Bab 3

Tidak Menjabat Tangannya

Melihat ayah mertuaku bergegas pergi ke luar negeri, ibu mertuaku, Silvia, tidak bereaksi sama sekali.

Silvia bahkan dengan penuh perhatian membantu Jonathan mengemasi barang bawaannya.

Namun, setelah ayah mertuaku pergi, Silvia diam-diam menyeka air matanya di kamar tidur.

Aku mengayunkan tas kecilku dan mendorong pintu kamar ibu mertuaku.

"Bu, Ibu mau pergi manikur tidak? Kita buat kuku jari Ibu menjadi sangat panjang, sampai bisa menusuk orang lain!"

Silvia segera menyeka air matanya. Setelah dia tenang kembali, dia menghampiriku untuk berbincang.

"Jessica, pergilah duluan, Ibu akan mengambilkan uangnya untukmu."

"Kalau Ibu merasa tidak nyaman pergi keluar sekarang untuk melakukan manikur, kita undang saja teknisi kuku datang ke rumah kita. Aku yang akan memesannya."

Melihat kartu kredit yang diberikan ibu mertua padaku, aku ingin sekali memeluknya dan memanggilnya ibu, seperti ibu kandungku sendiri.

Tepat ketika aku hendak mengulurkan tanganku, aku melirik layar ponsel ibu mertuaku dari sudut mataku. Aku pun menyadari kalau Silvia sebenarnya tengah melihat story Instagram milik Celine.

"Bu, coba aku lihat!"

Silvia menarik napas dalam-dalam dan menyerahkan ponselnya padaku.

Kalau tidak dilihat, kita tidak akan tahu. Begitu tahu, ternyata itu sangatlah mengejutkan.

Celine terang-terangan mengunggah foto dirinya dan ayah mertuaku, Jonathan, di story Instagram miliknya. Foto itu juga disertai beberapa patah kata.

[Setelah semua yang terjadi, kamu masih tetap saja sama seperti dulu.]

Ada pula foto yang diambil dari sudut pandang atas, yang memperlihatkan Jonathan tengah mengikat tali sepatu Celine.

Ada juga tulisan yang disertai pada foto tersebut. [Sekarang hanya abangku yang masih memperlakukanku seperti anak kecil.]

Bahkan ada foto lain yang diunggah oleh Celine, di mana Jonathan sedang menggendong Celine di punggungnya dan Celine bersandar di bahu Jonathan dengan wajah yang tersenyum manis.

Tetap saja ada rangkaian kata pada foto tersebut. [Setelah begitu lama tidak berjumpa, perasaan kita tetap saja tidak berubah.]

Story Instagram yang serupa diunggah oleh Celine sebanyak tujuh sampai delapan macam, bahkan lebih banyak daripada saat kami jalan-jalan ke luar negeri.

Aku tidak tahan lagi, jadi aku mengembalikan ponsel itu pada Silvia.

"Bu, apakah suamimu sedang jatuh cinta?"

Silvia mengambil ponselnya dan berpura-pura tegar, tetapi dia hampir menitikkan air matanya lagi.

Yang paling tidak bisa aku tahan adalah tangisan ibu mertuaku. Dia begitu kaya dan cantik, kenapa dia harus menangis demi seorang pria?

"Maksudku, Bu, tidak bisakah Ibu ceraikan saja suami murahanmu ini dan hidup sendiri?"

Silvia menggelengkan kepalanya.

"Jessica, Ibu sudah menghabiskan lebih dari separuh hidup dan tinggal bersamanya. Bahkan sekarang pun, Ibu masih punya perasaan padanya. Kalau tidak, Ibu tidak akan merasa begitu sedih."

"Lupakan saja. Jessica, pergilah berbelanja! Jangan biarkan hal-hal buruk ini memengaruhi suasana hatimu. Belilah emas atau barang apa pun yang kamu suka. Gunakan kartu kredit Ibu untuk pembayarannya," lanjut Silvia.

Ya ampun, Silvia sungguh bukanlah ibu mertuaku! Dia itu sebenarnya seorang malaikat yang turun ke bumi.

Aku mengambil lima kartu kredit yang diberikan oleh Silvia dan menyimpannya dengan hati-hati ke dalam sakuku.

Kalau kita menerima uang dari pihak lain, kita harus membantu mereka segenap tenaga. Lebih baik aku membantu ibu mertuaku memberantas wanita jalang tua itu saja!

"Bukankah dia hanya seorang pelakor tua? Jangan khawatir, Bu, serahkan saja padaku!"

Beberapa hari kemudian, ayah mertuaku kembali dari luar negeri.

Ibu mertuaku dan aku memperhatikan dia memasuki halaman rumah.

Celine berada di sebelah kiri Jonathan sambil memegang lengan Jonathan. Selain itu, Jonathan juga memegang tangan seorang gadis kecil di sebelah kanannya.

Celine mengenakan gaun putih dengan kalung permata berkilau di lehernya. Entah itu disengaja atau tidak, Jonathan juga mengenakan setelan jas putih. Bahkan gadis kecil itu juga mengenakan gaun putri berwarna putih.

Orang yang tidak tahu, mungkin akan mengira kalau mereka adalah keluarga yang beranggotakan tiga orang dan mengenakan pakaian seragam!

Aku menyingsingkan lengan bajuku dan bersiap untuk berburu.

"Halo, kamu pasti Bibi Celine, 'kan? Selamat datang, selamat datang! Apa yang terjadi? Apakah kakimu patah? Cepat! Biarkan aku menopangmu!"

Melihatku keluar, ayah mertuaku segera menarik kembali tangannya yang dipegang oleh Celine.

"Celine, ini Jessica, dia menantuku."

Ekspresi Celine tampak biasa saja, entah apa yang sedang dipikirkannya. Dia hanya mengulurkan tangannya padaku dengan sopan.

"Halo, tapi kenapa kamu bisa merasa kalau kakiku patah?"

Aku tidak menjabat tangannya dan menutup mulutku dengan ekspresi terkejut.

Bab 4

Paling Sayang Padaku

"Aduh! Ternyata kakimu tidak patah. Tapi, kenapa Bibi berpegangan pada lengan suami orang lain sih? Ah! Jangan-jangan … Bibi Celine, Bibi tidak melakukannya dengan sengaja, 'kan?"

Aku berkata lagi, "Wah! Apakah Bibi kembali kali ini hanya untuk merebut suami orang lain?"

Karena tidak menyangka aku akan begitu lancang pada saat pertama kali bertemu, Celine merasa sangat terkejut.

Dalam sekejap, mata Celine memerah dan dia hendak mencondongkan tubuh ke arah Jonathan.

Aku mendorong ayah mertuaku dan menepuk bahu Celine dengan kuat.

"Bibi, aku hanya bercanda! Lihatlah dirimu! Kamu begitu kaget!"

Karena tidak tahan dengan serangkaian komentar sarkasku, Jonathan langsung membentakku.

"Jessica! Apa yang sedang kamu lakukan? Ini pertama kalinya Celine datang berkunjung, tapi apa yang kamu bicarakan?"

"Aku rasa kamu terlalu dimanja oleh anakku! Cepat minta maaf pada Celine!" tambah Jonathan.

Tepat saat Jonathan hendak berbicara omong kosong lagi, aku berucap terlebih dahulu.

"Bibi, aku ini putri seorang manajer pabrik kecil. Aku tidak berpendidikan dan tidak punya sopan santun. Aku biasanya suka bicara omong kosong. Bibi pastilah orang yang murah hati, pasti tidak akan menganggap serius ucapanku tadi, 'kan?"

Melihatku begitu cepat mengalah, mulut Celine malah terbungkam.

Jonathan menunjuk ke arahku dan terus bergumam untuk waktu yang lama, tetapi tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.

Ibu mertuaku menyaksikan penampilanku dengan raut wajah takjub. Setelah aku menyelesaikan aksiku, dia pun baru berjalan keluar dengan lambat.

Silvia menyambut kedatangan mereka bertiga dan mengajak mereka masuk ke dalam rumah, dia juga meletakkan tangannya di belakang punggung sambil mengacungkan jempol padaku.

Huh, siapa suruh aku tidak punya pekerjaan apa pun dan tinggal di rumah ini dengan santai sepanjang hari.

Saat makan malam, Celine terus menaruh makanan ke dalam piring Silvia.

"Kakak, terima kasih telah merawat Bang Jonathan selama bertahun-tahun."

Sebelum Silvia sempat mengatakan apa pun, Jonathan melambaikan tangannya.

"Celine, jangan terlalu mengkhawatirkan dia. Lihatlah dirimu, kamu kurus sekali, makanlah yang banyak."

Sambil berkata demikian, Jonathan menaruh sepotong daging ayam rebus ke dalam piring Celine.

Celine membuka mulutnya sedikit, lalu menggigit daging ayam rebus tersebut. Kemudian, dia mengambil sisa potongan bekas gigitannya dan menaruhnya ke dalam piring Silvia. Dia tersenyum dan terkikih.

"Kak Silvia, aku masih ingat waktu kita kecil, kamu suka sekali makan makanan sisaku. Waktu itu, Ayah dan Ibu juga bilang kalau kamu paling sayang padaku. Apakah kamu masih ingat?"

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B76539" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B76539
Salin

Bantu Mertuaku Ngerjai Pelakor

Bab 3
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya