Bab 7
Klara sedang berdiri tidak jauh dari pintu metal detektor. Dia tidak mengerti kenapa Yasmin ingin cepat-cepat pergi. Seakan-akan ada hantu yang mengejar Yasmin.
Setengah jam kemudian, Klara melihat ada orang yang berlari ke arahnya.
Yasmin mengontrol napasnya yang terengah-engah sebelum berkata, "Tante, berikan tiketnya." Lalu, dia mengambil paspor, KTP dan tiket pesawat yang telah disiapkan tantenya.
"Ada apa denganmu? Apa yang telah terjadi?" tanya Klara.
Orang bodoh pun tidak akan tertipu kalau Yasmin menjawab tidak apa-apa.
"Guruku menyuruhku pulang. Untuk sementara aku nggak tahu ada apa, tapi lumayan mendesak." Yasmin sejak awal telah menyiapkan alasannya.
Di usianya yang sekarang, Yasmin memang belum wisuda sebab sebelumnya dia cuti sekolah karena hamil.
Alasan Yasmin terdengar masuk akal, tapi Klara masih belum ingin Yasmin pergi. Klara menarik tangan Yasmin dengan enggan sambil berkata, "Yasmin, setelah kamu pulang, kamu hanya setor muka di pesta sebentar sebelum kamu pergi. Lalu, kamu pergi tinggal bersama temanmu. Sekarang kamu malah mau buru-buru pergi. Kamu baru berbicara beberapa kalimat dengan Tante, loh. Kali ini setelah kamu pergi, kapan Tante dapat melihatmu lagi? Apa kamu tidak merindukan Tante?"
Yasmin merasa bersalah.
Sudah bertahun-tahun dia tidak pulang dan sebenarnya dia ingin sering-sering bersama tantenya. Namun, tak disangka Daniel malah muncul.
Akan tetapi, Daniel terus mengincar Yasmin dan dia mempunyai kekuasaan yang mengerikan di Kota Imperial. Kalau sekarang Yasmin tidak pergi, kapan lagi?
"Tante, lain kali ... aku akan pulang untuk melihat Tante. Aku ... benar-benar sudah harus pergi. Tante, jaga dirimu baik-baik, ya." Yasmin bahkan tidak berani mengulur waktu lebih lama lagi. Dia melepaskan tangan tantenya dengan sakit hati, kemudian menuju ke pintu metal detektor.
"Yasmin," panggil Klara.
Klara yang melihat keponakannya sudah diperiksa masih tidak paham.
Walaupun Yasmin mempunyai urusan sekolah, seharusnya tidak begitu mendesak, 'kan?
Setelah diperiksa, Yasmin menunggu pesawat.
Setelah Yasmin naik pesawat, dia menunggu pesawat berangkat.
Yasmin merasa sangat bersalah.
Mata Yasmin tertuju ke luar jendela dan hatinya merasa sangat bersalah pada Klara.
Kali ini setelah dia pergi, mungkin sudah tidak ada kesempatan lagi untuknya pulang.
Namun, Yasmin tidak bisa berbuat apa-apa.
Dia tidak boleh tinggal di area kekuasaan Daniel!
Yasmin sesekali melihat waktu. Makin banyak orang yang naik pesawat dan hatinya juga makin merasa gelisah.
Pengeras suara meminta penumpang untuk memakai sabuk pengaman dan menghidupkan mode penerbangan pada ponsel. Pramugari juga datang untuk meminta beberapa penumpang menyimpan earphone mereka.
Setelah semuanya selesai, pesawat mulai meluncur di landasan.
Jantung Yasmin baru perlahan-lahan kembali berdetak dengan normal.
Akan tetapi, pesawat berhenti ketika berbelok di tikungan.
Yasmin mengira itu hal yang normal.
Namun, setelah berhenti, pesawatnya tidak bergerak lagi.
"Kenapa belum terbang?" tanya seseorang.
"Nggak tahu ...."
"Aku sedang mengejar waktu, loh."
Yasmin adalah orang yang paling terburu-buru, tapi dia juga hanya bisa menunggu dengan sabar.
Saat ini, pintu kabin first class terbuka.
Ini adalah keanehan yang belum pernah terjadi sebelumnya di pesawat.
Yasmin menoleh ke luar jendela.
Saat dia melihat ada lima enam pria berpakaian hitam dengan ekspresi sinis berjalan ke arah tangga pesawat, darahnya seakan-akan telah berhenti mengalir.
Begitu para pengawal masuk ke kabin, mata mereka langsung tertuju pada Yasmin yang tertegun.
Mereka menghampiri Yasmin, lalu berkata, "Nona Yasmin, silakan ikut kami keluar."
Tubuh Yasmin yang gemetaran menempel erat ke kursi. Wajahnya pucat dan dia menatap mereka dengan tak berdaya.
Orang lain yang berada di dalam pesawat tidak berani mengeluarkan suara karena aura yang dibawa orang-orang itu.
"Nona Yasmin, Anda tidak ingin kami bertindak kasar, 'kan?" ancam pengawal itu.
Yasmin ingin melarikan diri, tapi bagaimana caranya? Bahkan waktu lepas landas pesawat sudah dikendalikan.
Daniel berkuasa sekali.
Bagaimana ... bagaimana mereka bisa muncul?
Kenapa ... Daniel tidak mau melepaskannya?
Kenapa ...?
Yasmin diantar kembali ke Teluk Bulan oleh pengawal-pengawal itu.
Begitu kedua kaki Yasmin menginjak anak tangga Taman Royal, sekujur tubuhnya menjadi lemas dan dia hampir terjatuh.
Setelah memasuki aula, sosok seseorang yang sedang duduk di sofa dengan ekspresi sinis membuat wajah Yasmin menjadi pucat. Yasmin pun tanpa sadar melangkah mundur, tapi dia langsung menabrak pengawal yang berdiri di belakangnya.
"Tersesat?" ucap Daniel dengan suara yang rendah.
Yasmin menggigit bibir bawahnya erat-erat dan mengontrol tubuhnya yang gemetaran.
Tentu saja dia tidak tersesat. Dia juga tidak percaya kalau Daniel benar-benar mengira seperti itu.
Daniel menurunkan kakinya yang disilang, lalu bangkit sebelum berjalan ke arah Yasmin. Kaki Daniel yang jenjang tampak anggun, tapi dia mirip dengan binatang buas yang berbahaya. Dia seolah-olah bisa mencabik-cabik Yasmin dalam hitungan detik.
Setiap saraf di tubuh Yasmin tegang dan dia tampak ketakutan.
"Kamu pura-pura makan seafood agar bisa masuk rumah sakit, lalu mencari kesempatan untuk melarikan diri. Yasmin, ternyata kamu berani juga," ujar Daniel sambil berjalan mendekat.
Suara Daniel yang tenang mengandung rasa kesalnya.
Yasmin sangat ketakutan sampai sekujur tubuhnya gemetaran. Saat Daniel berjalan makin dekat, Yasmin pun langsung berbalik.
Dia menggunakan seluruh kekuatannya untuk mendorong pengawal yang berdiri di belakangnya.
"Ah!" Sebelum Yasmin bisa benar-benar melawan, sebuah tangan telah mencengkeram bagian belakang lehernya dengan kuat. Yasmin pun berteriak kesakitan. Dia merasa lehernya seakan-akan mau patah. "Jangan .... Sakit ...."
"Sepertinya sampai sekarang kamu masih belum mengerti posisimu!"
"Bi ... biarkan aku pergi ..." kata Yasmin dengan susah payah.
Tatapan mata Daniel sangat galak. Lalu, dia menyeret Yasmin.
Mereka masuk lift, lalu langsung menuju ke ruang sauna di lantai atas.
"Ugh ...." Yasmin ingin melepaskan diri, tapi genggaman Daniel sangat kuat sehingga Yasmin tidak bisa bergerak.
Daniel menarik buka pintu kaca di depannya. Sebelum Yasmin sempat melihat dengan jelas, dia sudah didorong masuk.
Lalu, pintunya dikunci.
Yasmin pun terkurung di sebuah ruangan kecil. Kedua tangannya menekan kaca di depannya dengan tak berdaya. Dia menatap pria mengerikan yang di luar kaca dengan bingung dan panik. "A ... apa ini? Kenapa kamu mengurungku di sini?"
"Menurutmu, apa yang mau kulakukan?"
Yasmin menatap pria yang berada di luar itu dengan terkejut. "A ... apa? Nggak, kamu berbohong. Kamu hanya ingin menakutiku, 'kan? Benar, 'kan?!"
Daniel mengangkat tangannya untuk menekan tombol elektronik di sebelah pintu kaca dua kali. Setelah itu, suhu di dalam ruangan meningkat.
Yasmin dapat merasakan suhu telah meningkat. Setelah dia paham apa yang ingin dilakukan Daniel, dia menjadi sangat takut. Dia pun memukul pintu kaca dengan panik. "Keluarkan aku! Jangan seperti ini, aku bisa mati. Jangan! Kumohon!"
Daniel seakan-akan tidak mendengarnya. Dia lanjut menaikkan suhu dan suhunya makin panas sehingga kulit Yasmin rasa terbakar.
"Jangan! Lepaskan aku!" mohon Yasmin sambil menangis. Dia bahkan mulai menendang pintu kaca tersebut, tapi semuanya tidak berguna.
Ini terlalu kejam!
Bagaimana bisa Daniel memperlakukannya seperti ini?!
Yasmin menatap pria kejam di luar kaca itu dengan pasrah dan takut sambil menangis dan memohon, "Keluarkan aku! Di sini panas sekali! Daniel, lepaskan aku .... Tolong! Tolong!"
Akan tetapi, tidak peduli seberapa kuat Yasmin menjerit dan sakit tenggorokannya, tidak ada orang yang datang untuk menolongnya!
Apakah hari ini dia akan mati di tempat ini?
Yasmin tidak mau. Dia masih punya anak-anaknya ....
"Ugh ...." Tempat yang seperti tungku ini membuat Yasmin merasa sangat menderita saking panasnya. Setiap tarikan napas terasa berat sekali. Dia merasakan cairan di tubuhnya sudah perlahan-lahan menghilang dan ini membuat tenggorokannya kering. Yasmin menarik napas dalam-dalam. Rasa takut telah menguasai seluruh hatinya. Air mata pun membasahi wajahnya.
Bab 8
"Dengan begini, lain kali kamu nggak akan tersesat." Daniel mendekatkan diri ke kaca sambil menatap Yasmin dengan tajam.
"Ja ... jangan .... Aku nggak boleh mati ...." Tubuh Yasmin yang sudah tidak bertenaga merosot ke lantai. Suhu di sekitarnya membuat Yasmin menempel erat ke pintu kaca. Dia seakan-akan ingin menghirup udara segar di luar. "Lepaskan aku. Aku benar-benar ... nggak boleh mati .... Aku sudah menghilang dari hadapanmu, kenapa kamu menangkapku lagi?"
Semua ucapan Yasmin tidak berguna. Dia mengarahkan matanya ke atas dan hanya bisa melihat kedua mata Daniel yang sinis seperti binatang buas itu. Daniel seolah-olah ingin dia mati!
Yasmin mencengkeram dadanya yang sakit. Air matanya tidak bisa berhenti mengalir. "Jangan .... Aku berjanji aku nggak akan lari lagi. Ampuni aku .... Aku nggak mau mati, aku juga nggak akan lari lagi ...."
Setelah Yasmin selesai berbicara, dia terjatuh ke lantai karena tidak ada oksigen yang bisa dihirupnya lagi.
Pandangannya mulai kabur, tapi sosok pria di luar pintu kaca terlihat sangat jelas. Daniel seperti iblis yang menetap di dalam benak Yasmin.
Ketika kegelapan telah menyelimuti seluruh pandangan Yasmin, dia pun pingsan dan air matanya bahkan masih mengalir.
Dia menangis bukan karena dia takut, tapi karena dia merindukan anak-anaknya.
Kalau Yasmin mati, bagaimana dengan mereka? Mereka masih sangat kecil ....
"Ahh!" Yasmin terbangun dari kegelapan. Dia mengubah posisinya menjadi duduk di tempat tidur. Rasa takut memenuhi tatapan matanya dan napasnya terengah-engah. Keringat dingin menghiasi keningnya.
Apa dia sudah mati?
Yasmin tercengang saat melihat kamar yang familier ini. Beberapa saat kemudian, dia baru sadar kalau ini adalah kamar yang sebelumnya dia tinggali.
Ini berarti dia masih hidup?
Daniel mengeluarkannya dari ruang sauna!
Yasmin menundukkan kepalanya untuk melihat tangannya, kemudian dia menyentuh wajahnya sendiri. Itu belum cukup juga. Dia pun turun dari tempat tidur dengan panik, lalu lari ke depan kaca kamar mandi.
Setelah melihat dirinya yang utuh, dia baru merasa tenang.
Walaupun dia masih hidup, rasa takut ketika berada di ambang kematian pada saat itu masih mencengkeramnya.
Daniel terlalu kejam!
Yasmin berani mempertaruhkan nyawanya dengan memakan seafood karena dia berani menjamin Daniel tidak akan membiarkannya mati.
Setidaknya, Yasmin tidak akan begitu cepat mati.
Setelah seekor binatang menangkap mangsa, ia akan langsung menggigit leher mangsanya atau bermain dengannya sampai ia bosan sebelum memakannya.
Daniel adalah tipe kedua.
Namun, kali ini ketika Yasmin dikurung di ruang sauna dan dipanggang hidup-hidup, dia sungguh mengira Daniel ingin membunuhnya.
Daniel melepaskannya pasti karena Yasmin sudah berkata dia tidak akan melarikan diri lagi.
Dia terlalu mengerikan ....
Yasmin yang teringat pada sesuatu lari kembali ke kamar. Dia mencari paspor dan KTP-nya, tapi dia menyadari kedua benda itu tidak ada.
Dia merasa panik sehingga air mata mengalir, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.
Dia tahu kalau paspor dan KTP-nya berada di tangan Daniel dan Daniel tidak akan memberikannya kepada Yasmin.
Tanpa kedua benda itu, bagaimana dia bisa kembali ke sisi anak-anaknya?
Yasmin berkata dia tidak akan melarikan diri lagi, tapi itu hanya rencana sementara ....
Harapan palsu ini membuat Yasmin merasa putus asa sehingga dia kesulitan bernapas.
Seharusnya hari ini dia sudah bisa kembali ke sisi anak-anaknya, sudah bisa memeluk tubuh-tubuh kecil mereka yang lembut dan wangi, mendengar suara mereka yang menggemaskan ....
Yasmin kembali ke tempat tidur, lalu menangis.
Pada saat ini, Yasmin sangat merindukan anak-anaknya.
Dia menunggu langit menggelap untuk menelepon video anak-anak.
Tante Rita yang untuk sementara tidak bisa pergi pasti sangat lelah menjaga tiga anak sendirian.
Yasmin terbangun sampai jam dua pagi yang berarti hampir jam sepuluh pagi di luar negeri.
Dia turun dari tempat tidur untuk mengunci pintu kamar, lalu menuju ke kamar mandi.
Setelah membentuk lapisan pertahanannya, Yasmin baru mengeluarkan ponselnya dari dalam branya. Dia menghidupkan ponselnya, lalu menghubungi nomor Tante Rita. Dalam beberapa saat, teleponnya sudah tersambung.
Wajah cemas Tante Rita memenuhi layar ponsel. "Yasmin ...."
"Mama!"
"Mama!"
"Mama!"
Sebelum Yasmin sempat mengatakan apa-apa, suara putra dan putrinya terdengar. Tiga kepala kecil berdesak-desakan di depan kamera. Mata besar dan indah yang berbinar-binar itu menatap layar.
Ketika melihat wajah-wajah mereka yang lucu, Yasmin hampir menangis. Dia berusaha menahan dirinya sebelum berkata, "Mama di sini. Apa kalian ada mendengarkan Nenek di rumah?"
"Ada!"
"Ada!"
"Ada!"
"Baguslah ...." Yasmin menatap ketiga anaknya dengan sedih. Dengan tangan gemetar, dia hanya bisa menyentuh layar ponsel untuk mengungkapkan kerinduannya.
"Mama, kapan Mama pulang?" tanya Julia, putrinya, dengan lemah dan sedih. Air matanya sudah mau jatuh.
"Mama bilang Mama cepat pulang!" kata Julian, putranya, dengan keras dan marah. Matanya berkaca-kaca.
"Sudah sepuluh hari!" Julius, si putra kedua, yang pendiam tampak kecewa. Air mata juga memenuhi kelopak bawah matanya.
Hati Yasmin terasa sakit sekali.
Dia pun menundukkan kepalanya untuk menenangkan perasaannya yang hampir meluap.
Beberapa detik kemudian, Yasmin mengangkat kepalanya. Dia memaksakan seulas senyuman sambil berkata, "Mama masih ada sedikit urusan di sini. Setelah urusan Mama selesai, Mama pulang. Oke?"
"Berapa lama lagi?" tanya Julian.
Yasmin juga tidak tahu berapa lama lagi, tapi dia tidak boleh memberi anak-anak jawaban sepertinya. "Seharusnya tidak lama lagi. Tapi, Mama janji beberapa hari ini akan menelepon video kalian. Oke?"
"Mama ..." rengek Julia dengan suara serak.
"Sayang, jangan menangis, ya. Mama akan berusaha cepat-cepat pulang. Oke?" Yasmin merasa sangat sedih, seakan-akan ada pisau yang menyayat hatinya.
"Ya ..." jawab Julia dengan tak berdaya. Lalu, dia menghela napas. Kasihan sekali.
"Harus setiap hari!" kata Julian.
Yasmin tidak tahu apa dia bisa menelepon video mereka setiap hari, jadi dia berkata, "Mama usahakan, ya ...."
"Kangen Mama ..." ucap Julius. Sorot matanya tampak redup.
"Mama juga kangen kalian, banget ..." kata Yasmin sambil menahan air mata.
Dia berharap dia bisa langsung melompat ke dalam layar ponsel untuk memeluk anak-anaknya. Kesedihan karena terpisah dari anak-anaknya ini sungguh sulit ditahan.
Meskipun anak-anak baru berusia dua tahun dan belum bisa berbicara dengan lancar, kepintaran mereka jauh melampaui anak-anak seusia mereka.
Yasmin menatap wajah ketiga anaknya. Julia adalah cerminannya, sedangkan Julian dan Julius sepenuhnya adalah cerminan Daniel.
Ini membuat Yasmin merasa makin resah.
Dia tidak akan tidak mencintai mereka hanya karena mereka mirip dengan Daniel. Dia hanya takut putra-putranya akan diambil darinya.
Bagaimana mungkin Daniel memperbolehkan wanita yang dibencinya melahirkan anaknya?
Yasmin mengobrol bersama anak-anaknya, kemudian menemani mereka makan siang.
Anak-anaknya yang baru berusia dua tahun sudah bisa makan sendiri.
Tangan mereka yang mungil memegang sendok, lalu menyuap diri mereka sendiri. Gambar di layar ponsel pun menyembuhkan hati Yasmin sedikit.
Rasa takut dari kemarin juga perlahan-lahan menghilang.
Ketika Yasmin sedang menatap ketiga anaknya dengan kasih sayang, dia tiba-tiba mendengar ada suara dari luar dan itu membuatnya langsung mematung.
Tidak ada suara dari pintu kamar mandi.
Namun, sesuatu yang mengerikan sepertinya sedang perlahan-lahan mengarah ke tempat ini.
Aura di dalam kamar menjadi aneh. Sosok Daniel yang tinggi tiba-tiba muncul. Melihat tidak ada orang di dalam kamar, tatapan matanya yang tajam pun tertuju ke arah kamar mandi yang terang.
Bab 9
Pintu kamar mandi dibuka tanpa peringatan. Yasmin pun berdiri di tempatnya dengan tegang. Dia menatap pria yang tiba-tiba muncul dengan gugup.
Tatapan mata Daniel tampak sinis saat dia berkata, "Kamu mengunci pintu di wilayahku? Siapa yang memberimu izin?"
Yasmin tidak menjawab karena tempat ini memang bukan kamarnya.
Seluruh Teluk Bulan, termasuk Yasmin sendiri, adalah milik Daniel.
Akan tetapi, Yasmin tidak boleh mengatakan alasan dia mengunci pintu.
"Aku ... aku takut ..." kata Yasmin dengan lemah.
Mata tajam Daniel tertuju pada ponsel yang berada di tangan Yasmin. "Berikan."
Yasmin paham maksud Daniel, dia pun menggenggam ponselnya makin erat.
Dia sungguh tidak menyangka pada waktu ini Daniel akan mendatangi kamarnya. Semua ini sangat tidak terduga ....
"Jangan membuatku mengulangi ucapanku!" Suara Daniel yang penuh ancaman menggemparkan satu kamar mandi.
Jantung Yasmin berdebar. Dia pun terpaksa menyerahkan ponselnya.
Setelah ponselnya berada di tangan Daniel, detak jantung Yasmin makin meningkat.
Dia takut Daniel akan mengetahui rahasianya ....
Ketika Daniel memeriksa ponsel Yasmin, Yasmin berkata dengan lemah, "Aku ... aku mimpi buruk. Aku sangat takut, jadi aku ingin menelepon Tante. Tapi, aku takut kamu marah, makanya nggak jadi. Lalu, kamu kebetulan masuk ...."
Yasmin sempat menghapus log panggilan terbarunya, jadi Daniel tidak akan menemukan apa-apa.
Daniel mengarahkan tatapan matanya yang tajam ke Yasmin saat berkata, "Kamu boleh coba."
Yasmin menatap balik Daniel dengan bingung.
"Apa kamu tahu apa yang akan terjadi padanya kalau dia membantumu melarikan diri?" tanya Daniel. Tatapan matanya penuh dengan amarah.
"Bukan seperti itu. Aku yang meminta Tante mengantarkan pasporku. Itu nggak ada hubungannya dengan Tante. Dia nggak tahu apa-apa! Aku ... aku berjanji padamu, lain kali aku nggak akan meneleponnya lagi ..." sumpah Yasmin.
Yasmin terlalu naif.
Daniel tidak boleh menyentuh Klara, jadi bagaimana mungkin Yasmin diizinkan untuk menghubungi Klara?
Demi keamanan tantenya, Yasmin tidak boleh menghubunginya ....
Daniel melangkah maju, lalu langsung mencengkeram wajah Yasmin. Dia memaksa Yasmin melihatnya sebelum berkata, "Ingat, jangan mengetes kesabaranku. Kamu nggak akan bisa menanggungnya. Paham?"
"Pa ... ham," jawab Yasmin dengan mata berkaca-kaca.
Ponsel Yasmin tiba-tiba berdering dan bergema di kamar mandi yang hening ini.
Pada saat yang sama, jantung Yasmin pun langsung berdebar.
Siapa? Siapa meneleponnya? Semoga bukan Tante Rita dan anak-anak. Jangan!
"Sepertinya kamu gemetar?" Daniel seakan-akan sedang bermain dengan mangsanya. Jemarinya yang sedang menggenggam rahang Yasmin dapat merasakan dengan jelas kalau Yasmin gemetaran.
"Ng ... nggak." Yasmin memalingkan wajahnya, lalu dia buru-buru hendak mengambil ponselnya. "Aku angkat telepon dulu ...."
Perlawanan Yasmin membuat Daniel marah. Daniel pun langsung menggenggam bahu Yasmin, kemudian mendorongnya ke kaca di sebelah wastafel dengan kuat. Setelah itu, terdengar suara pecah yang jatuh ke lantai ....
"Aa!" Yasmin ketakutan sampai kedua kakinya menjadi lemas.
Daniel terlalu kuat!
"Tenanglah!" Daniel menyipitkan matanya sambil melihat nomor telepon yang tidak disimpan di layar ponsel. Setelah dia menjawab panggilan, muncul suara laki-laki.
"Yasmin?"
Saat mendengar suara itu, tubuh Yasmin gemetar sedikit sebelum dia menghela napas lega di dalam hati.
Itu adalah suara mantan pacar yang Yasmin kenal sekali.
Kenapa laki-laki itu menelepon?
Namun, saat ini, selama penelepon bukanlah Tante Rita dan anak-anak, Yasmin bisa menerimanya ....
"Yasmin, sudah lama kita nggak mengobrol. Bagaimana kabarmu? Semenjak kita putus, aku sering merindukanmu. Aku nggak bisa melupakanmu ..." kata Nico.
Yasmin tertegun, lalu melirik ke arah Daniel.
"Yasmin, aku tahu kamu belum melupakanku. Kalau nggak, kamu pasti sudah mengganti nomormu, 'kan? Dengar-dengar, dua tahun lalu kamu cuti sekolah dan sudah pulang ke negara kita. Besok aku juga pulang, jadi mari kita bertemu. Bagaimana?" tanya Nico.
"Nggak perlu."
"Yasmin, kamu nggak akan bisa menemukan pria lebih baik dariku."
"Aku ...." Sebelum Yasmin sempat menolak Nico lagi, Daniel sudah mengakhiri panggilan.
Yasmin yang sedang ditatap oleh Daniel buru-buru berkata, "Dia adalah mantan pacarku dan sudah lama kita berpisah. Karena aku patah hati, aku nggak lanjut sekolah dan ambil cuti. Aku nggak menyangka dia akan mencariku. Hubungan kami benar-benar sudah berakhir."
"Kamu kira aku peduli?" ucap Daniel sambil tersenyum sinis.
Yasmin tampak malu, lalu dia melihat ponselnya yang ada di tangan Daniel.
Itu seakan-akan Yasmin sendiri. Dia telah menjadi benda yang berada di genggaman Daniel.
Daniel mendadak berkata, "Karena besok dia sudah pulang, kamu perlu menjumpainya."
Yasmin yang tidak menginginkan itu bertanya, "Kenapa aku harus pergi menjumpainya?"
"Aku bukan sedang berdiskusi denganmu."
Yasmin tidak tahu apa yang ada di dalam benak Daniel, tapi itu pasti bukan hal baik.
Firasat buruk di hatinya pun membesar.
Namun, Yasmin tidak berani menolak Daniel. Kalau tidak, Yasmin akan mati!
...
Nico membuat janji di bar.
Setelah Yasmin masuk ke bar, dia tidak hanya melihat Nico, tapi juga sosok seseorang di kursi VIP lantai dua. Sosok itu tersembunyi di dalam kegelapan dan sedang melihat ke bawah.
"Yasmin, di sini!" Nico juga sudah melihatnya.
Yasmin memalingkan wajahnya, lalu berjalan ke arah Nico.
Meskipun Yasmin telah mendapat persetujuan Daniel, dia tetap merasa gelisah.
Karena dia tidak tahu apa yang ingin dilakukan Daniel. Bahaya yang tidak diketahui ini membuat Yasmin gugup.
"Yasmin, lama nggak bertemu. Aku benar-benar senang dapat melihatmu lagi," kata Nico dengan emosional.
Yasmin tidak membalasnya.
Nico Harvis adalah senior Yasmin di universitas luar negeri. Nico telah mengejar Yasmin selama hampir dua bulan.
Lalu, karena mereka sama-sama orang Kota Imperial, mereka pun pacaran.
Tak disangka, kurang dari enam bulan, Yasmin malah melihat Nico bersama wanita lain di atas tempat tidur.
"Aku sudah memesankan jus beralkohol rendah untukmu. Kamu nggak pandai minum, 'kan?" Nico bertingkah seperti pacar yang perhatian.
"Ada apa kamu mencariku?" Yasmin dapat melihat kalau Nico hanya berbasa-basi dan dia juga tidak ingin menerima kebaikan apa pun dari Nico.
"Yasmin, nggak peduli aku bersama siapa, aku nggak bisa melupakanmu. Aku benar-benar menyesal. Yasmin, jadi pacarku lagi, ya. Aku janji nggak akan melakukan kesalahan itu lagi!"
"Kamu tahu kalau aku adalah orang yang nggak memberi kesempatan kedua."
"Kalau memang seperti itu, kenapa kamu mau bertemu denganku lagi? Kamu juga pasti belum bisa melupakanku!" Nico pun hendak meraih tangan Yasmin.
Namun, Yasmin segera menarik tangannya.
Matanya tertuju ke atas. Tidak peduli seberapa jauh Yasmin, dia tidak bisa mengabaikan tatapan mata yang tajam itu.
Yasmin ingin pergi!
Namun, dia tidak tahu kapan dia boleh pergi.
Kalau Yasmin belum bisa melakukan hal yang membuat Daniel puas, dia tidak bisa membantah perintah Daniel!
Sebelum Yasmin sempat mengatakan apa-apa, terdengar suara seseorang.
"Loh? Yasmin Tanoto? Aku hampir nggak bisa mengenalimu karena pakaianmu." Seorang pria berambut rapi mendekat untuk ikut mengobrol. Dia bertingkah seperti telah berpapasan dengan teman lama.