Bab 3

Daniel melemparkan mantelnya di atas sofa dengan asal. Kemeja hitam yang dikenakan menunjukkan tubuhnya yang jangkung dengan jelas, tapi dia tampak sangat dominan.

Mata Yasmin pun tertuju ke arah bawah. Ingatan dari dua tahun yang lalu belum sepenuhnya hilang. Dia tahu betapa seksi, liar dan berototnya tubuh di balik kemeja itu.

Dengan takut-takut, Yasmin bertanya, "Kenapa ... kamu membawaku kemari?"

Di depan Daniel yang sangat dominan, Yasmin tidak akan memberontak karena itu sama dengan cari mati.

Akan tetapi, setelah Yasmin selesai bicara, perutnya berbunyi.

Raut wajah Yasmin berubah menjadi canggung. Sejak turun dari pesawat hingga sekarang, dia bahkan belum minum air, apalagi makan malam. Lalu, sepanjang jalan dia ketakutan, jadi dia merasa sangat lelah.

"Sepertinya kamu lapar." Daniel berkata dengan suara sinis, "Keluarkan makanan!"

Di sisi lain, seorang pria paruh baya berseragam berjalan keluar, lalu meletakkan sebuah mangkuk di atas meja kopi. Di dalam mangkuk itu berisi mi yang masih mengepul.

"Tuan Daniel, mi seafoodnya sudah selesai," kata Tony Halim, si kepala pelayan. Setelah itu, dia melangkah mundur dan berdiri di tempat dengan hormat, seakan-akan dia tiada.

Akan tetapi, saat Yasmin mendengar kata "seafood", wajahnya memucat.

Dengan tatapan mata yang tajam, Daniel berkata, "Makanlah makanan malammu."

"Aku ... alergi terhadap seafood. Aku nggak bisa memakannya," jawab Yasmin dengan suara yang gemetar.

Dia benar-benar takut alerginya kambuh. Karena begitu dia memakan seafood, situasi akan menjadi sangat serius. Bahkan kalau dia tidak ditolong tepat waktu, nyawanya akan terancam! Dulu dia sudah pernah mengalaminya sekali ....

"Jadi, kamu mau menyia-nyiakan niat baikku." Tatapan mata Daniel berubah menjadi galak.

Yasmin pun sudah mengerti. Daniel sengaja, dia ingin Yasmin mati!

"Aku ng ... nggak boleh makan itu. Aku bisa mati ..." tolak Yasmin sambil melangkah mundur.

Daniel melangkah maju, kemudian menggenggam lengan Yasmin sebelum mendorongnya ke arah meja kopi. "Makan!"

"Ah!" Yasmin terjatuh ke atas meja kopi. Bahkan tas yang dipegangnya terhempas sejauh dua tiga meter.

Karena tadi Yasmin terburu-buru mematikan ponselnya, dia bahkan tidak sempat menutup tasnya dengan benar. Begitu tas tersebut terhempas, ponsel di dalam tas pun tercecer keluar.

Yasmin tidak peduli dengan lututnya yang kesakitan. Dia hanya menatap ponselnya yang terekspos dengan raut wajah yang panik.

Masalahnya, Daniel sedang berjalan menuju ke ponselnya.

Begitu Daniel mengambil ponselnya, napas dan detak jantung Yasmin sama-sama berhenti.

Setelah Daniel mengambil ponsel Yasmin, dia menyadari kalau ponsel Yasmin mati.

Daniel pun mencoba menyalakan ponsel Yasmin.

Ternyata ponsel Yasmin mati bukan karena tidak ada baterai.

"Aku ... takut Tante akan meneleponku, jadi aku mematikannya ...." Yasmin tahu Daniel sangat membenci tantenya. Daniel telah menganggap tantenya sebagai musuh.

"Sandi." Saat Daniel menoleh, tatapan matanya tampak sangat sinis.

Rasa takut yang dirasakan Yasmin telah menyebar ke lehernya dan dia hampir tidak bisa bernapas.

Namun, dia tahu makin dia merasakan perasaan ini, dia merasa makin tenang.

"Sini kubuka ...." Yasmin berjalan mendekat. Dengan hati-hati, dia mengambil ponselnya dari tangan Daniel. Kemudian, Yasmin berjalan ke arah meja kopi seakan-akan dia takut orang lain akan melihat kode sandinya.

Daniel hanya menatapnya dengan tajam sambil tersenyum sinis.

Yasmin menundukkan kepalanya untuk menekan kode sandi sambil melihat sekeliling.

Tiba-tiba, dia melempar mi seafood yang di meja kopi ke arah Daniel!

Mangkuk tersebut hanya mencapai tengah-tengah mereka berdua. Kuah mi membasahi seluruh lantai dan menghalang jalan Daniel.

Mata Daniel pun berkelip dengan ganas. Melihat wanita di depannya lari, dia pun langsung berteriak, "Tangkap dia!"

Yasmin yang terkejut berlari makin cepat.

Setelah dia berlari keluar dari aula, dia melihat pengawal di depan berlari ke arahnya. Yasmin yang ketakutan pun berbelok.

Yasmin segera menuruni tangga terbuka yang berada di sisi lain.

Akan tetapi, berlari dengan hak tinggi itu tidak nyaman, apalagi menuruni tangga.

Begitu langkah kakinya tidak stabil ....

"Ahh!" Yasmin langsung terpeleset, lalu tubuhnya berguling ke bawah. "Aaa!"

Daniel yang telah berhasil mengejar berdiri di puncak tangga. Dia menatap ke bawah dengan tatapan mata yang sinis dan menyeramkan.

Di bawah tangga, dia melihat Yasmin terbaring di lantai dan sudah tidak sadarkan diri. Dahi Yasmin juga terluka dan darah terus mengalir.

Yasmin terbangun secara mendadak seolah-olah karena dia baru bermimpi buruk.

Dia mengubah menjadi posisi duduk dan rasa pening dari kepalanya membuatnya mengerang kesakitan.

Saat dia menyentuh dahinya, dia merasakan ada kain kasa.

Dia baru teringat kalau dia terjatuh dari tangga. Ketika dia bangun, dia berada di dalam kamar yang asing ini.

Langit di luar sudah terang ....

Yasmin teringat pada sesuatu dan langsung memegang dadanya dengan panik. Dia buru-buru turun dari tempat tidur, lalu memasuki kamar mandi.

Setelah dia menutup pintu, dia mengeluarkan ponselnya dari dalam branya.

Ketika dia melarikan diri, dia mengambil kesempatan menyelipkan ponselnya ke dalam bra. Untung saja ponselnya aman.

Tanpa menghiraukan situasi saat ini, Yasmin segera menghapus semua informasi tentang anak-anaknya dari ponselnya. Lagi pula, dia masih memiliki salinan di komputer rumah sewaannya.

Setelah itu, dia mengirimkan pesan kepada Tante Rita, 'Jangan meneleponku dan jangan biarkan anak-anak meneleponku. Aku lagi ada masalah kecil. Aku akan meneleponmu setelah masalahku kelar. Ingat.'

Tante Rita membalas, 'Ada apa?'

Yasmin mengetik, 'Jangan khawatir, aku baik-baik saja. Tolong bantu aku jaga anak-anak.'

Setelah memberi pesan kepada Tante Rita, Yasmin baru keluar dari kamar mandi.

Yasmin melihat sekeliling kamarnya. Kamar ini terasa sangat asing, tapi ia memiliki gaya mewah yang menonjol dan membuat Yasmin mudah menebak kalau ini rumah yang megah.

Tanpa perlu memikirkannya, Yasmin tahu kalau ini adalah maksud Daniel. Apa yang ingin dia lakukan?

Tidak peduli apa yang ingin Daniel lakukan, Yasmin tidak akan tinggal di sini. Dia mau pergi!

Yasmin membuka pintu kamar, lalu berjalan sehingga dia menemukan tangga. Lantai rumah ini membuatnya hampir pusing.

Setelah dia menuruni tangga, dia bahkan tidak memedulikan tasnya lagi dan berjalan keluar sambil memegang ponselnya.

Hanya saja, sebelum dia bisa mencapai gerbang besi yang besar itu, seseorang menghalang jalannya. Yasmin yang sedang berlari bahkan hampir menabrak orang itu, kemudian dia segera melangkah mundur.

Sambil menekan rasa paniknya, Yasmin berkata, "Biarkan aku pergi."

Suara pengawal itu sedingin gunung es saat dia menjawab, "Ini pesan Tuan Daniel."

"Di ... di mana dia?"

"Aku nggak tahu."

Yasmin tahu betul bagaimanapun juga, dia tidak akan bisa keluar. Kalau begitu, apa yang harus dia lakukan?

Dia kembali ke kamarnya lagi, kemudian dia menelepon Klara. "Tante, bukankah kamu bilang Daniel sudah lama menghilang dan nggak ada di Kota Imperial lagi? Kenapa dia bisa muncul?"

Kalau Yasmin tahu Daniel berada di Kota Imperial, dia pasti tidak akan pulang!

"Itu benar! Sudah lama nggak ada kabar tentangnya. Kalau dia berada di Kota Imperial, kami nggak mungkin nggak tahu. Aku juga nggak akan nggak memberitahumu!"

Yasmin memercayai tantenya. Kalau begitu, kenapa Daniel muncul di pesta ulang tahun pernikahan Klara dan Jason?

Tidak mungkin.

Klara pernah memberi tahu Yasmin kalau Daniel sudah lama memutuskan hubungannya dengan Jason dan bahkan seluruh Keluarga Guntur. Daniel berperilaku seperti tidak akan kembali, jadi kenapa ....

Yasmin memijat keningnya karena kepalanya samar-samar terasa sakit.

Daniel datang bukan untuk menghadiri pesta itu, tapi menunggu Yasmin datang ke pesta itu dan masuk ke dalam jebakan.

Hanya saja, sudah telat bagi Yasmin untuk menyadarinya sekarang ....

"Yasmin, ada apa? Apa yang telah terjadi? Semalam aku terus meneleponmu, tapi ponselmu nggak aktif."

"... Aku baik-baik saja. Aku bertemu dengan teman lama, jadi kami pergi ke bar. Lalu, aku minum terlalu banyak ...." Yasmin berbohong karena dia tidak ingin merepotkan tantenya. Lagi pula, saat ini Daniel hanya mengganggunya.

Bab 4

"Aku sudah bilang kamu pasti belum pergi. Paspor dan KTP-mu ada padaku!"

Yasmin tercengang, lalu bertanya, "Pasporku sama Tante?"

"Ya. Aku nggak bisa menghubungimu, jadi aku pergi ke hotelmu. Kenapa kamu meninggalkan paspor di hotel tak berbintang? Bahaya sekali. Aku sudah check-out kamarmu. Untuk apa kamu menginap di hotel? Tidur di rumah Tante saja."

Walaupun Yasmin ingin tidur di rumah tantenya, dia juga sudah tidak bisa. Dia sama sekali tidak bisa membebaskan diri dari genggaman Daniel.

"Tante, aku nggak bisa pergi ke rumahmu. Aku akan menginap di rumah teman selama beberapa hari. Nanti setelah aku mengambil pasporku, aku akan langsung pergi," kata Yasmin.

"Kamu sudah berapa tahun nggak pulang? Teman dari mana?"

"Teman SMA ...." Alasan Yasmin terdengar agak tidak realistis.

"Tante tahu kamu seperti ini karena hubunganmu dengan Daniel. Tapi, hal itu sudah bertahun-tahun yang lalu. Kalian sudah dewasa, 'kan? Kamu juga jangan terlalu memikirkannya lagi."

Yasmin tersenyum sinis. Mereka sudah dewasa? Kalau begitu, sekarang situasi macam apa ini ...?

"Datanglah ke rumah Tante. Sudah beberapa tahun kita nggak berjumpa. Tante punya banyak hal yang ingin dibicarakan denganmu," ujar Klara.

"Nanti ... aku akan pergi mengunjungi Tante."

Setelah Yasmin mengakhiri panggilan, dia duduk di ujung tempat tidur sebelum merosot ke lantai.

Tanpa persetujuan Daniel, bagaimana Yasmin bisa pergi?

Yasmin tahu betul kalau dia tidak pergi, Daniel pasti akan membuatnya sengsara.

Bagi Daniel, tante Yasmin adalah orang ketiga yang telah merusak hubungan orang tuanya dan merepotkannya ....

Pada siang hari, Yasmin diundang ke ruang makan untuk makan siang.

Saat dia melihat makanan-makanan di meja, wajahnya agak memucat karena hampir semuanya adalah seafood.

Mahal, tapi makanan-makanan itu seperti racun.

Mata Yasmin tertuju pada sayuran hijau. Dia menyendoknya, kemudian saat dia hendak memakannya, aroma seafood memasuki lubang hidungnya. Yasmin kaget dan segera menjatuhkan sendoknya. Dia berdiri, lalu bertanya kepada seorang pelayan wanita yang berdiri tak jauh darinya dengan napas yang terengah-engah, "Sayur ini ... dimasak dengan apa?"

Pelayan wanita itu menjawab dengan jujur, "Kaldu seafood."

Yasmin membalikkan tubuhnya, lalu hendak beranjak pergi.

Namun, kakinya tidak bergerak.

Kalau kali ini dia tidak makan, bagaimana dengan lain kali? Apa dia bisa bertahan tidak makan selama tiga hari? Kalau perutnya kosong, bagaimana dia bisa melarikan diri?

"Ingin aku cuman makan nasi putih? Nggak masalah."

Yasmin kembali duduk. Dia tidak makan lauk dan hanya memakan nasi putih dengan lahap.

Pelayan wanita itu tercengang melihat Yasmin hanya memakan nasi putih dengan ekspresi datar.

Selama tiga hari di dalam rumah yang seperti istana ini, Yasmin hanya memakan nasi putih. Selama tiga hari ini, dia tidak melihat batang hidung Daniel. Yasmin seakan-akan ditinggal di tempat ini untuk mengurus dirinya sendiri.

Dia seperti burung yang dikurung yang tidak tahu masa depannya dan hatinya penuh dengan rasa takut.

Yasmin yang sedang memakan nasi putih sudah kehilangan kesabarannya dan dia pun meletakkan sendoknya. Dia berjalan ke aula, lalu bertanya kepada Tony, si kepala pelayan, "Di mana Daniel? Aku mau menemuinya. Sebenarnya kapan dia akan melepaskanku?"

"Maaf, Nona Yasmin. Kami yang sebagai bawahan Tuan Daniel nggak tahu tentang jadwalnya," jawab Tony.

"Sampai kapan dia mau mengurungku?"

"Kami juga nggak tahu."

"Kamu ...."

Yasmin tidak bisa menyulitkan seorang bawahan. Ini hanyalah perintah Daniel!

Hampir pukul sembilan malam, Yasmin yang tidak bisa tidur meringkuk di sudut balkon sambil merindukan anak-anaknya.

Dia tidak pernah meninggalkan anak-anaknya begini lama. Apa mereka merindukan mama mereka? Apa pada malam hari mereka menangis?

Saat mata Yasmin terasa panas, dia mendengar ada suara mobil di bawah. Hatinya langsung berdebar, kemudian dia pun berlari ke bawah.

Setelah dia keluar, dia melihat sebuah mobil sedang perlahan-lahan berhenti di depan pintu. Akan tetapi, itu bukan mobil Rolls Royce hitam.

Itu adalah mobil Mercedes Benz.

Orang yang keluar dari mobil juga bukan Daniel, tapi seorang pria yang berkacamata, berpakaian jas dan berpenampilan biasa yang berjalan menghampiri Yasmin.

Tangan pria itu bahkan memegang sebuah tas kertas yang tidak tahu apa isinya.

"Nona Yasmin Tanoto?" tanya Eric sambil melirik kaki telanjang Yasmin yang putih.

"Kamu ...."

"Salam kenal. Aku Eric Gotami, sekretaris utama Tuan Daniel."

Yasmin buru-buru bertanya, "Apa dia menyuruhmu datang untuk melepaskanku?"

"Aku akan membawamu pergi menemui Tuan Daniel sekarang juga." Eric mengangkat tas kertas di tangannya dan berkata, "Ini adalah baju dan sepatu yang disiapkan untukmu."

Saat Yasmin melihat sikap Eric yang profesional dan pakaian di dalam tas kertas, Yasmin merasa tidak tenang. Dia pun bertanya, "Kita mau ke mana?"

Bar.

Yasmin memakai gaun satu bahu hitam ketat yang mengekspos kulitnya yang putih dan tulang selangka yang indah.

Dia memiliki pinggang yang ramping, kaki yang jenjang dan aura yang unik. Begitu Yasmin masuk, dia menarik banyak perhatian para lelaki dan semuanya menatap tubuh Yasmin secara terbuka.

Tanpa melirik ke arah Yasmin sedikit pun, Eric menuntunnya ke ruang VIP yang berada jauh di dalam.

Saat pintu ruang VIP dibuka, lampunya memancar ke luar. Akan tetapi, Yasmin merasa dia seakan-akan memasuki dunia gelap yang tidak diketahui.

Semua orang minum alkohol. Pria meraba-raba wanita, sementara wanita menempel pada pria.

Dalam suasana yang haram ini, sosok Daniel tidak terlihat.

Orang-orang telah menyadari kehadiran Yasmin. Para lelaki juga tidak menyembunyikan ketertarikan mereka kepada wanita cantik meskipun di pelukan mereka sudah ada wanita lain.

"Model baru, ya? Lumayan cantik," kata seorang pria yang dipanggil 'Tuan Bobby'.

Yasmin merasa jijik dengan orang yang menganggap manusia sebagai barang. Dia bertanya kepada Eric, "Dia tidak ada di sini?"

"Kamu tunggu sebentar." Setelah mengatakan itu, Eric pergi.

Yasmin berdiri di tempatnya dan merasa kikuk dengan orang-orang di dalam ruang VIP.

Kenapa Eric tidak memberi penjelasan ketika orang salah paham terhadap identitasnya?

Kenapa dia ditinggal sendirian untuk menunggu Daniel?

Yasmin sebentar lagi akan mendapatkan jawabannya ....

Tuan Bobby berjalan menghampiri Yasmin sambil memegang sebuah gelas bir. "Bagaimana kalau kamu duduk di sebelahku? Aku akan bersikap lembut padamu."

Yasmin mengerutkan keningnya dan menolak di dalam hati.

"Kenapa dia harus duduk di sampingmu?" Pria lain muncul. "Begini saja, aku akan membayar dua juta!"

"Aku akan membayar empat juta. Orang lain tidak pernah memberi harga ini!" kata Tuan Bobby dengan murah hati.

"Kalian sudah salah paham. Aku bukan model tempat ini," kata Yasmin dengan wajah memucat.

"Apanya yang bukan? Jangan pura-pura. Kamu merasa uangnya tidak cukup, 'kan?" Tuan Bobby tertawa sinis, lalu berkata, "Kamu kira kamu sangat berharga? Kamu terlihat polos, tapi kami belum tahu apa badanmu bisa dilihat setelah pakaianmu dilepaskan?!"

"Bagaimana kalau kamu melepaskan pakaianmu?" kata seorang pria di samping dengan genit.

Tuan Bobby langsung menangkap pergelangan tangan Yasmin, kemudian berkata, "Begini saja, biarkan aku memeriksamu sebentar untuk melihat apa kualitasmu lulus atau tidak."

"Lepaskan ...." Yasmin meronta dengan jijik sambil berseru, "Lepaskan!"

Karena Yasmin berusaha melepaskan dirinya dari genggaman Tuan Bobby, momentum yang disebabkan membuat tubuhnya jatuh ke belakang.

"Aaa!"

Yasmin mengira dirinya akan jatuh, tapi punggungnya bertabrakan dengan tubuh seseorang yang kokoh.

Seorang pria berbisik ke telinga Yasmin, "Ada apa? Apa kamu tidak suka rencanaku?"

Sekujur tubuh Yasmin langsung merinding. Daniel ....

"Setelah makan nasi putih selama beberapa hari, sudah saatnya kamu makan daging!"

Bab 5

Daniel menggenggam bahu Yasmin, kemudian mendorongnya dengan kasar.

"Aaa!"

Yasmin jatuh ke sudut meja kopi. Dua gelas yang berada di atas meja pun terdorong sampai jatuh. Satu yang gelas berisi bir tumpah mengenai wajah dan rambut Yasmin. Daniel duduk di sofa, lalu menyilang kakinya. Dia menatap Yasmin yang tampak kasihan dengan sinis dan masam.

Tuan Bobby yang hendak menuangkan bir berkata, "Tuan Daniel, silakan minum."

"Tuangkan!" perintah Daniel dengan sinis.

Tangan Tuan Bobby langsung berhenti. Dia mengerti maksud Daniel, jadi dia menyerahkan botol bir kepada Yasmin.

Yasmin gemetaran, dia seakan-akan baru saja jatuh ke dalam air dingin.

Dia tahu Daniel begitu untuk mempermalukan dirinya sendiri. Jika Yasmin tidak mendengar perintah Daniel, dia tidak akan bisa pergi dari ruang VIP ini.

Yasmin yang memikirkan ketiga anaknya yang lucu di rumah hanya bisa menggertakan gigi. Dia menerima botol bir tersebut dengan tangan yang gemetar, lalu menuangkannya ke gelas.

Setelah Daniel mengambil gelasnya, dia meminum birnya sambil menatap Yasmin dengan tatapan mata yang tajam.

"Apa ... apa aku sudah boleh pergi?" tanya Yasmin dengan suara yang gemetar. Dia masih berlutut di lantai dan hatinya merasa sangat tidak tenang.

Sebagian besar orang lain telah menjadi latar belakang.

Sedangkan Daniel seperti raja yang mengendalikan seluruh situasi ini.

"Kenapa sudah mau pergi?" Tuan Bobby menuangkan bir untuk Yasmin, lalu berkata, "Seharusnya kamu merasa terhormat karena dapat minum bersama Tuan Daniel. Minumlah!"

"Aku tidak minum alkohol ..." tolak Yasmin sambil menoleh mukanya.

Daniel meraih rahang Yasmin, lalu mendekatkan wajah Yasmin ke arahnya. Dengan tatapan mata yang dingin, Daniel berkata, "Jangan bilang kamu nggak ada gen menemani pria minum?"

Yasmin menatap balik Daniel dengan mata yang berkaca-kaca.

"Apa wanita jalang yang tinggal di rumah Keluarga Guntur itu tidak mengajarimu hal-hal ini?"

"Tanteku bukan orang ketiga. Kamu sudah salah paham ...." Yasmin tahu kalau orang yang dimaksud Daniel adalah tantenya dan dia merasa sangat kesal.

"Itu karena kamu juga sepertinya!" Genggaman Daniel mengerat sehingga tulang rahang Yasmin hampir keseleo.

"Ah!" teriak Yasmin kesakitan.

"Yasmin, kamu lagi-lagi jatuh ke tanganku. Hari baikmu sudah akan berakhir," ujar Daniel sambil menepuk pipi Yasmin. Setelah itu, dia menarik kembali tangannya.

Tubuh Yasmin menjadi lemas. Dia duduk di lantai dengan air mata berlinang.

Tuan Bobby yang di sebelah menarik Yasmin sembari berkata, "Ayo minum. Datang ke bar harus minum bir."

Pria lain dan bahkan seorang wanita juga datang menarik Yasmin.

Yasmin dipaksa duduk di sofa. Gelas demi gelas disodorkan ke arahnya dan dia hanya bisa meminumnya.

Karena bir tersebut terlalu keras, Yasmin kesulitan untuk meneguknya. Dia minum sambil menahan air mata.

Salah satu wanita cantik pergi duduk di sebelah Daniel untuk menuangkan birnya. Akan tetapi, mata Daniel hanya tertuju pada wanita yang sangat dibencinya itu.

Ketika Yasmin meminum gelas keenam, dia sudah mabuk. Apa yang dilihatnya menjadi kabur.

Saat dia merasa ada orang yang mengelus pahanya, dia langsung sadarkan diri. Yasmin yang terkejut menghindar ke samping, lalu berdiri untuk keluar dari ruang VIP.

Dia bergegas ke kamar mandi yang terletak di sebelah, lalu berjongkok di depan toilet. Dia mencoba memuntahkan isi perutnya, tapi tidak ada yang keluar dan hanya air mata yang terus mengalir.

Sebenarnya kesalahan apa yang telah dibuat Yasmin sehingga dia harus diperlakukan seperti ini?!

Saat dia berumur 14 tahun, di antara begitu banyak kerabat, hanya Klara yang bersedia menjaganya. Bagaimana mungkin tante seperti Klara adalah seorang wanita tak senonoh?

Karena Yasmin tinggal di rumah Keluarga Guntur dan memanggil Daniel kakak, Yasmin seakan-akan telah membangkitkan sisi gila Daniel. Walaupun Yasmin sudah keluar dari rumah Keluarga Guntur, mimpi buruknya tidak pernah berakhir!

Saat Yasmin mendengar suara pintu ditutup, tubuhnya menegang. Dia merasakan aura yang menakutkan dari belakang dan rasa dingin menjalar dari punggung sampai ke otaknya.

Tanpa perlu menoleh, Yasmin sudah tahu aura siapa ini.

"Aku sudah minum, jadi .... Aaa!" Yasmin yang belum sempat menyelesaikan kalimatnya merasakan rambutnya dijambak. Kepalanya pun tertarik ke arah belakang sehingga lehernya yang putih dan mulus terekspos.

Dengan raut wajah yang menyeramkan, Daniel berkata, "Apa aku bilang kamu sudah boleh pergi?"

Yasmin tidak tahu apakah ini efek alkohol karena kulit kepalanya terasa mati rasa, tapi ketakutan menyelimutinya sampai ke tulang-tulang.

Dia bertanya dengan napas terengah-engah, "Apa yang harus kulakukan ... supaya kamu mau membebaskanku?"

Daniel mengabaikan pertanyaan Yasmin. Dia menyipitkan matanya dan mengamati tubuh Yasmin yang seksi. Tatapan matanya pun menjadi berbeda. Daniel mencondongkan tubuhnya, kemudian berbisik di telinga Yasmin, "Mungkin tubuhmu lebih jujur."

Setelah mengatakan itu, Daniel langsung menggigit bahu Yasmin.

"Ah!" seru Yasmin. Tubuhnya gemetar.

"Enak? Hm?"

Yasmin merasa perih di bagian bahunya. Apa bahunya telah digigit sampai terluka?

Setelah Daniel melepaskan gigitannya, tubuh Yasmin menjadi lemas dan langsung bersandar ke dada bidang Daniel. Air mata Yasmin jatuh dari sudut matanya dan dia berkata dengan lemah, "Aku salah, seharusnya aku nggak kembali. Kumohon, jangan menyiksaku lagi ...."

Daniel mencengkeram rahang Yasmin dengan kejam, lalu mengangkatnya dengan paksa. "Memohon padaku lebih berbahaya daripada menolakku."

Yasmin merinding ketakutan. Wajahnya telah menjadi merah karena efek alkohol. Lampu di langit-langit sangat silau sehingga Yasmin tidak berani membuka matanya dan kepalanya terasa pusing. Sambil menangis, dia berkata, "Kenapa harus aku? Kenapa ...?"

"Kamu tahu kenapa. Sekarang aku masih belum boleh menyentuh wanita jalang itu, jadi aku hanya bisa menyiksamu dulu! Bukankah dia sangat menyayangimu? Aku akan membuat keponakan kesayangannya sengsara!" kata Daniel sambil mencengkeram rahang Yasmin dengan kuat.

Berani-beraninya Jason mengancam Daniel.

Baiklah!

Daniel akan membuat mereka paham apa arti sengsara!

Yasmin menangis terisak-isak. Jadi, Daniel mengira tantenya adalah orang ketiga yang telah menghancurkan keluarga orang lain, makanya Daniel merasa Yasmin juga orang yang begitu.

Selama ini Daniel memiliki pemikiran salah dan tidak ada yang bisa mengubah pikirannya.

"Apa saat masa sekolahku selama 12 tahun ... belum cukup?"

"Selamanya belum!" Tatapan mata Daniel yang penuh amarah tampak mengerikan. "Terimalah. Kalau kamu berani mati, orang berikutnya adalah dia!"

"Jangan ...." Yasmin ketakutan sampai sekujur tubuhnya gemetar dan kepalanya terasa pusing. Beberapa saat kemudian, dia pun pingsan.

Setelah Yasmin sadarkan diri, dia langsung duduk. Dia menyadari dia berada di kamar rumah mewah sebelumnya dan bukan di sebuah tempat yang aneh. Di sebelahnya juga tidak ada pria asing. Lalu, Yasmin baru menghela napas lega.

Setelah dia mabuk, dia tidak bisa mengingat apa pun. Jadi, dia tidak ingat apa yang terjadi selanjutnya di kamar mandi.

Yasmin merasa pengar, tapi bahunya terasa lebih sakit.

Rasa sakit tersebut membuatnya mengerutkan alis sambil mengerang kesakitan.

Yasmin turun dari tempat tidur, kemudian berjalan ke kamar mandi. Dia masih mengenakan gaun satu bahu hitam ketat semalam yang menonjolkan lekuk tubuhnya dengan jelas.

Di bahunya yang terekspos, ternyata ada bekas berwarna merah.

Itu adalah bekas gigitan Daniel.

Bentuknya terlihat seperti tanda lahir.

Untuk sepuluh hari ke depan, bekas itu tidak akan hilang.

Dibandingkan saat Yasmin masih SMP, kekejaman Daniel sudah berkali lipat.

Itu membuat Yasmin ketakutan dan bulu kuduknya berdiri.

Itu membuat Yasmin makin memantapkan hatinya untuk pergi dari tempat ini!

Pada pagi hari, Yasmin mencoba untuk menenangkan dirinya dan diam-diam mempelajari area pribadi ini.

Tempat ini bernama Teluk Bulan dan rumah mewah ini disebut Taman Royal. Ini adalah wilayah kekuasaan Daniel dan luasnya sebesar ratusan juta.

Itu berarti Yasmin tidak mungkin bisa keluar dari Teluk Bulan hanya dengan kedua kakinya.

Kecuali Daniel sendiri yang melepaskannya.

Bagaimana mungkin?

Yasmin bersembunyi di dalam kamarnya, kemudian dia menelepon tantenya untuk bertanya, "Teluk Bulan milik siapa?"

"Aku nggak tahu siapa pemilik Teluk Bulan. Orangnya sangat misterius. Bahkan pamanmu tidak tahu. Tapi, kekuatannya memiliki akar yang kuat di Kota Imperial. Ada banyak orang yang ingin mendekatinya," jawab Klara.

Yasmin menggigit bibirnya dan terdiam.

Daniel pasti telah lama membangun kekuatannya di Kota Imperial. Saat pengusaha-pengusaha kaya Kota Imperial sadar, semuanya sudah terlambat.

Bahkan Keluarga Guntur tidak tahu kedalamannya.

"Lalu, pemilik Teluk Bulan dan penguasa Grup Naga adalah orang yang sama."

"Grup Naga?"

"Ya. Mereka memiliki gedung pencakar langit tertinggi di Kota Imperial. Dalam waktu lima tahun, kekayaan mereka sebanding dengan negara kita. Mereka adalah raja satu Kota Imperial. Memusingkan sekali, tidak tahu bagaimana baru bisa berkenalan dengan tokoh besar seperti itu. Orangnya sangat misterius."

Ayah Beranak Tiga yang Hebat

Bab 3
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya