Bab 1
Aku pernah mencoba menggoda tunanganku yang tanpa tergoda oleh nafsu duniawi sebanyak 999 kali. Bahkan saat aku berdiri telanjang bulat di hadapannya, dia hanya akan bertanya apakah aku kedinginan.
Awalnya, aku mengira dia hanya taat pada aturan dan baru akan menyentuhku setelah menikah. Namun, pada hari jadi kami, aku justru menemukan bahwa diam-diam dia telah memesan kamar di hotel terkenal di kota ini.
Malam itu, aku datang ke ruang VIP dengan penuh harapan. Namun, aku justru menyaksikan dia dan teman masa kecilnya berciuman mesra di tengah sorakan orang banyak, seolah dunia hanya milik mereka.
Setelah berdiri semalaman di depan pintu kamar, akhirnya aku menyadari satu hal, dia memang tidak mencintaiku.
Setelah keluar dari hotel, aku menelepon rumah. "Ayah, aku nggak jadi menikah dengan Nathan. Aku ingin menikah dengan Darius!"
Teh di mulut ayah langsung menyembur keluar. "Putriku Sayang, putra Keluarga Russell itu beberapa tahun lalu mengalami kecelakaan. Katanya, bagian bawah tubuhnya nggak berfungsi. Kalau kamu menikah dengannya, bukankah itu sama saja dengan menjadi janda hidup?"
Aku menjawab dengan putus asa, "Punya anak atau nggak, sudah nggak penting lagi bagiku."
Aku pernah mencoba menggoda tunanganku yang tanpa tergoda oleh nafsu duniawi sebanyak 999 kali. Bahkan saat aku berdiri telanjang bulat di hadapannya, dia hanya akan bertanya apakah aku kedinginan.
Awalnya, aku mengira dia hanya taat pada aturan dan baru akan menyentuhku setelah menikah. Namun, pada hari jadi kami, aku justru menemukan bahwa diam-diam dia telah memesan kamar di hotel terkenal di kota ini.
Malam itu, aku datang ke ruang VIP dengan penuh harapan. Namun, aku justru menyaksikan dia dan teman masa kecilnya berciuman mesra di tengah sorakan orang banyak, seolah dunia hanya milik mereka.
Setelah berdiri semalaman di depan pintu kamar, akhirnya aku menyadari satu hal, dia memang tidak mencintaiku.
Setelah keluar dari hotel, aku menelepon rumah. "Ayah, aku nggak jadi menikah dengan Nathan. Aku ingin menikah dengan Darius!"
Teh di mulut ayah langsung menyembur keluar. "Putriku Sayang, putra Keluarga Russell itu beberapa tahun lalu mengalami kecelakaan. Katanya, bagian bawah tubuhnya nggak berfungsi. Kalau kamu menikah dengannya, bukankah itu sama saja dengan menjadi janda hidup?"
Aku menjawab dengan putus asa, "Punya anak atau nggak, sudah nggak penting lagi bagiku."
...
Mendengar ucapanku, ibuku segera merebut telepon dan bertanya, "Rebecca Clark, bukankah dulu kamu sangat menyukai anak-anak? Kenapa sekarang jadi seperti ini?"
Ibuku tahu bahwa setiap tahun aku selalu menyumbangkan buku dan mainan untuk anak-anak di panti asuhan, yang menunjukkan bahwa aku memang sangat menyukai anak-anak.
Kemudian, ibuku menurunkan suaranya dan menjelaskan, "Putra Keluarga Russell itu, kabarnya terluka di bagian bawah tubuhnya, dia mungkin nggak bisa punya keturunan. Selama bertahun-tahun ini, nggak ada satu pun wanita yang mau menikah dengannya! Dulu dia sudah berkali-kali datang melamar, tapi kamu sendiri yang menolaknya, 'kan?"
Mendengar itu, aku menatap foto pria dalam album ponselku, bahunya lebar, kakinya jenjang, dan wajahnya sangat tampan.
Kupikir, meskipun dia hanya bagus di luar, itu masih lebih baik daripada menikahi Nathan Hart yang hatinya hanya dipenuhi oleh teman masa kecilnya itu.
Mengingat suara-suara yang kudengar semalaman tadi, hatiku terasa seperti disayat pisau.
Ayahku menyadari ada yang tidak beres dari nada suaraku, lalu bertanya hati-hati, "Kalau begitu, kapan kamu akan benar-benar putus dengan pacarmu yang suka kehidupan religius itu? Biar kita bisa atur waktu untuk bertemu dengan putra Keluarga Russell."
"Tiga hari lagi. Setelah semua urusanku selesai, aku akan segera pulang dan bertunangan dengan Darius."
Usai keluar dari hotel, aku kembali ke apartemen yang telah kutinggali bersama Nathan selama enam tahun.
Aku teringat semalam, saat kami saling memandang dari kejauhan di tengah kerumunan. Wajah Nathan tampak sedikit terkejut melihatku di sana. Dia mengerutkan alis, lalu menggandeng tangan wanita itu dan kembali duduk.
Mawar, sampanye, lantunan lagu cinta dari piano, serta makan malam romantis dengan cahaya lilin... Enam tahun bersama, tidak pernah sekalipun dia membawaku ke tempat seperti itu.
Aku pun berbalik dan pergi. Teman-teman dekat Nathan juga ada di sana, aku tahu soal pemesanan hotel itu dari unggahan salah satu dari mereka.
Sebelum pergi, aku masih sempat mendengar suara siulan mereka yang disertai tepuk tangan. "Kalian berdua benar-benar pasangan serasi, akhirnya setelah sekian tahun kalian bisa bersama!"
"Ayo, ayo, semuanya bersulang! Kita doakan pasangan baru ini, semoga cinta mereka berakhir bahagia dalam ikatan pernikahan!"
Aku hanya bisa tersenyum pahit dalam hati. Selama enam tahun aku mendampingi Nathan, teman-teman dekatnya bahkan tidak tahu hubungan kami. Namun, mereka semua justru sangat tahu kedekatan Nathan dengan wanita itu.
Perasaan pedih menyusup ke dalam hatiku.
Hari ini adalah hari jadi kami yang keenam. Awalnya aku begitu gembira saat tahu dia memesan hotel, aku mengira akhirnya kami akan melewati batas untuk pertama kalinya. Namun, kini, semua kegembiraan itu berubah menjadi racun yang menyiksa batinku.
Sesampainya di rumah, aku melihat seorang kurir mengantarkan kue hari jadi kami tepat pukul dua belas malam. Di atas kotaknya tertempel kartu ucapan, dengan tulisan tangan Nathan yang familier, [Aku berharap bisa selalu bersamamu setiap hari.]
Kurir itu tersenyum penuh rasa iri sambil berkata padaku, "Nona, pacarmu sungguh baik sekali. Dia memesan kue paling mewah di toko kami dan berpesan harus mengantarkannya tepat waktu. Bahkan dia menulis kartu ucapannya sendiri!"
Aku membuka pintu dan meletakkan kue itu sembarangan di atas meja. Ternyata, Nathan masih mengingat hari jadi kami yang keenam. Namun, apa yang dilakukannya malam ini?
Aku menjatuhkan diri ke sofa dengan lemas dan memandangi ruangan yang kosong, tanpa sadar mataku mulai memerah.
Setiap sudut ruangan menyimpan jejak kehidupan kami berdua. Namun, tunanganku justru memesan hotel hanya untuk tidur semalam dengan wanita lain.
Melihat kue itu sekarang hanya membuatku mual dan muak.
Aku duduk di sofa cukup lama, sampai lupa waktu. Tiba-tiba, pintu apartemen terbuka.
Bab 2
Nathan pulang dalam keadaan lelah, debu masih menempel di tubuhnya dan di tangannya tergenggam seikat bunga segar.
Dia berjalan ke arahku, wajahnya sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah atau penyesalan. "Rebecca, aku bawakan bunga mawar kesukaanmu."
Mawar merah yang melambang cinta yang tulus dan membara, kini berada di tangan Nathan. Namun, di mataku, itu tidak lebih dari sebuah lelucon.
Aku menerima bunga itu. Nathan mengira aku sudah tidak marah dan mulai menjelaskan, "Khloe terkena kanker tulang. Satu-satunya keinginannya adalah menikah denganku. Kami tumbuh bersama sejak kecil, aku nggak mungkin mengecewakannya. Jadi, tiga hari lagi aku akan bertunangan dengannya."
"Kamu selalu pengertian, pasti bisa memaklumi keputusanku, 'kan?"
Nada bicaranya lebih terdengar seperti pemberitahuan daripada penjelasan. Tiga hari lagi akan bertunangan dengan Khloe Malone?
Kebetulan sekali, tiga hari lagi aku juga sudah berencana untuk pergi.
Aku hanya mengangguk pelan.
Dulu, Nathan paling tidak tahan dengan sikap manja dan keras kepalaku. Dia pernah berkata bahwa setiap kali ada masalah kecil, aku selalu mencarinya hanya untuk memastikan apakah dia masih mencintaiku atau tidak.
Setelah itu, aku perlahan-lahan berubah. Aku belajar untuk bersabar dan menahan diri.
Kini, aku tidak marah, tidak berteriak, bahkan tidak bertanya apakah dia masih mencintaiku. Nathan justru menatapku heran.
"Besok aku akan pindah dan tinggal bersama Khloe. Beberapa bulan ke depan, mungkin kamu harus terbiasa tinggal sendiri."
"Khloe sedang sakit. Dibandingkan denganmu, saat ini dialah yang lebih butuh kehadiranku."
Aku tersenyum, lalu meletakkan bunga itu. Melihat aku tidak menolak, Nathan mendekat dan mencoba menyentuh wajahku.
Biasanya, dia orang yang sangat menjaga diri dan tidak pernah menyentuhku lebih dulu. Namun, kali ini, saat dia mencoba menyentuhku, aku secara halus menghindarinya.
Di kerah kemejanya masih menempel bekas lipstik merah menyala dan aroma parfum manis yang menusuk hidungku, aroma itu membuatku ingin muntah.
Nathan yang kutolak merasa kesal. Tanpa berkata apa-apa lagi, dia langsung pergi dari rumah dengan terburu-buru.
Aku membuang bunga dan kue itu ke tempat sampah, lalu mulai membereskan barang-barangku.
Aku tidak menginginkan bunga itu, begitu juga dengan Nathan. Untuk rumah yang kutinggali selama enam tahun ini, aku pun sudah tidak memiliki sedikit pun rasa keterikatan.
Bab 3
Keesokan harinya saat kembali ke perusahaan, aku duduk di meja kerja dan mencetak surat pengunduran diri.
Aku dan Nathan saling mengenal dan jatuh cinta saat kuliah. Setelah dia bekerja ke perusahaan teknologi ini, aku pun mengikutinya. Aku menolak tawaran pekerjaan dari orang tuaku dan menemaninya memulai karier dari karyawan biasa.
Sejak bersama Nathan, aku pernah mencoba berbagai cara untuk menggoda dan menarik perhatiannya. Entah saat aku berpakaian minim dan sengaja terjatuh ke pelukannya, atau saat berpura-pura mabuk dan mencoba diam-diam menciumnya.
Namun, setiap kali kami hampir melewati batas, dia hanya memutar-mutar gelang tasbih di tanganya dan menatapku dengan tenang dan penuh pengendalian diri.
Seolah tanpa nafsu maupun keinginan, seperti orang suci yang turun ke dunia fana.
Kini, setelah enam tahun bersama, saat aku tahu dia telah memesan hotel, aku sempat berpikir bahwa dia akhirnya berniat serius denganku. Namun, nyatanya, semua itu hanyalah khayalanku sendiri.
Seorang rekan kerja lewat dan melihat surat pengunduran diriku di layar komputer, dia tampak terkejut. "Kak Rebecca, kamu sebentar lagi akan dipromosikan jadi direktur divisi di perusahaan ini, kenapa tiba-tiba mengundurkan diri?"
Aku tersenyum. "Aku akan segera menikah. Mungkin saat itu aku akan bekerja di perusahaan lain."
Rekan kerjaku, Sara Hudson, ikut tersenyum dan memberi ucapan selamat. "Akhir-akhir ini banyak sekali kabar bahagia di perusahaan kita. Tadi malam aku juga lihat unggahan Pak Nathan di media sosial, katanya dia mau bertunangan!"
"Memang harus diakui, wakil direktur utama dan pacarnya benar-benar cocok. Katanya mereka sudah kenal sejak kecil dan tumbuh besar bersama."
"Aku sudah lama penasaran, siapa yang bisa menaklukkan Pak Nathan yang selama ini tampak tidak tersentuh itu. Ternyata, jawabannya adalah cinta pertamanya!"
Senyumku tiba-tiba terasa kaku. Saat membuka ponsel, aku mendapati nomor utama dan nomor kedua WhatsApp milik Nathan sudah lama memblokirku.
Nomor utama Nathan memang untuk urusan pribadi. Semalam, setelah dia pergi dari rumah, dia langsung memblokirku dan menghapus kontakku. Sementara nomor keduanya yang dipakai untuk kerja, saat aku membuka kolom percakapan, yang tersisa hanyalah percakapan kaku antara atasan dan bawahan.
Saat itu juga, Nathan masuk ke perusahaan bersama Khloe.
Keduanya berjalan sangat dekat. Wajah Khloe tampak cerah dan tersenyum manis, sama sekali tidak terlihat seperti orang yang sedang sakit.
Kemudian, Nathan memperkenalkannya, "Dia adalah direktur divisi teknologi yang baru di perusahaan kita. Silakan berkenalan, semoga semuanya bisa menjalin kerja sama yang baik ke depannya."
Sara tampak terkejut, pandangannya bolak-balik menatapku dan Khloe, lalu membungkuk dan menyapa, "Selamat datang, Bu Khloe!"
Aku tidak mengatakan apa pun dan hanya menggenggam erat surat pengunduran diriku. Namun, Nathan justru memandangku dengan penuh ketidakpuasan. "Rebecca, semua orang sudah menyapa direktur divisi baru. Apa-apaan sikapmu ini?"
Khloe tersenyum pelan, lalu mengulurkan tangannya ke arahku. "Mulai sekarang kita akan bekerja di perusahaan yang sama. Ke depannya, mohon kerja samanya."
Saat aku baru saja mengulurkan tangan, Nathan segera menarik tangan Khloe kembali. "Kamu sekarang seorang direktur divisi. Nggak perlu memberi muka pada karyawan biasa. Ayo, aku ajak berkeliling melihat-lihat lingkungan kerja."
Mereka berdua pun pergi, meninggalkan aku seorang diri, dengan tangan yang masih terulur di udara, seperti seorang badut.
Sara menarikku duduk dan mulai memakan melon di meja kerjanya. "Rebecca, kamu lihat, 'kan? Barusan itu tunangan Pak Nathan!"
"Kalung berlian merah muda di lehernya itu hadiah dari Pak Nathan kemarin, katanya harganya mencapai miliaran!"
"Tapi cara Pak Nathan mengangkat orang dari luar terlalu keterlaluan! Kamu sudah bekerja di perusahaan ini lima tahun dan kemampuanmu juga diakui semua orang, tapi Pak Nathan dengan mudahnya memberikan posisi yang seharusnya jadi milikmu kepada orang lain!"
Aku hanya mengangguk dengan pikiran yang melayang. Sejak awal, aku memang berniat mengundurkan diri. Kehadiran mendadak Khloe hari ini hanya membuatku makin sadar akan posisiku di hati Nathan.
Setelah mengambil berkas-berkas dan surat pengunduran diri, aku mengetuk pintu kantor Nathan.
"Masuk." Nada suaranya sangat dingin.
Aku meletakkan semua dokumen, termasuk berkas-berkas yang perlu diserahkan setelah pengunduran diriku.
Nathan membolak-balikkan dokumen itu, wajahnya makin kelam. Akhirnya, dia menatapku dengan ekspresi mengejek, sudut bibirnya melengkung sinis.
"Rebecca, kemarin aku kira kamu sudah berubah dan nggak akan lagi merajuk seperti dulu. Ternyata hari ini langsung menunjukkan sifat aslimu, ya?"
Setelah mengatakannya, Nathan melemparkan dokumen-dokumen itu ke arahku.
Aku menghindar, lalu menunduk dan memungut satu per satu dokumen yang berserakan di lantai.
Nathan masih melanjutkan ucapannya, "Dia cuma merebut kesempatan promosimu, 'kan? Khloe itu satu jurusan denganku, aku sangat percaya dengan kemampuannya, makanya aku memberikan posisi direktur divisi teknologi padanya. Kamu sudah lima tahun kerja, tapi masih cuma karyawan biasa, memangnya kamu punya hak apa untuk marah!"
Aku merapikan dokumen dan meletakkannya di hadapannya. Aku berkata dengan tenang, "Ini bukan karena marah, aku hanya benar-benar ingin mengundurkan diri."
Khloe satu jurusan denganmu, kamu tahu betul kemampuannya. Namun, aku bagaimana?
Aku kuliah jurusan desain perhiasan, tapi demi Nathan, aku mengambil gelar ganda di jurusan lain. Bertahun-tahun aku bekerja keras siang dan malam agar bisa menyamai langkahnya. Namun, di matanya, semua usahaku tidak pernah dianggap berharga.
Nathan menatapku dengan tatapan merendahkan. "Kamu sendiri tahu kemampuanmu nggak seberapa, 'kan? Aku sudah menempatkanmu di bawah Khloe. Mulai sekarang, belajar baik-baik darinya."
Aku tersenyum. "Waktuku juga sangat berharga. Hal yang nggak kusukai, ke depannya nggak akan kusentuh lagi."
"Bagus! Kalau begitu pergilah! Aku ingin lihat, perusahaan mana lagi yang masih mau menerimamu!" ujar Nathan sambil berdiri dari kursinya, dia menatapku seperti binatang buas yang siap menerkam.
Aku berbalik dan langsung meninggalkan kantornya.
Enam tahun bersama Nathan hanya buang-buang waktuku. Namun, mulai sekarang, aku tidak akan lagi hidup dalam bayang-bayangnya, apalagi jika dia masih mengharapkan aku tunduk pada Khloe.