Bab 4
. Tawaran Kerja
"Bagaimana?" tanya Haris setelah beberapa saat Anton belum memberikan jawaban.
Tapi, di matanya terlihat jelas kalau dia sulit menolaknya.
Bagaimana bisa? Bertahun-tahun dia berusaha bekerja sebaik mungkin, mendekati dan mencari perhatian bos. Bahkan menjilat pun kerap dilakukannya agar terlihat bos.Dia tidak kunjung naik jabatan.
Tapi ini? Hanya mengizinkan Selena bekerja, dia akan menjadi Manajer.
"Coba saya tanyakan Selena dulu, Pak."
"Kalau dia bersedia, besok langsung temui saya di kantor," jawab Haris sambil tersenyum.
"Baik, Pak."
Sementara itu, Selena yang masih di dapur tampak bingung sendiri. Haruskah dia menjadi asisten pribadi Haris? Tapi, ini adalah kesempatan yang dia tunggu-tunggu.
Tidak berapa lama, Haris berpamitan dari pasangan suami istri itu.
Selena dan Anton mengantarkan sang bos hingga depan pintu.
"Berikan jawabannya besok," ucap Haris kepada Anton, tapi ekor matanya melihat ke arah Selena.
"Baik, Pak."
Di kamar Anton dan Selena.
Tubuh Anton penuh peluh, dia baru saja menuntaskan hasratnya. Sedangkan Selena, hanya terbaring diam.
Anton berbaring di sampingnya, nafasnya naik turun. Dia tidak peduli dengan Selena yang bahkan belum mencapai puncaknya.
Asal Anton sudah puas, dia akan menghentikan permainan, dia tidak bertanya apakah Selena sudah puas atau belum, baginya itu tidak penting.
"Kamu ditawari Pak Haris bekerja," ujar Anton setelah nafasnya kembali normal.
Selena menarik selimut, menutupi tubuhnya yang masih telanjang.
"Kerja apa?" tanya nya, pura-pura tidak tahu.
Padahal Selena sempat mendengar pembicaraan Anton dan Haris tadi.
"Menjadi asisten pribadinya," jawab Anton.
"Sekretaris maksudnya?" tanya Selena.
"Ya itu, karena memang sekretaris Pak Haris sudah resign. Yang sekarang itu hanya pengganti sementara. Tapi, beliau meminta merangkap menjadi asistennya," jawab Anton.
"Oh." Selena hanya menjawab singkat.
Dia pun masih ragu dengan tawaran itu. Tatapan tak biasa dan sentuhan yang berani itu membuat Selena berpikir, apakah tawaran ini karena kerjanya atau….
"Kamu mau?" tanya Anton.
"Kamu pasti tidak mengizinkannya, percuma juga walaupun aku mau," jawab Selena lemah.
Anton terdiam, tatapannya tertuju pada langit-langit kamar yang putih. Jabatan Manajer begitu menggiurkan. Kapan lagi bisa mendapatkan promosi dengan mudah?
"Menurutku, kamu harus ambil deh," ucap Anton akhirnya.
"Hah?" Selena terkejut mendengarnya.
Anton tiba-tiba mengizinkannya bekerja. Bukankah itu hal yang aneh?
Selena memang tidak mendengar tawaran Haris untuk Anton. Makanya dia syok saat tahu Anton mengizinkannya.
"Mumpung aku berbaik hati. Jangan sampai aku berubah pikiran," sambung Anton dingin.
"Kamu beneran boleh?" tanya Selena.
"Besok langsung temui Pak Haris," ujar Anton mengabaikan pertanyaan Selena, lalu membelakangi Selena.
Tidak berapa lama, terdengar dengkuran halus dari bibir Anton, artinya dia sudah terlelap.
Keesokan harinya...
"Mas, kamu beneran bolehin aku bekerja?" tanya Selena sambil mematut diri di depan cermin.
Mengenakan kemeja putih, dan celana kulot hitam. Dengan bando dari pita berwarna putih, penampilan Selena terlihat sempurna.
"Jangan banyak tanya. Kalau mau kerja ya kerja aja. Aku sudah pusing mendengar rengekanmu setiap hari," jawab Anton.
"Terima kasih, Mas."
"Hmmm."
Anton melirik ke arah sang istri, tanpa polesan make up yang tebal istrinya terlihat begitu cantik. Ada rasa tidak rela. Tapi, ini juga demi dirinya.
Dia akan segera menjadi Manajer.
Tiba di kantor, Anton hanya memberikan petunjuk kepada Selena dimana ruangan Haris.
"Jangan tunjukkan di depan orang kalau kita suami istri," ujar Anton kepada Selena.
"Hah? Kenapa, Mas?" tanya Selena bingung.
"Bisa gak sih kamu itu gak banyak tanya! Jangan terlalu cerewet!" kesal Anton dan segera meninggalkan Selena menuju ruangannya.
Dengan petunjuk dari Haris, Selena akhirnya tiba di depan sebuah ruangan dengan papan nama tergantung diatasnya "Haris Pradana - CEO".
Tok! Tok! Tok!
Ragu-ragu Selena mengetuk.
"Masuk!" terdengar suara dari dalam.
Ceklek!
Selena meraih handle pintu dan masuk ke ruangan Haris. Harum bunga mawar lembut menyambutnya. Ternyata, Haris memiliki sisi feminim juga.
"Selena?" tanya Haris yang seolah terkejut melihat kedatangan Selena di ruangannya.
"Iya, Pak. Mas Anton bilang, bapak membutuhkan asisten dan meminta saya datang," jawab Selena sambil menunduk.
"Iya, silakan duduk."
Selena duduk pada kursi di hadapan Haris, tapi tatapan lelaki itu seperti sedang menelanjanginya. Menusuk, tapi penuh makna.
"Sudah tahu tugasnya?" tanya Haris.
Selena menggeleng. "Mas Anton hanya bilang sebagai asisten."
Haris bangkit dari kursinya, kemudian memutar layar komputernya hingga menghadap Selena.
Haris berdiri di belakang Selena, jarak mereka sangat dekat. Bahkan, Selena bisa merasakan embusan nafas Haris di samping telinganya.
"Ini tugas kamu sebagai sekretaris, termasuk mengatur semua jadwalku," ujar Haris tangannya menyentuh bahu Selena.
Selena diam, dia merasa tidak nyaman.
Tangan Haris meremas bahunya dengan lembut.
"Berapa gaji yang kamu minta?" tanya Haris setengah berbisik di telinga Selena.
"Sa-saya tidak tahu, Pak," jawab Selena.
"Tidak perlu gugup. Sebutkan saja, aku akan menyetujuinya," ucap Haris.
Bab 5
. Selingkuh
“Terserah Bapak,” ujar Selena akhirnya.
Haris tertawa, dia kembali duduk di kursinya. Tidak berapa lama, dia sudah berbicara di ponselnya, ternyata menghubungi HRD untuk membuatkan surat pengangkatan untuk Selena sebagai sekretarisnya.
“Besok, kamu mulai bekerja,” ucap Haris lagi. Setelah itu, dia meminta Selena untuk menemui HRD dan menyerahkan semua persyaratan sebagai dokumen yang dibutuhkan perusahaan.
“Terima kasih, Pak.”
Selena berpamitan, namun sebelum kakinya melangkah menuju pintu, Haris kembali membuka suara.
“Malam ini temani saya makan malam.”
“Hah?” Selena menghentikan langkahnya, terkejut bukan main.
Katanya besok mulai bekerja, tapi malam ini diminta menemani makan malam.
“Bukankah, katanya saya besok…”
“Saya lupa, ada undangan makan malam dari teman. Hitung-hitung sebagai sambutan untukmu,” potong Haris dengan cepat.
Selena terdiam, tapi dia sudah terlanjur setuju untuk bekerja, mau tidak mau akhirnya dia mengangguk pelan.
Haris tersenyum lebar menatap kepergian Selena dari ruangannya.
Malam harinya, Selena mengenakan dress selutut berwarna pink. Dia terlihat begitu cantik.
“Semoga nanti Mas Anton gak berubah pikiran, dan melarang aku kerja lagi,” ujar Selena sambil mematut diri di depan cermin.
Dia sudah izin kepada sang suami untuk menemani Haris keluar malam ini. Kebetulan Anton juga belum pulang, katanya dia akan pulang terlambat karena harus lembur.
Tidak berapa lama, Haris menjemput. Dia bahkan tidak berkedip saat melihat Selena yang sedang berjalan menuju mobil.
“Dia sempurna,” desis Haris memuji.
Makan malam itu diadakan di sebuah restoran sebuah hotel berbintang lima. Disana seorang lelaki sudah menunggu.
“Selamat datang, Haris. Ternyata kau membawa kekasih,” kekeh lelaki yang bernama Dimas itu.
“Dia sekretarisku,” jawab Haris memperkenalkan Selena kepada Dimas.
“Kau selalu begini, katanya hanya kerjasama santai. Tapi, tetap saja bawa sekretaris. Tapi, dia cantik juga,” ujar Dimas sambil mengedipkan matanya ke arah Selena.
Selena menunduk, dia baru tahu ternyata disamping makan malam ini, Haris dan Dimas sekalian membuat perjanjian bisnis.
“Biar jelas,” jawab Haris.
Sepanjang makan malam itu, beberapa kali Dimas tampak mengedipkan matanya ke arah Selena. Dan puncaknya, ketika Selena sedang fokus makan, sebuah tangan mengelus pahanya. Dan itu tangan Dimas.
Selena terkejut, tapi dia tidak mau membuat keributan dan mengakibatkan batalnya kerjasama, padahal ini hari pertamanya bekerja.
“Maaf, Pak. Saya ke toilet sebentar,” ucap Selena dengan tiba-tiba berdiri.
“Oh oke,” jawab Haris.
Selena segera bernafas lega, setidaknya dia segera terbebas dari situasi itu.
Tapi, baru saja beberapa langkah matanya menangkap sosok yang sangat dikenalnya yang baru saja selesai menikmati makan malam bersama dengan seorang wanita.
Itu Anton, suaminya. Yang tadi mengatakan hari ini pulang terlambat karena lembur, kini dia melihat sosok itu tampak begitu akrab dengan Citra, selama ini dia kenal sebagai rekan kerja Anton.
Kebetulan keduanya sudah selesai dan bersiap pergi. Selena tidak ingin menyapa, dia ingin tahu seperti apa hubungan mereka.
“Sekali lagi, selamat atas jabatan barumu, Sayang,” ucap Citra dengan begitu manja bergelayut di lengan Anton.
“Kita rayakan malam ini, Sayang.”
“Aku siap.”
Keduanya tertawa riang, sedangkan Selena merasa hatinya seperti diremas-remas. Ternyata, inilah sebenarnya alasan Anton selalu beralasan lembur, tapi uangnya tidak ada.
Selena terus mengikuti mereka, yang mengejutkan adalah Anton dan Citra tidak menuju parkiran, mereka menuju ke hotel. Keduanya masuk ke dalam lift sambil berciuman.
“Mas…” panggil Selena.
Dia terdiam, dadanya bergemuruh. Dia baru tahu, ternyata selama ini dia sudah dikhianati. Beberapa bulan lalu, dia memang pernah menemukan tanda merah di baju Anton, dia tidak berpikir negatif.
Ternyata dia telah dibodohi..
Selena berbalik.
Bruuk!
Dia menabrak seseorang, tubuhnya limbung. Hampir saja dia terjatuh kalau saja tangan kekar itu tidak menahannya.
“Pak Haris…” gumam Selena terkejut.
“Kamu ke toilet terlalu lama, aku khawatir terjadi sesuatu dan menyusulmu,” jawab Haris.
Selena segera menarik tubuhnya yang masih dipegang Haris, jantungnya tidak karuan.
“Kita kembali ke meja makan,” ucap Selena.
Haris menggeleng. “Tidak perlu. Dimas sudah pulang.”
Selena merasa bersalah. “Maaf, Pak.”
“Tak masalah. Ayo kita pulang.”
Selena mengangguk mengekor di belakang Haris dengan pikiran kembali kepada Anton dan Citra. Entahlah, apakah Haris juga melihat mereka?
“Mau langsung pulang atau mau ke suatu tempat?” tanya Haris saat mereka tiba di dalam mobil.
“Pak, aku mau jalan-jalan saja sebentar,” jawab Selena.
“Baiklah. Mau kemana?”
“Kemana saja, Pak.”
Haris mengangguk, tanpa banyak tanya, seolah paham dengan pikiran Selena, dia langsung melajukan mobilnya menuju ke sebuah mall.
“Bagaimana kalau kita menonton?” ajaknya.
Selena mengangguk, saat ini baginya kemana saja tidak masalah. Yang penting bisa menghilangkan stresnya.
Ting!
Sebuah pesan masuk ke ponselnya, dari Anton. Segera Selena membacanya.
“[Aku tidak pulang malam ini. Pekerjaan masih menumpuk. Aku akan menginap di kontrakan teman.]”
Selena mengembuskan nafas kasar, Anton kembali berbohong padanya.
Dan selama ini beberapa kali Anton tidak pulang dengan alasan yang sama. Ternyata dia menginap di hotel bersama Citra.