Bab 1
Selena terpaksa menjalani hidup sebagai ibu rumah tangga karena sang suami melarangnya bekerja dengan alasan 'wanita hanya boleh di rumah'.
Hidupnya terasa terkubur sampai suatu hari bos besar suaminya berkunjung ke rumah. Tanpa sengaja, Selena menerima tamu itu dengan penampilan sederhana—hanya daster tipis—dan justru membuat Haris, bos suaminya, terpesona.
Dari sinilah jalan hidupnya berubah: tawaran pekerjaan sebagai sekretaris pribadi membuka kesempatan sekaligus jebakan. Yang awalnya sekadar pintu keluar dari rutinitas rumah tangga, perlahan menyeretnya ke hubungan terlarang dengan sang bos.
Di sisi lain, suaminya yang semula menolak, justru memilih menutup mata demi ambisi promosi. Antara logika moral dan gairah yang tak terbendung, mereka semua terjebak dalam permainan yang mengancam runtuhnya rumah tangga.
. Tamu Tak Terduga
Braaak!
"Kerja! Kerja! Setiap hari itu saja yang kau rengekkan!" kesal Anton kepada istrinya, Selena.
Dia menggebrak meja makan dengan kasar, bahkan piring, mangkok dan gelas ikut bergoyang karenanya. Saking emosinya setiap pagi mendengar istrinya merengek ingin kerja. Padahal, dia tidak kekurangan memberikan nafkah.
"Tapi, aku bosan di rumah, Mas," jawab Selena.
Dan selalu saja, alasan yang Selena ucapkan tidak pernah berbeda, selalu karena bosan di rumah.
"Kau tidak perlu bekerja! Tugas istri itu hanya dirumah, mengurus rumah tangga!" teriak Anton semakin emosi.
"Tapi..."
"Aku pergi!" potong Anton dengan cepat, meraih tasnya dan berlalu dengan mobilnya.
Bahkan, dia tidak menyentuh sarapan yang sudah disiapkan Selena sama sekali.
Selena hanya menatap debu yang ditinggalkan ban mobil suaminya. Dan beralih menatap meja makan yang tidak tersentuh.
Dia hanya bisa menghela nafas berat. Ada setitik penyesalan bersarang di hatinya, seharusnya dia tidak membuka pembicaraan mengenai keinginannya untuk kembali bekerja.
Dua tahun lalu, dia bekerja sebagai supervisor marketing di sebuah perusahaan. Namun, setelah menikah dia berhenti atas permintaan sang suami.
Awalnya, dia menikmati hidupnya menjadi ibu rumah tangga. Namun, lama kelamaan rasa bosan mulai menghinggapi. Ditambah lagi, Anton tidak pernah memberikannya ruang untuk menjadi dirinya sendiri. Dia dilarang memanjakan dirinya, seperti ke salon ataupun hanya sekedar ngopi sendirian.
Apalagi ketika tidak sengaja bertemu dengan teman-temannya, mereka selalu bangga dengan pencapaian karir. Sedangkan dia?
Selena adalah seorang sarjana, dengan usia yang baru menginjak pertengahan dua puluh tahunan. Saat tamat kuliah sempat bekerja setahun dan akhirnya menikah.
Semakin lama, dia merasa semakin kesepian. Apalagi pernikahan mereka yang hampir menginjak usia dua tahun, belum juga dikarunia seorang anak. Kalau ada anak, mungkin kesepian itu akan sedikit berkurang.
"Ah, penyesalan itu selalu datang terlambat. Seharusnya dulu aku mengejar karir," ujar Selena yang akhirnya menghempaskan tubuhnya di sofa dan menyalakan televisi.
Begitulah cara dia menghabiskan waktu.
Kring! Kring!
Ponsel yang terletak diatas meja berdering, menjerit dengan keras seolah meminta untuk segera dijawab.
Dengan malas, Selena meraih ponselnya. Menggeserkan ikon gagang telepon warna hijau. Dia sempat melihat, suaminya yang menelpon.
"Iya, Mas." Selena menjawab dengan datar ketika terdengar suara Anton diujung sana.
"Kau dimana?" tanya Anton.
"Di rumah."
"Malam ini, Pak Haris mau datang ke rumah. Siapkan makanan yang enak dan pastikan rumah dalam keadaan bersih dan rapi! Jangan malas!"
Begitulah Anton, setiap kata yang keluar dari mulutnya hanya sebuah perintah. Selena seolah pembantunya.
Padahal, dulu saat mereka belum menikah, Anton begitu lembut dan sabar. Tapi, sekarang dia berubah seratus delapan puluh derajat.
Baginya, istri itu harus menunjukkan kehebatannya di dapur, sumur dan kasur, juga tidak suka mengeluh, barulah disebut istri yang baik.
"Selena, kau dengar tidak?" tanya Anton, tatkala Selena tidak segera menjawab.
"Mau ngapain Mas, bos kamu datang ke rumah kita?" Selena balik bertanya.
"Sudah, kau cukup lakukan saja yang aku katakan. Jangan banyak tanya! Dan ingat, jangan membuat malu!"
Tut!
Sambungan telepon langsung dimatikan oleh Anton secara sepihak.
Selena melirik jam di dinding. Sekarang pukul dua siang. Dia harus mulai bersih-bersih dan masak.
Detik berikutnya, Selena mulai berkutat di dapur. Mengolah bahan menjadi makanan yang lezat. Karena ini bos besar, jadi cukup banyak yang dia masak. Beruntungnya bahan makanan di kulkas masih cukup banyak, sehingga tidak perlu belanja terlebih dahulu.
Peluh membasahi dahi Selena, bahkan dia tidak sadar kalau sudah hampir seluruh tubuhnya berkeringat.
Setelah selesai masak, masih mengenakan daster putih tipis, Selena melanjutkan membersihkan beberapa bagian rumah.
"Ya ampun, kenapa sih harus dadakan ngasih taunya?" ujar Selena dengan sedikit kesal menggantikan taplak meja makan dengan yang baru.
"Apa Mas Anton pikir menyiapkan makanan itu gampang? Tuh lihat, sekarang gak terasa sudah pukul lima," sambung Selena berbicara pada dirinya sendiri.
Selena mengelap wajahnya yang berkeringat dengan tisu.
Ting nong! Ting nong!
Di saat pekerjaannya belum beres, bel berbunyi.
"Sepertinya paketku datang," ujar Selena tersenyum.
Dua hari lalu dia memesan paket skincare, dia yakin itu pesanannya yang baru tiba. Dia hanya merawat tubuhnya dengan skincare rutin, karena kalau ke salon, jangan harap mendapatkan izin dari sang suami.
"Sebentar," ujar Selena sambil mengelap tangannya ke daster, menyampirkan lap meja ke bahunya dia meninggalkan sejenak pekerjaannya.
Dengan langkah ringan, Selena berjalan menuju pintu. Inilah salah satu hiburannya di rumah yaitu unboxing paket.
Kriet!
Selena membuka pintu.
Namun, matanya membola saat melihat siapa yang berdiri di depan pintunya.
Bukan kurir seperti yang dia pikirkan, tapi seorang lelaki dewasa, penampilannya rapi dan berkharisma.
Selena sempat terpaku sejenak melihat bos suaminya sudah berdiri disana, bukankah katanya malam nanti baru datang?
"P-pak..." sapa Selena.
Haris yang berdiri di ambang pintu menatapnya tidak berkedip.
Bab 2
. Sentuhan Nakal Bos Suamiku
"Anton sudah pulang?" tanya Haris dengan tatapan lekat pada Selena.
"Be-belum pulang, Pak," jawab Selena gugup.
Dia serba salah, menghindar takut dibilang tidak sopan. Balas menatap balik, nanti dikira dia menantang. Dan berpengaruh pada karir suaminya.
Haris mengangguk pelan.
Lelaki dengan tinggi sekitar seratus tujuh puluh lima centimeter, dengan tatapan mata tajam tapi teduh, kulitnya putih dan satu lagi kacamata hitam bertengger disana. Dia bak seorang aktor. Ditambah lagi tubuhnya begitu tegap, otot tangannya terlihat cukup padat, menandakan dia rutin fitnes.
Bahkan, Selena sempat terbersit membandingkan Haris dengan Anton. Meskipun mungkin Anton tidak kalah ganteng dengan Haris, tapi lelaki itu sangat malas sekali berolahraga, perutnya bukan sixpack malah sudah mulai sedikit membuncit.
Selena memang sudah mengenal Haris, lelaki itu adalah kakak tingkatnya saat kuliah dulu. Senior yang pernah membuatnya menangis saat ospek, pada saat itu Haris sudah semester tujuh, tapi masih sempat mengganggu mahasiswa baru.
“Ehm.” Haris berdehem melihat Selena hanya mematung di depannya, matanya terus menatap Selena seperti sedang menguliti wanita itu.
Kemudian Selena baru sadar kalau daster yang dikenakannya cukup tipis dan basah oleh keringat.
Bra merah tercetak jelas dibalik daster putihnya. Selena hanya menunduk. Menghindar juga sudah tidak sempat lagi.
Tangannya mencoba menutupi bagian dadanya. Tapi percuma, Haris sudah melihatnya.
"Boleh saya masuk?" tanya Haris lagi.
Selena hanya mengangguk. "Silakan, Pak."
Selena memberikan jalan kepada Haris, sementara bos suaminya itu tampak tersenyum melirik ke arahnya.
"Silakan duduk, Pak."
"Terima kasih, saya ada janji sama Anton. Kebetulan saya sedang berada di sekitar sini, jadi langsung mampir," ucap Haris sambil menghempaskan tubuhnya di sofa ruang tamu.
Selena hanya mengangguk. Tidak tahu harus menjawab apa.
"Silakan menunggu, saya tinggal ke dalam, Pak," ucap Selena.
"Maaf, jadi merepotkan."
"Sama sekali tidak, Pak," jawab Selena sambil bersiap berlalu ke dalam.
"Kata Anton, kamu dulu pernah bekerja?" tanya Haris, seolah sengaja menghentikan langkah Selena.
Selena mengangguk. "Iya, Pak."
"Kerja apa?"
"Supervisor marketing," jawab Selena, tatapan matanya sedikit menerawang.
Setiap kali diungkit masalah pekerjaan, wajahnya akan berkabut sedih. Haris membaca wajah Selena, dia tersenyum penuh arti.
"Sayang sekali."
"Kenapa, Pak?"
"Iya, wanita secantik dan secerdas kamu harus terkurung di rumah. Seharusnya, kamu memiliki kesempatan naik ke puncak karir," jawab Haris menatap Selena lekat.
"Kamu sangat pintar, dulu pemegang IPK sempurna menggegerkan jurusan. Sampai-sampai kami anak semester atas dibanding-bandingkan oleh dosen. Sekarang kamu malah nganggur, kalau tidak berhenti kamu sepertinya akan mencapai kesuksesan," sambung Haris.
"Itu hanya dulu. Maaf Pak, saya permisi."
Selena kembali ke dapur, dengan sedikit gugup Selena menyiapkan minuman.
Pikirannya kembali terngiang dengan kata-kata Haris. Dia seharusnya masih berkarir. Bisa jadi, dia sudah naik jabatan.
Selena menggeleng, dia sudah setuju untuk hanya menjadi ibu rumah tangga. Dia harus melupakan keinginannya bekerja, dan semua itu, kini hanya menjadi mimpi yang tidak akan pernah terwujud.
Dan apakah sekarang Selena merasa dia adalah wanita seutuhnya setelah full menjadi ibu rumah tangga? Entahlah, dia lebih merasa sedang terpenjara.
"Minum apa yang harus aku buat?" tanya Selena bingung.
"Biasanya orang tua suka kopi," jawabnya sendiri.
Dia yang bertanya, dia juga yang menjawab.
Dengan yakin, Selena menyeduh kopi hitam. "Tapi, dia tidak tua-tua amat sih. Wajahnya masih awet muda dan ganteng lagi. Masih sama kayak dulu, tapi dulu ngeselin."
"Ah sudahlah, kopi saja. Kalau tidak mau yaudah terserah. Siapa suruh datang lebih cepat," sambung Selena akhirnya.
Tidak berapa lama, harum kopi menguar ke seluruh ruangan.
Selena membawa nampan yang berisi kopi panas dengan asapnya yang masih mengepul.
Dengan masih mengenakan baju yang sama, daster tipis putih tanpa lengan.
"Harum sekali kopinya," puji Haris.
Selena tersenyum kikuk, dan siapa sangka Haris malah berdiri di dekat Selena, tangannya menyentuh tangan Selena dengan sengaja, dan berpura-pura menaruh gelas itu di meja.
"Kopinya panas, takut tumpah," ujar Haris masih memegang tangan Selena.
Aliran darah Selena berdesir hangat, sentuhan itu seperti sebuah sengatan listrik.
Haris sama sekali tidak melepaskan pegangan tangannya, dan malah semakin naik hingga ke lengan.
Selena terkejut, dia mundur beberapa langkah. Tapi, geraknya terhenti karena terpentok di sofa. Ruang geraknya semakin menyempit.
Haris menyunggingkan senyumannya.
Tangan Haris semakin naik, tapi sebelum menyentuh bahu Selena, tiba-tiba...
Bel rumah kembali berbunyi, Selena bernafas lega.
Sementara Haris kembali ke tempat duduknya dengan senyum samar, namun sebelumnya dia berbisik kepada Selena. "Kamu juga sangat cantik dan lucu, masih sama seperti dulu."
Wajah Selena memerah, dia segera menuju pintu.
Sementara Haris pura-pura sibuk dengan ponselnya, meskipun ujung matanya tidak lepas dari Selena.
Saat pintu dibuka, suaminya berdiri di depan pintu dengan wajah bertekuk karena kelelahan.
"Sedang apa kamu? Kenapa lama sekali?" tanya Anton.
Selena gugup, ada rasa takut jika sang suami mengetahui apa yang baru saja terjadi.
Selena sendiri pun bingung, kenapa pintu tertutup? Padahal di dalam ada tamu. Dia lupa kapan menutup pintu itu.
"Maaf, Mas..."
"Sudah siap semua untuk malam ini? Jangan sampai memalukan, ini pertama kalinya bos datang," sambung Anton memastikan.
"Bos kamu sudah di rumah, Mas," jawab Selena.
"Hah?" Anton terkejut sekaligus tidak percaya kalau bos nya sudah di rumah.
Bab 3
. Pujian untuk Selena
“Benarkah?” tanya Anton.
Sejak tadi, Haris tidak mengabarkan pada Anton kalau dia langsung ke rumahnya.
"Iya, sudah setengah jam," jawab Selena.
Anton buru-buru masuk, dia mendapati bos nya sudah duduk santai di ruang tamu.
"Maaf, Pak. Saya baru pulang," ucap Anton merasa bersalah, karena tidak bisa menyambut kedatangan bos.
"Tidak masalah. Saya yang tidak mengabari," jawab Haris sambil terkekeh.
"Saya kira bapak akan datang malam nanti," ucap Anton lagi sambil duduk di depan Haris.
"Kebetulan sedang berada di sekitar sini. Kalau pulang dulu, akan memakan waktu. Jadi, saya pikir sekalian saja mampir."
Sesekali, ekor mata Haris melirik ke arah Selena yang masih berdiri di dekat Anton.
Selena merasa bersalah pada Anton, apalagi sentuhan Haris tadi masih meninggalkan kejutan aneh dalam dirinya.
Sentuhan singkat dan lembut, tapi meninggalkan rasa yang sulit hilang.
"Sayang, kamu siapkan makanannya ya," ujar Anton kepada Selena.
Suaranya sudah merendah, ingin menunjukkan pencitraan di depan bos.
"Iya, Mas."
Anton sama sekali tidak curiga, kepada istri dan bosnya itu.
Setelah Selena kembali ke belakang, Haris dan Anton tampak berdiskusi dengan serius. Pembahasan mereka tampaknya begitu seru, perdebatan dan tawa sesekali terdengar dari dapur.
"Fokus, Selena," ujar Selena pada dirinya sendiri yang beberapa kali salah ambil barang.
"Dia duda, kan?" tanya Selena lagi.
Anton pernah bercerita kalau bosnya itu seorang duda. Dia ditinggalkan oleh istrinya yang berselingkuh. Tidak mau memperpanjang urusan, Haris menceraikan istrinya. Dan mereka belum dikarunia seorang anak.
"Apa hubungannya denganku? Jangan berpikir aneh," lanjut Selena mengingatkan dirinya.
Setelah makanan siap, Anton dan Haris masih sibuk berdiskusi. Selena memilih untuk berganti pakaian.
Selena mengenakan dress selutut tanpa lengan berwarna merah. Tampak begitu pas di tubuhnya. Dengan make up tipis, Selena tampil cantik dan memukau.
Berkali-kali dia mematut diri di depan cermin, takut jika penampilannya tidak sempurna.
"Ini hanya untuk membuat Mas Anton senang. Aku tidak mau membuatnya malu," ujar Selena sambil memoleskan lipstik ke bibirnya.
Disaat makan malam, beberapa kali Haris ketahuan sedang melirik ke arah Selena.
Tapi, Haris tidak pernah kehilangan akal. Dia selalu bisa mencairkan suasana, jadi Anton tidak pernah curiga kalau Haris mencuri pandang ke arah istrinya.
"Masakan istrimu enak sekali," puji Haris sambil menyuapkan nasi ke mulutnya.
"Selena memang pintar memasak," jawab Anton tergelak.
"Kamu sangat beruntung, Anton," sambung Haris.
"Iya, Pak. Tapi, Selena malah sibuk mau kerja. Padahal kan di rumah saja cukup," jawab Anton melirik sang istri yang makan sambil menunduk.
"Loh, kenapa?" tanya Haris, merasa pancingannya mulai mendapatkan hasil.
"Untuk apa wanita sibuk bekerja, pada akhirnya hanya akan kembali ke dapur, sumur dan kasur. Kuasai saja tiga elemen itu untuk menyenangkan suami," jawab Anton.
Haris mengangguk, dia kembali melirik ke arah Selena.
"Padahal, istrimu memiliki cara kerja yang rapi. Terlihat sekali kalau dia terbiasa mengatur banyak hal. Potensinya besar sekali," ujar Haris memuji.
Selena tersipu mendengar pujian itu. Tapi, sekaligus merasa getir. Karena pujian itu dia dengar dari lelaki lain.
Pujian yang selama ini dia harapkan keluar dari mulut Anton, setidaknya apresiasi untuk pekerjaannya di rumah. Tapi, sekalipun Anton tidak pernah memujinya.
Sekarang, justru kata-kata itu di dengarnya dari orang yang tidak lain adalah bos suaminya sendiri.
"Selagi suami masih mampu, biarkan suami saja yang bekerja," jawab Anton dengan senyum dibuat-buat.
"Kadang, wanita bekerja bukan karena ketidakmampuan suami memenuhi kebutuhannya. Itu hanya untuk biar dia merasa diakui, berkembang dan bergaul. Sekaligus biar dia tidak merasa bosan di rumah," sambung Haris yang kini jelas menatap Selena dengan lekat.
Selena semakin tertunduk, dalam hatinya merasa senang ada orang yang mengerti perasaannya.
"Jangan sampai wanita merasa di kekang," ujar Haris lagi sambil menyudahi makannya.
Anton tersenyum dan mengangguk. Hingga akhirnya tidak ada lagi pembicaraan di meja makan itu.
Setelah makan malam selesai, Selena langsung membersihkan meja makan. Anton akan sangat marah kalau melihat rumah yang berantakan.
Anton dan Haris masih duduk di meja makan, menikmati makanan penutup yang disediakan Selena.
"Kalau kau mengizinkan, saya akan menawarkan pekerjaan untuk istrimu," ujar Haris memecah keheningan membuka kembali pembicaraan.
"Saya rasa tidak perlu, Pak," tolak Anton.
Haris tertawa. "Saya butuh asisten pribadi, mungkin cocok untuk istrimu," ujar Haris tanpa peduli dengan penolakan Anton.
Deg!
Jantung Selena yang mendengar percakapan itu berdegup kencang. Dia merasa ada harapan yang kembali tumbuh untuk bekerja.
Tapi, mengingat sentuhan Haris yang tidak biasa sebelumnya, Selena juga merasa itu juga mungkin sebagai tanda bahaya.
“Tapi…”
“Bagaimana kalau saya tawarkan kamu naik jabatan, menjadi Manajer Divisi, asalkan izinkan istrimu menjadi sekretaris. Saya merasa sulit sekali menemukan yang cocok, tapi melihat istrimu, saya yakin dia bisa diandalkan,” potong Haris cepat.
“Na–naik jabatan?!”