Bab 1
Yasmin Tanoto perlahan-lahan bangun, dia merasa tubuhnya sangat sakit seolah-olah dia telah diinjak-injak oleh binatang buas.
Saat dia membuka matanya, dia terkejut ketika melihat ada seorang pria berambut tebal di sebelahnya dan hampir berteriak. Namun, Yasmin buru-buru menutup mulutnya.
Ketika ingatan-ingatan dari kejadian semalam muncul di otaknya, Yasmin ingin sekali membunuh dirinya!
Karena pacarnya selingkuh, Yasmin pergi ke bar untuk minum sampai mabuk. Maka itu, terjadilah kejadian ini!
Dia tidak berani mengingat kembali dengan detail, bahkan lebih tidak berani lagi melihat wajah pria itu. Yasmin diam-diam turun dari tempat tidur, mengambil pakaiannya yang di lantai, lalu pergi tanpa menoleh kembali ....
Dua tahun kemudian ....
Yasmin sedang duduk di dalam pesawat kembali ke negaranya sambil menonton video di ponselnya. Itu adalah video anaknya dari lahir sampai sekarang berusia dua tahun. Semuanya ada di dalam ponsel ....
"Mama!"
"Mama!"
"Mama!"
Suara menggemaskan dari ponsel terus memanggil Yasmin. Wajah gadis kecil di layar membuat Yasmin tidak bisa berhenti tersenyum dan merasa hatinya hangat.
Setelah kejadian malam itu di kamar presidential suite dua tahun lalu, Yasmin yang masih kuliah hamil. Tanpa pikir panjang, dia berlari ke rumah sakit untuk aborsi.
Namun, saat dokter berkata dia hamil anak kembar tiga, dia menjadi ragu.
Yasmin bahkan sudah masuk ke ruang operasi, tapi ketika dia hendak dibius, dia melarikan diri.
Saat melihat dua anak laki-laki dan satu anak perempuannya yang menggemaskan, dia merasa senang karena memutuskan untuk melahirkan mereka.
Mereka juga memulihkan kegelisahannya yang saat ini dia rasakan karena pulang sendirian ....
Sudah berapa lama dia tidak pulang? Lima atau enam tahun.
Kalau boleh, dia selamanya tidak ingin pulang.
Akan tetapi, Tante yang baik pada Yasmin berharap Yasmin bisa menghadiri ulang tahun pernikahannya dengan Paman. Tante juga sudah lama tidak melihat Yasmin, jadi Tante merindukannya.
Yasmin bukannya tidak rindu tantenya, hanya saja menurut Yasmin, Kota Imperial penuh dengan pengalaman yang menyakitkan.
Nanti setelah pestanya selesai, dia akan langsung pergi ....
Yasmin yang mengenakan gaun putih dan sepatu hak tinggi melangkah masuk ke ruang pesta hotel. Interiornya mewah, tamu-tamu berpakaian cantik dan tampan, suasananya juga ramai.
Pemandangan tersebut membuat Yasmin tercengang sesaat.
"Yasmin?"
Yasmin menoleh. Tante yang sudah bertahun-tahun tidak Yasmin jumpai sedang berdiri tidak jauh darinya dan memanggilnya dengan tak yakin. Yasmin pun berjalan mendekat sambil memanggil, "Tante." Ketika dia melihat pamannya yang masih penuh dengan semangat meskipun sudah berusia, beberapa kenangan tertentu pun muncul di benaknya. "... Paman."
Jason Guntur menatap Yasmin dengan senang sambil berkata, "Aku sudah bilang itu kamu, tapi tantemu terus bilang nggak mirip. Yasmin, selamat datang kembali. Sudah lama kita nggak bertemu."
Dengan mata yang berkaca-kaca, Klara Tanoto pergi memeluk Yasmin. "Yasmin, benar-benar kamu. Akhirnya kamu pulang. Tante sangat merindukanmu. Kenapa sekarang kamu baru pulang?"
Yasmin merasa bersalah. Ibunya sudah meninggal, sedangkan ayahnya tidak peduli padanya. Setelah kelas SMP 1, Tante pun menjemputnya ke rumah Keluarga Guntur dan membesarkannya. Seumur hidupnya, Yasmin tidak akan melupakan kasih sayang tantenya.
"Biarkan Tante melihatmu." Klara melepaskan Yasmin, kemudian melihatnya dari atas sampai ke bawah. Setelah meneteskan air mata kebahagiaan, Klara tampak terkejut. "Yasmin sungguh cantik. Begitu dia masuk, semua laki-laki terpesona."
"Sepertimu," ucap Jason sambil tersenyum.
"Yasmin dari Keluarga Tanoto, tentu saja sepertiku," kata Klara dengan bangga. Makin lama dia melihat keponakannya, dia makin merasa senang. "Jangan pergi lagi, ya. Tante akan mencarikanmu jodoh yang baik."
"Ha?" Yasmin memikirkan ketiga anaknya yang di luar negeri. "Tante, sekarang aku baru berumur 20 tahun. Aku nggak terburu-buru ...."
Ada suara keributan dari arah pintu. Beberapa pria berjalan masuk, kemudian berdiri membentuk dua baris secara terlatih untuk mengontrol tempat. Dalam sekejap, mereka memecahkan suasana pesta yang meriah.
Saat orang-orang kebingungan, seorang pria jangkung yang memakai jas hitam dan sepatu kulit tiba-tiba muncul. Dia terlihat cuek, tapi auranya yang kuat menyebar ke setiap sudut ruangan sehingga orang lain takut untuk bernapas.
Wajah seseorang yang berada di dalam ingatan Yasmin muncul di dalam benak. Tampan dan garang dengan sepasang mata yang tajam dan sinis.
"Daniel?" Jason tercengang.
Yasmin membatu. Pada saat ini, dia tidak bisa merasakan kehadiran orang lain. Gambar-gambar yang berantakan mulai tersusun kembali.
Dua tahun lalu, malam hari itu di kamar presidential suite ....
Wajah anak-anak laki-lakinya yang makin besar makin mirip ....
Saat ini, semua pikiran Yasmin membeku ....
Ba ... bagaimana bisa dia adalah pria dari malam itu?
Bagaimana bisa dia adalah Daniel Guntur, anak tiri tantenya ...?
Daniel berjalan mendekat. Auranya yang kuat ditambah dengan tinggi badannya yang hampir 190 sentimeter membuat orang susah untuk mendekatinya.
"Daniel, kapan kamu pulang?" Jason tidak pernah menyangka putra kandungnya yang sudah lama dia tidak jumpa akan muncul di hari ulang tahun pernikahannya.
Klara yang berada di sebelah terdiam dan tampak panik.
Selama ini dia takut kepada Daniel. Meskipun Daniel adalah anak tirinya, sekujur tubuh Daniel memancarkan aura yang menakutkan,
"Ada apa? Apa aku nggak disambut?" Suara Daniel yang berat tidak terdengar marah, tapi kuat. Lalu, matanya yang tajam menatap lurus Yasmin.
Yasmin melihat ke arah bawah dan wajahnya memucat. Dia yang gemetaran seolah-olah sedang ditatap oleh ular berbisa.
"Bagaimana mungkin? Kamu nggak tahu betapa senangnya aku dan Klara karena kamu bisa datang! Kebetulan sekali, Yasmin juga sudah pulang!" Mata Jason tertuju pada Yasmin, kemudian bertanya, "Apa kamu masih ingat Yasmin? Saat SMP, dia pernah tinggal di rumah kita."
Daniel menatap wajah Yasmin dengan tatapan yang tajam. "Tentu saja masih."
Yasmin masih tidak berani melihat wajah Daniel. Dia mengalihkan pandangannya, lalu berkata, "Tante, aku ... aku pergi ke kamar mandi dulu, ya."
Sebelum Klara sempat menjawabnya, Yasmin sudah berjalan pergi. Dia bahkan menabrak orang. Yasmin pun hanya meminta maaf, kemudian buru-buru pergi.
Setelah Yasmin tiba di kamar mandi, dia melihat dirinya di cermin. Dia seakan-akan baru saja melihat hantu.
Bagaimana ini?
Apa Daniel tahu kalau wanita dari dua tahun yang lalu adalah dirinya? Dia tidak tahu, 'kan? Kalau dia tahu, Daniel yang membenci dirinya pasti tidak akan menyentuhnya!
Namun, bagaimanapun juga, Yasmin tidak boleh terus berada di tempat ini! Terutama ponselnya penuh dengan foto dan video anak-anaknya.
Saat melihat wajah-wajah mereka yang mungil, Daniel tidak akan merasa curiga, 'kan?
Tidak, tidak boleh! Daniel tidak boleh sampai tahu!
Apa tempat ini mempunyai pintu belakang?
Yasmin bahkan tidak ingin berpamitan. Dia langsung menuju ke pintu darurat. Namun, Yasmin yang baru berjalan dua langkah melihat ada dua pria yang menghalangi jalannya di depan.
Kakinya langsung menjadi lemas karena dia tahu mereka adalah pengawal Daniel ....
Pada saat ini, untung ada pelayan yang membawa nampan berisi minuman alkohol lewat. Yasmin melangkah mundur, kemudian langsung melempar nampan tersebut ke arah pengawal-pengawal itu.
Pada saat yang sama, Yasmin berbalik dan berlari.
"Kejar!"
Sekujur tubuh pengawal itu basah karena terkena alkohol, tapi dia tidak berani melambat.
Yasmin berlari sekuat tenaganya sehingga dia masuk ke dapur hotel.
"Orang yang nggak berkepentingan dilarang masuk!"
Masa bodoh, pikir Yasmin. Dia berlari ke arah belakang dapur yang pasti ada pintu keluar. Biasanya koki merokok dan beristirahat di belakang.
Setelah Yasmin keluar, sebuah gang menyambutnya.
Bab 2
Kalau Yasmin berlari masuk ke gang itu, dia hanya akan bertemu dengan jalan buntu.
Jadi, Yasmin berlari ke jalan raya pintu masuk gang. Selama dia bisa menghentikan taksi di jalan, dia akan bebas!
Akan tetapi, setelah Yasmin tiba di jalan raya, menghentikan taksi bukanlah hal yang mudah.
Namun, orang-orang di belakang tidak berhenti mengejarnya.
Yasmin berusaha mencari tempat untuk bersembunyi.
Dalam keadaan panik, dia melihat ada sebuah mobil Rolls Royce hitam parkir di seberang jalan. Mobil yang seperti binatang buas yang sedang tidur dalam kegelapan itu pun tiba-tiba menarik perhatian Yasmin.
Tanpa berpikir panjang, dia berlari ke arah situ lalu bersembunyi di sisi lain mobil.
Yasmin bersandar pada mobil itu dengan napas yang terengah-engah. Seluruh mobil itu hitam gelap sehingga dia hanya bisa melihat bayangannya sendiri yang panik.
Ponsel yang berada di dalam tasnya tiba-tiba berdering. Yasmin yang terkejut segera mengeluarkan ponselnya untuk mengangkat telepon. Kemudian, dia diam-diam mencondongkan tubuhnya untuk melihat ke arah seberang. Namun, dia melihat pengawal-pengawal yang masih mencarinya itu, lalu buru-buru bersembunyi kembali.
Klara yang berada di ujung telepon bertanya, "Yasmin, di mana kamu? Aku nggak melihatmu di kamar mandi?"
"Tante, aku ... aku pulang dulu."
"Pulang? Pulang ke hotel? Kamu ikut Tante pulang rumah, loh! Aku sudah menyiapkan kamar untukmu dan masih kamar yang dulu ...."
Yasmin yang sedang mendengar tantenya merasa ada pergerakan di belakang, sebuah suara yang kecil dan itu adalah suara jendela mobil yang diturunkan.
Sekujur tubuh Yasmin mematung. Dia pun mendengar telepon sambil menoleh kepalanya ke belakang.
Dia melihat jendela mobil perlahan-lahan turun, lalu muncullah wajah pria yang tampan. Meskipun gelap, wajah itu tetap menarik perhatian.
Saat bertatapan dengan mata yang sinis itu, Yasmin langsung berhenti bernapas. Dia juga tidak lagi mendengar satu kata pun dari orang yang berada di ujung telepon itu.
"Ahh!" Yasmin yang kaget berteriak sambil melangkah mundur.
"Yasmin? Ada apa?" tanya Klara dengan panik.
Yasmin buru-buru mengakhiri panggilan. Dia memasukkan ponselnya ke dalam tas, kemudian memutar tubuhnya.
Namun, ketika dia baru saja hendak mengangkat kakinya, jalan di depannya sudah dihalangi oleh pengawal. Yasmin sudah tidak punya jalan keluar.
Pintu mobil terbuka, lalu Daniel pun turun dari mobil.
Dengan suara yang berat dan sinis, dia berkata, "Apa kamu tahu melarikan diri dariku adalah hal yang berbahaya?"
Yasmin berbalik. Dia tampak sangat panik. "Kenapa kamu ...."
Daniel langsung menangkap wajah Yasmin dengan satu tangan, kemudian menariknya.
"Ah!" Genggaman Daniel yang sangat kuat membuat Yasmin mendesis kesakitan.
"Aku kira kamu selamanya tidak akan pulang lagi!" Bibir Daniel menempel ke telinga Yasmin. Matanya yang sinis tampak licik. "Yasmin Tanoto!"
Napas Daniel yang panas dan suaranya yang seperti suara iblis mengejutkan gendang telinga Yasmin yang lemah sehingga wajah Yasmin pun menjadi pucat.
Tangan Daniel menekan belakang leher Yasmin, lalu dia mendorong Yasmin masuk ke dalam mobil dengan kasar.
"Ahhh!"
Dalam mobil sangat luas dan Yasmin pun jatuh ke karpet mobil. Setelah itu, Daniel masuk mobil sebelum membanting tutup pintu.
Mobil tersebut segera melaju pergi dan menghilang ke dalam kegelapan. Kejadian itu seperti penculikan terencana.
Yasmin melihat ke luar jendela mobil dengan panik. "Ke ... ke mana kamu mau membawaku? Lepaskan aku!"
Daniel mencondongkan tubuhnya ke depan. Sambil memancarkan aura yang menyeramkan, dia meraih rahang Yasmin, lalu menarik wajah Yasmin untuk melihatnya. Suara Daniel yang sedingin es berkata, "Apa kamu sedang memerintahku?"
"Ng ... nggak."
"Dulu saat di rumah Keluarga Guntur, bukankah kamu memanggilku kakak? Coba panggil sekali lagi."
"Ng ... nggak mau. Aku sudah lama keluar dari rumah Keluarga Guntur. Hari ini aku datang hanya untuk menghadiri pesta. Maaf, ke depannya aku nggak akan kembali ke Kota Imperial lagi. Aku bersumpah!" Tidak peduli bagaimana Yasmin menahan dirinya, tubuhnya tetap tidak bisa berhenti gemetar.
"Sepertinya kamu sangat takut padaku? Hm?" Daniel mengangkat rahang Yasmin. Dia seperti seekor binatang buas yang sedang bermain-main dengan mangsanya yang gemetar di genggaman cakar tajamnya.
Yasmin tidak berani mengeluarkan sedikit pun suara. Daniel memang sangat mengerikan, seperti iblis gila.
Beberapa tahun telah berlalu dan aura menakutkan pria ini makin kuat. Yasmin tidak akan bisa melupakan rasa sakit yang dia derita di masa lalu ketika dia tinggal di rumah Keluarga Guntur.
Apalagi sekarang Yasmin telah melahirkan tiga anak Daniel.
Rasa takut yang asing ini menyelimuti seluruh tubuh dan pikiran Yasmin ....
Dengan mata yang berkaca-kaca karena ketakutan, Yasmin meluruskan lehernya sambil berkata, "Kumohon, lepaskan aku. Aku akan langsung pergi dari negara ini dan menghilang dari hadapanmu. Aku nggak akan kembali lagi. Kumohon ...."
Tangan Yasmin yang berada di belakang memegang erat tasnya. Dia berusaha menyembunyikan tasnya dari Daniel untuk waktu yang lama. Seakan-akan begitu tas tersebut diekspos, rahasianya pun akan terbongkar ....
Tangan Daniel yang menggenggam rahang Yasmin pelan-pelan mengerat. Jemarinya yang kasar dapat merasakan kulit Yasmin yang mulus. Yasmin merasa seolah-olah sabit kematian neraka sedang dijulurkan di bagian depan lehernya.
"Karena kamu sudah kembali, jangan harap kamu bisa pergi lagi," ucap Daniel dengan sinis. Setelah itu, dia mendorong wajah Yasmin dengan kasar.
Akhirnya air mata Yasmin menetes. Dengan suara serak, dia berkata, "Kumohon ...."
Daniel hanya menyandarkan tubuhnya ke jok mobil hitam dengan malas. Dia menatap wanita yang panik di hadapannya itu seperti setan.
Mobil Rolls Royce melaju di dalam kegelapan dengan cepat. Dua puluh menit kemudian, ia memasuki perbatasan sebuah rumah pribadi yang tak ternilai harganya.
Dari awal sampai akhir, Yasmin tetap duduk di karpet mobil. Lalu, dia melihat Daniel keluar dari mobil dengan tegang.
"Apa kamu ingin aku mempersilakanmu keluar dari mobil?" kata Daniel dengan suaranya yang rendah. Sosoknya yang tinggi berdiri di tengah malam hari.
Yasmin menatap pintu mobil yang terbuka. Namun, dia malah menjulurkan tangannya untuk membuka pintu di belakangnya, kemudian keluar dari sisi satu lagi.
Menurutnya, jarak tersebut dekat dengannya untuk keluar dari mobil. Dia juga tidak perlu bergerak terlalu jauh.
Sambil menggenggam tasnya, Yasmin pun menutup pintu mobil. Setelah itu, dia segera mengeluarkan ponselnya dari tas untuk mematikan ponselnya.
Sekarang di negaranya adalah malam hari, jadi di luar negeri adalah pagi hari. Yasmin khawatir Tante Rita atau anak-anak akan meneleponnya. Pada saat itu, Daniel pasti akan tahu!
Akan tetapi, layar ponsel harus dibuka sebelum dia dapat mematikan ponsel.
Dengan tangan yang gemetar, Yasmin menekan kode sandi yang berisi enam digit.
Karena terlalu panik, dia memasukkan kode sandi yang salah. Jadi, dia terpaksa menghapus, lalu menekan ulang kode sandinya ....
Karena mobil menghalangi sosok Yasmin, Daniel dengan tatapan matanya yang tajam pun mengitari bagian belakang mobil untuk menghampiri Yasmin.
Daniel melihat Yasmin berdiri tak bergerak dengan kaku dan wajahnya tampak pucat.
"Apa yang sedang kamu tunggu?"
Yasmin seolah-olah baru bisa bernapas. Hampir saja ....
Dia menoleh ke sebelah di mana rumah yang seperti istana itu berdiri dan berkata, "A ... aku mau pergi .... Aku bisa menginap di hotel .... Ah!"
Sebelum Yasmin bisa menyelesaikan kalimatnya, sebuah sosok mendekatinya, lalu mencengkeram bagian belakang lehernya. Cengkeraman tersebut sangat kuat sehingga mata Yasmin berkunang-kunang. "Sakit .... Aku bisa jalan sendiri. Aku jalan sendiri ...."
"Yasmin, kuperingati kamu! Aku ini orang yang nggak punya kesabaran!" kata Daniel sebelum mendorong Yasmin dengan kasar.
Yasmin yang mengenakan hak tinggi hampir terpeleset, jadi dia segera bersandar ke mobil untuk menstabilkan dirinya.
Saat memasuki rumah mewah itu, Yasmin merasa dirinya sangat kecil. Dia juga merasa tempat ini seperti jaring mewah yang tak terlihat dan membuatnya tidak punya jalan untuk melarikan diri.
Aulanya bahkan seukuran satu rumah biasa.
Yasmin berdiri tegak di tempat dan takut untuk melangkah maju.
Dia tahu di mana dirinya, ini rumah Daniel.
Bab 3
Daniel melemparkan mantelnya di atas sofa dengan asal. Kemeja hitam yang dikenakan menunjukkan tubuhnya yang jangkung dengan jelas, tapi dia tampak sangat dominan.
Mata Yasmin pun tertuju ke arah bawah. Ingatan dari dua tahun yang lalu belum sepenuhnya hilang. Dia tahu betapa seksi, liar dan berototnya tubuh di balik kemeja itu.
Dengan takut-takut, Yasmin bertanya, "Kenapa ... kamu membawaku kemari?"
Di depan Daniel yang sangat dominan, Yasmin tidak akan memberontak karena itu sama dengan cari mati.
Akan tetapi, setelah Yasmin selesai bicara, perutnya berbunyi.
Raut wajah Yasmin berubah menjadi canggung. Sejak turun dari pesawat hingga sekarang, dia bahkan belum minum air, apalagi makan malam. Lalu, sepanjang jalan dia ketakutan, jadi dia merasa sangat lelah.
"Sepertinya kamu lapar." Daniel berkata dengan suara sinis, "Keluarkan makanan!"
Di sisi lain, seorang pria paruh baya berseragam berjalan keluar, lalu meletakkan sebuah mangkuk di atas meja kopi. Di dalam mangkuk itu berisi mi yang masih mengepul.
"Tuan Daniel, mi seafoodnya sudah selesai," kata Tony Halim, si kepala pelayan. Setelah itu, dia melangkah mundur dan berdiri di tempat dengan hormat, seakan-akan dia tiada.
Akan tetapi, saat Yasmin mendengar kata "seafood", wajahnya memucat.
Dengan tatapan mata yang tajam, Daniel berkata, "Makanlah makanan malammu."
"Aku ... alergi terhadap seafood. Aku nggak bisa memakannya," jawab Yasmin dengan suara yang gemetar.
Dia benar-benar takut alerginya kambuh. Karena begitu dia memakan seafood, situasi akan menjadi sangat serius. Bahkan kalau dia tidak ditolong tepat waktu, nyawanya akan terancam! Dulu dia sudah pernah mengalaminya sekali ....
"Jadi, kamu mau menyia-nyiakan niat baikku." Tatapan mata Daniel berubah menjadi galak.
Yasmin pun sudah mengerti. Daniel sengaja, dia ingin Yasmin mati!
"Aku ng ... nggak boleh makan itu. Aku bisa mati ..." tolak Yasmin sambil melangkah mundur.
Daniel melangkah maju, kemudian menggenggam lengan Yasmin sebelum mendorongnya ke arah meja kopi. "Makan!"
"Ah!" Yasmin terjatuh ke atas meja kopi. Bahkan tas yang dipegangnya terhempas sejauh dua tiga meter.
Karena tadi Yasmin terburu-buru mematikan ponselnya, dia bahkan tidak sempat menutup tasnya dengan benar. Begitu tas tersebut terhempas, ponsel di dalam tas pun tercecer keluar.
Yasmin tidak peduli dengan lututnya yang kesakitan. Dia hanya menatap ponselnya yang terekspos dengan raut wajah yang panik.
Masalahnya, Daniel sedang berjalan menuju ke ponselnya.
Begitu Daniel mengambil ponselnya, napas dan detak jantung Yasmin sama-sama berhenti.
Setelah Daniel mengambil ponsel Yasmin, dia menyadari kalau ponsel Yasmin mati.
Daniel pun mencoba menyalakan ponsel Yasmin.
Ternyata ponsel Yasmin mati bukan karena tidak ada baterai.
"Aku ... takut Tante akan meneleponku, jadi aku mematikannya ...." Yasmin tahu Daniel sangat membenci tantenya. Daniel telah menganggap tantenya sebagai musuh.
"Sandi." Saat Daniel menoleh, tatapan matanya tampak sangat sinis.
Rasa takut yang dirasakan Yasmin telah menyebar ke lehernya dan dia hampir tidak bisa bernapas.
Namun, dia tahu makin dia merasakan perasaan ini, dia merasa makin tenang.
"Sini kubuka ...." Yasmin berjalan mendekat. Dengan hati-hati, dia mengambil ponselnya dari tangan Daniel. Kemudian, Yasmin berjalan ke arah meja kopi seakan-akan dia takut orang lain akan melihat kode sandinya.
Daniel hanya menatapnya dengan tajam sambil tersenyum sinis.
Yasmin menundukkan kepalanya untuk menekan kode sandi sambil melihat sekeliling.
Tiba-tiba, dia melempar mi seafood yang di meja kopi ke arah Daniel!
Mangkuk tersebut hanya mencapai tengah-tengah mereka berdua. Kuah mi membasahi seluruh lantai dan menghalang jalan Daniel.
Mata Daniel pun berkelip dengan ganas. Melihat wanita di depannya lari, dia pun langsung berteriak, "Tangkap dia!"
Yasmin yang terkejut berlari makin cepat.
Setelah dia berlari keluar dari aula, dia melihat pengawal di depan berlari ke arahnya. Yasmin yang ketakutan pun berbelok.
Yasmin segera menuruni tangga terbuka yang berada di sisi lain.
Akan tetapi, berlari dengan hak tinggi itu tidak nyaman, apalagi menuruni tangga.
Begitu langkah kakinya tidak stabil ....
"Ahh!" Yasmin langsung terpeleset, lalu tubuhnya berguling ke bawah. "Aaa!"
Daniel yang telah berhasil mengejar berdiri di puncak tangga. Dia menatap ke bawah dengan tatapan mata yang sinis dan menyeramkan.
Di bawah tangga, dia melihat Yasmin terbaring di lantai dan sudah tidak sadarkan diri. Dahi Yasmin juga terluka dan darah terus mengalir.
Yasmin terbangun secara mendadak seolah-olah karena dia baru bermimpi buruk.
Dia mengubah menjadi posisi duduk dan rasa pening dari kepalanya membuatnya mengerang kesakitan.
Saat dia menyentuh dahinya, dia merasakan ada kain kasa.
Dia baru teringat kalau dia terjatuh dari tangga. Ketika dia bangun, dia berada di dalam kamar yang asing ini.
Langit di luar sudah terang ....
Yasmin teringat pada sesuatu dan langsung memegang dadanya dengan panik. Dia buru-buru turun dari tempat tidur, lalu memasuki kamar mandi.
Setelah dia menutup pintu, dia mengeluarkan ponselnya dari dalam branya.
Ketika dia melarikan diri, dia mengambil kesempatan menyelipkan ponselnya ke dalam bra. Untung saja ponselnya aman.
Tanpa menghiraukan situasi saat ini, Yasmin segera menghapus semua informasi tentang anak-anaknya dari ponselnya. Lagi pula, dia masih memiliki salinan di komputer rumah sewaannya.
Setelah itu, dia mengirimkan pesan kepada Tante Rita, 'Jangan meneleponku dan jangan biarkan anak-anak meneleponku. Aku lagi ada masalah kecil. Aku akan meneleponmu setelah masalahku kelar. Ingat.'
Tante Rita membalas, 'Ada apa?'
Yasmin mengetik, 'Jangan khawatir, aku baik-baik saja. Tolong bantu aku jaga anak-anak.'
Setelah memberi pesan kepada Tante Rita, Yasmin baru keluar dari kamar mandi.
Yasmin melihat sekeliling kamarnya. Kamar ini terasa sangat asing, tapi ia memiliki gaya mewah yang menonjol dan membuat Yasmin mudah menebak kalau ini rumah yang megah.
Tanpa perlu memikirkannya, Yasmin tahu kalau ini adalah maksud Daniel. Apa yang ingin dia lakukan?
Tidak peduli apa yang ingin Daniel lakukan, Yasmin tidak akan tinggal di sini. Dia mau pergi!
Yasmin membuka pintu kamar, lalu berjalan sehingga dia menemukan tangga. Lantai rumah ini membuatnya hampir pusing.
Setelah dia menuruni tangga, dia bahkan tidak memedulikan tasnya lagi dan berjalan keluar sambil memegang ponselnya.
Hanya saja, sebelum dia bisa mencapai gerbang besi yang besar itu, seseorang menghalang jalannya. Yasmin yang sedang berlari bahkan hampir menabrak orang itu, kemudian dia segera melangkah mundur.
Sambil menekan rasa paniknya, Yasmin berkata, "Biarkan aku pergi."
Suara pengawal itu sedingin gunung es saat dia menjawab, "Ini pesan Tuan Daniel."
"Di ... di mana dia?"
"Aku nggak tahu."
Yasmin tahu betul bagaimanapun juga, dia tidak akan bisa keluar. Kalau begitu, apa yang harus dia lakukan?
Dia kembali ke kamarnya lagi, kemudian dia menelepon Klara. "Tante, bukankah kamu bilang Daniel sudah lama menghilang dan nggak ada di Kota Imperial lagi? Kenapa dia bisa muncul?"
Kalau Yasmin tahu Daniel berada di Kota Imperial, dia pasti tidak akan pulang!
"Itu benar! Sudah lama nggak ada kabar tentangnya. Kalau dia berada di Kota Imperial, kami nggak mungkin nggak tahu. Aku juga nggak akan nggak memberitahumu!"
Yasmin memercayai tantenya. Kalau begitu, kenapa Daniel muncul di pesta ulang tahun pernikahan Klara dan Jason?
Tidak mungkin.
Klara pernah memberi tahu Yasmin kalau Daniel sudah lama memutuskan hubungannya dengan Jason dan bahkan seluruh Keluarga Guntur. Daniel berperilaku seperti tidak akan kembali, jadi kenapa ....
Yasmin memijat keningnya karena kepalanya samar-samar terasa sakit.
Daniel datang bukan untuk menghadiri pesta itu, tapi menunggu Yasmin datang ke pesta itu dan masuk ke dalam jebakan.
Hanya saja, sudah telat bagi Yasmin untuk menyadarinya sekarang ....
"Yasmin, ada apa? Apa yang telah terjadi? Semalam aku terus meneleponmu, tapi ponselmu nggak aktif."
"... Aku baik-baik saja. Aku bertemu dengan teman lama, jadi kami pergi ke bar. Lalu, aku minum terlalu banyak ...." Yasmin berbohong karena dia tidak ingin merepotkan tantenya. Lagi pula, saat ini Daniel hanya mengganggunya.