Bab 6
Setelah mendengar ucapan tantenya, Yasmin merinding.
"Yasmin? Kenapa kamu tanya soal ini?" Klara yang mendengar ujung telepon hening merasa aneh.
"Ng ... nggak apa-apa." Yasmin berusaha mengontrol suaranya yang gemetar. "Aku hanya ingin tahu ...."
"Kapan kamu pulang? Tante sendiri akan memasakkan makanan enak untukmu."
"Beberapa hari lagi. Nanti aku akan menelepon Tante."
"Baiklah. Tante tunggu, ya."
Setelah mengakhiri panggilan, Yasmin duduk di atas kloset dan wajahnya terlihat pucat.
Dia mengira Daniel hanyalah orang kaya biasa, tapi ternyata kekuasaan Daniel di Kota Imperial sangat kuat.
Tidak, meskipun begitu, Yasmin lebih harus melarikan diri.
Selama dia bisa lari ke luar negeri, Daniel tidak akan bisa menemukannya.
Yasmin akan meminta tantenya mengirim paspornya ke bandara. Semuanya akan baik-baik saja selama Yasmin bisa lari dari Teluk Bulan.
Akan tetapi, bagaimana dia bisa pergi dari tempat ini?
Dua hari kemudian saat makan malam, Yasmin duduk di meja makan dan menyapu pandangannya ke makanan yang di atas meja.
Setelah memakan sesuap nasi, Yasmin mengontrol rasa paniknya sambil meraih sebuah lauk dengan sendoknya. Ketika dia mendekatkan sendok ke hidungnya dan mencium wangi seafood, dia kesulitan menahan rasa takutnya sehingga tangannya yang sedang memegang sendok pun gemetar.
Namun, Yasmin masih memaksakan diri untuk memasukkan sendok ke mulutnya. Dia mengunyah dengan perlahan sebelum menelan.
Seorang pelayan yang berdiri tidak jauh dari Yasmin menatap heran Yasmin memakan lauk yang dicampur dengan kaldu seafood. Pelayan itu berpikir apakah Yasmin sudah tidak bisa tahan lagi?
Dia segera keluar dari ruang makan untuk mencari Tony, lalu berkata, "Pak, Nona Yasmin sudah mulai makan lauk!"
Tony menatap pelayan itu dengan ekspresi serius. Kemudian, dia melambaikan tangannya dan meminta pelayan itu tetap mengawasi di ruang makan. Tony menelepon dan berkata, "Tuan Daniel, Nona Yasmin sudah memakan lauknya."
Di kantor yang terletak di lantai paling atas gedung pencakar langit, Daniel sedang duduk di kursi hitam dengan ponselnya menempel di telinganya. Tatapan matanya tampak tajam saat berkata, "Apa sudah ada reaksi?"
"Ini ...." Sebelum Tony sempat menjawab Daniel, terdengar suara sesuatu pecah dari ruang makan. Tony pun segera pergi ke sana.
Piring-piring pecah di lantai, nasi dan sayuran berserakan di mana-mana.
Yasmin yang berada di sebelah sedang berlutut di lantai sambil terbatuk-batuk.
Dengan cepat muncul ruam merah di lengannya yang terekspos.
Tony segera berkata ke ponselnya, "Tuan Daniel, sudah ada reaksi."
Daniel tersenyum sinis sambil berkata, "Antar dia ke rumah sakit."
"Baik."
Yasmin dipapah ke dalam mobil. Dia bersandar ke jendela mobil dengan lemah. Melihat pemandangan di luar yang bergerak dengan cepat, matanya pun berkelip meskipun dia sedang menahan rasa sakit.
Belum sampai sepuluh menit mobil bergerak, ruam merah sudah menjalar ke leher dan wajah Yasmin, apalagi tubuhnya yang berada di balik pakaian.
Ini masih masalah kecil, nanti akan terjadi hal yang lebih serius.
Yasmin mulai sulit bernapas, seolah-olah ada orang yang mencekik lehernya. Alisnya terus berkerut dan tubuhnya mulai mengejang.
Ajal sudah dekat.
Tidak, dia tidak boleh mati. Dia masih mempunyai tiga anak yang lucu. Mereka tidak boleh tidak punya ibu ....
Namun, sebelum Yasmin sampai di rumah sakit, dia sudah mengalami syok. Jadi, dia langsung dilarikan ke ruang IGD.
Helen terkejut melihat Yasmin. Dia sudah menjadi dokter bertahun-tahun, tapi ini pertama kalinya dia melihat kasus alergi yang sangat serius. Kalau telat sedikit lagi, Yasmin pasti sudah mati.
Helen Anggono yang merupakan dokter pribadi Daniel pun segera menyelamatkan Yasmin.
Ada aura suram mengelilingi udara rumah sakit yang sunyi senyap saat tengah malam ini. Perasaan itu dapat dirasakan sehingga membuat bulu kuduk berdiri.
Pintu kamar VIP terbuka dan sebuah bayangan mendekati ranjang rumah sakit, lalu menyelimuti tubuh orang yang sedang berbaring itu.
Masker oksigen Yasmin telah dilepaskan dan napasnya stabil.
Namun, masih ada bintik-bintik merah di wajahnya yang putih.
Daniel menumpukan tangannya di kedua sisi tubuh Yasmin seperti binatang buas.
"Bagaimana rasanya?" tanyanya dengan suara sinis.
Mata Yasmin masih terpejam dan tidak ada respons darinya.
"Sayang sekali aku nggak bisa melihat tampangmu yang kesakitan. Tapi, masih ada lain kali, kok," ujar Daniel.
Yasmin perlahan-lahan terbangun, kemudian menoleh. Matanya tertuju pada jendela kaca yang terang.
Hari sudah pagi.
Bau obat yang menyengat memenuhi udara di ruangan ini. Yasmin pun tahu di mana dirinya.
Dia menghela napas lega di dalam hati. Akhirnya dia sudah keluar dari Teluk Bulan.
Yasmin duduk, kemudian meraba wajahnya yang masih sedikit merah.
Ada suara ketukan pintu sebelum Helen masuk. Melihat Yasmin sudah bangun, Helen berkata, "Sudah nggak apa-apa. Ruam merah di badanmu juga akan hilang setelah kamu memakai obat selama dua hari."
Yasmin tercengang menatap Helen.
"Namaku Helen Anggono. Aku adalah direktur rumah sakit ini dan juga dokter pribadi Tuan Daniel."
Yasmin kaget. Dokter pribadi Daniel bahkan seorang direktur rumah sakit.
Helen merasa penasaran dengan Yasmin.
Ini pertama kalinya Daniel mengantarkan seorang wanita kepada Helen. Tony dari Taman Royal bahkan sampai ikut datang.
Ini membuat Helen merasa Yasmin bukanlah wanita biasa.
Semalam Helen tidak dapat melihat wajah Yasmin dengan jelas karena alerginya. Sekarang bengkaknya sudah mereda, jadi wajah Yasmin yang mulus dan cantik sudah terlihat.
Kalau melihat wanita secantik Yasmin berdiri di samping Daniel, orang lain dapat dengan mudah mengira mereka adalah sepasang kekasih.
"Istirahatlah. Kalau ada apa-apa, tekan bel dan aku akan kemari."
"Terima kasih."
"Sama-sama."
Setelah melihat pintu ditutup, Yasmin mulai berpikir.
Dokter pribadi Daniel berarti dia adalah orang Daniel. Yasmin pasti tidak akan mencari Helen.
Yasmin berharap Daniel tidak muncul selamanya.
Dengan begitu, peluangnya untuk melarikan diri makin bagus!
Yasmin rela makan seafood yang sangat membuatnya takut hanya agar dia mempunyai kesempatan untuk melarikan diri.
Kalau tidak, walaupun dia mempunyai sayap, dia tidak akan bisa keluar dari Taman Royal yang dijaga ketat.
Setelah waktu makan siang, seorang suster datang untuk menginfus Yasmin.
Setengah jam kemudian, suster itu datang lagi.
Yasmin menatap suster yang sedang menundukkan kepala di depannya itu, lalu matanya berkelip.
Sepuluh menit kemudian, seorang suster berseragam dan bermasker keluar sambil memegang selang yang sudah dicabut dan sebuah botol obat.
Ketika suster itu melewati tempat sampah daur ulang medis, dia membuang benda-benda itu. Alih-alih pergi ke konter perawat, dia malah berjalan ke lift.
Karena orang itu bukanlah suster.
Yasmin yang sedang menyamar memasuki lift. Saat pintu lift hendak tutup, tangan seseorang langsung menghentikannya.
Yasmin sangat terkejut sampai jantungnya hampir berhenti berdetak.
"Maaf." Orang yang masuk ternyata adalah dokter lain.
Yasmin tidak menjawab dan hanya menundukkan kepalanya.
Setelah tiba di lantai tiga, Yasmin menekan sebuah tombol. Pintu lift terbuka, lalu dia keluar.
Kemudian, dia menuruni tangga darurat. Dia berjalan sambil melepaskan seragam perawatnya. Setelah itu, dia langsung berjalan ke arah pintu keluar.
Yasmin menghentikan sebuah taksi, kemudian langsung menuju ke bandara.
Yasmin mengeluarkan ponsel dari branya. Dia mengaktifkan ponselnya, kemudian menelepon Klara. "Tante, apa kamu sudah sampai di bandara?"
"Sudah. Di mana kamu?"
"Sebentar lagi sampai. Tunggu aku, ya." Yasmin mengakhiri panggilan, kemudian mendesak sopirnya. "Maaf, apa Bapak bisa bawa lebih cepat? Aku buru-buru."
Saat rencana itu terbentuk di benaknya, Yasmin pun menelepon tantenya, lalu memintanya pergi ke bandara untuk membeli tiket Yasmin dan menunggu.
Bab 7
Klara sedang berdiri tidak jauh dari pintu metal detektor. Dia tidak mengerti kenapa Yasmin ingin cepat-cepat pergi. Seakan-akan ada hantu yang mengejar Yasmin.
Setengah jam kemudian, Klara melihat ada orang yang berlari ke arahnya.
Yasmin mengontrol napasnya yang terengah-engah sebelum berkata, "Tante, berikan tiketnya." Lalu, dia mengambil paspor, KTP dan tiket pesawat yang telah disiapkan tantenya.
"Ada apa denganmu? Apa yang telah terjadi?" tanya Klara.
Orang bodoh pun tidak akan tertipu kalau Yasmin menjawab tidak apa-apa.
"Guruku menyuruhku pulang. Untuk sementara aku nggak tahu ada apa, tapi lumayan mendesak." Yasmin sejak awal telah menyiapkan alasannya.
Di usianya yang sekarang, Yasmin memang belum wisuda sebab sebelumnya dia cuti sekolah karena hamil.
Alasan Yasmin terdengar masuk akal, tapi Klara masih belum ingin Yasmin pergi. Klara menarik tangan Yasmin dengan enggan sambil berkata, "Yasmin, setelah kamu pulang, kamu hanya setor muka di pesta sebentar sebelum kamu pergi. Lalu, kamu pergi tinggal bersama temanmu. Sekarang kamu malah mau buru-buru pergi. Kamu baru berbicara beberapa kalimat dengan Tante, loh. Kali ini setelah kamu pergi, kapan Tante dapat melihatmu lagi? Apa kamu tidak merindukan Tante?"
Yasmin merasa bersalah.
Sudah bertahun-tahun dia tidak pulang dan sebenarnya dia ingin sering-sering bersama tantenya. Namun, tak disangka Daniel malah muncul.
Akan tetapi, Daniel terus mengincar Yasmin dan dia mempunyai kekuasaan yang mengerikan di Kota Imperial. Kalau sekarang Yasmin tidak pergi, kapan lagi?
"Tante, lain kali ... aku akan pulang untuk melihat Tante. Aku ... benar-benar sudah harus pergi. Tante, jaga dirimu baik-baik, ya." Yasmin bahkan tidak berani mengulur waktu lebih lama lagi. Dia melepaskan tangan tantenya dengan sakit hati, kemudian menuju ke pintu metal detektor.
"Yasmin," panggil Klara.
Klara yang melihat keponakannya sudah diperiksa masih tidak paham.
Walaupun Yasmin mempunyai urusan sekolah, seharusnya tidak begitu mendesak, 'kan?
Setelah diperiksa, Yasmin menunggu pesawat.
Setelah Yasmin naik pesawat, dia menunggu pesawat berangkat.
Yasmin merasa sangat bersalah.
Mata Yasmin tertuju ke luar jendela dan hatinya merasa sangat bersalah pada Klara.
Kali ini setelah dia pergi, mungkin sudah tidak ada kesempatan lagi untuknya pulang.
Namun, Yasmin tidak bisa berbuat apa-apa.
Dia tidak boleh tinggal di area kekuasaan Daniel!
Yasmin sesekali melihat waktu. Makin banyak orang yang naik pesawat dan hatinya juga makin merasa gelisah.
Pengeras suara meminta penumpang untuk memakai sabuk pengaman dan menghidupkan mode penerbangan pada ponsel. Pramugari juga datang untuk meminta beberapa penumpang menyimpan earphone mereka.
Setelah semuanya selesai, pesawat mulai meluncur di landasan.
Jantung Yasmin baru perlahan-lahan kembali berdetak dengan normal.
Akan tetapi, pesawat berhenti ketika berbelok di tikungan.
Yasmin mengira itu hal yang normal.
Namun, setelah berhenti, pesawatnya tidak bergerak lagi.
"Kenapa belum terbang?" tanya seseorang.
"Nggak tahu ...."
"Aku sedang mengejar waktu, loh."
Yasmin adalah orang yang paling terburu-buru, tapi dia juga hanya bisa menunggu dengan sabar.
Saat ini, pintu kabin first class terbuka.
Ini adalah keanehan yang belum pernah terjadi sebelumnya di pesawat.
Yasmin menoleh ke luar jendela.
Saat dia melihat ada lima enam pria berpakaian hitam dengan ekspresi sinis berjalan ke arah tangga pesawat, darahnya seakan-akan telah berhenti mengalir.
Begitu para pengawal masuk ke kabin, mata mereka langsung tertuju pada Yasmin yang tertegun.
Mereka menghampiri Yasmin, lalu berkata, "Nona Yasmin, silakan ikut kami keluar."
Tubuh Yasmin yang gemetaran menempel erat ke kursi. Wajahnya pucat dan dia menatap mereka dengan tak berdaya.
Orang lain yang berada di dalam pesawat tidak berani mengeluarkan suara karena aura yang dibawa orang-orang itu.
"Nona Yasmin, Anda tidak ingin kami bertindak kasar, 'kan?" ancam pengawal itu.
Yasmin ingin melarikan diri, tapi bagaimana caranya? Bahkan waktu lepas landas pesawat sudah dikendalikan.
Daniel berkuasa sekali.
Bagaimana ... bagaimana mereka bisa muncul?
Kenapa ... Daniel tidak mau melepaskannya?
Kenapa ...?
Yasmin diantar kembali ke Teluk Bulan oleh pengawal-pengawal itu.
Begitu kedua kaki Yasmin menginjak anak tangga Taman Royal, sekujur tubuhnya menjadi lemas dan dia hampir terjatuh.
Setelah memasuki aula, sosok seseorang yang sedang duduk di sofa dengan ekspresi sinis membuat wajah Yasmin menjadi pucat. Yasmin pun tanpa sadar melangkah mundur, tapi dia langsung menabrak pengawal yang berdiri di belakangnya.
"Tersesat?" ucap Daniel dengan suara yang rendah.
Yasmin menggigit bibir bawahnya erat-erat dan mengontrol tubuhnya yang gemetaran.
Tentu saja dia tidak tersesat. Dia juga tidak percaya kalau Daniel benar-benar mengira seperti itu.
Daniel menurunkan kakinya yang disilang, lalu bangkit sebelum berjalan ke arah Yasmin. Kaki Daniel yang jenjang tampak anggun, tapi dia mirip dengan binatang buas yang berbahaya. Dia seolah-olah bisa mencabik-cabik Yasmin dalam hitungan detik.
Setiap saraf di tubuh Yasmin tegang dan dia tampak ketakutan.
"Kamu pura-pura makan seafood agar bisa masuk rumah sakit, lalu mencari kesempatan untuk melarikan diri. Yasmin, ternyata kamu berani juga," ujar Daniel sambil berjalan mendekat.
Suara Daniel yang tenang mengandung rasa kesalnya.
Yasmin sangat ketakutan sampai sekujur tubuhnya gemetaran. Saat Daniel berjalan makin dekat, Yasmin pun langsung berbalik.
Dia menggunakan seluruh kekuatannya untuk mendorong pengawal yang berdiri di belakangnya.
"Ah!" Sebelum Yasmin bisa benar-benar melawan, sebuah tangan telah mencengkeram bagian belakang lehernya dengan kuat. Yasmin pun berteriak kesakitan. Dia merasa lehernya seakan-akan mau patah. "Jangan .... Sakit ...."
"Sepertinya sampai sekarang kamu masih belum mengerti posisimu!"
"Bi ... biarkan aku pergi ..." kata Yasmin dengan susah payah.
Tatapan mata Daniel sangat galak. Lalu, dia menyeret Yasmin.
Mereka masuk lift, lalu langsung menuju ke ruang sauna di lantai atas.
"Ugh ...." Yasmin ingin melepaskan diri, tapi genggaman Daniel sangat kuat sehingga Yasmin tidak bisa bergerak.
Daniel menarik buka pintu kaca di depannya. Sebelum Yasmin sempat melihat dengan jelas, dia sudah didorong masuk.
Lalu, pintunya dikunci.
Yasmin pun terkurung di sebuah ruangan kecil. Kedua tangannya menekan kaca di depannya dengan tak berdaya. Dia menatap pria mengerikan yang di luar kaca dengan bingung dan panik. "A ... apa ini? Kenapa kamu mengurungku di sini?"
"Menurutmu, apa yang mau kulakukan?"
Yasmin menatap pria yang berada di luar itu dengan terkejut. "A ... apa? Nggak, kamu berbohong. Kamu hanya ingin menakutiku, 'kan? Benar, 'kan?!"
Daniel mengangkat tangannya untuk menekan tombol elektronik di sebelah pintu kaca dua kali. Setelah itu, suhu di dalam ruangan meningkat.
Yasmin dapat merasakan suhu telah meningkat. Setelah dia paham apa yang ingin dilakukan Daniel, dia menjadi sangat takut. Dia pun memukul pintu kaca dengan panik. "Keluarkan aku! Jangan seperti ini, aku bisa mati. Jangan! Kumohon!"
Daniel seakan-akan tidak mendengarnya. Dia lanjut menaikkan suhu dan suhunya makin panas sehingga kulit Yasmin rasa terbakar.
"Jangan! Lepaskan aku!" mohon Yasmin sambil menangis. Dia bahkan mulai menendang pintu kaca tersebut, tapi semuanya tidak berguna.
Ini terlalu kejam!
Bagaimana bisa Daniel memperlakukannya seperti ini?!
Yasmin menatap pria kejam di luar kaca itu dengan pasrah dan takut sambil menangis dan memohon, "Keluarkan aku! Di sini panas sekali! Daniel, lepaskan aku .... Tolong! Tolong!"
Akan tetapi, tidak peduli seberapa kuat Yasmin menjerit dan sakit tenggorokannya, tidak ada orang yang datang untuk menolongnya!
Apakah hari ini dia akan mati di tempat ini?
Yasmin tidak mau. Dia masih punya anak-anaknya ....
"Ugh ...." Tempat yang seperti tungku ini membuat Yasmin merasa sangat menderita saking panasnya. Setiap tarikan napas terasa berat sekali. Dia merasakan cairan di tubuhnya sudah perlahan-lahan menghilang dan ini membuat tenggorokannya kering. Yasmin menarik napas dalam-dalam. Rasa takut telah menguasai seluruh hatinya. Air mata pun membasahi wajahnya.
Bab 8
"Dengan begini, lain kali kamu nggak akan tersesat." Daniel mendekatkan diri ke kaca sambil menatap Yasmin dengan tajam.
"Ja ... jangan .... Aku nggak boleh mati ...." Tubuh Yasmin yang sudah tidak bertenaga merosot ke lantai. Suhu di sekitarnya membuat Yasmin menempel erat ke pintu kaca. Dia seakan-akan ingin menghirup udara segar di luar. "Lepaskan aku. Aku benar-benar ... nggak boleh mati .... Aku sudah menghilang dari hadapanmu, kenapa kamu menangkapku lagi?"
Semua ucapan Yasmin tidak berguna. Dia mengarahkan matanya ke atas dan hanya bisa melihat kedua mata Daniel yang sinis seperti binatang buas itu. Daniel seolah-olah ingin dia mati!
Yasmin mencengkeram dadanya yang sakit. Air matanya tidak bisa berhenti mengalir. "Jangan .... Aku berjanji aku nggak akan lari lagi. Ampuni aku .... Aku nggak mau mati, aku juga nggak akan lari lagi ...."
Setelah Yasmin selesai berbicara, dia terjatuh ke lantai karena tidak ada oksigen yang bisa dihirupnya lagi.
Pandangannya mulai kabur, tapi sosok pria di luar pintu kaca terlihat sangat jelas. Daniel seperti iblis yang menetap di dalam benak Yasmin.
Ketika kegelapan telah menyelimuti seluruh pandangan Yasmin, dia pun pingsan dan air matanya bahkan masih mengalir.
Dia menangis bukan karena dia takut, tapi karena dia merindukan anak-anaknya.
Kalau Yasmin mati, bagaimana dengan mereka? Mereka masih sangat kecil ....
"Ahh!" Yasmin terbangun dari kegelapan. Dia mengubah posisinya menjadi duduk di tempat tidur. Rasa takut memenuhi tatapan matanya dan napasnya terengah-engah. Keringat dingin menghiasi keningnya.
Apa dia sudah mati?
Yasmin tercengang saat melihat kamar yang familier ini. Beberapa saat kemudian, dia baru sadar kalau ini adalah kamar yang sebelumnya dia tinggali.
Ini berarti dia masih hidup?
Daniel mengeluarkannya dari ruang sauna!
Yasmin menundukkan kepalanya untuk melihat tangannya, kemudian dia menyentuh wajahnya sendiri. Itu belum cukup juga. Dia pun turun dari tempat tidur dengan panik, lalu lari ke depan kaca kamar mandi.
Setelah melihat dirinya yang utuh, dia baru merasa tenang.
Walaupun dia masih hidup, rasa takut ketika berada di ambang kematian pada saat itu masih mencengkeramnya.
Daniel terlalu kejam!
Yasmin berani mempertaruhkan nyawanya dengan memakan seafood karena dia berani menjamin Daniel tidak akan membiarkannya mati.
Setidaknya, Yasmin tidak akan begitu cepat mati.
Setelah seekor binatang menangkap mangsa, ia akan langsung menggigit leher mangsanya atau bermain dengannya sampai ia bosan sebelum memakannya.
Daniel adalah tipe kedua.
Namun, kali ini ketika Yasmin dikurung di ruang sauna dan dipanggang hidup-hidup, dia sungguh mengira Daniel ingin membunuhnya.
Daniel melepaskannya pasti karena Yasmin sudah berkata dia tidak akan melarikan diri lagi.
Dia terlalu mengerikan ....
Yasmin yang teringat pada sesuatu lari kembali ke kamar. Dia mencari paspor dan KTP-nya, tapi dia menyadari kedua benda itu tidak ada.
Dia merasa panik sehingga air mata mengalir, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.
Dia tahu kalau paspor dan KTP-nya berada di tangan Daniel dan Daniel tidak akan memberikannya kepada Yasmin.
Tanpa kedua benda itu, bagaimana dia bisa kembali ke sisi anak-anaknya?
Yasmin berkata dia tidak akan melarikan diri lagi, tapi itu hanya rencana sementara ....
Harapan palsu ini membuat Yasmin merasa putus asa sehingga dia kesulitan bernapas.
Seharusnya hari ini dia sudah bisa kembali ke sisi anak-anaknya, sudah bisa memeluk tubuh-tubuh kecil mereka yang lembut dan wangi, mendengar suara mereka yang menggemaskan ....
Yasmin kembali ke tempat tidur, lalu menangis.
Pada saat ini, Yasmin sangat merindukan anak-anaknya.
Dia menunggu langit menggelap untuk menelepon video anak-anak.
Tante Rita yang untuk sementara tidak bisa pergi pasti sangat lelah menjaga tiga anak sendirian.
Yasmin terbangun sampai jam dua pagi yang berarti hampir jam sepuluh pagi di luar negeri.
Dia turun dari tempat tidur untuk mengunci pintu kamar, lalu menuju ke kamar mandi.
Setelah membentuk lapisan pertahanannya, Yasmin baru mengeluarkan ponselnya dari dalam branya. Dia menghidupkan ponselnya, lalu menghubungi nomor Tante Rita. Dalam beberapa saat, teleponnya sudah tersambung.
Wajah cemas Tante Rita memenuhi layar ponsel. "Yasmin ...."
"Mama!"
"Mama!"
"Mama!"
Sebelum Yasmin sempat mengatakan apa-apa, suara putra dan putrinya terdengar. Tiga kepala kecil berdesak-desakan di depan kamera. Mata besar dan indah yang berbinar-binar itu menatap layar.
Ketika melihat wajah-wajah mereka yang lucu, Yasmin hampir menangis. Dia berusaha menahan dirinya sebelum berkata, "Mama di sini. Apa kalian ada mendengarkan Nenek di rumah?"
"Ada!"
"Ada!"
"Ada!"
"Baguslah ...." Yasmin menatap ketiga anaknya dengan sedih. Dengan tangan gemetar, dia hanya bisa menyentuh layar ponsel untuk mengungkapkan kerinduannya.
"Mama, kapan Mama pulang?" tanya Julia, putrinya, dengan lemah dan sedih. Air matanya sudah mau jatuh.
"Mama bilang Mama cepat pulang!" kata Julian, putranya, dengan keras dan marah. Matanya berkaca-kaca.
"Sudah sepuluh hari!" Julius, si putra kedua, yang pendiam tampak kecewa. Air mata juga memenuhi kelopak bawah matanya.
Hati Yasmin terasa sakit sekali.
Dia pun menundukkan kepalanya untuk menenangkan perasaannya yang hampir meluap.
Beberapa detik kemudian, Yasmin mengangkat kepalanya. Dia memaksakan seulas senyuman sambil berkata, "Mama masih ada sedikit urusan di sini. Setelah urusan Mama selesai, Mama pulang. Oke?"
"Berapa lama lagi?" tanya Julian.
Yasmin juga tidak tahu berapa lama lagi, tapi dia tidak boleh memberi anak-anak jawaban sepertinya. "Seharusnya tidak lama lagi. Tapi, Mama janji beberapa hari ini akan menelepon video kalian. Oke?"
"Mama ..." rengek Julia dengan suara serak.
"Sayang, jangan menangis, ya. Mama akan berusaha cepat-cepat pulang. Oke?" Yasmin merasa sangat sedih, seakan-akan ada pisau yang menyayat hatinya.
"Ya ..." jawab Julia dengan tak berdaya. Lalu, dia menghela napas. Kasihan sekali.
"Harus setiap hari!" kata Julian.
Yasmin tidak tahu apa dia bisa menelepon video mereka setiap hari, jadi dia berkata, "Mama usahakan, ya ...."
"Kangen Mama ..." ucap Julius. Sorot matanya tampak redup.
"Mama juga kangen kalian, banget ..." kata Yasmin sambil menahan air mata.
Dia berharap dia bisa langsung melompat ke dalam layar ponsel untuk memeluk anak-anaknya. Kesedihan karena terpisah dari anak-anaknya ini sungguh sulit ditahan.
Meskipun anak-anak baru berusia dua tahun dan belum bisa berbicara dengan lancar, kepintaran mereka jauh melampaui anak-anak seusia mereka.
Yasmin menatap wajah ketiga anaknya. Julia adalah cerminannya, sedangkan Julian dan Julius sepenuhnya adalah cerminan Daniel.
Ini membuat Yasmin merasa makin resah.
Dia tidak akan tidak mencintai mereka hanya karena mereka mirip dengan Daniel. Dia hanya takut putra-putranya akan diambil darinya.
Bagaimana mungkin Daniel memperbolehkan wanita yang dibencinya melahirkan anaknya?
Yasmin mengobrol bersama anak-anaknya, kemudian menemani mereka makan siang.
Anak-anaknya yang baru berusia dua tahun sudah bisa makan sendiri.
Tangan mereka yang mungil memegang sendok, lalu menyuap diri mereka sendiri. Gambar di layar ponsel pun menyembuhkan hati Yasmin sedikit.
Rasa takut dari kemarin juga perlahan-lahan menghilang.
Ketika Yasmin sedang menatap ketiga anaknya dengan kasih sayang, dia tiba-tiba mendengar ada suara dari luar dan itu membuatnya langsung mematung.
Tidak ada suara dari pintu kamar mandi.
Namun, sesuatu yang mengerikan sepertinya sedang perlahan-lahan mengarah ke tempat ini.
Aura di dalam kamar menjadi aneh. Sosok Daniel yang tinggi tiba-tiba muncul. Melihat tidak ada orang di dalam kamar, tatapan matanya yang tajam pun tertuju ke arah kamar mandi yang terang.