Bab 3

Proyek Disbel adalah proyek pengembangan lengan buatan bionik cerdas yang menjadi fokus utama ayahnya semasa hidupnya.

Ayahnya mendedikasikan hidupnya untuk amal dan selalu bertekad mewujudkan proyek ini agar dapat memberi manfaat bagi lebih banyak penyandang disabilitas.

Bahkan selama masa kehamilan, Winda masih memaksakan diri untuk terlibat dalam proyek ini selama beberapa bulan. Baru ketika mendekati masa persalinan, setelah melihat proyek perlahan-lahan mulai berjalan stabil, Winda sedikit melonggarkan sebagian tanggung jawabnya.

Saat Winda tiba di perusahaan, asisten Tama sudah gelisah hingga berkeringat dingin.

"Bu Winda, sekarang Pak Tama sudah menyerahkan semua urusan, baik urusan besar atau kecil pada Bu Sania. Kami sama sekali nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi."

Winda tetap tenang. "Nggak apa-apa. Aku akan ke kantor CEO. Aku tahu kata sandi komputer Tama."

Tidak lama setelahnya, Sania bergegas datang dan menghadangnya.

"Tunggu dulu, Nyonya Winda."

Bibirnya bengkak, bekas ciuman di lehernya terlihat jelas, dan sikapnya sangat arogan.

"Anda nggak boleh masuk tanpa izin dari CEO."

Dengan ekspresi dingin, Winda mendorongnya. "Minggir. Aku yang mengawasi langsung proyek ini sejak awal. Aku berhak melihatnya."

"Dulu karena hamil, Anda sudah tidak mengurus proyek ini. Sekarang malah datang hendak merebut hasil kerja orang lain. Nggak semudah itu!'

Sania tidak bisa menghentikan Winda, hingga tanpa sadar berbicara seenaknya karena marah.

Pada saat itu, Tama juga datang tergesa-gesa, nada suaranya terdengar agak panik saat berkata, "Kenapa kamu pergi duluan? Bahkan nggak menungguku."

Dalam hati Winda mencemooh, 'Kamu sedang asyik bermesraan dengan Sania, mana sempat menemaniku pulang?'

Winda menyodorkan seberkas dokumen.

"Tama, coba kamu perhatikan data ini. Material untuk prostetik awalnya 'kan impor, tapi kenapa bisa tiba-tiba diganti dengan bahan murahan?"

"Siapa yang diam-diam mengganti pemasok demi keuntungan pribadi?"

Produk itu telah diganti dengan kualitas rendah dan bahannya dikurangi oleh Sania, sementara selisih harganya entah ke mana.

Tama mengerutkan kening, juga menyadari ada yang tidak beres.

Wajah Sania pucat pasi. Dia buru-buru berkata, "Ini nggak ada hubungannya dengan Pak Tama. Maaf, Nyonya Winda, aku cuma ingin mencari uang lebih banyak untuk menghidupi anakku…"

"Kalau harus disalahkan, salahkan aku saja."

Tangisannya yang memilukan langsung membangkitkan rasa kasihan di hati Tama.

Winda mencibir, "Permintaan maafmu nggak ada artinya. Tindakanmu ini sudah termasuk tindak pidana. Aku akan melapor polisi."

Begitu ucapannya selesai, seorang anak kecil tiba-tiba berlari dan menabraknya dengan keras.

"Perempuan jahat! Jangan sakiti ibuku! Ayah, pukul dia sampai mati!"

Teriakan nyaring anak itu bergema di area kantor.

Itu adalah Alex.

Winda mendengus kesakitan akibat benturan itu, wajahnya langsung berubah pucat pasi. Para karyawan di kantor yang melihatnya pun kaget dan tegang.

Tama langsung bergegas mendekat. "Winda, kamu baik-baik saja?"

Sania buru-buru menarik Alex ke sisinya, pura-pura menegur, "Alex, kenapa sikapmu nggak sopan? Cepat minta maaf pada Bibi!"

Lalu, dia menoleh ke Winda. "Nyonya, kalau mau marah atau memukul, arahkan padaku saja. Jangan perhitungan sama anak kecil."

Namun, sorot matanya justru tersimpan keyakinan akan kemenangan.

Belum sempat Winda bicara, Tama sudah menyela lebih dulu, "Sudahlah, jangan marahi anak kecil. Dia 'kan belum mengerti apa-apa." Tama menoleh ke Sania. "Alex nggak sengaja. Bawa dia pulang dulu, aku akan jelaskan semuanya ke Winda."

Winda menatap tajam mata Tama, lalu berkata dengan tegas, "Jelaskan apa? Jelaskan kenapa dia memanggilku perempuan jahat? Atau jelaskan kenapa dia memanggilmu ayah?"

Malas dengan drama cinta menyedihkan yang diperankan pasangan pria busuk dan wanita licik ini, Winda langsung berbalik keluar kantor.

Tama buru-buru mengejar. "Winda, anaknya Bu Sania itu baru enam tahun. Ngapain kamu ribut sama anak kecil?"

Winda mengepalkan tangannya. "Di usia muda sudah begitu jahat, jelas-jelas karena kelalaian orang tua. Mengapa nggak boleh dipermasalahkan? Jangan-jangan, anak ini adalah milikmu?"

Wajah Tama seketika berubah, pura-pura marah. "Winda, kamu ngomong apa sih? Mana mungkin dia anakku? Aku cuma punya satu anak, putri kita."

Bahkan sampai di titik ini pun, Tama masih berani berbohong.

Winda tersenyum pahit, lalu menatap Tama.

"Terus, anak kita namanya siapa? Sepertinya… sampai sekarang kamu belum memberinya nama, ya."

Bab 4

Tiba-tiba Tama terdiam membisu.

Alex.

Itulah nama yang dulu Tama siapkan untuk anak mereka berdua.

Winda pernah melihatnya di catatan memo milik Tama. Entah anak laki-laki atau perempuan, Tama menuliskan nama itu sendiri sebagai sebuah doa.

Sebuah doa agar sang anak kelak memiliki keteguhan hati dan berbudi luhur.

Namun kini, nama itu justru diberikan pada anak Sania.

"Lina." Winda akhirnya angkat bicara. "Nama anakku Lina."

Jakun Tama bergerak, sorot matanya yang tegang sedikit melunak, suaranya kembali terdengar lembut seperti biasanya.

"Nama yang sangat indah. Hangat seperti matahari dan bisa selalu menemani ibunya."

Tama mengulurkan tangan, hendak membelai rambut Winda. "Winda, aku harus dinas beberapa hari. Setelah pulang, kita akan…"

"Hmm, kerjaan lebih penting."

Winda sudah terlalu lelah untuk melanjutkan percakapan. Ia memotong pembicaraan Tama dan langsung beranjak pergi.

Begitu sampai di rumah dan baru saja menidurkan Lina, ponselnya langsung berbunyi. Sebuah notifikasi status dari Sania, dengan foto tiga tangan yang saling menggenggam.

Di genggaman tangan mungil Alex, tergenggam erat sebuah kunci mobil.

Mobil seharga sepuluh miliar, Tama berikan itu pada anak haramnya untuk dijadikan mainan.

Padahal minggu lalu, Winda sudah tiga kali mengingatkan, tetapi Tama tetap saja lupa membeli popok impor untuk putri mereka.

Winda menatap layar lalu tertawa kecil, diam-diam menyimpan tangkapan layar itu ke dalam folder bukti.

Di pelukannya, Lina mencecap bibir mungilnya, bulu matanya yang panjang memantulkan bagai kipas kecil di bawah cahaya lampu. Winda menunduk dan mencium pipi lembut putrinya.

"Sayang, Ibu akan melindungimu."

Keesokan harinya, setelah menghabisi semua sumber daya dan saham yang dimilikinya, Winda langsung memesan tiket pesawat ke Kota Dantara untuk tiga hari kemudian.

Sejak menyadari kecurigaan Winda tempo hari, beberapa hari ini Tama hampir tiap jam mengiriminya pesan.

[Sayang, klien hari ini benar-benar merepotkan, untung saja bisa aku atasi.]

[Sayang, kamu pasti capek ya. Biskuit di Kota Nautam enak sekali, nanti aku ajak kamu ke sana.]

Tama mungkin tidak tahu bahwa setiap bonus proyek yang diam-diam dia transfer ke rekening Sania, semuanya jelas-jelas tercatat di email Winda.

Lebih-lebih, ketika Tama sibuk memainkan citra suami penyayang, Sania justru menggunakan uang itu untuk pamer di media sosial, memamerkan uang yang diselipkan ke bra, serta jejak ciuman mesra di sekujur tubuhnya.

Winda menatap ponselnya dan tersenyum getir.

Dulu, Tama pun pernah memujanya setinggi langit.

Mereka adalah sepasang kekasih masa kecil yang membuat banyak orang iri. Di bawah pohon beringin, dengan wajah merah, Tama pernah berjanji tak akan menikah dengan siapa pun selain Winda.

Saat kuliah, diam-diam Tama mengusir semua pria yang mendekati Winda, posesif seperti serigala yang menjaga mangsanya.

Saat Winda menjalani operasi usus buntu, Tama berjaga di rumah sakit selama tiga hari tiga malam tanpa tidur.

Penghasilan pertama Tama, tanpa dikurangi sedikit pun, semuanya dia transfer ke rekening Winda, dengan catatan: [Untuk putri kecilku.]

Tiba-tiba, dari kamar bayi terdengar tangisan memilukan. Sang pengasuh berlari keluar dengan panik, tangannya berlumuran darah.

"Nyonya, ini gawat! Entah apa yang menggores pahanya, darahnya nggak bisa berhenti! Cepat kemari!"

Jantung Winda seakan berhenti berdetak sejenak.

Dia segera berlari masuk dan menggendong Lina. Tangisan si kecil sudah mereda, tetapi luka di pahanya masih terus mengeluarkan darah.

Dia, seperti orang gila, menggendong putrinya dan bergegas ke rumah sakit.

Setelah pemeriksaan, dokter memberitahunya dengan membawa laporan, "Ini adalah gangguan pembekuan darah. Kadar hemoglobinnya terlalu rendah, harus segera ditransfusi."

Bibir Winda gemetar saat berujar, "Dokter, ambil saja darahku! Aku ibunya…"

"Orang tua nggak bisa langsung mendonorkan darah ke anaknya," kata dokter dengan suara berat. "Apalagi putri Anda bergolongan darah RH-negatif. Kami harus mengecek stok di bank darah dulu."

"Pakai koagulan, cepat!"

Dia hampir berteriak saat mengatakannya.

Namun, setelah koagulan disuntikkan, darah dari lukanya tetap mengalir tak terbendung. Winda memeluk putrinya yang sudah pucat pasi, air mata Winda bercucuran tak terbendung.

Belasan menit kemudian, seorang perawat bergegas masuk dengan ekspresi iba. "Bu Winda, stok darah RH negatif… sudah dialihkan semuanya."

Winda mendongak, mata merah. "Barusan kalian bilang masih ada stok di bank darah, kenapa sekarang tiba-tiba dialihkan?"

Perawat itu menggigit bibirnya, lalu berbicara dengan suara sangat pelan, "Kami ini rumah sakit swasta. Tadi putra Pak Tama, pemegang saham terbesar, butuh transfusi darurat. Direktur langsung memerintahkan semua stok darah langka di bank darah dialihkan ke ruang VIP."

Kalimat itu terasa seperti tamparan telak, menghancurkan sisa-sisa kewarasan Winda.

Dia baru hendak menelepon Tama untuk menuntut penjelasan, tetapi ponselnya justru menampilkan unggahan baru dari Sania di status WhatsApp.

[Bocah nakal lututnya lecet ya? Untung kamu punya ayah yang hebat, dalam sekejap bisa mengalihkan semua stok darah langka paling berharga di kota ini untukmu.]

Winda merasakan darahnya mendidih. Dia menyerahkan Lina dengan hati-hati kepada perawat, lalu berbalik dan bergegas menuju ruang VIP di lantai paling atas.

Pintu kamar VIP lantai atas terbuka dengan satu tendangan dari Winda. Di dalam, Sania sedang duduk di pinggir ranjang, menemani Alex bermain game.

Luka lecet di lutut anak itu sangat kecil, hingga menggunakan plester pun terasa berlebihan.

Adegan itu bagai pisau dingin yang menghujam dalam ke hati Winda.

Menatap ibu-anak yang sedang berbahagia itu di hadapannya, Winda merasakan kebencian di dadanya hampir menelannya. Dia tak kuasa lagi menahan diri dan berteriak, "Berikan darah itu pada putriku!"

Bab 5

Saat ini Tama tidak ada di tempat, jadi Sania pun malas berpura-pura lagi. Raut wajahnya memancarkan keangkuhan.

"Kenapa begitu? Apa kamu buta? Anakku terluka parah!"

"Lututnya cuma lecet sedikit, tapi anakku punya gangguan pembekuan darah. Kalau terus ditunda, nyawanya bisa melayang!"

Winda bicara dengan suara nyaris menangis.

Mendengar suara ribut, dokter yang ada di luar pun masuk. Suaranya terdengar ragu-ragu saat bertanya, "Ada apa ini? Kalau stok darah masih cukup, apa bisa dibagi sedikit untuk anak ibu ini?"

Winda seperti menemukan secercah harapan. Dia buru-buru mendongak menatap dokter itu, suaranya gemetar tak terkendali.

"Tolong, Dokter! Putriku sangat butuh darah RH negatif sekarang. Kalau terus ditunda…"

"Dokter." Sania mencibir, langsung menyela sambil melirik sinis. "Suamiku adalah pemegang saham besar di rumah sakit ini. Kamu pasti tahu 'kan?"

"Barusan dia sudah bilang kalau semua darah RH negatif harus diprioritaskan untuk anakku. Apa kamu sudah nggak butuh pekerjaanmu lagi?"

Perkataan itu membuat Winda benar-benar hancur.

Dia tiba-tiba menerjang ke depan, meraih kantong darah merah segar yang tergantung di tiang infus.

"Berani-beraninya kamu merebut darah anakku!"

Sania menjerit sambil mengentakkan kaki. "Satpam! Cepat panggil satpam! Perempuan gila ini mau merampas darah penyelamat anakku!"

Tak lama, beberapa satpam datang dan langsung membekuk tangan Winda.

Melihat itu, Sania seperti merak yang memamerkan bulunya. Dia buru-buru merebut kembali kantong darah itu, lalu berteriak pada satpam, "Perempuan jalang ini mencuri darah penyelamat anakku! Cepat seret dia pergi dari sini!"

Winda diseret keluar dari ruang perawatan. Amarah di dadanya begitu membara, hampir membakar tenggorokannya.

"Darah di rumah sakit ini sebenarnya cukup, tapi dia sengaja ingin memonopoli semuanya! Aku akan telepon Tama sekarang!"

Direktur rumah sakit yang kebetulan mendengar kalimat itu langsung mengerutkan kening. "Tunggu, sebenarnya siapa di antara kalian yang merupakan istri Pak Tama?"

Detik berikutnya, Sania mengangkat ponselnya, memperlihatkan akta nikah digital di depan direktur.

"Lihat baik-baik! Akulah istri sah Pak Tama, tercatat di Kantor Catatan Sipil! Putraku, Alex, adalah anak kandungnya!"

Dari sudut matanya, dia menyapu Winda dengan tatapan penuh kebencian. "Sedangkan anak perempuannya itu cuma anak haram yang nggak bisa diakui di depan umum."

Begitu kata-kata itu terucap, para pasien yang lewat di lorong langsung berkerumun. Suara bisik-bisik mereka menusuk seperti jarum.

"Astaga, selingkuhan bisa segini sombongnya? Masih berani berebut darah anak dari istri sah?"

"Putri dari orang semacam itu mending mati saja!"

Hati Winda seperti diremas. Membayangkan wajah pucat putrinya di ruang gawat darurat, lututnya lemas dan tanpa sadar dia berlutut di depan Sania.

"Aku mohon. Selamatkan anakku…"

Bisikan di sekitar seketika berhenti, semua mata tertuju pada adegan yang tidak masuk akal ini.

Namun, Sania bahkan tak melirik sedikit pun. Dengan tenang, dia menekan nomor Tama.

Begitu telepon tersambung, suaranya berubah menjadi penuh keluhan. "Tama, cepat kembali dan selamatkan Alex. Nona Winda ini, karena benci padaku, malah ingin merebut darah Alex. Ini sama saja dengan membunuhku dan anakku!"

"Tama!"

Winda memberontak melepaskan diri dari cengkeraman satpam, lalu berteriak ke gagang telepon, "Lina terluka. Dia punya gangguan pembekuan darah dan harus segera ditransfusi! Tolong minta rumah sakit untuk memberikan sebagian stok darah mereka pada kami, atau nyawanya nggak akan tertolong!"

Di seberang telepon, ada keheningan sejenak sebelum suara Tama akhirnya terdengar, seperti menahan kesal.

"Winda, darah itu sudah aku suruh alihkan untuk Alex. Sekarang dia membutuhkannya. Jangan buat keributan dan mengganggunya. Bayi yang baru sebulan lahir butuh darah sebanyak apa sih!"

Winda berteriak sampai suaranya serak, "Alex cuma lecet di lututnya, sedangkan Lina masih di ruang gawat darurat menunggu pertolongan!"

"Aku tanya sekali lagi, putrimu sekarang kritis. Apa kamu akan mengatur transfusi darah untuknya atau nggak?"

Hanya suara dengung statis yang mengisi telepon. Setelah beberapa saat, suara Tama terdengar lagi, pelan, tetapi penuh curiga.

"Anak yang baru lahir dari mana mungkin punya gangguan pembekuan darah? Winda, kamu bahkan mau mengutuk anak kandungmu sendiri?"

"Tama!"

Air mata Winda langsung mengucur deras. "Darah dagingmu sendiri hampir mati! Apa kamu benar-benar nggak mengerti bahasa manusia?"

Direktur rumah sakit di sampingnya tiba-tiba mendekatkan diri ke telepon, berkata dengan nada menjilat, "Pak Tama, apa kami harus mengurus wanita ini? Sepertinya kondisi mentalnya terganggu. Dia terus saja mengaku sebagai istri Anda…"

Hening lagi sejenak. Kemudian suaranya terdengar dingin seperti es.

"Istriku adalah Sania. Dia sedang merawat putra kami, Alex."

"Aku… nggak punya anak perempuan."

Orang-orang seakan menghela napas lega. Tatapan mereka pada Winda dipenuhi rasa jijik, seperti sedang melihat orang gila.

Sania tiba-tiba menyunggingkan senyum sinis. Di hadapan Winda, dia melemparkan kantong darah RH negatif itu ke lantai dengan keras.

"Anak haram yang kamu lahirkan, pantas pakai darah ini?"

Dengan tumit sepatunya, dia menginjak genangan darah itu, kata-katanya tajam dan beracun. "Sekalipun aku harus memberikannya pada seekor anjing, tetap nggak akan kuberikan padamu."

Saat ini, Winda merasa jantungnya hancur remuk, bahkan bernapas pun terasa menyakitkan.

Pintu ruang perawatan ditutup dengan keras, mengisolasi dari segala hal di luar.

Dengan langkah gontai, Winda kembali ke sisi tempat tidur Lina. Dia memeluk tubuh dingin putrinya. Air mata berderai tanpa henti, membasahi pipi pucat sang buah hati.

Saat keputusasaan perlahan-lahan mulai menenggelamkannya, layar ponselnya menyala.

Sania kembali memposting status di WhatsApp.

Dalam foto, Sania sedang menggendong Alex dengan senyum cerah, disertai tangkapan layar transfer dari Tama dengan keterangan: [Rawat anak kita dengan baik.]

Winda menatap foto itu, darah di seluruh tubuhnya seakan membeku. Napas Lina dalam pelukannya juga makin lemah.

Tepat pada saat itu, suara laki-laki yang tenang tiba-tiba terdengar di pintu.

"Halo, golongan darahku RH negatif. Aku bisa melakukan transfusi darah untuk putrimu."

Cahaya yang Tertunda

Bab 3
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya