Bab 4

Tiba-tiba Tama terdiam membisu.

Alex.

Itulah nama yang dulu Tama siapkan untuk anak mereka berdua.

Winda pernah melihatnya di catatan memo milik Tama. Entah anak laki-laki atau perempuan, Tama menuliskan nama itu sendiri sebagai sebuah doa.

Sebuah doa agar sang anak kelak memiliki keteguhan hati dan berbudi luhur.

Namun kini, nama itu justru diberikan pada anak Sania.

"Lina." Winda akhirnya angkat bicara. "Nama anakku Lina."

Jakun Tama bergerak, sorot matanya yang tegang sedikit melunak, suaranya kembali terdengar lembut seperti biasanya.

"Nama yang sangat indah. Hangat seperti matahari dan bisa selalu menemani ibunya."

Tama mengulurkan tangan, hendak membelai rambut Winda. "Winda, aku harus dinas beberapa hari. Setelah pulang, kita akan…"

"Hmm, kerjaan lebih penting."

Winda sudah terlalu lelah untuk melanjutkan percakapan. Ia memotong pembicaraan Tama dan langsung beranjak pergi.

Begitu sampai di rumah dan baru saja menidurkan Lina, ponselnya langsung berbunyi. Sebuah notifikasi status dari Sania, dengan foto tiga tangan yang saling menggenggam.

Di genggaman tangan mungil Alex, tergenggam erat sebuah kunci mobil.

Mobil seharga sepuluh miliar, Tama berikan itu pada anak haramnya untuk dijadikan mainan.

Padahal minggu lalu, Winda sudah tiga kali mengingatkan, tetapi Tama tetap saja lupa membeli popok impor untuk putri mereka.

Winda menatap layar lalu tertawa kecil, diam-diam menyimpan tangkapan layar itu ke dalam folder bukti.

Di pelukannya, Lina mencecap bibir mungilnya, bulu matanya yang panjang memantulkan bagai kipas kecil di bawah cahaya lampu. Winda menunduk dan mencium pipi lembut putrinya.

"Sayang, Ibu akan melindungimu."

Keesokan harinya, setelah menghabisi semua sumber daya dan saham yang dimilikinya, Winda langsung memesan tiket pesawat ke Kota Dantara untuk tiga hari kemudian.

Sejak menyadari kecurigaan Winda tempo hari, beberapa hari ini Tama hampir tiap jam mengiriminya pesan.

[Sayang, klien hari ini benar-benar merepotkan, untung saja bisa aku atasi.]

[Sayang, kamu pasti capek ya. Biskuit di Kota Nautam enak sekali, nanti aku ajak kamu ke sana.]

Tama mungkin tidak tahu bahwa setiap bonus proyek yang diam-diam dia transfer ke rekening Sania, semuanya jelas-jelas tercatat di email Winda.

Lebih-lebih, ketika Tama sibuk memainkan citra suami penyayang, Sania justru menggunakan uang itu untuk pamer di media sosial, memamerkan uang yang diselipkan ke bra, serta jejak ciuman mesra di sekujur tubuhnya.

Winda menatap ponselnya dan tersenyum getir.

Dulu, Tama pun pernah memujanya setinggi langit.

Mereka adalah sepasang kekasih masa kecil yang membuat banyak orang iri. Di bawah pohon beringin, dengan wajah merah, Tama pernah berjanji tak akan menikah dengan siapa pun selain Winda.

Saat kuliah, diam-diam Tama mengusir semua pria yang mendekati Winda, posesif seperti serigala yang menjaga mangsanya.

Saat Winda menjalani operasi usus buntu, Tama berjaga di rumah sakit selama tiga hari tiga malam tanpa tidur.

Penghasilan pertama Tama, tanpa dikurangi sedikit pun, semuanya dia transfer ke rekening Winda, dengan catatan: [Untuk putri kecilku.]

Tiba-tiba, dari kamar bayi terdengar tangisan memilukan. Sang pengasuh berlari keluar dengan panik, tangannya berlumuran darah.

"Nyonya, ini gawat! Entah apa yang menggores pahanya, darahnya nggak bisa berhenti! Cepat kemari!"

Jantung Winda seakan berhenti berdetak sejenak.

Dia segera berlari masuk dan menggendong Lina. Tangisan si kecil sudah mereda, tetapi luka di pahanya masih terus mengeluarkan darah.

Dia, seperti orang gila, menggendong putrinya dan bergegas ke rumah sakit.

Setelah pemeriksaan, dokter memberitahunya dengan membawa laporan, "Ini adalah gangguan pembekuan darah. Kadar hemoglobinnya terlalu rendah, harus segera ditransfusi."

Bibir Winda gemetar saat berujar, "Dokter, ambil saja darahku! Aku ibunya…"

"Orang tua nggak bisa langsung mendonorkan darah ke anaknya," kata dokter dengan suara berat. "Apalagi putri Anda bergolongan darah RH-negatif. Kami harus mengecek stok di bank darah dulu."

"Pakai koagulan, cepat!"

Dia hampir berteriak saat mengatakannya.

Namun, setelah koagulan disuntikkan, darah dari lukanya tetap mengalir tak terbendung. Winda memeluk putrinya yang sudah pucat pasi, air mata Winda bercucuran tak terbendung.

Belasan menit kemudian, seorang perawat bergegas masuk dengan ekspresi iba. "Bu Winda, stok darah RH negatif… sudah dialihkan semuanya."

Winda mendongak, mata merah. "Barusan kalian bilang masih ada stok di bank darah, kenapa sekarang tiba-tiba dialihkan?"

Perawat itu menggigit bibirnya, lalu berbicara dengan suara sangat pelan, "Kami ini rumah sakit swasta. Tadi putra Pak Tama, pemegang saham terbesar, butuh transfusi darurat. Direktur langsung memerintahkan semua stok darah langka di bank darah dialihkan ke ruang VIP."

Kalimat itu terasa seperti tamparan telak, menghancurkan sisa-sisa kewarasan Winda.

Dia baru hendak menelepon Tama untuk menuntut penjelasan, tetapi ponselnya justru menampilkan unggahan baru dari Sania di status WhatsApp.

[Bocah nakal lututnya lecet ya? Untung kamu punya ayah yang hebat, dalam sekejap bisa mengalihkan semua stok darah langka paling berharga di kota ini untukmu.]

Winda merasakan darahnya mendidih. Dia menyerahkan Lina dengan hati-hati kepada perawat, lalu berbalik dan bergegas menuju ruang VIP di lantai paling atas.

Pintu kamar VIP lantai atas terbuka dengan satu tendangan dari Winda. Di dalam, Sania sedang duduk di pinggir ranjang, menemani Alex bermain game.

Luka lecet di lutut anak itu sangat kecil, hingga menggunakan plester pun terasa berlebihan.

Adegan itu bagai pisau dingin yang menghujam dalam ke hati Winda.

Menatap ibu-anak yang sedang berbahagia itu di hadapannya, Winda merasakan kebencian di dadanya hampir menelannya. Dia tak kuasa lagi menahan diri dan berteriak, "Berikan darah itu pada putriku!"

Bab 5

Saat ini Tama tidak ada di tempat, jadi Sania pun malas berpura-pura lagi. Raut wajahnya memancarkan keangkuhan.

"Kenapa begitu? Apa kamu buta? Anakku terluka parah!"

"Lututnya cuma lecet sedikit, tapi anakku punya gangguan pembekuan darah. Kalau terus ditunda, nyawanya bisa melayang!"

Winda bicara dengan suara nyaris menangis.

Mendengar suara ribut, dokter yang ada di luar pun masuk. Suaranya terdengar ragu-ragu saat bertanya, "Ada apa ini? Kalau stok darah masih cukup, apa bisa dibagi sedikit untuk anak ibu ini?"

Winda seperti menemukan secercah harapan. Dia buru-buru mendongak menatap dokter itu, suaranya gemetar tak terkendali.

"Tolong, Dokter! Putriku sangat butuh darah RH negatif sekarang. Kalau terus ditunda…"

"Dokter." Sania mencibir, langsung menyela sambil melirik sinis. "Suamiku adalah pemegang saham besar di rumah sakit ini. Kamu pasti tahu 'kan?"

"Barusan dia sudah bilang kalau semua darah RH negatif harus diprioritaskan untuk anakku. Apa kamu sudah nggak butuh pekerjaanmu lagi?"

Perkataan itu membuat Winda benar-benar hancur.

Dia tiba-tiba menerjang ke depan, meraih kantong darah merah segar yang tergantung di tiang infus.

"Berani-beraninya kamu merebut darah anakku!"

Sania menjerit sambil mengentakkan kaki. "Satpam! Cepat panggil satpam! Perempuan gila ini mau merampas darah penyelamat anakku!"

Tak lama, beberapa satpam datang dan langsung membekuk tangan Winda.

Melihat itu, Sania seperti merak yang memamerkan bulunya. Dia buru-buru merebut kembali kantong darah itu, lalu berteriak pada satpam, "Perempuan jalang ini mencuri darah penyelamat anakku! Cepat seret dia pergi dari sini!"

Winda diseret keluar dari ruang perawatan. Amarah di dadanya begitu membara, hampir membakar tenggorokannya.

"Darah di rumah sakit ini sebenarnya cukup, tapi dia sengaja ingin memonopoli semuanya! Aku akan telepon Tama sekarang!"

Direktur rumah sakit yang kebetulan mendengar kalimat itu langsung mengerutkan kening. "Tunggu, sebenarnya siapa di antara kalian yang merupakan istri Pak Tama?"

Detik berikutnya, Sania mengangkat ponselnya, memperlihatkan akta nikah digital di depan direktur.

"Lihat baik-baik! Akulah istri sah Pak Tama, tercatat di Kantor Catatan Sipil! Putraku, Alex, adalah anak kandungnya!"

Dari sudut matanya, dia menyapu Winda dengan tatapan penuh kebencian. "Sedangkan anak perempuannya itu cuma anak haram yang nggak bisa diakui di depan umum."

Begitu kata-kata itu terucap, para pasien yang lewat di lorong langsung berkerumun. Suara bisik-bisik mereka menusuk seperti jarum.

"Astaga, selingkuhan bisa segini sombongnya? Masih berani berebut darah anak dari istri sah?"

"Putri dari orang semacam itu mending mati saja!"

Hati Winda seperti diremas. Membayangkan wajah pucat putrinya di ruang gawat darurat, lututnya lemas dan tanpa sadar dia berlutut di depan Sania.

"Aku mohon. Selamatkan anakku…"

Bisikan di sekitar seketika berhenti, semua mata tertuju pada adegan yang tidak masuk akal ini.

Namun, Sania bahkan tak melirik sedikit pun. Dengan tenang, dia menekan nomor Tama.

Begitu telepon tersambung, suaranya berubah menjadi penuh keluhan. "Tama, cepat kembali dan selamatkan Alex. Nona Winda ini, karena benci padaku, malah ingin merebut darah Alex. Ini sama saja dengan membunuhku dan anakku!"

"Tama!"

Winda memberontak melepaskan diri dari cengkeraman satpam, lalu berteriak ke gagang telepon, "Lina terluka. Dia punya gangguan pembekuan darah dan harus segera ditransfusi! Tolong minta rumah sakit untuk memberikan sebagian stok darah mereka pada kami, atau nyawanya nggak akan tertolong!"

Di seberang telepon, ada keheningan sejenak sebelum suara Tama akhirnya terdengar, seperti menahan kesal.

"Winda, darah itu sudah aku suruh alihkan untuk Alex. Sekarang dia membutuhkannya. Jangan buat keributan dan mengganggunya. Bayi yang baru sebulan lahir butuh darah sebanyak apa sih!"

Winda berteriak sampai suaranya serak, "Alex cuma lecet di lututnya, sedangkan Lina masih di ruang gawat darurat menunggu pertolongan!"

"Aku tanya sekali lagi, putrimu sekarang kritis. Apa kamu akan mengatur transfusi darah untuknya atau nggak?"

Hanya suara dengung statis yang mengisi telepon. Setelah beberapa saat, suara Tama terdengar lagi, pelan, tetapi penuh curiga.

"Anak yang baru lahir dari mana mungkin punya gangguan pembekuan darah? Winda, kamu bahkan mau mengutuk anak kandungmu sendiri?"

"Tama!"

Air mata Winda langsung mengucur deras. "Darah dagingmu sendiri hampir mati! Apa kamu benar-benar nggak mengerti bahasa manusia?"

Direktur rumah sakit di sampingnya tiba-tiba mendekatkan diri ke telepon, berkata dengan nada menjilat, "Pak Tama, apa kami harus mengurus wanita ini? Sepertinya kondisi mentalnya terganggu. Dia terus saja mengaku sebagai istri Anda…"

Hening lagi sejenak. Kemudian suaranya terdengar dingin seperti es.

"Istriku adalah Sania. Dia sedang merawat putra kami, Alex."

"Aku… nggak punya anak perempuan."

Orang-orang seakan menghela napas lega. Tatapan mereka pada Winda dipenuhi rasa jijik, seperti sedang melihat orang gila.

Sania tiba-tiba menyunggingkan senyum sinis. Di hadapan Winda, dia melemparkan kantong darah RH negatif itu ke lantai dengan keras.

"Anak haram yang kamu lahirkan, pantas pakai darah ini?"

Dengan tumit sepatunya, dia menginjak genangan darah itu, kata-katanya tajam dan beracun. "Sekalipun aku harus memberikannya pada seekor anjing, tetap nggak akan kuberikan padamu."

Saat ini, Winda merasa jantungnya hancur remuk, bahkan bernapas pun terasa menyakitkan.

Pintu ruang perawatan ditutup dengan keras, mengisolasi dari segala hal di luar.

Dengan langkah gontai, Winda kembali ke sisi tempat tidur Lina. Dia memeluk tubuh dingin putrinya. Air mata berderai tanpa henti, membasahi pipi pucat sang buah hati.

Saat keputusasaan perlahan-lahan mulai menenggelamkannya, layar ponselnya menyala.

Sania kembali memposting status di WhatsApp.

Dalam foto, Sania sedang menggendong Alex dengan senyum cerah, disertai tangkapan layar transfer dari Tama dengan keterangan: [Rawat anak kita dengan baik.]

Winda menatap foto itu, darah di seluruh tubuhnya seakan membeku. Napas Lina dalam pelukannya juga makin lemah.

Tepat pada saat itu, suara laki-laki yang tenang tiba-tiba terdengar di pintu.

"Halo, golongan darahku RH negatif. Aku bisa melakukan transfusi darah untuk putrimu."

Bab 6

Berkat kebaikan hati seorang donatur yang rela mendonorkan 400cc darahnya, nyawa buah hati Winda akhirnya bisa diselamatkan.

Sungguh ironis!

Ayah kandungnya memonopoli seluruh bank darah, menolak memberikan setetes pun kepada putrinya. Namun, justru seorang yang tak dikenal dengan sukarela menyumbangkan darahnya, lalu pergi begitu saja tanpa meninggalkan jejak bahkan sekadar nomor telepon.

Warna wajah anak perempuan itu perlahan kembali, bibir mungilnya pun mulai refleks mencari susu.

Di sampingnya, pengasuh menatap anak itu, lalu berbisik mengungkapkan kecurigaannya, "Nyonya Winda, aku merasa ada yang aneh. Biasanya aku merawatnya dengan sangat hati-hati, sama sekali nggak membiarkan ada benda tajam di sekitarnya."

"Tapi, dokter bilang luka itu akibat terkena silet. Padahal dia selalu berbaring di tempat tidur bayi dengan baik."

Hati Winda tersentak. Dia segera pulang untuk memeriksanya.

Benar saja, di balik lipatan seprai beludru tempat tidur bayi itu, tersembunyi beberapa bilah silet yang masih meninggalkan noda darah putrinya.

Pikiran Winda seakan meledak.

Tempat tidur bayi ini dibeli oleh Tama atas permintaannya saat Winda menjalani masa nifas.

Tama memang selalu masa bodoh dengan urusan seperti ini, hanya menyuruh asistennya untuk membeli yang termahal.

Tempat tidur bayi itu justru dibeli melalui Sania.

Pasti Sania yang menyembunyikan silet-silet itu!

Rasa dingin merayap dari tulang punggung, membuat seluruh tubuh Winda menggigil.

Sania ternyata ingin mencelakai putrinya, apakah Tama mengetahuinya?

Kalaupun tahu, apa Tama akan membela putrinya dan menuntut keadilan untuknya?

Tak seorang pun bisa menjawab pertanyaan itu.

Winda memeluk erat putrinya, meringkuk di sudut sofa. Dia memejamkan mata dan bergumam pelan, "Lina, jangan takut. Ibu nggak akan membiarkan siapa pun menyakitimu."

Untungnya, tinggal dua hari lagi, dia bisa membawa putrinya menuju kehidupan baru.

Begitu Tama pulang dari perjalanan dinas dan masuk rumah, dia langsung menegur Winda tanpa basa-basi, "Winda, belakangan ini kamu terlalu seenaknya sendiri!"

"Aku hanya pergi dinas beberapa hari, tapi kamu malah membuat keributan di rumah sakit. Apa kamu nggak memikirkan harga diriku?"

Mendengar itu, Winda langsung merinding.

Tama melirik putri mereka yang tertidur di pelukannya, keningnya makin berkerut. "Kamu sampai mempermainkan anakmu. Ini sungguh membuatku…"

"Tama, hubungan kita sudah selesai." Winda memotong ucapannya dengan dingin.

Tama tertegun, mencengkeram lengannya erat-erat.

"Apa maksudmu selesai? Winda, kita 'kan teman masa kecil, hubungan kita sudah lebih dari sepuluh tahun! Bagaimana mungkin kamu membesar-besarkan masalah kecil seperti ini?"

Dia masih punya muka menyebut hubungan lebih dari sepuluh tahun itu?

Hati Winda terasa ditusuk jarum. Dia membentak, "Bukannya di telepon kamu sendiri yang bilang kalau Sania itu istrimu dan Alex anakmu?"

Tama mengalihkan pandangannya, tatapannya terlihat canggung dan bersalah.

"Itu situasi darurat! Semua orang di rumah sakit swasta itu mengakui status istri seorang Tama. Kalau aku bilang jujur, bagaimana kalau mereka mendengarkanmu dan menolak memberikan transfusi darah untuk Alex?"

Di saat hatinya terasa perih seakan ditusuk, Winda hendak mengungkap fakta bahwa mereka sebenarnya bukan suami-istri, tetapi kata-kata Tama berikutnya langsung membuatnya terdiam.

"Aku tahu, kamu cemburu pada Sania, 'kan?" Tama memandangnya sambil menyipitkan mata, nadanya terdengar sangat yakin.

"Kamu tahu jelas di hatiku hanya ada kamu, tapi karena cemburu, kamu gunakan anakmu untuk memperebutkan perhatianku?"

"Hanya karena dia melahirkan anak laki-laki, sedangkan kamu melahirkan anak perempuan, kamu sengaja bikin keributan, begitu?"

Sebelum Winda sempat membantah, ponsel Tama berdering.

Melihat layar panggilan masuk, Tama menatap Winda sebentar dan berkata dengan singkat, "Kamu refleksi diri di rumah saja. Jangan pergi ke kantor." Lalu, dia segera pergi.

Winda menahan amarah yang bergejolak di dadanya.

Pernikahannya dengan Tama hanyalah sebuah kebohongan, bahkan Winda tidak punya hak untuk menggugat Sania agar mengembalikan harta bersama.

Namun, meski begitu, apa yang menjadi miliknya tidak boleh berkurang sedikit pun!

Winda kembali memeriksa dengan cermat saham-saham yang dia pegang, berencana untuk menghubungi pemegang saham lainnya untuk menjual sahamnya dengan harga murah.

Namun, baru saja dia tiba di perusahaan, telepon dari pengasuh anaknya pun berdering.

"Nyonya, cepat pulang dan lihatlah!"

"Ada seorang wanita yang mengaku sebagai asisten Pak Tama datang ke rumah sambil membawa seorang anak! Dia bilang... Pak Tama sendiri yang mengizinkan. Nggak ada yang bisa menghentikannya!"

Cahaya yang Tertunda

Bab 4
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya