Bab 4
"Aku sudah bilang kamu pasti belum pergi. Paspor dan KTP-mu ada padaku!"
Yasmin tercengang, lalu bertanya, "Pasporku sama Tante?"
"Ya. Aku nggak bisa menghubungimu, jadi aku pergi ke hotelmu. Kenapa kamu meninggalkan paspor di hotel tak berbintang? Bahaya sekali. Aku sudah check-out kamarmu. Untuk apa kamu menginap di hotel? Tidur di rumah Tante saja."
Walaupun Yasmin ingin tidur di rumah tantenya, dia juga sudah tidak bisa. Dia sama sekali tidak bisa membebaskan diri dari genggaman Daniel.
"Tante, aku nggak bisa pergi ke rumahmu. Aku akan menginap di rumah teman selama beberapa hari. Nanti setelah aku mengambil pasporku, aku akan langsung pergi," kata Yasmin.
"Kamu sudah berapa tahun nggak pulang? Teman dari mana?"
"Teman SMA ...." Alasan Yasmin terdengar agak tidak realistis.
"Tante tahu kamu seperti ini karena hubunganmu dengan Daniel. Tapi, hal itu sudah bertahun-tahun yang lalu. Kalian sudah dewasa, 'kan? Kamu juga jangan terlalu memikirkannya lagi."
Yasmin tersenyum sinis. Mereka sudah dewasa? Kalau begitu, sekarang situasi macam apa ini ...?
"Datanglah ke rumah Tante. Sudah beberapa tahun kita nggak berjumpa. Tante punya banyak hal yang ingin dibicarakan denganmu," ujar Klara.
"Nanti ... aku akan pergi mengunjungi Tante."
Setelah Yasmin mengakhiri panggilan, dia duduk di ujung tempat tidur sebelum merosot ke lantai.
Tanpa persetujuan Daniel, bagaimana Yasmin bisa pergi?
Yasmin tahu betul kalau dia tidak pergi, Daniel pasti akan membuatnya sengsara.
Bagi Daniel, tante Yasmin adalah orang ketiga yang telah merusak hubungan orang tuanya dan merepotkannya ....
Pada siang hari, Yasmin diundang ke ruang makan untuk makan siang.
Saat dia melihat makanan-makanan di meja, wajahnya agak memucat karena hampir semuanya adalah seafood.
Mahal, tapi makanan-makanan itu seperti racun.
Mata Yasmin tertuju pada sayuran hijau. Dia menyendoknya, kemudian saat dia hendak memakannya, aroma seafood memasuki lubang hidungnya. Yasmin kaget dan segera menjatuhkan sendoknya. Dia berdiri, lalu bertanya kepada seorang pelayan wanita yang berdiri tak jauh darinya dengan napas yang terengah-engah, "Sayur ini ... dimasak dengan apa?"
Pelayan wanita itu menjawab dengan jujur, "Kaldu seafood."
Yasmin membalikkan tubuhnya, lalu hendak beranjak pergi.
Namun, kakinya tidak bergerak.
Kalau kali ini dia tidak makan, bagaimana dengan lain kali? Apa dia bisa bertahan tidak makan selama tiga hari? Kalau perutnya kosong, bagaimana dia bisa melarikan diri?
"Ingin aku cuman makan nasi putih? Nggak masalah."
Yasmin kembali duduk. Dia tidak makan lauk dan hanya memakan nasi putih dengan lahap.
Pelayan wanita itu tercengang melihat Yasmin hanya memakan nasi putih dengan ekspresi datar.
Selama tiga hari di dalam rumah yang seperti istana ini, Yasmin hanya memakan nasi putih. Selama tiga hari ini, dia tidak melihat batang hidung Daniel. Yasmin seakan-akan ditinggal di tempat ini untuk mengurus dirinya sendiri.
Dia seperti burung yang dikurung yang tidak tahu masa depannya dan hatinya penuh dengan rasa takut.
Yasmin yang sedang memakan nasi putih sudah kehilangan kesabarannya dan dia pun meletakkan sendoknya. Dia berjalan ke aula, lalu bertanya kepada Tony, si kepala pelayan, "Di mana Daniel? Aku mau menemuinya. Sebenarnya kapan dia akan melepaskanku?"
"Maaf, Nona Yasmin. Kami yang sebagai bawahan Tuan Daniel nggak tahu tentang jadwalnya," jawab Tony.
"Sampai kapan dia mau mengurungku?"
"Kami juga nggak tahu."
"Kamu ...."
Yasmin tidak bisa menyulitkan seorang bawahan. Ini hanyalah perintah Daniel!
Hampir pukul sembilan malam, Yasmin yang tidak bisa tidur meringkuk di sudut balkon sambil merindukan anak-anaknya.
Dia tidak pernah meninggalkan anak-anaknya begini lama. Apa mereka merindukan mama mereka? Apa pada malam hari mereka menangis?
Saat mata Yasmin terasa panas, dia mendengar ada suara mobil di bawah. Hatinya langsung berdebar, kemudian dia pun berlari ke bawah.
Setelah dia keluar, dia melihat sebuah mobil sedang perlahan-lahan berhenti di depan pintu. Akan tetapi, itu bukan mobil Rolls Royce hitam.
Itu adalah mobil Mercedes Benz.
Orang yang keluar dari mobil juga bukan Daniel, tapi seorang pria yang berkacamata, berpakaian jas dan berpenampilan biasa yang berjalan menghampiri Yasmin.
Tangan pria itu bahkan memegang sebuah tas kertas yang tidak tahu apa isinya.
"Nona Yasmin Tanoto?" tanya Eric sambil melirik kaki telanjang Yasmin yang putih.
"Kamu ...."
"Salam kenal. Aku Eric Gotami, sekretaris utama Tuan Daniel."
Yasmin buru-buru bertanya, "Apa dia menyuruhmu datang untuk melepaskanku?"
"Aku akan membawamu pergi menemui Tuan Daniel sekarang juga." Eric mengangkat tas kertas di tangannya dan berkata, "Ini adalah baju dan sepatu yang disiapkan untukmu."
Saat Yasmin melihat sikap Eric yang profesional dan pakaian di dalam tas kertas, Yasmin merasa tidak tenang. Dia pun bertanya, "Kita mau ke mana?"
Bar.
Yasmin memakai gaun satu bahu hitam ketat yang mengekspos kulitnya yang putih dan tulang selangka yang indah.
Dia memiliki pinggang yang ramping, kaki yang jenjang dan aura yang unik. Begitu Yasmin masuk, dia menarik banyak perhatian para lelaki dan semuanya menatap tubuh Yasmin secara terbuka.
Tanpa melirik ke arah Yasmin sedikit pun, Eric menuntunnya ke ruang VIP yang berada jauh di dalam.
Saat pintu ruang VIP dibuka, lampunya memancar ke luar. Akan tetapi, Yasmin merasa dia seakan-akan memasuki dunia gelap yang tidak diketahui.
Semua orang minum alkohol. Pria meraba-raba wanita, sementara wanita menempel pada pria.
Dalam suasana yang haram ini, sosok Daniel tidak terlihat.
Orang-orang telah menyadari kehadiran Yasmin. Para lelaki juga tidak menyembunyikan ketertarikan mereka kepada wanita cantik meskipun di pelukan mereka sudah ada wanita lain.
"Model baru, ya? Lumayan cantik," kata seorang pria yang dipanggil 'Tuan Bobby'.
Yasmin merasa jijik dengan orang yang menganggap manusia sebagai barang. Dia bertanya kepada Eric, "Dia tidak ada di sini?"
"Kamu tunggu sebentar." Setelah mengatakan itu, Eric pergi.
Yasmin berdiri di tempatnya dan merasa kikuk dengan orang-orang di dalam ruang VIP.
Kenapa Eric tidak memberi penjelasan ketika orang salah paham terhadap identitasnya?
Kenapa dia ditinggal sendirian untuk menunggu Daniel?
Yasmin sebentar lagi akan mendapatkan jawabannya ....
Tuan Bobby berjalan menghampiri Yasmin sambil memegang sebuah gelas bir. "Bagaimana kalau kamu duduk di sebelahku? Aku akan bersikap lembut padamu."
Yasmin mengerutkan keningnya dan menolak di dalam hati.
"Kenapa dia harus duduk di sampingmu?" Pria lain muncul. "Begini saja, aku akan membayar dua juta!"
"Aku akan membayar empat juta. Orang lain tidak pernah memberi harga ini!" kata Tuan Bobby dengan murah hati.
"Kalian sudah salah paham. Aku bukan model tempat ini," kata Yasmin dengan wajah memucat.
"Apanya yang bukan? Jangan pura-pura. Kamu merasa uangnya tidak cukup, 'kan?" Tuan Bobby tertawa sinis, lalu berkata, "Kamu kira kamu sangat berharga? Kamu terlihat polos, tapi kami belum tahu apa badanmu bisa dilihat setelah pakaianmu dilepaskan?!"
"Bagaimana kalau kamu melepaskan pakaianmu?" kata seorang pria di samping dengan genit.
Tuan Bobby langsung menangkap pergelangan tangan Yasmin, kemudian berkata, "Begini saja, biarkan aku memeriksamu sebentar untuk melihat apa kualitasmu lulus atau tidak."
"Lepaskan ...." Yasmin meronta dengan jijik sambil berseru, "Lepaskan!"
Karena Yasmin berusaha melepaskan dirinya dari genggaman Tuan Bobby, momentum yang disebabkan membuat tubuhnya jatuh ke belakang.
"Aaa!"
Yasmin mengira dirinya akan jatuh, tapi punggungnya bertabrakan dengan tubuh seseorang yang kokoh.
Seorang pria berbisik ke telinga Yasmin, "Ada apa? Apa kamu tidak suka rencanaku?"
Sekujur tubuh Yasmin langsung merinding. Daniel ....
"Setelah makan nasi putih selama beberapa hari, sudah saatnya kamu makan daging!"
Bab 5
Daniel menggenggam bahu Yasmin, kemudian mendorongnya dengan kasar.
"Aaa!"
Yasmin jatuh ke sudut meja kopi. Dua gelas yang berada di atas meja pun terdorong sampai jatuh. Satu yang gelas berisi bir tumpah mengenai wajah dan rambut Yasmin. Daniel duduk di sofa, lalu menyilang kakinya. Dia menatap Yasmin yang tampak kasihan dengan sinis dan masam.
Tuan Bobby yang hendak menuangkan bir berkata, "Tuan Daniel, silakan minum."
"Tuangkan!" perintah Daniel dengan sinis.
Tangan Tuan Bobby langsung berhenti. Dia mengerti maksud Daniel, jadi dia menyerahkan botol bir kepada Yasmin.
Yasmin gemetaran, dia seakan-akan baru saja jatuh ke dalam air dingin.
Dia tahu Daniel begitu untuk mempermalukan dirinya sendiri. Jika Yasmin tidak mendengar perintah Daniel, dia tidak akan bisa pergi dari ruang VIP ini.
Yasmin yang memikirkan ketiga anaknya yang lucu di rumah hanya bisa menggertakan gigi. Dia menerima botol bir tersebut dengan tangan yang gemetar, lalu menuangkannya ke gelas.
Setelah Daniel mengambil gelasnya, dia meminum birnya sambil menatap Yasmin dengan tatapan mata yang tajam.
"Apa ... apa aku sudah boleh pergi?" tanya Yasmin dengan suara yang gemetar. Dia masih berlutut di lantai dan hatinya merasa sangat tidak tenang.
Sebagian besar orang lain telah menjadi latar belakang.
Sedangkan Daniel seperti raja yang mengendalikan seluruh situasi ini.
"Kenapa sudah mau pergi?" Tuan Bobby menuangkan bir untuk Yasmin, lalu berkata, "Seharusnya kamu merasa terhormat karena dapat minum bersama Tuan Daniel. Minumlah!"
"Aku tidak minum alkohol ..." tolak Yasmin sambil menoleh mukanya.
Daniel meraih rahang Yasmin, lalu mendekatkan wajah Yasmin ke arahnya. Dengan tatapan mata yang dingin, Daniel berkata, "Jangan bilang kamu nggak ada gen menemani pria minum?"
Yasmin menatap balik Daniel dengan mata yang berkaca-kaca.
"Apa wanita jalang yang tinggal di rumah Keluarga Guntur itu tidak mengajarimu hal-hal ini?"
"Tanteku bukan orang ketiga. Kamu sudah salah paham ...." Yasmin tahu kalau orang yang dimaksud Daniel adalah tantenya dan dia merasa sangat kesal.
"Itu karena kamu juga sepertinya!" Genggaman Daniel mengerat sehingga tulang rahang Yasmin hampir keseleo.
"Ah!" teriak Yasmin kesakitan.
"Yasmin, kamu lagi-lagi jatuh ke tanganku. Hari baikmu sudah akan berakhir," ujar Daniel sambil menepuk pipi Yasmin. Setelah itu, dia menarik kembali tangannya.
Tubuh Yasmin menjadi lemas. Dia duduk di lantai dengan air mata berlinang.
Tuan Bobby yang di sebelah menarik Yasmin sembari berkata, "Ayo minum. Datang ke bar harus minum bir."
Pria lain dan bahkan seorang wanita juga datang menarik Yasmin.
Yasmin dipaksa duduk di sofa. Gelas demi gelas disodorkan ke arahnya dan dia hanya bisa meminumnya.
Karena bir tersebut terlalu keras, Yasmin kesulitan untuk meneguknya. Dia minum sambil menahan air mata.
Salah satu wanita cantik pergi duduk di sebelah Daniel untuk menuangkan birnya. Akan tetapi, mata Daniel hanya tertuju pada wanita yang sangat dibencinya itu.
Ketika Yasmin meminum gelas keenam, dia sudah mabuk. Apa yang dilihatnya menjadi kabur.
Saat dia merasa ada orang yang mengelus pahanya, dia langsung sadarkan diri. Yasmin yang terkejut menghindar ke samping, lalu berdiri untuk keluar dari ruang VIP.
Dia bergegas ke kamar mandi yang terletak di sebelah, lalu berjongkok di depan toilet. Dia mencoba memuntahkan isi perutnya, tapi tidak ada yang keluar dan hanya air mata yang terus mengalir.
Sebenarnya kesalahan apa yang telah dibuat Yasmin sehingga dia harus diperlakukan seperti ini?!
Saat dia berumur 14 tahun, di antara begitu banyak kerabat, hanya Klara yang bersedia menjaganya. Bagaimana mungkin tante seperti Klara adalah seorang wanita tak senonoh?
Karena Yasmin tinggal di rumah Keluarga Guntur dan memanggil Daniel kakak, Yasmin seakan-akan telah membangkitkan sisi gila Daniel. Walaupun Yasmin sudah keluar dari rumah Keluarga Guntur, mimpi buruknya tidak pernah berakhir!
Saat Yasmin mendengar suara pintu ditutup, tubuhnya menegang. Dia merasakan aura yang menakutkan dari belakang dan rasa dingin menjalar dari punggung sampai ke otaknya.
Tanpa perlu menoleh, Yasmin sudah tahu aura siapa ini.
"Aku sudah minum, jadi .... Aaa!" Yasmin yang belum sempat menyelesaikan kalimatnya merasakan rambutnya dijambak. Kepalanya pun tertarik ke arah belakang sehingga lehernya yang putih dan mulus terekspos.
Dengan raut wajah yang menyeramkan, Daniel berkata, "Apa aku bilang kamu sudah boleh pergi?"
Yasmin tidak tahu apakah ini efek alkohol karena kulit kepalanya terasa mati rasa, tapi ketakutan menyelimutinya sampai ke tulang-tulang.
Dia bertanya dengan napas terengah-engah, "Apa yang harus kulakukan ... supaya kamu mau membebaskanku?"
Daniel mengabaikan pertanyaan Yasmin. Dia menyipitkan matanya dan mengamati tubuh Yasmin yang seksi. Tatapan matanya pun menjadi berbeda. Daniel mencondongkan tubuhnya, kemudian berbisik di telinga Yasmin, "Mungkin tubuhmu lebih jujur."
Setelah mengatakan itu, Daniel langsung menggigit bahu Yasmin.
"Ah!" seru Yasmin. Tubuhnya gemetar.
"Enak? Hm?"
Yasmin merasa perih di bagian bahunya. Apa bahunya telah digigit sampai terluka?
Setelah Daniel melepaskan gigitannya, tubuh Yasmin menjadi lemas dan langsung bersandar ke dada bidang Daniel. Air mata Yasmin jatuh dari sudut matanya dan dia berkata dengan lemah, "Aku salah, seharusnya aku nggak kembali. Kumohon, jangan menyiksaku lagi ...."
Daniel mencengkeram rahang Yasmin dengan kejam, lalu mengangkatnya dengan paksa. "Memohon padaku lebih berbahaya daripada menolakku."
Yasmin merinding ketakutan. Wajahnya telah menjadi merah karena efek alkohol. Lampu di langit-langit sangat silau sehingga Yasmin tidak berani membuka matanya dan kepalanya terasa pusing. Sambil menangis, dia berkata, "Kenapa harus aku? Kenapa ...?"
"Kamu tahu kenapa. Sekarang aku masih belum boleh menyentuh wanita jalang itu, jadi aku hanya bisa menyiksamu dulu! Bukankah dia sangat menyayangimu? Aku akan membuat keponakan kesayangannya sengsara!" kata Daniel sambil mencengkeram rahang Yasmin dengan kuat.
Berani-beraninya Jason mengancam Daniel.
Baiklah!
Daniel akan membuat mereka paham apa arti sengsara!
Yasmin menangis terisak-isak. Jadi, Daniel mengira tantenya adalah orang ketiga yang telah menghancurkan keluarga orang lain, makanya Daniel merasa Yasmin juga orang yang begitu.
Selama ini Daniel memiliki pemikiran salah dan tidak ada yang bisa mengubah pikirannya.
"Apa saat masa sekolahku selama 12 tahun ... belum cukup?"
"Selamanya belum!" Tatapan mata Daniel yang penuh amarah tampak mengerikan. "Terimalah. Kalau kamu berani mati, orang berikutnya adalah dia!"
"Jangan ...." Yasmin ketakutan sampai sekujur tubuhnya gemetar dan kepalanya terasa pusing. Beberapa saat kemudian, dia pun pingsan.
Setelah Yasmin sadarkan diri, dia langsung duduk. Dia menyadari dia berada di kamar rumah mewah sebelumnya dan bukan di sebuah tempat yang aneh. Di sebelahnya juga tidak ada pria asing. Lalu, Yasmin baru menghela napas lega.
Setelah dia mabuk, dia tidak bisa mengingat apa pun. Jadi, dia tidak ingat apa yang terjadi selanjutnya di kamar mandi.
Yasmin merasa pengar, tapi bahunya terasa lebih sakit.
Rasa sakit tersebut membuatnya mengerutkan alis sambil mengerang kesakitan.
Yasmin turun dari tempat tidur, kemudian berjalan ke kamar mandi. Dia masih mengenakan gaun satu bahu hitam ketat semalam yang menonjolkan lekuk tubuhnya dengan jelas.
Di bahunya yang terekspos, ternyata ada bekas berwarna merah.
Itu adalah bekas gigitan Daniel.
Bentuknya terlihat seperti tanda lahir.
Untuk sepuluh hari ke depan, bekas itu tidak akan hilang.
Dibandingkan saat Yasmin masih SMP, kekejaman Daniel sudah berkali lipat.
Itu membuat Yasmin ketakutan dan bulu kuduknya berdiri.
Itu membuat Yasmin makin memantapkan hatinya untuk pergi dari tempat ini!
Pada pagi hari, Yasmin mencoba untuk menenangkan dirinya dan diam-diam mempelajari area pribadi ini.
Tempat ini bernama Teluk Bulan dan rumah mewah ini disebut Taman Royal. Ini adalah wilayah kekuasaan Daniel dan luasnya sebesar ratusan juta.
Itu berarti Yasmin tidak mungkin bisa keluar dari Teluk Bulan hanya dengan kedua kakinya.
Kecuali Daniel sendiri yang melepaskannya.
Bagaimana mungkin?
Yasmin bersembunyi di dalam kamarnya, kemudian dia menelepon tantenya untuk bertanya, "Teluk Bulan milik siapa?"
"Aku nggak tahu siapa pemilik Teluk Bulan. Orangnya sangat misterius. Bahkan pamanmu tidak tahu. Tapi, kekuatannya memiliki akar yang kuat di Kota Imperial. Ada banyak orang yang ingin mendekatinya," jawab Klara.
Yasmin menggigit bibirnya dan terdiam.
Daniel pasti telah lama membangun kekuatannya di Kota Imperial. Saat pengusaha-pengusaha kaya Kota Imperial sadar, semuanya sudah terlambat.
Bahkan Keluarga Guntur tidak tahu kedalamannya.
"Lalu, pemilik Teluk Bulan dan penguasa Grup Naga adalah orang yang sama."
"Grup Naga?"
"Ya. Mereka memiliki gedung pencakar langit tertinggi di Kota Imperial. Dalam waktu lima tahun, kekayaan mereka sebanding dengan negara kita. Mereka adalah raja satu Kota Imperial. Memusingkan sekali, tidak tahu bagaimana baru bisa berkenalan dengan tokoh besar seperti itu. Orangnya sangat misterius."
Bab 6
Setelah mendengar ucapan tantenya, Yasmin merinding.
"Yasmin? Kenapa kamu tanya soal ini?" Klara yang mendengar ujung telepon hening merasa aneh.
"Ng ... nggak apa-apa." Yasmin berusaha mengontrol suaranya yang gemetar. "Aku hanya ingin tahu ...."
"Kapan kamu pulang? Tante sendiri akan memasakkan makanan enak untukmu."
"Beberapa hari lagi. Nanti aku akan menelepon Tante."
"Baiklah. Tante tunggu, ya."
Setelah mengakhiri panggilan, Yasmin duduk di atas kloset dan wajahnya terlihat pucat.
Dia mengira Daniel hanyalah orang kaya biasa, tapi ternyata kekuasaan Daniel di Kota Imperial sangat kuat.
Tidak, meskipun begitu, Yasmin lebih harus melarikan diri.
Selama dia bisa lari ke luar negeri, Daniel tidak akan bisa menemukannya.
Yasmin akan meminta tantenya mengirim paspornya ke bandara. Semuanya akan baik-baik saja selama Yasmin bisa lari dari Teluk Bulan.
Akan tetapi, bagaimana dia bisa pergi dari tempat ini?
Dua hari kemudian saat makan malam, Yasmin duduk di meja makan dan menyapu pandangannya ke makanan yang di atas meja.
Setelah memakan sesuap nasi, Yasmin mengontrol rasa paniknya sambil meraih sebuah lauk dengan sendoknya. Ketika dia mendekatkan sendok ke hidungnya dan mencium wangi seafood, dia kesulitan menahan rasa takutnya sehingga tangannya yang sedang memegang sendok pun gemetar.
Namun, Yasmin masih memaksakan diri untuk memasukkan sendok ke mulutnya. Dia mengunyah dengan perlahan sebelum menelan.
Seorang pelayan yang berdiri tidak jauh dari Yasmin menatap heran Yasmin memakan lauk yang dicampur dengan kaldu seafood. Pelayan itu berpikir apakah Yasmin sudah tidak bisa tahan lagi?
Dia segera keluar dari ruang makan untuk mencari Tony, lalu berkata, "Pak, Nona Yasmin sudah mulai makan lauk!"
Tony menatap pelayan itu dengan ekspresi serius. Kemudian, dia melambaikan tangannya dan meminta pelayan itu tetap mengawasi di ruang makan. Tony menelepon dan berkata, "Tuan Daniel, Nona Yasmin sudah memakan lauknya."
Di kantor yang terletak di lantai paling atas gedung pencakar langit, Daniel sedang duduk di kursi hitam dengan ponselnya menempel di telinganya. Tatapan matanya tampak tajam saat berkata, "Apa sudah ada reaksi?"
"Ini ...." Sebelum Tony sempat menjawab Daniel, terdengar suara sesuatu pecah dari ruang makan. Tony pun segera pergi ke sana.
Piring-piring pecah di lantai, nasi dan sayuran berserakan di mana-mana.
Yasmin yang berada di sebelah sedang berlutut di lantai sambil terbatuk-batuk.
Dengan cepat muncul ruam merah di lengannya yang terekspos.
Tony segera berkata ke ponselnya, "Tuan Daniel, sudah ada reaksi."
Daniel tersenyum sinis sambil berkata, "Antar dia ke rumah sakit."
"Baik."
Yasmin dipapah ke dalam mobil. Dia bersandar ke jendela mobil dengan lemah. Melihat pemandangan di luar yang bergerak dengan cepat, matanya pun berkelip meskipun dia sedang menahan rasa sakit.
Belum sampai sepuluh menit mobil bergerak, ruam merah sudah menjalar ke leher dan wajah Yasmin, apalagi tubuhnya yang berada di balik pakaian.
Ini masih masalah kecil, nanti akan terjadi hal yang lebih serius.
Yasmin mulai sulit bernapas, seolah-olah ada orang yang mencekik lehernya. Alisnya terus berkerut dan tubuhnya mulai mengejang.
Ajal sudah dekat.
Tidak, dia tidak boleh mati. Dia masih mempunyai tiga anak yang lucu. Mereka tidak boleh tidak punya ibu ....
Namun, sebelum Yasmin sampai di rumah sakit, dia sudah mengalami syok. Jadi, dia langsung dilarikan ke ruang IGD.
Helen terkejut melihat Yasmin. Dia sudah menjadi dokter bertahun-tahun, tapi ini pertama kalinya dia melihat kasus alergi yang sangat serius. Kalau telat sedikit lagi, Yasmin pasti sudah mati.
Helen Anggono yang merupakan dokter pribadi Daniel pun segera menyelamatkan Yasmin.
Ada aura suram mengelilingi udara rumah sakit yang sunyi senyap saat tengah malam ini. Perasaan itu dapat dirasakan sehingga membuat bulu kuduk berdiri.
Pintu kamar VIP terbuka dan sebuah bayangan mendekati ranjang rumah sakit, lalu menyelimuti tubuh orang yang sedang berbaring itu.
Masker oksigen Yasmin telah dilepaskan dan napasnya stabil.
Namun, masih ada bintik-bintik merah di wajahnya yang putih.
Daniel menumpukan tangannya di kedua sisi tubuh Yasmin seperti binatang buas.
"Bagaimana rasanya?" tanyanya dengan suara sinis.
Mata Yasmin masih terpejam dan tidak ada respons darinya.
"Sayang sekali aku nggak bisa melihat tampangmu yang kesakitan. Tapi, masih ada lain kali, kok," ujar Daniel.
Yasmin perlahan-lahan terbangun, kemudian menoleh. Matanya tertuju pada jendela kaca yang terang.
Hari sudah pagi.
Bau obat yang menyengat memenuhi udara di ruangan ini. Yasmin pun tahu di mana dirinya.
Dia menghela napas lega di dalam hati. Akhirnya dia sudah keluar dari Teluk Bulan.
Yasmin duduk, kemudian meraba wajahnya yang masih sedikit merah.
Ada suara ketukan pintu sebelum Helen masuk. Melihat Yasmin sudah bangun, Helen berkata, "Sudah nggak apa-apa. Ruam merah di badanmu juga akan hilang setelah kamu memakai obat selama dua hari."
Yasmin tercengang menatap Helen.
"Namaku Helen Anggono. Aku adalah direktur rumah sakit ini dan juga dokter pribadi Tuan Daniel."
Yasmin kaget. Dokter pribadi Daniel bahkan seorang direktur rumah sakit.
Helen merasa penasaran dengan Yasmin.
Ini pertama kalinya Daniel mengantarkan seorang wanita kepada Helen. Tony dari Taman Royal bahkan sampai ikut datang.
Ini membuat Helen merasa Yasmin bukanlah wanita biasa.
Semalam Helen tidak dapat melihat wajah Yasmin dengan jelas karena alerginya. Sekarang bengkaknya sudah mereda, jadi wajah Yasmin yang mulus dan cantik sudah terlihat.
Kalau melihat wanita secantik Yasmin berdiri di samping Daniel, orang lain dapat dengan mudah mengira mereka adalah sepasang kekasih.
"Istirahatlah. Kalau ada apa-apa, tekan bel dan aku akan kemari."
"Terima kasih."
"Sama-sama."
Setelah melihat pintu ditutup, Yasmin mulai berpikir.
Dokter pribadi Daniel berarti dia adalah orang Daniel. Yasmin pasti tidak akan mencari Helen.
Yasmin berharap Daniel tidak muncul selamanya.
Dengan begitu, peluangnya untuk melarikan diri makin bagus!
Yasmin rela makan seafood yang sangat membuatnya takut hanya agar dia mempunyai kesempatan untuk melarikan diri.
Kalau tidak, walaupun dia mempunyai sayap, dia tidak akan bisa keluar dari Taman Royal yang dijaga ketat.
Setelah waktu makan siang, seorang suster datang untuk menginfus Yasmin.
Setengah jam kemudian, suster itu datang lagi.
Yasmin menatap suster yang sedang menundukkan kepala di depannya itu, lalu matanya berkelip.
Sepuluh menit kemudian, seorang suster berseragam dan bermasker keluar sambil memegang selang yang sudah dicabut dan sebuah botol obat.
Ketika suster itu melewati tempat sampah daur ulang medis, dia membuang benda-benda itu. Alih-alih pergi ke konter perawat, dia malah berjalan ke lift.
Karena orang itu bukanlah suster.
Yasmin yang sedang menyamar memasuki lift. Saat pintu lift hendak tutup, tangan seseorang langsung menghentikannya.
Yasmin sangat terkejut sampai jantungnya hampir berhenti berdetak.
"Maaf." Orang yang masuk ternyata adalah dokter lain.
Yasmin tidak menjawab dan hanya menundukkan kepalanya.
Setelah tiba di lantai tiga, Yasmin menekan sebuah tombol. Pintu lift terbuka, lalu dia keluar.
Kemudian, dia menuruni tangga darurat. Dia berjalan sambil melepaskan seragam perawatnya. Setelah itu, dia langsung berjalan ke arah pintu keluar.
Yasmin menghentikan sebuah taksi, kemudian langsung menuju ke bandara.
Yasmin mengeluarkan ponsel dari branya. Dia mengaktifkan ponselnya, kemudian menelepon Klara. "Tante, apa kamu sudah sampai di bandara?"
"Sudah. Di mana kamu?"
"Sebentar lagi sampai. Tunggu aku, ya." Yasmin mengakhiri panggilan, kemudian mendesak sopirnya. "Maaf, apa Bapak bisa bawa lebih cepat? Aku buru-buru."
Saat rencana itu terbentuk di benaknya, Yasmin pun menelepon tantenya, lalu memintanya pergi ke bandara untuk membeli tiket Yasmin dan menunggu.