Bab 1
Aku dikenal sebagai wanita kasar di lingkungan sekitar, aku juga nggak pernah mau mengalah pada orang lain saat bersilat lidah.
Hampir setiap hari, Ibuku mengingatkan kalau aku akan menerima ganjarannya setelah menikah nanti.
Alhasil, suami yang aku nikahi sangat penurut padaku, ibu mertuaku pun orang yang sangat lemah lembut.
Akibatnya, aku tidak memiliki kesempatan untuk menunjukkan kemampuanku ini, kehidupan pernikahanku pun terasa agak membosankan.
Sampai suatu saat, wanita idaman ayah mertuaku kembali ke negara ini, ibu mertuaku terlihat sangat menderita setiap hari.
Aku pun mulai mempersiapkan diri dan bersiap untuk bertarung!
…
Luar Biasa Harmonis
Ayahku sangat memanjakan putrinya.
Dari kecil sampai dewasa, aku selalu mendapatkan apa saja yang aku mau.
Namun, ibuku itu wanita yang sangat baik. Selama ada orang yang berani buka mulut, mereka bisa mengambil barang apa saja dari rumahku.
Jadi saat aku masih kecil, dari mainan ukuran kecil sampai perkakas rumah tangga kami yang ukurannya besar, semua orang bisa mengambilnya sesuka hati mereka.
Ibuku juga merupakan orang yang sangat memanjakan adik laki-lakinya.
Ibuku memberikan penghasilan ayahku pada adiknya untuk membeli rumah, mobil dan juga biaya nikah. Bahkan anak-anak dari pamanku pun dibesarkan dari uang ibuku.
Ayahku bersimpati dengan masa kecil ibuku yang tidak mendapatkan kasih sayang apapun, tetapi ibuku malah memperlakukan ayahku seperti orang bodoh saja.
Setelah berkali-kali gagal menentang, akhirnya aku pun menjadi galak, agresif, dan suka mengumpat.
Semua yang ada dalam jangkauanku, bahkan hewan yang lalu lalang saja akan kutampar sebagai pelampiasan amarahku.
Sejak saat itu, tak seorang pun yang berani mengambil barang-barang dari rumahku lagi.
Bahkan kata sandi pembayaran milik ibu dan ayahku, semuanya diatur olehku.
Ibuku yang lemah dan tak bertenaga, jatuh di pelukan ayahku dan mulai menangis.
"Anak kita bahkan tidak tahu berbagi, bagaimana dia bisa bertahan saat terjun ke masyarakat nanti?"
Aku memutar mataku dan berkata, "Ibu tampaknya sangat suka berbagi, kenapa kamu tidak berbagi suamimu dengan orang lain saja? Aku tidak keberatan kalau memiliki seorang ibu tiri."
Membiarkan orang lain menindas diri sendiri tanpa perlawanan adalah tindakan yang lemah.
Kalau saja aku tidak menghentikannya, ibuku pasti akan memberikan dua pertiga harta milik ayahku.
Bersikap galak dan mengumpat adalah keunggulanku. Selama aku merasa tidak setuju, aku akan segera menyerang mereka tanpa ampun.
Pada akhirnya, pamanku dan keluarganya yang seperti benalu itu, tidak berani lagi datang ke rumahku.
Setiap kali adik sepupuku menangis, bibiku akan mengetuk jendela dan berkata, "Kakak sepupumu sudah datang!"
Adik sepupuku langsung terdiam dan tidak berani mengatakan sepatah kata pun.
Semua orang bilang kalau Jessica Wilson, putri sulung dari Keluarga Wilson, adalah seorang wanita yang kasar dan tidak akan pernah bisa menikah.
Alhasil, aku tidak hanya bisa menikah, aku juga menikah dengan orang yang kaya raya.
Setelah menikah, ibu mertuaku sangat sayang padaku, suamiku juga sangat penurut. Kehidupanku menjadi sangat tentram.
Sampai-sampai aku tidak punya kesempatan untuk memamerkan kemampuan dalam bertengkar.
…
Aku dan suamiku, Anthony Spencer, bertemu melalui sebuah kencan buta.
Saat pertama kali bertemu, aku bilang padanya kalau aku itu pemarah dan memintanya untuk berpikir matang-matang. Tak disangka, pria itu malah mengangguk dengan wajah memerah dan berkata kalau dia memang menyukai wanita pemarah.
Ayah mertuaku, Jonathan Spencer, dia seorang direktur grup perusahaan yang bergerak dalam perdagangan ekspor - impor. Sedangkan ibu mertuaku, Silvia Haley, dia telah mengelola lebih dari belasan sekolah taman kanak-kanak.
Aku dan suamiku bertemu secara kebetulan. Dia datang ke restoran kami untuk membahas bisnisnya dan aku malah mengira kalau dia sedang kencan buta.
Pada akhirnya, dia jatuh cinta padaku pada pandangan pertama dan menyatakan dengan jelas kalau dia hanya ingin menikahiku.
Setelah bertemu orang tua masing-masing, ayah mertuaku baru mengetahui kalau aku hanyalah anak perempuan seorang manajer pabrik kecil yang terkenal dengan sifat pemarahnya.
Ayah mertuaku merasa sangat tidak puas, tetapi suamiku mengancam akan bunuh diri kalau tidak diperbolehkan menikah denganku.
Aku pun akhirnya menjadi nyonya di Keluarga Spencer.
Aku mengira pasti akan terjadi kekacauan dan pertikaian begitu aku masuk ke rumah keluarga suamiku.
Ternyata ibu mertuaku sangat pendiam dan tidak pernah mempersulit aku. Dia selalu berbicara padaku dengan nada yang sangat lembut.
Semua rumor pertarungan antara ibu mertua dan sang menantu yang aku nanti-nantikan pun hancur berkeping-keping.
Setelah dua tahun menikah, kehidupan keluarga kami berjalan luar biasa harmonis.
Sampai suatu ketika Celine Haley, wanita idaman ayah mertuaku, menelepon dan meminta ayah mertuaku pergi ke luar negeri untuk menemuinya.
Ini pertama kalinya aku melihat raut wajah ibu mertuaku yang tampak sangat marah.
Aku pun langsung pergi melihat-lihat album foto di dalam rumah.
Bab 2
Menjadi Sangat Penasaran
Ketika aku melihat Celine yang bersandar di lengan ayah mertuaku seperti seekor burung kecil, aku langsung mengerti kenapa ibu mertuaku lekas kehilangan ketenangannya.
Siapa pun yang memiliki mata yang jeli, pasti dapat mengetahui kalau wanita ini memiliki hubungan khusus dengan ayah mertuaku.
Kalau tidak, kenapa dia harus menempelkan dirinya pada ayah mertuaku saat mereka berfoto bersama?
Foto mereka bahkan tampak lebih intim daripada foto pernikahan kedua mertuaku.
Foto ini diambil pada saat tiga puluh tahun lalu, ketika lingkungan sekitar masih cenderung tertutup.
Kalau diibaratkan sekarang, bukankah Celine sudah bisa tidur di antara kedua mertuaku?
…
Keesokan harinya, aku mengendarai mobilku untuk bermain kartu dengan para ibu-ibu lainnya.
Setelah dua atau tiga ronde permainan, aku pun mengetahui segalanya tentang Celine.
Aku tidak pernah menduga akan berhadapan dengan alur cerita yang biasanya berada dalam novel.
Celine dan ibu mertuaku, Silvia, dibawa oleh keluarga yang salah pada saat pulang dari rumah sakit.
Baru pada usia delapan belas tahun, Keluarga Haley menyadari situasi tersebut dan membawa ibu mertuaku, Silvia, pulang.
Meskipun Silvia tidak tumbuh dalam kemewahan, orang tua angkatnya tidak pernah memperlakukannya dengan semena-mena. Dia pun tumbuh menjadi wanita yang anggun dan terpelajar.
Celine yang terbiasa menjalani kehidupan orang kaya, tidak mau kembali ke orang tua kandungnya.
Keluarga Haley pun tidak mengusir Celine dan membesarkan mereka berdua bersama-sama.
Saat itu, Celine memiliki seorang teman masa kecil, yaitu ayah mertuaku, Jonathan.
Mereka berdua tumbuh bersama dan Jonathan sangat menjaga Celine. Keluarga Spencer dan Keluarga Haley memiliki hubungan yang baik, jadi mereka pun bertunangan sejak kecil.
Kemudian, Keluarga Spencer mulai jatuh dan bisnis mereka merosot.
Celine membatalkan pertunangannya, dia memutuskan hubungan dengan Jonathan, lalu menikahi putra seorang juragan minyak yang baru dikenalnya selama beberapa hari.
Pernikahan mereka sangatlah ditentang oleh Keluarga Haley.
Celine secara langsung memutuskan hubungan dengan Keluarga Haley. Celine menyatakan kalau dia bukan anak kandung dari orang tua angkatnya dan Keluarga Haley tidak memiliki hak untuk ikut campur dalam pernikahannya.
Dia bertekad pergi ke luar negeri sendirian dan menikah dengan anak orang kaya tersebut.
Kejadian ini menghancurkan hati para orang tua di Keluarga Haley dan juga Jonathan.
Pada saat inilah ibu mertuaku, Silvia, memasuki kehidupan Jonathan.
Mereka berdua saling mendukung dan perlahan-lahan jatuh cinta.
Karena Celine sudah membatalkan pertunangan secara sepihak, Keluarga Haley merasa sangat bersalah terhadap Keluarga Spencer. Sekarang ketika mereka melihat Silvia dan Jonathan bersama, mereka pun sangat mendukungnya.
Kepala Keluarga Haley melambaikan tangannya dan menginvestasikan 200 miliar pada Keluarga Spencer.
Dengan dukungan finansial tersebut, Jonathan mencoba mengambil alih dan akhirnya berhasil. Bersama ibu mertuaku, dia membuat bisnis Keluarga Spencer berkembang pesat lagi.
Kemudian, mereka berdua menikah dan memiliki seorang anak.
Sebelum pesta pernikahan mereka, Jonathan juga mengirimkan surat undangan pada Celine.
Namun, tidak ada tanggapan dari Celine, dia juga bahkan tidak datang ke hari pernikahan Jonathan dan Silvia.
Setelah menikah, Jonathan dan Silvia sangat menghormati satu sama lain. Kehidupan mereka sangat sederhana, tetapi juga sangat bahagia.
Namun, semua anggota keluarga tahu, kecuali aku, kalau Celine adalah wanita idaman Jonathan. Tidak ada seorang pun yang boleh mengungkitnya, kalau tidak, pasti akan terjadi kegaduhan.
Aku jadi penasaran, tipu muslihat apa yang bisa dilakukan sang wanita idaman yang berusia hampir lima puluh tahun ini.
Bab 3
Tidak Menjabat Tangannya
Melihat ayah mertuaku bergegas pergi ke luar negeri, ibu mertuaku, Silvia, tidak bereaksi sama sekali.
Silvia bahkan dengan penuh perhatian membantu Jonathan mengemasi barang bawaannya.
Namun, setelah ayah mertuaku pergi, Silvia diam-diam menyeka air matanya di kamar tidur.
Aku mengayunkan tas kecilku dan mendorong pintu kamar ibu mertuaku.
"Bu, Ibu mau pergi manikur tidak? Kita buat kuku jari Ibu menjadi sangat panjang, sampai bisa menusuk orang lain!"
Silvia segera menyeka air matanya. Setelah dia tenang kembali, dia menghampiriku untuk berbincang.
"Jessica, pergilah duluan, Ibu akan mengambilkan uangnya untukmu."
"Kalau Ibu merasa tidak nyaman pergi keluar sekarang untuk melakukan manikur, kita undang saja teknisi kuku datang ke rumah kita. Aku yang akan memesannya."
Melihat kartu kredit yang diberikan ibu mertua padaku, aku ingin sekali memeluknya dan memanggilnya ibu, seperti ibu kandungku sendiri.
Tepat ketika aku hendak mengulurkan tanganku, aku melirik layar ponsel ibu mertuaku dari sudut mataku. Aku pun menyadari kalau Silvia sebenarnya tengah melihat story Instagram milik Celine.
"Bu, coba aku lihat!"
Silvia menarik napas dalam-dalam dan menyerahkan ponselnya padaku.
Kalau tidak dilihat, kita tidak akan tahu. Begitu tahu, ternyata itu sangatlah mengejutkan.
Celine terang-terangan mengunggah foto dirinya dan ayah mertuaku, Jonathan, di story Instagram miliknya. Foto itu juga disertai beberapa patah kata.
[Setelah semua yang terjadi, kamu masih tetap saja sama seperti dulu.]
Ada pula foto yang diambil dari sudut pandang atas, yang memperlihatkan Jonathan tengah mengikat tali sepatu Celine.
Ada juga tulisan yang disertai pada foto tersebut. [Sekarang hanya abangku yang masih memperlakukanku seperti anak kecil.]
Bahkan ada foto lain yang diunggah oleh Celine, di mana Jonathan sedang menggendong Celine di punggungnya dan Celine bersandar di bahu Jonathan dengan wajah yang tersenyum manis.
Tetap saja ada rangkaian kata pada foto tersebut. [Setelah begitu lama tidak berjumpa, perasaan kita tetap saja tidak berubah.]
Story Instagram yang serupa diunggah oleh Celine sebanyak tujuh sampai delapan macam, bahkan lebih banyak daripada saat kami jalan-jalan ke luar negeri.
Aku tidak tahan lagi, jadi aku mengembalikan ponsel itu pada Silvia.
"Bu, apakah suamimu sedang jatuh cinta?"
Silvia mengambil ponselnya dan berpura-pura tegar, tetapi dia hampir menitikkan air matanya lagi.
Yang paling tidak bisa aku tahan adalah tangisan ibu mertuaku. Dia begitu kaya dan cantik, kenapa dia harus menangis demi seorang pria?
"Maksudku, Bu, tidak bisakah Ibu ceraikan saja suami murahanmu ini dan hidup sendiri?"
Silvia menggelengkan kepalanya.
"Jessica, Ibu sudah menghabiskan lebih dari separuh hidup dan tinggal bersamanya. Bahkan sekarang pun, Ibu masih punya perasaan padanya. Kalau tidak, Ibu tidak akan merasa begitu sedih."
"Lupakan saja. Jessica, pergilah berbelanja! Jangan biarkan hal-hal buruk ini memengaruhi suasana hatimu. Belilah emas atau barang apa pun yang kamu suka. Gunakan kartu kredit Ibu untuk pembayarannya," lanjut Silvia.
Ya ampun, Silvia sungguh bukanlah ibu mertuaku! Dia itu sebenarnya seorang malaikat yang turun ke bumi.
Aku mengambil lima kartu kredit yang diberikan oleh Silvia dan menyimpannya dengan hati-hati ke dalam sakuku.
Kalau kita menerima uang dari pihak lain, kita harus membantu mereka segenap tenaga. Lebih baik aku membantu ibu mertuaku memberantas wanita jalang tua itu saja!
"Bukankah dia hanya seorang pelakor tua? Jangan khawatir, Bu, serahkan saja padaku!"
Beberapa hari kemudian, ayah mertuaku kembali dari luar negeri.
Ibu mertuaku dan aku memperhatikan dia memasuki halaman rumah.
Celine berada di sebelah kiri Jonathan sambil memegang lengan Jonathan. Selain itu, Jonathan juga memegang tangan seorang gadis kecil di sebelah kanannya.
Celine mengenakan gaun putih dengan kalung permata berkilau di lehernya. Entah itu disengaja atau tidak, Jonathan juga mengenakan setelan jas putih. Bahkan gadis kecil itu juga mengenakan gaun putri berwarna putih.
Orang yang tidak tahu, mungkin akan mengira kalau mereka adalah keluarga yang beranggotakan tiga orang dan mengenakan pakaian seragam!
Aku menyingsingkan lengan bajuku dan bersiap untuk berburu.
"Halo, kamu pasti Bibi Celine, 'kan? Selamat datang, selamat datang! Apa yang terjadi? Apakah kakimu patah? Cepat! Biarkan aku menopangmu!"
Melihatku keluar, ayah mertuaku segera menarik kembali tangannya yang dipegang oleh Celine.
"Celine, ini Jessica, dia menantuku."
Ekspresi Celine tampak biasa saja, entah apa yang sedang dipikirkannya. Dia hanya mengulurkan tangannya padaku dengan sopan.
"Halo, tapi kenapa kamu bisa merasa kalau kakiku patah?"
Aku tidak menjabat tangannya dan menutup mulutku dengan ekspresi terkejut.