Bab 2
Nathan pulang dalam keadaan lelah, debu masih menempel di tubuhnya dan di tangannya tergenggam seikat bunga segar.
Dia berjalan ke arahku, wajahnya sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah atau penyesalan. "Rebecca, aku bawakan bunga mawar kesukaanmu."
Mawar merah yang melambang cinta yang tulus dan membara, kini berada di tangan Nathan. Namun, di mataku, itu tidak lebih dari sebuah lelucon.
Aku menerima bunga itu. Nathan mengira aku sudah tidak marah dan mulai menjelaskan, "Khloe terkena kanker tulang. Satu-satunya keinginannya adalah menikah denganku. Kami tumbuh bersama sejak kecil, aku nggak mungkin mengecewakannya. Jadi, tiga hari lagi aku akan bertunangan dengannya."
"Kamu selalu pengertian, pasti bisa memaklumi keputusanku, 'kan?"
Nada bicaranya lebih terdengar seperti pemberitahuan daripada penjelasan. Tiga hari lagi akan bertunangan dengan Khloe Malone?
Kebetulan sekali, tiga hari lagi aku juga sudah berencana untuk pergi.
Aku hanya mengangguk pelan.
Dulu, Nathan paling tidak tahan dengan sikap manja dan keras kepalaku. Dia pernah berkata bahwa setiap kali ada masalah kecil, aku selalu mencarinya hanya untuk memastikan apakah dia masih mencintaiku atau tidak.
Setelah itu, aku perlahan-lahan berubah. Aku belajar untuk bersabar dan menahan diri.
Kini, aku tidak marah, tidak berteriak, bahkan tidak bertanya apakah dia masih mencintaiku. Nathan justru menatapku heran.
"Besok aku akan pindah dan tinggal bersama Khloe. Beberapa bulan ke depan, mungkin kamu harus terbiasa tinggal sendiri."
"Khloe sedang sakit. Dibandingkan denganmu, saat ini dialah yang lebih butuh kehadiranku."
Aku tersenyum, lalu meletakkan bunga itu. Melihat aku tidak menolak, Nathan mendekat dan mencoba menyentuh wajahku.
Biasanya, dia orang yang sangat menjaga diri dan tidak pernah menyentuhku lebih dulu. Namun, kali ini, saat dia mencoba menyentuhku, aku secara halus menghindarinya.
Di kerah kemejanya masih menempel bekas lipstik merah menyala dan aroma parfum manis yang menusuk hidungku, aroma itu membuatku ingin muntah.
Nathan yang kutolak merasa kesal. Tanpa berkata apa-apa lagi, dia langsung pergi dari rumah dengan terburu-buru.
Aku membuang bunga dan kue itu ke tempat sampah, lalu mulai membereskan barang-barangku.
Aku tidak menginginkan bunga itu, begitu juga dengan Nathan. Untuk rumah yang kutinggali selama enam tahun ini, aku pun sudah tidak memiliki sedikit pun rasa keterikatan.
Bab 3
Keesokan harinya saat kembali ke perusahaan, aku duduk di meja kerja dan mencetak surat pengunduran diri.
Aku dan Nathan saling mengenal dan jatuh cinta saat kuliah. Setelah dia bekerja ke perusahaan teknologi ini, aku pun mengikutinya. Aku menolak tawaran pekerjaan dari orang tuaku dan menemaninya memulai karier dari karyawan biasa.
Sejak bersama Nathan, aku pernah mencoba berbagai cara untuk menggoda dan menarik perhatiannya. Entah saat aku berpakaian minim dan sengaja terjatuh ke pelukannya, atau saat berpura-pura mabuk dan mencoba diam-diam menciumnya.
Namun, setiap kali kami hampir melewati batas, dia hanya memutar-mutar gelang tasbih di tanganya dan menatapku dengan tenang dan penuh pengendalian diri.
Seolah tanpa nafsu maupun keinginan, seperti orang suci yang turun ke dunia fana.
Kini, setelah enam tahun bersama, saat aku tahu dia telah memesan hotel, aku sempat berpikir bahwa dia akhirnya berniat serius denganku. Namun, nyatanya, semua itu hanyalah khayalanku sendiri.
Seorang rekan kerja lewat dan melihat surat pengunduran diriku di layar komputer, dia tampak terkejut. "Kak Rebecca, kamu sebentar lagi akan dipromosikan jadi direktur divisi di perusahaan ini, kenapa tiba-tiba mengundurkan diri?"
Aku tersenyum. "Aku akan segera menikah. Mungkin saat itu aku akan bekerja di perusahaan lain."
Rekan kerjaku, Sara Hudson, ikut tersenyum dan memberi ucapan selamat. "Akhir-akhir ini banyak sekali kabar bahagia di perusahaan kita. Tadi malam aku juga lihat unggahan Pak Nathan di media sosial, katanya dia mau bertunangan!"
"Memang harus diakui, wakil direktur utama dan pacarnya benar-benar cocok. Katanya mereka sudah kenal sejak kecil dan tumbuh besar bersama."
"Aku sudah lama penasaran, siapa yang bisa menaklukkan Pak Nathan yang selama ini tampak tidak tersentuh itu. Ternyata, jawabannya adalah cinta pertamanya!"
Senyumku tiba-tiba terasa kaku. Saat membuka ponsel, aku mendapati nomor utama dan nomor kedua WhatsApp milik Nathan sudah lama memblokirku.
Nomor utama Nathan memang untuk urusan pribadi. Semalam, setelah dia pergi dari rumah, dia langsung memblokirku dan menghapus kontakku. Sementara nomor keduanya yang dipakai untuk kerja, saat aku membuka kolom percakapan, yang tersisa hanyalah percakapan kaku antara atasan dan bawahan.
Saat itu juga, Nathan masuk ke perusahaan bersama Khloe.
Keduanya berjalan sangat dekat. Wajah Khloe tampak cerah dan tersenyum manis, sama sekali tidak terlihat seperti orang yang sedang sakit.
Kemudian, Nathan memperkenalkannya, "Dia adalah direktur divisi teknologi yang baru di perusahaan kita. Silakan berkenalan, semoga semuanya bisa menjalin kerja sama yang baik ke depannya."
Sara tampak terkejut, pandangannya bolak-balik menatapku dan Khloe, lalu membungkuk dan menyapa, "Selamat datang, Bu Khloe!"
Aku tidak mengatakan apa pun dan hanya menggenggam erat surat pengunduran diriku. Namun, Nathan justru memandangku dengan penuh ketidakpuasan. "Rebecca, semua orang sudah menyapa direktur divisi baru. Apa-apaan sikapmu ini?"
Khloe tersenyum pelan, lalu mengulurkan tangannya ke arahku. "Mulai sekarang kita akan bekerja di perusahaan yang sama. Ke depannya, mohon kerja samanya."
Saat aku baru saja mengulurkan tangan, Nathan segera menarik tangan Khloe kembali. "Kamu sekarang seorang direktur divisi. Nggak perlu memberi muka pada karyawan biasa. Ayo, aku ajak berkeliling melihat-lihat lingkungan kerja."
Mereka berdua pun pergi, meninggalkan aku seorang diri, dengan tangan yang masih terulur di udara, seperti seorang badut.
Sara menarikku duduk dan mulai memakan melon di meja kerjanya. "Rebecca, kamu lihat, 'kan? Barusan itu tunangan Pak Nathan!"
"Kalung berlian merah muda di lehernya itu hadiah dari Pak Nathan kemarin, katanya harganya mencapai miliaran!"
"Tapi cara Pak Nathan mengangkat orang dari luar terlalu keterlaluan! Kamu sudah bekerja di perusahaan ini lima tahun dan kemampuanmu juga diakui semua orang, tapi Pak Nathan dengan mudahnya memberikan posisi yang seharusnya jadi milikmu kepada orang lain!"
Aku hanya mengangguk dengan pikiran yang melayang. Sejak awal, aku memang berniat mengundurkan diri. Kehadiran mendadak Khloe hari ini hanya membuatku makin sadar akan posisiku di hati Nathan.
Setelah mengambil berkas-berkas dan surat pengunduran diri, aku mengetuk pintu kantor Nathan.
"Masuk." Nada suaranya sangat dingin.
Aku meletakkan semua dokumen, termasuk berkas-berkas yang perlu diserahkan setelah pengunduran diriku.
Nathan membolak-balikkan dokumen itu, wajahnya makin kelam. Akhirnya, dia menatapku dengan ekspresi mengejek, sudut bibirnya melengkung sinis.
"Rebecca, kemarin aku kira kamu sudah berubah dan nggak akan lagi merajuk seperti dulu. Ternyata hari ini langsung menunjukkan sifat aslimu, ya?"
Setelah mengatakannya, Nathan melemparkan dokumen-dokumen itu ke arahku.
Aku menghindar, lalu menunduk dan memungut satu per satu dokumen yang berserakan di lantai.
Nathan masih melanjutkan ucapannya, "Dia cuma merebut kesempatan promosimu, 'kan? Khloe itu satu jurusan denganku, aku sangat percaya dengan kemampuannya, makanya aku memberikan posisi direktur divisi teknologi padanya. Kamu sudah lima tahun kerja, tapi masih cuma karyawan biasa, memangnya kamu punya hak apa untuk marah!"
Aku merapikan dokumen dan meletakkannya di hadapannya. Aku berkata dengan tenang, "Ini bukan karena marah, aku hanya benar-benar ingin mengundurkan diri."
Khloe satu jurusan denganmu, kamu tahu betul kemampuannya. Namun, aku bagaimana?
Aku kuliah jurusan desain perhiasan, tapi demi Nathan, aku mengambil gelar ganda di jurusan lain. Bertahun-tahun aku bekerja keras siang dan malam agar bisa menyamai langkahnya. Namun, di matanya, semua usahaku tidak pernah dianggap berharga.
Nathan menatapku dengan tatapan merendahkan. "Kamu sendiri tahu kemampuanmu nggak seberapa, 'kan? Aku sudah menempatkanmu di bawah Khloe. Mulai sekarang, belajar baik-baik darinya."
Aku tersenyum. "Waktuku juga sangat berharga. Hal yang nggak kusukai, ke depannya nggak akan kusentuh lagi."
"Bagus! Kalau begitu pergilah! Aku ingin lihat, perusahaan mana lagi yang masih mau menerimamu!" ujar Nathan sambil berdiri dari kursinya, dia menatapku seperti binatang buas yang siap menerkam.
Aku berbalik dan langsung meninggalkan kantornya.
Enam tahun bersama Nathan hanya buang-buang waktuku. Namun, mulai sekarang, aku tidak akan lagi hidup dalam bayang-bayangnya, apalagi jika dia masih mengharapkan aku tunduk pada Khloe.
Bab 4
Siang hari, aku kembali ke meja kerjaku untuk membereskan barang-barang.
Di atas meja masih ada pajangan asteroid kecil, yang diukir sendiri oleh Nathan saat dia lulus kuliah. Saat itu, dia bahkan bersumpah bahwa akulah seluruh dunianya.
Aku tersenyum miris. Setelah memandangnya sekali lagi, akhirnya aku memutuskan untuk membawa pajangan itu bersamaku.
Namun, saat aku memeluk kardus dan hendak pergi, Khloe tiba-tiba masuk dengan wajah panik.
"Maaf, rekan-rekan sekalian, sepertinya kalung yang aku kenakan hari ini hilang. Bolehkah aku meminta kerja samanya untuk melakukan pemeriksaan rutin?"
Rekan-rekan di perusahaan mulai saling berbisik satu sama lain.
"Tadi saat aku datang, aku sempat melihat kalung Bu Khloe. Berlian di kalung itu sangat besar dan berkilau sekali!"
"Menurutku Bu Khloe masih berkata dengan sopan, siapa tahu memang ada yang melihat kalung berlian itu dan tergoda, lalu mencurinya!"
"Astaga! Ternyata di perusahaan kita ada pencuri! Pantas saja camilan dan biskuit di mejaku sering hilang entah ke mana!"
Nathan berdiri di samping Khloe, lalu memanggil tim keamanan perusahaan untuk menutup pintu dan mulai memeriksa satu per satu.
Saat giliranku, aku meletakkan kardus dan bekerja sama dengan pemeriksaan yang dilakukan Nathan.
Dia jelas langsung melihat pajangan asteroid kecil di atas barang-barangku. Nathan terdiam sejenak, tapi tetap memerintahkan orang untuk membongkar seluruh isi kardusku.
Benda-benda di dalam kardus jatuh ke lantai dan pajangan itu pun hancur berkeping-keping, berubah menjadi tumpukan sampah. Sama seperti hubungan enam tahun kami, begitu retak, mustahil untuk kembali seperti semula.
Beberapa petugas keamanan memeriksa lantai. Tiba-tiba, Khloe menutup mulutnya dan berseru kaget, "Kalungku!"
Seluruh orang di perusahaan langsung menoleh karena teriakan itu, pandangan mereka semua tertuju padaku, disertai bisikan-bisikan yang terdengar menusuk dari belakang.
"Ya ampun! Ternyata Rebecca yang mencuri kalung direktur divisi baru! Kalau saja wakil direktur utama nggak menyuruh tim keamanan menutup perusahaan, mungkin dia sudah kabur sambil membawa kalung itu!"
"Benar-benar nggak disangka, Rebecca ternyata orang seperti itu. Ternyata benar jangan menilai orang dari wajahnya. Cuma gara-gara posisi direktur divisi baru merebut posisinya, dia sampai segitu piciknya!"
"Rebecca sungguh picik. Nggak kusangka dia tipe orang yang suka main licik di belakang. Untung saja dia sudah mengundurkan diri, kalau nggak, aku benar-benar takut harus berada satu ruangan dengannya!"
Wajahku mendadak pucat. Aku benar-benar tidak pernah menyentuh kalung Khloe. Saat aku pergi untuk menyerahkan surat pengunduran diri, pasti ada yang mengutak-atik barang-barangku.
Wajah Nathan muram. Dia memungut kalung berlian merah muda itu dari tumpukan barang-barang yang berserakan.
Dia memegang kalung itu, wajahnya menunjukkan kekecewaan yang sangat dalam padaku. "Rebecca..."
Dia meneriakkan namaku dengan marah, sementara aku melihat kakinya menginjak barang-barangku. Dia bahkan sengaja menginjak-injak serpihan pajangan asteroid kecil itu.
Baru saja aku mengangkat kepala, Nathan tanpa peringatan menamparku. "Cepat minta maaf pada Khloe! Kenapa kamu mencuri kalung yang kuberikan padanya!"
Saat itulah, hatiku benar-benar mati rasa.
Di tangan Nathan tergenggam kalung berlian senilai miliaran yang dia berikan kepada Khloe, sementara hadiah murahan yang dia berikan padaku justru terinjak di bawah kakinya, bahkan nilainya tidak sampai sepersekian dari kalung itu.
Air mataku mengalir deras. Semua tuduhan dari rekan kerja di perusahaan masih kalah menyakitkan dibandingkan tamparan dari Nathan, orang yang telah bersamaku selama enam tahun.
Dia benar-benar tidak percaya padaku?
Melihat aku hanya terdiam, dia menyeretku seperti menyeret sampah dan memaksaku berdiri di depan Khloe. Dengan suara keras, dia membentakku, "Aku suruh kamu minta maaf! Jelaskan kenapa kamu mencurinya!"
Mata Khloe sempat memancarkan rasa puas, tapi dengan cepat dia pura-pura mengerutkan alis dan mengulurkan tangan, seolah ingin membantuku bangkit dari lantai yang dingin.
Aku menepis tangannya dan berdiri dengan sisa harga diriku.
Meski air mataku membuat pandangan kabur, tapi punggungku tetap tegak. "Aku nggak mencurinya! Perusahaan ini punya kamera pengawas. Aku mau periksa rekamannya untuk membuktikan bahwa aku nggak bersalah!"
"Lagi pula, hanya kalung berlian seperti itu, aku sama sekali nggak menginginkannya!" Aku menatap langsung ke mata Khloe dan mengucapkannya dengan jelas, kata demi kata.