Bab 1

Baru saja masa nifasnya usai, Winda Baskoro menggendong bayinya ke Dinas Kependudukan untuk mengurus kartu keluarga.

"Pak, nama anakku Alex Harto."

Petugas itu mengetik beberapa kali pada keyboard, tetapi dahinya makin berkerut. "Di kartu keluarga Tama Harto, sudah tercatat seorang anak bernama Alex Harto."

Winda tertegun, mengira dirinya salah dengar. "Nggak mungkin, anak kami baru genap sebulan!"

Belum selesai bicara, ponsel di sakunya bergetar.

Saat dia membuka layar, terlihat foto dari asisten Tama, Sania Marsudi.

Dalam foto itu, Tama merangkul pinggang Sania dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya menggendong bocah laki-laki sekitar lima atau enam tahun. Ketiganya berdiri di depan gerbang TK, tersenyum begitu cerah hingga menyilaukan mata.

Di papan nama yang tergantung di dada bocah itu, tertera jelas namanya, Alex Harto.

Baru saja masa nifasnya usai, Winda Baskoro menggendong bayinya ke Dinas Kependudukan untuk mengurus kartu keluarga.

"Pak, nama anakku Alex Harto."

Petugas itu mengetik beberapa kali pada keyboard, tetapi dahinya makin berkerut. "Di kartu keluarga Tama Harto, sudah tercatat seorang anak bernama Alex Harto."

Winda tertegun, mengira dirinya salah dengar. "Nggak mungkin, anak kami baru genap sebulan!"

Belum selesai bicara, ponsel di sakunya bergetar.

Saat dia membuka layar, terlihat foto dari asisten Tama, Sania Marsudi.

Dalam foto itu, Tama merangkul pinggang Sania dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya menggendong bocah laki-laki sekitar lima atau enam tahun. Ketiganya berdiri di depan gerbang TK, tersenyum begitu cerah hingga menyilaukan mata.

Di papan nama yang tergantung di dada bocah itu, tertera jelas namanya, Alex Harto.

Tak lama kemudian, muncul sebuah pesan masuk.

[Nona Winda, bagaimana rasanya jadi selingkuhan? Selamanya kamu akan hidup dalam bayang-bayangku sebagai istri sahnya.]

Jantung Winda terasa seperti dicengkeram tang besi, ujung jarinya gemetar saat berkata pada petugas, "Tolong… periksa lagi status pernikahan Tama."

Lembaran kertas yang keluar dari printer tampak ringan, namun ketika mendarat di telapak tangannya, terasa bagai menahan beban seribu kilogram.

Di kolom pendaftaran pernikahan Tama, nama pasangan tertulis nama Sania dengan jelas dan tanggal menikahnya adalah tujuh tahun lalu.

"Nona, mau tetap mengurus akta anak ini?" tanya petugas, suaranya terdengar samar dan jauh.

Winda menatap wajah putrinya yang sedang terlelap dalam gendongan, senyum getir muncul di bibirnya.

"Masukkan saja ke kartu keluarga-ku, sekalian ganti nama anaknya."

Saat melangkah keluar dari Dinas Kependudukan, langkah Winda terasa limbung bagai menginjak kapas.

Ponselnya kembali bergetar, sebuah pesan dari Tama.

[Sayang, aku sedang rapat di kantor. Pulangnya agak sore untuk menemanimu dan bayi.]

Melihat kata 'Sayang', Winda hanya bisa merasa ironis.

Selama tahun-tahun pernikahan mereka, Tama selalu memanggil Winda seperti itu, dia akan melapor kalau keluar, pelukan kalau pulang. Semua perhatian lembut itu sekarang terasa penuh sindiran.

Saat membuka pintu mobil dan duduk, jari-jari Winda gemetar hingga kunci pun tak bisa dimasukkan.

Dia paham aturan di kalangan mereka, kebanyakan pasangan kaya punya pikiran sendiri, tetapi Tama dulu berbeda.

Pernah di sebuah pesta, seorang sosialita menghina Winda di depan banyak orang. Keesokan harinya, Tama membuat keluarga itu bangkrut dan mereka meninggalkan kota dengan wajah tertunduk malu.

Saat Winda berkata bahwa dirinya menyukai edisi terbatas dari toko tertentu, Tama bisa terbang melintasi samudra untuk membelikannya, hanya demi melihat Winda tersenyum.

Yang paling membekas dalam ingatannya adalah insiden salah laporan hasil cek kesehatan.

Seorang perawat salah memberikan laporan yang mengatakan bahwa Winda menderita gagal ginjal. Mata Tama langsung merah.

Dia memegang erat jas putih dokter itu sambil berteriak, "Ambil ginjalku buat dia! Dua-duanya juga boleh! Kalau dia nggak ada, aku juga nggak mau hidup!"

Setelah tahu semuanya salah, pria yang biasanya tegas dan tanpa ampun di dunia bisnis itu, malah berjongkok di lorong rumah sakit, menangis seperti anak kecil.

"Syukurlah, Winda… yang penting kamu baik-baik saja."

Orang-orang di sekitar Winda selalu mengingatkannya, bisnis Tama makin sukses, pasti tidak lepas dari godaan wanita-wanita di sekelilingnya.

Namun, Tama memperlakukannya begitu baik, begitu baik sampai Winda sama sekali tidak pernah menaruh rasa curiga.

Namun, mengapa justru Sania?

Padahal dulu Tama jelas paling meremehkan Sania.

Sania dulunya adalah pengasuh rumah tangga Keluarga Bagaskoro. Suatu kali dengan sengaja mengenakan gaun berpotongan rendah untuk mengantarkan kopi pada Tama.

Tama langsung membanting cangkir dan membentaknya dengan keras, "Jangan pakai trik-trik murahan ini di depanku! Besok kamu jangan datang lagi!"

Setelah itu, dia langsung merengkuh Winda ke dalam pelukannya, tatapannya penuh hasrat.

"Sayang, di hatiku cuma ada kamu seorang. Perempuan-perempuan murahan seperti itu, aku usir satu per satu!"

Sania menangis tersedu sampai berlutut dan mengetukkan kepala memohon ampun. Namun, Tama bahkan tak melirik sedikit pun.

"Aku hanya mencintai Winda. Mataku nggak bisa menoleransi setitik pun noda. Perempuan kotor sepertimu, jangan pernah muncul di depanku lagi."

Sania bangkit dengan wajah pucat, lalu hari itu juga dia mengemasi barang-barangnya dan berjalan pergi.

Beberapa waktu kemudian, ketika Tama mempekerjakannya sebagai asisten pribadi di perusahaannya, dia menjelaskan hal ini pada Winda.

"Winda, setelah dia dipecat, keluarganya ingin menikahkannya dengan duda tua. Dia tampak putus asa dan ingin bunuh diri terus-terusan. Aku takut kalau dia nanti akan menyebarkan gosip soal kita di luar, jadi lebih aman kalau dia tetap di dekatku."

Waktu itu Winda percaya.

Siapa sangka, dua orang itu justru berselingkuh tepat di depan matanya selama lebih dari enam tahun, bahkan sudah punya anak berusia enam tahun.

Winda menggertakkan gigi, menahan rasa perih di matanya, lalu menghubungi detektif swasta.

Setengah jam kemudian, sebuah video beserta titik lokasi terkirim padanya.

Winda langsung menyetir menuju lokasi yang ditunjukkan.

Tama ternyata sama sekali tidak berada di kantor, melainkan baru saja selesai menghadiri rapat orang tua di TK Alex.

Dia menggenggam tangan Sania, memeluk anak laki-laki bernama Alex di pelukannya, ketiganya berjalan berdampingan menyeberang jalan. Senyum hangat yang mengembang di wajah Tama terasa lebih tulus dibandingkan foto keluarga mana pun yang pernah mereka ambil bersama, membuat mata Winda terasa pedih.

Dia menginjak gas dan membuntuti mereka sampai ke kawasan vila di pinggiran kota.

Tampak olehnya Tama turun dari mobil lebih dulu, mengeluarkan sekotak besar mainan dari bagasi.

Anak lelaki bernama Alex itu bersorak gembira lalu berlari membawa mainannya. Sania bersandar lebih dekat ke pelukan Tama dan berkata sambil memarahi, "Kamu terlalu memanjakannya."

"Dia anakku. Kalau bukan aku yang manjain dia, siapa lagi?"

Tama menunduk, mencium bibirnya sekilas. "Lagi pula, hari ini dia dapat penghargaan terbanyak. Ini membuatku bangga."

Sania mendongak menatapnya, matanya merah. "Tama, terima kasih sudah menyekolahkan Alex di sekolah dasar elite terbaik."

"Sebenarnya… kelahirannya saat itu adalah sebuah kecelakaan. Aku awalnya nggak ingin mengganggumu. Bisa melihatmu dari jauh saja sudah cukup. Aku janji nggak akan mengusik hubunganmu dengan Nona Winda."

"Kamu mikir apa sih?" Tama mencubit pipinya, suaranya tidak keras, tetapi jelas.

"Dia nggak akan tahu. Lagi pula, kamulah istri sah yang tercatat di akta nikahku. Aku baik pada kalian berdua itu memang sudah seharusnya."

Sania tersenyum lega. Tiba-tiba Tama membungkuk dan berbisik di telinganya, "Sudah jadi suami-istri, bukannya kita harus menjalankan kewajiban sebagai pasangan?"

Wajah Sania seketika merona. Dia langsung digendong masuk ke vila.

Sementara Winda duduk di mobil, hatinya seperti tertikam pisau tumpul. Dia mengemudi pulang dalam keadaan linglung.

Malam itu, ketika Tama masuk, seperti biasa, begitu melangkah ke dalam rumah Tama langsung merentangkan kedua tangannya ingin memeluk Winda.

"Sayang, sudah lama menunggu, ya? Capek nggak seharian urus bayi?"

Winda tetap tenang, menggeser sedikit ke samping. "Soal kartu keluarga anak kita…"

"Masalah itu nanti biar aku yang urus. Jangan khawatir!"

Nada Tama tiba-tiba menjadi tegas, tetapi melihat wajah Winda pucat, Tama segera menurunkan suaranya dan membujuk.

"Sekarang mengurus kartu keluarga itu sangat merepotkan. Kamu baru saja selesai masa nifas, mending istirahat saja di rumah. Urusan ini serahkan padaku."

Winda menunduk dan mengangguk pelan, tanpa memberitahunya bahwa anak mereka sudah tercatat di kartu keluarga Keluarga Baskoro.

Winda bahkan tidak bilang bahwa dalam perjalanan pulang, dia sudah menelepon musuh bebuyutan yang paling dibenci Tama.

Di telepon, dia menggenggam ponsel erat, suaranya tenang, tetapi tegas.

"Aku masih lajang. Kalau kamu masih mau, tujuh hari lagi, aku akan menikah denganmu."

Bab 2

Tama menghela napas lega seakan beban terangkat, lalu bersandar padanya dengan sedikit merajuk.

"Sejak kamu selesai masa nifas, kita belum benar-benar dekat lagi. Hari ini…"

Perut Winda mendadak terasa mual. Baru saja hendak bicara, ponsel Tama berdering.

Dengan ekspresi bersalah, Tama meliriknya, lalu balik badan untuk mengangkat telepon. Setelah menutup ponsel, nada suaranya menjadi panik.

"Sayang, ada urusan mendadak di kantor. Aku harus segera pergi."

Tama buru-buru meraih jaket dan keluar. Hati Winda mencelos dan diam-diam mengikutinya dengan mobil.

Mobil Tama berhenti perlahan di depan pintu vila yang tersembunyi.

Hanya beberapa menit kemudian, Sania melenggak-lenggok masuk ke kursi depan. Mobil langsung berguncang hebat, jelas terdengar apa yang terjadi di dalam.

Winda membuka aplikasi penyadap di ponselnya.

Sungguh ironis, dulu Winda memasang alat itu karena takut hal buruk terjadi pada suaminya saat bekerja. Kini, justru menjadi alat untuk membuktikan perselingkuhan.

"Untung kamu bilang sakit perut dan menipuku supaya datang. Kalau nggak, malam ini aku masih harus pura-pura di rumah."

Suara Tama terdengar disertai desahan. "Kamu merawat dirimu dengan baik, tapi perut Winda penuh guratan bekas hamil. Melihatnya saja aku sudah muak."

Sania mendesah manja. "Kalau begitu, malam ini jangan pulang. Temani aku saja."

Gerakan Tama makin agresif, jelas belum puas hanya di mobil. Tak lama kemudian, dia menggendong Sania masuk ke vila.

Winda duduk termenung di mobil sepanjang malam, tak habis pikir bagaimana pria yang dulu bilang mencintainya sepenuh hati bisa berubah menjadi seperti ini.

Keesokan paginya, saat Winda pura-pura baru terbangun, Tama sudah kembali. Ujung rambutnya masih terlihat basah, tanda baru saja mandi.

"Winda, ayo bangun. Hari ini aku akan mengajakmu ke acara lelang. Ada barang-barang antik yang pasti kamu suka."

Tama menunduk untuk mencium kening Winda, suaranya lembut seperti dulu.

Meski sempat ragu, Winda akhirnya memutuskan untuk ikut.

Di tempat lelang, Sania tiba-tiba muncul dengan gaun merah belahan tinggi, menonjolkan paha putihnya yang menarik perhatian.

"Pak Tama, aku akan membawakan jas Anda."

Namun, Tama justru menghindar dengan jijik. Suaranya dingin seperti es.

"Hari ini aku datang bersama istriku. Kamu ke sini untuk apa?"

Tatapan orang-orang seketika terarah ke mereka. Sania menggigit bibirnya dan memandang Winda, merasa dirugikan. "Tapi, Anda tetap butuh seseorang yang melayani…"

Semua orang tahu betapa Tama memanjakan Winda. Pernikahan mereka dulu dihadiri hampir seluruh kalangan elite di kota, begitu megah dan gemilang.

Orang-orang di sekitar segera berbisik-bisik. Tama merangkul pinggang Winda dengan erat, mengerutkan kening. "Bu Sania, kamu nggak diperlukan di sini. Kembalilah ke kantor."

Sania pun pergi sambil menangis, dihujani pandangan sinis orang-orang.

Tama kemudian mencium lembut dahi Winda dan menuntunnya untuk duduk.

Namun, Winda bisa merasakan kegelisahan dalam diri Tama.

Selama beberapa item dilelang, tatapan Tama tampak kosong. Kakinya tak berhenti gemetar gugup di bawah meja.

Saat permata "Hati Gemilang" akhirnya dipamerkan, Tama langsung menyatakan penawaran tertinggi tak terbatas, lalu berpamitan pada Winda.

"Winda, aku mau ke toilet sebentar. Kalau ada yang kamu suka, langsung tawar saja."

Para undangan pun memandang Winda dengan iri, berbisik-bisik, "Pak Tama sangat menyayangi istrinya, sampai berani pasang penawaran tertinggi tak terbatas."

"Maklum, dia 'kan putri Keluarga Baskoro. Barang biasa mana mungkin dia mau."

Winda sama sekali tak berminat mendengar komentar itu. Begitu Tama keluar, dia pun diam-diam menyusul. Baru sampai di depan toilet wanita, dari dalam bilik sudah terdengar suara-suara tak senonoh.

"Dasar penggoda, siapa suruh kamu pakai baju begini? Pagi tadi sudah tiga kali, masih kurang?" Suara Tama terdengar terengah.

"'Kan kamu yang marahin aku duluan," jawab Sania dengan suara menggoda sekaligus tersakiti. "Waktu kamu usir aku pergi, kenapa nggak mikirin ini?"

Tama seperti menghela napas. "Dengarkan aku. Bagaimanapun juga, dia istri di atas kertas. Semua orang penting di sini menghormati Keluarga Baskoro, kamu 'kan tahu itu."

Sania mengeluarkan erangan manja bercampur tangis. "Tapi, akulah istri sahmu yang sebenarnya! Kapan aku bisa berdiri di sisimu dengan terang-terangan?"

"Jangan ribut." Suara Tama menjadi dingin. "Kita sudah sepakat dari awal kalau hubungan kita adalah rahasia. Jangan melewati batas."

Dia berhenti sejenak, nadanya melunak lagi. "Permata yang baru saja ditawar itu untukmu, sebagai kompensasi."

"Aku juga mau pernikahan yang jauh lebih megah dari Winda!"

Kata-kata berikutnya tenggelam oleh ciuman penuh nafsu.

Perut Winda bergolak hebat. Dia terhuyung-huyung keluar dari tempat lelang, bersandar di dinding sambil muntah-muntah.

Jadi inilah Tama yang sebenarnya.

Di depan publik, Tama memberinya status istri yang terhormat, tetapi hatinya justru diperuntukkan untuk Sania dan anaknya.

Ilusi kasih sayang yang Tama bangun dengan mati-matian hanyalah tipu daya belaka, memperlakukan Winda seperti orang bodoh. Akta nikah palsu dan pernikahan megah itu, kini semuanya terasa seperti lelucon.

Dia menarik napas panjang sambil memejamkan mata, berusaha menghibur diri. "Tinggal enam hari lagi. Bertahanlah, setelah ini semuanya akan berakhir."

Dia segera menelepon asistennya, "Cepat hitung semua saham dan proyekku di Grup Harto. Siapkan kontrak pengalihan."

Namun, jawaban asisten setelahnya membuat darahnya mendidih.

"Bu Winda, Proyek Disbel yang Anda tangani, sudah dialihkan atas nama Bu Sania bulan lalu!"

Bab 3

Proyek Disbel adalah proyek pengembangan lengan buatan bionik cerdas yang menjadi fokus utama ayahnya semasa hidupnya.

Ayahnya mendedikasikan hidupnya untuk amal dan selalu bertekad mewujudkan proyek ini agar dapat memberi manfaat bagi lebih banyak penyandang disabilitas.

Bahkan selama masa kehamilan, Winda masih memaksakan diri untuk terlibat dalam proyek ini selama beberapa bulan. Baru ketika mendekati masa persalinan, setelah melihat proyek perlahan-lahan mulai berjalan stabil, Winda sedikit melonggarkan sebagian tanggung jawabnya.

Saat Winda tiba di perusahaan, asisten Tama sudah gelisah hingga berkeringat dingin.

"Bu Winda, sekarang Pak Tama sudah menyerahkan semua urusan, baik urusan besar atau kecil pada Bu Sania. Kami sama sekali nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi."

Winda tetap tenang. "Nggak apa-apa. Aku akan ke kantor CEO. Aku tahu kata sandi komputer Tama."

Tidak lama setelahnya, Sania bergegas datang dan menghadangnya.

"Tunggu dulu, Nyonya Winda."

Bibirnya bengkak, bekas ciuman di lehernya terlihat jelas, dan sikapnya sangat arogan.

"Anda nggak boleh masuk tanpa izin dari CEO."

Dengan ekspresi dingin, Winda mendorongnya. "Minggir. Aku yang mengawasi langsung proyek ini sejak awal. Aku berhak melihatnya."

"Dulu karena hamil, Anda sudah tidak mengurus proyek ini. Sekarang malah datang hendak merebut hasil kerja orang lain. Nggak semudah itu!'

Sania tidak bisa menghentikan Winda, hingga tanpa sadar berbicara seenaknya karena marah.

Pada saat itu, Tama juga datang tergesa-gesa, nada suaranya terdengar agak panik saat berkata, "Kenapa kamu pergi duluan? Bahkan nggak menungguku."

Dalam hati Winda mencemooh, 'Kamu sedang asyik bermesraan dengan Sania, mana sempat menemaniku pulang?'

Winda menyodorkan seberkas dokumen.

"Tama, coba kamu perhatikan data ini. Material untuk prostetik awalnya 'kan impor, tapi kenapa bisa tiba-tiba diganti dengan bahan murahan?"

"Siapa yang diam-diam mengganti pemasok demi keuntungan pribadi?"

Produk itu telah diganti dengan kualitas rendah dan bahannya dikurangi oleh Sania, sementara selisih harganya entah ke mana.

Tama mengerutkan kening, juga menyadari ada yang tidak beres.

Wajah Sania pucat pasi. Dia buru-buru berkata, "Ini nggak ada hubungannya dengan Pak Tama. Maaf, Nyonya Winda, aku cuma ingin mencari uang lebih banyak untuk menghidupi anakku…"

"Kalau harus disalahkan, salahkan aku saja."

Tangisannya yang memilukan langsung membangkitkan rasa kasihan di hati Tama.

Winda mencibir, "Permintaan maafmu nggak ada artinya. Tindakanmu ini sudah termasuk tindak pidana. Aku akan melapor polisi."

Begitu ucapannya selesai, seorang anak kecil tiba-tiba berlari dan menabraknya dengan keras.

"Perempuan jahat! Jangan sakiti ibuku! Ayah, pukul dia sampai mati!"

Teriakan nyaring anak itu bergema di area kantor.

Itu adalah Alex.

Winda mendengus kesakitan akibat benturan itu, wajahnya langsung berubah pucat pasi. Para karyawan di kantor yang melihatnya pun kaget dan tegang.

Tama langsung bergegas mendekat. "Winda, kamu baik-baik saja?"

Sania buru-buru menarik Alex ke sisinya, pura-pura menegur, "Alex, kenapa sikapmu nggak sopan? Cepat minta maaf pada Bibi!"

Lalu, dia menoleh ke Winda. "Nyonya, kalau mau marah atau memukul, arahkan padaku saja. Jangan perhitungan sama anak kecil."

Namun, sorot matanya justru tersimpan keyakinan akan kemenangan.

Belum sempat Winda bicara, Tama sudah menyela lebih dulu, "Sudahlah, jangan marahi anak kecil. Dia 'kan belum mengerti apa-apa." Tama menoleh ke Sania. "Alex nggak sengaja. Bawa dia pulang dulu, aku akan jelaskan semuanya ke Winda."

Winda menatap tajam mata Tama, lalu berkata dengan tegas, "Jelaskan apa? Jelaskan kenapa dia memanggilku perempuan jahat? Atau jelaskan kenapa dia memanggilmu ayah?"

Malas dengan drama cinta menyedihkan yang diperankan pasangan pria busuk dan wanita licik ini, Winda langsung berbalik keluar kantor.

Tama buru-buru mengejar. "Winda, anaknya Bu Sania itu baru enam tahun. Ngapain kamu ribut sama anak kecil?"

Winda mengepalkan tangannya. "Di usia muda sudah begitu jahat, jelas-jelas karena kelalaian orang tua. Mengapa nggak boleh dipermasalahkan? Jangan-jangan, anak ini adalah milikmu?"

Wajah Tama seketika berubah, pura-pura marah. "Winda, kamu ngomong apa sih? Mana mungkin dia anakku? Aku cuma punya satu anak, putri kita."

Bahkan sampai di titik ini pun, Tama masih berani berbohong.

Winda tersenyum pahit, lalu menatap Tama.

"Terus, anak kita namanya siapa? Sepertinya… sampai sekarang kamu belum memberinya nama, ya."

Cahaya yang Tertunda

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya