya."
"Renji sudah ditemani gurunya, kamu nggak perlu datang."
Guru? Renee menatap Arvin dengan bingung. Arvin menatap balik dengan wajah tenang dan sempurna. Di bawah cahaya, wajah itu tampak seperti dewa yang tak tersentuh. Namun, matanya tetap dingin tanpa emosi.
Seandainya dia tidak melihat sendiri bagaimana pria itu tadi tersenyum lembut pada Nissa dan Renji, dia mungkin akan mengira Arvin memang tidak bisa tersenyum.
Pria itu bangkit dan berjalan mendekat. Kalimatnya datar, entah itu adalah pengumuman atau penjelasan. "Nissa menguasai banyak bahasa asing dan juga belajar ilmu pendidikan anak. Kebetulan Renji sedang belajar bicara, jadi Ibu mempekerjakannya sebagai guru bahasa Renji."
Renee tertegun. Kepalanya berdengung. Nissa yang kuliah di bidang musik, belajar ilmu pendidikan anak? Bahkan orang bodoh pun bisa menebak, itu demi bisa masuk ke Keluarga Suryana.
Renee memang pernah takut Nissa akan merebut Arvin, tetapi tidak pernah terpikir kalau jalan masuknya akan melalui anaknya sendiri.
Nissa berjalan ke sisi Arvin, lalu mengulurkan tangan dan tersenyum. "Tenang saja, aku pasti akan menjaga dan mengajar Renji dengan baik."
Renee memandangi tangan yang terulur itu, lalu menatap wajah cantik yang tersenyum lembut di depannya. Wanita ini memang sangat cantik, lebih memesona daripada saat di televisi.
Berdiri di sisi Arvin, keduanya tampak serasi, bagaikan pasangan yang diciptakan untuk bersama.
Renee menggigit bibir dan memandang Arvin dengan tegas. "Boleh aku menolak? Aku juga bisa enam bahasa, aku juga belajar ilmu pendidikan anak. Aku bisa mengajari Renji."
"Apa hakmu untuk menolak?" Juwita tiba-tiba berdiri dari sofa, menatapnya dengan dingin. "Renee, jangan lupa, meskipun kamu hebat, kamu tetap tuli. Aku nggak akan menyerahkan calon pewaris Keluarga Suryana padamu."
Renee tahu sejak awal ibu mertuanya tidak menyukainya. Dia tidak ingin berdebat.
Matanya menatap wajah tampan Arvin penuh harap. Namun, pria itu hanya berkata dengan nada datar, "Tanya saja Renji, apa dia mau sama kamu?"
Renee menoleh ke arah anak kecil itu. Renji bersembunyi di belakang Nissa, hanya kepala mungilnya yang tampak. Dia menatap Renee dengan penasaran.
Renee mengeluarkan boneka keriting dari tasnya, berjongkok sambil tersenyum lembut. "Renji, ini Mama. Lihat, ini hadiah ulang tahun yang Mama buat sendiri untukmu."
Renji memegangi rok Nissa, menggeleng kuat-kuat. "Nggak mau Mama ... maunya Mama Nissa ...."
Mama Nissa .... Ternyata Nissa bukan hanya guru bahasa, tetapi juga ibu angkat anaknya. Hati Renee yang sudah dingin seketika membeku.
Nissa berjongkok sambil memeluk Renji. Suaranya lembut. "Renji, mamamu juga sangat sayang kamu. Nggak boleh bilang nggak mau mama ya? Lihat, ini boneka dari mamamu. Cantik sekali, 'kan?"
Nissa mengambil boneka dari tangan Renee dan menyerahkannya kepada Renji.
Anak kecil itu menatap boneka sebentar, lalu melemparkannya ke lantai. "Nggak mau ... jelek ...."
Kemudian, dia berlari kembali ke sofa, memeluk boneka baru, dan berseru manja, "Mama Nissa ... suka!"
Kata-katanya masih belum terlalu jelas, tetapi Renee mengerti. Renji lebih menyukai boneka dari Nissa.
Melihat itu, Juwita tersenyum sinis. "Renji memang punya selera bagus. Boneka dari mama angkatnya itu barang edisi khusus, lebih layak disimpan."
Wajah Renee pucat pasi.
Nissa menggenggam lembut tangan Renee yang gemetar dan berucap, "Jangan sedih. Anak kecil belum tahu mana yang benar dan salah. Kalau nanti sudah besar, dia pasti akan mengerti arti kata 'Mama'."
Ya ... anak dua tahun mana mungkin tahu mana yang benar atau salah, tetapi mereka belajar dari orang di sekitarnya. Orang-orang di sekitarnya pun jelas sengaja mengajarinya begitu.
Bab 3
"Nyonya, Tuan ... makan malam sudah siap." Seorang pelayan keluar dari dapur dan berbicara dengan hormat.
Juwita bangkit dari sofa. "Ayo makan, Renji pasti sudah lapar."
"Renji mau bawa beruang makan." Renji memeluk boneka beruang yang dibuat secara khusus itu, tertawa riang.
"Baiklah, Bu Guru ajak Renji dan beruang makan bareng ya?" Nissa tersenyum, menggendong Renji, lalu menatap Renee dengan sopan. "Bu Renee, aku bawa Renji makan dulu."
Semua orang menuju ruang makan. Renee menggenggam boneka buatan tangannya, merasa kebingungan. Padahal dia adalah Nyonya Muda Keluarga Suryana, tetapi dia selalu dikucilkan dan diabaikan.
Kue dan boneka di tangannya jatuh ke lantai. Renee melangkah mundur, berniat meninggalkan rumah besar yang tanpa kehangatan itu.
Namun, pergelangan tangannya ditahan oleh Arvin. Dia lantas menatap Arvin. Mata pria itu memancarkan ketegasan. "Makan."
Renee melirik ke arah meja makan. Tempat duduk yang seharusnya miliknya, kini diduduki oleh Nissa. Tanpa suara, dia menarik tangannya dari genggaman Arvin.
"Aku nggak mau ganggu kalian sekeluarga lagi." Usai berbicara, dia berjalan pergi tanpa menoleh.
"Renee!" Arvin mengernyit melihat punggung istrinya. Perempuan ini sekarang sudah berani membantahnya?
"Nggak usah pedulikan dia," ujar Juwita sambil melirik ke arah pintu. "Wanita bodoh dan cacat begitu memang seharusnya nggak dibiarkan masuk ke rumah."
"Benar, Kak," tambah Felicia, adik perempuan Arvin. "Perempuan yang pakai tipu muslihat buat menikah ke keluarga kita cuma nurunin derajat Keluarga Suryana kalau makan bareng kita."
Arvin memang tidak menyukai Renee. Namun, seekor anjing pun tidak pantas dipukul di depan majikannya. Dengan nada dingin, dia membalas, "Terus, aku ini apa? Setiap hari aku makan bareng dia, berarti aku juga menurunkan derajat keluarga?"
"Uh ...." Felicia terdiam, buru-buru mengoreksi. "Kak, hubungan kalian 'kan cuma sementara saja. Setelah kalian cerai nanti ...."
"Diam." Nada suara Arvin menjadi dingin. "Jangan pernah bicara seperti itu di depan Renji lagi."
"Diam ... hihihi ...." Renji menirukan ayahnya sambil tertawa.
....
Di luar, langit sudah gelap. Malam lembap dan dingin. Renee memeluk dirinya sendiri, berjalan sendirian di halaman rumah Keluarga Suryana. Air mata menggenang di pelupuk matanya. Dia menahan diri untuk tidak menangis.
Dia tahu semua ini juga salahnya. Dia tidak pantas menangis. Satu-satunya yang bisa dia lakukan adalah mencari jalan keluar. Namun, di mana jalan keluarnya?
Saat melewati hutan kecil, seberkas cahaya kuning dari lampu mobil menyorot dari belakang. Tak lama kemudian, mobil Rolls-Royce yang dikenalnya berhenti di sisinya.
Jendela terbuka sedikit, memperlihatkan wajah tampan dan dingin Arvin. "Naik."
Renee sudah terbiasa dengan nada perintahnya. Dia bisa saja menolak, tetapi entah kenapa dia akhirnya tetap masuk ke mobil.
Yang mengejutkan, Nissa tidak ada di dalam. Arvin duduk di kursi belakang, tampak tenang dan berwibawa, bersandar dengan santai. Arvin tidak berbicara, hanya menatapnya. Renee lantas menunduk, menghindari tatapannya.
"Kamu marah sampai nggak mau anakmu sendiri?" Pertanyaan retoris itu keluar dari bibir Arvin.
Renee menggigit bibir, menahan emosi, lalu mendongak dan menatapnya. "Pak Arvin, kamu suka Nissa, 'kan?"
Tatapan Arvin menjadi serius. "Kamu mau bilang apa?"
"Kalau kamu suka dia, ceraikan aku dan nikahi dia. Aku setuju."
"Dengan syarat?" Nada suaranya datar, tetapi mengandung kemarahan halus.
"Syaratnya, biarkan aku menemani Renji tumbuh besar. Biar aku yang pilih guru lesnya. Tenang saja, aku nggak akan rebut hak asuhnya darimu."
Renee mengatakannya dengan tenang, tetapi Arvin malah tertawa sinis. "Strategi mundur untuk maju ya? Cerdik juga perhitunganmu."
"Aku nggak bermaksud begitu." Renee buru-buru membantah, suaranya bergetar. "Aku cuma nggak mau Renji tumbuh dalam lingkungan yang membuatnya membenci ibu kandungnya. Dia masih kecil, belum tahu mana yang benar dan salah. Aku cuma ingin dia tahu ibunya nggak bersalah hanya karena tuli."
"Arvin, Renji itu kulahirkan dengan nyawaku." Matanya memerah, suaranya serak.
Dia teringat hari kelahiran Renji. Juwita tahu posisi bayinya sungsang, tetapi tetap memaksa dokter untuk melahirkan normal. Saat dia kehilangan banyak darah, Juwita bahkan berkata, "Selamatkan anaknya saja."
Kalau bukan karena nasibnya bagus, mungkin dia sudah mati di meja operasi. Namun, Arvin tidak tahu itu. Karena ibunya sengaja mengusirnya keluar kota tepat sebelum hari kelahiran. Saat Arvin kembali, semuanya sudah baik-baik saja.
Arvin memang tidak menginginkan anak itu, tetapi begitu melihat Renji, rasa bangga sebagai ayah membuat hatinya melembut. Bahkan dia mentransfer 10 miliar ke rekening Renee sebagai bonus.
Faktanya, setelah pernikahan, senyuman hanya pernah muncul di wajah Arvin saat pertama kali melihat Renji. Selain itu, mereka seperti orang asing.
"Renee, apa aku yang menyuruhmu melahirkan Renji?" Arvin menatapnya dengan dingin.
Renee terdiam. Benar, Renji lahir karena dia sendiri yang bersikeras. Saat tahu dirinya hamil, Arvin langsung menyuruhnya menggugurkan kandungan. Namun, dia memohon dan menangis, hingga akhirnya anak itu lahir.
Suasana di dalam mobil membeku. Tiba-tiba, ponsel Arvin berdering. Dia mengangkatnya. Panggilan video dari Nissa.
"Arvin, Renee nggak apa-apa, 'kan? Sudah kamu jemput?"
"Hmm," gumam Arvin dengan nada datar.
"Syukurlah. Kalau begitu, istirahatlah lebih awal."
"Renji sudah tidur?"
Begitu nama Renji disebut, Nissa langsung tersenyum hangat. "Baru saja tidur. Tadi dia bilang kangen papanya, mau tidur bareng papanya."
Begitu suara Nissa berhenti, terdengar suara lembut Renji. "Mama Nissa ... gendong ...."
"Oke, Mama gendong ya." Nada Nissa lembut, manis, seperti madu yang menetes.
Renee menatap layar ponsel, melihat Nissa memeluk Renji dengan penuh kasih. Pemandangan itu membuat hatinya seperti diremas.
Mobil berhenti di depan vila. Renee turun, berlari ke lantai dua. Sambil bersandar di pintu kamar, dia perlahan terduduk sambil menangis.
Dia hanya ingin memeluk anaknya, hanya ingin bersamanya sebentar saja. Namun, kenapa itu terasa mustahil? Kapan pernikahan ini akan berakhir?
Renee menatap foto pernikahan di dinding. Pria tampan yang dingin, gadis muda yang tampak hati-hati. Itu bukan potret bahagia, melainkan belenggu.
Dia berdiri, meraih bingkai itu, dan menghantamkannya ke lantai. Brak! Bingkai kaca pecah. Di wajah dua orang yang memang tidak cocok itu, muncul retakan.
Arvin yang mendengar suara itu masuk ke kamar. Melihat Renee yang biasanya lembut, kini menghancurkan foto pernikahan, dia sempat tertegun, lalu dengan marah mencengkeram pergelangan tangannya.
"Renee, apa maksudmu ini? Kamu nggak mau tinggal di sini lagi?"
"Arvin, aku mau cerai!" Renee menatapnya dengan air mata mengalir, tetapi kali ini matanya penuh tekad. "Aku sudah muak! Aku nggak mau hidup tanpa harga diri lagi! Aku mau cerai dan aku nggak bercanda soal ini!"
Bab 4
Di bawah cahaya lampu putih yang menyilaukan, wajah tampan Arvin tampak jelas menegang seperti diselimuti es. Jari-jarinya yang panjang berpindah dari pergelangan tangan Renee ke dagunya, menekan sedikit demi sedikit.
"Renee, menurutmu pernikahan ini permainan anak-anak? Mau nikah tinggal nikah, mau cerai tinggal cerai? Atau kamu pikir aku ini boneka yang bisa kamu kendalikan sesuka hati?"
"Yang bilang mau nikah itu kamu, yang bilang mau cerai juga kamu. Dari mana datangnya kepercayaan diri bahwa aku akan selalu menuruti semua keinginanmu?"
"Aku ...." Dagu Renee terasa nyeri. Air matanya menetes jatuh satu per satu. Dia menahan sakit dan berkata dengan suara terisak, "Memang dulu salahku. Aku pikir setelah menikah, lambat laun kita bisa menumbuhkan perasaan itu. Aku nggak nyangka ...."
"Nggak nyangka apa? Nggak nyangka kamu bakal muak secepat ini? Sudah nggak mau hidup bersamaku lagi?"
"Ya, aku sudah muak."
Tatapan pria itu mengerikan, tetapi Renee tetap menegakkan lehernya, mencoba membela diri. Arvin tiba-tiba marah. Tangannya yang mencengkeram dagunya langsung mendorong Renee ke tempat tidur. Tubuhnya yang tinggi menindih Renee, lalu dia mencium bibirnya dengan kasar.
Ciuman itu penuh kemarahan. Matanya dingin bagai kolam beku. Renee menolak mati-matian, tetapi tetap tak bisa melawannya. Sudah tiga tahun menikah. Arvin sudah sangat mengenal tubuhnya dan dengan mudah membuatnya lemas tak berdaya.
Renee malu dan marah. Dia menendang Arvin, tetapi kakinya segera ditangkap. Jemari pria itu perlahan menelusuri sepanjang kain rok.
Arvin melepaskan bibirnya. Suaranya yang berat dan dingin itu berbisik di telinga Renee. "Renee, kalau kamu berani menyebut kata cerai lagi, aku pastikan kamu akan menyesal seumur hidup."
Renee menahan tangis, tubuhnya gemetar kesakitan. Arvin mencabut alat bantu dengarnya, lalu membiarkan mereka tenggelam dalam malam itu.
Tiga tahun pernikahan, Arvin tak pernah benar-benar menatapnya dengan cinta. Namun, hanya di ranjanglah Renee bisa merasa dirinya seperti seorang istri.
Setelah semua reda, Renee terbaring di atas tempat tidur besar. Matanya menatap wajah pria itu. Sejak kecil Arvin memang tampan. Di setiap pesta atau acara, dialah yang selalu menjadi pusat perhatian.
Sementara Renee hanyalah "itik buruk rupa" dengan kekurangan pendengaran, yang hanya berani bersembunyi di sudut, menatap para wanita yang bisa bercakap bebas dengan Arvin, dengan hati yang diliputi kecemburuan.
Saat pikirannya melayang, pria itu bangkit, berpakaian rapi, bersiap pergi seperti biasanya. Ketika melewati bingkai foto pernikahan yang pecah, langkahnya terhenti sejenak. Kemudian, dia berkata dengan dingin, "Rekatkan kembali."
Renee terdiam, air matanya mengalir lagi. Dia tahu, ini hanyalah satu lagi perlawanan yang sia-sia.
Namun kali ini, dia tidak ingin menyerah lagi. Dia ingin pergi dari sini.
Renee bangkit, mengenakan pakaiannya. Sama seperti Arvin, dia melangkah pergi tanpa sedikit pun menoleh pada pecahan kaca itu.
Renee tidak punya banyak teman. Keluarganya pun tidak bisa diandalkan. Satu-satunya orang yang bisa dia cari hanyalah sahabatnya, Michela.
Michela tentu saja sudah melihat berita beberapa hari terakhir. Dia memutar matanya dengan kesal. "Kamu seharusnya meninggalkan laki-laki berengsek itu sejak awal!"
"Aku cuma belum bisa melepas Renji." Renee tahu dirinya hidup tanpa martabat, tetapi dalam posisinya, semua terasa sulit.
"Untuk apa kamu susah-susah memikirkan Renji? Dia cucu sulung Keluarga Suryana, sudah hidup penuh kemewahan. Apa dia kekurangan makan? Kekurangan kasih sayang? Nggak, 'kan? Nissa memang licik, tapi demi menyenangkan Arvin, dia nggak akan sebodoh itu sampai menyakiti anak kecil."
"Selama Renji bisa tumbuh bahagia, kamu nggak perlu peduli siapa yang dia panggil mama. Kalau kamu suka anak-anak, kamu bisa menikah lagi dan punya anak sendiri. Jangan sia-siakan seluruh hidupmu demi bocah kecil yang bahkan belum tahu apa-apa."
"Renji bukan bocah tak tahu terima kasih, dia baru tiga tahun. Dia nggak mengerti apa pun." Renee langsung membela anaknya.
"Terus, apa gunanya? Kamu bisa bawa dia pergi? Atau pengorbananmu bisa bikin Arvin berubah?"
"Aku tahu nggak bisa. Makanya aku ke sini, mau numpang tinggal di tempatmu." Renee tersenyum lemah.
"Tenang saja, kamu boleh tinggal di sini sesukamu. Aku nggak bisa menafkahi diriku sendiri, tapi bisa menafkahimu." Michela menepuk dada dengan bangga. Dia memang terbiasa hidup boros, tetapi Renee sejak kecil terbiasa hidup hemat, jadi menafkahinya sama sekali bukan hal sulit.
"Omong-omong, setelah cerai kamu bakal balik kerja di studio, 'kan? Aku sudah lama nunggu kamu balik."
Dulu, mereka berdua mendirikan Studio RH. Waktu itu, Renee sangat bersemangat dan penuh keyakinan. Kalau bukan karena pernikahan mendadak dan statusnya sebagai Nyonya Suryana, dia tidak akan berhenti di tengah jalan.
Selama ini studio masih bisa bertahan karena kerja keras Michela. Renee sungguh terharu karena sahabatnya tak pernah menyingkirkannya.
"Terima kasih, Michela." Air mata menggenang di pelupuk matanya. Hanya di pekerjaannya, Renee merasa dirinya masih berguna dan masih hidup.
....
Tiga hari kemudian, setelah urusan bisnis di luar kota, Arvin kembali. Mobilnya berhenti di depan vila. Dia memijat pelipis dengan lelah. Begitu melihat rumah yang gelap gulita, alisnya berkerut. Renee takut gelap. Biasanya meskipun tidur, dia tetap menyalakan lampu ruang tamu dan kamar.
Namun, Arvin tidak terlalu memikirkannya. Begitu turun dari mobil, dia menyalakan lampu satu per satu hingga sampai di kamar utama. Sambil melangkah pelan, dia membuka pintu. Kamar itu kosong.
Cahaya bulan menembus jendela, memantul di pecahan kaca yang berserakan di lantai. Saat lampu dinyalakan, dia baru sadar itu adalah pecahan bingkai foto pernikahan.
Renee bukan hanya tidak menempelkan ulang foto itu, bahkan tidak memungut pecahannya. Jadi, tiga hari ini dia tidak tinggal di rumah?
Arvin mengerutkan kening, lalu matanya menangkap map di meja tamu. Dia mengambilnya. Begitu membaca tulisan di sampulnya, ekspresinya berubah perlahan. Surat perjanjian cerai.
Renee ingin bercerai? Arvin sulit memercayainya. Dia menatap tanda tangan di bawah. Benar, itu adalah tulisan tangan Renee.
Arvin tidak pernah sekaget ini. Kemudian, dia tersenyum dingin. Dia lebih percaya bumi meledak daripada percaya Renee berani menceraikannya.
Dulu demi menikah dengannya, perempuan itu sudah melakukan segalanya, bahkan melahirkan anaknya. Mana mungkin sekarang rela melepaskannya?
Wanita ini semakin pandai bermain peran. Cerai? Kabur dari rumah? Mari kita lihat, berapa lama dia bisa bertahan.
Arvin meremas surat perjanjian cerai itu, melemparnya ke tong sampah, lalu masuk ke kamar mandi untuk mandi seperti biasa.
Selama ini Arvin hidup teratur dan hanya Renee yang tahu ritmenya dengan tepat. Ketika dia bangun, pakaiannya sudah disiapkan dan disetrika. Ketika dia turun, sarapannya sudah terhidang. Ketika dia hendak pergi, tas kerjanya sudah diserahkan ke tangannya.
Semua itu tampak sepele, tetapi tidak semua orang bisa melakukannya dengan tepat dan sabar. Mungkin karena itulah Arvin sering merasa Renee lebih seperti pengasuh daripada istri.
Hari itu, ketika Arvin bangun, tak ada baju di kursinya. Dia turun ke lantai bawah. Pembantu yang bernama Gina pun terlihat bingung.
"Tuan bangun sepagi ini? Saya masih mikir mau buat sarapan apa ...."
Arvin menatap jam di dinding, alisnya berkerut.
Gina buru-buru menunduk. "Maaf, Tuan. Saya sudah coba menelepon Nyonya, tapi nggak diangkat. Saya ... saya langsung buatkan mie saja ya?"
"Nggak usah," jawab Arvin dengan nada datar, lalu melangkah keluar.
Gina merasa bersalah. Biasanya semua urusan makan dan kebutuhan Arvin diurus oleh Renee. Karena Renee hampir tak pernah keluar rumah, mereka semua sangat bergantung padanya.
Siapa sangka, istri yang selama ini begitu penurut dan lembut itu ternyata juga bisa meninggalkan rumah.